Lucy (2014) – Kuliah Eksistensialisme dari Scarlett Johannson

Pierre del Rio: “I’d rather be late than be dead”
Lucy                 : “We never really die.”

Sebagai pribadi yang ngga mau ngabisin waktunya untuk nonton film jelek, gue selalu membiasakan diri untuk liat logline film sebelum memutuskan apakah gue akan nonton film ini atau tidak. Saat gue ngebaca logline dari ‘Lucy’, yang pertama kali terpikir oleh gue adalah “Meh. Limitless. Boring.” Namun gue penasaran karena penggarapnya adalah Luc Besson (sutradara dari Leon: The Professional) dan dibintangi oleh Scarlett Johannson (you don’t know her? Your life is worthless). Gue tonton trailernya. Meh, Transcendence. Boring. Gue sempet skeptis karena tingkat orisinalitas film sudah mulai meragukan, sampai akhirnya seorang kolega (yang paham akan hobi gue menonton film –and his taste of films are good) merekomendasikan film ini ke gue dengan sangat antusias. Walhasil, yaudah gue tonton aja. The result was half beyond my expectation. Until now, I still can’t even tell if this film is good or bad. Respon gue sesaat setelah selesai menonton film adalah “I’m gonna review this film in my blog.”

Bercerita tentang seorang wanita bernama Lucy (diperankan oleh Scarlett Johannson) yang diculik oleh mafia narkoba dan dipaksa untuk menyelundupkan sekantung obat-obatan terlarang yang bernama CPH4. Karena suatu kecelakaan, Lucy tanpa sengaja menyerap sebagian obat-obatan tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Beruntungnya—atau lebih tepat, SIALNYA—hal ini membuat Lucy dapat mengakses dan menggunakan otaknya hingga mencapai 100% (berdasarkan salah satu pseudo-scientific theory yang mengatakan bahwa manusia selama ini paling maksimal hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya). Berkat unlimited access tersebut, Lucy memiliki kekuatan di luar batas yang bisa dijamah manusia—bahkan logika. Dia mampu mengingat segala yang pernah terjadi dalam hidupnya, termasuk saat dia baru pertama kali dilahirkan dari rahim ibunya. Dia mampu mengontrol apapun, mulai dari gelombang telekomunikasi nirkabel di seluruh dunia, gaya gravitasi, sampai sistem metabolisme tubuh orang lain dengan kuasanya. Menyadari konsekuensi kekuatan yang dia miliki, Lucy bekerjasama dengan Prof. Samuel Norm (diperankan oleh Morgan Freeman) untuk mencari jalan agar kekuatannya dapat dimanfaatkan untuk kebaikan ilmu pengetahuan dan sains manusia sebelum akhirnya konsekuensi dari kekuatan itu membuat dirinya menghilang dari dunia selamanya.

Film ini mempunyai banyak kelebihan meskipun kekurangannya juga tidak kalah banyak. Alur film ini sangat umum dan sederhana, namun thrill yang disuguhkan dari high-octane, playful action membuat film ini tetap seru untuk disaksikan dari awal sampai akhir (I’ve recognized that the punch-impact special effect is kinda looked like they have learned about fighting more from The Raid). I’m not gonna say it’s a popcorn movie because you would have no such time to realize that you have a cup of popcorn in your hand until the film is finished. ScarJo tampil menawan sebagai seorang gadis naif partygoer yang berubah menjadi heartless demi-God. Seperti tinggal mengulang kembali aktingnya sebagai Anna (He’s Just Not That into You) saat masih normal dan menggabungkan antara kelihaian bertarung Natasha Romanoff (The Avengers) dan kekakuan serta curiosity Laura (Under the Skin) saat sudah menjadi more-than-10-percent girl. Dari beberapa cooling-down scene yang ada di film ini, gue sempet mendadak kangen nyokap pas hospital scene di mana Lucy menelepon ibunya untuk menceritakan apa yang dia alami. Great script, but part of it were kinda cheesy somehow. Yang unik—dan paling seru untuk dibahas—kali ini adalah betapa Luc Besson mengemas konsep pseudo-scientific theory of underused brain capability (baca: The Under-used Brain? It’s All in The Mind) menjadi sedikit lebih crossing the boundaries. Secara eksplisit, masyarakat awam dapat mengartikan pesan dari film ini sebagai “100% access of human brain is a capability only God strong enough to handle it.” Namun bila kita memperhatikan lagi tesis demi tesis yang Lucy ungkapkan saat berhadapan dengan para scientist—termasuk saat sendirian dengan Prof. Norm—dapat kita cerna dan simpulkan bahwa Luc mencoba mengkaji dampak dari chaos theory in humanity lewat pendekatan eksistensialisme di film ini. Hal ini memang unsur yang unik untuk menjadikan film ini berkesan bagi penonton. Memberikan mereka something worth questioning and discussing for setelah keluar dari bioskop.

Namun lagi-lagi kekurangan yang berasal dari lack of originality di film ini memang pantas untuk ditegur. ‘Lucy’ seperti campuran antara ‘Limitless’ (the 10% concept), Leon: The Professional (Mr. Jang character similarity to Norman Stansfield and the action cinematography), Transcendence (the super-brain ability…aaand the lack of motivation & twist), The Avengers (Black Widow mostly), dan 2001: A Space Odyssey (the ending). Memang Luc pernah memberikan statement bahwa ‘Lucy’ terinspirasi dari beberapa film (baca: Luc Besson Says Lucy was Inspired by Three Unexpected and Unique Movies). Namun dengan mengimitasi karakteristik dari banyak film tanpa memberikan sedikit ruang bagi orisinalitas untuk show-off bukan merupakan suatu hal yang bisa dipuji. Dipandang secara idealis, ‘Lucy’ bukan tipe film yang bisa dikategorikan sebagai one of the best films in 2014, but at least it is still a good film for you to watch. Lumayan kalo kamu lagi pengen mulai belajar filsafat dikit-dikit. ScarJo is not a disappointment also (did I already told you she looked curvier than in ‘Under the Skin’?) and will blow your mind with her magic trick (…called it maaagic~).

“We’ve codified our existence to bring it down to human size, to make it comprehensible, we’ve created a scale so we can forget its unfathomable scale.”
DISTOPIANA’S RATING: 2.5 out of 5

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *