Review “27 Steps of May” (2018) – Breaking Out of Trauma


Eight years after surviving an unspeakably horrendous rape, May struggled to cope with her trauma after she found a little piece of wonder when she witnessed a magician rehearse from the hole in her bedroom wall.


27 Steps of May, which marks the second collaboration of director Ravi Bharwani and writer Rayya Makarim, tells the story about the process of healing from traumatic experience. Led by Raihaanun as a girl named May and Lukman Sardi as her dad who boxed and fought around to make money and release his anger, this film shed a light on the impact of sexual assault through the eye of the survivor and her sole parent.

This film also starred Verdi Solaiman as the father’s best friend and Ario Bayu as the magician behind the wall. On an interview, Verdi said that this film is a “harmonious collaborative work” between all the crews and casts that are involved because Ravi, as a director, lower his ego down to actually listen to all the inputs from Verdi, Lukman, and everyone that can make the film to be better.


Through heartbreakingly engaging visual poetry with metaphors lying around every corner of plot points, 27 Steps of May carefully conveying a message of ‘healing through the assistance of support system’. Here, we saw the father as the one who provided material support by taking care of May inside the house, cooking the food with the right preference, and giving may something to do to distract her from the pain she’s been feeling.

Unfortunately, the father has been blaming himself since everything happened. The wounds that were made from his inability to forgive himself makes him unable to provide May the mental support she needs. He goes from ring to ring to land his punches on people’s faces to cope with his anger, thus leaving May at home, silent and agonized.

After the fire burned the neighborhood, May started to find a spark of life’s wonder from a magician that rehearsed his show on his workshop. Through the hole in the wall of her barren bedroom wall, the magician, finally recognized her, reach out to her, and show her the color of the world she’s been missing since her childhood, the last time at the theme park.

Many people, especially third-wave feminists, sees this as a “male savior plot” because it seems like May would only be moved to confront his trauma because of the “cis-male” magician who “make a move” towards her and how this film is perceived as “an intrusion of the safe space of female rape survivor by a male.” While the concern is understandable, we can see clearly that the magician did not do anything except reaching out, being who he is, and be there as an emotional support system. The magician never do anything to May that is out of her consent. He backed away whenever May resists, but reached out every time she looks fascinated.

Although the delivery is mostly bleak and depressing, 27 Steps of May encourages its audience to reach out to sexual assault survivors and be the support system they need through its “hole in the wall” metaphor.

Raihaanun’s performance, at the center of this film, gives a one-of-a-kind emotionally immersive experience through the mental state of a rape victim. You will not be prepared on how her silence, along 110 minutes of duration, can continuously rip your heart apart and bring tears stream down on your face. Lukman Sardi also deserves standing applause for his effort in portraying a damaged man who keeps “bargaining” through physical pain because he can’t forgive himself for not being able to protect his daughter.

Praise should also be given to Verdi Solaiman for adding more contextual layers and a little bit of proper comic relief, which is what this film desperately need if it does not intend to make the audience wail and cry in fetal position during the runtime.

Familiar with the theme of alienation, pain, and struggle to break through, Ravi uses his signature of minimum dialogue to emphasize the unspeakable suffering from both May and his father. He took advantage of the claustrophobic, dimly lit bedroom and the mundane routines like knitting doll, having lunch and dinner, and May’s skipping rope exercise to create uncomfortable atmosphere to the point where no matter how quiet the scene is, the unsettling air sounds painfully loud because every presence and every absence feels tangible.

Even so, screenwriter Rayya Makarim knows how to make every dialogue feels treasured. There was just three words that were said by May at the final scene when she find her acceptance and embrace her father, but those three words will make your heart explodes like when the levee breaks.

Distopiana’s Rating: MASTERPIECE

Review “Keluarga Cemara” (2019) – The Journey of Finding Happiness

“Harta yang paling berharga adalah keluarga.” Lirik lagu ini mungkin adalah salah satu hal yang langsung terpikirkan ketika kita mendengar tentang Keluarga Cemara. Nyatanya, kisah tentang Emak, Abah, Euis, dan Ara ini memang tidak pernah jauh dari hal tersebut.

Film yang diadaptasi dari serial televisi di tahun 2000an awal dengan judul yang sama ini mengeksplorasi tema keluarga lewat kacamata yang sederhana namun erat bagi kita: kemiskinan. Bagaimana kebahagiaan dapat ditemukan saat harta benda kita direnggut secara tiba-tiba? Apa yang harus kita lakukan saat semua upaya yang kita lakukan selalu berujung pada petaka? “Keluarga”, begitu jawaban dari film yang disutradarai oleh Yandy Laurens ini.

Keluarga Cemara memberikan refleksi yang lugas, nyata, namun empatik terhadap keluarga-keluarga di Indonesia: Abah yang konservatif dan tegas namun penyayang dan bertanggung jawab, Emak yang tegar dan selalu menjadi penengah, serta para anak yang selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk minat dan cita-citanya walaupun jarang mendapat perhatian, dukungan, dan kasih sayang dari orang tuanya. Semua peran itu mampu dimainkan oleh Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Adhisty Zara, dan Widuri Putri dengan sangat baik sehingga membentuk sebuah penampilan ansambel dengan “instant chemistry” yang dengan mudahnya mampu memikat hati kita. Ini adalah film Indonesia pertama yang saya saksikan di bioskop di tahun 2019, namun saya yakin Keluarga Cemara akan menjadi salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

8 Film Terbaik di Tahun 2018 – Distopiana & Friends

Nggak hanya berniat ngomongin keburukan film-film terbusuk 2018, kami bersama teman-teman juga mengompilasikan 8 film terbaik di tahun 2018 beserta alasan kenapa kami menaruh film tersebut di daftar ini.

1. Tommy, Distopiana – Burning

Burning is an enigma caught in a fiery flame of class-struggle explosions. Black Mirror: Bandersnatch might offer you an inventive mechanism to let you control where the story goes, but Burning will effortlessly put you in an infinite loop of questions with its ambiguous scenarios, brilliantly acted and gorgeously shot sequences. Steven Yeun is lit!

2. Amel, Distopiana – Searching

Narasi sederhana dengan eksekusi yang apik, ditambah twist cerita yang menarik. Alur semakin mengental sembari film berjalan. Apa yang ingin ditekankan yaitu totalitas luar biasa dengan konsep visual layar gadget dari awal hingga akhir film. Terlepas ‘ruang gerak’-nya yang terbatas, film ini secara apik menyampaikan emosi dan ketegangan dalam konflik cerita. Great directing, and I want to give my highest salute to the editor.

3. Bunga, Distopiana – Aruna dan Lidahnya

If you think Dian Sastro and Nicholas Saputra will never be able to get out of their labels as Cinta and Rangga, well, you might have to think twice about it. Bringing you on a food adventure filled with love, friendship and all of the things in between, Aruna dan Lidahnya is a unique and heartfelt movie that will make you feel warm on the inside.

4. Dony Iswara, Se7en Enthusiast – Hereditary

Hereditary ini kaya “memecah kesunyian” modern horror 3 tahun belakangan. datang dengan pendekatan yang segar namun tetap dapat berpegang teguh pada kengerian klasik yang bisa ditemui di karya2 horor mufi legendaris. modern horror done right sih ini.

5. Dysan, KataKinema – A Prayer Before Dawn

‘A Prayer Before Dawn’ is one of the most heart-wrenching cinematic experience in 2018. Pure allegory of redemption and survival which takes place in a surrounding that could be described as something worse than just a mere ‘harsh’ word. Picture perfect rendition of the gruesome prison life without any sugarcoating at all. A true story adaptation has never been this painful.

6. Yohan Arie, Photographer – The Bold, The Corrupt, and The Beautiful

Film Taiwan ini memilih kacamata yang berbeda dalam bercerita tentang “women’s empowerment”. Bergaya Gangster Melodrama, film ini terasa sangat feminin dengan hadirnya tiga tokoh perempuan yang kuat secara karakter dan aktingnya. Desain wardrobe dan interior yang elegan semakin memperkuat kesan feminin tersebut. Yang jika dilihat dari konstruk sosial yang ada justru sangat berlawanan dengan tema gangster dan korupsi yang diangkat. Serta jangan lupakan plot yang sedikit rumit dan berliku yang menjauhkan film ini dari kesan telenovela.

7. Firda, Film Twitter @firdafnisa – The Rider

The Rider adalah salah satu film yang memukau saya tahun ini. Seakan memperlihatkan bakat artistik terpendam sang sutradara, Chloe Zhao. Di sini ia memadukan narasi drama dan dokumenter dengan cara yang unik dan mulus, memberi penonton sedikit pandangan tentang proses hidup yang jarang terlihat di layar sinema. Saya suka sekali pendekatan ini, menawarkan perasaan kuat akan realisme tentang kehidupan, namun dibalut dengan sangat bersahaja. Dalam melukis potret puitis ini, Zhao seakan menjawab pertanyaan semua orang: “Ketika sesuatu yang kamu miliki direnggut, bagaimana kamu bisa semangat untuk terus menjalani hidup?” Dan saya tidak bisa memikirkan film apa lagi yang selaras dengan pertanyaan tersebut selain film ini. Masterpiece!

8. Paskalis, Film Twitter @sinekdoks – Annihilation

Annihilation is a serious, high-concept sci-fi about the fundamental changing–between the genetic coded self-destruction and annihilation. The result is a rather stunning and vague at the same time.

Review “Black Mirror: Bandersnatch” (2018) – The Illusion of Free Will

Datang dengan membawa sesuatu yang baru dalam penyajian hiburan streaming berbayar, Black Mirror mengajak kita menentukan sendiri arah plot serta nasib tokoh utamanya lewat episode spesial “Bandersnatch.” Sepanjang film, kita diajak untuk mengarungi konsep ‘free-will’ secara lebih luas, dalam, dan eksperimental lewat sudut pandang Stefan, seorang remaja di tahun 80an yang terobsesi mengembangkan video game interaktif yang berfokus pada storyline.

Bukan Black Mirror bila tidak memberikan pengalaman traumatis dan mengejutkan bagi penontonnya. “Bandersnatch” pun demikian, karena ia berhasil membuat kita melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan hanya demi mendapatkan akhir cerita yang maksimal, misalnya: membiarkan seorang anak menghajar kepala ayahnya dengan asbak hingga meninggal lalu memotong-motong mayatnya lalu kemudian berbicara di media sosial dengan bangga bahwa kita berhasil membuat Stefan sukses mendapatkan rating 5/5 untuk game yang ia rancang.

“Bandersnatch” juga berbicara tentang ilusi ‘free-will’ dengan mengatakan bahwa kebebasan bukan berarti kita juga memiliki kuasa penuh atas apa yang ingin kita lakukan. Namun, karena terlalu banyaknya pilihan yang diberikan, semuanya jadi senjata makan tuan. Banyak yang terobsesi dengan mengeksplorasi segala pilihan yang pada akhirnya mereka pun mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah bisa dijawab.

Jadi, kalian pilih Sugar Puffs atau Frosties?

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Kumpulan 8 Film Terburuk di Tahun 2018 – Distopiana & Friends

2018 memang penuh dengan film-film spektakuler yang mampu membuat kita terpana dengan kelebihan visual, kemantapan cerita yang kompleks, serta konteks sosial yang mereka bawakan. Namun, tak dapat dipungkiri, masih banyak juga film-film buruk yang mampu mengernyitkan dahi. Berkolaborasi dengan teman-teman dengan passion yang sama di bidang film, kami mengumpulkan delapan judul film terburuk di tahun 2018 beserta alasan kenapa kami menaruh film tersebut di daftar ini.

1. Tommy, Distopiana – The Kissing Booth

2. Amel, Distopiana – Mile 22
“Narasinya jelek. Plot yg dibikin maju-mundur jadinya acak-acakan, akibatnya pas nyampe ending malah gagal bikin mindblowing karena ngga paham. Penggunaan berlebihan teknik shaky camera bikin pusing.”

3. Bunga, Distopiana – Sierra Burgess is A Big Loser
“Instead of using the premise to promote self-love and the equal beauties of body shapes, this film chooses to ignore its more than plenty ongoing resources and straight up romanticizes catfishing, hacking, cyber-bullying, supporting and pretending to be deaf, and for the cherry on top, a non-consensual kiss.”

4. Dony Iswara, Se7en Enthusiast – A Quiet Place
“Maaf buat yang memuja muja mufi ini, tapi buat saya mufi ini biasa aja. secara teknis sangat bagus. sinematografi dan tata suara jempolan. tapi plotnya ya allah. dan teknis yang mumpuni tadi jadi kerasa sia sia and makes me hate this mufi so much.”

5. Dysan, KataKinema – Game Over, Man
“‘Game Over, Man!’ is a massive trainwreck. Failed miserably in attempting to extract fun stuffs out of sensitive remarks and lots of graceless slapsticks were utilized throughout the film. The messy and chaotic plot has perfectly elevated this feature’s status as one of the worst (if not the absolute worst) motion pictures of the year. It almost feels like an insult to the essence of moviemaking as an art form.”

6. Yohan Arie, Photographer – 7 Days in Entebbe
“Materi yang kuat tidak serta merta mampu dibuat menjadi film yang bagus. Contoh yang tepat bagaimana Political Correctness malah membuat film sulit bercerita dengan jujur.”

7. Firda, Film Twitter @firdafnisa – Venom
“Venom sebenarnya sudah memiliki seluruh elemen yang pas dari sebuah film superhero. Namun pada beberapa bagian Fleischer nampak terlihat kewalahan. Skrip dan narasi adalah kelemahan yang paling jelas terlihat dari semuanya. Latar belakang cerita yang tidak terbangun solid, alur yang sangat dipaksakan, dan juga dialog yang buruk. Pantas saja paruh pertama pace-nya terlihat sangat lambat dan cenderung membosankan, yang untungnya berhasil tertolong di paruh kedua dengan dibuktikannya adegan pertarungan yang cukup memukau dan lelucon kocak yang mengundang tawa.”

8. Paskalis, Film Twitter @sinekdoks – A Wrinkle in Time
“Too many wrinkles are spotted in this supposedly moving adaptation of a classic story. The lazy direction and the preachy approach only makes it worse.”

The Night Comes for Us (2018) – The Bloody Dance of Redemption

Belakangan ini, gue emang lebih banyak ngulas film-film yang gue tonton di akun Instagram Distopiana. Alasannya adalah karena gue terlalu sibuk dengan kerjaan dan side-job yang terlalu makan waktu, plus gue juga agak sedikit ngerasa losing my touch in article-based writing. Jadi blog ini sempet vakum selama beberapa bulan sampai akhirnya saat ini gue memutuskan untuk nulis di sini lagi. Kenapa? Karena ada satu film yang berhasil bikin gue untuk mau nulis dengan format artikel lagi, judulnya The Night Comes for Us. Gue merasa, semua hal yang harus gue ungkapin tentang film ini nggak akan cukup untuk dibagikan di Instagram. Lagipula semua filmmaker yang terlibat di segala departemen produksi film ini patut untuk gue berikan apresiasi lebih dari sekadar ulasan singkat di sosial media yang bahkan menurut gue sendiri pun cukup malas.

The Night Comes for Us bercerita tentang Ito (diperankan oleh Joe Taslim), salah satu dari The Six Seas, sebuah tim yang berperan sebagai “pelicin” dari organisasi kriminal Triad untuk menjalankan bisnis gelap penyelundupan barang mereka ke seluruh negara-negara Asia Timur dan Tenggara. Terlalu lama tenggelam di dalam dunia yang gelap dan tak berperikemanusiaan, hati Ito tergerak seutuhnya saat ia harus memutuskan untuk membunuh seorang gadis kecil dari sebuah desa yang harus ia habisi seutuhnya karena telah mencurangi bisnis Triad. Setelah membelot dari Triad dan membawa gadis kecil bernama Reina tersebut, Ito harus menghadapi serangan brutal dari para pihak yang mencoba membunuhnya tanpa belas kasihan, termasuk teman masa kecilnya yang ambisius bernama Arian (diperankan oleh Iko Uwais).

Sekilas, premisnya memang terdengar seperti template film aksi yang biasa-biasa saja. Belum lagi reputasi Timo Tjahjanto sebagai sutradara film-film berbau kekerasan dengan cerita yang dangkal dan naskah yang sering tidak masuk akal bikin gue punya ekspektasi awal yang cukup rendah terhadap film ini. Namun nyatanya, Timo sama sekali nggak main-main dalam mengolah skenario, cerita, maupun penuturan film yang akhirnya dibeli lisensi penuhnya oleh Netflix ini. Gue kaget ngelihat banyaknya porsi drama dalam film ini yang mengobrak-abrik emosi gue. Meskipun porsi dialog yang disajikan cukup minimalis, Timo menuturkan cerita The Night Comes for Us dengan lebih efektif lewat aspek-aspek storytelling intrinsik lain yang membuat tone film ini dapat dideskripsikan lewat tiga kata: badass melancholic bitch. Beberapa yang bisa gue sebutin tanpa ngebocorin film ini: adegan saat Bobby Bule (diperankan oleh Zack Lee) mencoba melindungi Shanti, istri Ito (diperankan oleh Salvita Decorte) dari gerombolan anak buah Yohan dengan mendorongnya keluar dan berpura-pura seakan-akan Shanti adalah pelacur yang baru saja ia sewa. Momen ini hanya berlangsung kurang dari lima menit, namun memiliki emotional impact yang besar bukan hanya karena shot, cut, dan slow-motion effect-nya dilakukan dengan tingkat presisi yang tinggi, namun juga karena akting yang memukau dari dua pemeran tokoh tersebut. Belum lagi, adegan terakhir Fatih saat menyetel lagu “Benci untuk Mencinta” di dalam mobilnya sebelum melakukan kamikaze. Ketepatan penggunaan lagu di momen tersebut pastinya bakal memberikan sensasi yang bikin jantung lo serasa ditusuk berkali-kali.

Adegan memorable lainnya? The fucking ending. Right before the fucking credit shows the name of the person who is responsible for this piece of hellish creation. One of the best ending since Call Me by Your Name. I shit you not.

Tentu sebuah naskah yang baik nggak akan berfungsi kalau semua tokoh yang dihadirkan nggak mampu menjaring simpati penontonnya. Maka dari itu, saya ingin memberikan penghormatan setinggi-tingginya pada Timo karena telah berhasil menciptakan banyak ikon heroik yang ANJING KEREN-KEREN BANGET BANGSAT! Ito dengan senyumnya yang menyerupai iblis saat mengintimidasi musuh-musuhnya. Bobby Bule yang dulu tingkahnya sembarangan tapi sekarang pincang, mengidap PTSD, dan akan melakukan segalanya demi membayar semua kesalahan yang dia perbuat. Fatih (diperankan oleh Abhimana Aryasatya) yang bijak, protektif, dan setia kawan. Alma (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) yang playful dan sering tertawa dengan senjata senar Yo-Yo yang sangat khas dan Elena (diperankan oleh Hannah Al Rashid) yang dingin namun mempunyai banyakan gerakan dansa maut yang indah. The Operator (diperankan oleh Julie Estelle) yang misterius dan mematikan. Arian si anak bawang ambisius yang jago berantem tapi gampang dimanfaatin. Semua karakter bersatu padu di dalam harmoni cerita dan koreografi pertarungan yang solid membentuk jalinan adegan demi adegan yang akan selalu membekas di dalam ingatan lo semua. Nggak percaya? Tonton aja sendiri gimana bocah-bocahnya Fatih dan Bobby Bule mati-matian bentrok sama kroco-kroconya Yohan buat ngelindungin Reina. Atau gimana saat Elena ngebalikin salib di dinding rumah sebelum ngehajar The Operator bareng Alma. Atau di pertarungan terakhir saat persaudaraan Ito dan Arian diuji lewat pukulan dan serangan bertubi-tubi yang diluncurkan. Oleh karena itu, big round of applause untuk para aktor luar biasa yang telah memerankan tokoh-tokoh penuh warna tersebut dengan penuh penghayatan.

Ada satu tokoh penting yang sedari tadi gue sebut, namun belum gue bahas secara mendalam. Kenapa? Karena karakter yang satu ini terlalu menarik untuk tidak diberikan satu paragraf penuh pemaparan detailnya. Iya betul, dia adalah Yohan. Seorang pengedar kokain berkedok tukang potong daging yang diperankan oleh Revaldo, sang Rangga dari miniseries AADC yang sering diparodikan oleh kreator meme lokal sebagai kembaran dari Adam Driver. Siapa sangka, setelah banyak hal buruk yang telah ia lalui (termasuk direhabilitasi karena kasus narkoba), ia kembali ke hadapan para penikmat sinema dengan menghadirkan sosok Yohan, sang bos kriminal amatir yang banyak gaya namun cengeng dan nggak bisa ngapa-ngapain tanpa anak buahnya. Memang terdengar receh, secara ia hanyalah sebuah sub-plot yang menggiring cerita masuk ke dalam konflik babak kedua. Namun, kehadirannya mampu menyalakan atmosfir yang mencekam sekaligus komikal dan iba secara bersamaan. Saya senang sekali bagaimana karakter anak-anak hipster Jakarta Selatan dapat sepenuhnya terwakilkan lewat cara Yohan bertutur kata. Bagaimana kata-kata yang dianggap tabu dalam dialog film Indonesia seperti “ngentot” dan “Cina bangsat” dapat terucap dengan lantang dan tepat sasaran lewat mulutnya. Bagaimana Yohan mengakhiri kalimatnya dengan “man” saat berbicara dengan bahasa Inggris via telpon (“Ito is here, man!”). Tidak hanya memberikan Revaldo awal baru yang sangat baik untuk kemajuan karirnya di masa depan, hal ini juga sepatutnya dapat meyakinkan penonton bahwa Timo telah mengawali pembenahan penulisan naskahnya lewat penulisan tokoh yang memperhatikan detail sekecil apapun peran mereka.

Biarpun begitu, gue nggak bilang bahwa The Night Comes for Us tanpa cela. Masih ada tokoh dengan motivasi yang kurang jelas dan bikin kita susah untuk root for them, yaitu The Operator dan Wisnu (diperankan oleh Dimas Anggara). Gue udah nonton tiga kali di Netflix dan masih nggak ngerti maksud The Operator ngomong “Jawaban lo bakal menentukan apa yang bakal gue lakuin ke lo malem ini” pas dia nanya ke Ito dia masih Six Seas atau bukan. Gue juga nggak ngerti kenapa pada akhirnya dia memutuskan untuk melindungi Reina. Gue juga nggak ngerti kenapa si Wisnu ini cuma kayak pesuruh yang planga-plongo doang tapi matinya susah bener pas ngelindungin Reina. Mungkin pada akhirnya itu semua akan terjawab di sekuel yang sudah dijanjikan sama Timo. Tapi tetap saja sebuah hal yang membuat frustasi apabila mengangkat sesuatu yang tidak ada kejelasannya sama sekali sampai film berakhir cuma demi memperluas angkasa cerita.

Kalau soal koreografi pertarungan, tidak usah banyak dibahas lagi. Timo belajar banyak dari Gareth Evans soal penyajian adegan-adegan bela diri, dan aman bagi gue untuk mengatakan bahwa tingkat kebrutalan yang ditampilkan film ini berada di atas The Raid 2. Nggak ada satu pun tulang dan daging yang selamat. Setiap kali gue nonton ulang adegan pertarungan di film ini, gue selalu khawatir sama kesehatan para aktor dan extra yang udah dipatah-patahin badannya di film ini. Gimana caranya Timo bikin semua adegan beranten serealistis ini tanpa harus beneran bunuh orang? Itu bocah yang disangkutin di kaitan tempat ngegantung daging sapi apa kabar sekarang?

Perbedaan mencolok dari adegan pertarungan The Raid 2 dan The Night Comes for Us adalah dari kapasitas humornya. Saat The Raid 2 menawarkan one long take untuk memancarkan keindahan tarian bela diri pembunuhan, The Night Comes for Us mewarnai tiap koreografi lewat humor slapstick yang diselipkan secara subtle. Contohnya, saat pukulan Ito meleset dan malah mengenai tiang beton, tendangan susulan Arian pun meleset dan walhasil tulang keringnya berbenturan mesra dengan hal serupa dan pertandingan terhenti beberapa saat karena kedua pihak saling kesakitan dengan gestur yang tepat berada di satu titik antara kejenakaan dan kebrutalan. Anda yang gampang terhibur juga pasti tertawa melihatnya.

Sangat menyenangkan untuk mengetahui bahwa meskipun kita mungkin selamanya tidak akan pernah mendapat titik terang tentang kemunculan The Raid 3, namun kita mendapatkan penggantinya yang mungkin akan lebih superior daripada franchise yang sudah mendapat predikat legendaris tersebut. Ini adalah sebuah awal yang baik untuk masa depan film action Tanah Air, dan gue seneng banget untuk mengetahui bahwa masa depan tersebut ada di tangan yang sangat baik.

Distopiana’s Rating: 4.5 out of 5.

Dilan 1990 (2018) – Dilan dan Mereka yang Tidak Jelas

Sebelumnya, kami meminta maaf karena kembali membahas sesuatu yang sepertinya sudah agak terlambat untuk dibicarakan. Terlalu banyak kesibukan duniawi yang menghalangi untuk menyelesaikan hobi kami yang tulus dari hati dan tidak dibayar ini. Namun biarpun begitu, kami rasa belum terlambat bagi kami untuk mendiskusikan satu film Indonesia yang mungkin tidak terlalu bagus, namun penting untuk dibicarakan karena animo serta angka penjualan tiketnya yang sangat tinggi.

Tayang pada 25 Januari lalu, Dilan 1990 sukses menjadi bahan pembahasan utama mayoritas penduduk Indonesia. Volume pembicaraan yang menggunung selama dua bulan berturut-turut di sosial media ini juga sukses memancing tidak hanya institusi pemerintahan, namun juga brand-brand terkemuka di Indonesia untuk menjadikan kutipan film ini sebagai gimmick demi menarik minat dan perhatian target konsumen mereka.

Sudah banyak sekali yang membahas tentang film ini dari berbagai sudut pandang. Detha Prastyphylia membahas tentang bagaimana film ini bisa laku keras di Indonesia lewat akun Twitter miliknya. Stephany Josephine, blogger film “suka-suka”, membahas daya tarik film ini lewat sudut pandang penonton awam dengan gaya bahasa yang mengundang gelak tawa di blog miliknya. Kami pun pada awalnya berniat membahas film ini dari perspektif yang umum, namun seiring berjalannya percakapan, kami berdua menemukan kecemasan yang sama terhadap salah satu unsur penting di film ini: para karakternya.

  • Tommy: “Nah Bung, sebagai orang yang cuma pernah diceritain tentang Dilan 1990, gue menilai Dilan 1990 sebagai sebuah cerita yang sebenernya komedi romansa, bukan serius. Cerita ini menurut gue adalah komedi romansa dengan unsur unik di mana unsur seriusnya dibawakan oleh situasi dan skenario, sedangkan komedinya sendiri dibangkitkan oleh para karakternya. Nah, gue pun secara fisik menilai Dilan penggambaran Pidi sebagai sesosok pria SMA Sunda yang caleuy, sok ganteng, tapi punya prinsip kuat. Begitu gue denger kabar bahwa Iqbal CJR yang bakal meranin Dilan, antusiasme gue langsung turun. Dari yang males nonton sampe anjir ogah banget.”
  • Bunga: “Hahaha wajar sih, Tom. Terus, menurut lo gimana setelah nonton?”
  • Tommy: “Asli, Bung. Gue merasa bodoh banget udah mikir kayak gitu. Gila Iqbal, bagus banget jadi Dilan.”
  • Bunga: “YA KAN? Gue juga awalnya amat sangat bingung waktu tau Dilan bakal diperanin sama Iqbal. Jangan salah sangka, gue dari dulu ngikutin Iqbal (dan kalaupun bukan fans CJR) tapi tau kalo kemampuan akting dia kalau diasah bakalan bagus. Gue cuma gak yakin apakah dia bisa menjadi “Dilan” seperti yang ada di buku. Ehhhh ternyata…kaget gue. Asli. 100% melebihi ekspektasi. Dia ngasih warna ke Dilan, yang visualisasinya masih burem banget buat pembacanya. Cheesy quotes-nya gak berkesan “pendek” dan maksa. Salut deh pokoknya.”
  • Tommy: “Asli gue juga mikir kayak gitu, Bung! Eh, tapi gue penasaran deh. Menurut lo yang udah tamat baca bukunya, Dilan itu karakter yang seperti apa?”
  • Bunga: “Hmm… karena gue sudah baca buku Dilan jauh sebelum nonton filmnya, buat gue buku ini bisa masuk ke berbagai genre seperti komedi, drama, keluarga, dan bahkan nyerempet sedikit ke literatur, tapi tetap di dominasi sama romansa yang unik dan punya gaya nya sendiri. Karakter Dilan itu buat gue, your high school bad boy with a twist. Entah gimana caranya dia bisa bikin segala hal yang cliche menjadi nyeleneh dan “Dilan” banget. Dia ganteng, tapi bukan sekedar ganteng. Dia puitis, tapi suka ngakak. Dia bandel, tapi gak pernah kurang ajar. Tapi betul kata lo, yang jelas dia punya prinsip.”
  • Tommy: “Yes, I hate to say this, tapi Iqbal ke karakter Dilan tuh seakan akan udah kayak Nicholas Saputra ke karakter Rangga. His true aura empower Dilan’s character. Nggak akan ada lagi yang bisa meranin Dilan sebagus dia. Biarpun mungkin memang cara dia delivering his lines itu terdengar sangat textbook, tapi ya memang karakternya Dilan begitu kan di buku? Dia kalo ngomong nggak kayak orang biasa. Kadang terlalu baku, jadi aneh. Gue sepakat sama lo tentang karakter Dilan. He’s one of a kind character that you can relate to, and he’s the one you definitely can root for.”
  • Bunga: “Betul. Banyak yang bilang kalau akting Iqbal sebagai Dilan & cara dia menyampaikan dialog itu kaku banget, tapi justru gue kebalikannya. Di dalam kekakuan karakter Dilan, Iqbal justru berhasil membuat kakunya menjadi kaku yang punya makna terselubung. Something that’s bigger than the words said themselves, kalaupun memang nggak bisa dibandingkan dengan cara remaja biasa ngomong in reality.
  • Tommy: “Betul, Bung. Nah tapi cuma satu yang bikin gue sedikit resah.
  • Bunga: “Nah, kayaknya gue tahu lo mau ngomong apa nih, Tom…”
  • Tommy: “I know you know it, karena lo feminis dan gue anti-patriarkis, pasti pikiran kita sama soal satu karakter ini.”
  • Bunga: “Milea?”
  • Tommy: “Ya iyalah. Siapa lagi? Hahaha.”

  • Bunga: “Sejujurnya gue lebih menaruh harapan ke Vanesha dibandingkan Iqbal, mungkin karena gue udah liat akting kakaknya (Sissy Priscillia) duluan di berbagai film dan instantly menganggap kalau Vanesha akan ngasih justice buat Milea juga. Tapi ternyata gue salah. Gue gak bilang akting Vanesha jelek (it’s her debut, for God’s sake!) tapi memang gak bisa dibohongin kalau Milea yang gue “cari” nggak ada disitu. Ibaratnya, Milea sebagai karakter cuma ada untuk ngebalesin Dilan doang. Gue gak bisa menangkap sifat dia, apa yang dia suka dan gak suka, kenapa dia mau sama Dilan (selain karena digombalin) dan Dilan mau sama dia, dan lain sebagainya. Dia gak punya personality yang cukup signifikan untuk jadi sebuah karakter, let alone protagonis.”
  • Tommy: “Wah, sangat menarik nih. Soalnya gue udah ngomong sama dua orang tentang hal ini: Fira dan temen kerjaan gue Annisa. Mereka berdua bilang bahwa Milea itu di buku memang nggak jelas maunya apa. Annisa yang bahkan udah baca semua seri buku Dilan pun bilang bahwa Milea dari awal sampe akhir bakal gitu terus. Manic Pixie Dream Girl versi nggak ada rasanya. Nah bagi lo sendiri, Milea yang lo baca di novel itu seperti apa? Mungkin lo punya interpretasi yang beda dari Annisa nih…”
  • Bunga: Gue setuju dengan Annisa yang bilang Milea itu nggak jelas maunya apa. Menurut gue, di buku Milea adalah karakter yang plain banget. Lebih mengarah ke pemanis cerita dibandingkan protagonis yang bold & solid seperti Dilan. Dia itu ibarat kanvas putih polos yang belum diisi apa-apa. Entah Milea yang asli orangnya memang begitu atau gimana, gue kurang tau juga. Cuma gue sedikit kaget aja kalau Milea yang di film bisa bener-bener sehambar ini… hahahaha.
  • Tommy: “Berarti secara tidak sengaja, Vanesha sebenarnya bisa dibilang sukses jadi Milea dong ya?”
  • Tommy: “HAHAHAHA! Anyway, gue seneng dengan ceritanya Dilan yang almost plotless tapi nggak mencoba mendramatisir apa yang sebetulnya nggak perlu. Film Dilan 1990 ini juga tahu apa yang ingin dituju dan apa yang ingin dikisahkan. Fresh banget untuk film-film romansa remaja Indonesia.”
  • Bunga: “Yes! Plotless adalah hal pertama yang ada di pikiran gue setelah keluar dari bioskop. Dilan adalah film yang punya tujuan, tetapi tetap realistis dan memilih untuk “menggantungkan” penonton demi membuat mereka penasaran nonton film selanjutnya. Gue suka bagaimana Dilan tidak takut untuk menunjukkan bahwa cewek dipukul cowok itu — unfortunately — masih lumrah, terutama di kalangan anak muda (karena yang biasanya kesorot itu cuma orang tua). Plus adegan tawuran & geng motor yang nyeremin, tetapi emang masih bener terjadi di dunia nyata. Eksplisit banget. Gue sampai sekarang masih belum bisa lupa tatapan Dilan yang keras saat naik motor, jadi panglima tempur di paling depan. Seakan-akan, ini loh sisi lain Dilan yang 180 derajat dari si tukang gombal dengan bahasa khas EYD.”
  • Tommy: “Betul. Mereka bener bener ngegambarin dunia nyata tanpa harus mendramatisir hal-hal yang sebenernya nggak perlu. Dilan ini cerita yang sebenernya character-driven. Dilan nggak cuma pegang komando geng motor, tapi dia pegang kontrol atas cerita tentang dirinya sendiri, and isn’t that amazing? I mean, segala hal yang ada di film ini, kalo nggak ada interupsi Dilan, pasti jadinya plain banget. Walaupun ada saat-saat di mana Dilan ilang, kita masih dibuat selalu menunggu “apa yang bakal Dilan lakukan ya?” Sebenernya hal seperti ini bisa dibilang sesuatu yang minus juga, karena hal ini bikin Milea ga bisa berkembang jadi karakter yang menarik.
  • Bunga: “This movie takes the importance of Dilan’s character to a whole new level. Di satu sisi bagus karena kita benar-benar ngerasain emosi, sifat & perilaku Dilan firsthand, meskipun di sisi lain pada akhirnya karakter-karakter lainnya (baik protagonis, antagonis dan pendukung) jadi sedikit “terlupakan”, including Milea-nya sendiri. Gue sendiri sejujurnya masih bingung sama esensinya karakter Kang Adi di film ini. Not gonna lie that he’s really an eye candy though, hehe.”

  • Tommy: “HAHAHA ANJIR ngomongin Kang Adi lagi. Agak ngakak loh gue ngeliat karakter Kang Adi bener-bener terlecehkan di film ini. Cuma sebagai Guru Privat Milea yang diem diem suka sama dia doang. Kenapa sih dua lelaki terhormat seperti Dilan dan Kang Adi harus suka sama Milea. Hmm mungkin karena amat sangat submisif kali ya?”
  • Bunga: “Sedih gue huh. Kang Adi potensinya banyak banget, entah memang belum dikembangkan (disimpan untuk lanjutan film Dilan) atau hanya hadir sebagai guru privat. Tapi kalau ternyata yang kedua yang benar, disayangkan banget sih.”
  • Tommy: “Iyaaa! Kalau nggak salah itu aktornya juga yang kemarin main Galih dan Ratna kan?”
  • Bunga: “Oh iya, ya. By the way, gila gue suka banget Galih dan Ratna! It was a really nice movie.”
  • Tommy: “Hadeh gue belum sempet nonton lagi. Oh iya, adegan favorit lo di film Dilan 1990 apa nih, Bung? Kalo gue sih jelas, pas Dilan tubir. Both sama gurunya yang nampar dia dan juga sama Anhar.”
  • Bunga: “Hmm, gue setuju sama lo waktu Dilan tubir. Feelnya dapet banget. Waktu dia naik motor, natap kamera dengan intens dengan background orang-orang bersorak ria yang super anarkis. Bener-bener bikin merinding. Gue juga enjoy waktu scene Milea dipukul sama temannya Dilan di warung tongkrongan mereka. Buat gue, itu adalah salah satu scene yang berhasil menepis stereotype di masyarakat. Wake up, masih banyak loh di luar sana, in reality, yang cowok berani mukul cewek! And it’s not always about KDRT!”
  • Tommy: “Whoa preach girl!”
  • Bunga: “Eh sorry-sorry gue ngegas. Tapi gimana ya, Tom. Karena buat gue potrayal dari violence itu penting banget (karena sayangnya masih marak di Indonesia), jadi agak seneng kalau ada ranah seperti ini diangkat ke layar lebar. Serem banget sih, tapi gue rasa bikin kita jadi mikir 2x dalam berkata dan berperilaku saat kita lagi emosi. Sama seperti Posesif.”
  • Tommy: “HAHAHA santai bungs, we should be uneasy about that stuff anyway.
  • Bunga: “Yes of course we should. Anyway, what’s your least favorite scene?”
  • Tommy: “If I have to say my least favorite scene, yaitu semua scene yang ada Kang Adi nya hahahaha. Sumpah, saking numpang lewatnya itu karakter gapenting, jadi resah terus bawaannya gue. Kayak “woi relevansinya apaan anjeng kasian ini karakter kaga jelas banget munculnya tiba tiba perginya juga tiba tiba, cuma buat jadi orang yang diem diem suka sama Milea aja hhhh”. Anyways, kalo lo gimana Bung? Least favorite scene lo apa?
  • Bunga: “Halah, gue juga scenes-nya Kang Adi sih.”
  • Tommy: “Sudah lah Bung ya, makin diomongin makin perih hahaha.”
  • Bunga: “Oh ya! Patut diacungi jempol juga akting Brandon Salim sebagai slut-shaming boyfriend nya Milea. Asli, akting dia bagus tapi underrated banget. Mungkin karena udah pada terlanjur fokus ke Dilan kali ya, hehehe. But thumbs up buat dia!”
  • Tommy: “Gue setuju banget. Brandon Salim aktingnya bagus jadi anak cengeng yang sok sok maskulin dan overprotektif.”

  • Tommy: “Kalau secara keseluruhan cerita dan treatmentnya, menurut lo Dilan gimana Bungs?”
  • Bunga: “Dilan is a heartwarming coming-of-age slash romance slash comedy slash drama movie that takes you on a rollercoaster ride of cheesy yet poetic pick up lines and how reality doesn’t really have endings. It just simply goes on, seperti yang divisualisasikan film Dilan itu sendiri. Which is a good thing karena buat gue, terkadang dunia perfilman Indonesia (terutama dalam genre romansa) sering terbuai sama safety-nya happy endings. It’s nice to see film-film romansa belakangan seperti Dilan dan Posesif perlahan mengubah stigma tentang itu.”
  • Tommy: “Interesting! Kalo menurut gue, film ini disajikan secara puitis dan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan HLHKNTL…”
  • Tommy: “HAHAHAH SORRY …but seriously I love how Dilan 1990 serve the plotless story in a very modest manner as a reminder for everyone on how beautiful it is to be young, silly, idealist, and in love. Dan gue setuju terhadap deskripsi lo tentang film Dilan. Ia menjadi sebuah kisah cinta romantis lintas generasi yang semata-mata ingin menghidupkan kembali nostalgia remaja SMA tahun 1990 secara manis dan tetap realistis. Mungkin tetap juga, Dilan bisa dikatakan happy ending, tapi cerita ini pun seperti nggak ada awal dan nggak berakhir. Cerita Dilan juga mungkin akan berlanjut, seperti apa yang akhir film ini katakan, tapi berakhir di sini pun sebenarnya sudah cukup. It’s already a satisfactory nostalgia less-sugar candy for everyone who has ever feel love in their high school age.”
  • Bunga: “Karena mungkin emang untuk film-film seperti Dilan, gak butuh particular happy ending atau sad ending. Dengan mereka mengusut cerita yang realistic, seharusnya memang gak perlu ada ending, kan? I’m actually more excited for what is about to come in the second movie. Apakah mereka bisa menghidupkan kembali Dilan yang ini? Apakah Milea masih submisif? Apakah Dilan masih menjadi pusat dari filmnya? Apakah Kang Adi masih menjadi relevan? So many questions inside my head that are begging to be solved. Gue pun merasa film ini melebihi ekspekstasi gue, karena di awal udah drop sekaligus tinggi banget (aneh gak tuh?). But it really gives a nice tone to begin 2018, so I’m most likely almost satisfied.”
  • Tommy: “Biarpun memang agak biasa aja, tapi Dilan melebihi ekspektasi gue. Ini film yang cukup manis dan sama sekali nggak norak. Dan sebenernya separah apapun temen-temen gue tidak merekomendasikan Dilan karena novelnya sama sekali tidak memberikan perubahan pada karakter Milea, gue masih tetep penasaran apakah ke depannya sang filmmaker pada akhirnya mencoba untuk mengubah konsep cerita dan melakukan sesuatu pada si karakter perempuan utama tersebut.”
  • Bunga: “Right, right! Last thing, Tom. Who do you think should watch this movie?”
  • Tommy: “Film ini sangat baik untuk ditonton bagi orang-orang yang capek baru pulang kerja, terutama para pria. Enak gitu kelar kerja, stres, nonton Dilan ngalusin anak orang. Ngeliat kisah cinta mereka, terus berandai-andai jadi Dilan. Anak motor, ganteng, jago ngalusin anak orang, eh bisa dapetin MPDG kayak Milea. Atau, simply, ya orang-orang Bandung berumur 30-an ke atas yang pengen nostalgia masa-masa SMA mereka. Kalau menurut lo, Bung?”
  • Bunga: “Iya, sejujurnya buat gue biarpun latar film ini SMA, film ini lebih cocok untuk audience yang bukan anak SMA (atau setidaknya anak SMA dengan pola pikir yang diatas umurnya). Tapi, yang SMA tetep boleh nonton kok. Kali-kali aja bisa jadi referensi kalo mau ngemodusin cewek. Hehe.”

Masa muda, memang masanya bercinta. Namun sangat disayangkan apabila tradisi dan budaya berkencan anak muda zaman sekarang mesti terus menerus diromantisasi dengan karakter-karakter pasif yang tak mempunyai kejelasan motivasi namun selalu berhasil menemukan apa yang ia mau dan mendapatkannya tanpa ada usaha apapun yang signifikan. Dilan 1990 adalah film yang menarik, namun akan jauh lebih menarik bila karakter Milea dapat lebih dipertajam dengan motivasi dan effort yang lebih jelas agar tidak hanya mampu menarik simpati gadis-gadis muda, namun juga memotivasi mereka untuk mencari jati diri yang lebih kuat selain soal pacaran dengan ketua geng motor ganteng dan juga harus melakukan upaya yang nyata untuk mendapatkannya selain hanya menunggu untuk dikejar.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Maze Runner: The Death Cure – An Imperfect Execution to A Big Idea (SPOILER REVIEW)

Sudah berapa banyak novel-novel post-apocalyptic/fantasy YA mancanegara yang diadaptasi ke dalam cerita layar lebar? Mulai dari The Hunger Games, City of Ember, The Mortal Instruments, Divergent, dan lainnya sudah kita saksikan baik di bioskop Indonesia maupun platform streaming seperti Netflix dan lainnya. Tidak peduli betapa seragamnya mereka dari segi narasi, para remaja tetap banyak yang menyenangi genre cerita yang memberikan mereka sense of power to change the world ini.

Salah satu cerita post-apocalyptic YA yang banyak mendapat respons positif adalah seri Maze Runner. Berdasarkan situs Box Office Mojo, hanya dalam seminggu setelah penayangan pertamanya di Amerika Serikat, film dari seri pertamanya, The Maze Runner, langsung berhasil balik modal dengan meraup $32,512,804. Harus diakui, The Maze Runner memang memberikan sesuatu yang berbeda dengan mencampurkan elemen-element post-apocalyptic YA dan human experiment survival horror. Namun keistimewaan itu seketika hilang di sequel Maze Runner yang berjudul The Scorch Trials. Penulis seperti kehilangan arah menentukan kemana cerita seharusnya berlayar dan pada akhirnya berpasrah di template adventure-thriller yang malas dan membosankan.

Minggu lalu, sekuel terakhir dan penghabisan dari Maze Runner yang berjudul The Death Cure telah tayang di bioskop Indonesia. Setelah menonton filmnya selama dua setengah jam, saya masih merasakan keresahan yang sama seperti waktu menonton The Scorch Trials. Hanya saja, kali ini jujur saya merasa jauh lebih terhibur karena nampaknya Wes Ball lebih matang dalam mengeksekusi beberapa adegan penting meskipun skripnya masih seperti ditulis oleh orang yang kurang digaji. Oleh karena terlalu banyak pertanyaan yang muncul, saya memutuskan untuk mengulas film ini bersama Bunga kembali karena ia adalah salah satu remaja yang membaca novel seri Maze Runner dari awal sampai akhir (and obviously karena dia juga mengulas film di Distopiana). Berikut pembicaraan kami.

  • Tommy : Oke Bungs, sebelum memulai review, gue mau menjelaskan terlebih dahulu. Jadi sebenernya gini, kalo misal kemarin pas ngulas Posesif kita jadi dua orang di kutub yang sama, sekarang kita bakal jadi dua orang dengan kutub yang berbeda.
  • Bunga : Hmm…and why is that?
  • Tommy : Karena gue berpikir Maze Runner: The Death Cure ini cuma bakal bisa menjadi spesial buat mereka yang emang udah jatuh cinta dan immerse ke dalam cerita awalnya. Honestly I found so many flaws in this story, and I believe I will only find this film emotionally intriguing if I wanted to close my eyes to all that stuffs.
  • Bunga : True, true. Kita harus ngikutin dari awal untuk mengerti esensinya The Death Cure. I believe that The Death Cure has many flaws too, though I may or may not be on the exact same boat with you. Let’s get started!
  • Tommy : Okay then, great!
  • Bunga : Well, I’ve read all the books way before the movies even existed, and I have to be honest, I’ve got some mixed reviews to share with you tonight. The first installment was great — still decent but not the best, the second was a flop, and the third was a complete improvement.
  • Tommy : Bring it on, Bungs. I wanna hear from you first because you’re the one who read the books.
  • Bunga : Meskipun The Death Cure bukan adaptasi novel terbaik yang pernah gue tonton, filmnya definitely ngikutin novelnya dengan presentase diatas 60%. Yang sangat gue sayangkan adalah bagaimana mereka membuat imaginasi berbentu literatur-nya Dashner came to life. And this is not even rooted on the special effects. Some characters are portrayed differently from the books, and there is another big revelation those who haven’t read the book. It’s gonna be a huge let down, though.
  • Tommy : Oh really? They adapted it that badly?? Honestly gue selalu ngerasa Maze Runner series ini di novelnya sebenernya punya cerita yang lebih bagus dari apa yang ditampilkan di film loh.
  • Bunga : Yeah, it is that badly adapted.
    • A) Thomas isn’t supposed to find out about Newt’s flare like that.
    • B) Aris should’ve stood out A LITTLE BIT more.
    • C) Minho’s abduction isn’t supposed to be prolonged.
    • D) Teresa isn’t supposed to be that kind.
    • E) Seharusnya ada adegan surgeries yang amat sangat penting dalam development cerita The Death Cure secara keseluruhan.
  • Tommy : Wait sorry, who’s Aris again? :/
  • Bunga : NAH KAN!
  • Tommy : Do you know that there’s supposed to be another maze, the same exact maze like you saw in Group A (the first movie), with Group B as the subjects — all girls with one boy? Well, Aris is the male version of Teresa.
  • Tommy : Wait, now I do remember. The question is: why isn’t this part being highlighted in the film? I mean…this is important. This means Thomas isn’t the only protagonist then.
  • Bunga : Because the film would sell better kalau yang jadi protagonisnya cuma Dylan O’Brien, Tom.
  • Tommy : Goddammit, it makes sense! Seriously, one of the things I hate in this series was like how Thomas is always the center of the stories and the other characters are only the hands of him. They don’t even have a proper skeletons and foundations to stand on their own feet.
  • Bunga : Mereka mengeksploitasi Thomas gitu gak, sih?
  • Tommy : Yes bener banget. Padahal gue pengen banget ngeliat Newt, Minho, ataupun Frypan punya motive, purpose, and function yang lebih solid dan vital di dalam cerita ini.
  • Bunga : Let’s start talking about this in a chronological order, shall we?

  • Tommy : Let’s. I got to admit that train mission in the first scene was executed well. Dari sini gue bisa ngeliat bahwa Wes Ball udah mulai dewasa soal crafting meskipun screenwriternya kayak cuma digaji UMR doang makanya kerjanya males-malesan.
  • Bunga : HAHAHAHAHA SIAL UMR. Kalaupun kurang realistis waktu keretanya di angkat (efek anginnya mana, nih? Masa badannya mereka yg diatas gerbong gak goyang parah) dan nyari Minho cuma moda teriak2 (makanya salah gerbong!) tapi boleh lah. Ide nya cukup brilliant.
  • Bunga : Wait… emang Minho pernah dipindahin? Gue clueless nih, karena gak seharusnya dia diculik! Kalo dia dipindahin kenapa bisa saling denger…
  • Tommy : Lo inget nggak pas Thomas nanya salah satu glader di gerbong, “Where’s Minho? He was on this car, wasn’t he?” terus si glader bilang “I’m sorry. He was.”
  • Bunga : OH IYAAAA. Astaghfirullah lupa. Berarti impactnya kurang hahaha.
  • Tommy : Bener kan?? Gue emang ngerasa bahwa di bagian itu pas Minho dipindahin atau diculik, ada bagian yang sangat sangat kurang.
  • Bunga : And Dashner didn’t write this whole abduction in the first place. The way the film wrote this shit instead just gave WICKED more power (that they stupidly didn’t use well) to abuse the former gladers and Thomas too much screen time to be the fucking knight in shining armor. Thomas itu karakter yang impulsif, spontan, berani dan sebenernya intelek – tapi kalau melakukan sesuatu kadang terlalu tergesa2 dan gak mikir efeknya, kebalikan dari Minho yang selalu hati2, organized tapi gesit (which was why he was chosen as the keeper of the runners). Jadi, apa gunanya bikin cerita Minho diculik? Wasn’t he a little too clever for that?
  • Tommy : Holy shit…so the reason why this film is actually terrible is because they wanted it to be terrible? So they can sell it to the teenagers they think are only worshipping Thomas?
  • Bunga : The Maze Runner series are supposed to be a tale of brave men and women who are determined fight for their rights – which means bringing down WICKED, a wealthy organization made by a bunch of psychotic scientists who are obsessed to find the cure to a zombie-like disease called Flare. Tapi film-film adaptasinya malah bikin The Maze Runner jadi cerita klise tentang satu protagonis dan teman-temannya (yang mau disuruh-suruh padahal punya potensi yang sama, atau bahkan lebih) dalam memberantas kejahatan. Dibumbui dengan drama dan back story yang bikin remaja baperan, tentunya.
  • Tommy : Goddammit. Oke Bung, now I really want to talk about Gally.
  • Bunga : OH YES.
  • Tommy : Gini loh.
    • The film never provide enough closure for how Gally came back to life after MINHO PUT A FUCKING SPEAR THROUGH HIS FUCKING CHEST. He was just like “Oh, WCKD just patched me up after y’all gone”
    • There is no urgency – or even relevancy for Gally to come back to life and assist Thomas in bringing down WCKD. I mean, even if it’s not Gally, the story will just go along as it is.
  • Bunga : Yeah, the unfortunate thing about Gally’s revival story is that Dashner gak pernah bener-bener jelasin juga di bukunya. Mungkin dampak nya jadi ada plot hole di film juga. Padahal memang Gally ini karakter yang menarik. Gally itu buat gue ibarat… bunglon. Gak jahat, tapi gak baik juga. He was simply a man who believes in survival, no matter what. He was never a part of the gladers, nor a part of the Right Arm. He was his own person. Jadi antek2nya Lawrence itu cuma salah satu bagian dari survival kit nya dia aja. A coping mechanism.
  • Tommy : Nah, menurut gue memang Gally ini karakter yang sangat menarik yang seharusnya dieksplor lebih lanjut. Justru dia yang memberi nyawa di Maze Runner pertama selain Minho dan Newt. Begitu pertama kali muncul Gally di Death Cure, sebenernya gue seneng banget loh. Like “Ooooh okay this is going to be interesting again” tapi ternyata hhhh such a waste.
  • Bunga : Gally itu very, very complex. Sudah pasti ada alasan kenapa dia stood out dibandingkan yang lain.
  • Tommy : I agree. Now Bung, let’s talk about Lawrence, the disfigured leader of the Right Arm.
  • Bunga : Fun fact! Alasan kenapa muka dia bisa kelihatan hancur di film adalah dia ngidap Flare. Very cliche. Tapi, yang lebih menarik lagi, diluar serum WICKED yang butuh ekstrak darah immune. ada serum lain yang bernama Bliss yang bisa memperlambat pertumbuhan Flare untuk mereka yang sudah terinfeksi — which was the one Lawrence used for survival. Kalau lo perhatiin, dia bawa2 infus di awal introduction. Seperti yang dia sendiri bilang, Lawrence is a businessman. Bukan melawan WICKED karena activism, tapi karena dia butuh benefit.
  • Tommy :  Then why, may I frustratingly asked, is his role being depicted so poorly unimportant without leaving any remarkable impression in the movie? I mean, the moment when he was seen as important was only that moment when he gives Thomas permission to enter the city and the moment when he brings down the wall.
  • Bunga : Because again, the story would be too deep and complicated. AND wouldn’t be as selling as it is now. Harusnya Lawrence dibikin lebih tegas, lebih berkuasa, lebih licik. Bikin point bahwa “I may be your leader but I have my own needs too” karena balik lagi- Lawrence was a businessman. He wasn’t here for charities.
  • Tommy : Holy shit I swear…the screenwriters HAD ONE JOB! Should’ve figure out how to make all the complexities fit into one compact and solid film.
  • Bunga : Nyatanya, adaptasi novel ke film itu susah bukan main. I have been writing for awhile dan hal yang gue tangkap adalah menghidupkan literatur itu bukan cuma tentang special effects yang canggih atau presentase kemiripan cerita yang tinggi, tapi bagaimana kita membuat setiap karakter ter-explored seperti di buku. Yang protagonis tetap stand out (tanpa membuat supporting roles menjadi sekedar antek2 dia), yang supporting roles tetap terkesan penting dan tambahan2 lain (seperti romance, friendship antar karakter) hanya menjadi sekedar “pemanis”.
  • Tommy : You’re absolutely right Bung. It’s just very frustrating to know that an interesting story like Maze Runner series could have such a shitty film adaptation that barely represents the whole story. Okay, now all the question about how tangled the story and why’s there so much plot hole is answered. Put that aside, I love how some of the scene is being executed. That elevator scene when Janson is talking to Teresa while she’s taking the disguised Gally and Thomas made me chuckled.
  • Bunga : Yes! HAHAHA that was funny.

  • Tommy : Wait, you mentioned something about Teresa before. What about her?
  • Bunga : Teresa… one of the most complex characters other than Gally. She was supposed to die in a much, much sadistic way. She was crushed by falling debris while saving Thomas. Though the last part was used in the movie, buat gue eksekusinya terlalu dramatically ridiculous. Dengan durasi sepanjang itu lebih dari mungkin mereka narik tangan Teresa setelah Thomas selamat dilempar ke Berg. Tapi of course, cuma bengong sampe gedungnya roboh. Mungkin sengaja dibuat less graphic karena ini bukan film dengan rating 17+, tapi transisi dan timingnya sedikit… curam.
  • Tommy : Yeah, I noticed that cringeworthy moment tho.
  • Bunga : Lanjut ke karakternya Teresa lagi ya. Buat gue, Teresa itu gak baik. Gak jahat juga, sih. Tapi gimana pun juga, she betrayed her own friends dan kalau yang gue baca berdasarkan buku, she was a very wicked girl (pun intended). She was almost like mini Ava, tapi sedikit lebih polos (makanya dibegoin). Dia percaya bahwa wicked was good.
  • Tommy : Wait… Isn’t WCKD… Actually good? It was revealed in the middle of the film that WCKD was actually only trying to find a cure, right?
  • Bunga : Tujuannya sih iya, tapi orang2nya? WICKED was good, but was also filled with greed and people who wanted the cure for themselves. Or even worse, cuma menyelamatkan yang mereka pikir “perlu” diselamatkan.
  • Tommy : Okay, so there are actually so many spectrums delivered by this story. Thank you for the enlightenment, Bungs. Now, shall we discussed…Newt?
  • Bunga : *sobs violently*
  • Bunga : NO DOUBT. The sad thing about The Maze Runner is that at some points, I liked Newt better than Thomas…
  • Tommy : Is there more to Newt that I should know Bungs? Because no matter how much I like him, I still didn’t think the writer did his part of story with justice.
  • Bunga : You already know he was suicidal right?
  • Tommy : What…since when?
  • Bunga : Like, back when he just got into the maze.
  • Tommy : I mean, that part when he tried several times to killl himself after he got the flare was obvious. He was suicidal before??
  • Bunga : Him limping was a result from his suicide attempt of falling down from top of the wall (the maze), though in Scorch Trials and Death Cure his limps weren’t as exposed.
  • Tommy : Was this one ever mentioned in the first film? Gue samar samar soalnya. Gue ada inget Newt ngobrol intim sama Thomas but can’t remember exactly what the conversation is. Is it this one?
  • Bunga : Eh… i don’t know, but I don’t think so. Yang jelas, Newt was a very dark person. He had a younger sister named Lizzy who was also an immune like Thomas, and they were both taken by WICKED as subjects after WICKED killed their parents. It was sad that this wasn’t mentioned in the movie (I want to know more about her sister). Dan yang terpenting (dan tersedih) alasan dia mau bunuh diri adalah karena dia gak bisa cope sama orang2 yang mati “gara-gara” dia. Which was why he was very leader-like (despite Alby being the real leader) to the other gladers, thus earning the second-in-command position. Dia sayang banget sama Thomas karena dia tau yang Thomas rasain kayak gimana, tapi sayangnya kurang di explore lebih jauh aja.
  • Tommy : No…I’m not crying. Tears didn’t just run down my face after knowing that. You know I’m a masculine man, right?
  • Bunga : Yes, I do :”
  • Tommy : If this was actually revealed in Death Cure, I don’t know what will happen to me when I’m watching THAT SCENE and the one when Thomas read Newt’s letter to him.
  • Bunga : Another fan fact: Newt should have been the one abducted
  • Tommy : What? Why he was the one that is abducted?
  • Bunga : This is a whole another story, tapi yang jelas Thomas and the others should’ve had an expedition to Denver, and they left Newt to watch the Berg. Disana, dia malah ketemu sama cranks dan diajak buat ninggalin gladers yang lain – toh dia udah keinfeksi flare juga. He was then taken to a place called The Crank Palace, “a place where he belonged”. That was when he started writing the letter for Thomas (isinya hampir sama kayak yang di film).
  • Tommy : That sounds fascinating.
  • Bunga : Addition-nya, dia minta Thomas buat bunuh dia kalo mereka ketemu. Dia gak mau jadi crank dan bunuh orang2 disekitar dia kayak yang kejadian sama keluarga & temen2 dia yang lain. “Kill me, if you’ve ever been my friend, kill me”. And well, when they met again, Thomas did.
  • Tommy : Goddammit.
  • Bunga : This fucked me up a thousand times worse daripada yang di film (kalaupun gue nangis2 juga sih, hehe)
  • Tommy : Yeah, I bet you do, Bungs. What about Minho? Was there ever more to him than just “being abducted and tested and helping Thomas”?
  • Bunga : Minho was never really explored, both in the books and the movies… but he’s supposed to be a gag man with sass. He was no doubt the strongest, smartest and funniest among the group, which balanced Newt’s traits. Tapi emang sih, Minho itu fond banget sama Thomas. Bahkan dia hampir milih Thomas jadi keeper untuk runners (gantiin dia) setelah Thomas berhasil survive semaleman di maze, tapi buru2 dilarang sama Newt hahahahaha. But it was nice to see an Asian that’s portrayed in such un-stereotypical ways.
  • Tommy : I agree to that. Duh,  emang paling the best tuh Maze Runner yang pertama deh.
  • Bunga : The Maze Runner series overall are such great installments. Kalaupun temanya dystopian, ceritanya sama sekali gak mainstream. Karakternya kompleks, filosofis (they were all named from important people scientists!) dan setiap reaksi selalu datang dari setiap aksi. Cuma memang eksekusinya aja yang kurang bagus. Terutama untuk film2nya, ya. But I get what Dashner meant in general. Kalau dibuat dengan baik dan benar, I bet my ass The Maze Runner bakalan jadi masterpiece.
  • Tommy : I agree once again, it had a big idea, but poor execution. Nah Bungs, now I want to discuss about the ending. What happened to the rest of the world? Is it actually just them in that paradise-like island? Did Thomas and other gladers ever find their memories back?
  • Bunga : Seharusnya gak se-happy ending itu sih, tapi gue tetep dibikin sendu gara suratnya Newt dan name-carving nya Teresa. To be honest, there was another back story about their memories.

  • Bunga :  Kalau berdasarkan buku, all gladers are supposed to have the chance to restore their memories, dengan cara operasi pengangkatan chip. Ini offer dari WICKED-nya sendiri. On one condition: setelah operasi, kemampuan telepati nya Thomas, Teresa & Aris akan hilang. Thomas, Newt & Minho were the only ones who decided not to restore their memories. Menurut mereka, the people they were today itu ya mereka yang sebenarnya, dan gak akan berpengaruh dengan cure yang mereka cari – toh jawabannya udah ada di depan mata, immune’s blood. They escaped the surgery with the help of Brenda & Jorge, who were apparently – surprise, surprise – antek2 nya WICKED!
  • Tommy : WHOA, that is interesting.
  • Bunga : Plus, WICKED nggak sebodoh itu. Kalaupun chip memori mereka di ambil, mind-control chips mereka akan tetap ada & yang ada malah mempersulit gerak mereka. So why bother? This eventually led to their Denver expedition, karena mereka mau nyari scientist bernama Hans yang bisa ngangkat both chips. Eh, balik lagi deh ke kronologis yang Newt ketemu Cranks.
  • Bunga : TOM, THEY EXPLAINED IT BACK IN THE FIRST FILM HAHAHAHA. Also in the third film tapi gak exposed banget. It happened waktu Teresa sama Thomas & Newt nyusup ke WICKED.Bunga
  • Tommy : This dumbing-down surgery towards the film adaptation is far worse than I thought. Please help me out here, mereka nggak dijelasin punya telepathic ability sama sekali. Terus di bagian penyusupan WCKD mananya yang mereka menggunakan telepathy?
  • Bunga : Inget gak, waktu Thomas sama Teresa nyolot2an pas mau masuk ke lift? They sort of disagreed on each other’s opinions, kalo gak salah – which was talked inside their heads instead of in person. Makanya Newt nyelonong jalan di depan.
  • Tommy : Kenapa se-subtle itu sih? It could be awesome if this film utilize more of it.
  • Bunga : I know, right?
  • Tommy : Okay, now let’s sum it all up in one conclusion. What do you think about the movie in general, Bungs?
  • Bunga : I think The Death Cure an entertaining movie after all. Definitely a huge improvement from Scorch Trials, though it didn’t give the entire justice Dashner’s book deserves. Visual effects nya bagus, cast nya solid, costumes & make up bener-bener thorough antar konsep rustic dan futuristic-nya. Yang gue sayangkan adalah plot holes, aspek-aspek penting dari buku yang dihilangkan (mungkin supaya filmnya lebih menjual) & balik lagi, unnecessary dramas.
  • Tommy : 100% agree with this.
  • Bunga : If there is one thing I can change from this whole installment is how they made the script. Intentions nya gue ngerti, tapi eksekusinya nggak sama sekali. But again, this is an adaptation we’re talking about. Gue nggak heran sih, malah cukup bersyukur karena setidaknya mereka punya decency untuk tidak membagi novel terakhir menjadi 2 film just for the sakes of money. That very concept already destroyed Twilight, The Hunger Games, Divergent — but Thank God nggak untuk The Maze Runner. This installment really taught us a lot about friendship, sacrifice and how science should always stick together with conscience itself. Humanity is a very complex area to understand, but if we’re willing to dive in & do what we think is right, it’s possible.
  • Tommy :  True. I’m thinking that Death Cure is actually filled with some distinctive elements that differentiate this one from any other post apocalyptic YA stories. Although the direction is much better than The Scorch Trials, it is lazily written and heavily focuses on many wrong things that in the end only works as a closure for those who feel emotionally distracted by Newt and Teresa’s death.
  • Bunga : Agree, Tom. The Death Cure isn’t shit, but it’s more of the kind of movies that were only made for the sole purpose of satisfying their viewers and simply ending a story (unlike, again, installments like Divergent or The Mortal Instruments that were severely discontinued).
  • Tommy : Soal Divergent dan The Mortal Instruments ini kayaknya lo take it personally banget ya? Hehehe.
  • Tommy : Okay. Jadi bakal kita kasih rating berapa nih film?
  • Bunga : Hmm…let’s settle in 2.5?
  • Tommy : Agree. Mereka punya takaran kekurangan dan kelebihan yang imbang soalnya.
  • Bunga : True. Menurut gue kelebihannya adalah  special effects sama ensemble cast.
  • Tommy : Yes, dan directing sutradaranya yang lumayan membaik dibanding Scorch Trials! Kekurangannya ada di script yang malas dan Thomas-centric.
  • Tommy : Padahal kita semua sudah tahu bahwa meskipun dia karakter utama, Thomas bukan karakter yang terlalu menarik.
  • Bunga : Thomas menarik, tapi MASIH ADA YG LEBIH MENARIK. For example Newt.
  • Tommy : YEAH! Gally, don’t forget Gally please…
  • Bunga : Kalo lebih digali lagi betrayal nya, Teresa juga sebenernya. MY FEMINIST HEART IS SHAKING akhirnya ada yang cewek juga!
  • Tommy : HAHAHA. What do you think about Brenda, then?
  • Bunga : Brenda sok savage buat gue. I like her tapi kadang… overboard? She and Jorge did make a wonderful pair tho.
  • Tommy : Gue setuju Brenda itu overboard. Terlebih, ceritanya sendiri tidak memberikan dia porsi yang penting, tapi screen time nya dia kebanyakan dan tengilnya nirfaedah.
  • Bunga : Iyaaa, dia sama Jorge tuh seakan2 jadi cuma kayak tim P3K nya thomas anjir. Dateng buat nyelametin doang like…Situ punya GPS?????
  • Tommy : HAHAHAHA. Oke deh bungs, thank you ya! It has been a great duet review session, once again. Terima kasih atas semua penerangannya.
  • Bunga : You’re welcome, Tom. This is very messy tapi mudah2an bisa ngasih pencerahan buat yang bingung tentang holes-nya juga.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

Membedah “Posesif” (2017) – Orang Tua, Remaja, dan Keluguan yang Berbahaya

Kita semua pernah menjadi remaja, dan kita pasti merasa amat sangat bodoh bila mengingat kembali segala keputusan yang pernah kita ambil di masa remaja. Manjat pagar sekolah saat pintu gerbang ditutup karena telat, ngelawan guru dengan argumen-argumen sok pinter saat kita kena hukuman, pacaran sama cewek/cowok populer di kampus cuma karena mereka populer, jatuh cinta dengan obsesi serta kecemburuan yang mereka tunjukkan pada kita, dan hal-hal bodoh lainnya. Kebodohan yang kita lakukan tersebut tidak serta merta ada tiba-tiba, namun berasal dari lingkungan keluarga kita.

Inilah yang Posesif coba bahas secara berani dan gamblang. Berfokus pada isu toxic relationship, film yang disutradarai oleh Edwin tidak semata-mata memprovokasi kita untuk mengutuk dan mengecam pelaku kekerasan dalam sebuah hubungan, namun malah mengajak kita untuk memahami akar dari segala siklus kekerasan — yaitu pranata keluarga.

Film ini sangat istimewa buat saya. Saking istimewanya, saya memutuskan untuk tidak hanya mengulas film ini sendirian, namun juga membedah film ini secara dalam bersama rekan saya, Bunga Maharani, yang kebetulan sedang rehat sejenak dalam studi Psikologinya di Universitas Udayana. Agar terkesan mentah, familiar, serta enak dibaca, saya akan menyalin chat saya dan Bunga dari Line langsung sebagai ulasan film ini.

  • Tommy: “Halo Bungs! Akhirnya kita bisa review film bareng ya.”
  • Bunga  : “Yay! Setelah sekian lama 🙏🏻”
  • Tommy: “Nah, sebelum kita breakdown film ini, let’s start with one question: Apa kesan lo tentang Posesif sebelum nonton film ini?”
  • Bunga  : “Oh, look, it’s another coming-of-age romance! The premise does seem interesting though I’m not very sure about its execution, but let’s watch it anyway.
  • Tommy: “HAHAHA SAMA”
  • Bunga  : “I mean, it’s Indonesia’s teen romance after all…”
  • Tommy: “Kalo gue, awal ngeliat sih ‘Anjir lah Edwin kok berani sih masuk pasar mainstream tapi bawa premis yang terlalu biasa dan cheesy’?”
  • Bunga  : “I’ve been looking out for Edwin for quite awhile, but I never expected him to take an interest over film-film kayak gini. Karena film ini dari luar tidak terkesan complex. Meskipun pada akhirnya, ya… you know…”
  • Tommy : “Yess, secara gue ngikutin Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcard from The Zoo, nggak percaya lah gue Edwin bakal bikin film yang biasa aja. Apalagi produsernya Meiske Taurisia, yang bikin dokumenter “Potongan” yang blak blakan ngungkap LSF itu kayak gimana. Finally emang gue nggak kecewa sama sekali, dan kepercayaan gue terhadap Edwin sepenuhnya benar.”
  • Bunga  : “Dan satu poin lagi, when the word “posesif” crossed my mind, yang di otak gue adalah: pacar-pacaran SMA yang masih bersifat experimental, pasangan yang saling mengekang satu sama lain, atau A jealous sama B dan B jealous sama C. That’s it. Tapi ternyata… wah. So much more than that.”
  • Tommy : “Nah iya! Gue juga. I mean, film ini sukses ngangkat tema toxic relationship dari perspektif yang sungguh realistis, dengan narasi yang simpel tanpa ada unsur preaching sama sekali. Terlebih, bukan cuma sukses ngupas kulitnya, Edwin juga berhasil ngebedah daging dan akar-akarnya tanpa harus ngorbanin ceritanya menjadi sebuah khotbah Jumat ataupun pesan layanan masyarakat.”
  • Bunga  : “Karena pada akhirnya, yang masyarakat butuhkan adalah sebuah film yang bisa depict kejadian yang sehari-hari terjadi dengan cara yang paling simple, raw, tidak harus verbal (bisa dibuat metaphorical because, hey, some things are not always meant to be spoken out loud) tapi tetap ngena sampai ke hati dan bisa bikin kita mikir dua kali tentang life choices yang udah kita buat selama ini. Bukan cuma yang menggurui dan bias, atau bahkan jadi me-romanticize yang tidak seharusnya.”
  • Tommy  : “Goshhhh bener banget! Yuk langsung kita breakdown bareng filmnya!”
  • Bunga     : “Let’s goo!”

  • Tommy : “Di awal seperempat film, gue dibuat agak sedikit bingung sama perasaan gue sendiri.”
  • Bunga     : “And why was that?”
  • Tommy   : “Antara ‘Anjir ini cheesy abis mereka pedekate cepet amat, Yudhis kayak gaada tantangannya sama sekali buat dapetin Lala. Baru jalan sebentar langsung gambar-gambar pinguin di tangan’ sama ‘astaga kok treatmentnya indah banget. Tone filmnya seperti sebuah mixture lovely-lovely cinta monyet plus indie-indie Payung Teduh. Everything was visually beautiful’
  • Bunga   : “True! The visual aesthetics are so pleasing that I want to take screenshots of each scene and put them on my IG, hahahaha.”
  • Tommy  : “YAKAAN anjir itu gambar-gambarnya dibikin grid di IG bagus banget gila. Terkesan pop, tapi nggak murahan banget.”
  • Bunga    : “Dan lo notice kan, dari awal Yudhis itu terkesan… harmless. Your typical good guy with the perfect family and a balanced life. Well, that, until everything took a toll on both of them… *drumroll!!!*”
  • Tommy   : “Betul. Betul banget. Image good guy Yudhis perlahan diruntuhin sejak dia pertama kali nyamperin Lala latihan loncat indah pas malam hari. I mean…it’s not actually wrong, tapi kesan creepynya udah muncul.”
  • Bunga    : “Those laser beams, though, holy shit!!! Gue sama sekali tidak expect dia akan mulai transisi nya dengan nyenterin mata Jihan.”
  • Tommy  : “Kalo gue udah expect, tapi tetep aja gue ngeri pas dia akhirnya bener ngelakuin hal itu.”
  • Bunga    : “Ekspresi wajahnya Adipati bener-bener keren, dia bisa portray sisi-sisi lain Yudhis tanpa terkesan artificial. Yudhis yang manis, Yudhis yang posesif, Yudhis yang sakit.”
  • Tommy  : “Goddamn right. Ini bener bener penampilan Adipati terbaik sepanjang karir dia. Dari pembawaan Adipati sebagai Yudhis pas ngelaserin Jihan, gue malah udah bisa ngeliat kalo Yudhis itu cowok yang nggak bener buat Lala, he’s going to do something harmful to her sooner or later. Dia udah bisa bikin gue nerawang watak serigala di balik bulu dombanya.”
  • Bunga    : “Tidak perlu dengan gerak gerik yang berlebihan, cukup dari cara Yudhis menatap udah bisa bikin gue merinding. Dan ternyata dia umpetin lasernya di bawah sepatu! Sneakily clever.”
  • Tommy  : “Plus, treatment kamera dan editingnya bikin narasi jadi makin tajem. Mulai dari adegan Yudhis ngomong ke Lala di mobil pas siang “Aku itu pacar atau supir kamu” udah mulai serem, but somehow, lewat chemistry Adipati dan Putri Marino yang tajem, kita masih ngerasain manis-manisnya dikit.”
  • Bunga   : “Bikin kita pengen bilang “aww yudhis…” dan “anjinggg anjing anjing yudhis anjing” dalam waktu yang bersamaan.”
  • Tommy : “It’s not right to say “aww yudhis” because it’s not a good thing to do, tapi di sisi lain, kita bisa ngerti kalo dia ngelakuin itu karena sayang Lala dan cuma pengen ngabisin waktu lebih banyak sama dia.”
  • Bunga   : “FINALLY SOMEONE SAID IT. It’s the most fucked up “Aw Yudhis” ever.”
  • Tommy : “You’re damn right it is. Okay, sekarang let’s discuss about hubungan Lala dan ayahnya.”
  • Bunga    : “A heartbroken father who cares about his daughter but is unable to deliver his feelings the right way.”
  • Tommy  : “Nah, Fira kemaren baru abis nonton Posesif juga, dan dia bilang “Sayang banget hubungan Lala sama ibunya nggak begitu dalam dibahas di film ini“”
  • Bunga   : “True! It should have been explored more, kalau pun tidak perlu berlebihan.”
  • Tommy : “Nah, tapi menurut gue, memang harusnya persepsi penonton terhadap hubungan Lala dan ibunya harus dibuat seblur dan sesamar mungkin. Karena inilah alasannya mengapa Lala gampang banget jatuh ke Yudhis.”
  • Bunga   : “Yes, though us viewers are really curious about Lala’s mom, kalau misalnya ibu Lala diceritain secata detil dari awal, Lala nggak akan bisa segampang itu jatuh ke pelukan Yudhis. Gimana pun juga, ibu adalah role model anak perempuannya.”
  • Tommy : “Nah bener banget bung. Lala bener-bener harus dijauhin dari kasih sayang, supaya si viewers bisa dapet perception bias “cuma Yudhis yang bisa nyayangin dia”. Bapaknya nggak bisa ngungkapin rasa sayang ke anaknya karena lebih dibutakan sama ambisi agar Lala bisa push her limit. It doesn’t matter if Lala hated him. If it’s actually what it takes to make Lala to train harder and win the Olympiad, he would do it.
  • Bunga  : “Bapaknya terlalu sibuk dengan ambisi dan luka batinnya dia sendiri, dia lupa kalo anaknya juga punya trauma psikologis yang ekuivalen sama punya dia, atau mungkin lebih.”
  • Tommy  : “True. True banget.”
  • Bunga  : “Kelihatan banget dari ekspresi Lala waktu bapaknya bilang Jihan itu patokan dia. Pain, annoyance, mortification… tapi dia gak bisa bilang apa-apa (setidaknya sampai beberapa saat kedepan).
  • Tommy  : “Yup, bener banget. Nah, sekarang kita bahas adegan pas Lala main ke kafe sama Ega dan Rino.”
  • Bunga    : “Holy mother of God… THIS.”

  • Bunga   : “Gue dari awal udah greget banget waktu Lala bohong kalau nggak ada laki-laki yang ikutan nongkrong. ASLI.”
  • Tommy : “Kita tahu sebelumnya Yudhis udah sering ngebuntutin Lala secara creepy, dan Yudhis tuh udah mulai cemburu buta sama Rino.”
  • Bunga   : “Belasan, bahkan puluhan missed calls! Seriously, Yudhis?”
  • Bunga   : “He failed to understand that guys and girls CAN be best friends. At least dalam circumstance ini. Waktu Lala keluar cafe dengan wajah panik dan ketemu Yudhis di depannya…wah.”
  • Tommy : “YES, when finally the shot shows the reflection of Yudhis di sebelah kanan, refleksi Lala di sebelah kiri, dan Lalanya sendiri di tengah menghadap ke belakang. ITU POETIC ABIS.”
  • Bunga : “Salut juga sih dengan pengambilan gambarnya — refleksi. Tidak haru tersirat tapi tetep ngena. Gesture nya simpleee banget, tapi nyes.”
  • Tommy : “Nah gue mau nanya nih bung. Menurut lo, gesturnya Rino sebagai temen cowok itu agak berlebihan nggak ke Lala?”
  • Bunga   : “As a girl who actually HAS a guy best friend… nggak berlebihan tapi nggak kekurangan, sih. Gue suka banget sama tagline Rino yang bilang, “gue ada buat lo”. Meskipun gue juga gak bisa nyalahin itu semua 100% Yudhis karena sebagai laki-laki, yang punya pacar dan pacarnya itu punya sahabat lawan jenis yang kenal duluan daripada dia, pasti akan ada sedikit (well, in this case banyak) sense of threat dalam dirinya. Rino is like…your gay best friend who is NOT gay — tipe persahabatan yang tulus dan asik, tapi paling mudah disalahartikan. Menurut lo?”
  • Tommy   : “Nah, sebagai orang yang punya pacar (dan sayang banget sama pacarnya), gue merasa Rino agak sedikit berlebihan. Gini loh, gue juga punya beberapa temen cewek yang akrab, tapi misal gue jadi Rino di situ, gue bakal nyuruh Ega buat ada di samping Lala secara personal, bukan nawarin bahu sendiri. Gue cuma bakal bilang “Gue ada buat lo” kalo misal temen cewek gue yang lagi sedih itu jomblo, ditinggalin gebetan, atau putus sama cowoknya. Selama permasalahan di antara temen cewek gue dan pacarnya bukan sesuatu yang ‘memutuskan hubungan’, gue gabakal mau risk myself nyelip di tengah tengah mereka. Makanya, menurut gue Rino salah di sini, tapi apa yang Yudhis lakukan ke Rino itu sama sekali nggak bisa dibenarkan. Dan apa yang Yudhis lakukan ke Lala (jambak-jambak kayak tai) itu juga salah. Salah banget.”
  • Bunga  : “Hmm, you do have a point sih. Karena bagaimana pun juga Rino itu laki-laki. Tapi perhatiin deh, Tom, ini sih point of view gue aja… dari semenjak tokoh Rino diperkenalkan, Rino itu udah keliatan banget kalo dia ngerasa kayak something’s up with Yudhis. Matanya, cara natapnya, gerak-gerik tubuhnya. Dan Ega gak bisa ngelihat itu. Maybe that’s why he decided to make an indirect intervention.”
  • Tommy   : “I see…you do have a point, too.”
  • Bunga  : “Gila, gue bawaannya pengen jambak Yudhis waktu nonton hahahaha. Setuju sih dengan tagline film Posesif — buat Lala, ini cuma cinta pertama. Tapi Yudhis mau selamanya. Tercermin banget di scene itu.”
  • Tommy  :  “Anjing ye ini film keliatannya simpel banget, tapi kalo dibedah bener-bener complicated.”
  • Bunga    : “Welcome to Edwin and Meiske’s world!”
  • Tommy  : “Okay, bahas caranya Yudhis pertama kali minta maaf ke Lala.”
  • Bunga   : “AH!”
  • Tommy: “Ini anjing treatmentnya bisa dibikin horror banget begitu. Lo notice kan…key shotsnya itu horror banget. Silhoutte behind the door. Suspense when Lala walks downstairs. Fokus shot ke gagang pintu yang digerak-gerakin dari luar…”
  • Bunga   : “YES. YES. YES. Apalagi dengan design rumah Lala yang agak “jadul” dan lampunya yang remang, lalu pintu kaca yang, hey, did you see a small hole on its surface?!
  • Tommy : “YA KAAAN?”
  • Bunga  : “Maafin aku, La… *jedotin kepala, ngetok pintu sampe gila*. Gue jadi Lala langsung telpon polisi lololol. Pancaran matanya bisa banget lho ini. Seakan-akan he lost control of himself and he KNEW that. Jarang lho ada orang abusive yang sadar akan kesalahan dia…”
  • Tommy  : ” Menurut lo, apa yang dilakukan sama Yudhis dengan jedotin kepala di pintu dan nampar nampar muka dia sendiri di depan Lala itu… Banyak ga sih cowo cowo yang kayak gitu? Because pas adegan ini di bioskop, ada sekumpulan cewek2 duduk di depan gue, mereka pada “Awwww kasian :3” pas Yudhis ngelakuin hal itu. Which I was like “no… That’s not how you suppose to react…“”
  • Bunga    : ” Dibilang banyak sih engga, tapi apakah cowok-cowok yang emotionally unstable punya tendensi untuk ngelakuin hal-hal itu? Iya. Karena gue — yang personally juga bilang kasian kalaupun gak pake aw juga sih HAHAHA — ngelihat Yudhis begitu lebih ke act of self-harm (because it’s so much more than slitting your wrist, hell). What he tried to showcase was self-hate, karena seperti yang tadi kita bahas dia lost control dan gak bisa jadi laki-laki yang baik untuk Lala, and self-hate IS considered self-harm. Seakan-akan dia punish dirinya sendiri, as if he deserved that kind of treatment and, surprise surprise! That kind of action was brought by none other than lingkungan sekitar dia, dan dalam case ini ibunya.
  • Tommy    : “Oh, I see. Thanks Bung! By the way, gue suka banget cara Lala meluk Yudhis di scene ini. Full of undescribable emotion yang bahkan gue juga ga bisa jelasin.”
  • Bunga   : “That was beatiful *sheds tear*”

  • Tommy  : “Lanjut ke scene clubbing.”
  • Bunga    : “LET’S! Don’t even get me started with this one. Dari awal sampe akhir scene clubbing cushion kursi bioskopnya udah gue cubit-cubitin parah.”
  • Tommy  : “Oke deh kalo gitu. Gue mau denger dari lo dulu tentang scene ini.”
  • Bunga    : “Intinya gue curiga sih, bener-bener penuh tanda tanya. Kenapa tiba-tiba Yudhis menurunkan ego dia dan mau berbaur sama temen-temennya Lala? ESPECIALLY RINO. Gak ada yang simple tentang behavior Yudhis. Dan bagaimana di club Yudhis selalu nyium Lala dengan agresif seakan-akan pengen nunjukin kalo, “she’s mine!” Dan ternyata, Rino juga notice hal ini setelah stealing glances here and there. Lo gimana?”
  • Tommy   : “Putri Marino jago banget nunjukin “Ih Yudhis apaan sih, freak banget. Jangan gitu dong sayang, jangan gini.” Dia tahu dengan hangout sama Ega dan Rino, Yudhis ngga bener-bener pengen mingle, tapi cuma pengen “membuktikan“, seperti kata Yudhis sebelumnya “aku bakal buktiin kalo aku bisa dapet maaf dari kamu.” And isn’t that such an annoying thing, dateng ke club tiba tiba, cuma pengen nunjukin “pembuktian”.
  • Bunga      : “YESSSSSS. Seakan-akan kasarnya kayak, “nih loh! gue udah main sama temen-temen lo! berarti kita baik-baik aja kan? udah puas?“”
  • Tommy    : “IYA.”
  • Bunga    : “And by the way, is it just me atau Rino keliatan aneh (baca: high) waktu scene pulang naik motor? As if someone spiked his drink or something? Atau dia emang kecapekan aja HAHA”
  • Tommy    : “Gue nggak ngeliat sih kayanya hahahaha tapi ya paling tipsy bungs, namanya juga party wqwq”
  • Bunga      : “HAHAHA been there done that. That scene tho, waktu Adipati bilang “hati-hati” ke Rino. Asli gue takut Tom. “
  • Tommy    : “What’s on your mind saat itu Bung, kenapa lo takut?”
  • Bunga  : “Karena hati-hati yang diucapin Yudhis itu kayak metafor. Perumpamaan dari sesuatu yang lebih besar, even when he wasn’t planning to do anything beforehand. Pasti ada ujungnya. And voila! Look what we got here.”
  • Tommy    : “Now i’m thinking about it again… And it DOES sounds scary. Kita masih belum tahu state of mind nya Yudhis itu beneran udah tobat apa emang cuma mau buktiin sesuatu karena ada maunya aja. Begitu dia ngomong “hati hati No“, it does become scary…”
  • Bunga      : “He was basically playing everyone’s minds. And guess what? The bitch made a u-turn and did the deeds.”
  • Tommy    : “Goddamnit… And how the film shows it. So subtle but so fucking intense.”
  • Bunga     : “Tidak perlu dialog (bahkan monolog) apapun, cukup dengan a simple hati-hati dan dampaknya anak orang dateng-dateng ke sekolah udah pake gips. Nice.”
  • Tommy   : “And… Is it just my imagination or… Pas Lala bangun dan nanya “Itu apa sayang?” Si Yudhis jawab “Bukan apa apa kok sayang” dengan suara yang parau banget. Seakan pengen nangis. Tau apa yang dia perbuat salah tapi demon nya dia lebih dominating his mind.”
  • Bunga    : “Antara bersalah sekaligus lega karena hasrat dia untuk nabrak Rino terpuaskan.”
  • Tommy  : “Right. Oke move on ke key scene selanjutnya. Pas Lala tiba tiba masuk UI.”
  • Bunga    : “Dilema kelas 12… *sighs* Gue agak kaget sih karena Lala teguh sama pendiriannya. Setelah serentetan kejadian antara dia sama Yudhis gue sangka bakalan ikut ke Bandung.”
  • Tommy    : “Justru menurut gue Lala salah di sini. Dia bohong sama Yudhis. Tapi Lala nggak bisa disalahkan begitu saja karena once again, dia takut sama Yudhis.”
  • Bunga   : “Fear makes people do illogical things, itu sih yg gue tangkep dari Lala dan Yudhis selama film berlangsung.”
  • Tommy : “Yesss bener banget. Posesif bagus banget nunjukin relasi hubungan yang rumit antara kasih sayang dan rasa takut. Also, I notice something really really scary about men’s tendency to demoralize women who reject her. “Udah dipake berapa orang lo? Berani banget ngelepasin cowok segampang ini?” Cowok itu makhluk yang paling fragile dan berbahaya kalo udah kena rejection dan humiliation. Sebagai cowok pun gue bisa mengakui hal ini.”
  • Bunga   : “HAHAHAHA. Males are complex indeed. Padahal kan bukan berarti kalo cewek punya pendirian aka sesuatu itu artinya dia bisa dengan mudah di konotasikan dengan stereotype2 gak beralasan.”
  • Tommy  : “Tapi lagi lagi kalo situasinya udah kayak gini, cowok tuh cuma mikirin perasaannya sendiri.”
  • Bunga    : ” Emotion is a scary mind trick.”

  • Tommy   : “Nah Bung, menurut lo, terlepas dari seberapa creepy dan horror treatment film ini, apa yang dilakukan Yudhis ke Lala pas surprise ulang tahunnya di tengah malem itu sebenernya creepy ngga?”
  • Bunga    : “HELL IT WAS. 1) entah gimana caranya Yudhis bisa dapetin kunci rumah cadangan Lala, 2) I don’t know — most people yg berniat bikin surprise itu gak se-frontal Yudhis yg langsung nyelinap masuk kayak pencuri. What do you have in mind?”
  • Tommy   : “MOTHERFUCKING YES. Gue nggak ngerti kenapa Lala (dan obviously, sekumpulan cewek yang duduk di depan gue pas gue nonton) bisa nganggep itu sweet dan “awwww soswit”.”
  • Bunga     : “HAHAHAHA mereka mikirnya gak sampe sana Tom. The sad thing is that Lala (dan beberapa cewek di depan lo itu) was so blinded from the surprise (which equals, coughs, happiness) dia gak perhatiin 2 hal creepy yang gue list barusan.”
  • Tommy  : “Tapi yah…mungkin Lala nggak perhatiin hal tersebut karena sekali lagi, dia nggak ngedapetin kasih sayang yang cukup dari keluarganya, sehingga dia terima-terima aja apapun yang Yudhis lakukan sebagai “bentuk kasih sayang”
  • Bunga      : “True…. sadly. Film ini ngajarin betapa penting nya peran lingkungan terhadap seseorang.”
  • Tommy    : “Termasuk lingkungan keluarga dan kedekatan orang tua terhadap kondisi psikologis anak. Eh, by the way, lo sadar kan bahwa di adegan ini ada kayak “subtle hint” yang menunjukkan bahwa mereka itu “ngapa-ngapain”?”
  • Bunga  : “Of course *winks like batshit crazy* Which eventually led us to pernyataan Yudhis bahwa Lala “udah dipakai berapa cowok?”. Seperti yg udah kita bahas sebelumnya”
  • Tommy    : “Terus Lala juga luluh luluh aja lagi dengan cara Yudhis minta maaf yang sangat freak tersebut. Atmosfirnya berhasil banget dibikin sama Edwin jadi romanticly creepy.”
  • Bunga    : “GILA LO YA. Kalo ada laki-laki yg minta maaf ke gue dengan cara yg sama kayak Yudhis…I would flip my shit.”
  • Tommy  : “Flip your shit in a positive or negative way? Hahahaha.”
  • Bunga    : “THE LATTER. This bitch ain’t no hopeless romantic. Would you do the same thing like Yudhis? Seandainya lo bikin kesalahan sama pacar lo dan lo berniat surprise-in dia.”
  • Tommy   : “Nope. Never. Unlike Yudhis, gue berbaur sama temen-temennya dia (cewek maupun cowok) sejak kita awal pacaran. And they’re gonna be the ones who help me do that for her. Seandainya mereka nggak approve my way of saying sorry atau mereka nganggep gue lebih baik leave her for good, then it’s time for me to actually leave for good.”
  • Bunga    : “*flashbacks to when Fira asked me to help her assemble your birthday surprise* that was lit, fam.”
  • Tommy  : “I’m such a lucky bastard, aren’t I? :”)”
  • Bunga    : “Yes you are.”
  • Tommy  : “HAHAHA oke balik lagi ke Posesif. Now it’s time to talk about our favorite part: Cut Mini Part.”
  • Bunga    : “HAIL CUT MINI. Jarang banget perfilman Indonesia itu ngangkat tentang orangtua yg abusive, apalagi antara anak laki-laki dan ibunya. Gue pun gak yakin kalaupun udah diangkat, apakah bisa se-ngena ini atau engga.”
  • Tommy    : “BENER BANGET.”
  • Bunga     : “Terkadang masyarakat lupa, abusive parents can come from ANY background. Tidak harus alkoholik, tidak harus ber-gender tertentu, tidak harus penuh benci 24/7 dan tidak harus menghasilkan luka lebam noticeable di badan anaknya. Buktinya, Yudhis’ mother came out as a beautiful-yet-stern real estate agent who was balancing her life as a single parent.”
  • Tommy : “True. Very true. Nah, by the way gue mau nanya sama lo nih Bung. Menurut lo, tepat nggak menyebut fenomena yang dialami Lala ke Yudhis sebagai Stockholm Syndrome? Karena menurut gue kurang tepat deh…tapi kayaknya banyak kaum netijen yang tetap menyebut hal ini dengan terminologi “Stockholm Syndrome.” Padahal menurut gue, yang sebenernya Stockholm Syndrome itu Yudhis ke Mamanya.”
  • Bunga  : “Stockholm Syndrome… hmm… *stretches fingers for a long ass explanation* Sejatinya, stockholm syndrome itu kan feeling of affection towards a captor. Disini posisinya, Lala adalah victim dan Yudhis adalah sang culprit. Buat gue, personally — maaf masih amatir — apakah tindakan Lala benar2 mencerminkan seseorang yg mengalami Stockholm Syndrome? Mungkin. Tapi gue rasa belum sejauh itu. The symptoms DID exist, though, bisa keterusan kalo gak “dipangkas” hubungannya. Karena yg gue analisa, selain afeksi Lala juga punya rasa takut yg bersifat subconscious terhadap Yudhis. Jadi tidak pure afeksi aja. What do you think?”
  • Tommy   : “Sama. Menurut gue kurang tepat karena belum sejauh itu. Basis keinginan Lala bertahan di dalam hubungan mereka masih didasarkan afeksi yang timbul dari kelakuan baik Yudhis terhadapnya, bukan dari kelakuan buruk Yudhis.”
  • Bunga   : “Lala itu masih dalam ranah experiment. Yudhis tidak. Lala belum bisa memilah mana yang baik dan tidak (setidaknya sampai dia “kepentok” dengan perlakuan Yudhis). Sedangkan Yudhis TAU dimana letak kesalahan dia, cuma bedanya dia gak bisa kontrol. Karena kalo Yudhis gak tau, gak mungkin dia bakalan minta maaf sama Lala, apalagi dengan cara seperti itu. Sejujurnya, “terlalu” itu emang bahaya. Terlalu baik, terlalu jahat, terlalu sayang, terlalu peduli, terlalu emosi. Kayak lagi naik rollercoaster aja, gak ada in between nya (kalopun ada ya singkat banget, gak berpengaruh yg signifikan).”
  • Tommy   : “Betul Bung. Setuju. Nah, tapi kalo Yudhis ke ibunya itu sudah tepat belum kalau disebut Stockholm Syndrome?”
  • Bunga     : “Bukan tepat, tapi “lebih tepat”. Dibandingkan antara Lala dan Yudhis. Karena Yudhis itu KETAKUTAN. Dan itu tidak subtle kayak Lala. Lihat aja expression dia waktu dihajar pake high heels.”
  • Tommy    : “Dan expression dia pas Lala nenangin dia dan ngajak dia kabur. Goddammit, ini emang akting terbaik Adipati sepanjang karirnya.”
  • Bunga      : “SHIT FAM THAT SCENE GOT ME FUCKED UP. Literal goosebumps.”

  • Tommy      : “Gila kaaan! Yuk lanjut pas mereka sing along Dan.
  • Bunga     : “Gue gak akan pernah bisa denger lagu itu the same way again. Liriknya simpel, tapi ngena. Dan. Pas.”
  • Tommy   : “YESSS! Dengan mereka sing along out of tune gitu malah bikin konteksnya jadi lebih tajem.”
  • Bunga    : “So many metaphors. “Dan” itu kan kata sambung… hampir sama kayak hubungan Lala dan Yudhis, apalagi dikuatkan dengan scene karaoke dadakan. Yang seharusnya hubungan mereka putus di level awal, karena hal ini itu etcetera, lanjut lagi. Padahal Lala tau kalo something is toxic dan Yudhis tau dia toxic-nya. Setelah adu mulut, jambak, sampe cekek-cekekan… mereka tetep lanjut. Puitis. Sampe pada akhirnya, di suatu titik, mereka berhenti. Nggak ada “dan” lagi. Terlalu filosofis gak sih gue? HAHAHA.”
  • Tommy     : “NO NO THAT’S GOOD. I mean… Ternyata ada perspektif lain dari lagu “Dan” yang lebih puitis..”
  • Bunga       : “Emang perspektif lo apa?”
  • Tommy     : “Gue cuma melihat “Dan…” dari perspektif Yudhis yang sayang banget sama Lala tapi sudah “menancapkan duri tajam” ke Lala dan membuatnya menangis…Gue nggak tahu… Somehow gue di scene ini tiba tiba merasa relate banget sama Yudhis.”
  • Bunga         : “Relate? Tell me about it.”
  • Tommy   : “Gue nggak tahu apakah karena gue selalu merasa punya inner demon di dalam diri gue dan gue takut banget suatu saat dia unleashed…Ataukah cuma karena gue punya tendensi untuk nyalahin diri gue sendiri tiap something goes wrong and i am involved in it…”
  • Bunga       : “Sometimes I feel that way too. But honestly, you know what? Setiap manusia itu pasti punya “demon” nya mereka masing-masing. No one’s a saint here. But whether it’s going to leash or unleash, itu semua pilihan. Including self-hate. Pasti ada bagian dari diri kita yang kita gak suka, dan itu gak bisa dihindarin. Baik lo maupun Yudhis, bahkan Lala, atau diri gue sendiri.”
  • Tommy    : “You’re right, Bung. Bener banget.”
  • Bunga      : “Let’s move on!”
  • Tommy    : “Okay, move on ke adegan SPBU.”
  • Bunga      : “*cries in the corner* I bawled my eyes out it was violent. No pun intended.”
  • Tommy    : “….HAHA :'(“
  • Bunga      : “Tell me how you feel about it.”
  • Tommy  : “Ini adegan sebenernya pasaran banget di film film romance Indonesia, tp Posesif bisa ngebawain adegan ini dengan sangat baik. Pengaruh directingnya Edwin plus akting mereka berdua sih.”
  • Bunga      : “It’s the kind of the cliche you keep coming back for more. Gue suka cara mereka membuat adegan “papasan tapi gak nyadar kalo lagi papasan” jadi berkelas. “
  • Tommy    : “You’re really good at describing things with simple words hhhh.”
  • Bunga         : “I don’t write fan fiction for nothing ;))))”
  • Tommy       : “Tapi gue seneng lewat adegan ini Yudhis sadar bahwa emotional issuenya ngebahayain Lala.”
  • Bunga        : “Kesadaran diri Yudhis itu plot twist banget buat gue Tom, like, expected YET unexpected. Oh ya, one more thing. Gue sangat kaget waktu tau kalo scene Lala dan Yudhis lebam-lebam di trailer itu bukan karna mereka saling pukul, tapi mereka ribut sama orang lain. BEST PLOT TWIST. Ngecoh penonton banget, not that it’s a bad thing though. They really broke the stereotypes.”
  • Tommy      : “YESS. And it’s such a rare case for an abusive person to realise that he’s abusive and harming the one he loves gitu nggak sih bung? Soalnya banyak juga yg bilang kalo dengan cara kayak gini, Posesif memberikan alasan bagi para pelaku abusive relationship buat mencari alasan pembenaran kelakuan mereka, supaya si korban tetep stay atas dasar pity.”
  • Bunga       : “It is a rare case indeed. To be honest buat gue bukan mencari pembenaran sih, Tom… from what I’ve been studying, that’s definitely NOT how it works.”
  • Tommy       : “Please do tell me how it works.”
  • Bunga        : “Justru mengajarkan kalo pelaku abusive relationship MASIH BISA belajar dari kesalahannya. Which is portrayed by Yudhis’s decision to leave Lala at the gas station seperti yg kita bahas kemaren. Yudhis masih bisa sadar, Yudhis masih bisa buat keputusan yg tepat kalaupun gak mudah — karena bukan Lala, bukan ibunya, bukan psikolog, yg bisa “merubah” dia seperti statement Lala sebelumnya. Tapi cuma Yudhis-nya sendiri.”
  • Tommy        : “I see. Thank you for the illumination, Bung.”
  • Bunga          : “You’re welcome!! Seneng liat film yg sakit tapi edukatif dalam waktu yg bersamaan, hahahaha.”
  • Tommy       : “Goddamn right, film ini eye opening banget ya. Terus montage sequence Lala carry on without Yudhis itu poetic banget ya. Ditambah lagu Banda Neira pula. Aku ndak kuat nahan sesak di dada…”
  • Bunga   : “Ada satu hal yang HARUS gue point out di sini. Beberapa netizen yg udah nonton gue lihat kecewa sama ending-nya Posesif. Karena ngambang, gak jelas dan creepy kenapa tiba-tiba jadi ada Yudhis waktu Lala lagi lari. Buat mereka aneh, susah dimengerti. Kompleks. Padahal menurut gue, wah… mereka justru bikin hal yg kompleks menjadi sangat simple dengan — lagi — metafor. Tidak perlu ada dialog verbal untuk kita ngerti semuanya. Yudhis berhenti, Lala terus lari. Buat gue itu udah cukup. Bener-bener bikin nyesss. And yes… Banda Neira slayed.”
  • Tommy    : “Fira abis nonton langsung nelpon gue nanya “Tom, kata kamu endingnya sedih banget. Kok aku malah ngerasa biasa aja ya? Flat gitu.” Untung gue sayang hehehe, jadinya gue jelasin aja bahwa itu metaphor. Dia baru ngerti. Padahal pas scene itu air mata gue netes banget.”
  • Bunga         : “Aw, good boyfriend mode activated :” Terkadang hidup itu emang open ending, Tom. Karena kalo happy (atau bahkan sad) ending, itu artinya manusia gak hidup lagi… anggap aja kita lagi liat electrocardiograph di RS. Kalo ada grafik hidup, selemah apapun itu, tapi kalo cuma segaris mati kan? Tapi Lala mau hidup. Mau lanjut. So was Yudhis. Bedanya, jalan sendiri-sendiri aja…”
  • Tommy         : “Yudhis nggak bisa terus bersama sama Lala. Yudhis is a fuck up. But Yudhis loves her. Jadi dia melanjutkan takdir dia sebagai seorang creep untuk “melihat Lala” tanpa harus melakukan interaksi apa apa lagi dengan dia. Dan ketika Lala sadar bahwa Yudhis kembali ngebuntutin dia, Lala nggak punya obligation apa apa untuk nyapa Yudhis ataupun kembali ke dia, pun Yudhis nggak punya hak juga untuk minta balikan. Karena cara terbaik bagi Yudhis untuk mencintai Lala adalah melepaskan dia dari belenggunya.”
  • Bunga            : “BETUL. Sometimes people love from afar and for them, mungkin emang yg paling baik gitu. Film ini penuh metafor, tapi nggak ngurangin esensi dari flow ceritanya itu sendiri.”
  • Tommy         : YAKAAAN! Oke deh, sekarang tinggal kesimpulan nih bung! Why do you think people need to watch Posesif?”
  • Bunga         : “Because it’s your typical high school romance with a twist. Disaat semua orang berfokus pada membuat film yg mendeskripsikan “youth” secara keseluruhan, Posesif memilih untuk menggali lebih dalam lagi. Bukan cuma di area percintaan nya aja, tapi keluarga, pertemanan and everything in between dari berbagai sisi yg berbeda. Karena semua itu punya side effects, errors and trials, selflessness and selfishness.”
  • Tommy       : “Mantap. Kalo menurut gue, Posesif layak tonton because even though Posesif discuss about toxic relationship and perfectly depicting the horrors of it, Posesif still manages to be a romance movie that is both sweet and heartbreaking without romanticizing abusive relationship, obsession, and manipulation itself. This film is a one-of-a-kind, and it deserves to be watched by as many Indonesians as possible.”
  • Bunga         : ” Whoa, It’s been LONG and wonderful so thank you Toms!”
  • Tommy      : “Thank you juga for this review session! It has been a wonderful time.”

Distopiana’s Rating : 5 out of 5.

Coin Locker Girl (2015) – Crime At Its Best

Hampir di setiap kota besar di dunia sudah pasti memiliki chinatown ― sebuah wilayah yang mayoritas penghuninya beretnis Tionghoa. Tidak terkecuali Seoul, Korea Selatan. Setelah berhasil meraup keuntungan sebesar US $ 10.7 juta serta mendapatkan kesempatan untuk screening dalam International Critics’ Week di Cannes Film Festival tahun 2015, sudah dipastikan bahwa film box office garapan Han Jun-hee ini telah sukses membawa sineas Asia Timur dalam skala internasional. Sebelum membaca review ini lebih lanjut, perlu diingat bahwa film Coin Locker Girl tidak diperuntukkan untuk segala usia dikarenakan efek gory, keseluruhan tema dan kekerasan yang disuguhkan selama 110 menit pemutaran.

Dikisahkan seorang bayi perempuan malang yang ditelantarkan orang tuanya di dalam salah satu loker penitipan barang MRT pada tahun 1996, yang kemudian ditemukan oleh seorang pemulung dan dijual kepada sekelompok mafia chinatown yang dipimpin oleh wanita paruh baya dengan julukan “Eomma” (yang berarti Ibu). Eomma sendiri merupakan seseorang yang berpengaruh di daerah Incheon, Seoul yang bergerak dalam peminjaman uang, human-trafficking serta jual beli organ manusia. Setelah tinggal bersama Eomma selama kurang lebih 18 tahun, dibekali dengan ilmu bela diri dan kemahiran dalam menggunakan pisau, the girl whose name is Ma Il-Young is given a task to kill the person she has always wanted to protect.

Bukan hanya mengedepankan sisi action, thriller dan suspense, film bergenre crime fiction ini juga memberikan sentuhan drama dan kisah persahabatan/percintaan dalam jumlah yang pas. Diperankan oleh Kim Hye-soo (Signal, Tazza: The High Rollers) sebagai Eomma dan Kim Go-eun (Goblin, Memories of the Sword) sebagai Ma Il-young, film Coin Locker Girl berhasil menyita perhatian media dengan bukan hanya sederet pemain yang berkualitas, tetapi juga premis cerita dan plot twist yang berhasil membuat kita bertanya-tanya.

I shouldn’t waste my luck on these things.”

Tackling stereotypical roles of both man and woman, Coin Locker Girl memberikan kita sebuah pencerahan terhadap kerasnya dunia kriminal dibalik bangunan-bangunan megah Korea Selatan ― salah negara paling maju dan adikuasa di Asia. Bagaimana mereka bertahan hidup dibawah tekanan sekelompok mafia keji, serta rela melakukan apa saja demi uang dan kehormatan. Bahwa pada akhirnya, dunia ini lebih dari sekedar perdebatan antara hidup dan mati, melainkan apa saja kontribusi yang dapat kita berikan untuknya.

Salah satu titik balik cerita yang (meskipun sedikit antiklimaks, tetapi masih sukses membuat para penonton tercegang) disajikan dalam Coin Locker Girl, adalah saat Ma Il-young bertemu dengan seorang laki-laki bernama Park Seok-hyun (diperankan oleh Park Bo-gum), seorang chef muda yang manis dan baik hati, yang juga merupakan anak dari peminjam uang yang sedang melarikan diri dari jeratan kelompok mafia Eomma. Trust me, it’s more than just a tragic romance. Pertemuannya dengan Park Seok-hyun membuat Ma Il-young tersadar, bahwa sejahat apapun dunia ini, masih ada seseorang dengan hati yang bersih. Bahwa ternyata, berperilaku layaknya seorang wanita biasa yang pergi berkencan, berpakaian menarik dan menikmati hidup tidaklah seburuk yang ia kira.

I’m still useful, you know, I’ll repay you no matter what it takes.”

Dan pada akhirnya, to conclude this one hell of an ride, Coin Locker Girl adalah sebuah film emosional penguras air mata (dan kesabaran) yang wajib kita masukkan ke dalam must-watch list. Dijamin, mata kita akan dimanjakan dengan penggunaan warna yang vibrant, jas hitam dan jaket kulit yang memberikan kesan maskulin, serta ciri khas chinatown yang dituangkan dalam bentuk detail-detail kecil (yang sayangnya kurang mendapat perhatian lebih) seperti furnitur dan dekorasi yang digunakan dalam set, mulai dari ukiran-ukiran naga berwarna gold, meja makan dengan kursi yang melingkar dan kaca tipis yang dapat diputar, serta lentera kertas bertuliskan aksara Cina yang digantungkan diatas langit-langit ruangan. Meskipun saya tidak menyarankan Coin Locker Girl untuk disaksikan mereka yang kurang menyukai adegan kekerasan yang brutal dan bersimbah darah, film ini akan mengajarkan kita banyak hal, baik tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana sebuah keluarga tidak harus tercipta melalui hubungan darah, melainkan rasa cinta dan peduli yang kita miliki terhadap sesama.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.