The Man from U.N.C.L.E. (2015) – S.T.Y.L.E.

“Agar bisa lebih menarik perhatian dan menghibur penonton, suatu film harus mempunyai gaya yang kuat, baik lewat performa casts, penyuntingan, musik, serta dialog dan karakterisasi”. Pernyataan tersebut merupakan sebuah gagasan yang tidak salah. Semua aspek yang telah disebutkan memang penting untuk mendukung laku atau tidaknya sebuah film di bioskop, dan The Man from U.N.C.L.E. memiliki kekuatan gaya di dalam setiap aspeknya.

Setelah berakhirnya Perang Dunia Ke-II, seorang agen CIA dengan latar belakang perampok bernama Napoleon Solo (diperankan oleh Henry Cavill) ditandemkan dengan seorang agen KGB bernama Ilya Kuryakin (diperankan oleh Armie Hammer) untuk mencegah pembangunan silo nuklir oleh sepasang aristokrat bernama Victoria (diperankan oleh Elizabeth Debicki) dan Alexander (diperankan oleh Luca Calvani). Bagaimana caranya? Layaknya rutinitas film action, mereka harus menyamar. Solo menjadi ‘kolektor’ barang antik, Ilya menjadi seorang tunangan dari gadis bengkel bernama Gaby (diperankan oleh Alicia Vikander) yang merupakan anak dari professor yang bekerja di silo nuklir tersebut (diperankan oleh Christian Berkel).

Meskipun gaya film yang disuguhkan tidak cukup orisinil untuk bisa dibilang khas, namun kekuatan karakter serta hubungan antar tokoh dari Solo, Ilya, dan Gaby mampu memberi film yang disutradarai Guy Ritchie ini warna yang berbeda dari film-film action lain di tahun ini, dan juga bisa dibilang sebagai pemanis yang membuat film ini jadi tidak membosankan. Cukup banyak kadar humor segar yang disajikan lewat twist-twist kecil serta kelakuan konyol ketiga tokoh utama tersebut yang membuat mereka jadi terlihat kekanak-kanakan. Ada dua adegan favorit gue di sini. Pertama: saat Ilya dan Solo—kedua pria bertubuh kekar dan maskulin—berdebat tentang mitch-match belt Paco Rabbane dan gaun Dior di sebuah butik. Kedua: Saat mereka berdua membobol brangkas di sebuah laboratorium rahasia. Cukup konyol, namun tetap bergaya. Oh ya, pemilihan kendaraan, desain kostum, dan desain set serta lokasi pengambilan gambar juga terlihat sangat berkelas. Mungkin bisa disejajarkan dengan film-film James Bond era Roger Moore. Para old style fashion & automotive enthusiast akan sangat gembira menyaksikan koleksi-koleksi yang memuaskan hasrat mereka di film ini.

Yang bermasalah adalah: yang bisa diunggulkan dalam film ini hanya gayanya. Substansi plot dan premis film ini tidak banyak berbeda—bahkan kalah—dari film-film action sebelumnya. Film yang diangkat dari serial televisi tahun 60’an ini juga tidak menawarkan elevasi intensitas ketegangan dari awal sampai akhir. Bila digambarkan lewat kurva, tingkat antusiasme penonton akan meningkat di Act 1 dan perlahan-lahan menurun di akhir Act 2. Act 3? Hambar, namun yah, penuh dengan gaya. Seperti makanan cantik yang sering kita beli di restoran mahal. Secara kasar, dapat dibilang bahwa film ini adalah film gaya-gayaan.

Bagi gue, banyak film action yang bisa membuat kita seakan menontonnya di atas kursi listrik, dan The Man from U.N.C.L.E. bukanlah salah satu dari film tersebut. Namun jika kalian adalah orang yang senang menghabiskan uang untuk mengapresiasi gaya, maka The Man from U.N.C.L.E. adalah sebuah galeri old-fashioned bourgeois yang luar biasa dan cukup murah untuk kalian kunjungi. Hal yang dapat dipelajari dari film ini: yang penting gaya!

P.S.: Is it just me or does Elizabeth Debicki looks like Audrey Hepburn with too much make-ups?

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *