Interstellar (2014) – Emotional Transcendence

“We used to look up at the sky and wonder at our place in the stars, now we just look down and worry about our place in the dirt.” – Cooper

Nolan did it again! Dua tahun penantian gue sebagai Nolan fanboy untuk menunggu film selanjutnya berakhir di tanggal 6 November kemarin. Sempet penasaran banget sama film yang satu ini karena posisi DOP yang dikemudikan oleh Hoyte van Hoytema (Her, Tinker Taylor Soldier Spy) menggantikan Wally Pfister yang kemarin sibuk dengan debut penyutradaraannya, Transcendence. Film ini juga merupakan terobosan baru bagi Nolan dari segi tema dan konsep setelah mencoba mengeksploitasi mimpi, muslihat, dan kriminalitas di beberapa film sebelumnya. Banyak juga yang memprediksi bahwa film ini tidak akan dapat menandingi—atau bahkan sejajar—dengan film-film yang pernah dia buat sebelumnya.

Saat masa depan tengah dilanda bencana ekologis berupa hama, anomali cuaca, dan badai pasir yang kian memarah, semua tenaga kerja manusia dipaksa untuk menjadi petani darurat demi memenuhi kebutuhan pangan yang semakin menipis. Cooper (diperankan oleh Matthew McConaughey), seorang mantan pilot pesawat terbang dan insinyur, mendapatkan sebuah koordinat dari anomali gravitasi di kamar anaknya yang menuntun dia menuju sebuah fasilitas NASA yang tersembunyi dan dirahasiakan oleh pemerintah. Dituntun oleh Prof. Brand (diperankan oleh Michael Caine), anaknya Amelia (diperankan oleh Anne Hathaway), dan dua astronot NASA lain, dia mempelajari bahwa krisis ekologis ini akan segera mengakhiri peradaban manusia di Bumi, dan bahwa ada 12 astronot dalam proyek Lazarus yang menunggu untuk dijemput di sebuah planet di galaksi lain yang memiliki potensi kehidupan layaknya Bumi. Tanpa punya pilihan lain, Cooper terpaksa meninggalkan anak-anaknya, Tom (diperankan oleh Timothee Calamet dan Casey Affleck) dan Murph (diperankan oleh Mackenzie Foy dan Jessica Chastain) untuk melakukan penjelajahan antar galaksi demi mencari rumah yang lebih baik lagi untuk umat manusia.

Meskipun tidak lebih baik dari Inception dan The Dark Knight, menurut gue ini adalah film paling emosional yang pernah dibuat Nolan selama ini. Nolan mengeksplor penjelajahan luar angkasa dari sisi yang lebih manusiawi dan sentimental. Terlebih treatment visual dan musik latar yang epic membuat film ini terlihat seperti 2001: A Space Odyssey dengan sentimen dan twist modern khas Nolan di dalamnya. Ini juga merupakan film Nolan yang paling eksperimental dalam segi apapun. Di bagian visual, Hoyte van Hoytema menggunakan kamera analog 35mm dan kamera IMAX untuk pengambilan gambar sehingga tekstur film terlihat sedikit kasar namun dapat dinikmati tiap detilnya. Belum lagi visualisasi luar angkasa, wormhole, dan blackhole di dalam film ini yang menurut gue jauh lebih spektakuler dari yang pernah diberikan Gravity (of course, Gravity didn’t give you any wormhole or blackhole, didn’t it? Aaand did I mention about the tsunami and glacier inside the inhabited planets? It’s awesome) Dalam segi durasi, ini merupakan film terpanjang Nolan dengan 169 menit waktu tayang di luar kredit. Namun tentu panjangnya durasi film tidak pernah menjadi suatu kekurangan untuk setiap film-film yang dia buat. Dalam Interstellar, dia selalu memanfaatkan setiap detik yang ada untuk mengaduk-aduk perasaan penontonnya lewat kekuatan penulisan skrip. Dalam adegan di mana Cooper dan Amelia masing-masing menonton transmit pesan dari keluarga mereka di Bumi, terdapat monolog serta akting terbaik yang pernah gue liat dan dengar dalam film-film di tahun 2014 ini. Emotional, heartbreaking, ditambah komposisi musik dari Hans Zimmer yang menurut gue layak banget dapet nominasi Best Original Scoring untuk Oscar tahun depan. Mackenzie Foy sebagai Murph kecil sukses mencuri perhatian dalam setengah jam pertama film ini. She’s so adorable I wish my daughter in the future resembles her.

Sebagian orang, termasuk gue, mungkin bakal banyak bertanya-tanya selepas keluar menonton film ini dari bioskop. Di samping tema yang diambil memang thought-provoking dan kontroversial dalam segi sains itu sendiri (tentang interstellar travel melalui wormhole dan fifth dimensional space yang berada pada satu titik di dalam black hole), ada beberapa hal dalam film ini yang menurut gue seharusnya bisa dieksekusi dengan lebih baik oleh Nolan:

  • Pertama, pernyataan Amelia tentang “Love is the one thing that transcends time and space” (huwek). Gosh, kenapa tiba-tiba harus muncul pernyataan seperti ini dari mulut seorang intergalactic space scientist di dalam dialog film seorang Christopher Nolan? I mean, I know she was desperate and she can say anything she wants, but isn’t that line is too cheesy for Nolan to be forgiven?
  • Kedua, I hate the ending. Period. Kecuali ada pernyataan dari Nolan bahwa 15 menit terakhir film tersebut hanyalah imajinasi visual Cooper menjelang detik-detik kematiannya di dalam black hole, gue menganggap ini adalah ending paling sampah yang pernah dibuat Nolan. Seriously, dengan ending-ending spektakuler yang pernah dia buat di Following, Memento, dan The Prestige, Nolan surely can do it damn better than that crappy-too-happy ending.

Banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa Interstellar adalah film space travel terbaik yang mengilustrasikan blackhole dan wormhole secara ilmiah namun ringan (meskipun beberapa kontroversi tentang tidak adanya spaghettification di dalam blackhole). Di samping segala kekurangan kecilnya, film ini tidak boleh dilewatkan sama sekali dan harus kalian tonton di bioskop (I recommend, much much recommend IMAX! With Dolby ATMOS!) dan selamat melakukan penjelajahan antar galaksi sambil menangis tersedu-sedu!

P.S: Dear, Anne Hathaway. Stop rolling your eyes like that *blushing*

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *