maxresdefault

Headshot (2016) – A Tremendous Shots of Empty Shells

Iko Uwais melawan Julie Estelle dan Very Tri Yulisman, aksi bela diri yang brutal, serta tone film yang cenderung gelap dan penuh ketegangan. Rasanya sangat tidak mungkin untuk tidak membandingkan film yang disutradarai oleh Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto ini dengan The Raid 1 & 2 yang notabene menjadi pedoman dalam film aksi modern Indonesia. Mengingat Iko, Julie, dan Very juga sempat terlibat di dua project The Raid besutan Gareth Evans tersebut, penonton awam seperti saya akan otomatis bertanya-tanya, “Apa bedanya Headshot dengan The Raid?” dan sesungguhnya jika mempertimbangkan ketiga unsur yang telah saya sebutkan di atas, itu adalah pertanyaan yang tidak bisa disalahkan. Mengapa pula menghadirkan tiga aktor serupa ke dalam film aksi dengan warna dan rasa yang sama namun tidak ada kaitan cerita sama sekali dengan film sebelumnya?

Seorang pria misterius (dibintangi oleh Iko Uwais) terbangun di sebuah rumah sakit, tidak mengingat siapa namanya dan apa yang terjadi pada dirinya. Di sampingnya, seorang dokter-dokteran kawaii bernama Ailin (diperankan  oleh Chelsea Islan) menemaninya dengan sabar dan penuh kasih sayang, meskipun ia tidak tahu siapa lelaki itu sebelumnya dan apa yang telah ia perbuat. Ailin menamainya Ishmael, berdasarkan karakter yang ia temukan di novel Moby Dick yang ia baca saat menunggui pria itu sadar. Serangan demi serangan menimpa mereka tanpa alasan yang jelas, Ailin disandera oleh segerombolan orang yang mencari Ishmael, dan Ishmael harus mencari tahu tentang siapa sebenarnya dirinya dan menyelamatkan Ailin dari cengkeraman pria bernama Lee (diperankan oleh Sunny Pang) sebelum semuanya terlambat.

Sebagai film yang serupa tapi tak sama dengan The Raid ini, Headshot tidak menawarkan banyak hal-hal baru. Malah, bagi saya, film ini terasa seperti sebuah The Raid dengan plot Bourne-ish yang kurang detail. Tidak ada kejutan yang besar ataupun plot twist yang mindblowing dalam film ini, jadi jangan berharap terlalu banyak, karena semua akan mudah kalian tebak bahkan saat kalian baru sampai di pertengahan babak kedua film. Oke, beberapa adegan seperti bus on fire scene dan police station raiding scene cukup inovatif, menegangkan, dan menghibur di mata penonton umum, namun jika kamu penggemar film-film aksi Jepang dan Korea Selatan (terutama karya-karya Takashi Miike, Park Chan-wook, dan Kim Jee-woon) semua akan terasa seperti deja vu yang diwarnai dengan sekuens kamera yang terlalu sering berotasi mengelilingi para petarung saat sedang serius baku hantam. Take one shot of whiskey every time the camera starts to rotate, and you will get hopelessly wasted at the end of the film.

Dosa terbesar The Mo Brothers di film ini adalah: memberikan peran Ailin, the damsel-in-distress, kawaii-oriented doctor, pada Chelsea Islan. Awalnya saya berpikir ia akan berlaga sebagai dokter cantik yang ternyata memiliki kemampuan bela diri sehebat Iko Uwais, sehingga mereka bisa saling tandem, mengingat track-record Chelsea yang selalu berhasil memerankan gadis petarung yang tangguh, cerdas, dan independen (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, 3Srikandi, Di Balik 98). Ternyata saya salah, dan saya kecewa teramat besar saat mengetahui bahwa potensi terbaik Chelsea disia-siakan di film ini. Saya jadi tidak habis pikir, banyak aktris-aktris kualitas sinetron yang bisa mereka berikan kesempatan lebih untuk tampil di sebuah film bergengsi yang ditayangkan di banyak festival film mancanegara ini dengan memerankan karakter Ailin. Sungguh, mereka akan dengan lebih mudah menyatu dengan persona yang dibutuhkan, karena sejujurnya memang penulisan dan pembangunan karakternya secetek itu. Chelsea Islan memang harus diakui mempunyai fitur penampilan yang kawai: kulit putih mulus, rambut lurus, wajah cantik dan lucu, apalagi jika dipakaikan kacamata. Namun dengarkan saja suaranya yang tegas dan rasakan persona yang keluar dengan kuat saat ia berbicara, maka kamu akan menyadari bahwa kamu bahkan jauh lebih cerdas dari pada produser dan sutradara yang memilih Chelsea sebagai Ailin.

Jika kamu sudah menonton trailernya dan menyangka bahwa ada suatu kesalahan fatal dalam karakter Ailin, maka percayalah prasangka kamu benar adanya.

Tentu ada beberapa aspek dalam film ini yang patut kita puji, seperti penggunaan koreografi aksi sebagai medium dalam menyampaikan emotional connection yang terjadi pada tiap-tiap dari mereka yang bertarung. Tiga sekuens pertarungan terakhir (Besi, Rika, dan Lee) cukup efisien bercerita tentang latar belakang emosional para tokoh antagonis dengan Ishmael lewat jurus-jurus yang dikeluarkan, ekspresi wajah, serta dialog yang sangat minimalis. Cukup mengesankan, mengingatkan kita dengan film-film laga Bruce Lee dan Jackie Chan. Yak, betul, sekali lagi jangan mengharapkan ada sesuatu yang otentik dan segar dalam film ini, karena meskipun Headshot dieksekusi dengan maksimal dan punya production value yang terlihat megah, semuanya hanya pengulangan yang terlalu sering diulang-ulang.

Film aksi memang seharusnya memberikan penekanan pada skenario-skenario yang memacu adrenalin, namun dengan premis film yang terlalu banal dan banyak lubang serta ketidaksempurnaan pada keutuhan logika plot dan karakter, Headshot lebih terasa sebagai rangkaian koreografi bela diri yang repetitif dan predictable dengan dibumbui percintaan unyu-unyu. Bukan sebagai sebagai cerita yang utuh, otentik, segar, kontekstual, dan menyentuh.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Ikut membangun komunitas President University Movie Creator (PREMIERE) sebagai penulis naskah dan sutradara. Sekarang bekerja sebagai Social Media Specialist di sebuah ahensi multinasional. Mencintai film tanpa harus dicintai kembali.

2 thoughts on “Headshot (2016) – A Tremendous Shots of Empty Shells”

  1. Wah kurang lebih sama seperti yang tulis di blog saya mengenai review film ini.
    Tapi saya tidak sepandai dan sedetail anda tentunya hahaha..
    Saya hanya penikmat film action.

    Artinya ga cuman saya yang mengira film ini ga terlalu bagus untuk ditonton. Dan menunjukk peran Ailin sebagai dosa besar itu lumayan berani saya rasa. Ya meskipun ada benarnya juga. Saya ngerasa chemistrynya Ailin dan Ishmael ini ga ada. Keliatan ga ada jiwanya hahaha

    1. Wah makasih komentarnya! Saya baru baca review Anda, lumayan memberikan perspektif baru buat saya tentang Headshot 🙂 It is a movie with high production values and high intensity, indeed, but it’s really boring and repetitive. Ya untuk peran Ailin mungkin saya agak subjektif nulisnya (I’m a big fan of Chelsea’s acting method), tapi sumpah deh, aktris aktris FTV Indonesia yang cantik cantik juga bisa dipake kok buat tokoh dengan kedangkalan karakter kayak gitu 🙁

      Once again, thank you for the comment! Cool blog you got there 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve this question and prove me that you are human! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.