Beginners (2010) – The History of Sadness

Secara umum dalam film, kesedihan memang berkaitan dengan tangis dan rasa sakit yang disajikan dengan skoring menyayat, narasi dan dialog yang melodramatis, serta akting yang meledak-ledak di tiap emosi yang ditampilkan sehingga semua karakternya terkesan seperti bipolar. Tidak banyak film-film unik yang menceritakan kesedihan dan kesendirian dengan cara yang cantik dan tidak berlebihan, namun penulis menemukan Beginners yang memenuhi kriteria untuk bisa penulis ulas.


Oliver (diperankan oleh Ewan McGregor) ditinggal mati oleh ibunya, Georgia (diperankan oleh Mary Page Keller) karena kanker. Enam bulan setelahnya, ayahnya, Hal (diperankan oleh Christopher Plummer) membuat pengakuan pada Oliver bahwa Hal sebenarnya gay. Didorong keinginan untuk menjadi dirinya sendiri seutuhnya, Hal bergabung dalam sebuah komunitas gay dan menjalin hubungan dengan Andy (diperankan oleh Goran Visnjic) sampai empat tahun kemudian Hal meninggal dan Oliver sendirian. Pada suatu hari, Oliver diundang oleh rekan kerjanya di sebuah agensi desain grafis untuk datang ke sebuah pesta kecil. Di pesta inilah ia bertemu dengan seorang gadis bernama Anna (diperankan oleh Melanie Laurent) yang akan menemaninya bersama-sama di dalam kesendiriannya.


Tiga hal yang unik di dalam film ini adalah: penyajian, alur cerita, dan performa akting. Ketimbang memaparkan kesendirian Oliver lewat ekspresi akting yang berlebihan, sutradara dan penulis Mike Mills lebih memilih untuk melakukan eksplorasi lewat medium fotografi, hand-drawing, dan street-graffiti (atau vandalisme) yang secara tematik Oliver sebut sebagai The History of Sadness (Sejarah Kesedihan). Untuk memanjakan penontonnya, film ini memberikan tone warna yang lembut serta background music yang membuat kita ikut menikmati kemurungan yang Oliver, Anna, dan Hal rasakan. Akting mereka pun di sini cukup minimalis untuk standar film drama. Dengan alur yang non-linear tanpa terkesan memaksa, film ini berhasil menyajikan kisah Oliver sebelum kesendirian dan setelah kedatangan Anna dalam hidupnya.


Selain berbicara tentang kesendirian dan kemurungan, film yang dibuat berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan ayah kandung sang sutradara sendiri ini juga berbicara tentang cinta secara luas dan sederhana. Kita akan diajak menelusuri kehidupan Oliver dan merasakan kehangatan cinta yang ia dapatkan sejak kecil, dimulai dari ibunya, kemudian dari ayahnya, lalu dari anjingnya Arthur, dan kemudian dari Anna. Di balik kemurungannya, Oliver adalah sosok anak yang penuh kasih sayang. Ia menemani ibunya pergi ke berbagai pameran seni dan bermain-main agar ibunya dapat melupakan sikap ayahnya yang dingin terhadapnya. Ia mendukung penuh keputusan ayahnya untuk menjadi seorang gay yang aktif dan terus berada di sampingnya sampai kematiannya. Ia pun membawa Arthur kemanapun ia pergi setelah itu, termasuk ke pesta kecil di mana ia bertemu Anna yang kemudian menjadi pendamping hidupnya yang setia. Bagi yang pernah menonton Lilting mungkin akan merasa sedikit familiar dengan premis dan kehangatan yang ditawarkan. Cinta tidak terbatas pada orientasi seksual, dan apa yang paling penting dari cinta adalah pengabdian dan ketulusan.

Beginners adalah jenis film yang bisa membuatmu tetap fokus menikmati cerita dari awal sampai akhir tanpa harus mengandalkan intensitas dramatik yang fluktuatif. Semuanya stagnan, dari awal sampai akhir. Bahkan adegan perkelahian Oliver dan Anna pun dibuat seminimalis mungkin sehingga terkesan tidak seperti berkelahi. Lagipula, biarpun film ini bermain di ranah kesedihan dan kesendirian, pada intinya Beginners juga membahas tentang cinta dengan kesimpulan yang begitu sederhana. You give love, and you’ll get love. Sesederhana itu, bukan?

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *