Secret in Their Eyes (2015) – A Pointless Tribute

Why remake a masterpiece? Pertanyaan ini belakangan sering muncul di dalam kepala penulis tatkala melihat kondisi perfilman Hollywood yang terlalu stagnan di ranah penceritaan ulang (remake, reboot, based on, sequel, prequel, spin-off). Film Argentina yang memenangkan penghargaan Best Foreign Film di Oscar 2010 ini pun mendapatkan remake yang diproduksi oleh IM Global dan disutradarai oleh Billy Ray. Sejenak terlintas harapan melihat cast list yang cukup mumpuni seperti Chiwetel Ejiofor, Nicole Kidman, dan Julia Roberts. Namun harus diakui, versi originalnya mempunyai kekuatan teknis yang sangat sulit ditandingkan meskipun narasi dan alur ceritanya memang sulit dicerna kebanyakan orang.

Kenyataannya tidak jauh dari dugaan. Dengan kualitas kerja kamera dan editing yang tidak begitu istimewa, akting prima dari ketiga aktor kelas A tersebut bahkan tidak mampu menjadikan Secret in Their Eyes menjadi sebuah remake yang mampu mengungguli versi aslinya. Film ini hanya mampu menjadi film yang emotionally and thoughtfully provoking bagi para penonton Amerika yang malas membaca subtitel dan belajar kebudayaan asing. Penyesuaian plot dengan budaya dan isu sosial politik serta korelasi personalnya dengan tiap karakter mampu dikemas dengan baik tanpa melakukan penggiringan opini yang tidak perlu. Belum lagi kehadiran Julia Roberts sebagai Jess, agen FBI yang juga ibu dari korban pembunuhan dan pemerkosaan mampu menciptakan pembedaan plotting yang membuat film ini tidak serta merta menjiplak aslinya. Namun ketidakistimewaan teknis membuat film ini hanya berkesan seperti sebuah episode dari Law & Order dengan cast-list tamu yang spesial. Beberapa adegan yang menjadi kekuatan yang ikonik di film originalnya seperti adegan stadium, interogasi, dan elevator tidak mampu dikemas dengan baik dan berpotensi mengecewakan mereka yang sudah pernah menonton film aslinya.

Kendati demikian, sang sutradara sepertinya tetap ingin memberi penghormatan yang pantas terhadap film yang aslinya disutradarai Juan Jose Campanella tersebut. Hal ini terlihat dari pemilihan tone warna yang serupa baik dari kamera maupun desain kostum dan set. Contohnya, ada satu adegan di mana Nicole Kidman sebagai Claire memakai formal dress warna krimson yang mencolok layaknya yang dipakai Soledad Villamil sebagai Irene di film terdahulu. Beberapa dialog penting juga dijaga dengan penerjemahan yang akurat tanpa menanggalkan emosi dari tiap kalimatnya. Namun bukannya menjadi nilai tambah, film ini malah jadi terlihat seperti sebuah B-rated fanmade bagi yang sudah pernah menonton versi originalnya.

Judul ‘Secret in Their Eyes’, seperti film terdahulunya, berangkat dari tiga hal. Pertama: cara sang pelaku melihat korban yang tertangkap kamera yang kemudian menjadi petunjuk utama sebuah penyelidikan. Kedua: cara Ray dan Claire—yang payah dalam merahasiakan perasaan mereka—dalam melihat satu sama lain. Ketiga: mata Jess yang dingin saat mendengar atau membicarakan sang pelaku yang membunuh anaknya, yang kemudian merujuk kepada sebuah akhir mengejutkan yang membuat kita mempertanyakan apakah prinsip dan moralitas yang kuat mampu menjaga manusia dari biasnya hitam putih keadilan. Film ini secara literal tidak bisa dikatakan gagal, karena ketiga hal tersebut mampu dibangun kembali dengan pendekatan yang baik, meskipun terlalu familiar. Namun remake ini menjadi pointless karena adanya penurunan kualitas teknis dari film sebelumnya. Seperti layaknya remake-remake lain yang Hollywood buat di tahun ini, entah dengan alasan apa mereka buang-buang uang.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *