Coin Locker Girl (2015) – Crime At Its Best

Hampir di setiap kota besar di dunia sudah pasti memiliki chinatown ― sebuah wilayah yang mayoritas penghuninya beretnis Tionghoa. Tidak terkecuali Seoul, Korea Selatan. Setelah berhasil meraup keuntungan sebesar US $ 10.7 juta serta mendapatkan kesempatan untuk screening dalam International Critics’ Week di Cannes Film Festival tahun 2015, sudah dipastikan bahwa film box office garapan Han Jun-hee ini telah sukses membawa sineas Asia Timur dalam skala internasional. Sebelum membaca review ini lebih lanjut, perlu diingat bahwa film Coin Locker Girl tidak diperuntukkan untuk segala usia dikarenakan efek gory, keseluruhan tema dan kekerasan yang disuguhkan selama 110 menit pemutaran.

Dikisahkan seorang bayi perempuan malang yang ditelantarkan orang tuanya di dalam salah satu loker penitipan barang MRT pada tahun 1996, yang kemudian ditemukan oleh seorang pemulung dan dijual kepada sekelompok mafia chinatown yang dipimpin oleh wanita paruh baya dengan julukan “Eomma” (yang berarti Ibu). Eomma sendiri merupakan seseorang yang berpengaruh di daerah Incheon, Seoul yang bergerak dalam peminjaman uang, human-trafficking serta jual beli organ manusia. Setelah tinggal bersama Eomma selama kurang lebih 18 tahun, dibekali dengan ilmu bela diri dan kemahiran dalam menggunakan pisau, the girl whose name is Ma Il-Young is given a task to kill the person she has always wanted to protect.

Bukan hanya mengedepankan sisi action, thriller dan suspense, film bergenre crime fiction ini juga memberikan sentuhan drama dan kisah persahabatan/percintaan dalam jumlah yang pas. Diperankan oleh Kim Hye-soo (Signal, Tazza: The High Rollers) sebagai Eomma dan Kim Go-eun (Goblin, Memories of the Sword) sebagai Ma Il-young, film Coin Locker Girl berhasil menyita perhatian media dengan bukan hanya sederet pemain yang berkualitas, tetapi juga premis cerita dan plot twist yang berhasil membuat kita bertanya-tanya.

I shouldn’t waste my luck on these things.”

Tackling stereotypical roles of both man and woman, Coin Locker Girl memberikan kita sebuah pencerahan terhadap kerasnya dunia kriminal dibalik bangunan-bangunan megah Korea Selatan ― salah negara paling maju dan adikuasa di Asia. Bagaimana mereka bertahan hidup dibawah tekanan sekelompok mafia keji, serta rela melakukan apa saja demi uang dan kehormatan. Bahwa pada akhirnya, dunia ini lebih dari sekedar perdebatan antara hidup dan mati, melainkan apa saja kontribusi yang dapat kita berikan untuknya.

Salah satu titik balik cerita yang (meskipun sedikit antiklimaks, tetapi masih sukses membuat para penonton tercegang) disajikan dalam Coin Locker Girl, adalah saat Ma Il-young bertemu dengan seorang laki-laki bernama Park Seok-hyun (diperankan oleh Park Bo-gum), seorang chef muda yang manis dan baik hati, yang juga merupakan anak dari peminjam uang yang sedang melarikan diri dari jeratan kelompok mafia Eomma. Trust me, it’s more than just a tragic romance. Pertemuannya dengan Park Seok-hyun membuat Ma Il-young tersadar, bahwa sejahat apapun dunia ini, masih ada seseorang dengan hati yang bersih. Bahwa ternyata, berperilaku layaknya seorang wanita biasa yang pergi berkencan, berpakaian menarik dan menikmati hidup tidaklah seburuk yang ia kira.

I’m still useful, you know, I’ll repay you no matter what it takes.”

Dan pada akhirnya, to conclude this one hell of an ride, Coin Locker Girl adalah sebuah film emosional penguras air mata (dan kesabaran) yang wajib kita masukkan ke dalam must-watch list. Dijamin, mata kita akan dimanjakan dengan penggunaan warna yang vibrant, jas hitam dan jaket kulit yang memberikan kesan maskulin, serta ciri khas chinatown yang dituangkan dalam bentuk detail-detail kecil (yang sayangnya kurang mendapat perhatian lebih) seperti furnitur dan dekorasi yang digunakan dalam set, mulai dari ukiran-ukiran naga berwarna gold, meja makan dengan kursi yang melingkar dan kaca tipis yang dapat diputar, serta lentera kertas bertuliskan aksara Cina yang digantungkan diatas langit-langit ruangan. Meskipun saya tidak menyarankan Coin Locker Girl untuk disaksikan mereka yang kurang menyukai adegan kekerasan yang brutal dan bersimbah darah, film ini akan mengajarkan kita banyak hal, baik tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana sebuah keluarga tidak harus tercipta melalui hubungan darah, melainkan rasa cinta dan peduli yang kita miliki terhadap sesama.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Author: Bunga Maharani

Mahasiswa Psikologi di Universitas Udayana, Bali. Jakarta born and bred. Penikmat film dan TV series, serta penulis berbagai buku bertemakan fiksi dan puisi di media online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *