The Man from U.N.C.L.E. (2015) – S.T.Y.L.E.

“Agar bisa lebih menarik perhatian dan menghibur penonton, suatu film harus mempunyai gaya yang kuat, baik lewat performa casts, penyuntingan, musik, serta dialog dan karakterisasi”. Pernyataan tersebut merupakan sebuah gagasan yang tidak salah. Semua aspek yang telah disebutkan memang penting untuk mendukung laku atau tidaknya sebuah film di bioskop, dan The Man from U.N.C.L.E. memiliki kekuatan gaya di dalam setiap aspeknya.

Setelah berakhirnya Perang Dunia Ke-II, seorang agen CIA dengan latar belakang perampok bernama Napoleon Solo (diperankan oleh Henry Cavill) ditandemkan dengan seorang agen KGB bernama Ilya Kuryakin (diperankan oleh Armie Hammer) untuk mencegah pembangunan silo nuklir oleh sepasang aristokrat bernama Victoria (diperankan oleh Elizabeth Debicki) dan Alexander (diperankan oleh Luca Calvani). Bagaimana caranya? Layaknya rutinitas film action, mereka harus menyamar. Solo menjadi ‘kolektor’ barang antik, Ilya menjadi seorang tunangan dari gadis bengkel bernama Gaby (diperankan oleh Alicia Vikander) yang merupakan anak dari professor yang bekerja di silo nuklir tersebut (diperankan oleh Christian Berkel).

Meskipun gaya film yang disuguhkan tidak cukup orisinil untuk bisa dibilang khas, namun kekuatan karakter serta hubungan antar tokoh dari Solo, Ilya, dan Gaby mampu memberi film yang disutradarai Guy Ritchie ini warna yang berbeda dari film-film action lain di tahun ini, dan juga bisa dibilang sebagai pemanis yang membuat film ini jadi tidak membosankan. Cukup banyak kadar humor segar yang disajikan lewat twist-twist kecil serta kelakuan konyol ketiga tokoh utama tersebut yang membuat mereka jadi terlihat kekanak-kanakan. Ada dua adegan favorit gue di sini. Pertama: saat Ilya dan Solo—kedua pria bertubuh kekar dan maskulin—berdebat tentang mitch-match belt Paco Rabbane dan gaun Dior di sebuah butik. Kedua: Saat mereka berdua membobol brangkas di sebuah laboratorium rahasia. Cukup konyol, namun tetap bergaya. Oh ya, pemilihan kendaraan, desain kostum, dan desain set serta lokasi pengambilan gambar juga terlihat sangat berkelas. Mungkin bisa disejajarkan dengan film-film James Bond era Roger Moore. Para old style fashion & automotive enthusiast akan sangat gembira menyaksikan koleksi-koleksi yang memuaskan hasrat mereka di film ini.

Yang bermasalah adalah: yang bisa diunggulkan dalam film ini hanya gayanya. Substansi plot dan premis film ini tidak banyak berbeda—bahkan kalah—dari film-film action sebelumnya. Film yang diangkat dari serial televisi tahun 60’an ini juga tidak menawarkan elevasi intensitas ketegangan dari awal sampai akhir. Bila digambarkan lewat kurva, tingkat antusiasme penonton akan meningkat di Act 1 dan perlahan-lahan menurun di akhir Act 2. Act 3? Hambar, namun yah, penuh dengan gaya. Seperti makanan cantik yang sering kita beli di restoran mahal. Secara kasar, dapat dibilang bahwa film ini adalah film gaya-gayaan.

Bagi gue, banyak film action yang bisa membuat kita seakan menontonnya di atas kursi listrik, dan The Man from U.N.C.L.E. bukanlah salah satu dari film tersebut. Namun jika kalian adalah orang yang senang menghabiskan uang untuk mengapresiasi gaya, maka The Man from U.N.C.L.E. adalah sebuah galeri old-fashioned bourgeois yang luar biasa dan cukup murah untuk kalian kunjungi. Hal yang dapat dipelajari dari film ini: yang penting gaya!

P.S.: Is it just me or does Elizabeth Debicki looks like Audrey Hepburn with too much make-ups?

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5

6 Film dengan Teka-Teki yang Tak Pernah Terjawab

Kita pernah dibuat terkagum-kagum oleh bagaimana Christopher Nolan mampu menyelipkan petunjuk-petunjuk kecil di balik misteri ending film Inception. Ya, sebagaimana layaknya sulap dan teori konspirasi bekerja, manusia adalah makhluk yang senang dibuat penasaran setengah mati oleh hal-hal yang ada di luar batas kemampuan bernalar mereka. Bahkan lingkungan pergaulan kita pun dengan sembarangan menciptakan sendiri sebuah istilah untuk film-film yang penuh teka-teki seperti Inception, yaitu “film mikir”.

Tidak seperti Inception, ada beberapa film dengan teka-teki yang ditinggalkan oleh sutradara dan penulisnya tanpa ada satu jawaban pasti dan hanya bisa diinterpretasikan oleh penonton dan kritikus film dengan berbagai macam cara. Meminjam istilah pergaulan kita, film-film yang bakal gue diskusikan di daftar ini bisa dibilang adalah “film-film mikir tingkat dewa”. Bagi kalian yang senang melatih kemampuan berpikir kalian dengan misteri-misteri yang rumit dan membingungkan, ini akan menjadi daftar film yang bisa membuat kalian merasa tertantang.

1. Eyes Wide Shut (1999) directed by Stanley Kubrick

Tentang Apa?: Setelah sang istri yang bernama Alice (diperankan oleh Nicole Kidman) mengakui bahwa ia pernah berfantasi seksual dengan seorang pria yang pernah ia temui, seorang dokter bernama Bill (diperankan oleh Tom Cruise) secara tidak sengaja mendapati dirinya terjebak di dalam lingkaran pengkultusan seksualitas dan perzinahan.

Apa Yang Membingungkan?: Beberapa penggemar teori konspirasi mempunyai dugaan kuat bahwa sang sutradara ingin mengungkap tirai dari organisasi rahasia umum yang beranggotakan para elit dan pemegang kekuasaan penting (Illuminati, Freemason dll). Segala detail yang ada di dalam film ini sangat merujuk ke arah sana, mulai dari dekorasi mansion Ziegler yang dipenuhi simbol-simbol politeisme Mesir kuno hingga penamaan karakter yang seakan menjadikan film ini sebagai alegori dari sebuah konspirasi besar di akhir zaman. Belum lagi ditambah fakta bahwa sang sutradara, Stanley Kubrik, meninggal tepat lima hari setelah ia menyerahkan potongan terakhir dari film ini kepada distributor film. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa alur cerita film yang membingungkan ini seperti memberi kesan bahwa apa yang dialami Bill hanyalah sebuah manifestasi psikologi terhadap obsesinya akan eksplorasi dan kepuasan seksual. Sampai sekarang, belum ada teori yang memuaskan tentang misteri dari film yang sangat gamblang menggambarkan sebuah kegiatan masquerade orgy ini, namun film ini tetap menjadi sangat menarik untuk disimak karena, yah, Tom Cruise dan Nicole Kidman.

2. Primer (2004) directed by Shane Carruth

Tentang Apa?: Sekelompok pemuda yang bereksperimen untuk membuat sebuah mesin waktu sederhana.

Apa Yang Membingungkan?: Jika ada teman kalian yang baru menonton film ini sekali dan bilang bahwa dia mengerti tentang keseluruhan ceritanya, maka entah dia adalah seorang pembohong atau delusional. Akan sangat jelas bagi kalian setelah menonton lebih dari dua kali bahwa Primer bukanlah sebuah film yang bersifat naratif dan mampu dijelaskan secara mudah. Beberapa kritikus film bahkan mengibaratkan Primer seperti sebuah dokumentasi para ilmuwan gila tanpa ada eksposisi yang jelas dan kita sebagai penonton seakan-akan hanya menguping percakapan dan mengintip kejadian yang tidak kita mengerti maknanya, namun sangat menarik untuk disaksikan. Ada beberapa teori yang dibuat oleh penonton yang bisa diandalkan untuk membantu kalian memahami cerita. Film ini tidak akan memberikan kalian kepuasan sains fiksi yang dipaparkan dengan sederhana seperti teori wormhole di Interstellar, namun jelas akan membuat kalian menebak-nebak dan menonton film ini lebih dari sekali.

