The Physician (2014) – Science & Religion

Sangat mengherankan bagi gue ketika mengetahui bahwa sampai artikel ini ditulis, belum banyak orang yang menonton film historical epic yang diangkat dari novel karya Noah Gordon ini. Mungkin karena ini film Jerman yang memiliki sedikit nudity content dan kalah pamor dengan Exodus: Gods and Kings yang tanggal rilisnya berdekatan pada tahun lalu. Secara tema dan alur cerita pun, sebenarnya film yang disutradari oleh Philipp Stolzl dan ditulis oleh Jan Berger ini sangat penting untuk disimak, terutama bagi rakyat Indonesia yang hidup dalam keberagaman suku dan agama.

Di zaman pertengahan Eropa, saat ilmu penyembuhan yang berkembang di Roma telah terlupakan akibat kekuasaan gereja yang menganggap semua kegiatan penyembuhan medis adalah sihir dan setiap pelakunya akan dihukum sampai mati, seorang pemuda Kristiani bernama Rob Cole (diperankan oleh Tom Payne) ditinggal mati oleh ibunya yang terjangkit ‘side sickness’ (yang sekarang dikenal dengan ‘appendicitis’) sewaktu kecil karena pihak gereja melarang ibunya untuk berobat pada seorang ‘barber’ (diperankan oleh Stellan Skarsgard). Saat ia beranjak remaja dan akhirnya menjadi ‘anak magang’ dari barber tersebut, ia mendengar kabar bahwa terdapat seorang tabib termahsyur di dunia bernama Ibn Sina (diperankan oleh Ben Kingsley) yang bisa mengobati segala macam penyakit. Dengan dibekali pengetahuan bahwa umat Kristiani akan dibunuh saat menginjak tanah Muslim, Rob mengembara dari London menuju Isfahan untuk belajar dengan Ibn Sina dengan berpura-pura menjadi seorang penganut Yahudi bernama Jesse bin Benjamin. Di Isfahan, Rob harus menghadapi tantangan yang muncul satu persatu disebabkan oleh politik agama yang dipengaruhi bangsa Seljuk dan tirani Shah Ala ad Daula (diperankan oleh Olivier Martinez) demi membawa kembali penerangan terhadap kebenaran dan ilmu pengetahuan di zaman kegelapan.

Meskipun harus diakui bahwa film ini adalah hasil rajutan antara fiksi dan sejarah, The Physician menawarkan pandangan yang cenderung skeptis terhadap kontribusi agama dan sains dalam kemajuan peradaban manusia. Bukan hanya doktrin Kristiani yang disindir pada film ini, namun propaganda politik Islam fundamentalis dan ajaran Yahudi juga disinggung sebagai beberapa hal dalam sejarah yang menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan. Memang terdengar provokatif, namun tidak mengeneralisir karena film ini turut mempromosikan progresivitas ajaran agama lewat karakter Rob Cole, Ibn Sina, dan Mirdin yang berasal dari kepercayaan yang berbeda namun mampu melakukan gebrakan sains lewat pemikirian mereka yang kritis dan berorientasi pada kemanusiaan tanpa harus menjadi murtad.

Ibn Sina: “What are you proposing, Allah forbids. As does Yahweh. As does Jesus Christ.”

Rob Cole: “People are dying and we can only watch. How can that be the will of any God?”

Hal yang patut diperhatikan lagi dari film ini adalah bagaimana Ben Kingsley mampu membawakan sosok Ibn Sina dengan penuh kehormatan dan tetap menjadikannya manusiawi. Hal ini diperlihatkan pada pembawaan karakternya yang tenang, cerdas, dan bijaksana. Kendati demikian, layaknya karakter yang sepatutnya disebut manusiawi, Ibn Sina tetap tidak menganggap dirinya paling pintar dan bertanya dengan penuh rasa penasaran ketika ada seorang murid seperti Rob yang pada akhirnya mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui, meskipun Rob harus melakukan cara yang dilarang oleh agama mereka. Belum lagi tentang bagaimana Ibn Sina mengajarkan eksistensi dalam metafisika (Exists due to existence, existence is not the consequence of existing…) dan bagaimana dia juga beberapa kali merujuk pada filsafat Aristotle. Kita belum mengetahui bagaimana sebenarnya sejarah bicara, namun film ini memberi pesan—khususnya bagi para fundamentalis yang sering mengagungkan Ibn Sina sebagai tokoh Islam yang berperan penting dalam kemajuan ilmu kedokteran—bahwa keagamaan tidak selalu bertentangan dengan filsafat dan ilmu pengetahuan selama bertujuan untuk kemaslahatan manusia dan seisi dunia.

Shah Ala ad Daula: “Did Allah ever create a more lowly beasts than you?”

Dengan visual effect yang luar biasa mencengangkan dan akting yang prima dari para cast, The Physician adalah sebuah cerita yang penting disimak oleh siapapun yang memiliki keraguan dalam iman yang mereka tanamkan. Karena sejatinya pemikiran kritis, ilmu pengetahuan, dan rasa kemanusiaan jauh lebih mulia dalam membentengi iman seseorang daripada hasrat politik, rasa takut, dan kebencian.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *