7 Film Terbaik untuk Pria-Pria Pecundang Asmara

Sering merasa putus asa terhadap diri kita karena terlalu lama sendiri dan tidak pernah bisa menjalin hubungan asmara yang baik dengan siapapun? Tenang, itu semua manusiawi. Penulis juga pernah mengalaminya. Jangan merasa terlalu cepat rendah diri, karena hal itu tidak selalu berarti bahwa kita adalah pribadi yang tidak pantas untuk dicintai. Bisa saja itu karena kita terlalu idealis memberikan kriteria pasangan hidup atau kita berada di dalam lingkungan sosial dengan iklim gersang yang tidak mampu menyuburkan bibit-bibit pasangan hidup yang ideal bagi kita. Bagian yang terpenting adalah: kita tidak sendirian, dan seburuk-buruknya kita menilai kehidupan cinta kita, masih ada kisah yang menarik untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan kita ke depannya. Tidak percaya? Berikut ini adalah daftar film-film terbaik bagi kita, pria-pria pecundang asmara, untuk disaksikan agar kita mampu merenungkan dengan damai tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan tanpa harus membanding-bandingkan keadaan kita dengan pria-pria beruntung di sekitar kita.

  1. Annie Hall (1977) directed by Woody Allen

Film yang menurut Roger Ebert menandai berakhirnya era “Hollywood Golden Age” ini bercerita tentang Alvy Singer (diperankan oleh Woody Allen) seorang stand-up comic melankolis yang memiliki tingkatan idealisme yang terlampau tinggi. Sayangnya, hal itu bukannya membuat hidupnya menjadi lebih bertaraf, namun malah jadi merepotkan dirinya sendiri, terutama dalam menjalani hubungannya dengan seorang gadis bernama Annie Hall (diperankan oleh Diane Keaton). Semua—bahkan hal-hal kecil pun—akan dikomentari oleh Alvy dan tak jarang membuat mentalnya depresi. Begitulah Alvy, seorang hardcore nerd nihilis yang bahkan kritis terhadap ‘kode’ dari wanita yang menyukainya. Tonton saja percakapan saat Annie dan Alvy bertemu pertama kali di lapangan tenis, dan kalian akan tahu sendiri.

  1. Ruby Sparks (2012) directed by Jonathan Dayton and Valerie Faris

Pernah membayangkan bagaimana jika seandainya gadis imajiner yang sering kalian impikan tiba-tiba hidup dan secara instan menjadi kekasih hati kalian? Hanya lelaki beruntung seperti Calvin (diperankan oleh Paul Dano) yang pernah secara ajaib mengalaminya. Seorang penulis novel itu suatu pagi dikejutkan oleh kemunculan Ruby (diperankan oleh Zoe Kazan), seorang gadis imajiner dengan kecantikan surgawi yang dijadikan inspirasi oleh Calvin untuk sebuah karakter di novel yang sedang ia tulis. Ruby hidup ke dunia nyata sebagai kekasih Calvin, dan ini bukanlah penipuan atau semacamnya karena ternyata Calvin bisa mengendalikan Ruby hanya dengan menuliskan karakternya di mesin tik sesuai yang ia inginkan. Calvin memiliki kontrol sempurna atas Ruby, sebuah keleluasaan yang diimpikan pria manapun di Bumi. Kehidupan asmara Calvin, sang introvert pecundang asmara, yang bagaikan mimpi indah pada akhirnya berubah menjadi mimpi buruk karena ironisnya Calvin menyadari bahwa ia tidak memiliki kontrol sempurna atas hubungan dan rasa cintanya dengan Ruby. Cerita dan naskah film ini ditulis oleh Zoe Kazan sendiri, dan mungkin itu sebabnya di samping berbicara tentang keseimbangan kuasa di dalam sebuah hubungan, film ini juga memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang tinggi.

  1. Her (2013) directed by Spike Jonze

Sutradara dari film Being John Malkovich ini membuat sebuah film yang membahas tentang interdependensi dari cinta, intelijensi buatan, dan filsafat keberadaan. Diceritakan Theodore (diperankan oleh Joaquin Phoenix) adalah seorang pemurung dan penyendiri yang bekerja sebagai penulis surat-surat cinta bagi mereka yang tidak mampu atau tidak mau menulis surat mereka sendiri. Setelah perceraiannya dengan Catherine (diperankan oleh Rooney Mara), Theodore membeli sebuah sistem operasi dengan intelijensi buatan yang diberi nama Samantha (disuarai oleh Scarlett Johannson). Pembicaraan mereka yang intim mengenai hal-hal kecil serta keberadaan Samantha yang selalu setia menemani kesendirian Theodore membuat mereka perlahan-lahan jatuh cinta pada satu sama lain. Ada sebuah ulasan mendalam dan filosofis yang ditulis oleh Mas Dony Iswara di blognya tentang Her yang penting untuk kalian—para pecundang asmara—baca dan bisa dilihat di tautan berikut ini.

  1. 500 Days of Summer (2010) directed by Marc Webb

Gue asumsikan semua orang sudah pernah menonton film ini, maka gue tidak perlu menceritakan ulang betapa Summer (diperankan oleh Zooey Deschanel) dengan kecantikan fisik dan perangainya yang tidak masuk akal tersebut berhasil mengobrak-abrik kehidupan Tom (diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt) dalam waktu 500 hari. Inilah yang terjadi, wahai pria-pria pecundang asmara, jika kita berharap terlalu banyak dalam suatu hubungan yang tidak jelas dan bukan malah menikmatinya seakan-akan hal tersebut bisa berakhir kapan saja. Tidak semua wanita mengharapkan komitmen, dan jika memang komitmen yang kita cari sejak awal, maka jangan coba-coba bermain api dengan ketidakjelasan, secantik apapun rupanya. Bersenang-senanglah. Hidup cuma sekali, kawan.

  1. In Search of A Midnight Kiss (2007) directed by Alex Holdridge

Tidak ada pecundang asmara yang lebih pecundang dari seorang Wilson (diperankan oleh Scott McNairy), yang pada malam Tahun Baru tertangkap basah sedang masturbasi dengan foto seorang bintang porno yang wajahnya di-photoshop dengan wajah Min (diperankan oleh Katy Luong), kekasih dari sahabatnya sendiri, Jacob (diperankan oleh Brian McGuire). Kasihan dengan Wilson, Jacob menyarankan sahabatnya tersebut untuk mencari teman kencan menghabiskan malam Tahun Baru lewat Craigslist. Secara mengejutkan, Wilson yang menulis di kolom deskripsinya ‘misanthrope looking for misanthropee’ menerima panggilan ‘audisi’ dari seorang gadis bernama Vivian (diperankan oleh Sara Simmonds) untuk menjadi teman kencannya di malam Tahun Baru ini. Film dengan pengambilan gambar serta penggunaan warna monochrome yang terkesan indie-looking ini agaknya seperti ‘Before Midnight’ yang ceritanya berpusat pada percakapan menarik antar karakter utama pria dan wanita (dalam film ini Wilson dan Vivian) serta apa yang mereka alami dari sore hari hingga tengah malam pada perayaan Tahun Baru. Perbedaannya hanya terdapat pada karakter Vivian dan Wilson yang jauh lebih quirky dan lebih manusiawi.

  1. Punch-Drunk Love (2002) directed by Paul Thomas Anderson

Sebelum menonton film ini, penulis sedikit meremehkan kemampuan akting Adam Sandler yang tidak pernah memiliki peran yang cukup menantang di tiap filmnya. Namun seperti layaknya Robin Williams dan Jim Carrey (yang akan penulis bahas di nomor berikutnya), komedian ini mencoba untuk sedikit ‘melawan arus’ dengan menjadi Barry Egan, seorang eksekutif di sebuah perusahaan furnitur toilet yang melankolis, introvert, kesepian, namun memiliki kemauan untuk melawan yang cenderung destruktif. Barry bahkan membenci dirinya sendiri yang memiliki kepribadian pecundang dan pasif sehingga ia sering melampiaskannya dengan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Di tengah kesepiannya yang menyakitkan, ia bertemu dengan Lena Leonard (diperankan oleh Emily Watson) yang—setelah kencan pertamanya di sebuah restoran—memutuskan untuk melakukan business trip ke Hawaii. Didorong keinginan untuk kabur dari para tukang pukul yang mengejarnya karena penipuan kartu kredit yang ia lakukan pada sebuah agensi ‘phone sex’, Barry memutuskan untuk menyusul Lena ke Hawaii dengan membeli puding cokelat Healthy Choice sebanyak-banyaknya demi sebuah tiket pesawat gratis ke Honolulu. Membayangkan betapa menyedihkannya Barry Egan di film ini kurang lebih sama seperti berkaca pada cermin retak, ya, wahai pria-pria kesepian?

  1. Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) directed by Michel Gondry

Menjadi lupa dipandang sebagai hal yang sangat menyenangkan bagi manusia-manusia yang dirundung patah hati, namun bagaimana bila itu semua masih tidak cukup? Inilah yang Michel Gondry dan Charlie Kaufman coba ceritakan di Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Joel Barish (diperankan oleh Jim Carrey) mendapati mantan kekasihnya, Clementine (diperankan oleh Kate Winslet), telah menghapus segala ingatan tentang dirinya lewat sebuah prosedur eksperimental yang dilakukan oleh Dr. Mierzwiak (diperankan oleh Tom Wilkinson). Lagi-lagi, penyebab putusnya hubungan mereka ditengarai oleh sifat Joel yang introvert dan posesif terhadap Clementine. Tidak mau kalah, Joel pun merelakan dirinya sebagai bahan eksperimen berikutnya demi menghapus segala ingatannya tentang Clementine. Di tengah proses penghapusan, Joel, di dalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba memutuskan untuk berontak dan mengamankan Clementine dari segala sudut memori yang telah terhapus dan melakukan perjalanan waktu demi membawa kekasihnya kembali merasakan cinta yang dulu pernah mereka rasakan sebelumnya. Film ini menjadi istimewa karena eksplorasi narasi dan visual yang begitu imajinatif, scoring yang indah dari Jon Brion, serta peran Jim Carrey sebagai sesosok pria patah hati yang pemurung, nihilis, dan melankolis. Film ini membawa konsep ‘pecundang asmara’ ke ranah yang lebih umum, yaitu pada ketidakberdayaan seseorang untuk ‘move-on’ dari cinta yang telah karam.

her-movie-still-3

Setelah menonton film-film yang ada di dalam daftar ini, kita tidak hanya akan merenungkan kembali apa yang harus kita benahi dalam diri kita, namun juga mendapati bahwa sebenarnya pria pecundang asmara adalah sosok paling romantis yang sayangnya tidak mampu dipahami oleh gadis-gadis awam. Coba kita pikirkan kembali, bukankah itu sebenarnya hal yang baik? Proses seleksi alam akan terjadi dengan sendirinya sehingga apa yang kita dapati merupakan hal yang memang benar-benar terbaik dan cocok untuk kita. Jadi, mengapa harus khawatir, wahai pria-pria pecundang asmara? Cintailah diri kita sendiri dan berbahagialah dengan kesendirian ini, niscaya ketika saatnya gadis itu datang, akan banyak kebahagiaan yang dapat kita bagi bersamanya.

Honorable Mention: Breakfast at Tiffany’s (1961), Napoleon Dynamite (2004), Taxi Driver (1976), Nightcrawler (2014).

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *