Surat dari Praha (2016) – Kelantangan tanpa Kematangan

Keberanian untuk mengatakan sebuah fakta yang ditentang pemerintah lewat media film yang disebarluaskan secara publik adalah suatu hal yang patut dipuji dan dihargai. Oleh karena itu, penulis akan menghargai keberanian segenap tim produksi Surat dari Praha dengan secara jujur dan lantang mengulas film ini.

Propaganda komunisme lewat penyudutan citra PKI dan penentang Orde Baru sebagai komunis anti-Tuhan dan pemberontak adalah hal yang masih mendarah daging di dalam otak masyarakat umum Indonesia. Pembantaian ratusan ribu komunis dan kudeta politik dengan kedok ‘Gestapu’ masih dianggap sebagai hal yang lumrah bagi mereka, bahkan hingga saat ini, ketika sang jenderal telah mangkat dan kepemimpinan telah berganti berkali-kali lewat pemilihan umum yang demokratis. Inilah alasan mengapa Surat dari Praha menjadi film yang penting untuk disaksikan. Ia menceritakan kisah seorang manusia biasa penentang Orde Baru bernama Jaya (diperankan oleh Tio Pakusadewo) yang tersiksa oleh kondisi politik yang memisahkannya dengan cinta sejatinya, Sulastri (diperankan oleh Widyawati), beribu-ribu mil jauhnya dari Jakarta ke Praha. Lebih jauh lagi, film ini juga menceritakan keresahan seorang anak bernama Laras (diperankan oleh Julie Estelle) yang harus hidup di dalam keluarga di mana sang ibu tidak pernah benar-benar mencintai sang ayah karena selalu terbayang-bayang akan janji manis mantan kekasih yang tak pernah mampu dipenuhi.

“Saya pernah berjanji pada ibumu dua hal. Satu, saya akan menikahinya nanti setelah saya pulang ke Indonesia. Dua, saya akan mencintai dia selama-lamanya. Namun sayang, takdir hanya mengizinkan saya untuk menepati janji yang kedua.” – Jaya.

Lewat karakterisasi Laras dan Jaya yang sangat kuat, Surat dari Praha mampu mengoptimalkan performa akting kelas dunia dari Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Ditambah lagi dengan visual storytelling yang kuat khas film-film Angga Sasongko (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi) dan pencahayaan yang ditempatkan pada momen-momen yang tepat, film ini menjadi sangat lembut dan cantik untuk disaksikan oleh mata dan hati para penontonnya. Pemanfaatan lokasi Praha dengan memperlihatkan hitam putih kedua sisinya dan juga menceritakan latar belakang sejarahnya dengan Indonesia mampu menjadikan film ini beda dengan film-film Indonesia lain yang hanya berani mengeksploitasi keindahan titik-titik wisata kota asing demi menarik mayoritas penonton Indonesia yang mereka anggap udik.

019949700_1439546066-2015-08-13_12.41.15_1

Sayang seribu sayang, banyak sekali detail-detail kecil yang kurang diperhatikan, yang mana seharusnya pada film-film dengan dinamika yang lambat dan mengalun seperti ini, detail-detail kecil tersebut penting untuk terus dipoles sampai halus dan sempurna. Beberapa ‘stunt‘ terlihat terlalu mencolok di awal sehingga penonton akan dengan mudah menyadari kehadiran mereka kembali di beberapa adegan lain. Ada juga satu adegan di mana Jaya sedang memainkan harmonika dan menyanyikan ‘Sabda Rindu’ live di atas panggung, dan gerakan tangan pemain kontra bass, pianis, dan Jaya saat bermain harmonika sangat tidak sinkron dengan audio. Bagi para penonton yang bahkan cenderung menikmati detail-detail kecil, mereka juga akan merasa sangat terganggu dengan product placement yang mengacak-acak karakter Jaya (bapak-bapak Soekarnois idealis penggemar kretek handmade kopi kesukaannya Tora Bika Creamy Latte?? Permennya Kis Lemon?? Asu!) dan membuat semua usaha make-believe dalam penceritaan film ini gagal total. Tapi ya, sudah lah. Rentang perhatian orang-orang Indonesia awam juga singkat dan rendah, kok. Yang penting, ada Rio Dewanto di  film ini yang pastinya menyegarkan mata gadis-gadis belia, biarpun karakternya, Dewa, tidak punya raison d’etre yang kuat dan relevan dalam segi cerita maupun latar belakang sejarah yang membentuknya.

Musik-musik yang mengiringi Surat dari Praha juga patut untuk menjadi perhatian. Glenn Fredly tentunya telah memproduksi rangkaian musik yang indah untuk dihadirkan ke dalam film ini, namun layaknya gula untuk secangkir kopi, apa yang seharusnya menjadi pemanis yang apik malah akan membuat mual apabila kadar yang diberikan terlalu banyak dari takaran yang seharusnya. Bisa dibilang, film ini hampir gagal menceritakan melankoli yang dialami oleh Jaya dan Laras karena senyap di dalam film ini tidak mendapatkan porsi yang seharusnya lebih banyak dari musik-musiknya. Suara vokal yang mengiringi adegan-adegan sightseeing pun malah membuatnya menjadi berisik dan tidak pantas. Terlebih, pada adegan klimaks, alih-alih memberikan mereka ruang kedap suara untuk saling pandang dan diam tanpa bicara, film ini malah menyajikan duet ‘Nyali Terakhir’ yang kurang logis oleh Jaya dan Laras. Kenap kurang logis? Karena itu lagu ciptaan Laras, dan timing vokal Jaya yang sepersekian detik lebih cepat dan fasih dibandingkan Laras akan membuat penonton bertanya-tanya “Ini orang tua hapal dari mana lagunya? Sakti kali!”.

Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa film ini penting untuk disaksikan semua orang Indonesia, film ini belum bisa dikategorikan sebagai film yang bagus karena mengabaikan detail-detail penting yang seharusnya mampu dimatangkan dan memperkuat nyawa cerita. Terakhir, bila menggunakan logika berpikir Jaya,

“Menolak Soeharto dan mencintai ibumu adalah dua hal yang berbeda!”

Maka dapat disimpulkan pula bahwa menolak Soeharto dan menyukai film ini juga adalah dua hal yang berbeda.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *