The Tale of Princess Kaguya (2014) – Cantik itu Luka

Studio Ghibli memang nggak ada matinya. Sudah diakui oleh kritikus dan publik bahwa studio animasi ini mampu menghasilkan mahakarya yang menyentuh kehidupan sehari-hari dengan kesederhanaan, padat akan pesan moral, dan tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Sebut saja Kiki’s Delivery Service, My Neighbor Totoro, Grave of The Fireflies, dan Spirited Away, maka akan tergugah jiwa-jiwa mereka para manusia yang telah menyaksikan kisah-kisah mengharukan tersebut. Pada 2013 kemarin, Studio Ghibli kembali merilis dua mahakarya yang dihasilkan Hayao Miyazaki (The Wind Rises) dan Isao Takahata (The Tale of Princess Kaguya) di tahun yang sama dan kembali menuai kesuksesan dari kedua film tersebut baik secara kritik maupun komersil. Dari kedua film animasi yang telah gue sebutkan, gue akan bahas satu mahakarya berjudul The Tale of Princess Kaguya yang dihasilkan oleh Isao Takahata, seseorang yang mengaku tidak bisa menggambar meskipun caranya merancang storyboard malah memperlihatkan sebaliknya.

Beberapa animator banyak yang berkomentar bahwa seiring berkembangnya era digital, hand-drawn animation kini telah mati. Lewat film animasi yang ia klaim sebagai karya terakhirnya, sang animator yang memulai karirnya di Toei Animation ini membuktikan bahwa ungkapan itu terlalu dibesar-besarkan. Keseluruhan film yang berdurasi 137 menit ini diciptakan oleh hand-drawn animation dari tangan Isao sendiri dengan gaya impresionis menggunakan cat air yang sedikit mirip dengan My Neighbor Yamadas yang ia ciptakan 16 tahun yang lalu. Sederhana. Namun kita merindukan kesederhanaan, bukan?

Film ini mengambil referensi cerita dari dongeng rakyat Jepang kuno tentang seorang petani bambu yang menemukan seorang bayi kecil di dalam sebuah batang bambu yang tiba-tiba memancarkan sinar terang di malam hari. Sang petani kemudian merawat bayi itu bersama istrinya hingga tumbuh dengan sangat cepat menjadi seorang gadis yang cantik. Belum lagi, sang petani juga menemukan emas berlimpah dan kain yang secara ajaib berada di dalam sebuah batang bambu sehingga pada akhirnya sang ayah dan ibu memutuskan untuk pindah ke kota dan menjadi bangsawan di sana. Sang gadis periang yang sudah terbiasa dengan kehidupan pedesaan dan bermain dengan teman-temannya yang sesama anak petani pun pada awalnya menolak, namun akhirnya harus menurut pula pada kehendak ayahnya yang ambisius. Saat menjadi bangsawan, sang gadis yang akhirnya diberi nama Kaguya ini menyadari bahwa kehidupan seorang bangsawan sangat penuh dengan tipu daya dan keserakahan. Dia yang merindukan manisnya canda tawa dengan teman-temannya di desa pun akhirnya harus menjalani peristiwa demi peristiwa yang—seperti pada animasi Studio Ghibli biasanya—mampu membuat kita merenungkan kembali cara pandang kita terhadap kepalsuan duniawi yang tercipta dari obsesi setiap manusia akan kepemilikan materi.

Satu hal yang menarik dibahas di film ini adalah bagaimana kecantikan berpotensi besar membawa bencana bagi si penyandang dan keluarganya. Kecantikan adalah penyakit, sama seperti yang pernah dibahas oleh Eka Kurniawan di novelnya yang berjudul Cantik itu Luka. Dalam film ini, diperlihatkan saat Putri Kaguya dilamar oleh lima orang bangsawan, kelima lelaki ini berpuisi dan mengibaratkan kecantikannya layaknya harta benda yang keberadaannya mustahil di dunia ini. Saat Putri Kaguya mengadakan sayembara pada mereka untuk membuktikan cintanya dengan membawa harta benda yang mereka sebutkan, kelima bangsawan tamak itu pun kelabakan dan menghalalkan segara cara agar Putri Kaguya mau menerima lamaran mereka atas pertimbangan apapun. Film ini dengan sangat baik membuat sebuah alegori tentang kehidupan bangsawan dan wanita-wanita cantik yang penuh oleh derita dan kepalsuan dunia, tidak peduli di zaman tradisional maupun modern.

The Tale of Princess Kaguya telah meraih nominasi Best Animated Feature Film di Oscar 2015, dan jika gaya impresionis yang unik, cerita yang sederhana namun powerful, serta musical scoring yang diisi oleh sang maestro Joe Hisaishi tidak mampu membuatmu mengakui bahwa Studio Ghibli telah membuat salah satu film animasi terbaik sepanjang masa lewat The Tale of Princess Kaguya, maka gue nggak tahu harus gimana lagi.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *