Black Mirror (TV Series) – A Traumatizing Picture of Technological Catastrophe

Ini ulasan pertama saya tentang serial televisi. Jujur, sedari dulu saya agak malas mengulas serial televisi karena ada terlalu banyak hal yang harus saya ulas dan yah, saya memang pemalas. Namun demi mensyiarkan titah-titah Black Mirror pada umat manusia untuk mencegah kehancuran zaman, saya akan mencoba untuk pertama kalinya.

Banyak serial televisi yang saya tonton, dan semuanya bagus-bagus. Kalau anda bertanya rekomendasi, saya bisa sebutkan banyak judul berdasarkan serial seperti apa yang anda cari. Namun untuk semua orang yang bertanya, saya pasti akan merekomendasikan untuk menyempatkan diri menonton Black Mirror.

1419367849BlackMirror1x02_0607

Black Mirror adalah serial antologi yang menghadirkan kisah-kisah tragis yang dibalut dengan satir jenius dan luar biasa berani tentang hubungan interdependensi antara manusia dengan teknologi. Karena ini serial antologi, maka setiap episode di tiap musim punya cerita yang berbeda-beda dan tidak saling sambung menyambung. Anda bisa bebas mau menonton episode yang mana dulu di season yang mana dulu. Bebas. Maka dari itu Black Mirror cocok bagi anda yang ogah menonton serial televisi karena malas untuk berkomitmen pada satu cerita yang panjang mengular naga.

Bicara soal teknis dan naratif, serial televisi yang ditulis dan diproduksi oleh Charlie Brooker ini punya kualitas yang prima dan didukung pula dengan performa dari para aktor dan aktris yang familiar di layar kaca (Rory McKinnear, Domhnall Gleeson, Toby Kebbell). Namun ada tiga faktor yang membuat saya ketakutan dan berpikir bahwa Black Mirror telah mendobrak batas terjauh dari sebuah serial televisi:

1. Berbicara dengan Kekuatan Satir yang Keras, Lantang, dan Mengerikan.

Setiap episode dari Black Mirror sejatinya adalah sebuah kritik sosial politik yang disajikan lewat medium horor psikologis. Alih-alih menceramahi dan mendikte penontonnya lewat polarisasi baik-buruk seperti yang sering dilakukan serial televisi murahan Indonesia, Charlie Brooker menjadikan teknologi dan sisi gelap kemanusiaan sebagai monster yang meneror setiap tokoh utamanya sampai jiwa mereka hancur berserakan di lumpur yang kotor dan hina. Biarpun semua kisah di tiap episode adalah allegorical fiction, Charlie tidak pernah ragu untuk meramu pandangan sinisnya tentang kemanusiaan ke dalam skenario what-if yang menegasikan khayalan babu kita tentang pengaruh teknologi futuristik pada kehidupan manusia.

“Gimana ya, kalo kita bisa ngerekam semua memori kehidupan kita menjadi data yang dapat ditonton dan di-transfer?”
“Gimana ya kalo kita bisa bicara sama orang kesayangan kita yang sudah meninggal?”

Percayalah, kawan. Kalian tidak benar-benar menginginkan semua itu.

2. Memberi Pengalaman Menonton yang Traumatis.

Tidak ada kebahagiaan secercah pun, sebutir pun di dalam kisah-kisah Black Mirror. Buat kalian yang suka sama list “7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar” ataupun kalian yang menganggap Red Wedding di Game of Thrones itu cukup traumatis buat kalian, mulailah menonton Black Mirror. Serius. Banyak kritikus film yang menyandingkan tragic and mind-wrenching storytelling di Black Mirror dengan The Twilight Zone karena plot-twist jenius yang ada di akhir setiap episodenya. Namun saya berpendapat lain. Plot twist yang ada di setiap episode Black Mirror tidak hanya akan mengejutkanmu, tapi akan meninggalkan bekas luka yang menganga di jiwamu.

3. Mampu Membaca Masa Depan.

Sungguh, ini nyata. Saya juga kaget. Episode Pilot (The National Anthem) tayang perdana di Channel 4 UK pada Desember 2011 dan Episode Black Mirror terakhir (White Christmas) tayang Desember 2014, namun banyak sekali isu-isu sosial maupun politik yang kemudian terjadi dan sangat mirip dengan apa yang telah dikisahkan oleh beberapa episode di Black Mirror. Saya ingin mengungkapkan banyak sekali kecocokan tersebut, namun saya tidak ingin menceritakan secara detail plot dari tiap episode karena the less you know, the better you will experience themJadi saya hanya akan menuturkan bahwa:

1. David Cameron’s “Piggate Scandal” yang terjadi pada September 2015 mempunyai kemiripan dengan Ep. 1 Season 1: The National Anthem.

2. Pencalonan dan Kampanye Calon Presiden Amerika Serikat 2016 Donald Trump mempunyai kemiripan dengan Ep. 3 Season 2: The Waldo Moment.

3. Popularitas Pokemon Go di pertengahan 2016 mempunyai kemiripan konseptual dengan Ep. 2 Season 2: White Bear.

Seperti judulnya, Black Mirror memberikan cermin hitam buat kita berkaca tentang seberapa gilakah kita sebagai manusia untuk membiarkan teknologi mempersenjatai kegilaan kita. Seperti layaknya 1984 yang ditulis oleh George Orwell, masa depan, yang kini jadi masa lalu, telah mengkonfirmasi beberapa tesis distopia yang telah disuguhkan Black Mirror di beberapa episodenya. Selebihnya terserah kita, apakah ingin bahu membahu introspeksi diri demi memperbaiki masa depan, ataukah membiarkan diri kita berada dalam kenyamanan futuristik yang semu dan membiarkan semua episode—termasuk Season 3 yang akan datang di Netflix pada 2017—mengacak-acak kehidupan kita sampai mampus tak tersisa.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *