A Copy of My Mind (2015) – Jakarta dalam Cerita Cinta Nyata

Kita bisa menyebutkan banyak sekali kekurangan yang dimiliki kebanyakan film Indonesia yang telah diproduksi, namun yang paling sering diulang-ulang adalah keengganan dalam menyorot konteks sosial yang gamblang dan detail tentang kehidupan masyarakat Jakarta, khususnya daerah sub-urban. Demi konsumen mayoritas yang (mereka anggap) udik, mereka lebih memfokuskan pada kehidupan masyarakat menengah ke atas dan sudut kota Jakarta yang megah dan gemerlap. Jika sudah tidak ada lagi yang bisa dieksplorasi, ya sudah, tinggal shooting di luar negeri, bawa aktor-aktor Indonesia. Premis dan skrip pun ditulis sebasi mungkin, sebasi puisi-puisi kacangan akun fake official Line dengan satu tujuan yang sama: mengeksploitasi kenaifan remaja akan cinta. Jika kamu termasuk golongan orang-orang yang sudah muak akan materi-materi seperti yang telah disebutkan, maka ada dua film di awal 2016 ini yang akan menghidupkan kembali kepercayaanmu terhadap film-film Indonesia: Siti dan A Copy of My Mind. Bila Siti mungkin terlalu marjinal dan tersegmen untuk kamu yang biasa menonton film-film romansa hedonis berbujet mahal, kamu bisa mulai untuk menonton A Copy of My Mind terlebih dahulu.

1227161_a-copy-of-my-mind

Kita semua sebenarnya sudah tahu bahwa Jakarta bukan hanya tentang wanita-wanita dengan make-up tebal menenteng tas mahal berkeliling di dalam sebuah mal megah ditemani pria metroseksual yang tidak jelas apakah dia pacar, saudara, ayah, atau bodyguard. Jakarta juga tentang seorang gadis kleptomania pegawai salon kecil yang hidup di kos-kosan sepetak yang berpacaran dengan pria belel yang bekerja sebagai penerjemah subtitel DVD bajakan. Joko Anwar (Modus Anomali, Kala, Janji Joni) sebagai sutradara serta Tara Basro (Pendekar Tongkat Emas, Killers, Catatan Harian Si Boy) dan Chico Jericho (Filosofi Kopi, Cahaya dari Timur: Beta Maluku) sebagai pasangan pemeran utama berhasil merepresentasikan kehidupan masyarakat Jakarta golongan kelas menengah kebawah dengan detail dan jujur apa adanya. Akting serta chemistry mereka solid, tidak terbantahkan bahwa mereka sudah melebur dengan sempurna menjadi karakter mereka masing-masing. Adegan seks antara mereka berdua di dalam film ini pun bisa dibilang sebagai salah satu adegan seks terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia.

Joko Anwar, lewat akun Twitternya, pernah menyatakan bahwa film ini adalah film berbujet medium dengan set design, properti, serta perlengkapan yang sebagian merupakan buah kebaikan beberapa pihak yang bersedia meminjamkan kepemilikannya demi terlaksananya film yang memenangkan dana Rp150 Juta dari Asian Project Market di Busan Film Festival 2014 ini. Mungkin memang koinsidental, tapi segala yang membentuk film ini mulai dari struktur narasi sampai detail artistik dan sinematografi dapat saling mendukung satu sama lain dalam kesederhanaan dan ketidakcukupan untuk membentuk keutuhan kontekstual yang memperkuat nyawa cerita. Yang paling bisa dilihat dari hal ini adalah kepingan DVD bajakan yang menghiasi dinding kamar Alek serta absensi dari color grading pada keseluruhan film yang ditambal dengan komposisi serta pencahayaan yang manis. Jenius, low-budget, dan tetap relevan dengan konteks. Hal ini membuktikan bahwa film dengan kualitas yang baik tidak harus selalu didukung dengan bujet yang mahal. Proporsionalitas dan profesionalitaslah yang terpenting.

Jika penulis boleh meromantisir, A Copy of My Mind adalah sebuah kado Valentine dari Lo-Fi Flicks untuk mereka yang hidup di bawah garis ketidakcukupan dan masih mempertahankan cita-citanya untuk merasakan kenikmatan duniawi. Konteks politik yang berasal dari keresahan Joko Anwar terhadap korupsi dan suap menyuap antar pejabat pun juga melekat erat membumbui kisah cinta dari sudut Jakarta yang terabaikan ini. Jangan khawatir akan ‘berat’ nya tema yang kamu baca di sinopsis. Ini adalah kisah cinta yang mampu dengan mudah kamu hubungkan dengan kehidupanmu di dunia nyata, jadi nikmati saja.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Deadpool (2016) – Romance is Dead…pool

Kalau kamu pernah bertemu dengan seseorang di kampusmu yang ganteng namun berandalan yang peduli setan dengan segala hal, bermulut kotor, punya pacar yang cantik dan seksi, senang menjahili orang lain, mempunyai IPK yang biasa-biasa saja dan tanpa prestasi namun tetap disukai oleh banyak orang, maka dia kurang lebih mewakili segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki film Deadpool. Yup, mungkin kalian langsung terbayang Ferris Bueller saat penulis menuturkan hal tersebut, namun percayalah Deadpool lebih memenuhi segala hal tersebut, karena logisnya, tidak seperti Ferris, akan ada juga orang-orang yang membenci Deadpool dengan argumen yang dapat dibenarkan secara moral.

Setelah pengembaraan yang luntang-lantung di jagad perfilman superhero, akhirnya Ryan Reynolds mendapatkan satu sosok yang tepat untuknya bernaung abadi dalam ingatan para comic-turn-to-film geek. Dia terhadap Deadpool bagaikan Hugh Jackman terhadap Wolverine, atau Robert Downey Jr. terhadap Iron Man, atau Daniel Radcliffe terhadap Harry Potter. Para penggemar komik Deadpool akan setuju dengan hal ini, karena dia telah memenuhi segala harapan mereka akan munculnya tokoh anti-hero andalan Marvel Comics secara live-action yang berpegang teguh terhadap karakteristik dan rasa dari komiknya yang pedas namun nikmat seperti Chimichanga. Namun ketulusan dan kesetiaan film yang disutradarai oleh Tim Miller ini kepada para fans komiknya telah berdampak positif dan juga negatif terhadap kualitas naratif film.

Para penikmat film yang senang meriset nama-nama produsen film Box Office mungkin tidak akan terlalu terkejut dengan kualitas opening title yang elegantly hilarious, karena sang sutradara pernah membuat hal yang bahkan jauh lebih hebat pada opening title The Girl with the Dragon Tattoo. Oleh karena itu, kualitas sinematik keseluruhan film yang disajikan sudah tidak dapat diragukan lagi meskipun memang sebenarnya premis ceritanya biasa-biasa saja, seperti film romance kacangan yang digabungkan dengan film superhero kacangan lalu dikombinasikan formulanya dan dinegasikan semudah membalikkan telapak tangan. Namun begitulah asal mula terciptanya makhluk berwajah jelek dan bermulut sampah ini, tidak kurang dan tidak lebih.

“You look like an avocado had sex with an older avocado…and it’s not usual sex. It was like a hate sex…so full of anger.” – Weasel.

Saat banyak orang yang memuji kelantangan Deadpool dalam menyindir isu-isu yang terjadi pada Hollywood dan studio Twentieth Century Fox itu sendiri, penulis mempunyai perspektif yang berbeda terhadap hal ini. Deadpool sama sekali tidak berbeda tujuan dengan mesin uang Hollywood lain, hanya saja film ini seperti berusaha terlalu keras menjadi badut Hollywood yang bertingkah konyol habis-habisan dan menjadikan kekurangan yang ada sebagai bahan tertawaan agar penontonnya terhibur dan memberikan uang lebih banyak untuk menonton dan menertawakannya berkali-kali. Konsep ‘karakter utama yang mengetahui eksistensi fananya di dalam sebuah cerita’ memang digarap dengan sangat baik, namun bukan hal yang terlalu istimewa karena The Truman Show dan Stranger Than Fiction juga sudah pernah mengolah konsep ini sebelumnya.

Rasanya tidak perlu dijelaskan bagaimana film ini tidak cocok untuk ditonton oleh anak-anak, dan akan lebih bijak bagi para orang tua untuk lebih mematuhi rating umur yang telah ditetapkan oleh tiap jaringan bioskop kepada tiap film yang mereka tayangkan. Deadpool adalah film komedi vulgardan tidak ada film komedi vulgar yang seharusnya bisa selamat menginfiltrasi otak anak-anak di bawah umur.

Dan layaknya film-film komedi vulgar pada umumnya (apalagi yang dikombinasikan dengan unsur superhero dan romance), akan sia-sia bagi kita untuk mengharapkan premis dengan kualitas festival. Yah, mau bagaimana lagi. Deadpool memang begini.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

7 Film Bahagia untuk Membahagiakan Hari-Harimu

Hidup ini memang terkadang kurang ajar, dan sebagai orang yang masih hidup, kita tidak akan pernah lepas dari kekurangajaran tersebut. Entah gagal melaksanakan tugas dengan baik karena suatu kecerobohan yang kita lakukan, mendapatkan penolakan telak atau penghinaan kasar, atau tertimpa suatu musibah yang menyebabkan kehilangan, hidup selalu punya cara yang unik untuk membuat kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri.

Namun, sebagaimana Eleanor Roosevelt bersabda:

“No one can make you feel inferior without your consent.”

Maka duduklah sejenak, ambil beberapa bungkus keripik kentang, cheeseburger, cokelat, minuman bersoda atau makanan apapun yang menyenangkan, lalu tonton ketujuh film yang akan kami rekomendasikan ini untuk membangkitkan semangat hidupmu kembali.

1. Chungking Express (1994) directed by Wong Kar Wai.

Untuk sebuah film romansa, Chungking Express lebih mengedepankan unsur eksperimentasi visual, karakterisasi, dan dialog antar tokoh ketimbang memaparkan struktur naratif secara konvensional. Alur cerita tidak akan begitu berarti di sini, karena tujuan film yang pernah membuat seorang Quentin Tarantino menangis karena bahagia ini hanya sesederhana mengajak penontonnya untuk bersenang-senang dalam arung jeram cinta. Kita tidak harus peduli apakah cinta mereka berbalas atau tidak, karena bagi mereka, mencintai hanyalah sebatas mencintai. Patah hati? Itu urusan belakangan. Yang penting, ayo jatuh cinta!

2. About Time (2013) directed by Richard Curtis

Perjalanan lintas waktu mungkin sudah menjadi sebuah topik yang basi untuk industri film di manapun, namun About Time berhasil mengolahnya menjadi sebuah cerita yang manis dan introspektif secara bersamaan. Lupakan tujuan-tujuan mulia seperti menyelamatkan dunia dari cengkeraman ilmuwan gila atau konspirasi masif alien untuk menghancurkan umat manusia. Mari gunakan time-travel sebagai alat untuk menyelamatkan diri kita di masa depan dari ketiadaan keturunan (baca: cari istri). Sesering apapun Domhnall Gleeson dan Rachel McAdams muncul di dalam film-film yang kita tonton, namun pesona serta chemistry yang mereka bangun di film yang disutradarai oleh orang yang pernah menyutradarai Love Actually ini akan membuatmu percaya lagi akan kesempurnaan cinta dan kasih sayang di dalam sebuah keluarga. Live each of your day to the fullest, guys!

3. Good Morning Vietnam (1987) directed by Barry Levinson.

Film yang disebut Roger Ebert sebagai penampilan terbaik dari Robin Williams ini membawa atmosfer yang penuh canda tawa pada konteks perang US – Vietnam, tentunya tanpa berceramah dan bersikap menghakimi karena sang karakter utama hanyalah seorang komedian yang ditugaskan untuk menjadi penyiar radio di sebuah daerah pangkalan militer. Terlebih, tidak hanya bekerja dengan baik sebagai film komedi, Good Morning Vietnam juga berperan sebagai film anti-war yang sarat dengan humor internal bernada sarkastik. Film ini sangat cocok untuk ditonton bagi mereka yang punya banyak pengalaman pahit soal birokrasi dan bagi aktivis sayap kiri.

4. The Lego Movie (2005) directed by Chris Miller and Phil Lord.

EVERYTHING IS AWESOME! Sekilas, The Lego Movie memang terlihat seperti film untuk bocah, tapi film animasi yang memenangkan Best Animated Feature Film di BAFTA 2015 ini cocok bagi mereka yang pernah merasakan kerennya jadi anak bocah. Buang skeptisme dan idealisme jauh-jauh karena Emmett akan membawa kalian bertualang melintasi dunia Lego dan menjalani petualangan-petualangan seru bersama Batman, Wonder Woman, dan Gandalf. Terdengar absurd, bukan? Namun percayalah, akan sangat menyenangkan bagi comic geeks untuk menyaksikan hiburan penuh fantasi ini!

5. 3 Idiots (2009) directed by Rajkumar Hirani.

Lagi bete karena revisian skripsi nggak kelar-kelar? Pusing di tengah kuliah karena baru sadar ternyata jurusan yang kamu jalani atas pilihan orang tua ini nggak sesuai minat kamu? Elus dada kamu pelan-pelan, ucapkan mantera “Aal izz well” sebanyak tiga kali, lalu tonton film ini. Kejeniusan Rajkumar Hirani dalam membungkus isu pendidikan yang krusial lewat guyonan-guyonan cerdas yang menyindir dengan lantang akan membuatmu tertawa terbahak-bahak dan menerima seikhlasnya bahwa satu-satunya jalan untuk menghadapi sistem pendidikan yang cacat ini hanyalah dengan menjalaninya dengan sabar sambil menggumamkan “Aal izz well” sebanyak mungkin.

6. The Intouchables (2011) directed by  Olivier Nakache and Eric Toledano.

Kebanyakan film yang mengusung topik disabilitas selalu menyajikan ceritanya dengan depresif dan muram.  Oleh karena itu, The Intouchables menawarkan sesuatu yang 180 derajat lebih menyenangkan daripada sekedar menjadikan para penyandang disabilitas sebagai korban yang tidak berdaya dan mengeksploitasi kesedihan yang mereka alami. Bayangkan, bagaimana jadinya jika Phillippe, bilyuner kaku yang lumpuh berteman dengan Driss, seorang mantan copet yang menjadi pengasuh pribadinya? Bukan, bukan kekacauan dan drama sentimental yang akan kita dapatkan, melainkan kegilaan-kegilaan yang asik dan menyenangkan dari Driss yang selalu melakukan segala halnya di luar batasan tanpa tanggung-tanggung.

7. Singin in The Rain (1952) directed by Gene Kelly and Stanley Donen.

Tak bisa diragukan lagi, film ini adalah film musikal terbaik dan paling menyenangkan yang pernah ada sepanjang masa. Dengan konteks film yang menceritakan konflik internal industri film Hollywood pada masa transisi film bisu ke film bersuara, kita akan dibawa ke alam musikal yang penuh dengan tap dance dan setting Broadway yang diwarnai gimmick-gimmick mengagumkan. Jika kamu tidak mampu menangkap keceriaan di saat Don, Kathy, dan Cosmo bernyanyi dan menggoyangkan tubuh mereka seirama dengan musik, kamu harus segera berkonsultasi ke psikolog mengenai masalahmu.

Mungkin ini terdengar garing dan membosankan, tapi dunia ini tidak sekurang ajar itu jika kita mampu melihat semuanya dari sudut pandang lain. Film-film ini secara tidak langsung mengajarkan pada kita bahwa bagaimana dunia memperlakukan kita sebenarnya tergantung pada bagaimana kita memperlakukan dunia. It works both ways! Intinya, apapun yang terjadi, dibikin asik aja, benar tidak?