Pengabdi Setan (2017) – Teror Lintas Generasi (SPOILER REVIEW)

Bagi orang Indonesia yang pernah hidup di era 80 dan 90-an, pasti mereka pernah merasakan kengerian traumatis yang diciptakan oleh film-film horor eksploitasi pada zaman Orde Baru. Sebutlah tokoh-tokoh seperti H. Tut Djalil, Lilik Sudjio, dan Sisworo Gautama Putra. Berangkat dari hasrat eskapisme sekaligus perlawanan mereka terhadap pemerintahan Suharto yang opresif, terciptalah banyak film-film yang tidak hanya brutal dan menyeramkan secara audiovisual, namun juga menonjolkan unsur seksualitas yang padat. Ratu Ilmu Hitam, Bayi Ajaib, dan Leak menjadi contoh dari film-film yang pernah terkenal dan berkesan bagi para penikmat sinema di zaman tersebut.

Pengabdi Setan bisa dibilang merupakan salah satu film yang penting di zaman tersebut. Bukan hanya berhasil membuat banyak anak-anak kecil kesulitan tidur, namun karena beberapa elemen di dalam film ini mencerminkan idealisme dan superstisi masyarakat di zaman Orde Baru terhadap agama, mitos, dan cerita-cerita hantu. Film ini pun juga merupakan film yang disukai secara personal oleh Joko Anwar. Oleh karena itu, atas izin dan dukungan dari Rapi Film, ia membuat ulang Pengabdi Setan menggunakan idealisme dan caranya sendiri, namun masih tetap memberi penghormatan dengan menggunakan beberapa elemen yang menjadi daya tarik serta keunikan film karya Sisworo Gautama Putra tersebut.

Percayalah, seskeptis apapun kalian terhadap film horor Indonesia, kalian tetap akan ketakutan setengah mati menonton film ini.

Ibu (Ayu Laksmi) meninggal setelah menderita sakit aneh selama dua tahun, dan sehari setelah penguburan jenazahnya, Bapak (Bront Palarae) harus langsung ke kota selama beberapa hari. Selama ditinggal Bapak, Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat) mengalami kejadian demi kejadian janggal di dalam rumah mereka. Perlahan-lahan, sebuah rahasia mengerikan yang selama ini disembunyikan Bapak dan Ibu pun terungkap. Didorong oleh rasa kasih sayang yang kuat, mereka harus bersatu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari ancaman yang bangkit dari dalam neraka.

Secara cermat, Pengabdi Setan (2017) berhasil menciptakan sebuah teror yang tepat sasaran bagi para penonton Indonesia yang sudah lebih dulu familiar dengan The Conjuring sebagai standar film horor yang menakutkan bagi mereka. Bagi kalian yang sudah menonton The Conjuring, The Conjuring 2, dan Annabelle: Creation lebih dari dua kali, kalian akan melihat formula serupa diterapkan oleh Joko Anwar dan dieksekusi menjadi lebih efektif di film ini.

Pertama: Jump-scare yang mengharmonisasikan momentum pergerakan kamera (Ical Tanjung rocks!) dengan sudut pandang tokoh serta sound effect sebagai pengejut di akhir. Beberapa teknik jump-scare yang pernah digunakan di The Conjuring 2 akan banyak kamu temukan juga di Pengabdi Setan (haunted paintings, moving chairs, mirror reflection). Bedanya, film ini tidak memberikan efek kejutan yang sama dengan film karya James Wan tersebut.

Jadi begini kira-kira contohnya:

Reaksi di akhir jump-scare The Conjuring 2:
“WUANJENG KAGET!”
Reaksi di akhir jump-scare Pengabdi Setan:
“Oh shit….oh shit….anjeng….ANJEEEEEENG KABOOOOR!!!”

Kedua: Cursed objects. Objek-objek ini selalu membuka sebuah adegan jump scare sebagai penanda resmi kehadiran ‘Sang Pemilik’ untuk meningkatkan suspense dan memaksimalkan kengerian yang akan didatangkan di ujung adegan. Ada boneka Annabelle serta kotak musik di The Conjuring. Ada juga mainan ‘the crooked man’, lukisan ‘the nun’, serta kursi goyang di The Conjuring 2. Pengabdi Setan? Lonceng Ibu, kursi dorong nenek, serta lukisan Ibu yang berada di ujung lorong.

Ketiga: Possessed Child(ren). Anak kecil kesurupan itu serem banget, apalagi kalau aktingnya bagus seperti Mackenzie Foy di The Conjuring dan Madison Wolfe di The Conjuring 2. Di Pengabdi Setan, ada sebuah pembeda yang sangat efektif. Alih-alih menjadi fokus narasi, ia menjadikan tokoh Si Bocah yang kerasukan sebagai distraksi. Penampilan Nasar Annuz sebagai Bondi yang tiba-tiba diam dan pucat setelah kematian neneknya itu bakal bikin semua kecurigaan kamu mengarah pada dia dan mengalihkan kita dari bahaya sesungguhnya yang bersembunyi di balik kesenyapan.

Menggunakan formula khas film atau sutradara lain bukan berarti menjadi peniru, dan menuduh Joko Anwar sebagai seorang peniru bukanlah sebuah kelakuan yang terdidik maupun terpuji. Ketiga unsur tersebut hanya menjadi penajam dari atmosfer mencekam yang berhasil diciptakan lewat konsep produksi yang solid, alur cerita dan skenario yang cerdas, tata rias yang minimalis, sound effect dan iringan musik jazz 80’an yang antik, serta penampilan ansambel yang memukau dari para pemeran. Sekali lagi saya tegaskan, Ical Tanjung keren abis. Komposisi terjaga dengan baik sepanjang berlangsungnya film, membuat setiap teror terasa lebih nyata dan menyesakkan nafas. Dari sisi akting, penampilan yang paling menonjol di film ini dihasilkan oleh pasangan Nasar Annuz dan M. Adhiyat. Mereka berhasil membangun chemistry yang kuat sebagai kakak dan adik yang menggemaskan, apalagi setiap kali melihat Ian yang bisu mengejek Bondi dengan bahasa isyarat dan senyum imutnya yang menjengkelkan.

Hal yang terpenting dan patut kita bicarakan adalah bagaimana film ini menyelipkan kritik terhadap penggambaran fungsi agama di dalam sebuah film, khususnya film horor. Semenjak Orde Baru, tokoh-tokoh pemuka agama seperti Kiai atau Ustadz selalu digambarkan sebagai sosok yang mampu memberikan solusi terhadap gangguan makhluk halus. Hampir semua film horor Indonesia selalu menggambarkan Kiai atau Ustadz seperti pahlawan dengan kemampuan super yang berasal dari kekuatan iman mereka (bahkan ini juga terjadi di film Pengabdi Setan sebelumnya). Ditambah dengan kelatahan sinetron horor yang tayang setiap primetime di layar kaca, hal ini secara tidak langsung menimbulkan sebuah glorifikasi dari masyarakat terhadap para pemuka agama. Walhasil, siapapun yang menyandang gelar ustadz, kiai, atau haji, mereka mampu memegang kontrol atas opini masyarakat.

Joko Anwar, seseorang yang dikenal gerah terhadap “kelompok agama yang mengontrol opini masyarakat” (nggak usah saya sebut lah siapa, kalian semua sudah tahu), menyampaikan keresahannya dengan satu keputusan yang cukup berani: membunuh satu-satunya karakter ustadz di film ini dengan kematian yang sama seperti bagaimana manusia biasa seharusnya mati di film horor. Prinsipnya terhadap kebebasan dalam menganut kepercayaan juga disampaikan lewat karakter Hendra, anak ustadz yang mengatakan secara gamblang pada Rini:

“Ayahku memang ustadz, tapi kalau aku, lebih terbuka terhadap teori-teori lain.”

 

Hormat film ini terhadap karya asli dari Sisworo Gautama Putra pun disampaikan dengan cara yang gemilang. Ingat adegan motor yang tertabrak truk di film Pengabdi Setan yang sebelumnya? Adegan ini dikemas kembali dengan penyajian yang lebih brutal dan mengerikan, menayangkan sebuah teror legendaris ke mata penonton milenial dengan lebih hidup dan nyata. Terlebih, ia juga menghadirkan kembali sosok penting di film Pengabdi Setan terdahulu pada epilog film, sehingga membuka kemungkinan untuk adanya sekuel.

Pengabdi Setan (2017) berhasil membuat penonton Indonesia di tahun 2017 ini sama ketakutannya seperti bagaimana saat penonton Indonesia di tahun 1980 menonton Pengabdi Setan versi Sisworo Gautama Putra, dan ini bukanlah sebuah hal yang mudah. Jarang sekali ada sebuah reboot horror yang berhasil.  Dari empat judul film horror reboot dari Hollywood di tahun 2017 (IT, Flatliners, Rings, Amityville: The Awakening), hanya IT yang benar-benar berhasil secara kualitas dan pendapatan komersil. Dalam kurun waktu lima hari sejak penayangan publik pertama, Pengabdi Setan sudah sukses mengumpulkan lebih dari enam ratus ribu penonton, sehingga diprediksikan film ini akan mampu merangkul 2 juta penonton dalam waktu kurang dari sebulan. Jika berhasil, maka Pengabdi Setan tidak hanya akan menjadi salah satu film horor Indonesia tersukses sepanjang masa, namun juga meletakkan standar yang lebih tinggi untuk film-film horor Indonesia selanjutnya.

Jadi tolong, jika kalian memang orang yang pemberani, tolong dukung film ini dengan menontonnya lebih dari dua kali di bioskop.

Tapi kalau tidak berani juga, yah, tidak apa-apa. Saya bisa maklum kok. Saya tiga malam berturut-turut tidur ditemani lampu kamar yang menyala serta lagu-lagu Blink 182 di Spotify dari laptop yang tidak saya matikan setelah nonton film ini, jadi kalau saya katakan film ini bukan buat orang penakut, saya mengatakannya dengan sangat jujur tanpa ada unsur sarkasme sama sekali.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

2 thoughts on “Pengabdi Setan (2017) – Teror Lintas Generasi (SPOILER REVIEW)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *