Inside Out (2015) – Outside In

Pixar tidak pernah berhenti menelurkan mahakarya yang emosional dengan cerita yang sederhana dan erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Setelah sukses membuat para penggemarnya berlinangan air mata dengan Finding Nemo (2009), Wall-E (2008), dan Up (2009), rumah produksi film animasi ini menghidupkan kelima emosi inti dalam pikiran seorang gadis berumur 11 tahun menjadi karakter-karakter yang sangat lucu lewat sebuah film animasi orisinil yang berjudul Inside Out.

Inti dari cerita ini sebenarnya sangat sederhana, bahkan mungkin bisa dikatakan yang paling sederhana dibandingkan film-film Pixar yang lain. Riley (disuarai oleh Kaitlyn Dias) yang baru saja menginjak usia puber mengalami krisis emosional saat keluarganya harus pindah dari Minnesota ke San Fransisco karena pekerjaan ayahnya. Itu saja. Sangat alamiah, bukan? Semua orang pernah mengalaminya. Yang membuat Inside Out menjadi sebuah film yang jenius adalah penggambaran interaksi interdependensi dari lima emosi inti yang berada di dalam pikiran Riley, yaitu Joy (disuarai oleh Amy Poehler), Sadness (disuarai oleh Phyllis Smith), Fear (disuarai oleh Bill Hader), Anger (disuarai oleh Lewis Black), dan Disgust (disuarai oleh Mindy Kaling). Mereka harus bekerja sama dalam membangun kembali infrastruktur di dalam pikiran Riley yang hancur satu persatu karena krisis emosional dan terpisahnya Joy serta Sadness dari panel emosi karena terhisap ke dalam lubuk terdalam pikiran Riley.

Biarpun Inside Out dapat dikatakan imajinatif, bukan berarti film animasi yang disutradarai oleh Pete Docter ini dibuat secara serampangan. Karakteristik dari kelima emosi inti serta dunia dongeng yang menjadi sistem pemikiran Riley diciptakan dengan menghormati kaidah-kaidah psikoanalisis yang dikemukakan Sigmund Freud dan Carl Jung. Freud menyebutnya sebagai ‘alam sadar’ atau consciousness, di mana emosi, kenangan, persepsi, dan keinginan berada di dalam sebuah struktur fungsional yang saling mempengaruhi satu sama lain dan berkembang seiring bertambahnya usia dan pengalaman seseorang. Penulis tidak akan bicara banyak tentang psikoanalisis karena ini bukan disiplin ilmu yang penulis tekuni secara akademis, namun sebagai seorang psychology enthusiast, penulis dapat asumsikan dengan aman bahwa film ini telah menempuh riset yang cukup panjang untuk bisa sampai sejauh dan serinci ini.

Mind Police: “Forget it, Jake. It’s Cloudtown.”

 

Yang lebih menarik dan membuat film ini menjadi jenius adalah bagaimana semua kompleksitas sistem alam sadar tersebut mampu dipaparkan dengan sangat menyenangkan sehingga mudah diserap penonton tanpa harus berpikir susah-susah. Penggambaran karakter Joy dan Sadness sebagai emosi yang memiliki emosi juga menarik untuk dianalisis lebih lanjut. Joy penuh dengan ketidakpastian dan menangis saat terjebak di dalam lubang pembuangan, namun dia tidak serta merta berubah menjadi Sadness ataupun Fear. Pemberian fungsi Sadness sebagai emosi yang berperan untuk menarik orang lain agar memberi perhatian lebih pada Riley pun sebenarnya rentan untuk dikritisi karena tidak semua orang peduli saat kita bersedih dan kesedihan lebih sering memberikan cerminan buruk pada sebuah pribadi sehingga menimbulkan respon Disgust dari orang-orang di sekitar, seperti pada saat Riley menangis tiba-tiba saat memperkenalkan dirinya di depan kelas. Sadness adalah emosi yang terkucilkan, dan memang pantas untuk terus berada di dalam lingkaran kecil yang diciptakan oleh Joy.

Inside Out bukan hanya film animasi yang sangat brilian dan penuh dengan emosi *pun intended*, namun juga merupakan salah satu film Pixar yang penting untuk ditonton oleh semua orang, tidak peduli berapa usia mereka. Film ini akan membekas cukup kuat di hati penontonnya serta memberikan perenungan panjang tentang manajemen emosi serta bagaimana kita seharusnya membuat keputusan-keputusan penting yang akan mengembangkan kepribadian kita dan menjawab pertanyaan terbesar dalam hidup:

“Akan jadi manusia yang seperti apa kita nanti?”

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *