Anomalisa (2015) – Modus Anomalisa

Ada kalanya saat mengulas film yang bikin baper, saya butuh waktu untuk sendirian, lalu meringkuk di atas kursi kerja sambil merenungi rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dada saya. Namun ada kalanya juga, saya harus membicarakan beberapa hal yang saya rasa perlu dipaparkan lewat dua sudut pandang yang berbeda agar komprehensif dan tidak bias. Untuk itu, dalam mengulas film Anomalisa, saya mengajak Icha Chairunnisa, salah seorang blogger kondang asal Samarinda yang juga sering ngebaperin film-film yang sudah ia tonton di blognya, Terketik. Film yang istimewa, tentunya harus diulas dengan cara yang istimewa, dan ulasan kali ini akan saya paparkan dengan bentuk rekap hasil korespondensi saya dengan Icha.

[CHAPTER 1]

T : “Halo Ichaa, Kapan nih kita baperin Anomalisa?”

I : “Hai Tommy! Ayok kita mulai sekarang baperinnya. Hehehe. Aku suka filmnya! Dan aneh sih, aku pas nonton adegan Lisa dan Michael lagi beradegan ena ena, aku ngomong ‘Film animasi nakal!’ berkali-kali. Awalnya aku bingung sih kenapa suaranya kok sama semua. Mulai dari orang yang duduk di sebelahnya waktu di pesawat, di hotel, nggak cewek nggak cowok. Bahkan mantannya yang namanya Bella itu pake suara cowok. Bajingak. Geli nontonnya. Ngakak gitu aku.”

T : “Tapi pada akhirnya kamu ngerti kan itu kenapa?”

I : “Hmm… kalau yang aku baca dari review soal film itu, suara cewek pake suara cowok dan semua suara orang di situ sama semua, menandakan betapa membosankannya hidupnya Michael. Dia nganggap semuanya sama. Kalau nggak salah, itu ada di ilmu psikologi gitu ya. Fregoli Syndrome kalau nggak salah.”

T : “Yup, betul, every girl is just another boring person for him, kecuali Lisa…”

I : “((KECUALI LISA))”

T : “…dan ketika suara Lisa menjadi berat dan Michael ogah-ogahan, itu juga karena dia udah bosen sama Lisa.”

I : “Oooh….. secepat itu dia bosen sama Lisa? Trus yang dia pidato hancur-hancuran itu? Itu dia maksudnya curhat colongan ya?”

T : “It’s because he literally can’t stop thinking about her, and what happened between him and her. Lisa itu sama-sama korban kayak Bella. Korban PHP. Korban ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Korban cowok ilfil yang nggak bisa konsisten sama perasaan dia sendiri.”

I : “AAAH! Jadi, Michael itu memang tipe orang yang bosenan? Madefaqa. Eh, kamu ngerasa relate nggak sih, Tom? Wkakakakaka.”

T : “Aku pernah jadi Michael dan juga jadi Lisa. Tapi lebih sering jadi Lisa sih HAHAHA.”

I : “Wuahahaha. Lebih sering jadi Lisa. Yakin? :p”

T : “Hmm…gimana yah? Udah ah lanjut ngomongin Anomalisa wqwq…”

I : “Ih dasar, mengalihkan perhatian wkwk. Aku pikir karakter Michael itu mirip sama karakter Theodore-nya Her. Soalnya filmnya sama-sama tentang kesepian gitu kan. Tapi ternyata…”

T : “Nah justru film ini mengajak kita untuk mengerti sebenarnya apa yang si manusia PHP ini rasakan. Pertanyaannya adalah: Kamu pernah jadi Michael atau Lisa nggak? Hehe hehe~”

I : “Aku pernah jadi Lisa. Aku pernah ceritain itu di blog. Dan kasusnya sih mirip-mirip kayak film Anomalisa. Aku kayak Lisa yang rendah diri, pemalu, minderan, dan ngerasa waaaaw banget pas orang yang aku idolain itu deket sama aku dan bilang suka sama aku.”

T : “Hmmm ya ya.  Coba gimana detailnya?”

I : “Kejadiannya udah lama sih. Hahaha. Kalau boleh curhat nih, basah sekalian, dia itu komika. Dulu aku ngedukung dia penuh pas ikut SUCI. Nontonin dia kalau Open Mic. Dan nggak nyangka aku bisa deket sama dia. Padahal waktu itu aku punya pacar. Hahahaha.”

T : (menyeruput kopi)

I : “Tapi lama kelamaan dia ngejauh. Tanpa sebab. Atau akunya aja yang nggak tau sebabnya apa. Atau dia ya kayak Michael, bosen sama aku. Padahal aku udah mau mutusin pacarku waktu itu demi dia. Tapi akhirnya ya aku tetap sama pacar. Setelah ngaku kalau aku pernah deket sama idolaku itu.”

T : “Pembicaraan ini telah saya screenshot dan sudah pasti akan masuk Distopiana HAHAHA~~~~~”

I : “BAJINGAAAAAK!!!!!!!!!!!!”

T : “Wqwq buodo amat. Eh cha, mau pulang dulu. Makan dulu. Boleh nggak cha? Malem lanjutin lagi gitu.”

I : “Boleh lah, Tom. Makan yang banyaaaak. Biar kuat kalau mau jadi Lisa lagi! Wkakaka.”

[CHAPTER 2]

T : “Oy oy.”

I : “Hadiir! Duh, Gara-gara nonton Anomalisa, jadi pengen nonton Eternal Sunshine lagi. Wkakakaka.

T : “Hahaha oke lanjut. Apa persepsi kamu terhadap orang yang PHP in kamu itu? Kamu nganggep dia bajingak kah? Atau gimana?”

I : “Aku nganggap dia jahat banget. Bajingak gitu. Gimana ya, aku yang awalnya minderan, rendah diri, pas kenal dan deket sama dia jadinya mulai percaya diri gitu. Soalnya dia mandang kekuranganku sebagai kelebihan. Sama kayak Michael mandang kekurangannya Lisa sebagai kelebihan. Pas tau dia cuma pehapein aku, akunya jadi ngerasa lebih minder daripada sebelum dekat sama dia. Ngerasa nggak berharga. Ngerasa bego juga, karena kok aku bisa gede rasa sama dia. Padahal dianya cuma nggak mau serius sama aku.”

T: “Hmm…oke oke.”

I : “Trus, Tom. Si Lisa kenapa tegar aja ya pas di ending? Padahal dia dipehapein gitu. Ditinggalin sama Michael.”

T : “Lisa falls too deep. Too hard. She was destroyed. And you know what, that’s what a destroyed person does when he got destroyed too much before. She’s just taking it like a lady, when she actually feels like a hobo.”

I : “Feels like a hobo :’) Jadi…sebenarnya Anomalisa ini ceritanya bukan sekedar cowok bosen hidup yang tiba-tiba jadi semangat hidup karena ketemu cewek yang berbeda dari yang lain kan?”

T : “It’s hard to describe sih, Cha. Kamu pernah ngerasa bosen nggak sama seseorang yang pernah kamu suka sebelumnya?”

I : “Pernah. Tapi bukan ke bosen sih. Gimana ya, kan jadi ikutan susah ngejelasinnya. Ya gini. Aku suka sama seseorang, yang menurutku dia itu nggak pernah aku temuin di cowok-cowok lain. Atau gini, dia jadi seseorang yang aku nggak sangka bakal datang ke hidupku. Ceilah. Hidup. Seseorang yang aku suka itu, dia humoris tapi juga manis. Kami juga punya hobi yang sama dan dia selalu nyemangatin aku kalau minderku kumat.”

T : “Hmm terus terus?”

I : “Tapi makin ke sini, aku jadi tau dia itu memang manusia. Pasti ada kurangnya. Aku bosen sih ngertiin dia. Menganggap kalau sifatnya itu nggak apa apa. Tapi bosen yang nggak lama. Itu sih.”

T : “I see…”

I : “Kalau menurut kamu, kita bisa bosen sama orang itu sebenarnya karena apa, Tom? Karena nggak ada yang bikin kita penasaran lagi sama dia? Karena hubungan yang dijalin terlalu lama? Atau apa?”

T : “Nah, ini dia. Aku pernah bilang sama temen aku, aku pengen banget tahu caranya bedain rasa ‘sayang’ sama yang sekedar ‘penasaran’ doang. Terus temen aku ngetawain aku sambil bilang: Good luck aja deh, Tom. HAHAHA!”

I : “KOCAK TEMEN KAMU IH. JAHAT JUGA JAWABNYA KAYAK GITU. HAHAHAHA.”

T : “Wqwq terdengar jahat memang, Tapi dia sebenernya bilang kalo sampai sekarang pun, manusia sepandai apapun nggak akan pernah bisa bedain mana cinta dan mana penasaran. Hoki-hokian aja sebenernya. Sama kayak Michael yang tiba tiba sadar di pagi hari setelah ena ena sama Lisa. Lisa yang udah nyaman banget sama Michael tiba-tiba malah bikin Michael ilfil karena pada akhirnya Michael ngeliat Lisa sama aja kayak manusia-manusia pada umumnya. Cinta dan penasaran sama-sama bisa bikin kita clingy sama seseorang. Sama sama bisa bikin dia menghantui mimpi kita. Sama-sama bisa bikin kita mau ngelakuin apa aja buat dia.”

I : “ITU DEEP SIH TOM! Eh, tapi bener juga. Nyaris nggak ada bedanya mungkin. Jatuh cinta sama penasaran. Memang bener mempertahankan itu lebih susah daripada mendapatkan. Termasuk mempertahankan jatuh cintanya kita sama seseorang.”

T : “When we try to get love, we only have to fight for one person. When we try to defend love, we have to face another difficult enemies: ourselves.”

I : “Aaak bijaque banget sih :’) Trus, Tom. Setuju nggak sih kalau kita terlalu nyaman sama seseorang atau sesuatu, kita malah ngerasain kebosenan? Mungkin itu yang dirasain Michael.”

T : “Nggak semua orang begitu, sih, tapi dalam kasus Anomalisa ini mungkin. Kamu lihat kan pas di scene di mana Michael kebayang-bayang sama hantunya Bella? He actually feels guilty and wants to settle it once and for all. Tapi dia tetep nggak bisa ngerasain cinta yang dia mau. Pas di Lisa yang dia kira true love nya dia pun, dia ternyata nggak bisa ngerasain itu. Pas di istrinya pun sama, istrinya pake suara cowok kan. He still feel the same empty, numb feeling towards her. But he settle it once and for all with her, without feeling love, the feeling that he is unable to have.”

I : “Hooh iya iya…”

T : “Bisa aja Michael ini a realistically mundane version of Summer Finn.”

I : “YAAAAA! AKU JUGA SEMPET KEPIKIRAN 500 DAYS OF SUMMER! MICHAEL SAMA SUMMER ITU SAMAAAA! SAMA-SAMA BIKIN KITA BINGUNG MAUNYA MEREKA ITU SEBENARNYA APA! AAAAAAK! Summer juga ngerasain kekosongan dalam hidupnya kan? Dia nggak percaya apa itu cinta. Tapi bedanya sama Michael, dia riang dan gembira dalam menjalani hari-harinya. Aku mikir kalau dia nggak mau cinta-cintaan karena dia nggak mau ngerasain kesedihan kayak yang dirasain kedua orangtuanya. Orangtuanya yang bercerai. Kesedihannya ngeliat orangtua mereka bercerai. Summer udah kayak judul lagu yang dinyanyiin sama Lisa. Girls Just Want To Have Fun. Gitu kali ya HAHA.”

T : “Yup yup, bener banget!”

I : “Oke. Itu yang dirasain sama para tukang PHP ya? Nggak punya keberanian buat making decision to love and protect someone. Madefaqa. Lemah. Lemah syahwat. Fix itu yang dirasain Michael. Dan mungkin juga Summer Finn. Pantesan kayaknya tukang PHP memang doyannya sama orang yang rendah diri dan minderan gitu deh. Michael bisa pehapein Lisa karena dia rendah diri dan suka bilang ‘Shut up, Lisa’ pas dia ngomong terlalu banyak. Summer bisa pehapein Tom Hansen karena Tom Hansen rendah diri. Tom yang pesimis sama hidupnya. Bella juga keliatan rendah diri kan? Pas di telpon, dia kasih tau kalau sekarang dia gemuk, pake gigi palsu, bla bla bla. Pas ketemu dia bilang kalau dirinya jelek.”

T : “YAHELAH KENAPA BALIKNYA KE (500) DAYS OF SUMMER LAGI SIH!! *kraiii*”

I : “HAHAHA MAAF TOOM JANGAN BAPER! Film 500 Days of Summer itu genrenya slasher, gore, thriller, kalau kata temenku 😂😂”

T : “Iya udah jangan dilanjutin, gasehat bapernya. Terus-terus, pandangan kamu terhadap orang yang PHP gimana sekarang?”

I : “Setelah nonton Anomalisa, aku ngeliatnya ternyata jadi tukang PHP itu nyusahin diri sendiri. Ternyata tukang PHP itu bisa jadi tukang PHP bukan karena dari awal niatnya mau memberi harapan palsu. Bisa aja dia niat awalnya mau serius sama seseorang. Tapi karena dia nggak bisa tegas sama perasaannya sendiri, dia terlalu mengejar kesempurnaan mungkin nggak bisa nerima kekurangan kecil pasangannya kayak Michael nggak bisa nerima kebiasaan Lisa yang suka ngomong sambil makan, ya udah dia milih pergi aja. Huhuhu.”

T : “Yup. Aku juga ngerasanya gitu kok.”

I : “Dan…. sekarang aku yang tanya. Waktu kamu pernah jadi Michael, kamu kayak gimana? 😂😂😂😂”

T : *tidak ada jawaban* *hening*

T : “Chaaaa, maaf baru bales. Aku semalem ketiduran!”

I : “Ketiduran apa menghindari pertanyaan? Hahaha. Yuk lanjut lagi.”

T : “Nggak menghindar kok. Nih aku jawab sekarang ya. I’m a simple guy who goes for a girl for a sweet life companion. Intinya hidup udah susah, kerjaanku juga udah susah, aku nggak suka sama yang bikin-bikin drama yang harusnya nggak ada, main mainin perasaan cowok cuma biar dia dikasih perhatian lebih 1×24 jam. Aku orang yang bener-bener sederhana, cuma beberapa cewek yang berhasil bikin aku terpikat di awal kenal itu ternyata seneng over-complicating things sehingga aku capek dan akhirnya aku tinggalin sebelum semuanya terlambat.”

I : “Hahaha. Tauk nggak sih. Aku ngakak bacanya. Jujur dari hati banget. Lugas. Fix cowok memang nggak suka sama cewek yang ngedrama gitu ya. Kalau punya perasaan yang sama, yaudah lanjut. Nggak usah nunggu siapa duluan yang nyatain gitu kan? Nggak usah sok-sok minta diperjuangin gitu kan dengan bertingkah sok jual mahal?”

T : “Nah, kalau aku sih, begitu, Cha, tapi kayaknya tiap cowok beda-beda sih. Banyak cowok yang aku kenal juga ada yang nggak suka sama cewek yang belum apa-apa udah clingy dan demanding, ada yang emang syariah dan nyari satu langsung diseriusin, ada yang emang cuma nyari selangkangan doang abis itu bosen terus ditinggalin, dan ada yang kayak Michael juga, Si Pria Modus Anomalisa.”

I : “(((MODUS ANOMALISA)))”

T : “Okay, that should be our post’s tagline. HAHAHA.”

I : “Setuju banget! Nah, Sekarang bahas soal teknisnya deh, Tom. Kalau mau.”

T : “Aku nggak komentar masalah teknis, because it all seems bizzarely, strangely mundane. Tapi jelas ada maksud tertentu dari kenapa Charlie Kaufman menggunakan animasi stop motion ala-ala Aardman. Lewat setiap manusia yang berbentuk seperti manekin dengan wajah yang hampir mirip, Anomalisa eerily tells us that we are no different than the others. That we are not as special as Tumblr tells us. That we are just someone else.”

I : “Dalem banget sik kata-kata kamu, Tom. Tapi bikin ngakak juga. Hahaha.”

T : “KOK NGAQAQ SIH? KZL! Yaudah sekarang menurut kamu secara teknis, Anomalisa gimana?”

I : “Ngahaha. Kalau aku, lebih ngerasa relate sama Lisa sih. Lisa yang pemalu dan rendah diri itu kurang lebih kayak aku. Aku sempat nangis dikit pas Lisa ‘ngasih tau’ kekurangan-kekurangannya tapi MIchael menyangkal semua itu. Pasti bahagia banget jadi Lisa di malam itu. Ada cowok yang menyanjung dia sampe segitunya. Nganggap kalau dia itu berbeda. Spesial. Kalau ada cowok yang muji kami, cewek-cewek, dengan kalimat, “Kamu berbeda.” Itu lebih bikin senyam-senyum daripada dipuji cantik atau semacamnya.”

T : *mencatat*

I : “Tapi pas Michael dan Lisanya sarapan, aku juga nangis dikit. Tapi beda sih nangisnya. Aku nangis dikit karena mikir, ini Lisa kok gampang banget ya ngiyain Michael? Michael yang mau bareng dia terus sampe mau cerai dari istri. Apa semua cewek yang rendah diri itu gitu? Kalau ada yang suka sama dia, trus dia nyaman dan suka juga, dia nggak mikirin ke depannya kayak gimana? Seolah yang ada di pikirannya itu cuma “ada yang sayang sama aku dan aku nggak peduli apapun yang penting ada yang sayang sama aku”. Dan endingnya tadi nonton lagi filmnya. Dan aku nangis masaaaaa. HAHAHAHAHA. Aku cengeng banget ya.”

T : “Nggak cengeng, kok. Menangis itu manusiawi. Pukpuk Icha.”

I : “Hahaha iya nih, Anomalisa bikin bingung, bikin ngakak, dan bikin baper emang. Beda sama 500 Days of Summer yang menampilkan Summer sebagai tukang PHP secara gamblang jadinya Summer terlihat kejam, Anomalisa nampilin Michael sebagai tukang PHP yang menurutku patut dikasihani. Kasihan aja sih, dia capek sendiri sama perasaannya yang nggak konsisten.”

T : “Jadi menurut kamu, tukang PHP terkadang juga harus dipahami ya?”

I : “Kurang lebih begitu sih, karena terkadang sebenarnya yang kasihan itu si tukang PHP, bukan yang dipehapein kan. Apalagi kalau tukang PHP-nya kayak Michael. Yang kayak dihantui perasaan bersalah gitu. Kalau kesimpulan dari kamu apa, Tom?”

T : “Sebelumnya aku boleh nanya dulu nggak, Cha?”

I : “Boleh, nanya apa, Tom?”

T : “Itu siapa sih yang menemukan kata bajingak? Tak senonoh. Sungguh. Wkwkwk.”

I : “AKU! BAHAHAHAHAHAHAHA. Gara-gara keseringan misuh di grup main werewolf, sering dibunuh di awal permainan, yaudah aku ngumpat. Mau pake bajingan kayaknya kasar banget. Yaudah diplesetin jadi bajingak.”

T : “Luar biasa hahaha. Yaudah lanjut. Kesimpulan dari aku: Pen + Apple = Apple Pen.”

I : “Sialan. Hahahaha. Kesimpulannya bagus, Tom. Seandainya boneka yang dibeli sama Michael itu bukan nyanyi lagu Jepang, tapi lagu pen apple apple pen itu ya.”

T : “Ya, seandainya Michael menyanyikan PPAP saat memberikan kuliah umum, mungkin hidupnya akan jauh lebih berbeda.”

I : ” BAJINGAAAAAK. PPAP berpengaruh besar ya.”

T : “Canda deng hahaha. Kesimpulan dari aku adalah: Anomalisa memperlihatkan bahwa beberapa tukang PHP seperti Michael yang sering dibajingak-bajingakkan itu sebenarnya memiliki kelinglungan yang menyiksa dan sama saja seperti kita yang clueless dalam mengartikan kehidupan dan memaknai perasaan. Kalo kesimpulan dari kamu apa?

I : “Kalau dari aku: Anomalisa memperlihatkan kalau tukang PHP seperti Michael adalah orang yang menyedihkan. Dia kelewat bosan, dia (mungkin) terlalu mengejar kesempurnaan hidup sehingga semua yang di sekitarnya jadi terlihat salah dan sama aja. Nggak ada yang spesial. Dia nggak mensyukuri karirnya yang bagus, orang-orang terdekatnya yang sayang sama dia. Dan sebenarnya orang kayak Lisa adalah orang yang lebih menghargai perasaan orang lain dan bisa bertanggung jawab dengan perasaannya sendiri. Meskipun dia minderan, rendah diri, pemalu, atau semacamnya.

T : “Ntap cha. Good point. Oke deh, seneng banget nih ngulas film bareng kamu. Makasih ya!”

I : “Aku juga seneng banget. Makasih juga! Ngulas film sama kamu menyenangkan. Seneng banget bisa ngulas sama orang yang aku kagumin ulasannya. Huahahahaha.”

– THE END –