You are the Apple of My Eye (2011) – Chances We Didn’t Take

Masa muda tentunya adalah masa-masa yang paling indah. Bukan hanya tentang manis pahitnya percintaan, kita juga belajar tentang indahnya persahabatan, hubungan kekeluargaan, serta lika-liku kehidupan. Begitu pula dengan film bergenre komedi romantis garapan Giddens Ko yang diangkat dari novelnya dengan judul yang sama, You are the Apple of My Eye. Tidak hanya menjadi box office di negaranya sendiri, film ini merupakan salah satu bukti bahwa dunia perfilman Taiwan juga mampu bersaing dalam skala internasional yang lebih besar.

Para tahun 1994, dikisahkan tentang tujuh orang sahabat yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Our heroines Ko Ching-teng (diperankan oleh Ko Chen-tung) is your typical mischievous bad boy yang tidak pernah belajar dan selalu membuat onar bersama kawan-kawannya, sedangkan Shen Chia-yi (diperankan oleh Michelle Chen) adalah seorang murid teladan yang bukan hanya pintar secara akademis, tetapi juga cantik dan memiliki tekad yang kuat untuk membahagiakan orang-orang disekelilingnya.

Tetapi, tunggu dulu! Jika pikiran skeptikal bahwa You are the Apple of My Eye tidak lain adalah sebuah cerita klasik “good girl meets bad boy” mulai terbesit di benak anda, then everything is just an illusion.

“I was wrong. In fact, when you really like a girl, you’d be happy for her. When you see her finding her Mr. Right, you will want them to be together and live a happy life.”

Berbeda halnya dengan film-film komedi romantis yang hanya sekedar menitikberatkan alur cerita pada kisah percintaan pasangan utamanya, You are the Apple of My Eye mengulas tentang bagaimana sekelompok individu dengan segala sita dan kebiasaan yang berbeda 180 derajat, mampu mengalahkan ego mereka masing-masing demi sebuah persahabatan yang tulus. Ko Ching-teng yang awalnya nakal dan tidak pernah memperdulikan apapun yang ada disekitarnya, rela belajar mati-matian demi mendapatkan nilai yang baik untuk lulus ujian masuk perguruan tinge. Berikut dengan Shen Chia-yi, yang juga belajar bahwa kepintaran seseorang bukanlah segalanya. Diwarnai dengan kelima sahabat mereka lainnya yang tidak kalah kompak dan berhasil mendatangkan tawa, we are left with a massive relatable feeling that will make us reminisce our old days youth.

And, of course . . . dibalik segala canda tawa yang disuguhkan dalam film ini, penonton juga dibuat menangis terharu saat Ko Ching-teng dan Shen Chia-yi mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah berani mengungkapkan perasaan mereka yang sesungguhnya – in fear of destroying their friendship and themselves – hingga film berakhir dan Shen Chia-yi dipersunting laki-laki lain. Meskipun begitu, dengan eksekusi plot yang luar biasa jujur (dan terkadang menyakitkan) serta sinematografi yang terkesan vintage dan patut diacungi jempol, hal ini merupakan bukti nyata, yang mungkin akan “membangunkan” para pemimpi cinta, bahwa tidak selamanya kisah kasih di SMA akan berakhir bahagia. That sometimes, people grow apart and there’s nothing they can do about it.

Fast forward to the present day, salah satu scene yang (mungkin) meninggalkan kesan terdalam untuk para penontonnya, adalah saat ketujuh sahabat yang sudah sibuk dengan kuliah masing-masing dan berhenti berkomunikasi secara intens, tiba-tiba dikagetkan dengan gempa bumi dahsyat yang mengguncang ibukota Taipei. Refleks, bermodalkan sebuah handphone Nokia tahun 2000an, dengan penuh kekhawatiran Ko Chin-teng berlari keluar area kampusnya demi mendapatkan sinyal untuk menelfon Shen Chia-yi, yang pada akhirnya menjadi titik balik kedua belah pihak untuk memulai semuanya dari awal lagi, meskipun hanya sebatas teman.

Secara garis besar, Giddens Ko berhasil membawa para penonton menaiki sebuah emotional rollercoaster panjang yang bukan hanya membuat sesak di dada, tetapi juga mengajarkan berbagai nilai kehidupan yang tidak kalah pentingnya. Bahwa disaat kita terjatuh dan berada di masa-masa yang paling terpuruk, sahabat sejati akan selalu ada untuk membantu kita kembali berdiri diatas kaki sendiri, apapun masalahnya. Everything was portrayed raw and realistic.

Meskipun begitu, perlu juga diingat bahwa film ini kurang cocok dipertontonkan untuk anak-anak dibawah umur, dengan beberapa uncensored scenes yang terlalu vulgar seperti referensi seksual, nudity dan kata-kata makian yang terkesan sedikit dipaksakan. But, overall, You are the Apple of My Eye is a heartwarming coming-of-age movie that will leave you smiling and crying, as the chances we regret are the chances we didn’t take.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Critical Eleven (2017) – Suka Duka Kesempatan Kedua

Di dunia ini, tidak ada cinta yang sempurna layaknya cerita dongeng. Sekalipun cinta yang larut dalam indahnya kota-kota besar seperti New York, Jakarta dan pesisir Meksiko. Tetapi, apakah dengan kehilangan kita akan belajar untuk saling melengkapi? Diangkat dari novel terlaris karya Ika Natassa, Critical Eleven menceritakan tentang suka duka kesempatan kedua, berikut dengan pilihan hidup yang terkadang tidak sejalan dengan ekspektasi.

Menceritakan tentang Ale dan Anya Risjad, sepasang suami istri dengan kehidupan pernikahan yang serba ada dibawah gemerlap kota New York, Critical Eleven mengangkat sebuah analogi unik yang berdasarkan sebuah istilah populer dalam dunia penerbangan dengan nama yang sama, critical eleven — dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Berdasarkan data statistik, 80% dari kecelakaan pesawat biasanya terjadi pada saat masa-masa kritis tersebut. Sedangkan, dalam novel/film ini, dikatakan bahwa 11 menit pertama dari sebuah pertemuan merupakan masa paling kritis yang akan menentukan kemana sebuah hubungan akan dibawa. 3 menit saat pembentukan kesan pertama, dan 8 menit sebelum perpisahan.

Tetapi, setelah dihadapkan pada realita yang berbanding 180 derajat dengan apa yang awalnya mereka harapkan, apakah 11 menit tersebut mampu menjadi alasan dibalik kekuatan cinta Ale dan Anya?

“Bisa bayangin nggak, kita lewatin jembatan bareng, terus kita bakar jembatan itu. Nggak ada jalan untuk kembali. Aku sama kamu kayak gitu, Nya. Ayo bakar jembatan bareng.”

Mungkin, istilah the calm before the storm sangat pas untuk menggambarkan keseluruhan film Critical Eleven secara general.  Meskipun film ini telah berhasil menyorot berbagai spot legendaris kota New York yang indah, serta teknik pengambilan gambar yang berhasil membuat siapa saja yang menontonnya berdecak kagum, rasanya agak sedikit sulit untuk benar-benar menikmatinya when their marriage life begins to sink faster than the Titanic.

Dengan kehidupan pernikahan Ale dan Anya yang (hampir) sempurna, ditambah dengan berita kehamilan Anya yang tidak disangka-sangka, kedua pasangan ini justru dihadapkan pada suatu kenyataan pahit dimana gelar orang tua yang hampir mereka raih dirampas secara ironis, saat dokter menyatakan bahwa Anya mengalami keguguran. The fact that it’s almost impossible to keep themselves composed over the searing pain of losing their son, and the aftermath of every single thing that happened beyond their consent is truly heartbreaking. Tidak hanya itu, pada saat penonton dibuat menangis sendu di klimaks cerita, even more plot twists — yang meskipun relevan, terkadang sedikit antiklimaks dan dipaksakan — start to bombard the remaining scenes until the very, very end.

Tetapi, untuk memuaskan hasrat para penonton yang telah sukses dibuat tersenyum dan menangis tidak karuan selama kurang lebih 135 menit, (dengan penuh kebingungan) Critical Eleven pun memutuskan untuk tidak mengikuti alur epilog yang ada di dalam novel, serta mengikuti tren yang tetap berada dalam comfort zone industri perfilman: a happy, fairytale-like ending.

Meskipun begitu, tidak dapat dikatakan bahwa Critical Eleven is not worth the watch. If you’re a sucker for adult-themed melodramatic romance with fancy settings, this one’s for you. Dengan sinematografi yang patut diacungi jempol, kata-kata mutiara penuh makna yang tidak henti-hentinya dilontarkan oleh Ale dan Anya, chemistry para pemain, eksistensi pemeran pendukung yang tidak kalah besar impact-nya, serta antusiasme penonton yang kebanyakan telah lebih dulu membaca novelnya, Critical Eleven merupakan sebuah film yang tepat untuk menggambarkan fantasi dan romantisme kehidupan pernikahan, serta sakitnya kehilangan orang yang paling kita cintai dengan tulus, bahkan sebelum kita dapat benar-benar bertatap muka dengan mereka.

5 Film Yang Membahas Tentang Kesehatan Mental

“If mental disorders could be seen on a sufferer, maybe society wouldn’t say ‘get over it’.”

450 juta orang di dunia mengalami masalah gangguan jiwa, baik depresi, schizophrenia, epilepsy, penyalahgunaan alkohol, narkoba, percobaan bunuh diri dan masih banyak lagi. Untuk lebih detailnya, setiap 40 detik seseorang yang mengalami depresi melakukan percobaan bunuh diri. Angka tersebut bisa dibilang cukup fatal, terutama dikarenakan masalah gangguan jiwa yang tidak mengenal umur maupun cara mereka bersosialisasi di lingkungan sekitarnya.

Dalam artikel kali ini, Distopiana akan berbicara mengenai 5 film yang membahas tentang kesehatan mental. Sudah sewajarnya kita sebagai bagian dari lapisan masyarakat menyadari pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental, dan bukan hanya kesehatan fisik. Masalah-masalah psikologis seperti yang sudah disebutkan diatas juga membutuhkan atensi yang sama banyaknya, terlebih dikarenakan sebagian besar dari kita mengalaminya sendiri.

  1. It’s Kind of a Funny Story (2010) directed by  Anna Boden & Ryan Fleck

large

Mungkinkah seseorang yang tidak menghadapi permasalahan fatal apapun dalam hidupnya mengalami depresi? Jawabannya, ya. Diangkat dari novel Ned Vizzini dengan judul yang sama, It’s Kind of a Funny Story membuka mata setiap penontonnya dengan satu ungkapan: not everyone is doing great, even if they look like it. Film ini mengisahkan tentang seorang remaja asal New York bernama Craig Gilner (Keir Gilchrist), yang setelah gagal melakukan percobaan bunuh diri dengan cara melompat dari Brooklyn Bridge secara diam-diam datang ke rumah sakit untuk mencari bantuan. Dengan orang tua yang selalu mendorongnya untuk menjadi yang terbaik, aplikasi summer school yang menguras pikiran, dan rasa tidak percaya dirinya terhadap orang-orang disekitarnya, Craig pun belajar bahwa tidak semua rencana dapat berjalan sesuai dengan harapan. Menjadi terbuka dengan orang lain bukanlah sesuatu yang memalukan, apapun alasannya.

2. The Perks of Being a Wallflower (2012) directed by Stephen Chbosky

paul-rhodd

Ditulis dan disutradarai oleh Stephen Chbosky, para penikmat film maupun literature judah pasti akrab dengan The Perks of Being a Wallflower. Diangkat dari novel dengan judul yang sama, film ini sudah pasti akan membuat anda meneteskan air mata, merenungkan pilihan-pilihan hidup yang telah anda buat dan tersenyum tiada henti, sambil sesekali bernostalgia menuju awal tahun 90-an. Meskipun sedikit berbeda dengan alur cerita yang ada pada novel, film ini tetap mama memenangkan hati para penontonnya. Bagaimana tidak? Diceritakan Charlie Kelmeckis (Logan Lerman), seorang high school freshman yang berusaha melewati post-traumatic stress disorder yang diakibatkan oleh sexual abuse yang dialaminya sewaktu kecil. Dengan sekolah baru, teman-teman baru, dan gaya hidup baru, Charlie dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua orang yang ia temui akan menganggapnya sebagai ‘freak’. Buktinya, Charlie justru bertemu dengan Sam (Emma Watson) dan Patrick (Ezra Miller), dua senior yang mau menerimanya dengan tangan terbuka, tanpa mempermasalahkan kecanggungannya terhadap dunia sekitar.

3. Silver Linings Playbook (2012) directed by David O. Russell 

9-Silver-Linings-Playbook-quotes

Dibintangi oleh berbagai aktor dan aktris papan atas seperti Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert DeNiro dan Julia Stiles, film yang diangkat dari novel Matthew Quick ini judah pasti dapat memuaskan kecintaan anda terhadap film-film yang bertajuk romantic comedy-drama. Dikisahkan Patrick “Pat” Solitano, Jr. (Cooper), seorang pasien penderita bipolar disorder yang baru saja keluar dari rumah sakit dan pada akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama kedua orangtuanya. Bertekad untuk merebut kembali hati mantan istrinya, Pat bertemu dengan Tiffany Maxwell (Lawrence), seorang janda yang menawarkan bantuan untuk mendapatkan istrinya jika Pat bersedia untuk menemaninya mengikuti sebuah kompetisi menari. Seiring berjalannya waktu, Pat dan Tiffany pun belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan terhadap hubungan-hubungan yang mereka pernah jalani, selagi mempertimbangkan pilihan-pilihan mereka dalam hidup.

4. Side Effects (2013) directed by Steven Soderbergh

Sebuah film psychological thriller yang ditulis oleh Scott Z. Burns ini menceritakan tentang seorang perempuan muda bernama Emily Taylor (Rooney Mara) dengan gangguan mental yang membunuh suaminya sendiri setelah mendapatkan rekomendasi obat anti-depresan baru yang masih bersifat experimental oleh kedua psikiaternya, Dr. Jonathan Banks (Jude Law) dan Dr. Victoria Siebert (Catherine Zeta-Jones). With its main focus on psychological issues, stock price manipulation, title malfunction, law abundance dan masih banyak lagi, Side Effects dijamin mampu membuat para penonton menggeleng-gelengkan kepala dengan segala plot twist mencengangkan yang disajikan.

5. Still Alice (2014) directed by Richard Glatzer & Wash Westmoreland

Early-onset Alzheimer’s Disease, seperti yang dikisahkan dalam novel dan film Still Alice, adalah salah satu jenis penyakit Alzheimer yang paling jarang kita temui. Selain menyerang penderita dibawah umur 65 tahun, Early-onset Alzheimer’s Disease juga diwariskan secara turun temurun / genetik secara autosomal dominan, layaknya sebuah kromosom. Diceritakan seorang perempuan paruh baya bernama Alice Howland (Julianne Moore), seorang profesor linguistik di Columbia University yang baru saja berulang tahun ke-50. Setelah beberapa kali mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi-materi dalam lecture-nya, keluarga Alice pun memiliki kecurigaan bahwa ia mengalami penurunan kesehatan mental, yang ternyata dibuktikan sebagai penyakit Alzheimer. Dengan penulis novel Still Alice yang juga merupakan seorang neuroscientist ternama, Lisa Genova, penonton dibawa melewati sebuah lorong sains emosional, yang dijamin akan membuat mereka meneteskan air mata.

Sometimes, life gives you thousands of choices… or nothing at all. Dan terkadang, pilihan-pilihan tersebut tidaklah ideal dengan apa yang ada di benak kita. Tetapi kita tetap harus maju. Harus memilih. Karena para akhirnya, happiness is indeed one of the most fragile feelings, but it’s always worth the try. You just have to believe in yourself in order to do so. Jangan menyerah dan patah semangat, apalagi merasa bahwa kita adalah orang yang paling bersedih di dunia ini. Karena sejujurnya, saat kita membuka mata dan melihat melihat sekitar, ada banyak sekali orang-orang yang mendukung dan mau menerima kita apa adanya, meskipun kasih sayang tersebut tidak selalu ditunjukkan secara terang-terangan. You just have to look a little deeper.

13 Reasons Why (Miniseries 2017) – We Need to Talk About Hannah Baker

Kesehatan mental, bullying, serta pergaulan remaja sudah menjadi salah satu isu yang sudah umum dijadikan pembahasan menarik di berbagai media pop kultur. Banyak film dan TV show yang secara eksplisit membahas tentang gaya pergaulan remaja dan baik buruk dampaknya terhadap perkembangan emosional mereka, seperti Glee, The Virgin Suicides, Elephant, dan Bang Bang You’re Dead. Bicara remaja, tentu sasaran utama dari film dan TV show tersebut adalah remaja, dan kita tentunya sadar bahwa remaja merupakan objek yang sangat rentan untuk menerima sesuatu yang mereka anggap menarik menjadi inspirasi untuk mereka tiru. Berangkat dari fakta tersebut dan banyaknya kasus kriminal yang terinspirasi dari film dan TV show, setiap dari mereka sepatutnya berusaha untuk menggambarkan isu-isu tersebut secara detail dan penuh kehati-hatian agar apa yang mereka coba sampaikan tidak menjadi bumerang dan malah menginspirasi para remaja yang menontonnya untuk menjadi apa yang seharusnya mereka hindari (bully, school shooter, serial killer, or suicide victim).

Diangkat dari novel karya Jay Asher, 13 Reasons Why bercerita tentang aftermath dari sebuah kasus bunuh diri di Liberty High School. Hannah Baker (Katherine Langford), Sang Korban, secara rahasia merekam tujuh buah kaset yang berisi rekaman pengakuannya tentang tiga belas orang yang ia anggap bertanggung jawab terhadap kematiannya. Ia kemudian menduplikasinya menjadi tiga belas copy dan, dengan alasan yang misterius, mengirimkannya kepada tiga belas orang yang ia ceritakan di rekamannya tersebut setelah kematiannya. Di saat yang sama, Liberty High School juga mendapatkan tuntutan hukum dari orang tua Hannah Baker karena Sang Ibu curiga bahwa anaknya mendapatkan tekanan dan bullying dari murid-murid di sekolahnya dan pihak sekolah memilih untuk tidak menanggapi persoalan tersebut dengan serius. Kita akan dibawa menuju sebuah perjalanan emosional yang dialami oleh Hannah Baker secara kronologikal lewat perspektif Clay Jensen (Dylan Minnette), seorang bocah lelaki manis dan canggung yang pernah dekat dengan Hannah dan juga termasuk ke dalam tiga belas alasan tersebut.

Memiliki nuansa yang identik dengan video game Life is Strange, serial televisi yang sebagian besar episodenya disutradarai oleh Tom McCarthy (Spotlight) ini penuh dengan intrik drama kenakalan remaja yang tidak hanya membuat kita murka, namun juga berlinangan air mata. Meskipun masih agak terkungkung dalam stereotipe klasifikasi (nerds, jocks, cheerleaders, preppies, hipsters, emo kids, teacher’s pets), namun semua tokoh yang terlibat mempunyai kompleksitas karakter yang sangat manusiawi dan mewakili kondisi emosional yang dialami remaja pada umumnya. Beberapa tokoh seperti Justin Foley (Brandon Flynn), Alex Standall (Miles Heizer), Courtney Crimsen (Michele Selene Ang), Jessica (Alisha Boe), atau bahkan yang hanya muncul di tiga episode seperti Jeff Atkins (Brandon Larracuente) mampu mengaduk-aduk amarah dan empati yang kita rasakan terhadap mereka menjadi lebur dan tak terpisahkan. Kita peduli terhadap mereka, seakan mereka adalah teman kita di dunia nyata yang perlu kita dekati dan ajak bicara dengan penuh pengertian agar kita tidak kehilangan mereka. Yah, secara garis besarnya, 13 Reasons Why memang secara detail dan simpatik menggambarkan sebuah dampak buruk dari pengabaian, ketidakinginan untuk mengerti satu sama lain, dan keinginan untuk saling menang sendiri.

Namun dengan beberapa alasan, saya sedikit takut dengan apa yang 13 Reasons Why dapat timbulkan pada remaja yang menontonnya.

Mari kita resapi premis ini dengan hati-hati: seorang gadis yang depresi merekam tujuh kaset yang berisi curahan hatinya tentang siapa saja orang-orang yang “bertanggung jawab” pada keputusannya untuk bunuh diri. Setelah diduplikasi, ia mengirimkan “masing-masing copy dari ketujuh kaset tersebut” kepada “orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman” dengan alasan yang personal. Hal ini agak mengerikan buat saya karena bukan hanya terkesan terlalu kreatif dan out-of-the-box (pun intended), namun konsep ini seakan mengglorifikasi aksi bunuh diri sebagai salah satu cara yang efektif untuk “mengungkap kebenaran” dan “menegakkan keadilan“.

Hannah Baker adalah seorang gadis yang terlihat normal. Cantik, mampu bergaul dengan baik, serta memiliki keluarga yang pengertian terhadapnya. Kita tidak akan menemukan tanda-tanda kesedihan di mata Hannah, namun pada kenyataannya, ia sering merasa terabaikan dan teracuhkan karena orang-orang yang ia temui di sekolahnya tidak pernah memperlakukan ia dengan baik. Ini mengingatkan pada kita tentang dua fakta: bahwa tanda-tanda depresi itu memang sangat tidak kasat mata dan bahwa bullying serta pengabaian dapat berdampak langsung pada kesehatan mental dan emosional remaja. Hannah memang memiliki gejala depresi, meskipun hanya ditunjukkan sedikit di keseluruhan episode serial ini, namun kesalahan terbesar 13 Reasons Why adalah membuat sebuah premis kokoh yang berdasarkan logika irasional bahwa bullying adalah penyebab dari sebuah aksi bunuh diri, dan bahwa ada orang-orang yang patut dimintai pertanggungjawaban atas sebuah aksi bunuh diri. Bullying mungkin menjadi salah satu faktor seseorang menjadi depresi dan memutuskan untuk bunuh diri, tapi menyebut bullying sebagai penyebab bunuh diri adalah sebuah simplifikasi yang salah besar, meracuni persepsi, dan dapat mengarah kepada keputusan-keputusan yang membahayakan pihak-pihak tak bersalah.

Seperti belum cukup, serial ini mempertunjukkan secara langsung dan eksplisit aksi bunuh diri Hannah di episode terakhir, yang mana merupakan sebuah tindakan yang gegabah karena riset dari American Foundation for Suicide Prevention menunjukkan bahwa “risk of additional suicides increases when the story explicitly describes the suicide method, uses dramatic/graphic headlines or images and repeated/extensive coverage sensationalizes or glamorizes a death.” Tidak hanya itu, adegan tersebut dikemas dengan sangat menyakitkan sehingga saya khawatir akan memunculkan kembali luka dan trauma yang tidak diinginkan bagi para survivor yang menontonnya.

Penting bagi kita untuk membicarakan apa dampak yang akan ditimbulkan oleh tiga belas rekaman pesan terakhir Hannah Baker bukan hanya terhadap orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman tersebut, namun juga terhadap para remaja di dunia nyata yang menonton serial ini. Layaknya Hannah, mereka yang memiliki kecenderungan bunuh diri yang tinggi juga merasa terabaikan oleh orang-orang di sekitarnya. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti “If I die, would it matter” sering mengendap dan merasuki pikiran mereka. Pastinya, seluruh episode di serial ini memperlihatkan betapa kematian Hannah membawa pengaruh yang besar pada Liberty High. Betapa akhirnya, ketiga belas orang tersebut mendapatkan hal yang “setimpal” akibat rasa bersalah mereka terhadap Hannah. Remaja memiliki ego yang tinggi terhadap tiga hal: ingin diberikan perhatian lebih, ingin dianggap istimewa, dan ingin memberikan pembuktian yang mendukung dirinya sendiri. Ditambah dengan sikap Clay Jensen sebagai sudut pandang utama, serial ini seakan mengangkat sebuah gagasan yang keliru yang dapat “menginspirasi” para remaja labil: bahwa bunuh diri adalah satu-satunya cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian penuh, membuat orang-orang di sekitarmu merasa bersalah terhadapmu, dan membuktikan “kebenaran yang hakiki” pada mereka bahwa selama ini mereka salah dalam memperlakukanmu.

Selain penokohan dan penulisan naskah yang apik, gaya penuturan cerita non-linear yang dieksekusi dengan sangat mulus lewat match-cuts, extremely detailed continuity, serta color tone editing adalah sesuatu yang harus dipuji dari serial yang digarap oleh Brian Yorkey ini. Sayang sekali, 13 Reasons Why memang memiliki kekeliruan fatal pada konsep yang seharusnya lebih diolah melalui filter moral yang penuh pertimbangan. Saya tidak menyarankan 13 Reasons Why ditonton oleh mereka yang emotionally unstable atau pun mereka yang sensitif terhadap isu bunuh diri. Namun bagi kita yang orangnya agak cuek, serial yang bisa kita saksikan di Netflix ini akan memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya melucuti ego kita demi memberikan perhatian lebih kepada orang-orang yang kita sayangi.

Well, as Tony said, just listen to the tapes.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Get Out (2017) – A Terrifying Joke

“Yo, my man! What’s up my n**ga!”

 

Black people are, in fact, the coolest people in America. Kaum kulit hitam telah banyak memberikan pengaruh pada trend fashion dan hiburan di Amerika Serikat. Beyonce is The Queen. Michael Jackson is The King. Morgan Freeman is God. Hal ini juga menjadi penyebab dari banyak sekali orang kulit putih yang mencoba untuk terlihat swag dengan bercakap-cakap dan berpakaian layaknya orang kulit hitam. White people really want to be black, dan Jordan Peele, seorang komedian yang terkenal lewat komedi sketsa Key and Peele, mengemas isu tersebut ke dalam sebuah lelucon yang ia sulap menjadi sebuah teror mengerikan berjudul Get Out.

Seorang fotografer kulit hitam bernama Chris (Daniel Kaluuya) berpacaran dengan seorang gadis kulit putih bernama Rose (Allison Williams). Pada satu weekend di bulan keempat mereka berpacaran, Rose mengajak Chris untuk berkenalan dengan orang tuanya dan menginap selama dua malam di rumah mereka. Pada awalnya, Chris sedikit mencurigai keberadaan dua orang pelayan di rumah tersebut, yaitu Georgina dan Walter. Mereka semua berkulit hitam, sama seperti Chris, namun Chris merasa asing dengan perangai mereka yang suspiciously obedient dan—-kalau kata pacar saya—-“so white“. Kejadian demi kejadian aneh terjadi pada Chris, yang kemudian berujung pada satu peristiwa mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Do they know I’m black?”

 

Saya bukan dari kaum kulit hitam di Amerika, tapi paling tidak saya sedikit mendapatkan gambaran tentang bagaimana perasaan mereka saat menjalani hubungan inter-rasial, terutama di saat mereka harus berkenalan dengan orang tua masing-masing. Yah, di Indonesia, ibaratnya kurang lebih seperti pacaran beda suku atau beda agama. Meskipun dalam beberapa hal tidak bisa diibaratkan seperti itu karena kaum kulit hitam punya sejarah yang kelam di tanah Paman Sam, di mana mereka ditindas, dijadikan budak, dan diperlakukan secara diskriminatif oleh penegak hukum seakan mereka tidak mempunyai hak sebagai warga negara. Sampai sekarang, diskriminasi pun masih sering dialami oleh mereka, oleh karena itu kaum kulit hitam pun selalu memiliki paranoia tersendiri terhadap kaum bangsawan dan aparat kulit putih, sekecil apapun itu. Lagi-lagi, Jordan Peele membentuk isu tersebut menjadi sebuah lelucon yang menjadi plot device dalam film horor yang serius ini. Coba bayangkan bila kamu seorang lelaki dari kaum kulit hitam. Kamu berpacaran dengan seorang wanita dari kaum bangsawan kulit putih yang memiliki orang tua yang mempekerjakan orang-orang kulit hitam yang terlihat patuh seperti budak sebagai pelayan mereka. Terdengar seperti sketsa komedi, bukan? Although the scenario was obviously based on a joke, Peele delivers it in a terrifyingly unexpected way, and that’s what makes Get Out an exceptionally experimental horror.

Saya tidak bisa bilang ini film horor komedi, karena secara premis dan treatment, Get Out sebenarnya adalah sebuah ide semi-parodik yang dimasak menjadi film horor yang serius. Film yang baru saja mendobrak rekor sebagai The Highest Grossing Film from An Original Screenplay Debut ini menjadi lucu karena kedua hal berikut:

  1. Penampilan LilRel Howery sebagai Rod Williams, seorang polisi bandara yang menjadi sahabat Chris dan menjagai anjingnya saat ia ke rumah orang tua Rose. Joke-joke receh ala African-American yang ia lontarkan akan membuatmu terpingkal-pingkal dalam paranoia.
  2. Saat kita mendapatkan closure di babak ketiga film dan menyadari apa sebenernya satir jenaka yang mendasari ide cerita dan konklusi dari film ini. Penasaran apa yang saya maksud? Tonton saja sendiri.

Get Out berdiri di atas pondasi dan pilar-pilar yang cukup kompleks, namun film ini tetap berhasil untuk menjadi sederhana dengan tidak mengabaikan unsur-unsur klasik film horor. Creepy sound effects and musics, jump scares, kombinasi pergerakan kamera dan penyuntingan dalam menciptakan suspense masih menjadi faktor-faktor utama pencipta teror dalam film ini.  Meskipun demikian, kengerian terbesar Get Out terpancar dari akting yang memukau dari Betty Gabriel sebagai pelayan berkulit hitam bernama Georgina. Seriously, that “No, No, No” scene will terrorize you, take control over you, and put you right into the sunken place. Plot twist pada akhir film bukanlah hal yang baru, dan tidak akan terlalu mengejutkan bila kamu memang horror freak yang sudah khatam dengan film-film horor tahun 2000-an. Namun yang mengesankan, Jordan Peele menggunakan stereotipe masyarakat terhadap kaum kulit putih (serakah dan kapitalis sejati) sebagai lelucon satir dan, lagi-lagi, memasaknya menjadi sebuah konklusi yang menyeramkan.

Intinya, kalau mau ketemu sama calon mertua, jangan lupa bawain martabak, atau bakso, atau apa kek gitu. Gaboleh bawa tangan kosong. Pamali.

Saya tidak akan bicara lebih banyak tentang film ini karena the less you know, the better it will be. Get Out is a funny satire disguised as a terrifyingly scary horror film. This film is going to get you scared, laugh, and contemplating at the same time. Go watch it!

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Headshot (2016) – A Tremendous Shots of Empty Shells

Iko Uwais melawan Julie Estelle dan Very Tri Yulisman, aksi bela diri yang brutal, serta tone film yang cenderung gelap dan penuh ketegangan. Rasanya sangat tidak mungkin untuk tidak membandingkan film yang disutradarai oleh Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto ini dengan The Raid 1 & 2 yang notabene menjadi pedoman dalam film aksi modern Indonesia. Mengingat Iko, Julie, dan Very juga sempat terlibat di dua project The Raid besutan Gareth Evans tersebut, penonton awam seperti saya akan otomatis bertanya-tanya, “Apa bedanya Headshot dengan The Raid?” dan sesungguhnya jika mempertimbangkan ketiga unsur yang telah saya sebutkan di atas, itu adalah pertanyaan yang tidak bisa disalahkan. Mengapa pula menghadirkan tiga aktor serupa ke dalam film aksi dengan warna dan rasa yang sama namun tidak ada kaitan cerita sama sekali dengan film sebelumnya?

Seorang pria misterius (dibintangi oleh Iko Uwais) terbangun di sebuah rumah sakit, tidak mengingat siapa namanya dan apa yang terjadi pada dirinya. Di sampingnya, seorang dokter-dokteran kawaii bernama Ailin (diperankan  oleh Chelsea Islan) menemaninya dengan sabar dan penuh kasih sayang, meskipun ia tidak tahu siapa lelaki itu sebelumnya dan apa yang telah ia perbuat. Ailin menamainya Ishmael, berdasarkan karakter yang ia temukan di novel Moby Dick yang ia baca saat menunggui pria itu sadar. Serangan demi serangan menimpa mereka tanpa alasan yang jelas, Ailin disandera oleh segerombolan orang yang mencari Ishmael, dan Ishmael harus mencari tahu tentang siapa sebenarnya dirinya dan menyelamatkan Ailin dari cengkeraman pria bernama Lee (diperankan oleh Sunny Pang) sebelum semuanya terlambat.

Sebagai film yang serupa tapi tak sama dengan The Raid ini, Headshot tidak menawarkan banyak hal-hal baru. Malah, bagi saya, film ini terasa seperti sebuah The Raid dengan plot Bourne-ish yang kurang detail. Tidak ada kejutan yang besar ataupun plot twist yang mindblowing dalam film ini, jadi jangan berharap terlalu banyak, karena semua akan mudah kalian tebak bahkan saat kalian baru sampai di pertengahan babak kedua film. Oke, beberapa adegan seperti bus on fire scene dan police station raiding scene cukup inovatif, menegangkan, dan menghibur di mata penonton umum, namun jika kamu penggemar film-film aksi Jepang dan Korea Selatan (terutama karya-karya Takashi Miike, Park Chan-wook, dan Kim Jee-woon) semua akan terasa seperti deja vu yang diwarnai dengan sekuens kamera yang terlalu sering berotasi mengelilingi para petarung saat sedang serius baku hantam. Take one shot of whiskey every time the camera starts to rotate, and you will get hopelessly wasted at the end of the film.

Dosa terbesar The Mo Brothers di film ini adalah: memberikan peran Ailin, the damsel-in-distress, kawaii-oriented doctor, pada Chelsea Islan. Awalnya saya berpikir ia akan berlaga sebagai dokter cantik yang ternyata memiliki kemampuan bela diri sehebat Iko Uwais, sehingga mereka bisa saling tandem, mengingat track-record Chelsea yang selalu berhasil memerankan gadis petarung yang tangguh, cerdas, dan independen (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, 3Srikandi, Di Balik 98). Ternyata saya salah, dan saya kecewa teramat besar saat mengetahui bahwa potensi terbaik Chelsea disia-siakan di film ini. Saya jadi tidak habis pikir, banyak aktris-aktris kualitas sinetron yang bisa mereka berikan kesempatan lebih untuk tampil di sebuah film bergengsi yang ditayangkan di banyak festival film mancanegara ini dengan memerankan karakter Ailin. Sungguh, mereka akan dengan lebih mudah menyatu dengan persona yang dibutuhkan, karena sejujurnya memang penulisan dan pembangunan karakternya secetek itu. Chelsea Islan memang harus diakui mempunyai fitur penampilan yang kawai: kulit putih mulus, rambut lurus, wajah cantik dan lucu, apalagi jika dipakaikan kacamata. Namun dengarkan saja suaranya yang tegas dan rasakan persona yang keluar dengan kuat saat ia berbicara, maka kamu akan menyadari bahwa kamu bahkan jauh lebih cerdas dari pada produser dan sutradara yang memilih Chelsea sebagai Ailin.

Jika kamu sudah menonton trailernya dan menyangka bahwa ada suatu kesalahan fatal dalam karakter Ailin, maka percayalah prasangka kamu benar adanya.

Tentu ada beberapa aspek dalam film ini yang patut kita puji, seperti penggunaan koreografi aksi sebagai medium dalam menyampaikan emotional connection yang terjadi pada tiap-tiap dari mereka yang bertarung. Tiga sekuens pertarungan terakhir (Besi, Rika, dan Lee) cukup efisien bercerita tentang latar belakang emosional para tokoh antagonis dengan Ishmael lewat jurus-jurus yang dikeluarkan, ekspresi wajah, serta dialog yang sangat minimalis. Cukup mengesankan, mengingatkan kita dengan film-film laga Bruce Lee dan Jackie Chan. Yak, betul, sekali lagi jangan mengharapkan ada sesuatu yang otentik dan segar dalam film ini, karena meskipun Headshot dieksekusi dengan maksimal dan punya production value yang terlihat megah, semuanya hanya pengulangan yang terlalu sering diulang-ulang.

Film aksi memang seharusnya memberikan penekanan pada skenario-skenario yang memacu adrenalin, namun dengan premis film yang terlalu banal dan banyak lubang serta ketidaksempurnaan pada keutuhan logika plot dan karakter, Headshot lebih terasa sebagai rangkaian koreografi bela diri yang repetitif dan predictable dengan dibumbui percintaan unyu-unyu. Bukan sebagai sebagai cerita yang utuh, otentik, segar, kontekstual, dan menyentuh.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Anomalisa (2015) – Modus Anomalisa

Ada kalanya saat mengulas film yang bikin baper, saya butuh waktu untuk sendirian, lalu meringkuk di atas kursi kerja sambil merenungi rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dada saya. Namun ada kalanya juga, saya harus membicarakan beberapa hal yang saya rasa perlu dipaparkan lewat dua sudut pandang yang berbeda agar komprehensif dan tidak bias. Untuk itu, dalam mengulas film Anomalisa, saya mengajak Icha Chairunnisa, salah seorang blogger kondang asal Samarinda yang juga sering ngebaperin film-film yang sudah ia tonton di blognya, Terketik. Film yang istimewa, tentunya harus diulas dengan cara yang istimewa, dan ulasan kali ini akan saya paparkan dengan bentuk rekap hasil korespondensi saya dengan Icha.

[CHAPTER 1]

T : “Halo Ichaa, Kapan nih kita baperin Anomalisa?”

I : “Hai Tommy! Ayok kita mulai sekarang baperinnya. Hehehe. Aku suka filmnya! Dan aneh sih, aku pas nonton adegan Lisa dan Michael lagi beradegan ena ena, aku ngomong ‘Film animasi nakal!’ berkali-kali. Awalnya aku bingung sih kenapa suaranya kok sama semua. Mulai dari orang yang duduk di sebelahnya waktu di pesawat, di hotel, nggak cewek nggak cowok. Bahkan mantannya yang namanya Bella itu pake suara cowok. Bajingak. Geli nontonnya. Ngakak gitu aku.”

T : “Tapi pada akhirnya kamu ngerti kan itu kenapa?”

I : “Hmm… kalau yang aku baca dari review soal film itu, suara cewek pake suara cowok dan semua suara orang di situ sama semua, menandakan betapa membosankannya hidupnya Michael. Dia nganggap semuanya sama. Kalau nggak salah, itu ada di ilmu psikologi gitu ya. Fregoli Syndrome kalau nggak salah.”

T : “Yup, betul, every girl is just another boring person for him, kecuali Lisa…”

I : “((KECUALI LISA))”

T : “…dan ketika suara Lisa menjadi berat dan Michael ogah-ogahan, itu juga karena dia udah bosen sama Lisa.”

I : “Oooh….. secepat itu dia bosen sama Lisa? Trus yang dia pidato hancur-hancuran itu? Itu dia maksudnya curhat colongan ya?”

T : “It’s because he literally can’t stop thinking about her, and what happened between him and her. Lisa itu sama-sama korban kayak Bella. Korban PHP. Korban ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Korban cowok ilfil yang nggak bisa konsisten sama perasaan dia sendiri.”

I : “AAAH! Jadi, Michael itu memang tipe orang yang bosenan? Madefaqa. Eh, kamu ngerasa relate nggak sih, Tom? Wkakakakaka.”

T : “Aku pernah jadi Michael dan juga jadi Lisa. Tapi lebih sering jadi Lisa sih HAHAHA.”

I : “Wuahahaha. Lebih sering jadi Lisa. Yakin? :p”

T : “Hmm…gimana yah? Udah ah lanjut ngomongin Anomalisa wqwq…”

I : “Ih dasar, mengalihkan perhatian wkwk. Aku pikir karakter Michael itu mirip sama karakter Theodore-nya Her. Soalnya filmnya sama-sama tentang kesepian gitu kan. Tapi ternyata…”

T : “Nah justru film ini mengajak kita untuk mengerti sebenarnya apa yang si manusia PHP ini rasakan. Pertanyaannya adalah: Kamu pernah jadi Michael atau Lisa nggak? Hehe hehe~”

I : “Aku pernah jadi Lisa. Aku pernah ceritain itu di blog. Dan kasusnya sih mirip-mirip kayak film Anomalisa. Aku kayak Lisa yang rendah diri, pemalu, minderan, dan ngerasa waaaaw banget pas orang yang aku idolain itu deket sama aku dan bilang suka sama aku.”

T : “Hmmm ya ya.  Coba gimana detailnya?”

I : “Kejadiannya udah lama sih. Hahaha. Kalau boleh curhat nih, basah sekalian, dia itu komika. Dulu aku ngedukung dia penuh pas ikut SUCI. Nontonin dia kalau Open Mic. Dan nggak nyangka aku bisa deket sama dia. Padahal waktu itu aku punya pacar. Hahahaha.”

T : (menyeruput kopi)

I : “Tapi lama kelamaan dia ngejauh. Tanpa sebab. Atau akunya aja yang nggak tau sebabnya apa. Atau dia ya kayak Michael, bosen sama aku. Padahal aku udah mau mutusin pacarku waktu itu demi dia. Tapi akhirnya ya aku tetap sama pacar. Setelah ngaku kalau aku pernah deket sama idolaku itu.”

T : “Pembicaraan ini telah saya screenshot dan sudah pasti akan masuk Distopiana HAHAHA~~~~~”

I : “BAJINGAAAAAK!!!!!!!!!!!!”

T : “Wqwq buodo amat. Eh cha, mau pulang dulu. Makan dulu. Boleh nggak cha? Malem lanjutin lagi gitu.”

I : “Boleh lah, Tom. Makan yang banyaaaak. Biar kuat kalau mau jadi Lisa lagi! Wkakaka.”

[CHAPTER 2]

T : “Oy oy.”

I : “Hadiir! Duh, Gara-gara nonton Anomalisa, jadi pengen nonton Eternal Sunshine lagi. Wkakakaka.

T : “Hahaha oke lanjut. Apa persepsi kamu terhadap orang yang PHP in kamu itu? Kamu nganggep dia bajingak kah? Atau gimana?”

I : “Aku nganggap dia jahat banget. Bajingak gitu. Gimana ya, aku yang awalnya minderan, rendah diri, pas kenal dan deket sama dia jadinya mulai percaya diri gitu. Soalnya dia mandang kekuranganku sebagai kelebihan. Sama kayak Michael mandang kekurangannya Lisa sebagai kelebihan. Pas tau dia cuma pehapein aku, akunya jadi ngerasa lebih minder daripada sebelum dekat sama dia. Ngerasa nggak berharga. Ngerasa bego juga, karena kok aku bisa gede rasa sama dia. Padahal dianya cuma nggak mau serius sama aku.”

T: “Hmm…oke oke.”

I : “Trus, Tom. Si Lisa kenapa tegar aja ya pas di ending? Padahal dia dipehapein gitu. Ditinggalin sama Michael.”

T : “Lisa falls too deep. Too hard. She was destroyed. And you know what, that’s what a destroyed person does when he got destroyed too much before. She’s just taking it like a lady, when she actually feels like a hobo.”

I : “Feels like a hobo :’) Jadi…sebenarnya Anomalisa ini ceritanya bukan sekedar cowok bosen hidup yang tiba-tiba jadi semangat hidup karena ketemu cewek yang berbeda dari yang lain kan?”

T : “It’s hard to describe sih, Cha. Kamu pernah ngerasa bosen nggak sama seseorang yang pernah kamu suka sebelumnya?”

I : “Pernah. Tapi bukan ke bosen sih. Gimana ya, kan jadi ikutan susah ngejelasinnya. Ya gini. Aku suka sama seseorang, yang menurutku dia itu nggak pernah aku temuin di cowok-cowok lain. Atau gini, dia jadi seseorang yang aku nggak sangka bakal datang ke hidupku. Ceilah. Hidup. Seseorang yang aku suka itu, dia humoris tapi juga manis. Kami juga punya hobi yang sama dan dia selalu nyemangatin aku kalau minderku kumat.”

T : “Hmm terus terus?”

I : “Tapi makin ke sini, aku jadi tau dia itu memang manusia. Pasti ada kurangnya. Aku bosen sih ngertiin dia. Menganggap kalau sifatnya itu nggak apa apa. Tapi bosen yang nggak lama. Itu sih.”

T : “I see…”

I : “Kalau menurut kamu, kita bisa bosen sama orang itu sebenarnya karena apa, Tom? Karena nggak ada yang bikin kita penasaran lagi sama dia? Karena hubungan yang dijalin terlalu lama? Atau apa?”

T : “Nah, ini dia. Aku pernah bilang sama temen aku, aku pengen banget tahu caranya bedain rasa ‘sayang’ sama yang sekedar ‘penasaran’ doang. Terus temen aku ngetawain aku sambil bilang: Good luck aja deh, Tom. HAHAHA!”

I : “KOCAK TEMEN KAMU IH. JAHAT JUGA JAWABNYA KAYAK GITU. HAHAHAHA.”

T : “Wqwq terdengar jahat memang, Tapi dia sebenernya bilang kalo sampai sekarang pun, manusia sepandai apapun nggak akan pernah bisa bedain mana cinta dan mana penasaran. Hoki-hokian aja sebenernya. Sama kayak Michael yang tiba tiba sadar di pagi hari setelah ena ena sama Lisa. Lisa yang udah nyaman banget sama Michael tiba-tiba malah bikin Michael ilfil karena pada akhirnya Michael ngeliat Lisa sama aja kayak manusia-manusia pada umumnya. Cinta dan penasaran sama-sama bisa bikin kita clingy sama seseorang. Sama sama bisa bikin dia menghantui mimpi kita. Sama-sama bisa bikin kita mau ngelakuin apa aja buat dia.”

I : “ITU DEEP SIH TOM! Eh, tapi bener juga. Nyaris nggak ada bedanya mungkin. Jatuh cinta sama penasaran. Memang bener mempertahankan itu lebih susah daripada mendapatkan. Termasuk mempertahankan jatuh cintanya kita sama seseorang.”

T : “When we try to get love, we only have to fight for one person. When we try to defend love, we have to face another difficult enemies: ourselves.”

I : “Aaak bijaque banget sih :’) Trus, Tom. Setuju nggak sih kalau kita terlalu nyaman sama seseorang atau sesuatu, kita malah ngerasain kebosenan? Mungkin itu yang dirasain Michael.”

T : “Nggak semua orang begitu, sih, tapi dalam kasus Anomalisa ini mungkin. Kamu lihat kan pas di scene di mana Michael kebayang-bayang sama hantunya Bella? He actually feels guilty and wants to settle it once and for all. Tapi dia tetep nggak bisa ngerasain cinta yang dia mau. Pas di Lisa yang dia kira true love nya dia pun, dia ternyata nggak bisa ngerasain itu. Pas di istrinya pun sama, istrinya pake suara cowok kan. He still feel the same empty, numb feeling towards her. But he settle it once and for all with her, without feeling love, the feeling that he is unable to have.”

I : “Hooh iya iya…”

T : “Bisa aja Michael ini a realistically mundane version of Summer Finn.”

I : “YAAAAA! AKU JUGA SEMPET KEPIKIRAN 500 DAYS OF SUMMER! MICHAEL SAMA SUMMER ITU SAMAAAA! SAMA-SAMA BIKIN KITA BINGUNG MAUNYA MEREKA ITU SEBENARNYA APA! AAAAAAK! Summer juga ngerasain kekosongan dalam hidupnya kan? Dia nggak percaya apa itu cinta. Tapi bedanya sama Michael, dia riang dan gembira dalam menjalani hari-harinya. Aku mikir kalau dia nggak mau cinta-cintaan karena dia nggak mau ngerasain kesedihan kayak yang dirasain kedua orangtuanya. Orangtuanya yang bercerai. Kesedihannya ngeliat orangtua mereka bercerai. Summer udah kayak judul lagu yang dinyanyiin sama Lisa. Girls Just Want To Have Fun. Gitu kali ya HAHA.”

T : “Yup yup, bener banget!”

I : “Oke. Itu yang dirasain sama para tukang PHP ya? Nggak punya keberanian buat making decision to love and protect someone. Madefaqa. Lemah. Lemah syahwat. Fix itu yang dirasain Michael. Dan mungkin juga Summer Finn. Pantesan kayaknya tukang PHP memang doyannya sama orang yang rendah diri dan minderan gitu deh. Michael bisa pehapein Lisa karena dia rendah diri dan suka bilang ‘Shut up, Lisa’ pas dia ngomong terlalu banyak. Summer bisa pehapein Tom Hansen karena Tom Hansen rendah diri. Tom yang pesimis sama hidupnya. Bella juga keliatan rendah diri kan? Pas di telpon, dia kasih tau kalau sekarang dia gemuk, pake gigi palsu, bla bla bla. Pas ketemu dia bilang kalau dirinya jelek.”

T : “YAHELAH KENAPA BALIKNYA KE (500) DAYS OF SUMMER LAGI SIH!! *kraiii*”

I : “HAHAHA MAAF TOOM JANGAN BAPER! Film 500 Days of Summer itu genrenya slasher, gore, thriller, kalau kata temenku ??”

T : “Iya udah jangan dilanjutin, gasehat bapernya. Terus-terus, pandangan kamu terhadap orang yang PHP gimana sekarang?”

I : “Setelah nonton Anomalisa, aku ngeliatnya ternyata jadi tukang PHP itu nyusahin diri sendiri. Ternyata tukang PHP itu bisa jadi tukang PHP bukan karena dari awal niatnya mau memberi harapan palsu. Bisa aja dia niat awalnya mau serius sama seseorang. Tapi karena dia nggak bisa tegas sama perasaannya sendiri, dia terlalu mengejar kesempurnaan mungkin nggak bisa nerima kekurangan kecil pasangannya kayak Michael nggak bisa nerima kebiasaan Lisa yang suka ngomong sambil makan, ya udah dia milih pergi aja. Huhuhu.”

T : “Yup. Aku juga ngerasanya gitu kok.”

I : “Dan…. sekarang aku yang tanya. Waktu kamu pernah jadi Michael, kamu kayak gimana? ????”

T : *tidak ada jawaban* *hening*

T : “Chaaaa, maaf baru bales. Aku semalem ketiduran!”

I : “Ketiduran apa menghindari pertanyaan? Hahaha. Yuk lanjut lagi.”

T : “Nggak menghindar kok. Nih aku jawab sekarang ya. I’m a simple guy who goes for a girl for a sweet life companion. Intinya hidup udah susah, kerjaanku juga udah susah, aku nggak suka sama yang bikin-bikin drama yang harusnya nggak ada, main mainin perasaan cowok cuma biar dia dikasih perhatian lebih 1×24 jam. Aku orang yang bener-bener sederhana, cuma beberapa cewek yang berhasil bikin aku terpikat di awal kenal itu ternyata seneng over-complicating things sehingga aku capek dan akhirnya aku tinggalin sebelum semuanya terlambat.”

I : “Hahaha. Tauk nggak sih. Aku ngakak bacanya. Jujur dari hati banget. Lugas. Fix cowok memang nggak suka sama cewek yang ngedrama gitu ya. Kalau punya perasaan yang sama, yaudah lanjut. Nggak usah nunggu siapa duluan yang nyatain gitu kan? Nggak usah sok-sok minta diperjuangin gitu kan dengan bertingkah sok jual mahal?”

T : “Nah, kalau aku sih, begitu, Cha, tapi kayaknya tiap cowok beda-beda sih. Banyak cowok yang aku kenal juga ada yang nggak suka sama cewek yang belum apa-apa udah clingy dan demanding, ada yang emang syariah dan nyari satu langsung diseriusin, ada yang emang cuma nyari selangkangan doang abis itu bosen terus ditinggalin, dan ada yang kayak Michael juga, Si Pria Modus Anomalisa.”

I : “(((MODUS ANOMALISA)))”

T : “Okay, that should be our post’s tagline. HAHAHA.”

I : “Setuju banget! Nah, Sekarang bahas soal teknisnya deh, Tom. Kalau mau.”

T : “Aku nggak komentar masalah teknis, because it all seems bizzarely, strangely mundane. Tapi jelas ada maksud tertentu dari kenapa Charlie Kaufman menggunakan animasi stop motion ala-ala Aardman. Lewat setiap manusia yang berbentuk seperti manekin dengan wajah yang hampir mirip, Anomalisa eerily tells us that we are no different than the others. That we are not as special as Tumblr tells us. That we are just someone else.”

I : “Dalem banget sik kata-kata kamu, Tom. Tapi bikin ngakak juga. Hahaha.”

T : “KOK NGAQAQ SIH? KZL! Yaudah sekarang menurut kamu secara teknis, Anomalisa gimana?”

I : “Ngahaha. Kalau aku, lebih ngerasa relate sama Lisa sih. Lisa yang pemalu dan rendah diri itu kurang lebih kayak aku. Aku sempat nangis dikit pas Lisa ‘ngasih tau’ kekurangan-kekurangannya tapi MIchael menyangkal semua itu. Pasti bahagia banget jadi Lisa di malam itu. Ada cowok yang menyanjung dia sampe segitunya. Nganggap kalau dia itu berbeda. Spesial. Kalau ada cowok yang muji kami, cewek-cewek, dengan kalimat, “Kamu berbeda.” Itu lebih bikin senyam-senyum daripada dipuji cantik atau semacamnya.”

T : *mencatat*

I : “Tapi pas Michael dan Lisanya sarapan, aku juga nangis dikit. Tapi beda sih nangisnya. Aku nangis dikit karena mikir, ini Lisa kok gampang banget ya ngiyain Michael? Michael yang mau bareng dia terus sampe mau cerai dari istri. Apa semua cewek yang rendah diri itu gitu? Kalau ada yang suka sama dia, trus dia nyaman dan suka juga, dia nggak mikirin ke depannya kayak gimana? Seolah yang ada di pikirannya itu cuma “ada yang sayang sama aku dan aku nggak peduli apapun yang penting ada yang sayang sama aku”. Dan endingnya tadi nonton lagi filmnya. Dan aku nangis masaaaaa. HAHAHAHAHA. Aku cengeng banget ya.”

T : “Nggak cengeng, kok. Menangis itu manusiawi. Pukpuk Icha.”

I : “Hahaha iya nih, Anomalisa bikin bingung, bikin ngakak, dan bikin baper emang. Beda sama 500 Days of Summer yang menampilkan Summer sebagai tukang PHP secara gamblang jadinya Summer terlihat kejam, Anomalisa nampilin Michael sebagai tukang PHP yang menurutku patut dikasihani. Kasihan aja sih, dia capek sendiri sama perasaannya yang nggak konsisten.”

T : “Jadi menurut kamu, tukang PHP terkadang juga harus dipahami ya?”

I : “Kurang lebih begitu sih, karena terkadang sebenarnya yang kasihan itu si tukang PHP, bukan yang dipehapein kan. Apalagi kalau tukang PHP-nya kayak Michael. Yang kayak dihantui perasaan bersalah gitu. Kalau kesimpulan dari kamu apa, Tom?”

T : “Sebelumnya aku boleh nanya dulu nggak, Cha?”

I : “Boleh, nanya apa, Tom?”

T : “Itu siapa sih yang menemukan kata bajingak? Tak senonoh. Sungguh. Wkwkwk.”

I : “AKU! BAHAHAHAHAHAHAHA. Gara-gara keseringan misuh di grup main werewolf, sering dibunuh di awal permainan, yaudah aku ngumpat. Mau pake bajingan kayaknya kasar banget. Yaudah diplesetin jadi bajingak.”

T : “Luar biasa hahaha. Yaudah lanjut. Kesimpulan dari aku: Pen + Apple = Apple Pen.”

I : “Sialan. Hahahaha. Kesimpulannya bagus, Tom. Seandainya boneka yang dibeli sama Michael itu bukan nyanyi lagu Jepang, tapi lagu pen apple apple pen itu ya.”

T : “Ya, seandainya Michael menyanyikan PPAP saat memberikan kuliah umum, mungkin hidupnya akan jauh lebih berbeda.”

I : ” BAJINGAAAAAK. PPAP berpengaruh besar ya.”

T : “Canda deng hahaha. Kesimpulan dari aku adalah: Anomalisa memperlihatkan bahwa beberapa tukang PHP seperti Michael yang sering dibajingak-bajingakkan itu sebenarnya memiliki kelinglungan yang menyiksa dan sama saja seperti kita yang clueless dalam mengartikan kehidupan dan memaknai perasaan. Kalo kesimpulan dari kamu apa?

I : “Kalau dari aku: Anomalisa memperlihatkan kalau tukang PHP seperti Michael adalah orang yang menyedihkan. Dia kelewat bosan, dia (mungkin) terlalu mengejar kesempurnaan hidup sehingga semua yang di sekitarnya jadi terlihat salah dan sama aja. Nggak ada yang spesial. Dia nggak mensyukuri karirnya yang bagus, orang-orang terdekatnya yang sayang sama dia. Dan sebenarnya orang kayak Lisa adalah orang yang lebih menghargai perasaan orang lain dan bisa bertanggung jawab dengan perasaannya sendiri. Meskipun dia minderan, rendah diri, pemalu, atau semacamnya.

T : “Ntap cha. Good point. Oke deh, seneng banget nih ngulas film bareng kamu. Makasih ya!”

I : “Aku juga seneng banget. Makasih juga! Ngulas film sama kamu menyenangkan. Seneng banget bisa ngulas sama orang yang aku kagumin ulasannya. Huahahahaha.”

– THE END –

The Big Five Mainstream Horrors of Early 2016: Short Review

Bagi kita, mungkin mudah sekali merasa takut sekaligus terlibat secara emosional saat menonton film horor yang baik. Kenyataannya, bagi para produsen film, horor adalah sebuah genre yang menuntut keahlian serta kepekaan ekstra dalam pembuatannya. Mengapa? Karena mayoritas film horor dibuat dengan bujet yang sangat terbatas, namun hampir selalu berhasil untuk menghasilkan keuntungan Box Office berkali-kali lipat, kadang tidak peduli seberapa buruk kualitas film tersebut. Ambil saja contoh kasus Annabelle. Film yang hanya mendapatkan rating 29% di Rotten Tomatoes (karena, yah, memang jelek) ini mendapatkan keuntungan worldwide yang bombastis ($256,873,813) dibandingkan bujetnya yang hanya berkisar $6.5 juta. Keuntungan ini tentunya juga dibantu dari kesuksesan The Conjuring sebelumnya yang mendapatkan keuntungan worldwide $318 Juta dari bujet $20 juta. Inilah yang membuat saya merasa bahwa para produsen film horor patut diberikan apresiasi lebih. Mereka mampu memanfaatkan keterbatasan untuk menciptakan ilusi realita yang maksimal.

Lewat artikel ini, saya ingin mengulas, mengapresiasi, serta mendiskusikan lima film horor mainstream dari awal tahun 2016 sampai artikel ini selesai ditulis.

1. The Conjuring 2, directed by James Wan.

Production Budget: $40,000,000
Worldwide Box Offfice: $320,070,008 (est. 19/09/2016)

Seperti film-film yang sebelumnya disutradarai James Wan, The Conjuring 2 adalah sebuah film yang sangat menyenangkan, terutama bila kamu menontonnya bersama keluargamu atau dengan temanmu yang orangnya kagetan. Premis ‘haunted family in a haunted house’ yang sudah sangat familiar di ranah film-film bergenre horor ini dikemas dengan treatment cerita yang lebih berorientasi pada anak-anak dan keluarga sehingga atmosfer film tidak melulu gelap, namun juga hangat dan penuh kasih sayang. Adegan saat Ed Lorraine (diperankan oleh Patrick Wilson) menyanyikan tembang “Can’t Help Falling in Love” dari Elvis Presley sambil bermain gitar di depan keluarga Hodgson adalah salah satu contoh kehangatan yang jarang kita temukan dari film-film horor modern kebanyakan. Tidak hanya itu, semua jump-scare yang terdapat dalam film pun ini dilakukan dengan crafting yang solid dan segar sehingga tepat sasaran dalam membuat para penonton berteriak kencang tanpa harus mempertanyakan relevansinya dengan logika cerita (that Nun-in-the-Mirror scene was perfect!).

Di antara semakin banyaknya film horor yang mempertontonkan kesadisan dan seksualitas, The Conjuring 2 adalah film horor yang paling aman untuk ditonton bersama anak anda dalam segala usia.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

2. The Wailing, directed by Na Hong-jin.

Production Budget: N/A
Worldwide Box Office: $51,252,403 (est. 19/09/2016)

Bisa dibilang, The Wailing adalah sebuah kombinasi apik antara Memories of Murder dan The Witch dengan kearifan mistik lokal dari Korea Selatan. Disutradarai oleh Na Hong-jin (The Chaser, The Yellow Sea) film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang diserang wabah penyakit mematikan setelah kedatangan seorang lelaki misterius ke desa tersebut. Seorang detektif ceroboh bernama Jong-goo (diperankan oleh Kwak Do-won) yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut malah berbalik menjadi korban tatkala anak perempuannya yang masih kecil ikut terjangkit wabah tersebut.

Biarpun dipenuhi dengan adegan-adegan yang keji, gila, dan agak disturbing, kengerian utama dalam film ini dihasilkan dari gaya penceritaan yang atmosferik dengan menempatkan elemen-elemes simbolis seperti burung-burung gagak yang mati, altar pemujaan setan dengan foto-foto misterius tertempel di dinding, serta iklim latar film yang sebagian besar diisi oleh hujan deras dengan awan yang gelap. Suspensi berlangsung dengan efektif dari awal film sampai akhir. Dalam dua jam lebih durasi film, setidaknya ada tiga plot twist di setiap titik pergantian babak. Kita akan dibuat curiga oleh semua tokoh dan kesal terhadap karakter Jong-goo yang tidak pernah bertindak rasional dalam menghadapi masalah (padahal dia seorang detektif) sampai pada akhirnya kita mengetahui bahwa semua hal tersebut merujuk kepada persoalan yang lebih besar dari sekadar praktik guna-guna.

The Wailing adalah sebuah film mystery-supernatural-horror yang pekat dan padat oleh atmosfer yang mengerikan. Cocok bagi kamu yang sudah bosan terhadap film-film horor dengan skenario yang sketched dan mengandalkan jump scare sebagai senjata utamanya.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

3. The Shallows, directed by Jaume Collet-Serra.

Production Budget: $17,000,000
Worldwide Box Office: $116,055,707 (est. 19/09/2016)

Nancy Adams (diperankan oleh Blake Lively), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran, pergi berlibur ke pantai terpencil untuk berselancar dan melipur lara setelah kematian sang Ibu tercinta. Saat sedang asyik bermain ombak di atas papan, tiba-tiba seekor hiu putih raksasa menyerang Nancy, menggigit kakinya, dan membuatnya terjebak di tengah batu karang besar di lautan bersama seekor burung camar yang ia beri nama Steven Seagull (nggak, burung camarnya nggak bisa Wing-Chun, mohon maaf).

Saat kita berpikir bahwa era film-film monster telah usai, Jaume Collet-Serra menghadirkan kembali kengerian teror serangan hiu buas dengan pendekatan yang sangat milenial di film The Shallows. Kenapa saya bilang milenial? Karena variasi komposisi shot, camera movement, dan editing yang terdapat di film ini mengingatkan saya pada video-video bertema paradise adventure yang sering diunggah para travel vlogger seperti Nainoa Langer, Giarro Giarratana, atau konten-konten viral marketing GoPro di YouTube. Bahkan bisa dibilang, hal tersebut lah yang menjadikan film ini unik dan berbeda dibanding film shark attack lain. Semua elemen lain yang terdapat di film ini sebenarnya sangatlah familiar bagi penonton, yaitu lanskap pantai yang memanjakan mata, eksploitasi pesona tubuh wanita, dan penggabungan premis ‘isolation terror‘ (Buried, 127 Hours, Gravity) dengan ‘monster terror’ (Lake Placid, Deep Blue Sea, Anaconda, Jaws). Selebihnya, tidak ada perbedaan yang signifikan, tapi dengan penyutradaraan yang solid dari Jaume Collet-Serra, The Shallows mampu menjadi sebuah wahana jungkir balik yang segar dan menyenangkan bagi para penikmat film horror-thriller.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

4. Don’t Breathe, directed by Fede Alvarez.

Production Budget: $9,900,000
Worldwide Box Office: $107,028,781 (est. 19/09/2016)

Bila seorang kakek tua mencoba menghabisi nyawa tiga orang anak muda yang berusaha untuk membunuh si kakek dan merampok rumahnya, siapa yang akan kamu salahkan? Hal inilah yang menjadi premis utama Don’t Breathe, film horror-thriller arahan sutradara Fede Alvarez. Dari adegan pembukaan pun, film ini sudah menegaskan untuk tidak bertele-tele dan langsung berangkat pada inti cerita: pembantaian tanpa ampun.

Tidak ada momen percintaan dramatis, tidak ada percakapan sok cerdas, hanya pembantaian dan kejar-kejaran.

Pengenalan terhadap keempat tokoh utama pun benar-benar dilakukan seminimal mungkin dan plot langsung masuk ke dalam permasalahan bahkan sebelum lima belas menit pertama berakhir. Dengan plot yang menyerupai Wait Until Dark, Don’t Breathe dikemas sesempit dan sepadat mungkin dengan sentuhan Panic Room dan Inside sehingga menjadi sebuah film yang, seperti judulnya, akan membuatmu sulit untuk bernafas.

Kekuatan utama film ini terdapat pada efektifitasnya dalam memanfaatkan premis yang standar dan lokasi yang minimalis menjadi kengerian klaustrofobik yang tanpa henti sepanjang pertunjukan berlangsung. Don’t Breathe dengan cermat memanfaatkan kompleksitas moral dan idiot plot untuk memaksimalkan potensi horor dari home-invasion thriller yang sudah banyak sekali dibuat. Teknik sinematografi yang digunakan Don’t Breathe juga cukup unik untuk sebuah film horror-thriller. Daripada memanfaatkan efek shaky camera atau fast-cutting untuk memicu ketegangan, Pedro Luque, sang sinematografer, cukup menggunakan teknik konvensional dengan pergerakan kamera yang mulus, komposisi yang rapi, dan penyuntingan yang jeli terhadap momentum. Plot-twist yang muncul di awal babak ketiga film pun cukup menambah sensasi kekacauan tokoh Pak Tua dan kelinglungan moral penonton, meskipun memang menimbulkan banyak kontroversi dari berbagai pihak. Namun jika kamu sedang mencari film horror-thriller yang tidak banyak basa-basi, Don’t Breathe adalah pilihan yang sangat tepat buatmu.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

5. Train to Busan, directed by Yeon Sang-ho.

Production Budget: $8,500,000
Worldwide Box Office: $99,067,452 (est. 13/9/2016)

Film zombie sudah ada sejak tahun 1932, dibuat secara independen dan dengan bujet yang sangat terbatas oleh Victor dan Edward Halperin. Kendati demikian, George Romero-lah yang pertama kali mempopulerkan zombie sebagai medium kritik sosial politik lewat Night of The Living Dead. Generasi Y dan Z mungkin akan lebih familiar dengan The Walking Dead (serial TV) dan World War Z, namun harus diakui, Train to Busan akan menjadi salah satu film zombie sarat kritik sosial yang sangat berkesan dalam pengalaman mereka menonton film horor.

Seorang fund manager bernama Seok-woo (diperankan oleh Gong Yoo) terjebak di dalam sebuah KTX bersama anaknya (Kim Soo-an) saat epidemik misterius yang membuat manusia berubah menjadi zombie menyebar di seluruh Korea Selatan, termasuk di dalam KTX yang mereka tumpangi. Bersama seorang calon ayah dan istrinya yang sedang hamil serta sepasang muda-mudi SMA yang saling mencintai, mereka harus bertahan hidup hingga kereta sampai di Busan, satu-satunya kota yang berhasil bertahan dari serangan wabah.

Setelah The Wailing, Don’t Breathe, dan The Shallows yang menggabungkan dua premis dan referensi film berbeda, Train to Busan juga bagaikan sebuah kombinasi apik antara Snowpiercer dan World War Z, lagi-lagi dengan kearifan lokal Korea Selatan yang terkadang penuh dengan dramatisasi yang klise. Ada banyak drama sosial yang diangkat di sini, dan meskipun porsi melodrama di babak ketiga film akan membuatmu sedikit mengernyitkan dahi, skenario yang dirancang sangat apik dan kokoh sejak permulaan sampai akhir film ini akan tetap berhasil membuatmu menyanyikan lagu “Aloha Oe” sambil menangis tersedu-sedu saat keluar dari bioskop. Disutradarai oleh Yeong San-ho, seorang mantan komikus yang juga pernah membuat film animasi Seoul Station, Train to Busan menghadirkan sebuah horror-thriller dengan pengadeganan yang elok dan tokoh-tokoh yang mampu membuat emosi kita bercampur aduk sepanjang film berlangsung. Meskipun ada Gong Yoo dan Jung Yu-mi yang pernah bermain di Silenced, namun tokoh yang berhasil menyajikan cita rasa yang beragam di film ini adalah Sang Hwa, sang calon ayah bertubuh besar (diperankan oleh Ma Dong-seok) dan Yong Suk, sang COO pengecut (diperankan oleh Kim Ui-seong).

Sebenarnya, inti dari kemantapan Train to Busan adalah kritiknya yang efektif dan lugas tentang strata dan fungsi sosial. Hal ini sebenarnya sudah dimunculkan saat Sang Hwa berkata pada istrinya bahwa Seok-woo itu lintah darat, namun kritik sosial selanjutnya dimasak dengan lezat dan cantik di babak kedua, saat skenario penumpang gerbong belakang versus depan dimulai. Dalam sekejap, horor klaustrofobik pun berubah menjadi drama politik sentimental tentang masyarakat yang mudah disetir opininya saat rasa takut mengancam mereka. Dalam situasi yang telah dibangun tersebut, Yeong San-ho pun menggunakan logika penyelesaian yang mengingatkan saya pada Ran, film dari Akira Kurosawa.

“In a mad world, only the mad are sane.” – Kyoami, Ran (1985).

Beberapa persoalan yang bersifat ilmiah dan rasional di film ini memang memiliki banyak permasalahan, namun dengan subteks ‘pengorbanan’ yang menjadi landasan utama skenario film ini (dan tanggal rilisnya yang kebetulan berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha), Train to Busan adalah film horror-thriller yang sangat menghibur dan cocok untuk ditonton bagi semua orang untuk mendalami esensi dari pengorbanan sebagai bentuk dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap kemanusiaan.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

 

N.B.: Semua data kuantitatif bersumber dari IMDb.com, BoxOfficeMojo.com, dan The-Numbers.com.

THE SUNSHINE BLOGGER AWARDS 2016

Suatu kehormatan bagi Distopiana untuk bisa turut serta meramaikan The Sunshine Blogger Awards 2016–yang kalau tidak salah pertama kali dicetuskan oleh Paskalis Damar lewat blognya, Sinekdoks. Terima kasih atas nominasi yang telah diberikan oleh Amelia Puteri, orang di belakang blog keren berjudul Marry The Fiction. Terakhir, kami juga harus berterima kasih kepada Jack Dorsey, karena tanpa Twitter, kami tidak akan pernah bisa mengenal orang-orang sekeren mereka.

Distopiana saya cetuskan pertama kali dua tahun yang lalu, saat saya sedang magang di salah satu korporasi yang bergerak di bidang sociopreneur sebagai social media specialist. Mulai awal tahun 2016 ini, saya menggaet Bunga Maharani, teman penulis yang saya temui sewaktu terlibat dalam proyek Gemuruh oleh Jakarta Movement of Inspiration (JKTMoveIn). Tidak kami duga-duga, Distopiana mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari kawan-kawan blogger dan penggemar film di media sosial. Kami sangat senang dengan kenyataan bahwa ada orang di luar sana yang menyukai celotehan kami tentang film-film yang berkesan di hati kami.

Oh, ya, saat ini, Bunga sedang sibuk menjalani orientasi mahasiswa baru di Universitas Udayana. Mari kita doakan semoga orientasi serta keseluruhan perkuliahannya berjalan lancar.

Now let me put the main rules of this award here:

  1. Post the award on your blog.
  2. Thank the person who nominated you. (thank you Amel!)
  3. Answer the 11 questions they set you.
  4. Pick another 11 bloggers. (and let them know they are nominated)
  5. Set them 11 questions.

So, here’s Tommy’s answer to the questions set by Amelia Puteri from Marry The Fiction.

  1. What is the last movie you have watched?
    Train to Busan.
  2. Based on the answer #1, tell me the reason why you choose to watch that movie?
    My colleagues in Iris Worldwide (Mbak Nurina, Mbak Romaria, Mbak Wulan, Bani, Enrico) loves horror movies. We have planned this movie trip as the film was highly recommended by Mbak Wulan, who really loves zombie movies. She ever took her 5 year old daughter to routinely watch The Walking Dead with her. Extreme mother, she is.
  3. Talking about awards, choose one: to watch The Academy/Oscars or Grammy?
    Oscars of course. I barely watched Grammy.
  4. Give me your “Top 5” actors and/or actresses!
    Ingrid Bergman, Julianne Moore, Philip Seymour Hoffman, Robin Williams, Jared Leto (f*ck Suicide Squad).
  5. Make a playlist of songs you listen when you are heartbroken!
    a. Bon Iver – I Can’t Make You Love Me.
    b. Labrinth – Jealous.
    c. Bright Eyes – Lover I Don’t Have to Love.
    d. Nine Inch Nails – Hurt.
    e. Damien Rice – My Favorite Faded Fantasy.
    f. Radiohead – True Love Waits.
    g. Jeff Buckley – Hallelujah.
    h. D’Masiv – Cinta ini Membunuhku.
    i. Bright Eyes – Lua.
    j. Beck – Guess I’m Doing Fine.
    h. Frightened Rabbits – Keep Yourself Warm.
  6. What is the last book you’ve read? Any kind of book works.
    “O” by Eka Kurniawan.
  7. Based on the answer #6, choose one sentence from the book that really grabs your attention/interesting!
    “Huh, manusia. Dari sampah kembali ke sampah.”
  8. If you could travel around the world, name a place you want to visit!
    Anywhere on the Northern Hemisphere. Norway is preferrable.
  9. Which one would you choose: the ability to go back to 5 years ago, or go forward to your future 5 years later?
    The ability to go back to 5 years ago and fix everything I’ve done wrong.
  10. Post your inspirational quote(s) you got from any movie!
    “I came.” – Happiness (1998).
  11. Last, watching a movie via streaming or download/torrent? (Ignore the speed of your internet connection)
    Torrent mostly, but I stream via Netflix once. Never tried illegal streaming site, because their compressed video resolution mostly sucks.

Untuk selanjutnya, saya akan menominasikan blog-blog berikut:

  1. Rekomendeath
  2. Tonight’s Read
  3. Cinemaudy
  4. PicturePlay
  5. Review Luthfi
  6. Catatan Icha Hairunnisa
  7. Si Ochoy
  8. Ruang Benak Ruby
  9. Dibaca Aja
  10. Yudo Nugroho

Saya harus mengosongkan satu slot karena teman-teman blogger saya tidak begitu banyak dan ada beberapa pula yang sudah dinominasikan oleh blogger lain.

*POST EDITED: MENAMBAHKAN DIBACA AJA DAN YUDO NUGROHO KE DALAM LIST BLOG NOMINATIONS.

11 pertanyaannya adalah:

  1. Apa film terakhir yang membuat Anda merasa feel-good?
  2. Jika ada production company yang cukup gila untuk memberikan modal 200 Juta US Dollar untuk Anda memproduksi sebuah film, film seperti apa yang akan Anda buat?
  3. Jika Anda harus memerankan seorang public figure dalam sebuah film biopik, siapa public figure yang menurut Anda cocok untuk Anda perankan?
  4. Berdasarkan pertanyaan #3, siapa aktor/aktris yang anda inginkan untuk memerankan kekasih sang publik figur?
  5. Buatlah sebuah playlist lagu yang dapat membangkitkan rasa percaya diri Anda!
  6. Sebutkan novel/komik yang sangat Anda inginkan untuk diadaptasi menjadi sebuah film!
  7. Berdasarkan pertanyaan #6, siapa yang Anda inginkan untuk menyutradarai film tersebut?
  8. Sebutkan 3 film terburuk yang pernah Anda tonton!
  9. Sebutkan 3 sekuel/prekuel film yang sangat anda inginkan untuk terwujud!
  10. Jika suatu saat Anda harus berubah menjadi seekor binatang dan Anda diharuskan untuk memilih, Anda ingin menjadi binatang apa?
  11. Terakhir, jika anda diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan mengubah sejarah peradaban, peristiwa apa yang akan anda ubah?

You can nominate other bloggers by passing it to them – I’m really thanking you for that, or just answer these questions on my comment section. But it’s better to pass it on, believe me.

Selamat bersenang-senang!

Mimpi Anak Pulau (2016) – Mendayung Mimpi

Ada tiga penyakit terbesar yang biasanya menjangkiti film-film Indonesia, terutama yang bertema triumph of the spirit. Ketiga penyakit tersebut adalah: narasi yang pretensius, naskah yang preachy, dan eksploitasi tokoh dengan hagiografi demi menyesuaikan arus pasar (quoting PicturePlay). Sinema Indonesia belakangan ini seperti kehilangan arah dalam menentukan ciri khas mereka dari segi visual, naratif, dan kontekstual cerita sehingga terkesan pretensius karena seperti ada ambisi untuk menyamai Hollywood. Lihat saja Rudy Habibie yang terkesan mengimitasi The Imitation Game dan menjadikan tokoh Rudy sebagai sosok utama yang sempurna, pusat dari tata peredaran tokoh-tokoh ‘pelengkap’ lainnya. Ada juga Modus Anomali, film Indonesia yang tidak ingin menjadi Indonesia, meskipun Joko Anwar pada akhirnya membayarnya dengan telak di film A Copy of My Mind. Perfilman Indonesia terlalu sibuk mencoba menjadi Hollywood sampai mereka lupa bagaimana rasanya saat Laskar Pelangi sukses menghajar belantika bioskop tanah air dengan kehangatan yang jujur dan otentik, tanpa pretensi dan kesan menceramahi.

Diadaptasi dari novel karya Abidah El-Khalieqy, Mimpi Anak Pulau bercerita tentang seorang bocah laki-laki bernama Gani (diperankan oleh Daffa Permana), anak pertama dari Rabiah (diperankan oleh Ananda Lontoh) dan Lasa (diperankan oleh Ray Sahetapy) yang tinggal di pesisir pantai Nongsa, Pulau Batam. Gani menjalani masa kecilnya dengan penuh semangat dan harapan meski kenyataan yang dia hadapi sering berujung pahit, apalagi setelah ayahnya meninggal. Kerasnya hidup tidak berarti apa-apa bagi Gani. Terkadang ia menangis di pelukan ibunya, tapi ia tidak pernah lupa untuk tetap bangkit dan mencari cara untuk mengejar mimpinya: menuntut ilmu dan membeli sepatu baru.

Secara teknis, Mimpi Anak Pulau memang sangat jauh bila harus dibandingkan dengan Laskar Pelangi. Struktur naratifnya pun bisa dibilang berantakan akibat terlalu sering mengambil sekuens inset yang (mungkin) sengaja ditujukan untuk memperkuat konteks, sehingga jalan cerita menjadi cenderung inkoheren dan penonton awam akan sulit mencerna apa yang sebenarnya ingin diceritakan film ini pada babak pertama dan kedua. Harus diakui dan juga dipuji, Kiki Nuriswan dan Ichsan Zulkarnain sudah berusaha keras membangun dramatisasi kisah nyata yang penuh kehangatan dengan believable sekaligus relatable, namun beberapa kalimat dialog terkesan sangat textbook, seakan dicomot langsung dari novel tanpa penyesuaian dengan akting dan reading dari para pemerannya, dan itu akan sedikit mengganggu bagi penonton yang peka dan senang memperhatikan hal-hal kecil. Film ini juga hampir terjangkit virus hagiografi karena Gani, sang karakter utama, lagi-lagi ditempatkan sebagai pusat tata edar tokoh-tokoh pembantu lainnya. Sekuens epilognya pun, aduh, dirancang dengan sangat lemah sehingga terlihat seperti iklan-iklan properti Agung Sedayu Group atau semacamnya. Entah, mungkin karena kekurangan bujet atau terlalu terburu-buru dalam mengeksekusi ide mentah.

Untungnya, banyak aspek dari Mimpi Anak Pulau yang menjadikan film ini cukup istimewa dan menyenangkan untuk ditonton. Pertama: lewat otentisitas yang berhasil diciptakan oleh gaya bertutur yang hangat dan berani untuk menjadi Indonesia, tidak peduli apapun latar belakang para penonton, mereka akan merasa sangat relate dengan keluguan Gani. Inilah yang mencegah terjangkitnya Mimpi Anak Pulau dari virus hagiografi. Karakter Gani berhasil menjadi utuh lewat perangainya yang tengil namun juga norak bila dihadapkan dengan hal-hal yang di luar batas pengetahuannya. Kedua: Ada beberapa adegan yang biasanya sangat rentan diisi dengan kalimat-kalimat preachy, yaitu sewaktu Gani sedang belajar di sekolah dan saat di pengajian. Untungnya, penulis naskah dan sutradara berhasil menjadikan kedua adegan tersebut hanya berfokus pada pemaparan detail karakter dan turning point dari plot, bukan pada penanaman pesan moral (yang sayangnya masih banyak dijadikan patokan bagus atau tidaknya sebuah film). Ketiga: Kerja sinematografi dan penyuntingan serta color grading yang harmonis dalam kesederhanaan akan mampu menyempurnakan keindahan latar Pulau Batam tahun 70-an di mata para penontonnya. Saya harus memuji salah satu adegan yang menunjukkan Gani dengan abangnya, Kodir, mendayung sampan menyeberangi pulau sambil diombang-ambing oleh badai di tengah malam. Terlihat sangat otentik dan nyata, seperti mereka memang melakukan pengambilan gambarnya di tengah laut. Keempat: Kombinasi akting Ray Sahetapy dan Ananda Lontoh di babak pertama mengejutkan saya. Sungguh. Di babak kedua dan ketiga pun istri dari Attar Syah ini masih tampil dengan prima, membuat mata para penonton tak bisa lepas darinya saat ia berada di dalam frame. Saya pikir Ananda Lontoh harus terlibat lebih banyak lagi di film-film besar Indonesia selanjutnya agar ia menemukan sutradara yang mampu membawanya ke batas tertinggi kemampuan aktingnya.

Setelah Laskar Pelangi, Mimpi Anak Pulau merupakan film yang hangat, otentik, dan penting untuk ditonton bagi seluruh orang Indonesia, terutama bagi para praktisi pendidikan dan pembangunan daerah tertinggal di Indonesia. Kenapa? Agar kita semua sadar bahwa mensinergikan pembangunan dan pendidikan demi menuntaskan hak bersekolah para anak di daerah tertinggal jauh lebih penting daripada membangun mal-mal megah di perkotaan dan menyalahkan rusaknya moral mereka akibat terlalu terpengaruh budaya konsumtif dan kebarat-baratan.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.