The Past (2013) – Lari dari Masa Lalu

Asghar Farhadi memang sudah terbukti kelihaiannya dalam meracik film-film drama realis. Setelah A Separation mendapatkan penghargaan di Oscar 2011 sebagai Best Foreign Film dan juga dinominasikan sebagai Best Original Screenplay (that’s quite great for an Iranian film), sutradara asal Iran ini meraih nominasi Golden Globe 2014 dan Palme d’Or di Cannes Film Festival 2014 dengan kembali berbicara tentang perceraian di film berikutnya yang ia produksi bersama tiga production company asal Perancis (Memento Films Production, France 3 Cinema, BIM Distribuzione) berjudul The Past.

Film yang mengambil lokasi di Perancis ini menceritakan tentang seorang pria bernama Ahmed (Ali Mosaffa) yang tiba-tiba harus mengetahui kenyataan pahit di balik perceraiannya saat ia bertemu dengan anak sulung perempuannya, Lucie (Pauline Burlet) sekembalinya ia ke Perancis untuk mengurus persidangan cerainya dengan mantan istrinya, Marie (Berenice Bejo). Kali ini Asghar mengeksplorasi kompleksitas sebuah perceraian di negara yang berpaham liberal, dan tidak seperti film sebelumnya, ia memasukkan unsur orang ketiga bernama Samir (Tahar Rahim) dalam film ini. Konflik dipicu oleh Lucie yang menceritakan pada Ahmed bahwa hubungan Marie dan Samir dimulai sejak Ahmed menceraikannya, dan yang mengejutkan adalah saat itu Samir masih beristri. Cinta segitiga ini pada akhirnya meluap tatkala sang istri dari Samir mengalami koma karena mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Marie dan mencoba bunuh diri.

Masih terdengar seperti soap opera atau melodrama biasa? Oke, akan ada beberapa subtle twist yang akan kalian temui dan ruang lingkup konflik yang semakin meluas tiap kalian menghabiskan menit demi menit yang cukup melelahkan dengan tempo film yang juga cukup lambat dan durasi yang lumayan panjang (130 menit), dan kalian sebaiknya tidak mengetahuinya sampai kalian menontonnya sendiri dan terkejut akan betapa hebatnya Asghar Farhadi menggambarkan situasi perceraian yang ditengarai oleh manusia-manusia yang lemah dalam menghadapi konsekuensi dari apa yang telah mereka perbuat di masa lalu. Seperti judulnya, kalian akan cepat merasa akrab dengan tiap karakter yang lemah dan naif di film ini. Mereka sama-sama punya mimpi untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik, namun mereka memilih untuk lari dari persoalan-persoalan di masa lampau yang seharusnya malah mereka hadapi. Layaknya kita—atau mungkin beberapa orang yang sering kita temui dalam kehidupan kita—mereka pikir mereka bisa lari, padahal mereka tahu mereka lemah. Uniknya, biarpun fokus permasalahan ini terjadi di masa lalu—yang kemudian diungkapkan satu persatu—pemaparan masalah hanya menggunakan dialog antar karakter dan didukung oleh akting yang luar biasa dari mereka. Tidak akan ada flashback sequence dan alur film ini linear dari awal sampai akhir.

Ciri khas dari sang maestro Asghar Farhadi adalah setiap film yang ia buat seperti sebuah studi kasus tentang culture versus human. Ia selalu menantang setiap paham kebudayaan dalam pengaruh mereka terhadap konflik sosial yang tercipta karena sifat-sifat alamiah manusia. Pada A Separation, ia menantang paham konservatif dalam terhambatnya penyelesaian masalah perceraian yang terjadi karena perbedaan kepentingan yang manusiawi antar masing-masing pihak. Kini, dia menantang paham liberal dalam memfasilitasi orang-orang bodoh untuk menghancurkan keluarga mereka sendiri. Kelakuan Marie yang susah move-on dan memilih mencari pelampiasan, Samir yang jenuh dan lelah akan kehidupan rumah tangganya, Ahmed yang idealis namun terlalu toleran, dan Lucie—si darah muda—yang menyulut ledakan konflik antar tokoh karena melakukan hal yang ia anggap benar dengan cara yang salah dapat digambarkan sebagai the worst of liberal civilization’s product. Tentu saja, bukan berarti paham konservatif lebih baik dari liberal, karena Asghar sudah membahasnya di A Separation. Setiap pemikiran dan paham, sehebat apapun itu, pasti memiliki kekurangan, dan hal ini yang selalu Asghar Farhadi coba untuk eksploitasi dan tantang di tiap filmnya.

Meskipun membahas tema yang agak tabu, namun The Past adalah film yang cocok untuk ditonton bersama keluarga. Film ini bebas dari segala bentuk adegan dewasa. Meskipun seperti yang sudah gue bilang bahwa temponya lambat dan durasinya lumayan lama, film ini memiliki tone yang bersahabat. Dengan pendekatan yang family-oriented, The Past akan membuat kita merenungi seberapa pentingnya kita harus menjaga keluarga kita dengan menyikapi setiap permasalahan dengan bijak.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *