5 Film Paling Underrated di Tahun 2015

Nggak setuju dengan pandangan bahwa cuma film-film box office terkenal yang patut kalian lihat? Jangan khawatir. Masih banyak kok, film-film yang sangat menarik untuk ditonton. Tahun 2015 adalah tahun yang benar-benar produktif untuk para pembuat film. Mulai dari film bertemakan petualangan/war/distopia seperti The Hunger Games: Mockingjay Pt. 2, film-film action menjanjikan seperti Mission Impossible: Rogue Nation dan Furious 7, bahkan sampai film-film kartun menggemaskan seperti Minions, Pixels dan Inside Out.

Nah, untuk menutup tahun 2015 yang penuh kejutan dari sineas dunia, kami akan memberikan kalian 5 referensi film paling underrated yang perlu kalian tonton.

1. 6 Years, directed by Hannah Fidell

635814384325552408300944574_tumblr_nw6m4mdCwN1rwyolao1_500.gif

Berkisah tentang lika-liku yang dialami pasangan muda, Melanie dan Dan, dalam kurun 6 tahun, film ini berhasil memberikan kesan “realistis” bagi para penontonnya. Dibintangi oleh Taissa Farmiga (The Bling Ring, American Horror Story) dan Ben Rosenfield (Boardwalk Empire), agak sayang rasanya untuk melewatkan film yang satu ini. 6 Years mengajarkan kita bahwa nggak semua long-term relationship itu mulus-mulus aja. Teori tersebut dibuktikan dengan berbagai obstacles yang mereka alami selama 6 tahun berpacaran, seperti violence, volatile, sex, maupun ketidakcocokan yang sudah pasti nggak bisa mereka hindari. Alasan kenapa film ini kurang diapresiasi para penikmat film? Penggambaran tentang kekerasan dan sex dalam hubungan mereka dianggap sedikit vulgar, dalam maksud memberikan kesan realistis yang sudah penulis bahas sebelumnya. Overall, this movie is definitely worth to watch.

2. Before We Go, directed by Chris Evans

4f2ddcce5829d9f1cee38f7dd91ccf3b.jpg

Kualitas akting Chris Evans dan Alice Eve udah nggak perlu diragukan lagi. Before We Go juga merupakan directorial debut Chris Evans sendiri. Bagi penulis, film dengan dialog sederhana namun romantis ini adalah salah satu film independen terbaik yang pernah penulis tonton. Dengan latar kota New York yang megah dan penuh dengan berbagai kejutan, dikisahkan seorang aspiring musician bernama Nick Vaughn yang secara tidak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan muda bernama Brooke yang ketinggalan kereta terakhir ke Boston. Yang lebih uniknya lagi, film ini hanya bercerita tentang satu malam penuh petualangan Nick dan Brooke yang memutuskan untuk berkeliling New York. Mulai dari bertemu mantan pacar Nick secara nggak sengaja, kehilangan tas, crashing strangers’ wedding, sampai dengan menyelinap ke dalam kamar hotel salah satu teman Nick yang sibuk berpesta di sebuah bar. What makes this movie interesting, is the fact that Brooke is married to a man who’s nowhere near loyal to her. Jadi, buat kalian yang ingin bergalau-galau ria sambil menikmati pemandangan kota New York yang disuguhkan dengan begitu apik, this movie’s perfect for you.

3. Project Almanac, directed by Dean Israelite

Project-Almanac

If you enjoy watching found footage sci-fi thriller movies, Project Almanac is the way to go. Film ini jauh lebih berbobot daripada installment-nya Paranormal Activity. Berceritakan tentang David Raskin (Jonny Weston), seorang kutu buku yang bercita-cita untuk kuliah di MIT dan beberapa teman SMA-nya yang secara tidak sengaja berhasil membuat temporal displacement device yang memudahkan mereka untuk melakukan perjalanan waktu. Namun, sehebat apapun mesin yang mereka ciptakan, their excitement soon ends when they begin to discover the consequences behind their newly made device. Film ini sangat menarik untuk ditonton, karena selain film ini dan Chronicle, masih sangat jarang film sci-fi thriller yang menggunakan teknik pengambilan gambar found footage. So far, 7.5 out of 10.

4. The Age of Adaline, directed by Lee Toland Krieger

imagess

Kira-kira gimana ya rasanya, hidup sebagai perempuan berumur 29 tahun selama hampir 8 dekade? This miraculous immortality happened setelah seorang perempuan muda bernama Adaline Bowman (Blake Lively) terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil. Dikisahkan hidup abadi Adaline yang awalnya membosankan dan monoton, berubah 180 derajat setelah bertemu seorang philanthropist bernama Ellis Jones (Michiel Huisman) yang menyadarkan Adaline mengenai betapa berharganya hidup dan cinta. Aneh? Sudah pasti. Penuh rahasia? Apalagi. Tapi, menurut gue, film ini patut kita acungi jempol. Premisnya sangat menjanjikan, jalur ceritanya pun tidak terkesan “dibuat-buat” meskipun keseluruhan film ini bertemakan fantasy/fiction. Hanya ada satu hal yang perlu penulis singgung dari film ini, yaitu kurangnya penggambaran yang jelas mengenai immortality yang dihadapi oleh Adaline itu sendiri.

5. The End of the Tour, directed by James Ponsoldt

tumblr_nwmqohFlOJ1rsyukao1_500.jpg

Film drama bertabur bintang yang diperankan oleh Jason Segel (How I Met Your Mother, Forgetting Sarah Marshall) dan Jesse Eisenberg (Zombieland, The Social Network) ini diadaptasi dari memoir terkenal David Lipsky yang berjudul Although of Course You End Up Becoming Yourself. Film ini menceritakan tentang seorang reporter Rolling Stone bernama David Lipsky (diperankan oleh Eisenberg) yang mewawancarai seorang novelis terkenal bernama David Foster Wallace (diperankan oleh Segel) yang baru saja mempublikasikan novel terbarunya yang berjudul Infinite Jet pada tahun 1996. Buat kalian yang juga menikmati dunia jurnalisme, film ini cocok banget buat kalian tonton. The End of the Tour dikemas dengan sangat simpel, tetapi tetap logis dan penuh tanda tanya. Yang sangat disayangkan dari film ini, adalah kurangnya plot twist yang sudah diincar para penonton sejak awal. Bisa dibilang, konsep film ini sangat brilliant, tetapi execution-nya masih kurang mendetail. Tapi, despite all of the critics about this movie, film ini masih layak untuk ditonton.

before-we-go

Setelah kalian baca (dan menonton) film-film yang gue sudah referensikan diatas, kita pasti nggak akan berfikir dua kali untuk nonton film-film yang tidak dikategorikan sebagai box office. Film-film 2015 itu bukan hanya terdiri dari 50 Shades of Grey dan Pitch Perfect 2. Masih banyak kok, film-film berbobot yang (sayangnya) masih menjadi misteri karena kurangnya apresiasi dari para penikmat film. Isn’t it a good thing to expand our knowledge, terutama pada film-film indie/independen seperti ini? Jangan takut untuk nggak jadi mainstream dan keluar dari comfort zone kamu. Karena terkadang, mencoba hal-hal baru itu menyenangkan, kok.

Author: Bunga Maharani

Mahasiswa Psikologi di Universitas Udayana, Bali. Jakarta born and bred. Penikmat film dan TV series, serta penulis berbagai buku bertemakan fiksi dan puisi di media online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *