Oculus (2014) – The Killing Mirror

Pas awal-awal nonton film ini, lo bakal ngerasa agak kecewa dengan akting yang kurang matang dari kedua tokoh utamanya. Ditambah dengan sinematografi yang terlalu standar untuk film horror dan alur non-linear yang bikin lo ngga ngerti di mana sebenernya fokus cerita di film ini. Hell, lo bahkan baru ngerti film ini tentang apa setelah di menit ke-30 saat Kaylie (diperankan oleh Karen Gillan) menuturkan secara kronologis apa yang menjadi permasalahan film tersebut dalam ‘narrative explanation of video-making purpose’ scene.

Berkisah tentang Kaylie yang mencoba untuk membuktikan bahwa sebuah cermin antik telah bertanggung jawab terhadap kematian puluhan orang yang pernah menjadi pemiliknya, termasuk ayah dan ibunya. Bersama adiknya, Tim (diperankan oleh Brenton Thwaites) mereka memasang kamera dan perangkap di dalam ruangan tempat cermin itu disimpan untuk merekam bukti bahwa cermin tersebut mempunyai kekuatan supernatural yang bisa mempengaruhi orang di sekitarnya.

Namun seiring waktu berjalan, mereka pun akhirnya terjebak dalam distorsi realita yang mencekam saat cermin itu mulai bermain-main dengan pikiran mereka. Alur cerita yang non-linear namun paralel (seperti di film Memento) terkesan seperti saling sambung-menyambung di beberapa bagian. Plot cerita yang menyeramkan disusun sedemikian rupa sehingga membuat kita penasaran dan emosional saat melihat ending cerita yang ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Unsur horror di film ini bukan hanya ditimbulkan dari sosok hantu yang creepy, namun juga lewat special effect yang mengaburkan batas antara past timeline, present timeline, serta supernatural illusion sehingga membuat kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Kaylie dan Tim.

Gaya penuturan yang baik serta cerita yang kompleks (berdasarkan Oculus Chapter 3 – The Man with The Plan, short film yang disutradarai dan ditulis sendiri oleh Mike Flanagan) dengan alur yang unorthodox membuat film ini mendapat nilai plus, mampu menutupi akting yang kurang maksimal dari Karen Gillian dan Brenton Thwaites. Dengan ending yang cukup menggantung, penonton akan berharap banyak untuk sekuelnya. Direkomendasikan bagi kamu para penyuka film horror yang lebih suka dibuat bingung dan bertanya-tanya cemas ketimbang dikagetin dan dimuncrat-muncratin darah.

DISTOPIANA’S RATING: 2.5 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *