Ant-Man (2015) – Why Go Big When You Can Go Small?

Menjadi lebih kecil tidak selalu buruk. Setidaknya itulah hal paling sederhana yang film ini coba sampaikan. Ukuran bukanlah segalanya, dan hukum ini berlaku dalam segala hal, termasuk dalam urusan film superhero. Sebelum film ini rilis, banyak publik yang skeptis karena menurut mereka Ant-Man mempunyai kemampuan yang terlalu konyol untuk dapat dikategorikan sebagai superhero. Bahkan anak dari pemeran Scott Lang (Paul Rudd) di film ini pun bilang “That sounds really ridiculous” saat ayahnya bercerita bahwa ia akan memerankan seorang superhero dari Marvel yang dapat mengecilkan tubuhnya menjadi seukuran semut. Well, gue bukan salah satu di antara mereka. Pertama kali mendengar tentang Ant-Man, entah kenapa gue ngga membayangkan ‘semut’, tapi lebih kepada ‘self-conscious bullet’ karena selain mengecilkan ukuran, kostum ciptaan Hank Pym yang menjadi medium kekuatan itu juga meningkatkan kapasitas tenaga menjadi berkali-kali lipat dan membuat pemakainya mampu mengendalikan serangga-serangga lain.

Tidak sekonyol seperti yang terdengar, sebenarnya, dan film ini berhasil membuktikan bahwa ada gunanya mengecilkan tubuh. Conducting heist, misalnya. Scott Lang di film ini adalah seorang mantan narapidana yang dipenjara karena berhasil meretas dan menjebol sistem keamanan tingkat tinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Bukan, superhero kita bukan orang jahat. Perusahaan itu melakukan fraud dengan menerapkan harga yang berlebihan pada pelanggannya, sehingga naluri kepahlawanan Scott membuatnya untuk mengembalikan seluruh jumlah pendapatan kotor perusahaan tersebut kepada semua pelanggan yang dirugikan. Kelakuan Scott Lang yang unik ini menarik simpati Hank Pym (Michael Douglas), seorang mantan ilmuwan S.H.I.E.L.D. yang memberhentikan diri karena mengetahui Howard Stark telah beberapa kali mencoba membuat replika dari penemuannya tanpa seizinnya. Dengan cara terselubung, Hank menguji Scott untuk merampok rumahnya dan meletakkan sebuah kostum aneh sebagai harta karun di dalam brangkas. Saat Scott berhasil menerobos masuk dan terkejut mendapati tidak adanya harta apapun di dalam brangkas kecuali kostum tersebut, Scott mengambil kostumnya dan mencobanya di kemudian hari. Inilah awal seorang Scott Lang berlatih bela diri, adaptasi, dan mind-control demi menjadi Ant-Man dan membantu Hank serta anak perempuannya Hope van Dyne (Evangeline Lily) untuk merampok pakaian Yellowjacket hasil replika eksperimen Hank buatan Darren Cross (Corey Stoll) yang masih belum stabil dan berpotensi untuk menciptakan kehancuran brutal bila jatuh ke tangan yang salah.

Ant-Man bisa dikategorikan sebagai film yang cukup unik karena meskipun hakikat penciptaannya adalah sebagai film superhero, film ini malah lebih terlihat sebagai film heist (Ocean Twelve, Now You See Me) atau film spy (Mission: Impossible, Kingsman: The Secret Service). Menembus top-level security system, memalsukan identitas dan berkamuflase, berhadapan dengan laser guard, berhubungan dengan locksmith yang standby di dalam minivan bersama dengan transporter, dan berkejar-kejaran dengan polisi dan staf keamanan korporasi, apa lagi namanya kalau bukan heist/spy film? Namun seperti hal-hal yang sudah sering Hollywood lakukan sebelumnya, film ini crossing genre. Ada pula momen di mana film ini menjadi film superhero, seperti adegan pertarungan Ant-Man melawan Falcon (Anthony Mackie) dari Avengers (and that was a really cool fighting scene) dan adegan pertarungan terakhir si manusia pengendali serangga melawan Darren Cross yang memakai kostum Yellowjacket. Secara keseluruhan, film ini sangat baik dalam eksekusinya. Paul Rudd dan Michael Pena (sebagai Luis, rekan kriminal Scott) layak mendapatkan pujian karena telah memberikan comedic charm yang menjadi salah satu nilai plus film ini. Gue juga menyadari ada beberapa signature dari penyutradaraan Edgar Wright yang melekat erat seperti di tiap adegan di mana Luis menceritakan sesuatu yang penting dengan antusiasme yang berlebihan pada Scott. Cukup mengherankan mengingat Edgar Wright telah hengkang dari kursi penyutradaraan Ant-Man sejak Mei 2014 dan digantikan oleh Peyton Reed karena ‘perbedaan visi kreatif’.

Marvel Studios sudah benar-benar ingin menguasai keseluruhan gaya penceritaan. Setiap kali film superhero Marvel tayang, mereka ingin masyarakat menilai image dan karakter dari film tersebut sebagai ‘Film Marvel’. It is Marvel Studios, and not the director, that owns the film, sementara Edgar Wright mempunyai ciri khas yang sangat kental dan branding jika melihat dari film-film besutannya terdahulu seperti Hot Fuzz, Shaun of The Dead, dan The World’s End. Biar lebih jelas seperti apa, coba tonton video di bawah ini.

Tidak ada salahnya memang, karena Marvel Studios sudah berniat untuk kaffah dalam membangun MCU demi film-film lain yang akan mereka produksi di masa depan. Hal ini dapat dilihat dari terlalu banyaknya Peyton Reeddalam memberikan eksposisi tentang keberadaan Avengers dan menerangkannya dengan detail yang cukup jelas lewat dialog hingga terkesan berlebihan seakan-akan mereka ingin berkata “Hey look, people, we’re on the same universe as The Avengers!” kepada para penontonnya. Ambil positifnya, mungkin Ant-Man memang akan menjadi karakter yang sangat penting dalam Captain America: Civil War di 2016 nanti, namun menurut gue terlalu berlebihan sehingga mengurangi kadar seberapa pentingnya penonton menganggap Ant-Man sebagai fokus utama di film ini dan malah membuat penonton teralihkan pada bayang-bayang prematur Captain America: Civil War sepanjang film berlangsung. Padahal seberapa saling sambung-menyambungnya MCU, Ant-Man harusnya tetap menjadi sebuah standalone film, bukan prekuel. Strategi pemasaran? Oke, alasan diterima.

Dirilis di Indonesia tepat pada saat libur panjang, Ant-Man sangat baik untuk ditonton bersama keluarga karena menurut gue ini adalah film superhero Marvel yang paling family-oriented dengan porsi action dan humor yang seimbang layaknya Spy Kids dengan kearifan Marvel. Terlebih lagi, tingkah Scott dan Luis akan mengundang gelak tawa dan antusiasme terutama bagi anak-anak dan bagi orang tua yang masih mau jadi anak-anak, dan kasih sayang antar ayah dan anak yang ditunjukkan oleh acting chemistry dari Scott dan Cassie (Abby Ryder Fortson) akan mampu menimbulkan suasana haru dan hangat di tengah keluarga.

N.B.: IMPORTANT NOTES! Akan ada dua additional scenes di film ini, yaitu Mid-Credit Scene dan Post-Credit Scene. Jadi jangan pulang dulu sebelum credit title benar-benar berakhir, because the Post-Credit Scene kicks ass!!

9 Film Keluarga Yang Paling ‘Disturbing’ dan Menjijikkan

Disturbing films? Ah, sudah biasa. Bagaimana dengan disturbing films yang bertemakan keluarga? Pastinya kalian akan sangat tertarik untuk menontonnya, dan tentunya akan lebih sarat dengan pesan moral yang membahas tentang betapa berharganya keluarga. Namun jangan pula berharap bahwa film-film ini aman untuk ditonton bersama istri/suami ataupun anak-anak dan orang tua kalian, karena seperti yang sudah gue terangkan di judul, ini adalah daftar film-film disturbing. Selain konten ketelanjangan dan kesadisan yang sangat tidak layak konsumsi untuk anak-anak, premis tiap film serta beberapa scene paling gila di dalam daftar film yang akan gue sebutkan ini berisiko membuat orang-orang yang tidak kuat mental untuk mengalami trauma berkepanjangan.

Jadi, segera tutup laman ini jika anda termasuk orang-orang bermental lemah tersebut. Tontonlah film-film keluarga yang bisa membawa aura positif buat anda, seperti Home Alone, Petualangan Sherina, atau Keluarga Cemara. Namun jika anda memang orang yang senang mencari pengalaman berbeda dalam mengeksplorasi film  dan sedikit ‘gila’, maka bersiap-siaplah. Bukannya gue merendahkan, gue cuma mengingatkan saja, sebelum semuanya terlambat…

So…here it goes.

1. The Exorcist (1973) directed by William Friedkin

Film ini sudah didaulat oleh sebagian kritikus film sebagai film horror terbaik sepanjang masa. Berkisah tentang seorang ibu (Ellen Burstyn) yang meminta pertolongan kepada dua orang pendeta (Max von Sydow dan Lee J. Cobb) untuk mengeluarkan sosok jahat bernama ‘Pazuzu’ yang merasuki anak perempuannya (Linda Blair). Sepintas terlihat sederhana dan umum karena tema seperti ini memang sudah sering dibahas oleh film-film horor modern. Tapi percayalah, anda tidak akan mampu tidur semalaman setelah melihat sosok si anak gadis kecil lucu yang berubah setelah dirasuki Pazuzu.

The Most Disturbing Scene:

“In the name of Father, Son, and Holy Spirit, let Jesus f*ck you motherf*cker!!” Ujar sang anak sambil menusuk-nusukkan salib kayu ke kemaluannya sendiri.

2. Antichrist (2009) directed by Lars von Trier

Sutradara asal Denmark ini memang sudah dikenal piawai dalam mengeksploitasi depression dalam setiap film yang ia arahkan. Film ini pun mengusung tema depression dengan dinamika alur yang lambat dengan visual treatment yang indah namun sangat mengerikan seperti berniat untuk menyiksa kita pelan-pelan. Seorang istri (Charlotte Gainsborough) yang depresi karena kematian anaknya mencoba untuk menenangkan dirinya dengan pergi bersama suaminya yang juga seorang psikiater (Willem Dafoe) ke sebuah kabin di tengah hutan pinus dan menjalani terapi pribadi di sana. Di luar dugaan, duka nestapa yang diderita sang istri semakin menjadi-jadi sehingga sang istri pun melakukan hal-hal gila yang tidak hanya menyakiti suaminya, namun juga dirinya sendiri.

The Most Disturbing Scene:

Banyak yang bilang genital mutilation di akhir film adalah scene paling mengerikan yang pernah mereka tonton. Bagi saya yang seorang pria–dan tentunya para pria yang lain–yang paling membuat saya mengerutkan dahi adalah scene ‘genital annihilation’ dari sang istri kepada sang suami.

3. Bedevilled (2010) directed by Jang Cheol-soo

Harusnya film ini gue tempatkan di list film-film dengan ending paling menyebalkan, tetapi mengingat karena film ini dari awal sampai akhir sudah sangat menyebalkan, jadi gue masukkan saja dalam list ini. Seorang wanita bernama Kim Bok-nam (Seo Yeong-hi) menjadi objek kekerasan seksual, fisik, dan mental bagi para penduduk–ya, termasuk keluarga dan suaminya sendiri–di pulau terpencil yang bernama Moodoo. Tidak ada seorang pun yang memihak padanya, bahkan suami dan ibunya pun memperlakukannya lebih buruk daripada binatang. Kim beberapa kali mencoba untuk kabur dari pulau tersebut, namun selalu gagal karena–sekali lagi–tidak ada yang memihak kepadanya. Saudaranya yang bernama Hae-won (Ji Seong-won) yang datang berkunjung pun tidak kuasa untuk menolongnya karena dia tidak ingin ikut campur urusan seluruh penduduk yang sepertinya sudah bersepakat untuk tidak akan membiarkan Bok-nam melarikan diri dari pulau.

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya hampir semua scene penyiksaan Bok-nam di film ini sangat menyakitkan untuk ditonton, tapi sekadar highlights buat kalian, coba tonton scene yang satu ini.

4. Dogtooth (2009) directed by Yorgos Lanthimos

Home-schooling gone extreme. Bayangkan kalian sebagai seorang anak dikurung oleh orang tua kalian di dalam rumah dan tidak diperbolehkan untuk keluar sejak kalian dilahirkan sampai gigi depan kalian tanggal.  Kalian dididik sejak kecil oleh orang tua kalian sendiri dengan kebohongan-kebohongan dan bahkan diajari cara menggonggong seperti anjing seakan-akan hal tersebut merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Kalian diajarkan bahwa kata “Laut” berarti sebuah kursi beralaskan kulit yang diletakkan di dalam ruang keluarga. Televisi hanya digunakan untuk menonton video yang direkam sendiri oleh keluarga di dalam rumah. Belum cukup? Masih ada kegilaan-kegilaan lain yang ditunjukkan dalam film yang berbicara tentang konservatisme di dalam keluarga ini.

The Most Disturbing Scene:

Mari berdansa!!

5. Strange Circus (2003) directed by Sion Sono

Seorang ayah sengaja menyembunyikan anaknya (Masumi Miyazaki) di dalam kotak cello setiap kali sang ayah menyetubuhi sang ibu agar sang anak dapat melihat dengan jelas kenikmatan mereka berdua dari lubang kotak. Setelah selesai dengan sang ibu, sang ayah kemudian mengeluarkan anaknya dari dalam kotak Cello dan lanjut menyetubuhi anaknya yang masih berusia 7 tahun itu. Sudah cukup jelas seberapa disturbing film ini? Belum, yang membuat film ini akan sangat membekas dalam hidup kalian adalah betapa elegan dan artistiknya Sion Sono dalam mengemas kekejaman demi kekejaman yang disajikan. Bayangkan saja ketika Debussy, Liszt, dan Bach yang mengiringi adegan penyetubuhan ayah pada anak kecilnya di film ini membuat kalian mempertanyakan moralitas kalian sendiri karena kenyamanan dan keindahan yang tidak seharusnya yang kalian rasakan saat menontonnya.

The Most Disturbing Scene:

6. Eraserhead (1972) directed by David Lynch

Gue tidak bisa menemukan cara yang benar-benar pantas untuk bisa mendeskripsikan Feature-film debut dari sang art-house film auteur David Lynch ini bagaimana dan seperti apa. Begini deh, coba kalian bayangkan sendiri bagaimana bila seorang gadis yang kalian pernah pacari dulu ternyata hamil, kemudian kalian nikahi, lalu setelah melahirkan ternyata anaknya menyerupai kadal–atau alien, atau makhluk dampak radiasi Chernobyl, atau apalah–yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara-suara mengerikan dan memuntahkan cairan-cairan kental seperti limbah industri dari mulutnya. Belum, itu belum semuanya, bahkan mungkin hanya 5% dari keanehan-keanehan yang entah bagaimana dapat tercipta dari kepala seorang manusia seperti David Lynch. Lewat list ini, gue officially mendaulat film ini sebagai “THE MOST BIZARRE FILM EVER” karena secara harfiah gue belum pernah menonton film yang lebih aneh dari ini.

The Most Disturbing Scene:

Ketika Henry (John Nance), sang suami, mengalami sebuah mimpi yang mengubah hidupnya,

7. Moebius (2013) directed by Kim Ki-duk

Another South Korean film! Kalau kalian pernah menonton 3-Iron (2004) atau Spring, Summer, Fall, Winter and Spring (2003), film ini diarahkan oleh sutradara yang membuat kedua film tersebut. Kali ini, Kim Ki-duk membahas tentang disfungsi keluarga yang berakar dari kecemburuan dan seksualitas dengan pendekatan yang ekstrim. Seorang ibu (Eun-woo Lee) yang mengetahui perselingkuhan suaminya (Jae-hyeon Jo) pada suatu malam berencana untuk balas dendam dengan diam-diam memotong kemaluan suaminya saat sedang tertidur. Sang suami yang terbangun tiba-tiba menjadi marah dan mendorong serta memukul sang istri yang kemudian langsung beranjak pergi. Tidak menyerah sampai di situ, sang istri malah pergi ke kamar anaknya yang sedang tertidur dan memotong kemaluan anaknya (Young-ju Seo). Sang ayah yang merasa bersalah terhadap anaknya kemudian mulai mencari cara agar sang anak bisa tetap mendapatkan kepuasan seksual tanpa harus mengandalkan kemaluannya. Film ini sakit, namun lucu dan mengerikan secara bersamaan oleh adegan potong memotong penis yang lumayan banyak dan juga adegan pelampiasan seksual algolagnia dengan menusukkan pisau pada pundak dan kemudian menggoyangkannya sambil mendesah nikmat. Kelebihan dari film ini adalah kita tetap mampu merasakan kehangatan dan intensitas serta kerenggangan hubungan antar karakter walaupun tanpa ada dialog dan komunikasi verbal maupun musical scoring sepanjang film berlangsung.

The Most Disturbing Scene:

Ada satu adegan di mana kekasih (yang lucunya diperankan oleh orang yang sama dengan yang memerankan sang ibu, Eun-woo Lee) dari sang anak berkomplot mencarikan sang anak penis baru untuk disambungkan lewat operasi. Sang kekasih merayu seseorang yang dulu pernah memperkosanya, lalu saat pemerkosa itu lengah, sang kekasih memotong kemaluannya, lalu sang anak mengambil kemaluan itu dan berlari ke tengah jalan. Sang pemerkosa yang panik mencoba bangkit lagi dan mengejar sang anak, dan dari sini lah kegilaan dimulai.

8. Visitor Q (2001) directed by Takashi Miike

Dari semua film yang ada di list ini, film besutan sutradara Crows Zero (2007) ini adalah yang paling lucu dan menggelikan, meskipun tetap menjijikkan dan sinting. Bercerita tentang disfungsi sebuah keluarga di mana sang anak perempuan (Fujiko) melacur pada ayahnya sendiri (Ken’Ichi Endo) yang pecundang dan sang anak laki-laki (Jun Muto) berumur belasan tahun yang tega memukuli ibunya sendiri (Shungiku Uchida) yang lemah dengan penggebuk kasur, seorang pria misterius (Kazushi Watanabe) memasuki keluarga tersebut dan menciptakan keseimbangan yang harmonis dengan kelakuannya yang sembarangan. Meskipun terlihat sangat tolol dan di luar batas, namun film ini berbicara sangat banyak tentang kehangatan sebuah keluarga yang harus dijaga dengan baik. Premis film ini memaparkan dengan baik apa yang Harper Lee tulis di To Kill a Mockingbird, “You can choose your friend, but you can’t choose your family, and they’re still kin to you no matter whether you acknowledge ’em or not, and it makes you look right silly when you don’t.”

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya ada scene yang lebih disturbing di mana sang ayah memperkosa mayat rekan kerjanya yang ia bunuh dan tiba-tiba seluruh isi perut mayat (iya, tai) keluar dan mengotori tangan sang ayah. Tapi coba kalian lihat dulu adegan breast-milking ini dan silahkan kalian nilai sendiri.

9. A Serbian Film (2010) directed by Srdjan Spasojevic

Terkenal oleh kontroversi kesadisan yang jauh melebihi batas wajar dan telah dilarang untuk tayang oleh banyak negara, film ini telah diakui sebagai film yang paling sinting dan ekstrim yang pernah dibuat. Seorang bintang film porno bernama Milos (Srdjan Todorovic) yang telah pensiun tiba-tiba mendapatkan tawaran kembali untuk bermain di pangsa pasar elit di Serbia dengan bayaran tinggi yang bisa menjamin kemakmuran hidup istri (Jelena Gavrilovic) dan anaknya (Slobodan Bestic). Milos tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan sampai pada akhirnya ia mengetahui bahwa ia harus terlibat dalam pembuatan film porno tersadis yang melibatkan kematian. Gue sudah pernah menonton The Human Centipede I dan II dan itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan film yang menyajikan seorang gadis yang kepalanya dipenggal oleh si pemerkosa saat sedang disetubuhi ini. Terlebih, film ini menyajikan ending yang tragis dan nihilis. Tidak ada alasan untuk kalian menonton film ini kecuali kalian memang ingin menantang diri kalian sendiri, dan jangan salahkan gue kalau kalian nggak kuat menonton sampai selesai. Kalian sudah diperingatkan.

The Most Disturbing Scene:

“NEWBORN RAPE! NEWBORN RAPE!” Scene yang membuat gue langsung mandi wajib setelah selesai menonton.

The Past (2013) – Lari dari Masa Lalu

Asghar Farhadi memang sudah terbukti kelihaiannya dalam meracik film-film drama realis. Setelah A Separation mendapatkan penghargaan di Oscar 2011 sebagai Best Foreign Film dan juga dinominasikan sebagai Best Original Screenplay (that’s quite great for an Iranian film), sutradara asal Iran ini meraih nominasi Golden Globe 2014 dan Palme d’Or di Cannes Film Festival 2014 dengan kembali berbicara tentang perceraian di film berikutnya yang ia produksi bersama tiga production company asal Perancis (Memento Films Production, France 3 Cinema, BIM Distribuzione) berjudul The Past.

Film yang mengambil lokasi di Perancis ini menceritakan tentang seorang pria bernama Ahmed (Ali Mosaffa) yang tiba-tiba harus mengetahui kenyataan pahit di balik perceraiannya saat ia bertemu dengan anak sulung perempuannya, Lucie (Pauline Burlet) sekembalinya ia ke Perancis untuk mengurus persidangan cerainya dengan mantan istrinya, Marie (Berenice Bejo). Kali ini Asghar mengeksplorasi kompleksitas sebuah perceraian di negara yang berpaham liberal, dan tidak seperti film sebelumnya, ia memasukkan unsur orang ketiga bernama Samir (Tahar Rahim) dalam film ini. Konflik dipicu oleh Lucie yang menceritakan pada Ahmed bahwa hubungan Marie dan Samir dimulai sejak Ahmed menceraikannya, dan yang mengejutkan adalah saat itu Samir masih beristri. Cinta segitiga ini pada akhirnya meluap tatkala sang istri dari Samir mengalami koma karena mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Marie dan mencoba bunuh diri.

Masih terdengar seperti soap opera atau melodrama biasa? Oke, akan ada beberapa subtle twist yang akan kalian temui dan ruang lingkup konflik yang semakin meluas tiap kalian menghabiskan menit demi menit yang cukup melelahkan dengan tempo film yang juga cukup lambat dan durasi yang lumayan panjang (130 menit), dan kalian sebaiknya tidak mengetahuinya sampai kalian menontonnya sendiri dan terkejut akan betapa hebatnya Asghar Farhadi menggambarkan situasi perceraian yang ditengarai oleh manusia-manusia yang lemah dalam menghadapi konsekuensi dari apa yang telah mereka perbuat di masa lalu. Seperti judulnya, kalian akan cepat merasa akrab dengan tiap karakter yang lemah dan naif di film ini. Mereka sama-sama punya mimpi untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik, namun mereka memilih untuk lari dari persoalan-persoalan di masa lampau yang seharusnya malah mereka hadapi. Layaknya kita—atau mungkin beberapa orang yang sering kita temui dalam kehidupan kita—mereka pikir mereka bisa lari, padahal mereka tahu mereka lemah. Uniknya, biarpun fokus permasalahan ini terjadi di masa lalu—yang kemudian diungkapkan satu persatu—pemaparan masalah hanya menggunakan dialog antar karakter dan didukung oleh akting yang luar biasa dari mereka. Tidak akan ada flashback sequence dan alur film ini linear dari awal sampai akhir.

Ciri khas dari sang maestro Asghar Farhadi adalah setiap film yang ia buat seperti sebuah studi kasus tentang culture versus human. Ia selalu menantang setiap paham kebudayaan dalam pengaruh mereka terhadap konflik sosial yang tercipta karena sifat-sifat alamiah manusia. Pada A Separation, ia menantang paham konservatif dalam terhambatnya penyelesaian masalah perceraian yang terjadi karena perbedaan kepentingan yang manusiawi antar masing-masing pihak. Kini, dia menantang paham liberal dalam memfasilitasi orang-orang bodoh untuk menghancurkan keluarga mereka sendiri. Kelakuan Marie yang susah move-on dan memilih mencari pelampiasan, Samir yang jenuh dan lelah akan kehidupan rumah tangganya, Ahmed yang idealis namun terlalu toleran, dan Lucie—si darah muda—yang menyulut ledakan konflik antar tokoh karena melakukan hal yang ia anggap benar dengan cara yang salah dapat digambarkan sebagai the worst of liberal civilization’s product. Tentu saja, bukan berarti paham konservatif lebih baik dari liberal, karena Asghar sudah membahasnya di A Separation. Setiap pemikiran dan paham, sehebat apapun itu, pasti memiliki kekurangan, dan hal ini yang selalu Asghar Farhadi coba untuk eksploitasi dan tantang di tiap filmnya.

Meskipun membahas tema yang agak tabu, namun The Past adalah film yang cocok untuk ditonton bersama keluarga. Film ini bebas dari segala bentuk adegan dewasa. Meskipun seperti yang sudah gue bilang bahwa temponya lambat dan durasinya lumayan lama, film ini memiliki tone yang bersahabat. Dengan pendekatan yang family-oriented, The Past akan membuat kita merenungi seberapa pentingnya kita harus menjaga keluarga kita dengan menyikapi setiap permasalahan dengan bijak.

The Rise of DC against Marvel: San Diego Comic-Con 2015 Footage Review

Bagi seorang film and comic geek, tahun 2016 dan selanjutnya adalah saat-saat terindah bagi mereka untuk menikmati hidup. Sejak kesuksesan komersil Iron Man (2008) dan Man of Steel (2013), dapat dipastikan akan terjadi pertempuran sengit antara dua produsen raksasa film-film superhero Hollywood: Marvel Studios dan DC Entertainments. Seberapa sengitkah pertarungan ini kelak? Mari kita diskusikan.

Kita tahu bahwa Marvel Studios sudah beberapa langkah lebih jauh dari DC Entertainments dalam penciptaan dan pembangunan cinematic universe. Marvel Studios sudah memulai inisiasi pembentukan sejak Iron Man (2008) dan telah sukses memproduksi 11 film–termasuk dua film kolaborasi superhero The Avengers (2012) dan Avengers: Age of Ultron (2015)–dan 7 serial TV. Terhitung pendapatan Box Office yang dihasilkan dari 11 film tersebut mencapai $7,160,192,712 (BBC.com, 2015). Sementara DC Entertainments masih berkutat di angka $668,045,518 (Box Office Mojo, 2015) yang dihasilkan oleh Man of Steel (2013). Melihat dari sini saja rasanya sudah sangat tidak adil bila membandingkan Marvel dan DC lewat fakta konkrit seperti seberapa besar pendapatan yang telah  mereka hasilkan.

Namun mari kita coba prediksi ke depan. Saat DC Entertainment pertama kali mengumumkan tentang rencana produksi untuk sekuel Man of Steel (2013) yang akan dirilis pada Maret 2016 dan berjudul Batman v Superman: Dawn of Justice (BvS), banyak publik berspekulasi liar bahwa film ini akan gagal total karena selain persepsi awam mereka tentang ketidakseimbangan pertarungan antara manusia biasa dan dewa, sosok Bruce Wayne yang diperankan oleh Ben Affleck dinilai tidak akan mampu terlihat lebih baik dari yang diperankan oleh Christian Bale pada trilogi Batman yang sebelumnya sudah diproduksi dengan sempurna oleh Christopher Nolan dan Legendary Pictures (bahkan menurut MovieWeb.com, ada 30 petisi online yang dikeluarkan oleh publik untuk meminta Warner Bros. Pictures dan DC Entertainment mencopot Ben Affleck dari perannya sebagai Batman). Di luar dugaan, pada pergelaran San Diego Comic Con (SDCC) 2015 (9-12/5), DC Entertainment merilis official poster & trailer untuk BvS dan secara mengejutkan mendapatkan respon yang sangat positif dari publik.

Bagaimana tidak? Lihat saja pertarungan yang melibatkan Batsuit, Laser-Beam, dan Gal Gadot sebagai Wonder Woman tersebut. Sekali lagi, menimbang bahwa Bruce Wayne adalah manusia biasa dan Kal-El adalah dewa yang datang dari planet asing, mereka terlihat sangat imbang dan mampu menimbulkan kehancuran yang luar biasa terhadap satu sama lain. Bisa jadi ini karena tidak adanya lagi campur tangan dari pihak Legendary Pictures dan Syncopy dalam produksi BvS. Plot dan motif dari konflik Batman dan Superman pun kini terlihat lebih jelas. Kehancuran yang ditimbulkan pada pertarungan antara Superman dan General Zod di Man of Steel (2013) membuat Bruce Wayne menganggap bahwa Superman adalah ancaman terbesar umat manusia dan harus dihentikan. Hal ini mampu melemahkan pandangan sebagian kritik bahwa Zack Snyder sebagai sutradara dan David S. Goyer sebagai penulis telah gagal membangun image seorang superhero saat memutuskan bahwa resolusi terbaik di film Man of Steel (2013) dapat diperoleh Superman dengan mematahkan leher General Zod dan membunuhnya–kemudian menangis. Ending yang cukup kontroversial itu ternyata malah membuka lebar-lebar ruang untuk Zack mengeksplorasi plot yang lebih kompleks dan gelap–dengan tetap berpegangan pada kitab DC Comics–untuk kemudian disajikan di BvS.

Pada tahun yang sama, DC Entertainment juga berencana untuk menayangkan Suicide Squad, sebuah film yang berkisah tentang tim DC supervillains yang menerima misi rahasia dari pemerintah yang mungkin akan berakhir dengan kematian mereka. Kali ini, optimisme sedikit muncul dari publik terkait sosok Joker yang akan diperankan oleh Jared Leto. Kehebatannya dalam mendobrak standar akting Hollywood lewat totalitas peran dan pengubahan wujudnya sudah diakui oleh khalayak luas berkat Requiem for A Dream (2001), Chapter 27 (2007), dan Dallas Buyers Club (2013) sehingga kali ini banyak yang percaya dia akan berhasil memerankan Joker dengan sangat baik–walaupun mungkin tak akan bisa sebaik Heath Ledger di The Dark Knight (2008). Layaknya BvS, DC Entertainment juga merilis official footage dari Suicide Squad pada SDCC 2015 dan kembali mendapatkan respon positif dari publik.

The Joker looks pretty f*cked up. In a positive way.

Daya tarik yang ditimbulkan dari trailer Suicide Squad tersebut tidak hanya datang dari Joker, namun juga dari Margot Robbie sebagai Harley Quinn dan Cara DeLevingne sebagai Enchantress. Sekilas terlihat bahwa departemen artistik telah melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk menciptakan desain produksi, make-up, dan kostum yang tidak hanya membuat mereka terlihat jahat namun juga sangat gila. Sejujurnya, gue berharap banyak banget dari film ini.

Pergelaran SDCC 2015 kemarin sayangnya tidak dihadiri oleh panel dari Captain America: Civil War yang juga akan keluar tayang pada 2016. Meskipun begitu, Marvel Studios tetap tidak mau ketinggalan dengan mendatangkan panel dari Deadpool, sebuah film super anti-hero yang akan ikut mengisi keramaian pertarungan Marvel vs. DC di tahun 2016. Publik khususnya para penggemar Marvel universe sesungguhnya sangat antusias menantikan film ini karena sosok Deadpool yang terkesan sadis, kasar, namun humoris. Ryan Reynolds yang akan memerankan tokoh Deadpool di film ini pun mengungkapkan bahwa Marvel Studios telah memberikan izin untuk membuat ‘Rated-R’ Deadpool (lebih banyak kata-kata kasar, lebih banyak kesadisan, dan mungkin…lebih banyak adegan seks dan ketelanjangan) yang agak sedikit ironis karena film ini menjadi tidak boleh ditonton anak-anak. Official footage pun dirilis di pergelaran ini, yang kemudian diakhiri standing applause yang meriah dan sorakan ‘We Want More’ dari para peserta SDCC 2015 saat selesai menontonnya. Sayangnya, kita yang tidak bisa menghadiri SDCC 2015 harus menunggu sampai official footagenya dirilis untuk publik luas pada Agustus 2015.

Gue adalah orang yang percaya bahwa sesuatu yang luar biasa akan muncul setelah kegagalan yang luar biasa, dan melihat dari kegagalan Green Lantern serta antusiasme dan respon positif publik terhadap Suicide Squad dan BvS, gue berani bilang bahwa DC akan mampu bersaing dalam pertarungan sengit melawan Marvel di tahun 2016 ini dan di tahun-tahun yang akan datang. Meskipun tidak dapat dipungkiri Captain America: Civil War juga mampu menarik antusiasme gila-gilaan karena adanya kemunculan Spiderman sebagai salah satu anggota baru The Avengers, namun gue dan mayoritas peserta SDCC 2015 (ngga, gue ngga dateng) menilai bahwa DC telah mampu mengubah pandangan skeptis publik tentang BvS dan Suicide Squad dan mereka akan sukses merebut hati masyarakat dunia dengan ciri khas ala DC sendiri.

Biarpun begitu, gue ngga berani bilang bahwa DC akan memenangkan pertarungan sengit ini, karena selain Captain America: Civil War dari Marvel Studios, Deadpool juga diprediksi bakal jadi salah satu ‘mega-hit’ di International Box Office. Menurut gue tidak masalah siapapun yang akan menang, pertarungan ini akan menjadi sangat menarik dan sangat layak untuk kita nikmati. Begini saja, ketika Marvel Studios berhasil menjaring pendapatan dan memuaskan penonton lewat atmosfer superheronya yang colorful dengan bumbu-bumbu humor segar seperti yang sudah mereka lakukan di Guardians of The Galaxy (2014), The Avengers (2012), dan Avengers: Age of Ultron (2015), DC Entertainment akan menghajar Box Office habis-habisan lewat tone yang gelap, depressing, dan twisted seperti yang akan mereka lakukan pada BvS dan Suicide Squad. Maybe they’re not gonna win…

“But DC Entertainments are just gonna hurt you really, really bad…”

The Imitation Game (2014) – The Enigma of Equality

Salah seorang sineas ternama asal Polandia bernama Andrzej Wajda pernah mengatakan bahwa,

“When a film is created, it is created in a language, which is not only about words, but also the way that very language encodes our perception of the world, our understanding of it.”

Gue selalu terkagum-kagum setiap kali menemukan sebuah film yang dapat membahasakan banyak unsur kehidupan dan kemanusiaan dalam durasi yang relatif terbatas. Ada kalanya gue mencoba menulis ulasan tentang film tersebut, namun gue sering merasa kurang kredibilitas dan kurang ilmu yang pada akhirnya ngga jadi-jadi terus, termasuk The Imitation Game (2014) yang dulu urung gue ulas karena konten di film ini terlalu sensitif dan di luar batas kemampuan gue. Kali ini, gue mau mencoba menulis ulasan film yang sebenernya udah gue tonton dari empat bulan yang lalu ini dengan mencoba sedikit sok tahu. Sudah lulus kuliah kok, sekarang. Masak belum mau ada perkembangan?

Di tahun 1939, pasukan Nazi Jerman memulai serangannya ke Polandia, dan bersamaan dengan mobilisasi British Armed Force serta evakuasi rakyat sipil Inggris untuk mengantisipasi serangan udara dari Jerman, seorang ahli matematika terbaik di Inggris bernama Alan Turing (the famous Benedict Cumberbatch) direkrut oleh Commander Denniston untuk memecahkan Enigma, sebuah perangkat sandi paling mutakhir yang pernah dirancang sepanjang sejarah.

Meskipun bercerita tentang sebuah misi pemecahan kode sandi rahasia, treatment film ini sangat jauh dari atmosfer action-thriller ataupun war. Layaknya sebuah biographical drama, sutradara Morten Tyldum serta penulis skrip Graham Moore memfokuskan film ini pada konflik dramatis yang menimpa Alan Turing baik yang melibatkan rekan-rekan kerjanya maupun dirinya sendiri. Yang menarik adalah, seperti sub-judul yang gue berikan pada artikel ini, terdapat banyak sekali sandi-sandi yang mereka gunakan untuk membahasakan persamaan hak dan derajat bagi umat manusia. Tidak ada satu scene pun–atau bahkan satu dialog pun–yang terbuang sia-sia. Akan sangat panjang jika gue membahas scene demi scene, tapi gue akan coba merincikan beberapa poin penting yang gue dapatkan dalam film ini.

1. The Nature of Bullying, War, and Violence

“Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction and the act becomes hollow.” – Alan Turing

Alan mengatakan hal ini dua kali di dalam film ini. Yang pertama adalah flashback sequence Alan Turing saat di masa sekolah dasarnya, di mana ia sering ditumpahkan makanan dan dikurung di bawah papan kayu lantai kelas oleh anak-anak lain karena dianggap ‘aneh’. Yang kedua adalah ketika Alan dipukul oleh Hugh Alexander (Matthew Goode) karena menghalanginya untuk memberitahu Commander Denniston atas rencana agresi Jerman ke arah iring-iringan kapal penumpang di Samudera Atlantik.

 “Do you know why people like violence? It is because it feels good.” – Alan Turing

Tentu, kekerasan memang terasa menyenangkan bagi sang pelaku. Kekerasan adalah salah satu cara yang paling disukai sebagian manusia untuk merasa menjadi kuat dan perkasa di dunia yang berat bebannya membuat mereka menjadi lemah dan tak berdaya. Bagi yang sudah familiar dengan konsep cycle of abuse dari Lenora Walker (1979) tentu mengerti bahwa kekerasan bisa dikategorikan sebagai gaya hidup tidak sehat yang masih sering dianggap lumrah oleh masyarakat di lingkungan sekitar kita. Mengapa? Karena mereka tahu betapa menyenangkannya kekerasan, dan mereka memaklumi perbuatan itu biarpun mereka tahu bahwa korban merasakan sakit fisik dan mental. Mereka juga sudah memaklumi itu sebagai sebuah siklus kehidupan dan tidak mau ikut campur urusan pelaku dan korban. Mungkin film ini memang tidak menjadikan bullying atau violence sebagai pusat perputaran tata cerita, tapi untuk menyejajarkan kekerasan dalam konteks ‘bullying’ dengan ‘peperangan’ lewat repetisi dialog pada dua scene yang berbeda yang telah disebutkan sebelumnya adalah strategi yang cukup efektif untuk menyindir kelalaian dan ketidakpedulian kita terhadap kekerasan kendati cukupnya pemahaman kita tentang sebab bahaya dari kekerasan itu sendiri.

2. Feminism

“You said to finish under six minutes.” – Joan Clarke

Yap, semua dimulai saat Joan Clarke (Keira Knightley) masuk ke ruang ujian dengan disambut oleh pandangan skeptis para pengawas yang tidak percaya bahwa seorang perempuan berhasil memecahkan teka-teki silang. Melihat pada sejarah feminisime sendiri, meskipun kaum wanita sudah memperoleh hak untuk bekerja pada sektor non-militer dan industri, tahun 1939 memang masih menjadi zaman yang tabu bagi mereka untuk melakukan pekerjaan otak, apalagi di sektor intelijen. Blame the sexism. Nyatanya Joan membuktikan bahwa ia bisa jauh lebih unggul dibanding peserta ujian lain yang semuanya pria. Terlebih lagi, kedisiplinan serta kontribusi fisik maupun emosional yang Joan berikan terhadap Turing Machine maupun terhadap Alan sendiri memperlihatkan posisinya sebagai mitra kerja yang sejajar di dalam sebuah tim yang–lagi-lagi–semuanya pria. Graham Moore sebagai penulis skrip mampu merefleksikan karakter yang three-dimensional pada pribadi Joan Clarke lewat dialog yang mampu diperankan dengan sempurna oleh Keira Knightley dari awal kemunculan sampai akhir film. Penggambaran yang sangat baik ini seharusnya menjadikan Joan Clarke sebagai salah satu ikon baru bagi para modern feminist.

3. LGBT

“Do you know what they do to
homosexuals? You’ll never be able
to work again. Never be able to
teach. Your precious machine —
doubt you’ll ever see him again.” – John Cairncross

Sejujurnya, satu topik inilah yang beberapa kali membuat gue urung mengulas film ini. Bukan karena pandangan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih menganggap isu ini tabu, namun karena kompleksitas masalah yang disajikan. Sekilas, The Imitation Game dengan baik menggambarkan kondisi di dalam catatan sejarah di mana homoseksualitas masih dianggap sebuah penyimpangan berbahaya, dan menurut gue karakter Alan Turing serta plot yang disajikan di film ini–bagaimana Alan menamai mesinnya Christopher, pernyataan Alan pada Joan tentang orientasi seksualnya, ancaman dari John sang mata-mata terhadap Alan yang memergokinya, dan hukuman yang diderita Alan karena pengakuannya sebagai seorang homoseksual pada polisi–cukup baik menggambarkan tentang kekejaman pandangan masyarakat dan juga pemerintah Inggris yang salah kaprah terhadap sebab dan akibat dari homoseksualitas. Namun di lain pihak, film ini mendapatkan protes dari beberapa komunitas gay karena tidak adanya ‘gay sex scene’ sehingga menurut mereka Morten Tyldum dan Graham Moore tidak mempunyai nyali yang cukup untuk mengkampanyekan kebebasan hak kaum gay di seluruh dunia dan malah menganggap bahwa mereka berdua takut akan perolehan Box Office yang tidak mencapai target jika adegan yang masih ditabukan oleh banyak orang itu ditayangkan. Belum lagi adanya beberapa pihak yang mempermasalahkan orientasi seksual Graham Moore yang heteroseksual sebagai penyebab dari tidak adanya ‘gay sex scene’ di dalam film ini. Like, come on, gue orang yang netral terhadap isu homoseksualitas, namun bicara soal treatment film, adanya ‘gay sex scene’ hanya akan membuang-buang durasi karena seperti yang Morten Tyldum katakan di The Guardian,

The only reason to have a sex scene in the film would be to satisfy critics who feels that every gay character needs to have a gay sex scene.”

Pada hakikatnya, semua filmmaker memahami bahwa dalam setiap frame, setiap adegan, dan setiap dialog harus memiliki unsur yang sepadat mungkin untuk bisa menceritakan suatu hal yang banyak dan penting dengan durasi yang sesingkat dan seefektif mungkin, dan pernyataan Morten Tyldum di atas menurut gue cukup kuat untuk mempertahankan keputusannya dalam membentuk The Imitation Game menjadi sebuah film berdurasi sedang yang sangat padat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan persamaan hak.

The Imitation Game, sekali lagi, tidak mengandalkan twist dan suspense untuk menceritakan sebuah pemecahan kode rahasia paling mutakhir dalam sejarah PD II. Maka jangan berharap Benedict akan menjadi seorang Sherlock (TV Series) yang keren dan teknik editing yang secara visual meledak-ledak di film ini. The Imitation Game berbicara tentang manusia dengan cara yang sangat manusiawi, dan itulah sebabnya gue sangat merekomendasikan film ini untuk kalian tonton.

Apa, memang masih ada yang belum nonton?

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.

N.B.: Pidato kemenangan Oscar yang luar biasa menggerakkan dari Graham Moore sebagai Best Adapted Screenplay 2015.

“When I was 16, I tried to kill myself, because I felt weird, and I felt different, and I felt that I did not belong. And now I’m standing here, and I would like this moment to be for that kid out there who feels she’s weird or she’s different or she doesn’t fit in anywhere. Yes, you do. … Stay different, and then when it’s your turn, and you’re standing on this stage, please pass the message to the next person that comes along.”

Nonton Film di Bioskop Sendirian? Siapa Takut?

Pola sosial yang terbentuk pada masyarakat perkotaan dengan jumlah bioskop yang membludak membuat suatu pandangan bahwa menonton di bioskop HANYA merupakan salah satu cara untuk mengisi waktu luang bersama kerabat dan teman dekat. Paradigma ini nyatanya juga secara tidak langsung mempengaruhi pandangan mereka terhadap orang-orang yang memilih untuk menonton film di bioskop sendirian. Segala macam cap mereka lontarkan sembarangan, seperti “Kasian banget sih lo kayak ngga ada temennya” atau  “Duh, jomblo ya? Makanya cari pacar gih biar ngga ngenes-ngenes banget”, atau bahkan yang sedikit ekstrim seperti “dasar freak”. Gue pribadi–yang memang termasuk senang menonton film sendirian–sering dipandang sinis bahkan sama mbak-mbak penjual tiket di bioskop karena pas ditanya “buat berapa orang?” gue cuma jawab “satu aja”. Kebiasaan labeling seperti ini membuat orang-orang yang senang untuk menonton sendirian di bioskop merasa rendah diri atau bahkan menjadi kapok untuk menonton sendirian lagi.

Tapi serius deh, apa salahnya sih menonton di bioskop sendirian?

Lewat artikel ini gue akan mencoba mewakili para individual moviegoers (yang senang menonton di bioskop sendirian) untuk menjelaskan pada collective moviegoers (yang tidak mau menonton di bioskop kalau ngga ada yang menemani) bahwa mereka punya alasan yang lebih kuat terhadap kebiasaan mereka menonton film sendirian di bioskop daripada sekedar ‘ngga ada yang mau temenan sama gue’.

1. Apresiasi dan Rasa Cinta yang Tinggi

Please deh, untuk beberapa collective moviegoers yang sering memandang rendah para individual moviegoers, coba kalian renungi lagi kenapa kalian memandang mereka seperti itu. Di saat kalian, collective moviegoers, memandang film hanya sebagai sebuah hiburan numpang lewat yang akan kalian lupakan di kemudian hari (meskipun secara obyektif tidak ada salahnya untuk berpikiran seperti itu), namun para individual moviegoers lebih melihat film sebagai sebuah medium penyampaian pesan yang penting untuk diserap dan/atau karya seni yang patut diapresiasi. Belum lagi bagi para geek yang tergila-gila dengan beberapa sutradara atau cast film yang orang awam jarang mengenal, seperti Wes Anderson, Takeshi Miike, Meryl Streep, (alm) Philip Seymour Hoffman dll. Kalau mereka tidak menganggap film itu penting, untuk apa mereka menyusahkan diri datang ke bioskop sendirian dan mengeluarkan uang sebanyak demikian?

2. Pendirian dan Prinsip yang Kuat

Sudah jelas, bukan? Mungkin beberapa dari collective moviegoers mempunyai kecintaan dan pikiran yang sama terhadap film layaknya individual moviegoers seperti yang sudah gue terangkan di poin sebelumnya, namun karena pendirian dan prinsip mereka yang mudah goyah, mereka akhirnya menjadi minder dan lebih memilih untuk mengabaikan rasa cinta dan apresiasi mereka hanya karena tidak ingin dianggap freak atau forever alone oleh lingkungan sekitar mereka. Kalau gue jadi Rangga di film Ada Apa dengan Cinta (2002), gue bakal ngatain mereka “Kayak ngga punya pendirian aja sih”, namun jujur sebenarnya gue bersimpati terhadap collective moviegoers seperti ini, karena memang pada dasarnya manusia memang peduli dengan kasih sayang dan image pribadi mereka, namun baca artikel ini sampai selesai dan gue akan jelasin kenapa mereka patut untuk memperkuat pendirian dan prinsip mereka. Untuk individual moviegoers, selamat!

3. Sense of Intimacy

Tak bisa dipungkiri, individual moviegoers punya suatu hubungan yang erat dan sakral dengan film yang berakar dari dua poin yang gue sebutkan sebelumnya: rasa cinta, apresiasi, pendirian, dan prinsip. Jika kalian merasakan dengan seksama, akan ada sesuatu dalam diri kalian yang berubah setelah kalian menonton sebuah film. Entah kalian akan merasa jauh lebih badass, melankolis, atau bahkan bisa merujuk pada gejala psikosomatis, tergantung film yang kalian tonton. Pas dulu gue menonton premiere The Raid 2 (2014), gue merasa badan gue sakit semua setelah film selesai, dan gue langsung ingin pergi ke panti pijat atau spa terdekat, namun di satu sisi gue juga merasa lebih perkasa, tangguh, dan bahkan lebih ‘terbakar’ daripada sebelumnya. Hal inilah yang sebenarnya menjadi prioritas bagi sebagian individual moviegoers. Film itu seperti narkotik bagi mereka, dan mereka harus fokus untuk bisa merasakan pengalaman yang berbeda-beda secara total tanpa harus ada campur tangan atau pengaruh dari orang lain yang menonton bersama mereka. Kalau yang namanya menonton bersama orang lain, pasti mereka akan diajak mengobrol ataupun diberikan opini-opini (yang terkadang tidak relevan) yang akan mengganggu konsentrasi mereka. Bagi mereka, “Ngapain menonton bareng orang lain? Ganggu doang.”

4. Idealisme Pilihan Film

Ini sebenarnya alasan paling sederhana yang memang benar adanya bagi para individual moviegoers. Kalau kalian pergi ke bioskop sendirian, nggak akan terjadi perdebatan sengit dengan pihak lain tentang film apa yang harus kalian tonton, dan bagi sebagian pecinta film yang kurang digandrungi masyarakat awam, menonton sendirian tidak akan membuat mereka harus mengalah terhadap keputusan mayoritas. Ini perihal kebebasan memilih, Bung!

5. The Joy of Solitude

Shia-LaBeouf-Watching-His-Own-Movies-Pictures

Poin ini sebenarnya hanya berlaku bagi para introvert, individualis, dan bahkan juga para anti-sosial. Film adalah sarana untuk menyalurkan hasrat eskapis mereka yang sudah merasa cukup muak terhadap omong kosong dan kepalsuan realita, dan agak hipokrit bagi mereka untuk menonton film dengan ditemani oleh bagian-bagian dari realita mereka yang mereka anggap busuk. Mereka ingin istirahat sejenak dan meluncur di atas kereta wisata menuju dunia yang dirancang sang sutradara. Sendirian. Mungkin bagi sebagian orang, ini bukan alasan yang baik, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan harus berbagi kebahagiaan satu sama lain. Namun dipandang dari perspektif eksistensialisme, terlepas dari segala macam klise dan jargon tentang kebersamaan, kita semua berjalan sendirian di dunia ini, dari hidup sampai mati. Terhadap mereka yang berpikiran seperti itu, sah-sah saja buat gue. Atau ada pula dari mereka yang sebenarnya secara sosial tidak canggung, namun mereka manusia mandiri yang sudah mengerti bahwa satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan mereka hanyalah diri mereka sendiri, dan mereka tidak mau repot-repot membujuk teman mereka yang sedang sibuk untuk menonton bersama-sama, pun tidak menganggap itu sebagai halangan untuk menonton film yg ingin mereka tonton.

Ada begitu banyak alasan yang logis dan relevan untuk kalian sebagai individual moviegoers untuk melanjutkan kebiasaan kalian menonton film sendirian di bioskop, dan untuk para collective moviegoers, semoga artikel ini bisa memberikan kalian pandangan baru untuk belajar memahami serta tidak melemparkan sembarang labeling pada individual moviegoers yang bisa menyakiti perasaan dan self-esteem mereka, apalagi sampai merusak image mereka di mata lingkungan sosial mereka. Pada akhirnya, kita sama-sama manusia yang senang menonton film. Buat apa saling merendahkan satu sama lain?

9 Tokoh Anti-Hero Modern Terfavorit dalam Film

Akui saja, kita tahu bahwa kita mulai dewasa ketika kita menganggap ‘anti-heroes’ itu seksi dan layak dicintai. Mereka adalah representasi dari betapa lemah dan tidak berdayanya kita dalam mencoba untuk merangkak naik menuju puncak tertinggi dari pandangan idealis kita terhadap kesempurnaan. Di mata kita yang sudah terbiasa mencicipi pahitnya realita, ‘anti-heroes’ layaknya malaikat yang jatuh ke Bumi dan menjelma menjadi berbagai macam wujud: pecundang yang baik hati, penjahat yang menyedihkan, ataupun seorang idealis humanis yang tolol. Dalam kebudayaan film modern, ada beberapa tokoh ‘anti-hero’ yang patut kita simak dan perhatikan bagaimana mereka mampu merefleksikan diri kita dalam kehidupan nyata.

1. Riggan Thomson – Birdman (2014)


Why?: Impian paling sederhana dari seorang pecundang adalah untuk tidak dianggap sebagai pecundang. Sesederhana itu, dan Michael Keaton berhasil memerankan seorang Riggan Thomson yang ingin lepas dari bayang-bayang masa lalunya sebagai maskot superhero komersil anak-anak dan ingin membuktikan bahwa sebagai individu ia memiliki talenta seni yang pantas untuk diakui, dan seperti layaknya seorang ‘anti-hero’, he overestimated himself too much.

2. Andrew Neiman – Whiplash (2014)


Why?: Siapa yang tidak jatuh cinta dengan anak muda menyedihkan dengan idealisme dan ambisi buta untuk menjadi musisi legendaris? Siapa yang tidak merasa simpati ketika dia harus berhadapan dengan guru brutal yang kejam dan bengis demi mencapai mimpinya? Terlebih lagi, siapa yang tidak terpesona melihat pemuda ini merangkak keluar dari mobil dan berlari memaksakan diri bermain drum di panggung audisi dengan darah yang masih berceceran di sekujur tubuhnya?

3. Frank & Roxy – God Bless America (2012)

Why?: Mereka berdua sama-sama membenci apa yang kita benci. Pembodohan publik, disfungsi sosial, dan kefanatikan. Mereka merupakan perwakilan dari imajinasi terliar kita dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut: “Bunuh-bunuhin aja sampai semua sumber masalahnya mati, kan kelar tuh”. Kita tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan salah. Tapi kita mampu memaklumi mereka dan pada akhirnya ikut bersimpati terhadap miringnya jalan pikiran mereka dan konsekuensi yang harus mereka hadapi di akhir cerita.

4. Yu Honda – Love Exposure (2007)

Why?: Pada saat diwawancarai di acara BAFTA: A Life in Pictures, David Fincher, salah satu sutradara ternama Hollywood, mengatakan bahwa “Basically, people are perverts.” Inilah kenapa gue memasukkan Yu sebagai salah satu anti-hero terfavorit, karena dia mampu menunjukkan betapa mesumnya kita, terutama para pria, dan bagaimana kebodohannya membuat dia melakukan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan, seperti mengabdi di perguruan mesum dan menjadi seorang maestro dalam memotret celana dalam wanita. Lagi-lagi kita akan merasa ikutan malu dibuatnya.

5. Mark Zuckerberg – The Social Network (2010)

Why?: Terlepas dari akurat atau tidaknya penggambaran sang inventor Facebook dalam film garapan David Fincher ini, Jesse Eisenberg mampu menjadi karakter nerd yang mampu membuat pecundang asmara dan sosial seperti kita merasa simpatik dan terhubung satu sama lain. Gue pribadi sih, jadi merasa bersyukur mengetahui bahwa gue nggak sendirian, dan orang-orang sehebat Mark ternyata mampu membuat sebuah alternatif yang (nyaris) sempurna terhadap pergaulan dan jejaring sosial yang tradisional. Coba deh, sebelum ada Facebook, para nerd cuma berani show-off dan curhat tentang dirinya di dalam diary, bukan di status updates.

6. Sonny Wortzik – Dog Day Afternoon (1975)

Why?: Dia adalah tipe penjahat yang sebenarnya bukan orang jahat dan nggak bisa jadi jahat. Pada awal perampokan bank, semua berjalan dengan menegangkan sampai suatu ketika Sonny bilang “I’m a Catholic. I don’t want to hurt anybody.” Kemudian semua akan berubah menjadi sangat menyenangkan saat kita tahu bahwa penjahat konyol yang diperankan oleh Al Pacino ini merampok bank untuk membiayai operasi transgender pacarnya.

7. Neville Longbottom & Severus Snape – Harry Potter Series (2001 – 2012)


Why?: Alright, alright. Calm down, Muggles, I’m on your side! Gue mengalami perkembangan pola pikir dan beranjak dewasa bersama Harry Potter series. Selain trio wizards yang menjadi tokoh utama, kedua orang ini adalah penyihir-penyihir yang ada di belakang Harry dan ikhlas serta setia melindunginya. Neville Longbottom, dengan karakternya yang pada awalnya introvert dan penakut, ternyata berani menolak untuk tunduk pada kekuasaan tertinggi kegelapan Lord Voldemort dan dia pula yang menggotong mayat Harry sambil berpidato di depan kubu Voldemort dan Hogwarts bahwa “Harry Potter akan selalu hidup di dalam hati kita!” Dan si malang Severus Snape? Dia adalah simbol dari lelaki lemah yang memilih untuk tetap setia pada cinta terakhirnya yang tak akan pernah berbalas. Severus Snape adalah kita. Hidup Severus Snape!

8. Tyler Durden – Fight Club (1999)

Why?: Di dalam bukunya yang berjudul “Stranger than Fiction”, Chuck Palahniuk, yang juga menulis novel Fight Club yang akhirnya diadaptasi menjadi sebuah film oleh David Fincher ini memberikan penjelasan bahwa semua cerita yang ia tulis berkisah tentang orang-orang yang mencari cara-cara unik untuk berinteraksi dengan kehidupan sosialnya. Inilah yang sebenarnya berusaha diceritakan oleh Fight Club. Kebanyakan orang lebih terfokus pada permasalahan psikologi yang dialami Tyler dan narator, tapi mereka lupa bahwa film ini banyak membuat perumpamaan terhadap manusia-manusia yang membenci dirinya sendiri dan lebih memilih untuk tenggelam dan hilang dalam identitas palsu yang mereka buat demi sebuah penerimaan.

9. Travis Bickle – Taxi Driver (1976)

Why?: Ngga perlu nanya kenapa sih kalau kalian udah nonton salah satu masterpiece dari Martin Scorsese ini. Travis Bickle adalah icon modern dari Sisyphus. Dia adalah produk dari sebuah pemikiran eksistensialisme manusia-manusia kesepian dan bodoh yang ingin mengejar sebuah konsep kesempurnaan dari idealisme mereka. Travis tahu apa yang dia inginkan, dan dia tahu itu semua tidak akan jatuh tiba-tiba di atas tempat tidurnya, jadi ia terus berusaha, meskipun lama kelamaan dia hanya terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Lagipula, bukankah kita juga seperti itu?

Long live Anti-Heroes!

Honorable Mention:

Frank Darbo – Super (2009), Dave Lizewski – KickAss (2010), Mike & Mallory – Natural Born Killers (1994), Vincent & Jules – Pulp Fiction (1994).