Mission: Impossible Rogue Nation (2015) – Redefining the Impossible

Seperti yang telah film ini sukses lakukan, maka gue akan peduli setan terhadap segala macam pengenalan tokoh secara konvensional pada awal film dan langsung saja loncat pada inti bagaimana duet Tom Cruise dan Christopher McQuarrie ini telah sukses membangun intensitas tegangan tinggi lewat metode-metode yang bahkan menurut standar Hollywood pun terbilang nekat.

Oke, sudah lihat trailernya? Perlu kalian ketahui bahwa satu adegan yang kalian lihat saat Ethant Hunt bergelantungan di pintu pesawat yang sedang terbang itu bukan hasil dari kecanggihan CGI. Setelah melakukan stunt gila dengan memanjat dinding luar Burj Khalifa di M:I – Ghost Protocol, Tom Cruise melakukan aksi yang jauh lebih nekat dan berbahaya dengan menggelantungkan kedua telapak tangannya di luar pintu masuk pesawat Airbus yang sedang take-off dan terbang di ketingggian 5000 kaki tanpa stunt-double. Sejenak kalian akan menjadi buruk sangka pada produser film Hollywood yang seakan terlalu ambisius mengejar kesempurnaan dan tidak peduli terhadap nyawa seorang aktor. Tidak salah memang, kalian orang yang baik, namun bagaimana perasaan kalian saat mengetahui bahwa Tom Cruise sendiri yang menjadi produser utama film ini? Masih belum kaget? Bagaimana dengan fakta bahwa usia Tom Cruise saat memproduksi film ini sudah mencapai 53 tahun?

Gue yang percaya terhadap kemurnian produksi adegan pesawat ini juga tidak sedikit pun kecewa dengan keseluruhan film yang memakan budget US$150 juta ini. Malah, gue sangat kagum dengan skrip dan plot yang sangat cerdas dan komikal (“I can neither confirm nor deny…”) serta crafting dengan camera movement dan montage yang inventif. Keberadaan Simon Pegg sebagai Benji lagi-lagi mampu memecah tawa di tengah tegangan tinggi penuh aksi yang dilancarkan Tom Cruise dan tandem partner-nya Rebecca Ferguson (sebagai Ilsa Faust). Aktris asal Swedia tersebut berhasil mencuri banyak perhatian di film ini karena aktingnya sebagai triple agent yang sangat meyakinkan dan–sama seperti Tom–melakukan semua aksinya tanpa stunt double.

Perlu gue tekankan bahwa stunts dari film yang bercerita tentang penghidupan kembali Impossible Mission Forces (IMF) dengan menjalankan misi pemusnahan The Syndicate (organisasi teroris terselubung) ini tidak hanya mengandalkan adegan pesawat terbang yang ada sebagai pembukaan film saja. Ada beberapa adegan gila lain yang patut kalian saksikan langsung, seperti bagaimana Ethan harus menyelam selama tiga menit lebih tanpa memakai tabung oksigen dengan tekanan bawah air yang rendah. Adegan ini–lagi-lagi–diproduksi langsung di bawah air tanpa stunt double. Jika kalian menganggap tiga menit itu sebentar, coba saja tahan nafas kalian selama dua menit. Tidak kuat? Sekarang bandingkan dengan fakta bahwa pada saat produksi, Tom Cruise harus menahan nafas selama enam setengah menit. Belum lagi adegan di saat Ethan meloloskan diri saat diborgol telanjang dada di tiang besar. Tom sepertinya mempunyai ambisi menghidupkan nama besar film ini dengan membuat metode produksi yang benar-benar semustahil judul filmnya demi hasil yang mustahil pula hebatnya.

Oke, mungkin gue memang terlalu banyak berkomentar pada proses produksi yang mustahil tersebut dibanding pada konten cerita, tapi seperti yang sudah gue terangkan sebelumnya bahwa plot dan skrip ini sangat cerdas dan inventif. Tidak ada konten yang terlalu menyimpang perihal kompleksitas drama hubungan internasional yang ada di dalam film ini, malah M:I – Rogue Nation berhasil memaparkan kompleksitas tersebut dalam bahasa yang lebih mudah dipahami publik awam tanpa menjadikannya bias. Ada sedikit kekurangan memang, bagi mereka yang bermasalah dengan male-gaze, di adegan pada saat Ilsa berganti pakaian setelah selesai memberikan cardio-pulmonary shock pada Ethan. Terakhir, perlu gue tekankan lagi bahwa sang sutradara Christopher McQuarrie serta ketiga pemeran tokoh-tokoh sentral di film ini (Tom Cruise, Rebecca Ferguson, dan Simon Pegg) patut diberikan pujian atas berhasilnya mereka menjadikan M:I – Rogue Nation sebagai film aksi paling nekat di tahun 2015.

Setidaknya sampai saat ini.

Distopiana Rating: 4 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *