What If (2014) – Escaping Friendzone 101

Harry Potter got friendzoned by Ruby Sparks. Could it be any funnier? Seenggaknya ini kesan pertama gue saat ngebaca logline dan cast dari film ini. Harry Potter, Friend-Zone, Ruby Sparks. Tiga elemen yang secara subjektif menjadi favorit gue. Awalnya gue berpikir film ini akan jadi semacam 500-Days-of-Harry-and-Ruby, tapi ternyata Michael Dowse, sang sutradara, berhasil meramu film ini menjadi sesuatu yang lain.

Berkisah tentang Wallace (diperankan oleh Daniel Radcliffe) yang bertemu dengan seorang gadis bernama Chantry (diperankan oleh Zoe Kazan) di sebuah pesta setelah setahun mengurung diri di rumahnya karena patah hati. Mereka kemudian menjalin sebuah hubungan yang mereka sebut sebagai ‘pertemanan’ di saat mereka tahu bahwa mereka saling menyukai satu sama lain namun Chantry sudah terlebih dulu memiliki kekasih bernama Ben (diperankan oleh Rafe Spall), seorang praktisi HAKI di UN yang sangat menyayanginya. Peristiwa demi peristiwa mereka lalui sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka terlalu banyak berbohong pada diri mereka masing-masing tentang perasaan mereka pada satu sama lain.

Iya, inti alur ceritanya memang hanya sesimpel itu. Namun detail yang disajikan oleh sang sutradara Michael Dowse dan sang penulis skrip Elan Mastai membuat film ini menjadi sebuah permainan perasaan yang tidak pernah kita tahu kapan saja dia berkata jujur atau dusta. Like I said before, film ini tentang dua orang yang saling jatuh cinta namun saling membohongi perasaannya masing-masing karena situasi pribadi yang tengah mereka alami. Wallace dengan hati yang retak dan “Love is Stupid” principle-nya dengan Chantry yang sudah lebih dulu punya pacar yang menyayanginya.

Sebagai seorang cowok, film ini lucu buat gue. Lucu, by means “cute”. Meskipun gue jauh lebih mengagumi cuteness dari Ruby Sparks (which is cuteness overload!) tetapi film ini juga mampu dikategorikan sebagai one of those cute films karena dua aspek. Pertama, film ini memperlihatkan secara natural bagaimana saat manusia senang membohongi dirinya sendiri. Kita biasa melihat di banyak film drama bagaimana manusia saling membohongi satu sama lain, namun dalam film ini Daniel dan Zoe berakting dengan sangat baik sehingga membentuk chemistry yang ‘cute’ dan memberikan rasa yang lebih kental dari film-film bertemakan ‘friendzone’ yang lain (ya…bahkan dibandingkan Ron Weasley & Hermione Granger, Harry’s childhood friend). Kedua, hal-hal kecil yang ada di film ini seperti “How much does Elvis colon weight when he died?” (Like, really…?), permainan ‘fridge puzzle’ yang mempertemukan mereka, serta ‘Fools Gold gift exchange’ membuat jomblo-jomblo mengenaskan (iya, termasuk gue. I.Y.A.) sedikit berandai-andai tentang kehidupan cinta yang mungkin akan dialami bersama seorang sahabat yang direncanakan untuk menjadi pacar di masa depan.

Film ini cukup unik dan mendapat nilai positif buat gue di antara film-film romantic comedy lain. Kalian yang senang dengan semi-fantasy love-life atau pria-pria nelangsa bernasib serupa namun berwajah tidak sama dengan Daniel Radcliffe, kalian wajib nonton film ini sebagai salah satu referensi kalian.

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *