7 Film Bahagia untuk Membahagiakan Hari-Harimu

Hidup ini memang terkadang kurang ajar, dan sebagai orang yang masih hidup, kita tidak akan pernah lepas dari kekurangajaran tersebut. Entah gagal melaksanakan tugas dengan baik karena suatu kecerobohan yang kita lakukan, mendapatkan penolakan telak atau penghinaan kasar, atau tertimpa suatu musibah yang menyebabkan kehilangan, hidup selalu punya cara yang unik untuk membuat kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri.

Namun, sebagaimana Eleanor Roosevelt bersabda:

“No one can make you feel inferior without your consent.”

Maka duduklah sejenak, ambil beberapa bungkus keripik kentang, cheeseburger, cokelat, minuman bersoda atau makanan apapun yang menyenangkan, lalu tonton ketujuh film yang akan kami rekomendasikan ini untuk membangkitkan semangat hidupmu kembali.

1. Chungking Express (1994) directed by Wong Kar Wai.

Untuk sebuah film romansa, Chungking Express lebih mengedepankan unsur eksperimentasi visual, karakterisasi, dan dialog antar tokoh ketimbang memaparkan struktur naratif secara konvensional. Alur cerita tidak akan begitu berarti di sini, karena tujuan film yang pernah membuat seorang Quentin Tarantino menangis karena bahagia ini hanya sesederhana mengajak penontonnya untuk bersenang-senang dalam arung jeram cinta. Kita tidak harus peduli apakah cinta mereka berbalas atau tidak, karena bagi mereka, mencintai hanyalah sebatas mencintai. Patah hati? Itu urusan belakangan. Yang penting, ayo jatuh cinta!

2. About Time (2013) directed by Richard Curtis

Perjalanan lintas waktu mungkin sudah menjadi sebuah topik yang basi untuk industri film di manapun, namun About Time berhasil mengolahnya menjadi sebuah cerita yang manis dan introspektif secara bersamaan. Lupakan tujuan-tujuan mulia seperti menyelamatkan dunia dari cengkeraman ilmuwan gila atau konspirasi masif alien untuk menghancurkan umat manusia. Mari gunakan time-travel sebagai alat untuk menyelamatkan diri kita di masa depan dari ketiadaan keturunan (baca: cari istri). Sesering apapun Domhnall Gleeson dan Rachel McAdams muncul di dalam film-film yang kita tonton, namun pesona serta chemistry yang mereka bangun di film yang disutradarai oleh orang yang pernah menyutradarai Love Actually ini akan membuatmu percaya lagi akan kesempurnaan cinta dan kasih sayang di dalam sebuah keluarga. Live each of your day to the fullest, guys!

3. Good Morning Vietnam (1987) directed by Barry Levinson.

Film yang disebut Roger Ebert sebagai penampilan terbaik dari Robin Williams ini membawa atmosfer yang penuh canda tawa pada konteks perang US – Vietnam, tentunya tanpa berceramah dan bersikap menghakimi karena sang karakter utama hanyalah seorang komedian yang ditugaskan untuk menjadi penyiar radio di sebuah daerah pangkalan militer. Terlebih, tidak hanya bekerja dengan baik sebagai film komedi, Good Morning Vietnam juga berperan sebagai film anti-war yang sarat dengan humor internal bernada sarkastik. Film ini sangat cocok untuk ditonton bagi mereka yang punya banyak pengalaman pahit soal birokrasi dan bagi aktivis sayap kiri.

4. The Lego Movie (2005) directed by Chris Miller and Phil Lord.

EVERYTHING IS AWESOME! Sekilas, The Lego Movie memang terlihat seperti film untuk bocah, tapi film animasi yang memenangkan Best Animated Feature Film di BAFTA 2015 ini cocok bagi mereka yang pernah merasakan kerennya jadi anak bocah. Buang skeptisme dan idealisme jauh-jauh karena Emmett akan membawa kalian bertualang melintasi dunia Lego dan menjalani petualangan-petualangan seru bersama Batman, Wonder Woman, dan Gandalf. Terdengar absurd, bukan? Namun percayalah, akan sangat menyenangkan bagi comic geeks untuk menyaksikan hiburan penuh fantasi ini!

5. 3 Idiots (2009) directed by Rajkumar Hirani.

Lagi bete karena revisian skripsi nggak kelar-kelar? Pusing di tengah kuliah karena baru sadar ternyata jurusan yang kamu jalani atas pilihan orang tua ini nggak sesuai minat kamu? Elus dada kamu pelan-pelan, ucapkan mantera “Aal izz well” sebanyak tiga kali, lalu tonton film ini. Kejeniusan Rajkumar Hirani dalam membungkus isu pendidikan yang krusial lewat guyonan-guyonan cerdas yang menyindir dengan lantang akan membuatmu tertawa terbahak-bahak dan menerima seikhlasnya bahwa satu-satunya jalan untuk menghadapi sistem pendidikan yang cacat ini hanyalah dengan menjalaninya dengan sabar sambil menggumamkan “Aal izz well” sebanyak mungkin.

6. The Intouchables (2011) directed by  Olivier Nakache and Eric Toledano.

Kebanyakan film yang mengusung topik disabilitas selalu menyajikan ceritanya dengan depresif dan muram.  Oleh karena itu, The Intouchables menawarkan sesuatu yang 180 derajat lebih menyenangkan daripada sekedar menjadikan para penyandang disabilitas sebagai korban yang tidak berdaya dan mengeksploitasi kesedihan yang mereka alami. Bayangkan, bagaimana jadinya jika Phillippe, bilyuner kaku yang lumpuh berteman dengan Driss, seorang mantan copet yang menjadi pengasuh pribadinya? Bukan, bukan kekacauan dan drama sentimental yang akan kita dapatkan, melainkan kegilaan-kegilaan yang asik dan menyenangkan dari Driss yang selalu melakukan segala halnya di luar batasan tanpa tanggung-tanggung.

7. Singin in The Rain (1952) directed by Gene Kelly and Stanley Donen.

Tak bisa diragukan lagi, film ini adalah film musikal terbaik dan paling menyenangkan yang pernah ada sepanjang masa. Dengan konteks film yang menceritakan konflik internal industri film Hollywood pada masa transisi film bisu ke film bersuara, kita akan dibawa ke alam musikal yang penuh dengan tap dance dan setting Broadway yang diwarnai gimmick-gimmick mengagumkan. Jika kamu tidak mampu menangkap keceriaan di saat Don, Kathy, dan Cosmo bernyanyi dan menggoyangkan tubuh mereka seirama dengan musik, kamu harus segera berkonsultasi ke psikolog mengenai masalahmu.

Mungkin ini terdengar garing dan membosankan, tapi dunia ini tidak sekurang ajar itu jika kita mampu melihat semuanya dari sudut pandang lain. Film-film ini secara tidak langsung mengajarkan pada kita bahwa bagaimana dunia memperlakukan kita sebenarnya tergantung pada bagaimana kita memperlakukan dunia. It works both ways! Intinya, apapun yang terjadi, dibikin asik aja, benar tidak?

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *