The Disappearance of Eleanor Rigby (2014) – Kisah tentang Cinta, Luka, dan Trauma

Oke, ini bukan salah satu film yang terinspirasi dari The Beatles ataupun lagu mereka, Eleanor Rigby, yang berkisah tentang kesendirian. Bahkan satu-satunya cara film ini mereferensikan The Beatles hanyalah lewat dialog antara satu tokoh dengan tokoh yang lain di salah satu scene. Ceritanya bahkan tidak terlalu rumit, hanya tentang dua orang suami istri bernama Conor dan Elly yang mengalami perpisahan setelah satu insiden yang menimbulkan trauma seumur hidup bagi mereka. Uniknya, film ini terbagi menjadi tiga versi. Him (menampilkan cerita dari perspektif Conor), Her (menampilkan cerita dari perspektif Elly), dan Them (gabungannya/sudut pandang orang ketiga).

Film yang dibintangi oleh Dr. Xavier muda James McAvoy dan sang ‘Osama hunter’ Jessica Chastain ini mengusung tema cinta dan perpisahan dengan menggunakan atmosfer yang realis serta plot yang dewasa dan alur yang sedikit non-linear sehingga cenderung terkesan datar dan lamban. Penonton yang tidak biasa dengan film-film drama realis mungkin akan merasa sedikit jengah, namun filmgoers pemburu festival akan puas menyaksikan studi karakter dan psikologi kedua tokoh serta akting yang luar biasa natural dari James McAvoy dan Jessica Chastain.

Dilihat dari judulnya, pasti semua orang–termasuk gue–mendapat kesan awal bahwa film ini bercerita tentang pencarian seorang wanita yang hilang, Fokus cerita ini, kiranya, sebenarnya tentang pencarian kembali jati diri yang hilang karena sebuah hubungan yang hancur. Seperti yang Conor katakan pada Elly,

“You know, before you, i had no idea who i was. Then we were together, I thought i had it all figured out. Now i’m just back to wondering again.” – Conor Ludlow.

Seperti pada umumnya drama realis, kita akan banyak melihat hal-hal yang sangat familiar dengan kehidupan sehari-hari kita dan bagaimana cara kita dalam menyelesaikan permasalahan. Elly yang mengambil mata kuliah ‘Art Theory’ hanya dengan alasan “The class sounds interesting” demi perjalanan hidup yang baru dan menemukan dirinya sendiri lagi, Conor yang terlalu idealis untuk mandiri dan tidak mau ketergantungan terhadap ayahnya demi sebuah penebusan dosa atas rasa bersalah akibat trauma yang diderita, dan mereka yang berkali-kali menemukan satu sama lain dan berkali-kali memutuskan untuk berpisah sebelum akhirnya bertemu kembali hanya untuk membicarakan masa lalu yang mereka tak bisa lari darinya. Karena itu tidak heran jika di akhir film penonton akan merasa susah move-on dari kedua karakter yang sangat manusiawi ini. Alasannya sederhana, kita merasa sehancur dan setidak berdaya mereka.

Kalian tidak harus menonton ketiga versi film ini untuk bisa menikmati ceritanya. Cukup tonton ‘Them’. Namun kalau kalian memang tertarik untuk melakukan pembelajaran karakter dan psikologi Elly dan Conor dan menghubungkannya pada dunia nyata, maka kalian wajib meluangkan sehari penuh liburan kalian demi menonton ketiganya.

DISTOPIANA’S RATING:  3.5 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *