Iseng (2016) – Bercerita atau Berceramah?

Idealnya, dalam bercerita, seorang pencerita tidak boleh menyisipkan opini pribadi yang bersifat menceramahi pada penikmatnya. Secara logika bahasa pun, sebuah cerita seharusnya bertujuan untuk menceritakan. Jika tujuannya untuk menceramahi, namanya ceramah. Maxime du Camp, seorang penulis asal Perancis, pernah secara sarkastis mendeskripsikan gaya bercerita yang ideal dengan mereferensikan gaya penulisan sahabatnya yang juga seorang novelis, Gustave Flaubert:

“If a novel allows the author’s opinions to show through then the novel deserves to be thrown on the fire. Impersonal and impervious, the writer stands in for his characters. Thinks and acts like them. The subject of work of art…is as nothing, the execution is all that matters.”

Pernyataan du Camp tersebut menunjukkan bahwa seorang novelis, ataupun pencerita pada umumnya, haruslah menjadikan karakter mereka sebagai pedoman pokok dari sebuah cerita tanpa harus melemparkan penghakiman apapun terhadap apa yang para karakter ini lakukan. Dengan begitu, para karakterlah yang kemudian akan menjadi penggerak sebuah cerita dan bukan penulisnya. Cerita yang ideal haruslah menjadi sebuah studi kasus dengan interpretasi konklusi yang subjektif bagi para penikmatnya. Bukan seperti yang sinetron-sinetron murahan Indonesia dengan orang tua lemah, anak durhaka, rentenir kejam, ustadz, dan petir ataupun kutukan yang merepresentasikan Tuhan sebagai karakter utamanya.  Bukan juga seperti apa yang Iseng lakukan.

20 karakter dalam empat cerita yang berbeda terhubung secara tidak langsung ke dalam sebuah peristiwa bunuh diri dan pembunuhan pada suatu malam. Diceritakan dalam konteks kehidupan masyarakat urban Jakarta dengan berbagai macam kelas sosial yang ada, Iseng memiliki premis yang sangat menarik meskipun tidak bisa dibilang unik karena sudah pernah digunakan oleh Selamat Pagi, Malam sebelumnya. Ada beberapa poin di dalam film ini yang bisa penulis puji karena telah direncanakan dan dieksekusi dengan sangat baik, namun ada juga yang patut penulis kritik karena alasan krusial yang menyangkut tentang idealisme sebuah cerita.

Biarpun film yang disutradarai oleh Adrian Tang ini mempunyai jumlah tokoh yang bisa dikatakan terlalu banyak untuk standar film drama-thriller, namun semua tokoh tersebut mampu bersinar dengan karakteristik mereka masing-masing dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi para penonton setelah keluar dari ruangan teater. Bahkan untuk tokoh dengan screen time tersingkat seperti si ‘pelanggan’ yang diperankan oleh Cecep Arif Rahman dan Andi yang diperankan oleh Fauzi Baadila pun masih tetap mampu tampil mengesankan. Agak segar dan mengejutkan melihat kedua bintang bela diri seperti Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman mampu memberikan performa akting yang natural tanpa harus melakukan adegan perkelahian sengit seperti yang mereka lakukan di The Raid 2.

Keempat konflik besar yang diusung ke dalam film ini pun sangat menarik dan sederhana, karena siapapun yang menontonnya, terutama orang Jakarta, pasti mampu mengaitkan cerita ini dengan kehidupan sehari-hari mereka. Seorang sekretaris kantoran yang suka tebar pesona kemana-mana, sepasang sahabat yang berusaha mencari rezeki dengan melacur di pinggir jalanan Jakarta, sekelompok preman yang ditugaskan untuk membunuh wanita yang menjadi selingkuhan bosnya, dan seorang maniak seks yang bekerja sebagai seorang koki di sebuah rumah makan. Meskipun memang secara sekilas mereka semua terdengar agak ekstrim di telinga kita, namun cara mereka bertingkah, bahasa yang mereka gunakan saat berdialog, dan latar belakang personal yang mereka miliki sangat mirip dengan orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-harinya sehingga mereka tidak harus berusaha terlalu keras untuk dapat menarik simpati kita. Mungkin hal ini juga yang membantu para aktor untuk dapat tampil lebih natural dan menyatu dengan tokoh mereka masing-masing. Aplaus untuk kehebatan sang penulis naskah Husein M. Atmojo yang mampu merangkai struktur naratif yang cerdas dengan tokoh sederhana dan kompleksitas emosional yang akrab dengan kehidupan kita, masyarakat Jakarta.

Sayang, kecerdasan film ini kemudian hancur lebur luluh lantak saat sebuah teks muncul di layar hitam sebelum judul film dan kredit titel muncul diselingi epilog yang menampilkan sekuens latar belakang personal para tokoh dengan desaturasi warna seperti adegan-adegan flashback pada umumnya. Lewat kedua hal tersebut, seperti ada sebuah penghakiman terselubung dari sang sutradara dan penulis naskah yang mencoba menyatakan bahwa semua kemalangan yang terjadi pada tokoh-tokoh ini semata-mata adalah kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu. Penulis yang sempat dibuat kagum sepanjang keseluruhan film tiba-tiba langsung dibuat jijik oleh usaha sang pencerita untuk berceramah dan lepas tangan dengan menghilangkan keberpihakan mereka pada moral setiap tokoh yang mereka ciptakan. Seandainya semua kelebihan yang penulis nyatakan di awal tidak terdapat dalam film ini, mungkin penulis akan secara tegas menyimpulkan bahwa film ini tidak ada bedanya dengan sinetron-sinetron ‘ustadz kame-hame-ha’ yang tayang setiap fringe time di stasiun televisi lokal Indonesia.

Seandainya sutradara dan produser film Iseng berani untuk menghapus kedua hal yang penulis kritik di atas, maka Iseng sejatinya dapat menjadi sebuah film yang mampu bersaing di festival film mancanegara dan menjadi kebanggaan insan perfilman Indonesia karena berhasil memotret kehidupan Jakarta yang kejam dan tanpa ampun dengan akurat dan tidak kalah lantang dari A Copy of My Mind. Ini film yang bisa dibilang keren secara teknis dan naratif, namun dengan ending yang menghakimi tersebut, film ini tetap menjadi sebuah khotbah, bukan sebuah cerita.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Oscars 2016 – Where Miracles Took Place

Hanya ada tiga kata yang mampu mendeskripsikan Oscars tahun ini: unity in diversity.

Mulai dari Chris Rock – everyone’s favorite person – yang mendapat kesempatan untuk memandu acara, set of nominees and winners yang tidak diduga-duga, sampai dengan Lady Gaga yang secara khusus mendedikasikan lagunya yang berjudul “Till It Happens To You” untuk para sexual assault survivors yang ada di luar sana.

Nah, sebelum kita membahas ketiga iconic moments diatas secara lebih lanjut, here’s some of the categories and nominees of this prestigious award show.

BEST PICTURE:

The Martian, The Revenant, Room, Bridge of Spies, Spotlight, The Big Short, Brooklyn, Mad Max: Fury Road

BEST ACTOR:

Matt Damon: The Martian, Leonardo DiCaprio: The Revenant, Michael Fassbender: Steve Jobs, Eddie Redmayne: The Danish Girl, Bryan Cranston: Trumbo

BEST ORIGINAL SONG:

Earned It: Fifty Shades of Grey, Manta Ray: Racing Extinction, Simple Song #3: Youth, Till It Happens To You: The Hunting Ground, Writing’s on the Wall: Spectre

1. Chris Rock’s Opening Monologue

First of all, let’s talk about how Chris Rock practically owned the stage. With his usual remarks and heartwarming jokes, he definitely proved everyone that his satirical comedy will never vanish into the thin air.

Tidak percaya?

Berikut sebagian monolog pembukaan upacara Oscars dari Chris yang lucu, sarkastik, dan secara tidak langsung berhasil menai kontroversi dari berbagai pihak dan awak media.

“Here is the crazy thing. This is the wildest, craziest Oscars to ever host because we got all this controversy — no black nominees. And people are like. “Chris, you should boycott! Chris, you should quit! You should quit.” How come it’s only unemployed people that tell you to quit something, you know? No one with a job ever tells you to quit.

So I thought about quitting. I thought about it real hard, but I realized, “They’re gonna have the Oscars anyway.” They’re not gonna cancel the Oscars because I quit! And the last thing I need is to lose another job to Kevin Hart, OK? I don’t need that! Kev, right there [points to Hart in audience]. Kev make movies fast! Every month! Porno stars don’t make movies that fast.

Ia pun mengakhirinya dengan sebuah tanggapan yang mengusung tema sexism dan racism yang ada di dunia perfilman Hollywood, mengundang tawa sekaligus decak kagum dari seluruh auditorium.

“Another big thing tonight — somebody told me this — you’re not allowed to ask women what they’re wearing anymore. It’s a whole thing: #AskHerMore. “You have to ask her more! You ask the men more!” Everything’s not sexism, everything’s not racism. They ask the men more because the men are all wearing the same outfits! Every guy in here is wearing the exact same thing! If George Clooney showed up with a lime green tux on, and a swan coming out of his ass, somebody would go, “Whatcha wearin’, George!”

Hey, welcome to the 88th Academy Awards!”

2. Leonardo DiCaprio’s First Oscar

Moving onto the greatest, most iconic event of the year – wait for it – Leonardo DiCaprio finally won an Oscar!

Dalam sepuluh tahun terakhir, sudah terlalu banyak memes dan canda tawa yang kita lontarkan mengenai DiCaprio yang sudah berkali-kali masuk ke dalam nominasi Oscar, tetapi tidak pernah mendapatkan piala impian tersebut, but for now, he finally got the golden trophy he deserves.

Acceptance speech dari DiCaprio yang membuat kita meneteskan air mata juga patut diacungi jempol. Tidak hanya berterima kasih kepada rekan-rekan kerjanya pada film The Revenant yang memberinya kesempatan untuk membawa pulang piala Oscar, DiCaprio juga membahas isu-isu penting yang sedang dihadapi dunia, yakni climate change dan environmentalism.

Berikut adalah sebagian dari transcript pidato DiCaprio yang singkat dan padat, tetapi berhasil memberikan dampak besar terhadap dunia perfilman tahun ini.

“And lastly, I just want to say this: Making The Revenant was about man’s relationship to the natural world.

A world that we collectively felt in 2015 as the hottest year in recorded history. Our production needed to move to the southern tip of this planet just to be able to find snow. Climate change is real, it is happening right now. It is the most urgent threat facing our entire species, and we need to work collectively together and stop procrastinating.

We need to support leaders around the world who do not speak for the big polluters, but who speak for all of humanity, for the indigenous people of the world, for the billions and billions of underprivileged people out there who would be most affected by this. For our children’s children, and for those people out there whose voices have been drowned out by the politics of greed. I thank you all for this amazing award tonight. Let us not take this planet for granted. I do not take tonight for granted. Thank you so very much.”

3. Lady Gaga’s Heartbreaking Song

Meskipun lagu “Till It Happens To You” yang merupakan original song dari film dokumentasi The Hunting Ground belum berhasil membuat Lady Gaga membawa pulang piala Oscar, semua mata tertuju padanya malam itu.

Gaga menegaskan bahwa lagu tersebut ia dedikasikan untuk para korban kekerasan seksual yang masih memiliki kesulitan untuk memperjuangkan hak mereka. Bahkan, pada salah satu interview-nya dengan Elvis Duran & The Morning Show, dengan berani Gaga juga bercerita tentang pengalaman pribadinya mengenai sexual assault yang pernah ia alami, yang pada akhirnya menjadi salah satu influent terbesar dalam penulisan lagu ini.

Ia berkata, “I feel physical pain and there’s a lot of other people that suffer from chronic pain who have been through a traumatic experience. I actually suffer from chronic pain all the time, and it’s from this paralyzing fear that I’ve experienced for almost 10 years.”

Meskipun pada akhirnya piala tersebut dimenangkan oleh Sam Smith dengan lagu “Writings On The Wall” dari Spectre, yang juga dengan berani mengusung tema LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), pertunjukan yang dibawakan Gaga tetap membuktikan bahwa sebuah lagu dapat memberikan impact yang besar bagi siapapun yang mendengarnya.

Berikut adalah sebagian dari acceptance speech milik Sam Smith, yang juga membuat seluruh auditorium tercengang dan bertepuk tangan, even Lady Gaga herself who’s been known as a very devoted activist for the LGBT community.

“I read an article a few months ago by Sir Ian McKellen and he said that no openly gay man had ever won an Oscar. And if this is the case, even if it isn’t the case, I want to dedicate this to the LGBT community all around the world. I stand here tonight as a proud gay man, and I hope we can all stand together as equals one day.”

image

Akhir kata, Oscars 2016 merupakan satu dari sekian acara penghargaan yang berhasil membuktikan bahwa stereotypes will never take place unless you start it yourself. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, tidak ada kata kecewa untuk sebuah kekalahan, dan tidak ada kata biasa untuk sesuatu yang sebenarnya luar biasa. It’s all about perspectives, finding your true selves and embracing the flaws you’re never been comfortable with.

Zootopia (2016) – The Animatopia

Tidak butuh atmosfer yang gelap serta struktur naratif yang bertele-tele untuk menceritakan isu-isu yang rumit dan sensitif di kalangan masyarakat dunia saat ini, khususnya isu toleransi di dalam sebuah keberagaman. Namun agaknya mengejutkan bila Disney, yang notabene lebih sering memilih untuk main aman di ranah monarki utopis, dapat memahami hal ini dan memanfaatkannya dengan berbicara politis tentang demokrasi dan toleransi untuk pertama kalinya dengan gaya bercerita yang sangat menghibur.

Film ini berkisah tentang Judy Hopps, seorang kelinci yang ingin menjadi polisi. Judy hidup di dalam sebuah dunia fauna di mana predator dan herbivora hidup berdampingan, meskipun banyak stereotipe terhadap satu sama lain yang menghalangi mereka untuk benar-benar bisa saling menyatu dalam harmoni. Saat kerja keras dan tekad yang kuat membawa Judy menjadi satu-satunya polisi kelinci di pusat kota Zootopia, ia menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam sebuah kasus besar yang dapat membongkar rahasia kelam Zootopia serta memercikkan kembali api kebencian antara herbivor dan predator. Terdengar seperti sebuah cerita yang seru dan menyenangkan, bukan?

Jika kalian ragu apakah cerita ini mampu menjadi menyenangkan dan penting secara bersamaan untuk penonton segala usia, kalian akan terkejut sambil tertawa terbahak-bahak menyaksikan setiap satir yang disajikan dengan jenius dalam film ini. Adegan ‘DMV Sloths’ dan ‘Mr. Big’ akan mampu menguras tawa yang maksimal bila kalian menyukai film The Godfather, pernah punya pengalaman buruk dalam proses administrasi pelayanan publik, ataupun bila kalian hanya seorang anak kecil yang mudah tertawa dengan aksi tokoh-tokoh binatang yang komikal dan menggemaskan.

Patut diingat bahwasanya di dalam film yang penuh dengan canda tawa ini, diskriminasi, stereotipe, dan intoleransi harus menjadi sebuah pembahasan yang serius dan penting untuk disimak bagi para penonton dewasa. Segala detail mise en scene maupun dialog antar karakter membentuk pesan-pesan demokratis yang tidak boleh untuk kita abaikan begitu saja. Contohnya, ketika Judy berkata, “only a bunny can call another bunny ‘cute'”  dan perangai para penumpang saat Judy menaiki sebuah kereta yang diisi oleh predator dan herbivor. Atau saat kita menyadari bahwa kecuali Judy, seluruh personel kepolisian di ZPD merupakan binatang-binatang bertubuh besar dan kita anggap kuat seperti banteng, gajah, badak, dan jerapah. Kita akan dibawa menuju sebuah dunia di mana stereotipe yang sering kita tujukan pada binatang-binatang tersebut di dunia nyata menjadi stereotipe yang mereka tujukan terhadap satu sama lain. Lebih jauh, kita bukan hanya akan dibuat berpikir lebih dalam tentang stereotipe kita terhadap binatang-binatang tersebut, namun juga terhadap manusia satu sama lain di dunia nyata.

Meskipun semua tokoh di film Zootopia adalah binatang dan tiap-tiap dari mereka memiliki ciri khas yang sama dengan binatang-binatang yang ada di dunia nyata, namun kepribadian mereka serta cara mereka berinteraksi dengan satu sama lain sangatlah manusiawi. Hal ini mungkin harusnya bisa menjadi renungan bagi para penonton tentang “apa yang menjadikan manusia itu manusia?” serta “apakah kita manusia sebenarnya lebih baik dari binatang?”. Film ini memenuhi dua materi yang sangat strategis untuk menjadi tontonan wajib bagi semua orang, termasuk di Indonesia yang sedang dipenuhi kebencian politik yang sangat kuat antara satu golongan dengan golongan yang lain. Dua materi itu adalah: film ini amat sangat menghibur dan film ini mempunyai subteks yang penting untuk didiskusikan lebih lanjut. Penulis berharap bagi mereka yang sudah berkeluarga agar menonton Zootopia bersama-sama agar orang tua dapat melakukan diskusi dengan anak-anaknya tentang subteks yang terkandung di dalam film ini.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.