10 Cloverfield Lane (2016) – The Lesser, The Better

Kamu pernah pacaran dengan orang yang selalu mengekangmu dan membuatmu tidak nyaman? Pernah berpikir bahwa kamu malah bisa lebih meningkatkan kualitas dirimu apabila kamu jomblo? Tenang, jangan baper dulu. 10 Cloverfield Lane mempunyai masalah yang kurang lebih sama denganmu.

Jika kamu seseorang yang enak dilihat, berpenampilan sahaja, berkelakuan baik, serta cerdas dalam akal dan akhlak, begitu pun analogi dari film yang disutradarai oleh Dan Trachtenberg ini. Sejak sekuens pembuka sampai di paruh pertama act 3, film ini berhasil menciptakan ketegangan-ketegangan sederhana lewat sentralisasi karakter Howard yang utuh namun misterius secara bersamaan. Malah bisa dibilang, inti dari kekuatan cerita ini ada pada karakter yang diperankan oleh John Goodman tersebut. Plot device lain, seperti bunker sempit yang mengurung ketiga karakter tersebut (Michelle, Howard, Emmett), berbagai properti aneh yang bernaung di dalamnya, lubang udara yang sempit, serta dunia luar yang misterius berhasil dimainkan dengan logika-logika cerdas untuk membangun claustrophobic horror yang efektif membuat para penonton sulit bernafas serta menduga-duga siapa sebenarnya Howard dan apa rencana besar yang ia miliki. Penulis tidak akan menceritakan rangkuman sinopsisnya karena semakin sedikit yang kamu tahu tentang 10 Cloverfield Lane, akan semakin seru pula film ini untuk kamu tonton pertama kali, dan bahkan akan tambah menegangkan apabila kamu belum menonton Cloverfield sama sekali.

“Crazy is building your ark after the flood has already come.” – Howard.

Sebenarnya, di situlah permasalahan terbesar 10 Cloverfield Lane. Meskipun kita sebelumnya tidak diberi tahu apakah film ini merupakan sekuel, prekuel, atau sekedar spin-off dari Cloverfield, setidaknya lewat keterlibatan Matt Reeves, Drew Goddard, dan J. J. Abrams kembali di film ini kita sudah tahu bahwa film ini memiliki keterkaitan dengan film found-footage sci-fi horror tersebut. Bahkan dari judul film dan promosi pun sebenarnya sudah sangat eksplisit, yang di dukung pula oleh trailer yang mengaksentuasikan ‘Cloverfield’ saat menampilkan judulnya. Sangat disayangkan film ini tidak bisa dinikmati secara keseluruhan oleh semua orang karena branding ‘Cloverfield’ tersebut membuat twist keren di akhir film menjadi sesuatu yang sudah sepatutnya diharapkan ada oleh mereka yang sudah menonton Cloverfield terlebih dahulu.

Jika kita boleh berandai-andai, ada dua skenario yang bisa membuat film ini menjadi sebuah thriller yang lebih solid dan exceptional.

  1. Apabila film ini tayang terlebih dahulu sebelum Cloverfield, film ini akan menjadi sebuah snowball marketing untuk film Cloverfield yang akan ditayangkan beberapa tahun setelahnya. Secara visual, 10 Cloverfield Lane pun memang terlihat seperti indie low-budget sci-fi film yang akan memancing studio besar untuk membiayai versi blockbuster-nya, yang mana adalah Cloverfield itu sendiri. Terlebih, pertanyaan-pertanyaan besar yang ditimbulkan oleh film minimalis ini bahkan jauh lebih banyak dan membuat penasaran ketimbang Cloverfield yang skalanya sudah terlalu masif melibatkan seluruh kota dan pangkalan militer.
  2. Apabila film ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan cerita dengan Cloverfield, maka ending film akan dapat digarap dengan lebih matang sehingga twist yang tercipta akan jauh lebih tak terduga (jangan lupa, kita hanya berandai-andai).

Jika kamu orang yang peka, kamu akan merasakan bahwa di paruh kedua act 3, film ini terlihat seperti tidak nyaman bereksplorasi sehingga kapasitas kecerdasan skenario di ending pun menurun drastis. Dari hal berikut, dapat disimpulkan bahwa tanpa branding ‘Cloverfield’ ataupun alur cerita yang harus selalu mengacu pada film tersebut, film ini akan mampu dianalogikan sebagai high-quality (minimalist) jomblo yang mungkin mampu bersinar lebih terang menjadi salah satu film sci-fi horror terbaik di tahun 2016 ini. Itu jika kamu orang yang peka.

Entahlah, mungkin penulis hanya sedang butuh kepekaan seseorang saja akhir-akhir ini.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *