Spectre (2015) – A Shot Misfired

James Bond is, and will always be, a cliche. Mari kita camkan itu baik-baik sebelum melihat Spectre dari spektrum yang terlalu realis. Semenjak pertama kali diperankan oleh Sean Connery hingga era keemasan Roger Moore, sosok agen rahasia—yang tidak begitu rahasia—ini selalu digambarkan sebagai seorang pria Kaukasian dengan kadar kejantanan yang terlalu sempurna sehingga cenderung klise dan misoginis. Baru di saat Daniel Craig terpilih memerankan James Bond di Casino Royale, kita melihat sebuah sosok baru yang dingin, realistis, dan penuh misteri. Warna franchise film yang diangkat dari kumpulan novel karya Ian Fleming ini pun kemudian turut menyesuaikan dengan karakter Bond baru, sehingga menjadi lebih terkesan gelap dan bengis. Semua berjalan begitu mulus dan film-film James Bond pun mendapatkan nyawa baru yang diterima secara baik oleh konsumen maupun kritik.

Lalu kemudian muncullah Spectre.

Secara teknis tidak ada yang terlalu salah pada film James Bond kedua yang diarahkan oleh Sam Mendes ini. Keberadaan Hoyte van Hoytema sebagai sinematografer malah mendukung keapikan visual storytelling lewat kerja kamera yang cukup inventif. Teknik extended shot yang dipakai pada empat menit pertama film ini pun memperlihatkan kelihaian Hoyte yang seperti menantang kerja Emmanuel Lubezki di Birdman. Belum lagi adegan klimaks pada third act film ini sangat berapi-api dan cukup menjadi nilai plus yang membedakan film ini dari film action lain dalam setahun belakangan ini. Dari awal sampai akhir, bisa dibilang Spectre mampu menghibur kita dengan pertunjukan visual yang memanjakan mata.

Sayangnya, permasalahan besar yang ada di film ini terletak pada naskah yang hambar, karakterisasi yang salah, dan plot yang gagal memenuhi premis yang sebenarnya sangat menjanjikan.

Di era di mana Hollywood sedang marak-maraknya mengeksploitasi nostalgia publik ini, Spectre mencoba bandwagoning dengan menggunakan formula James Bond era Sean Connery dan Roger Moore dengan  menonjolkan kembali sisi flamboyan sang 007 lawas yang komikal dalam racikan martininya (shaken; not stirred), egoisme butanya terhadap gadget yang futuristik, dan caranya menaklukkan wanita dengan genit dan lembut. Dari segi naratif pun, Spectre memilih untuk menjadi titik teratas dari jaring-jaring kejahatan yang telah Bond taklukkan sejak film Casino Royale sampai Skyfall. Sangat disayangkan, persona shift dan old-fashioned narrative ini malah membuat karakter Bond versi Daniel Craig terlihat tidak konsisten karena pembawaan sang aktor—yang sebenarnya memang tidak cocok untuk menjadi James Bond—terkesan sangat dipaksakan.

Ketidakcocokan karakter ini pun diperparah dengan dialog yang terlalu cheesy, seperti ditulis oleh screenwriter film action yang sudah menulis terlalu banyak naskah film action sehingga kehabisan ide untuk kalimat cerdas yang orisinil sehingga akhirnya ia mencontek naskah-naskah film yang ia tulis dulu untuk dia pakai kembali di Spectre. Satu-satunya dialog orisinil yang bisa dinikmati pada film ini hanya ada saat adegan ‘reuni’ Bond dengan Mr. White.

“You’re a kite dancing in a hurricane, Mr. Bond.” – Mr. White.

Secara keseluruhan, Spectre tidak bisa dibilang film yang jelek, namun untuk sebuah premis yang menempatkan cerita Skyfall sebagai downline, film ini cukup mengecewakan. Terima kasih pada Hoyte van Hoytema sebagai sinematografer serta Thomas Newman sebagai komposer, film ini menjadi tidak membosankan meskipun kecacatan telah terjadi di tempat-tempat yang cukup vital. Sebagai tambahan, ada dua dosa terbesar yang dimiliki Spectre. Pertama: opening credit scene dengan gaya avant-garde di tiap film James Bond adalah hal yang disakralkan bagi para penggemar film, terutama film-film James Bond, dan kualitas opening credit scene di Spectre bahkan tidak lebih baik dari opening credit scene dua season True Detective. Mengecewakan. Kedua: Aktris senior selevel Monica Belluci hanya dijadikan pemanis yang kemudian dibuang begitu saja bahkan sebelum first act berakhir. Shame on you, Mendes. Shame.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

5 thoughts on “Spectre (2015) – A Shot Misfired”

  1. Tulisan anda lumayan tajam dan kritis. Saya suka. Ketika banyak orang membesar-besarkan sebuah film, menonton dengan sekedarnya tanpa mengkritisi masih ada beberapa orang yang melihat fillm dari sudut pandang kritis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *