The Hunger Games: Mockingjay Pt.1 (2014) – A Fine Beginning to an End

To be honest, gue bukan pembaca serial buku Suzanne Collins ini, namun gue setia ngikutin sekuel film The Hunger Games dari awal. Gue tertarik dengan dystopian future theory—yang juga menjadi alasan kenapa gue bikin blog ini—dan sekuel The Hunger Games menawarkan konsep dystopian future yang menarik untuk diulas. Karena gue terlanjur nonton dan tertarik sama filmnya duluan, maka mungkin gue baru akan baca bukunya setelah gue udah nonton semua sekuel filmnya sampai selesai untuk mengetahui apakah Francis Lawrence berhasil menginterpretasikan isi kepala Suzanne Collins atau tidak. Jadi kali ini gue akan ulas film ini dari sudut pandang cerita film tanpa membandingkan dengan bukunya.

Katniss Everdeen (diperankan oleh Jennifer Lawrence) memercikkan api pemberontakan terhadap Capitol setelah menembakkan panahnya ke electric barrier saat Quarter Quell di film sebelumnya (Baca: Hunger Games – Catching Fire Ending and Spoiler Discussion). Dia berhasil diselamatkan oleh Gale ke District 13, markas tempat di mana para pemberontak terkuat berpusat dan menggerak serta mengakomodir para pemberontak seluruh distrik di Panem. Di sana, Katniss mendapatkan 3 kabar buruk: District 12 telah hancur menjadi puing-puing, Peeta telah ditawan dan dimanfaatkan oleh Capitol, dan bahwa dia kini menjadi satu-satunya sosok yang mampu menjadi simbol resistensi dan membakar gerakan pemberontakan di Panem—The Mockingjay. Dipandu oleh President Alma Coin (diperankan oleh Julianne Moore) dan Plutarch (diperankan oleh mendiang Phillip Seymour Hoffman), Katniss menyuarakan propaganda lewat rekaman video pergerakannya bersama kru tentara yang disutradarai oleh Cressida (diperankan oleh Natalie Dormer) dan yang kemudian akan disiarkan ke seluruh distrik lewat frequency hijacking oleh Beetee (diperankan oleh Jeffrey Wright).

Francis Lawrence berhasil membangun ketegangan lewat percakapan antar tokoh dan akting yang intens. Secara tidak terduga, kita tidak akan menemukan banyak action di film ini. Sebagian temen-temen gue di social media bahkan bilang film ini adalah yang paling membosankan di antara seri The Hunger Games lainnya. Mungkin mereka sebelumnya mempunyai harapan bahwa akan ada lebih banyak ledakan, kehancuran, dan kematian tragis di film ini dibandingkan film sebelumnya (link: Hunger Games – Catching Fire Review). Namun sebagai orang yang senang menonton film drama-thriller, menurut gue Mockingjay pt.1 berhasil membangun sebuah suspense yang konsisten lewat warna yang gelap dan pesan yang kuat sehingga cenderung terkesan politis. Bagaimana Capitol memanfaatkan Peeta sebagai instrumen anti-propaganda merupakan sebuah satir terhadap pengalihan fungsi media massa dan public figure sebagai alat kontrol politik dan pengendali opini masyarakat. Kita juga akan disuguhkan dengan Marketing Video: Directing Tutorial dan How to Do Viral Campaign oleh Plutarch, Coin, dan Cressida. Mereka mendemonstrasikan aplikasi semiotika dengan baik dalam film ini, terutama di scene “People of Panem, we fight, we dare, we end our hunger for justice! (pfft)” dan scene di mana Finnick berbicara panjang lebar untuk mengacaukan frekuensi gelombang pertahanan Capitol.

Bicara soal warna film, penggambaran visual tentang kekacauan dan huru-hara pemberontakan di film ini sudah cukup baik walaupun memang kurang ramai dibandingkan film-film epik lain (mungkin karena memang cerita ini pada dasarnya bukan epik). Scene yang memperlihatkan tumpukan tulang mayat-mayat di District 12 dan kondisi rumah sakit darurat di District 8 mampu menciptakan momen emosional karena penataan seni dekorasi dan sinematografi yang hebat. Scene “8-Minute Evacuation” menjadi favorit gue karena menggunakan permainan lighting yang biasa dipakai di film-film survival horror. Namun lumayan banyak pertanyaan muncul di scene “Dam Bombing” karena para pemberontak terlihat sangat kekurangan strategi; menembus pertahanan pintu masuk dam dengan hanya menggunakan human shield sebagai pelindung para bomber. Bila memang ‘showing brave-to-death volunteers dying for hope’ semata untuk membangun atmosfer tragis, maka hal tersebut reasonable untuk dilakukan, biarpun menurut gue gagal, karena seharusnya barisan depan bisa menggunakan pelindung dari kayu atau logam untuk mengurangi korban dan lebih efektif untuk menabrakkan diri mereka dengan keras pada pasukan pertahanan Capitol.

Seriously, kalau kalian tertarik mendalami dunia marketing, tanpa harus menonton dua film sebelumnya pun, film ini bisa jadi sangat menarik untuk kalian tonton. Untuk kalian yang ingin menonton film ini untuk mendapatkan keseruan ringan atau sekadar mengikuti jaman, catatan bagi kalian adalah: segera urungkan niat untuk dihibur oleh aksi-aksi akrobat Katniss dan nikmati film ini sebagai appetizer untuk sebuah akhir yang (semoga) spektakuler.

If we burn, you burn with us!”

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

Interstellar (2014) – Emotional Transcendence

“We used to look up at the sky and wonder at our place in the stars, now we just look down and worry about our place in the dirt.” – Cooper

Nolan did it again! Dua tahun penantian gue sebagai Nolan fanboy untuk menunggu film selanjutnya berakhir di tanggal 6 November kemarin. Sempet penasaran banget sama film yang satu ini karena posisi DOP yang dikemudikan oleh Hoyte van Hoytema (Her, Tinker Taylor Soldier Spy) menggantikan Wally Pfister yang kemarin sibuk dengan debut penyutradaraannya, Transcendence. Film ini juga merupakan terobosan baru bagi Nolan dari segi tema dan konsep setelah mencoba mengeksploitasi mimpi, muslihat, dan kriminalitas di beberapa film sebelumnya. Banyak juga yang memprediksi bahwa film ini tidak akan dapat menandingi—atau bahkan sejajar—dengan film-film yang pernah dia buat sebelumnya.

Saat masa depan tengah dilanda bencana ekologis berupa hama, anomali cuaca, dan badai pasir yang kian memarah, semua tenaga kerja manusia dipaksa untuk menjadi petani darurat demi memenuhi kebutuhan pangan yang semakin menipis. Cooper (diperankan oleh Matthew McConaughey), seorang mantan pilot pesawat terbang dan insinyur, mendapatkan sebuah koordinat dari anomali gravitasi di kamar anaknya yang menuntun dia menuju sebuah fasilitas NASA yang tersembunyi dan dirahasiakan oleh pemerintah. Dituntun oleh Prof. Brand (diperankan oleh Michael Caine), anaknya Amelia (diperankan oleh Anne Hathaway), dan dua astronot NASA lain, dia mempelajari bahwa krisis ekologis ini akan segera mengakhiri peradaban manusia di Bumi, dan bahwa ada 12 astronot dalam proyek Lazarus yang menunggu untuk dijemput di sebuah planet di galaksi lain yang memiliki potensi kehidupan layaknya Bumi. Tanpa punya pilihan lain, Cooper terpaksa meninggalkan anak-anaknya, Tom (diperankan oleh Timothee Calamet dan Casey Affleck) dan Murph (diperankan oleh Mackenzie Foy dan Jessica Chastain) untuk melakukan penjelajahan antar galaksi demi mencari rumah yang lebih baik lagi untuk umat manusia.

Meskipun tidak lebih baik dari Inception dan The Dark Knight, menurut gue ini adalah film paling emosional yang pernah dibuat Nolan selama ini. Nolan mengeksplor penjelajahan luar angkasa dari sisi yang lebih manusiawi dan sentimental. Terlebih treatment visual dan musik latar yang epic membuat film ini terlihat seperti 2001: A Space Odyssey dengan sentimen dan twist modern khas Nolan di dalamnya. Ini juga merupakan film Nolan yang paling eksperimental dalam segi apapun. Di bagian visual, Hoyte van Hoytema menggunakan kamera analog 35mm dan kamera IMAX untuk pengambilan gambar sehingga tekstur film terlihat sedikit kasar namun dapat dinikmati tiap detilnya. Belum lagi visualisasi luar angkasa, wormhole, dan blackhole di dalam film ini yang menurut gue jauh lebih spektakuler dari yang pernah diberikan Gravity (of course, Gravity didn’t give you any wormhole or blackhole, didn’t it? Aaand did I mention about the tsunami and glacier inside the inhabited planets? It’s awesome) Dalam segi durasi, ini merupakan film terpanjang Nolan dengan 169 menit waktu tayang di luar kredit. Namun tentu panjangnya durasi film tidak pernah menjadi suatu kekurangan untuk setiap film-film yang dia buat. Dalam Interstellar, dia selalu memanfaatkan setiap detik yang ada untuk mengaduk-aduk perasaan penontonnya lewat kekuatan penulisan skrip. Dalam adegan di mana Cooper dan Amelia masing-masing menonton transmit pesan dari keluarga mereka di Bumi, terdapat monolog serta akting terbaik yang pernah gue liat dan dengar dalam film-film di tahun 2014 ini. Emotional, heartbreaking, ditambah komposisi musik dari Hans Zimmer yang menurut gue layak banget dapet nominasi Best Original Scoring untuk Oscar tahun depan. Mackenzie Foy sebagai Murph kecil sukses mencuri perhatian dalam setengah jam pertama film ini. She’s so adorable I wish my daughter in the future resembles her.

Sebagian orang, termasuk gue, mungkin bakal banyak bertanya-tanya selepas keluar menonton film ini dari bioskop. Di samping tema yang diambil memang thought-provoking dan kontroversial dalam segi sains itu sendiri (tentang interstellar travel melalui wormhole dan fifth dimensional space yang berada pada satu titik di dalam black hole), ada beberapa hal dalam film ini yang menurut gue seharusnya bisa dieksekusi dengan lebih baik oleh Nolan:

  • Pertama, pernyataan Amelia tentang “Love is the one thing that transcends time and space” (huwek). Gosh, kenapa tiba-tiba harus muncul pernyataan seperti ini dari mulut seorang intergalactic space scientist di dalam dialog film seorang Christopher Nolan? I mean, I know she was desperate and she can say anything she wants, but isn’t that line is too cheesy for Nolan to be forgiven?
  • Kedua, I hate the ending. Period. Kecuali ada pernyataan dari Nolan bahwa 15 menit terakhir film tersebut hanyalah imajinasi visual Cooper menjelang detik-detik kematiannya di dalam black hole, gue menganggap ini adalah ending paling sampah yang pernah dibuat Nolan. Seriously, dengan ending-ending spektakuler yang pernah dia buat di Following, Memento, dan The Prestige, Nolan surely can do it damn better than that crappy-too-happy ending.

Banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa Interstellar adalah film space travel terbaik yang mengilustrasikan blackhole dan wormhole secara ilmiah namun ringan (meskipun beberapa kontroversi tentang tidak adanya spaghettification di dalam blackhole). Di samping segala kekurangan kecilnya, film ini tidak boleh dilewatkan sama sekali dan harus kalian tonton di bioskop (I recommend, much much recommend IMAX! With Dolby ATMOS!) dan selamat melakukan penjelajahan antar galaksi sambil menangis tersedu-sedu!

P.S: Dear, Anne Hathaway. Stop rolling your eyes like that *blushing*

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

What If (2014) – Escaping Friendzone 101

Harry Potter got friendzoned by Ruby Sparks. Could it be any funnier? Seenggaknya ini kesan pertama gue saat ngebaca logline dan cast dari film ini. Harry Potter, Friend-Zone, Ruby Sparks. Tiga elemen yang secara subjektif menjadi favorit gue. Awalnya gue berpikir film ini akan jadi semacam 500-Days-of-Harry-and-Ruby, tapi ternyata Michael Dowse, sang sutradara, berhasil meramu film ini menjadi sesuatu yang lain.

Berkisah tentang Wallace (diperankan oleh Daniel Radcliffe) yang bertemu dengan seorang gadis bernama Chantry (diperankan oleh Zoe Kazan) di sebuah pesta setelah setahun mengurung diri di rumahnya karena patah hati. Mereka kemudian menjalin sebuah hubungan yang mereka sebut sebagai ‘pertemanan’ di saat mereka tahu bahwa mereka saling menyukai satu sama lain namun Chantry sudah terlebih dulu memiliki kekasih bernama Ben (diperankan oleh Rafe Spall), seorang praktisi HAKI di UN yang sangat menyayanginya. Peristiwa demi peristiwa mereka lalui sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka terlalu banyak berbohong pada diri mereka masing-masing tentang perasaan mereka pada satu sama lain.

Iya, inti alur ceritanya memang hanya sesimpel itu. Namun detail yang disajikan oleh sang sutradara Michael Dowse dan sang penulis skrip Elan Mastai membuat film ini menjadi sebuah permainan perasaan yang tidak pernah kita tahu kapan saja dia berkata jujur atau dusta. Like I said before, film ini tentang dua orang yang saling jatuh cinta namun saling membohongi perasaannya masing-masing karena situasi pribadi yang tengah mereka alami. Wallace dengan hati yang retak dan “Love is Stupid” principle-nya dengan Chantry yang sudah lebih dulu punya pacar yang menyayanginya.

Sebagai seorang cowok, film ini lucu buat gue. Lucu, by means “cute”. Meskipun gue jauh lebih mengagumi cuteness dari Ruby Sparks (which is cuteness overload!) tetapi film ini juga mampu dikategorikan sebagai one of those cute films karena dua aspek. Pertama, film ini memperlihatkan secara natural bagaimana saat manusia senang membohongi dirinya sendiri. Kita biasa melihat di banyak film drama bagaimana manusia saling membohongi satu sama lain, namun dalam film ini Daniel dan Zoe berakting dengan sangat baik sehingga membentuk chemistry yang ‘cute’ dan memberikan rasa yang lebih kental dari film-film bertemakan ‘friendzone’ yang lain (ya…bahkan dibandingkan Ron Weasley & Hermione Granger, Harry’s childhood friend). Kedua, hal-hal kecil yang ada di film ini seperti “How much does Elvis colon weight when he died?” (Like, really…?), permainan ‘fridge puzzle’ yang mempertemukan mereka, serta ‘Fools Gold gift exchange’ membuat jomblo-jomblo mengenaskan (iya, termasuk gue. I.Y.A.) sedikit berandai-andai tentang kehidupan cinta yang mungkin akan dialami bersama seorang sahabat yang direncanakan untuk menjadi pacar di masa depan.

Film ini cukup unik dan mendapat nilai positif buat gue di antara film-film romantic comedy lain. Kalian yang senang dengan semi-fantasy love-life atau pria-pria nelangsa bernasib serupa namun berwajah tidak sama dengan Daniel Radcliffe, kalian wajib nonton film ini sebagai salah satu referensi kalian.

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5