3. Cache (2005) directed by Michael Haneke

Tentang Apa?: Sebuah keluarga diteror oleh kiriman kaset misterius yang berisi rekaman-rekaman pengamatan yang diambil dari luar rumah mereka. Lama kelamaan, sang peneror semakin merambah ke permasalahan pribadi serta rahasia-rahasia kelam di masa lalu sang suami yang selama ini ia sembunyikan dari istrinya.

Apa Yang Membingungkan?: Film ini awalnya terlihat biasa saja dan mudah dicerna sampai pada akhirnya kita dikejutkan pada kenyataan bahwa film ini TIDAK mengungkapkan siapakah sang peneror tersebut di akhir film. Kita akan mulai menonton ulang dan membaca semua pertanda-pertanda kecil yang diberikan sang sutradara sampai akhirnya kita selesai menonton dan masih tidak mengerti. Roger Ebert, kritikus film ternama, bahkan membahas film ini lewat jurnal pribadinya. Beberapa penonton juga menyebutkan bahwa ada beberapa petunjuk kecil di tengah alur cerita dan SATU petunjuk besar di adegan terakhir film ini yang ditinggalkan oleh sang sutradara untuk kita menebak sendiri. Gue sudah mengetahui apa petunjuknya, dan gue pribadi merasa itu masih belum cukup kuat. Entah. Silahkan kalian tonton sendiri.

4. Donnie Darko (2001) directed by Richard Kelly

Tentang apa?: Seorang pemuda dengan permasalahan psikologis bernama Donnie Darko (diperankan oleh Jake Gyllenhaal) mengalami keanehan-keanehan beruntun dalam hidupnya, termasuk mesin jet pesawat yang jatuh tepat di atas atap rumahnya dan kemunculan sesosok kelinci raksasa bertopeng tengkorak yang selalu menghantuinya.

Apa Yang Membingungkan?: Mungkin tidak terhitung jumlahnya betapa banyak teori yang dibuat oleh para penonton terkait apa sebenarnya yang dialami oleh Donnie dan mengapa dia melakukan hal-hal gila di dalam film yang mengeksploitasi eksistensialisme ini. Tidak seperti Primer, film ini koheren secara naratif dan teknis, sehingga tidak membuat para penonton kesulitan untuk mengikuti film ini dari awal sampai akhir. Belum lagi keberadaan kakak beradik Jake & Maggie Gyllenhaal yang bisa membuat lelaki dan perempuan betah untuk tidak beranjak dari layar. Namun ending film yang sangat gelap dan misterius akan menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi dari awal. Website resmi film ini pun memberikan penjelasan yang cukup sederhana–walaupun nggak sederhana-sederhana amat–namun jika kalian melihat kolom komentar dan membaca teori-teori yang dikemukakan oleh penonton lain, kalian akan sadar bahwa kompleksitas detail Donnie Darko akan menjadikan film ini jauh lebih baik ditinggalkan begitu saja dengan membiarkan penonton menjelaskan sendiri maknanya.

5. Mulholland Drive (1999) directed by David Lynch

Tentang Apa?: Betty (diperankan oleh Naomi Watts), seorang gadis yang mengejar mimpinya untuk menjadi aktris Hollywood, harus menolong seorang gadis amnesia yang selamat dari kecelakaan tragis (diperankan oleh Laura Harring) untuk menemukan siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya.

Apa Yang Membingungkan?: David Lynch, The Maestro of Bizarre, membuka film ini dengan sekuens yang…yah, artistically bizarre! Sekumpulan pasangan berdansa jitterbug dengan latar belakang magenta dan kemunculan Betty serta dua orang tua bermimik absurd yang merangkulnya sambil tersenyum ke arah cahaya terik yang menyinari mereka. Lalu kemudian alur film berjalan dengan sederhana sampai pada Act 3 yang mengacaukan dugaan kita tentang apa yang sebenarnya film ini berusaha ceritakan. Beberapa film kritikus menyatakan bahwa Mulholland Drive adalah sebuah teka-teki yang menyampaikan pesan penting tentang kondisi industri film Hollywood dan para pekerja serta aktrisnya yang sedang dirundung kekacauan pada masa itu. Lagipula, bukan teka-teki namanya kalau tidak ada petunjuknya. Sebelum dan sesudah film ini rilis, David Lynch menyatakan bahwa dia tidak akan mengungkap apa makna sebenarnya dari Mulholland Drive bagi sang sutradara sendiri. Namun layaknya Donnie Darko, beberapa penonton–yang sungguh berdedikasi tinggi–mempublikasikan petunjuk-petunjuk di website resmi film ini yang bisa kita gunakan untuk memecahkan misteri di balik keanehan Mulholland Drive.

6. Memento (2000) directed by Christopher Nolan

Tentang Apa?: Leonard Shelby (diperankan oleh Guy Pearce), seorang pria yang menderita short-term memory loss, harus mencari siapa pembunuh istrinya dengan melakukan investigasi independen dan mentato setiap petunjuk yang ia temukan di tubuhnya agar ia tak pernah melupakannya.

Apa Yang Membingungkan?: Sebelum Inception dan The Dark Knight, Christopher Nolan telah lebih dahulu membuat Memento, sebuah thriller masterpiece dengan struktur cerita yang expensively unconventional dan ending yang membuat kepala kita seakan meledak-ledak dan butuh jawaban pasti tentang siapa yang membunuh istri Leonard. Kita dibuat merasa konyol oleh Christopher Nolan yang telah memasukkan kita ke dalam kepala Leonard dengan mempertanyakan di akhir film apakah Leonard benar-benar dapat dipercaya karena Teddy (diperankan oleh Joe Pantoliano) yang kita curigai dari awal pada akhirnya menjadi satu-satunya tokoh yang paling mampu kita percayai. Apakah Leonard yang ternyata membunuh istrinya sendiri? Apakah ada permainan manipulasi di antara Leonard, Teddy, serta seorang bartender bernama Natalie (diperankan oleh Carrie-Anne Moss) yang memiliki femme fatale gestures? Tidak ada jawaban yang tepat tentang hal ini dan tidak seperti Inception, Nolan tidak memberikan pernyataan apapun terkait hal ini.

Sebagai penutup, perlu gue peringatkan satu hal. Tidak direkomendasikan bagi kalian untuk membuka tautan yang gue masukkan di artikel ini terkait petunjuk dan penjelasan untuk setiap film, kecuali kalian sudah menonton film-film tersebut lebih dari dua kali dan masih benar-benar tidak mengerti. Tantangan itu mahal, namun lebih mahal lagi harga yang harus kita bayar jika kita menjadi orang yang gampang menyerah terhadap tantangan. Jadi selamat menonton dan selamat bersenang-senang!

The Physician (2014) – Science & Religion

Sangat mengherankan bagi gue ketika mengetahui bahwa sampai artikel ini ditulis, belum banyak orang yang menonton film historical epic yang diangkat dari novel karya Noah Gordon ini. Mungkin karena ini film Jerman yang memiliki sedikit nudity content dan kalah pamor dengan Exodus: Gods and Kings yang tanggal rilisnya berdekatan pada tahun lalu. Secara tema dan alur cerita pun, sebenarnya film yang disutradari oleh Philipp Stolzl dan ditulis oleh Jan Berger ini sangat penting untuk disimak, terutama bagi rakyat Indonesia yang hidup dalam keberagaman suku dan agama.

Di zaman pertengahan Eropa, saat ilmu penyembuhan yang berkembang di Roma telah terlupakan akibat kekuasaan gereja yang menganggap semua kegiatan penyembuhan medis adalah sihir dan setiap pelakunya akan dihukum sampai mati, seorang pemuda Kristiani bernama Rob Cole (diperankan oleh Tom Payne) ditinggal mati oleh ibunya yang terjangkit ‘side sickness’ (yang sekarang dikenal dengan ‘appendicitis’) sewaktu kecil karena pihak gereja melarang ibunya untuk berobat pada seorang ‘barber’ (diperankan oleh Stellan Skarsgard). Saat ia beranjak remaja dan akhirnya menjadi ‘anak magang’ dari barber tersebut, ia mendengar kabar bahwa terdapat seorang tabib termahsyur di dunia bernama Ibn Sina (diperankan oleh Ben Kingsley) yang bisa mengobati segala macam penyakit. Dengan dibekali pengetahuan bahwa umat Kristiani akan dibunuh saat menginjak tanah Muslim, Rob mengembara dari London menuju Isfahan untuk belajar dengan Ibn Sina dengan berpura-pura menjadi seorang penganut Yahudi bernama Jesse bin Benjamin. Di Isfahan, Rob harus menghadapi tantangan yang muncul satu persatu disebabkan oleh politik agama yang dipengaruhi bangsa Seljuk dan tirani Shah Ala ad Daula (diperankan oleh Olivier Martinez) demi membawa kembali penerangan terhadap kebenaran dan ilmu pengetahuan di zaman kegelapan.

Meskipun harus diakui bahwa film ini adalah hasil rajutan antara fiksi dan sejarah, The Physician menawarkan pandangan yang cenderung skeptis terhadap kontribusi agama dan sains dalam kemajuan peradaban manusia. Bukan hanya doktrin Kristiani yang disindir pada film ini, namun propaganda politik Islam fundamentalis dan ajaran Yahudi juga disinggung sebagai beberapa hal dalam sejarah yang menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan. Memang terdengar provokatif, namun tidak mengeneralisir karena film ini turut mempromosikan progresivitas ajaran agama lewat karakter Rob Cole, Ibn Sina, dan Mirdin yang berasal dari kepercayaan yang berbeda namun mampu melakukan gebrakan sains lewat pemikirian mereka yang kritis dan berorientasi pada kemanusiaan tanpa harus menjadi murtad.

Ibn Sina: “What are you proposing, Allah forbids. As does Yahweh. As does Jesus Christ.”

Rob Cole: “People are dying and we can only watch. How can that be the will of any God?”

Hal yang patut diperhatikan lagi dari film ini adalah bagaimana Ben Kingsley mampu membawakan sosok Ibn Sina dengan penuh kehormatan dan tetap menjadikannya manusiawi. Hal ini diperlihatkan pada pembawaan karakternya yang tenang, cerdas, dan bijaksana. Kendati demikian, layaknya karakter yang sepatutnya disebut manusiawi, Ibn Sina tetap tidak menganggap dirinya paling pintar dan bertanya dengan penuh rasa penasaran ketika ada seorang murid seperti Rob yang pada akhirnya mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui, meskipun Rob harus melakukan cara yang dilarang oleh agama mereka. Belum lagi tentang bagaimana Ibn Sina mengajarkan eksistensi dalam metafisika (Exists due to existence, existence is not the consequence of existing…) dan bagaimana dia juga beberapa kali merujuk pada filsafat Aristotle. Kita belum mengetahui bagaimana sebenarnya sejarah bicara, namun film ini memberi pesan—khususnya bagi para fundamentalis yang sering mengagungkan Ibn Sina sebagai tokoh Islam yang berperan penting dalam kemajuan ilmu kedokteran—bahwa keagamaan tidak selalu bertentangan dengan filsafat dan ilmu pengetahuan selama bertujuan untuk kemaslahatan manusia dan seisi dunia.

Shah Ala ad Daula: “Did Allah ever create a more lowly beasts than you?”

Dengan visual effect yang luar biasa mencengangkan dan akting yang prima dari para cast, The Physician adalah sebuah cerita yang penting disimak oleh siapapun yang memiliki keraguan dalam iman yang mereka tanamkan. Karena sejatinya pemikiran kritis, ilmu pengetahuan, dan rasa kemanusiaan jauh lebih mulia dalam membentengi iman seseorang daripada hasrat politik, rasa takut, dan kebencian.

Mission: Impossible Rogue Nation (2015) – Redefining the Impossible

Seperti yang telah film ini sukses lakukan, maka gue akan peduli setan terhadap segala macam pengenalan tokoh secara konvensional pada awal film dan langsung saja loncat pada inti bagaimana duet Tom Cruise dan Christopher McQuarrie ini telah sukses membangun intensitas tegangan tinggi lewat metode-metode yang bahkan menurut standar Hollywood pun terbilang nekat.

Oke, sudah lihat trailernya? Perlu kalian ketahui bahwa satu adegan yang kalian lihat saat Ethant Hunt bergelantungan di pintu pesawat yang sedang terbang itu bukan hasil dari kecanggihan CGI. Setelah melakukan stunt gila dengan memanjat dinding luar Burj Khalifa di M:I – Ghost Protocol, Tom Cruise melakukan aksi yang jauh lebih nekat dan berbahaya dengan menggelantungkan kedua telapak tangannya di luar pintu masuk pesawat Airbus yang sedang take-off dan terbang di ketingggian 5000 kaki tanpa stunt-double. Sejenak kalian akan menjadi buruk sangka pada produser film Hollywood yang seakan terlalu ambisius mengejar kesempurnaan dan tidak peduli terhadap nyawa seorang aktor. Tidak salah memang, kalian orang yang baik, namun bagaimana perasaan kalian saat mengetahui bahwa Tom Cruise sendiri yang menjadi produser utama film ini? Masih belum kaget? Bagaimana dengan fakta bahwa usia Tom Cruise saat memproduksi film ini sudah mencapai 53 tahun?

Gue yang percaya terhadap kemurnian produksi adegan pesawat ini juga tidak sedikit pun kecewa dengan keseluruhan film yang memakan budget US$150 juta ini. Malah, gue sangat kagum dengan skrip dan plot yang sangat cerdas dan komikal (“I can neither confirm nor deny…”) serta crafting dengan camera movement dan montage yang inventif. Keberadaan Simon Pegg sebagai Benji lagi-lagi mampu memecah tawa di tengah tegangan tinggi penuh aksi yang dilancarkan Tom Cruise dan tandem partner-nya Rebecca Ferguson (sebagai Ilsa Faust). Aktris asal Swedia tersebut berhasil mencuri banyak perhatian di film ini karena aktingnya sebagai triple agent yang sangat meyakinkan dan–sama seperti Tom–melakukan semua aksinya tanpa stunt double.

Perlu gue tekankan bahwa stunts dari film yang bercerita tentang penghidupan kembali Impossible Mission Forces (IMF) dengan menjalankan misi pemusnahan The Syndicate (organisasi teroris terselubung) ini tidak hanya mengandalkan adegan pesawat terbang yang ada sebagai pembukaan film saja. Ada beberapa adegan gila lain yang patut kalian saksikan langsung, seperti bagaimana Ethan harus menyelam selama tiga menit lebih tanpa memakai tabung oksigen dengan tekanan bawah air yang rendah. Adegan ini–lagi-lagi–diproduksi langsung di bawah air tanpa stunt double. Jika kalian menganggap tiga menit itu sebentar, coba saja tahan nafas kalian selama dua menit. Tidak kuat? Sekarang bandingkan dengan fakta bahwa pada saat produksi, Tom Cruise harus menahan nafas selama enam setengah menit. Belum lagi adegan di saat Ethan meloloskan diri saat diborgol telanjang dada di tiang besar. Tom sepertinya mempunyai ambisi menghidupkan nama besar film ini dengan membuat metode produksi yang benar-benar semustahil judul filmnya demi hasil yang mustahil pula hebatnya.

Oke, mungkin gue memang terlalu banyak berkomentar pada proses produksi yang mustahil tersebut dibanding pada konten cerita, tapi seperti yang sudah gue terangkan sebelumnya bahwa plot dan skrip ini sangat cerdas dan inventif. Tidak ada konten yang terlalu menyimpang perihal kompleksitas drama hubungan internasional yang ada di dalam film ini, malah M:I – Rogue Nation berhasil memaparkan kompleksitas tersebut dalam bahasa yang lebih mudah dipahami publik awam tanpa menjadikannya bias. Ada sedikit kekurangan memang, bagi mereka yang bermasalah dengan male-gaze, di adegan pada saat Ilsa berganti pakaian setelah selesai memberikan cardio-pulmonary shock pada Ethan. Terakhir, perlu gue tekankan lagi bahwa sang sutradara Christopher McQuarrie serta ketiga pemeran tokoh-tokoh sentral di film ini (Tom Cruise, Rebecca Ferguson, dan Simon Pegg) patut diberikan pujian atas berhasilnya mereka menjadikan M:I – Rogue Nation sebagai film aksi paling nekat di tahun 2015.

Setidaknya sampai saat ini.

Distopiana Rating: 4 out of 5.

The Tale of Princess Kaguya (2014) – Cantik itu Luka

Studio Ghibli memang nggak ada matinya. Sudah diakui oleh kritikus dan publik bahwa studio animasi ini mampu menghasilkan mahakarya yang menyentuh kehidupan sehari-hari dengan kesederhanaan, padat akan pesan moral, dan tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Sebut saja Kiki’s Delivery Service, My Neighbor Totoro, Grave of The Fireflies, dan Spirited Away, maka akan tergugah jiwa-jiwa mereka para manusia yang telah menyaksikan kisah-kisah mengharukan tersebut. Pada 2013 kemarin, Studio Ghibli kembali merilis dua mahakarya yang dihasilkan Hayao Miyazaki (The Wind Rises) dan Isao Takahata (The Tale of Princess Kaguya) di tahun yang sama dan kembali menuai kesuksesan dari kedua film tersebut baik secara kritik maupun komersil. Dari kedua film animasi yang telah gue sebutkan, gue akan bahas satu mahakarya berjudul The Tale of Princess Kaguya yang dihasilkan oleh Isao Takahata, seseorang yang mengaku tidak bisa menggambar meskipun caranya merancang storyboard malah memperlihatkan sebaliknya.

Beberapa animator banyak yang berkomentar bahwa seiring berkembangnya era digital, hand-drawn animation kini telah mati. Lewat film animasi yang ia klaim sebagai karya terakhirnya, sang animator yang memulai karirnya di Toei Animation ini membuktikan bahwa ungkapan itu terlalu dibesar-besarkan. Keseluruhan film yang berdurasi 137 menit ini diciptakan oleh hand-drawn animation dari tangan Isao sendiri dengan gaya impresionis menggunakan cat air yang sedikit mirip dengan My Neighbor Yamadas yang ia ciptakan 16 tahun yang lalu. Sederhana. Namun kita merindukan kesederhanaan, bukan?

Film ini mengambil referensi cerita dari dongeng rakyat Jepang kuno tentang seorang petani bambu yang menemukan seorang bayi kecil di dalam sebuah batang bambu yang tiba-tiba memancarkan sinar terang di malam hari. Sang petani kemudian merawat bayi itu bersama istrinya hingga tumbuh dengan sangat cepat menjadi seorang gadis yang cantik. Belum lagi, sang petani juga menemukan emas berlimpah dan kain yang secara ajaib berada di dalam sebuah batang bambu sehingga pada akhirnya sang ayah dan ibu memutuskan untuk pindah ke kota dan menjadi bangsawan di sana. Sang gadis periang yang sudah terbiasa dengan kehidupan pedesaan dan bermain dengan teman-temannya yang sesama anak petani pun pada awalnya menolak, namun akhirnya harus menurut pula pada kehendak ayahnya yang ambisius. Saat menjadi bangsawan, sang gadis yang akhirnya diberi nama Kaguya ini menyadari bahwa kehidupan seorang bangsawan sangat penuh dengan tipu daya dan keserakahan. Dia yang merindukan manisnya canda tawa dengan teman-temannya di desa pun akhirnya harus menjalani peristiwa demi peristiwa yang—seperti pada animasi Studio Ghibli biasanya—mampu membuat kita merenungkan kembali cara pandang kita terhadap kepalsuan duniawi yang tercipta dari obsesi setiap manusia akan kepemilikan materi.

Satu hal yang menarik dibahas di film ini adalah bagaimana kecantikan berpotensi besar membawa bencana bagi si penyandang dan keluarganya. Kecantikan adalah penyakit, sama seperti yang pernah dibahas oleh Eka Kurniawan di novelnya yang berjudul Cantik itu Luka. Dalam film ini, diperlihatkan saat Putri Kaguya dilamar oleh lima orang bangsawan, kelima lelaki ini berpuisi dan mengibaratkan kecantikannya layaknya harta benda yang keberadaannya mustahil di dunia ini. Saat Putri Kaguya mengadakan sayembara pada mereka untuk membuktikan cintanya dengan membawa harta benda yang mereka sebutkan, kelima bangsawan tamak itu pun kelabakan dan menghalalkan segara cara agar Putri Kaguya mau menerima lamaran mereka atas pertimbangan apapun. Film ini dengan sangat baik membuat sebuah alegori tentang kehidupan bangsawan dan wanita-wanita cantik yang penuh oleh derita dan kepalsuan dunia, tidak peduli di zaman tradisional maupun modern.

The Tale of Princess Kaguya telah meraih nominasi Best Animated Feature Film di Oscar 2015, dan jika gaya impresionis yang unik, cerita yang sederhana namun powerful, serta musical scoring yang diisi oleh sang maestro Joe Hisaishi tidak mampu membuatmu mengakui bahwa Studio Ghibli telah membuat salah satu film animasi terbaik sepanjang masa lewat The Tale of Princess Kaguya, maka gue nggak tahu harus gimana lagi.