You are the Apple of My Eye (2011) – Chances We Didn’t Take

Masa muda tentunya adalah masa-masa yang paling indah. Bukan hanya tentang manis pahitnya percintaan, kita juga belajar tentang indahnya persahabatan, hubungan kekeluargaan, serta lika-liku kehidupan. Begitu pula dengan film bergenre komedi romantis garapan Giddens Ko yang diangkat dari novelnya dengan judul yang sama, You are the Apple of My Eye. Tidak hanya menjadi box office di negaranya sendiri, film ini merupakan salah satu bukti bahwa dunia perfilman Taiwan juga mampu bersaing dalam skala internasional yang lebih besar.

Para tahun 1994, dikisahkan tentang tujuh orang sahabat yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Our heroines Ko Ching-teng (diperankan oleh Ko Chen-tung) is your typical mischievous bad boy yang tidak pernah belajar dan selalu membuat onar bersama kawan-kawannya, sedangkan Shen Chia-yi (diperankan oleh Michelle Chen) adalah seorang murid teladan yang bukan hanya pintar secara akademis, tetapi juga cantik dan memiliki tekad yang kuat untuk membahagiakan orang-orang disekelilingnya.

Tetapi, tunggu dulu! Jika pikiran skeptikal bahwa You are the Apple of My Eye tidak lain adalah sebuah cerita klasik “good girl meets bad boy” mulai terbesit di benak anda, then everything is just an illusion.

“I was wrong. In fact, when you really like a girl, you’d be happy for her. When you see her finding her Mr. Right, you will want them to be together and live a happy life.”

Berbeda halnya dengan film-film komedi romantis yang hanya sekedar menitikberatkan alur cerita pada kisah percintaan pasangan utamanya, You are the Apple of My Eye mengulas tentang bagaimana sekelompok individu dengan segala sita dan kebiasaan yang berbeda 180 derajat, mampu mengalahkan ego mereka masing-masing demi sebuah persahabatan yang tulus. Ko Ching-teng yang awalnya nakal dan tidak pernah memperdulikan apapun yang ada disekitarnya, rela belajar mati-matian demi mendapatkan nilai yang baik untuk lulus ujian masuk perguruan tinge. Berikut dengan Shen Chia-yi, yang juga belajar bahwa kepintaran seseorang bukanlah segalanya. Diwarnai dengan kelima sahabat mereka lainnya yang tidak kalah kompak dan berhasil mendatangkan tawa, we are left with a massive relatable feeling that will make us reminisce our old days youth.

And, of course . . . dibalik segala canda tawa yang disuguhkan dalam film ini, penonton juga dibuat menangis terharu saat Ko Ching-teng dan Shen Chia-yi mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah berani mengungkapkan perasaan mereka yang sesungguhnya – in fear of destroying their friendship and themselves – hingga film berakhir dan Shen Chia-yi dipersunting laki-laki lain. Meskipun begitu, dengan eksekusi plot yang luar biasa jujur (dan terkadang menyakitkan) serta sinematografi yang terkesan vintage dan patut diacungi jempol, hal ini merupakan bukti nyata, yang mungkin akan “membangunkan” para pemimpi cinta, bahwa tidak selamanya kisah kasih di SMA akan berakhir bahagia. That sometimes, people grow apart and there’s nothing they can do about it.

Fast forward to the present day, salah satu scene yang (mungkin) meninggalkan kesan terdalam untuk para penontonnya, adalah saat ketujuh sahabat yang sudah sibuk dengan kuliah masing-masing dan berhenti berkomunikasi secara intens, tiba-tiba dikagetkan dengan gempa bumi dahsyat yang mengguncang ibukota Taipei. Refleks, bermodalkan sebuah handphone Nokia tahun 2000an, dengan penuh kekhawatiran Ko Chin-teng berlari keluar area kampusnya demi mendapatkan sinyal untuk menelfon Shen Chia-yi, yang pada akhirnya menjadi titik balik kedua belah pihak untuk memulai semuanya dari awal lagi, meskipun hanya sebatas teman.

Secara garis besar, Giddens Ko berhasil membawa para penonton menaiki sebuah emotional rollercoaster panjang yang bukan hanya membuat sesak di dada, tetapi juga mengajarkan berbagai nilai kehidupan yang tidak kalah pentingnya. Bahwa disaat kita terjatuh dan berada di masa-masa yang paling terpuruk, sahabat sejati akan selalu ada untuk membantu kita kembali berdiri diatas kaki sendiri, apapun masalahnya. Everything was portrayed raw and realistic.

Meskipun begitu, perlu juga diingat bahwa film ini kurang cocok dipertontonkan untuk anak-anak dibawah umur, dengan beberapa uncensored scenes yang terlalu vulgar seperti referensi seksual, nudity dan kata-kata makian yang terkesan sedikit dipaksakan. But, overall, You are the Apple of My Eye is a heartwarming coming-of-age movie that will leave you smiling and crying, as the chances we regret are the chances we didn’t take.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Critical Eleven (2017) – Suka Duka Kesempatan Kedua

Di dunia ini, tidak ada cinta yang sempurna layaknya cerita dongeng. Sekalipun cinta yang larut dalam indahnya kota-kota besar seperti New York, Jakarta dan pesisir Meksiko. Tetapi, apakah dengan kehilangan kita akan belajar untuk saling melengkapi? Diangkat dari novel terlaris karya Ika Natassa, Critical Eleven menceritakan tentang suka duka kesempatan kedua, berikut dengan pilihan hidup yang terkadang tidak sejalan dengan ekspektasi.

Menceritakan tentang Ale dan Anya Risjad, sepasang suami istri dengan kehidupan pernikahan yang serba ada dibawah gemerlap kota New York, Critical Eleven mengangkat sebuah analogi unik yang berdasarkan sebuah istilah populer dalam dunia penerbangan dengan nama yang sama, critical eleven — dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Berdasarkan data statistik, 80% dari kecelakaan pesawat biasanya terjadi pada saat masa-masa kritis tersebut. Sedangkan, dalam novel/film ini, dikatakan bahwa 11 menit pertama dari sebuah pertemuan merupakan masa paling kritis yang akan menentukan kemana sebuah hubungan akan dibawa. 3 menit saat pembentukan kesan pertama, dan 8 menit sebelum perpisahan.

Tetapi, setelah dihadapkan pada realita yang berbanding 180 derajat dengan apa yang awalnya mereka harapkan, apakah 11 menit tersebut mampu menjadi alasan dibalik kekuatan cinta Ale dan Anya?

“Bisa bayangin nggak, kita lewatin jembatan bareng, terus kita bakar jembatan itu. Nggak ada jalan untuk kembali. Aku sama kamu kayak gitu, Nya. Ayo bakar jembatan bareng.”

Mungkin, istilah the calm before the storm sangat pas untuk menggambarkan keseluruhan film Critical Eleven secara general.  Meskipun film ini telah berhasil menyorot berbagai spot legendaris kota New York yang indah, serta teknik pengambilan gambar yang berhasil membuat siapa saja yang menontonnya berdecak kagum, rasanya agak sedikit sulit untuk benar-benar menikmatinya when their marriage life begins to sink faster than the Titanic.

Dengan kehidupan pernikahan Ale dan Anya yang (hampir) sempurna, ditambah dengan berita kehamilan Anya yang tidak disangka-sangka, kedua pasangan ini justru dihadapkan pada suatu kenyataan pahit dimana gelar orang tua yang hampir mereka raih dirampas secara ironis, saat dokter menyatakan bahwa Anya mengalami keguguran. The fact that it’s almost impossible to keep themselves composed over the searing pain of losing their son, and the aftermath of every single thing that happened beyond their consent is truly heartbreaking. Tidak hanya itu, pada saat penonton dibuat menangis sendu di klimaks cerita, even more plot twists — yang meskipun relevan, terkadang sedikit antiklimaks dan dipaksakan — start to bombard the remaining scenes until the very, very end.

Tetapi, untuk memuaskan hasrat para penonton yang telah sukses dibuat tersenyum dan menangis tidak karuan selama kurang lebih 135 menit, (dengan penuh kebingungan) Critical Eleven pun memutuskan untuk tidak mengikuti alur epilog yang ada di dalam novel, serta mengikuti tren yang tetap berada dalam comfort zone industri perfilman: a happy, fairytale-like ending.

Meskipun begitu, tidak dapat dikatakan bahwa Critical Eleven is not worth the watch. If you’re a sucker for adult-themed melodramatic romance with fancy settings, this one’s for you. Dengan sinematografi yang patut diacungi jempol, kata-kata mutiara penuh makna yang tidak henti-hentinya dilontarkan oleh Ale dan Anya, chemistry para pemain, eksistensi pemeran pendukung yang tidak kalah besar impact-nya, serta antusiasme penonton yang kebanyakan telah lebih dulu membaca novelnya, Critical Eleven merupakan sebuah film yang tepat untuk menggambarkan fantasi dan romantisme kehidupan pernikahan, serta sakitnya kehilangan orang yang paling kita cintai dengan tulus, bahkan sebelum kita dapat benar-benar bertatap muka dengan mereka.

5 Film Yang Membahas Tentang Kesehatan Mental

“If mental disorders could be seen on a sufferer, maybe society wouldn’t say ‘get over it’.”

450 juta orang di dunia mengalami masalah gangguan jiwa, baik depresi, schizophrenia, epilepsy, penyalahgunaan alkohol, narkoba, percobaan bunuh diri dan masih banyak lagi. Untuk lebih detailnya, setiap 40 detik seseorang yang mengalami depresi melakukan percobaan bunuh diri. Angka tersebut bisa dibilang cukup fatal, terutama dikarenakan masalah gangguan jiwa yang tidak mengenal umur maupun cara mereka bersosialisasi di lingkungan sekitarnya.

Dalam artikel kali ini, Distopiana akan berbicara mengenai 5 film yang membahas tentang kesehatan mental. Sudah sewajarnya kita sebagai bagian dari lapisan masyarakat menyadari pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental, dan bukan hanya kesehatan fisik. Masalah-masalah psikologis seperti yang sudah disebutkan diatas juga membutuhkan atensi yang sama banyaknya, terlebih dikarenakan sebagian besar dari kita mengalaminya sendiri.

  1. It’s Kind of a Funny Story (2010) directed by  Anna Boden & Ryan Fleck

large

Mungkinkah seseorang yang tidak menghadapi permasalahan fatal apapun dalam hidupnya mengalami depresi? Jawabannya, ya. Diangkat dari novel Ned Vizzini dengan judul yang sama, It’s Kind of a Funny Story membuka mata setiap penontonnya dengan satu ungkapan: not everyone is doing great, even if they look like it. Film ini mengisahkan tentang seorang remaja asal New York bernama Craig Gilner (Keir Gilchrist), yang setelah gagal melakukan percobaan bunuh diri dengan cara melompat dari Brooklyn Bridge secara diam-diam datang ke rumah sakit untuk mencari bantuan. Dengan orang tua yang selalu mendorongnya untuk menjadi yang terbaik, aplikasi summer school yang menguras pikiran, dan rasa tidak percaya dirinya terhadap orang-orang disekitarnya, Craig pun belajar bahwa tidak semua rencana dapat berjalan sesuai dengan harapan. Menjadi terbuka dengan orang lain bukanlah sesuatu yang memalukan, apapun alasannya.

2. The Perks of Being a Wallflower (2012) directed by Stephen Chbosky

paul-rhodd

Ditulis dan disutradarai oleh Stephen Chbosky, para penikmat film maupun literature judah pasti akrab dengan The Perks of Being a Wallflower. Diangkat dari novel dengan judul yang sama, film ini sudah pasti akan membuat anda meneteskan air mata, merenungkan pilihan-pilihan hidup yang telah anda buat dan tersenyum tiada henti, sambil sesekali bernostalgia menuju awal tahun 90-an. Meskipun sedikit berbeda dengan alur cerita yang ada pada novel, film ini tetap mama memenangkan hati para penontonnya. Bagaimana tidak? Diceritakan Charlie Kelmeckis (Logan Lerman), seorang high school freshman yang berusaha melewati post-traumatic stress disorder yang diakibatkan oleh sexual abuse yang dialaminya sewaktu kecil. Dengan sekolah baru, teman-teman baru, dan gaya hidup baru, Charlie dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua orang yang ia temui akan menganggapnya sebagai ‘freak’. Buktinya, Charlie justru bertemu dengan Sam (Emma Watson) dan Patrick (Ezra Miller), dua senior yang mau menerimanya dengan tangan terbuka, tanpa mempermasalahkan kecanggungannya terhadap dunia sekitar.

3. Silver Linings Playbook (2012) directed by David O. Russell 

9-Silver-Linings-Playbook-quotes

Dibintangi oleh berbagai aktor dan aktris papan atas seperti Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert DeNiro dan Julia Stiles, film yang diangkat dari novel Matthew Quick ini judah pasti dapat memuaskan kecintaan anda terhadap film-film yang bertajuk romantic comedy-drama. Dikisahkan Patrick “Pat” Solitano, Jr. (Cooper), seorang pasien penderita bipolar disorder yang baru saja keluar dari rumah sakit dan pada akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama kedua orangtuanya. Bertekad untuk merebut kembali hati mantan istrinya, Pat bertemu dengan Tiffany Maxwell (Lawrence), seorang janda yang menawarkan bantuan untuk mendapatkan istrinya jika Pat bersedia untuk menemaninya mengikuti sebuah kompetisi menari. Seiring berjalannya waktu, Pat dan Tiffany pun belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan terhadap hubungan-hubungan yang mereka pernah jalani, selagi mempertimbangkan pilihan-pilihan mereka dalam hidup.

4. Side Effects (2013) directed by Steven Soderbergh

Sebuah film psychological thriller yang ditulis oleh Scott Z. Burns ini menceritakan tentang seorang perempuan muda bernama Emily Taylor (Rooney Mara) dengan gangguan mental yang membunuh suaminya sendiri setelah mendapatkan rekomendasi obat anti-depresan baru yang masih bersifat experimental oleh kedua psikiaternya, Dr. Jonathan Banks (Jude Law) dan Dr. Victoria Siebert (Catherine Zeta-Jones). With its main focus on psychological issues, stock price manipulation, title malfunction, law abundance dan masih banyak lagi, Side Effects dijamin mampu membuat para penonton menggeleng-gelengkan kepala dengan segala plot twist mencengangkan yang disajikan.

5. Still Alice (2014) directed by Richard Glatzer & Wash Westmoreland

Early-onset Alzheimer’s Disease, seperti yang dikisahkan dalam novel dan film Still Alice, adalah salah satu jenis penyakit Alzheimer yang paling jarang kita temui. Selain menyerang penderita dibawah umur 65 tahun, Early-onset Alzheimer’s Disease juga diwariskan secara turun temurun / genetik secara autosomal dominan, layaknya sebuah kromosom. Diceritakan seorang perempuan paruh baya bernama Alice Howland (Julianne Moore), seorang profesor linguistik di Columbia University yang baru saja berulang tahun ke-50. Setelah beberapa kali mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi-materi dalam lecture-nya, keluarga Alice pun memiliki kecurigaan bahwa ia mengalami penurunan kesehatan mental, yang ternyata dibuktikan sebagai penyakit Alzheimer. Dengan penulis novel Still Alice yang juga merupakan seorang neuroscientist ternama, Lisa Genova, penonton dibawa melewati sebuah lorong sains emosional, yang dijamin akan membuat mereka meneteskan air mata.

Sometimes, life gives you thousands of choices… or nothing at all. Dan terkadang, pilihan-pilihan tersebut tidaklah ideal dengan apa yang ada di benak kita. Tetapi kita tetap harus maju. Harus memilih. Karena para akhirnya, happiness is indeed one of the most fragile feelings, but it’s always worth the try. You just have to believe in yourself in order to do so. Jangan menyerah dan patah semangat, apalagi merasa bahwa kita adalah orang yang paling bersedih di dunia ini. Karena sejujurnya, saat kita membuka mata dan melihat melihat sekitar, ada banyak sekali orang-orang yang mendukung dan mau menerima kita apa adanya, meskipun kasih sayang tersebut tidak selalu ditunjukkan secara terang-terangan. You just have to look a little deeper.