All posts by Bunga Maharani

Mahasiswa Psikologi dari Universitas Udayana. Penikmat film dan TV series, pecinta musik indie, penulis berbagai buku bertemakan fiksi dan poetry di Wattpad, serta sesekali menjadi relawan untuk anak-anak berkebutuhan khusus untuk sebuah yayasan kecil di Bali.

5 Film Yang Membahas Tentang Kesehatan Mental

“If mental disorders could be seen on a sufferer, maybe society wouldn’t say ‘get over it’.”

450 juta orang di dunia mengalami masalah gangguan jiwa, baik depresi, schizophrenia, epilepsy, penyalahgunaan alkohol, narkoba, percobaan bunuh diri dan masih banyak lagi. Untuk lebih detailnya, setiap 40 detik seseorang yang mengalami depresi melakukan percobaan bunuh diri. Angka tersebut bisa dibilang cukup fatal, terutama dikarenakan masalah gangguan jiwa yang tidak mengenal umur maupun cara mereka bersosialisasi di lingkungan sekitarnya.

Dalam artikel kali ini, Distopiana akan berbicara mengenai 5 film yang membahas tentang kesehatan mental. Sudah sewajarnya kita sebagai bagian dari lapisan masyarakat menyadari pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental, dan bukan hanya kesehatan fisik. Masalah-masalah psikologis seperti yang sudah disebutkan diatas juga membutuhkan atensi yang sama banyaknya, terlebih dikarenakan sebagian besar dari kita mengalaminya sendiri.

  1. It’s Kind of a Funny Story (2010) directed by  Anna Boden & Ryan Fleck

large

Mungkinkah seseorang yang tidak menghadapi permasalahan fatal apapun dalam hidupnya mengalami depresi? Jawabannya, ya. Diangkat dari novel Ned Vizzini dengan judul yang sama, It’s Kind of a Funny Story membuka mata setiap penontonnya dengan satu ungkapan: not everyone is doing great, even if they look like it. Film ini mengisahkan tentang seorang remaja asal New York bernama Craig Gilner (Keir Gilchrist), yang setelah gagal melakukan percobaan bunuh diri dengan cara melompat dari Brooklyn Bridge secara diam-diam datang ke rumah sakit untuk mencari bantuan. Dengan orang tua yang selalu mendorongnya untuk menjadi yang terbaik, aplikasi summer school yang menguras pikiran, dan rasa tidak percaya dirinya terhadap orang-orang disekitarnya, Craig pun belajar bahwa tidak semua rencana dapat berjalan sesuai dengan harapan. Menjadi terbuka dengan orang lain bukanlah sesuatu yang memalukan, apapun alasannya.

2. The Perks of Being a Wallflower (2012) directed by Stephen Chbosky

paul-rhodd

Ditulis dan disutradarai oleh Stephen Chbosky, para penikmat film maupun literature judah pasti akrab dengan The Perks of Being a Wallflower. Diangkat dari novel dengan judul yang sama, film ini sudah pasti akan membuat anda meneteskan air mata, merenungkan pilihan-pilihan hidup yang telah anda buat dan tersenyum tiada henti, sambil sesekali bernostalgia menuju awal tahun 90-an. Meskipun sedikit berbeda dengan alur cerita yang ada pada novel, film ini tetap mama memenangkan hati para penontonnya. Bagaimana tidak? Diceritakan Charlie Kelmeckis (Logan Lerman), seorang high school freshman yang berusaha melewati post-traumatic stress disorder yang diakibatkan oleh sexual abuse yang dialaminya sewaktu kecil. Dengan sekolah baru, teman-teman baru, dan gaya hidup baru, Charlie dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua orang yang ia temui akan menganggapnya sebagai ‘freak’. Buktinya, Charlie justru bertemu dengan Sam (Emma Watson) dan Patrick (Ezra Miller), dua senior yang mau menerimanya dengan tangan terbuka, tanpa mempermasalahkan kecanggungannya terhadap dunia sekitar.

3. Silver Linings Playbook (2012) directed by David O. Russell 

9-Silver-Linings-Playbook-quotes

Dibintangi oleh berbagai aktor dan aktris papan atas seperti Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert DeNiro dan Julia Stiles, film yang diangkat dari novel Matthew Quick ini judah pasti dapat memuaskan kecintaan anda terhadap film-film yang bertajuk romantic comedy-drama. Dikisahkan Patrick “Pat” Solitano, Jr. (Cooper), seorang pasien penderita bipolar disorder yang baru saja keluar dari rumah sakit dan pada akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama kedua orangtuanya. Bertekad untuk merebut kembali hati mantan istrinya, Pat bertemu dengan Tiffany Maxwell (Lawrence), seorang janda yang menawarkan bantuan untuk mendapatkan istrinya jika Pat bersedia untuk menemaninya mengikuti sebuah kompetisi menari. Seiring berjalannya waktu, Pat dan Tiffany pun belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan terhadap hubungan-hubungan yang mereka pernah jalani, selagi mempertimbangkan pilihan-pilihan mereka dalam hidup.

4. Side Effects (2013) directed by Steven Soderbergh

Sebuah film psychological thriller yang ditulis oleh Scott Z. Burns ini menceritakan tentang seorang perempuan muda bernama Emily Taylor (Rooney Mara) dengan gangguan mental yang membunuh suaminya sendiri setelah mendapatkan rekomendasi obat anti-depresan baru yang masih bersifat experimental oleh kedua psikiaternya, Dr. Jonathan Banks (Jude Law) dan Dr. Victoria Siebert (Catherine Zeta-Jones). With its main focus on psychological issues, stock price manipulation, title malfunction, law abundance dan masih banyak lagi, Side Effects dijamin mampu membuat para penonton menggeleng-gelengkan kepala dengan segala plot twist mencengangkan yang disajikan.

5. Still Alice (2014) directed by Richard Glatzer & Wash Westmoreland

Early-onset Alzheimer’s Disease, seperti yang dikisahkan dalam novel dan film Still Alice, adalah salah satu jenis penyakit Alzheimer yang paling jarang kita temui. Selain menyerang penderita dibawah umur 65 tahun, Early-onset Alzheimer’s Disease juga diwariskan secara turun temurun / genetik secara autosomal dominan, layaknya sebuah kromosom. Diceritakan seorang perempuan paruh baya bernama Alice Howland (Julianne Moore), seorang profesor linguistik di Columbia University yang baru saja berulang tahun ke-50. Setelah beberapa kali mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi-materi dalam lecture-nya, keluarga Alice pun memiliki kecurigaan bahwa ia mengalami penurunan kesehatan mental, yang ternyata dibuktikan sebagai penyakit Alzheimer. Dengan penulis novel Still Alice yang juga merupakan seorang neuroscientist ternama, Lisa Genova, penonton dibawa melewati sebuah lorong sains emosional, yang dijamin akan membuat mereka meneteskan air mata.

 

Sometimes, life gives you thousands of choices… or nothing at all. Dan terkadang, pilihan-pilihan tersebut tidaklah ideal dengan apa yang ada di benak kita. Tetapi kita tetap harus maju. Harus memilih. Karena para akhirnya, happiness is indeed one of the most fragile feelings, but it’s always worth the try. You just have to believe in yourself in order to do so. Jangan menyerah dan patah semangat, apalagi merasa bahwa kita adalah orang yang paling bersedih di dunia ini. Karena sejujurnya, saat kita membuka mata dan melihat melihat sekitar, ada banyak sekali orang-orang yang mendukung dan mau menerima kita apa adanya, meskipun kasih sayang tersebut tidak selalu ditunjukkan secara terang-terangan. You just have to look a little deeper.

7 Film Terbaik untuk Wanita-Wanita Hopeless Romantics

Setelah memberikan rekomendasi film-film terbaik untuk para pria pencundang asmara, kini saatnya penulis merekomendasikan film-film terbaik untuk para wanita-wanita hopeless romantics.

Tidak semua yang kita harapkan dapat berjalan mulus. Terkadang, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan-pilihan sulit yang harus kita lewati, dan berusaha untuk menerima segalanya dengan tangan terbuka. Tanpa pilihan-pilihan sulit tersebut, kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya belajar dari kesalahan, mengikhlaskan segala hal yang tidak mudah diikhlaskan, serta menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan yang sudah kita buat dengan seksama. Berikut adalah daftar film-film terbaik pilihan Distopiana yang dapat disaksikan untuk para wanita-wanita hopeless romantics, yang sedang berusaha menerima realita pahit dengan tangan terbuka, dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja selama masih menyisakan harapan.

  1. Something Borrowed (2011) directed by Luke Greenfield

tumblr_n1a9ugpl5E1qgxmqno1_500

Diangkat dari novel Emily Giffin dengan judul yang sama, Something Borrowed merupakan film drama romantis yang sudah pasti akan meninggalkan kesan speechless untuk anda. Diperankan oleh dua aktris ternama seperti Ginnifer Goodwin dan Kate Hudson, diceritakan lika-liku kisah percintaan Rachel White (Goodwin), seorang attorney muda yang bekerja untuk sebuah firma hukum ternama di kota New York. Setelah one-night stand penuh makna yang ia lalui dengan Dex (Egglesfield), seorang pengusaha mapan yang kebetulan merupakan high school crush Rachel sendiri, hidup Rachel berubah 360 derajat saat ia berusaha menyembunyikan perselingkuhannya dengan Dex, yang merupakan tunangan sahabatnya sendiri, serta mengalami mental breakdown berkepanjangan, saat ia tersadar bahwa Dex tidak pernah benar-benar mencintainya.

2. Love, Rosie (2014) directed by Christopher Ditter

tumblr_o6iioslPEt1v0ttqao1_500

Film drama komedi yang satu ini dijamin akan membuat kalian para wanita-wanita hopeless romantics tertawa terbahak-bahak sambil meneteskan air mata. Bagaimana tidak, film yang diangkatan dari novel Where Rainbows End karya Cecelia Ahern ini membahas tentang isu-isu yang masih jarang diperlihatkan kepada masyarakat luas. Mulai dari persahabatan, kehamilan remaja, hingga pencapaian mimpi dan aspirasi. Dikisahkan dua sahabat kecil bernama Rosie Dunne (Lily Collins) dan Alex Stewart (Sam Claflin), yang secara tidak sengaja mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah menemukan keberanian untuk mengakui perasaan mereka. Pada film ini, para penonton juga akan disuguhkan berbagai keindahan yang kota London dan New York tawarkan. Secara tegas, film Love, Rosie mengajarkan kita bahwa timing dan komunikasi merupakan salah satu hal yang paling esensial dalam suatu hubungan.

3. About Time (2013) directed by Richard Curtis

8-The-Time-Travelers-Wife-quotes

About Time merupakan sebuah film karya sutradara sekaligus penulis naskah terkenal bernama Richard Curtis, yang diantara karyanya merupakan Love Actually, Mr. Bean’s Holiday dan Notting Hill. Film ini mengisahkan tenting, Tim Lake (Domhnall Gleeson), seorang laki-laki yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Cornwall di Inggris, yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan waktu. Dengan kemampuan spesial yang ia miliki ini, Tim pun bertekad untuk mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Konflik ceritapun mulai memanas ketika ia memutuskan untuk pindah ke London dan bertemu dengan seorang perempuan asal Amerika bernama Mary (Rachel McAdams) di sebuah restoran.

4. Finding Mr. Destiny (2010) directed by Jang Yoo-jeong

tumblr_n3iinjIZcJ1rw93m3o1_r1_500

Film box office asal Korea Selatan ini menceritakan tentang Seo Ji-woo (Lim Soo-jung), seorang perempuan yang berpergian ke India seorang diri dan bertemu cinta pertamanya, Kim Jong-ok (Woo Ki-jun), seorang dokter handal di negara asalnya. Setelah berpisah dengan Jong-ok, Ji-woo yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa hubungan mereka telah berakhir memutuskan untuk mendatangi sebuah perusahaan biro jodoh terkenal untuk membantunya mencari Jong-ok. Tidak disangka-sangka, Ji-woo justru bertemu dengan Han Gi-joon (Gong Woo), pemilik perusahaan biro jodoh tersebut yang akan membantunya untuk mendapatkan Jong-ok kembali. Bersama-sama, mereka pergi berkeliling Korea Selatan dan dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka mulai merasa nyaman terhadap satu sama lain.

5. One Day (2011) directed by Lone Scherfig

tumblr_mdc62u884v1rodugmo1_500

Film yang diangkat dari novel David Nicholls ini dijamin akan membuat para penonton banjir air mata. Diperankan oleh Anne Hathaway dan Jim Sturgess, film ini mengisahkan tentang persahabatan dua mahasiswa yang baru saja lulus dari University of Edinburgh, Dexter Mayhew (Sturgess) dan Emma Morley (Hathaway). Secara kronologis, film ini menceritakan kisah Dexter dan Emma (terkadang disajikan secara terpisah) yang awalnya bertemu pada tanggal 14 Juli, dan dilanjutkan pada setiap tanggal 15 Juli selama delapan belas tahun berturut-turut. Dengan berbagai konflik yang dilewati pasangan protagonisnya, One Day menyuguhkan berbagai pesan moral tentang cinta, persahabatan, serta serentetan pilihan yang harus mereka buat secara berani.

6. Safe Haven (2013) directed by Lasse Hallström

movie-quotes-quote-safe-haven-Favim.com-836586

Diangkat dari novel bestseller Nicholas Sparks, film ini sungguh berbeda dari adaptasi-adaptasi film Nicholas Sparks lainnya. Safe Haven sendiri menceritakan tentang Erin Tierney (Julianne Hough), seorang istri dari polisi detektif yang berusaha melarikan diri dari Boston, dikarenakan suaminya yang secara diam-diam berperilaku abusive. Setelah memulai hidup barunya di Southport dengan nama Katie Feldman, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Alex Weathey (Josh Duhamel), seorang ayah tunggal yang masih belum bisa melepaskan kepergian istrinya yang meninggal karena kanker. Safe Haven merupakan film thriller romantis yang akan membawa anda menuju sebuah emotional rollercoaster penuh haru dan misteri yang mencengangkan.

7. A Little Thing Called Love (2010) directed by Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn & Wasin Pokpong

tumblr_luuwzqcw5V1r2iejoo1_500

Sleeper hit asal Thailand ini merupakan film yang paling digemari para hopeless romantics. Dengan akting dan penjiwaan para aktornya yang menjanjikan, bagaimana mungkin kita mampu melewatkan film yang satu ini? Dengan alur cerita the-ugly-duck-meets-the-prince-charming yang klise, A Little Thing Called Love dapat dipastikan mengubah perspektif kita tentang the prince charming itu sendiri. Dikisahkan tentang seorang remaja SMA bernama Nam (Pimchanok Baifern) dengan wajah yang tidak cantik dan kepribadian introvert, yang berusaha mati-matian untuk mengubah dirinya demi Shone (Mario Maurer), kayak kelas Nam yang pintar, tampan, dan disukai banyak orang. Dalam perjalanannya untuk mempercantik diri, Nam pun belajar bahwa tidak semua hal yang ia inginkan dapat berjalan sesuai ekspektasinya.

tumblr_mkdru2k7281racrzqo1_

Setelah menonton film-film yang telah di rekomendasikan, kita dapat belajar bahwa tidak segalanya cinta itu indah dan penuh jawaban. Flowers can’t grow without a little rain, and that’s perfectly okay. Terkadang, saat kita sudah mengikhlaskan apa yang kita inginkan, aspirasi tersebut justru akan tercapai. Intinya, keihklasan merupakan suatu keharusan, dan kita sebagai para hopeless romantics harus bisa menyikapinya dengan seksama. Hidup tidak selamanya mulus dan penuh kebahagiaan, tapi justru turbulensi-turbulensi itulah yang mampu membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Honorable Mention: Never Let Me Go (2010), Il Mare (2000), Stuck in Love (2012), He’s Just Not That Into You (2009).

5 Film Mencekam yang Terinspirasi dari Cerita Dongeng

If you expect the world to be fair with you because you are fair, you’re fooling yourself. That’s like expecting a lion not to eat you because you didn’t eat him.”

Hidup memang tidak selamanya selalu adil. Orang baik tidak selalu terlihat sebagai malaikat, dan orang jahat tidak selalu terlihat sebagai devil dengan tanduk diatas kepala dan tongkat yang tajam. Tetapi, bagaimana jika protagonis-protagonis kita kali ini berjuang mati-matian untuk mendapatkan apa yang memang sepantasnya mereka semua dapatkan?

Berikut adalah lima film mencekam versi penulis yang terinspirasi dari berbagai cerita dongeng penuh moral yang biasa kita baca sewaktu kecil.

  1. Black Swan (2010), Directed by Darren Aronofsky

image

Film psychological thriller/horror yang merupakan versi dark dan twisted dari dongeng Swan Lake milik Tchaikovsky ini bercerita tentang seorang ballerina muda bernama Nina (Natalie Portman) yang berjuang untuk mendapatkan peran White Swan yang anggun dan rapuh pada sebuah produksi ballet ternama di Kota New York, tetapi juga diharuskan untuk memerankan tokoh Black Swan yang sensual dan penuh intrik, yang sebenarnya juga diinginkan oleh seorang ballerina lainnya, Lily (Mila Kunis).

Secara otomatis, Nina yang sejak awal diceritakan memiliki kepribadian introvert dan sangat sensitif, mengalami kesulitan yang amat dalam mengatur emosi dan immense pressure yang dihadapinya, terutama saat ia menemukan dirinya berkompetisi dengan orang lain, dan bukan hanya dengan sang ballerina, Lily—melainkan dengan dirinya sendiri.

2. Hanna (2011), Directed by Joe Wright

image

Young, sweet, deathly. Ketiga kata yang sempurna untuk menggambarkan film action/adventure/thriller ini. Dengan skenario yang terinspirasi dari beberapa cerita dongeng berbeda milik Grimm, film ini menceritakan seorang remaja perempuan bernama Hanna (Saoirse Ronan), yang hidup di tengah pedalaman hutan Finlandia bersama ayahnya, Erik Heller atau “Papa” (Eric Bana), yang secara diam-diam merupakan seorang mantan agen CIA.

Sejak kecil, Hanna sudah dipersiapkan oleh Erik untuk menjadi assassin, yang pada akhirnya ditugaskan untuk berperang dengan seorang agen senior CIA bernama Marissa Wiegler (Cate Blanchett), yang sejak dulu berusaha untuk menemukan dan membunuh Hanna dan ayahnya. Things will be questioned, murders will be done, and mysteries will be solved.

3. Hansel & Gretel (2007), Directed by Lim Pil-Sung

image

Diselaraskan dengan judulnya, film horror asal Korea Selatan ini terinspirasi dari cerita dongeng anak-anak Hansel & Gretel asal Jerman. Menceritakan tentang Eun-soo (Chun Jung-Myung), seorang salesman yang tengah menyetir di Highway 69 sambil berargumen lewat telfon dengan pacarnya, Hae-Young, lalu secara tidak sengaja kehilangan kendali mobilnya dan menabrak batu. Setelah tidak sadarkan diri, Eun-soo menemukan dirinya terbangun ditengah hutan yang gelap dan hampir tidak berpenghuni, hingga pada akhirnya ia diselamatkan oleh seorang anak kecil misterius bernama Young-hee (Shim Eun-kyung).

Setelah menerima tawaran Young-hee untuk berteduh dan membersihkan diri di rumahnya, Eun-soo pun tersadar bahwa Young-hee bukanlah sekedar anak kecil lugu yang tinggal di hutan, terutama setelah Young-hee memperkenalkan Eun-soo kepada kedua saudaranya yang lain, Man-bok (Eun Won-jae) dan Jung-soon (Jin Ji-hee). Bersama orang tuanya, ketiga bersaudara ini tinggal di sebuah rumah besar nan misterius yang dinamakan House of Happy Children.

4. Freeway (1996), directed by Matthew Bright

image

Dibuat sebagai versi modern dari cerita dongeng klasik, Little Red Riding Hood, film crime/action bertabur bintang ini menceritakan tentang seorang remaja sarkastik berusia 15 tahun, Vanessa Lutz (Reese Witherspoon), yang setelah  bebas dari jeratan kekerasan seksual ayahnya, pergi untuk tinggal di rumah neneknya—seseorang yang belum pernah ia temui seumur hidupnya. Permasalahan mulai bermunculan saat mobil Vanessa rusak di tengah jalan, memaksanya untuk menerima bantuan dari seorang pengemudi lain yang terkesan ramah dan mudah dipercaya bernama Bob Wolverton (Kiefer Sutherland), yang tanpa ia ketahui merupakan seorang pembunuh berantai yang sedang ramai dicari polisi.

5. Suspiria (1977), Directed by Dario Argento

image

Berparalel dengan cerita dongeng Snow White, film fantasy/mystery asal Italia ini dianggap sebagai film dengan audio dan setting terbaik di akhir tahun 70-an. Bahkan, remake film Suspiria akan diris tahun depan, dengan Dakota Johnson dari Fifty Shades of Grey sebagai pemeran utamanya.

Bercerita tentang seorang ballerina asal Amerika bernama Suzy (Jessica Hadper) yang melanjutkan studinya pada salah satu sekolah ballet terbaik di Jerman, Suzy pun mendapati teman-temannya menghilang secara misterius dan dibunuh dengan berbagai cara yang grotesque dan tidak manusiawi. Ia tersadar bahwa tempat yang awalnya di anggap sebagai surga menarinya, ternyata memiliki sejarah yang mendebarkan dibalik semua fasilitas dan kemewahan yang ditawarkannya.

Film Suspiria merupakan installment pertama dari trilogi Three Mothers, yang kemudian diikuti dengan Inferno dan The Mother of Tears. Dalam ketiga film ini, pentonton akan dihadapkan dengan berbagai elemen supernatural (terutama evil witchcrafts), yang pada akhirnya akan membentuk sebuah kesimpulan psikologis yang mencengangkan.

image

Setelah menonton kelima film diatas, dapat disimpulkan bahwa fairy tales tidak melulu berisi putri-putri anggun dan cantik dengan berbagai gaun mewah yang purpose utama dalam hidupnya hanya bertemu pangeran-pangeran tampan and live happily ever after! Terkadang, there is (almost) no fine line between our protagonists and antagonists in real life, and that’s completely realistic and acceptable.

Oscars 2016 – Where Miracles Took Place

Hanya ada tiga kata yang mampu mendeskripsikan Oscars tahun ini: unity in diversity.

Mulai dari Chris Rock – everyone’s favorite person – yang mendapat kesempatan untuk memandu acara, set of nominees and winners yang tidak diduga-duga, sampai dengan Lady Gaga yang secara khusus mendedikasikan lagunya yang berjudul “Till It Happens To You” untuk para sexual assault survivors yang ada di luar sana.

Nah, sebelum kita membahas ketiga iconic moments diatas secara lebih lanjut, here’s some of the categories and nominees of this prestigious award show.

BEST PICTURE:

The Martian, The Revenant, Room, Bridge of Spies, Spotlight, The Big Short, Brooklyn, Mad Max: Fury Road

BEST ACTOR:

Matt Damon: The Martian, Leonardo DiCaprio: The Revenant, Michael Fassbender: Steve Jobs, Eddie Redmayne: The Danish Girl, Bryan Cranston: Trumbo

BEST ORIGINAL SONG:

Earned It: Fifty Shades of Grey, Manta Ray: Racing Extinction, Simple Song #3: Youth, Till It Happens To You: The Hunting Ground, Writing’s on the Wall: Spectre

1. Chris Rock’s Opening Monologue

First of all, let’s talk about how Chris Rock practically owned the stage. With his usual remarks and heartwarming jokes, he definitely proved everyone that his satirical comedy will never vanish into the thin air.

Tidak percaya?

Berikut sebagian monolog pembukaan upacara Oscars dari Chris yang lucu, sarkastik, dan secara tidak langsung berhasil menai kontroversi dari berbagai pihak dan awak media.

“Here is the crazy thing. This is the wildest, craziest Oscars to ever host because we got all this controversy — no black nominees. And people are like. “Chris, you should boycott! Chris, you should quit! You should quit.” How come it’s only unemployed people that tell you to quit something, you know? No one with a job ever tells you to quit.

So I thought about quitting. I thought about it real hard, but I realized, “They’re gonna have the Oscars anyway.” They’re not gonna cancel the Oscars because I quit! And the last thing I need is to lose another job to Kevin Hart, OK? I don’t need that! Kev, right there [points to Hart in audience]. Kev make movies fast! Every month! Porno stars don’t make movies that fast.

Ia pun mengakhirinya dengan sebuah tanggapan yang mengusung tema sexism dan racism yang ada di dunia perfilman Hollywood, mengundang tawa sekaligus decak kagum dari seluruh auditorium.

“Another big thing tonight — somebody told me this — you’re not allowed to ask women what they’re wearing anymore. It’s a whole thing: #AskHerMore. “You have to ask her more! You ask the men more!” Everything’s not sexism, everything’s not racism. They ask the men more because the men are all wearing the same outfits! Every guy in here is wearing the exact same thing! If George Clooney showed up with a lime green tux on, and a swan coming out of his ass, somebody would go, “Whatcha wearin’, George!”

Hey, welcome to the 88th Academy Awards!”

2. Leonardo DiCaprio’s First Oscar

Moving onto the greatest, most iconic event of the year – wait for it – Leonardo DiCaprio finally won an Oscar!

Dalam sepuluh tahun terakhir, sudah terlalu banyak memes dan canda tawa yang kita lontarkan mengenai DiCaprio yang sudah berkali-kali masuk ke dalam nominasi Oscar, tetapi tidak pernah mendapatkan piala impian tersebut, but for now, he finally got the golden trophy he deserves.

Acceptance speech dari DiCaprio yang membuat kita meneteskan air mata juga patut diacungi jempol. Tidak hanya berterima kasih kepada rekan-rekan kerjanya pada film The Revenant yang memberinya kesempatan untuk membawa pulang piala Oscar, DiCaprio juga membahas isu-isu penting yang sedang dihadapi dunia, yakni climate change dan environmentalism.

Berikut adalah sebagian dari transcript pidato DiCaprio yang singkat dan padat, tetapi berhasil memberikan dampak besar terhadap dunia perfilman tahun ini.

“And lastly, I just want to say this: Making The Revenant was about man’s relationship to the natural world.

A world that we collectively felt in 2015 as the hottest year in recorded history. Our production needed to move to the southern tip of this planet just to be able to find snow. Climate change is real, it is happening right now. It is the most urgent threat facing our entire species, and we need to work collectively together and stop procrastinating.

We need to support leaders around the world who do not speak for the big polluters, but who speak for all of humanity, for the indigenous people of the world, for the billions and billions of underprivileged people out there who would be most affected by this. For our children’s children, and for those people out there whose voices have been drowned out by the politics of greed. I thank you all for this amazing award tonight. Let us not take this planet for granted. I do not take tonight for granted. Thank you so very much.”

3. Lady Gaga’s Heartbreaking Song

Meskipun lagu “Till It Happens To You” yang merupakan original song dari film dokumentasi The Hunting Ground belum berhasil membuat Lady Gaga membawa pulang piala Oscar, semua mata tertuju padanya malam itu.

Gaga menegaskan bahwa lagu tersebut ia dedikasikan untuk para korban kekerasan seksual yang masih memiliki kesulitan untuk memperjuangkan hak mereka. Bahkan, pada salah satu interview-nya dengan Elvis Duran & The Morning Show, dengan berani Gaga juga bercerita tentang pengalaman pribadinya mengenai sexual assault yang pernah ia alami, yang pada akhirnya menjadi salah satu influent terbesar dalam penulisan lagu ini.

Ia berkata, “I feel physical pain and there’s a lot of other people that suffer from chronic pain who have been through a traumatic experience. I actually suffer from chronic pain all the time, and it’s from this paralyzing fear that I’ve experienced for almost 10 years.”

Meskipun pada akhirnya piala tersebut dimenangkan oleh Sam Smith dengan lagu “Writings On The Wall” dari Spectre, yang juga dengan berani mengusung tema LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), pertunjukan yang dibawakan Gaga tetap membuktikan bahwa sebuah lagu dapat memberikan impact yang besar bagi siapapun yang mendengarnya.

Berikut adalah sebagian dari acceptance speech milik Sam Smith, yang juga membuat seluruh auditorium tercengang dan bertepuk tangan, even Lady Gaga herself who’s been known as a very devoted activist for the LGBT community.

“I read an article a few months ago by Sir Ian McKellen and he said that no openly gay man had ever won an Oscar. And if this is the case, even if it isn’t the case, I want to dedicate this to the LGBT community all around the world. I stand here tonight as a proud gay man, and I hope we can all stand together as equals one day.”

image

Akhir kata, Oscars 2016 merupakan satu dari sekian acara penghargaan yang berhasil membuktikan bahwa stereotypes will never take place unless you start it yourself. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, tidak ada kata kecewa untuk sebuah kekalahan, dan tidak ada kata biasa untuk sesuatu yang sebenarnya luar biasa. It’s all about perspectives, finding your true selves and embracing the flaws you’re never been comfortable with.

5 Film Paling Underrated di Tahun 2015

Nggak setuju dengan pandangan bahwa cuma film-film box office terkenal yang patut kalian lihat? Jangan khawatir. Masih banyak kok, film-film yang sangat menarik untuk ditonton. Tahun 2015 adalah tahun yang benar-benar produktif untuk para pembuat film. Mulai dari film bertemakan petualangan/war/distopia seperti The Hunger Games: Mockingjay Pt. 2, film-film action menjanjikan seperti Mission Impossible: Rogue Nation dan Furious 7, bahkan sampai film-film kartun menggemaskan seperti Minions, Pixels dan Inside Out.

Nah, untuk menutup tahun 2015 yang penuh kejutan dari sineas dunia, kami akan memberikan kalian 5 referensi film paling underrated yang perlu kalian tonton.

1. 6 Years, directed by Hannah Fidell

635814384325552408300944574_tumblr_nw6m4mdCwN1rwyolao1_500.gif

Berkisah tentang lika-liku yang dialami pasangan muda, Melanie dan Dan, dalam kurun 6 tahun, film ini berhasil memberikan kesan “realistis” bagi para penontonnya. Dibintangi oleh Taissa Farmiga (The Bling Ring, American Horror Story) dan Ben Rosenfield (Boardwalk Empire), agak sayang rasanya untuk melewatkan film yang satu ini. 6 Years mengajarkan kita bahwa nggak semua long-term relationship itu mulus-mulus aja. Teori tersebut dibuktikan dengan berbagai obstacles yang mereka alami selama 6 tahun berpacaran, seperti violence, volatile, sex, maupun ketidakcocokan yang sudah pasti nggak bisa mereka hindari. Alasan kenapa film ini kurang diapresiasi para penikmat film? Penggambaran tentang kekerasan dan sex dalam hubungan mereka dianggap sedikit vulgar, dalam maksud memberikan kesan realistis yang sudah penulis bahas sebelumnya. Overall, this movie is definitely worth to watch.

2. Before We Go, directed by Chris Evans

4f2ddcce5829d9f1cee38f7dd91ccf3b.jpg

Kualitas akting Chris Evans dan Alice Eve udah nggak perlu diragukan lagi. Before We Go juga merupakan directorial debut Chris Evans sendiri. Bagi penulis, film dengan dialog sederhana namun romantis ini adalah salah satu film independen terbaik yang pernah penulis tonton. Dengan latar kota New York yang megah dan penuh dengan berbagai kejutan, dikisahkan seorang aspiring musician bernama Nick Vaughn yang secara tidak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan muda bernama Brooke yang ketinggalan kereta terakhir ke Boston. Yang lebih uniknya lagi, film ini hanya bercerita tentang satu malam penuh petualangan Nick dan Brooke yang memutuskan untuk berkeliling New York. Mulai dari bertemu mantan pacar Nick secara nggak sengaja, kehilangan tas, crashing strangers’ wedding, sampai dengan menyelinap ke dalam kamar hotel salah satu teman Nick yang sibuk berpesta di sebuah bar. What makes this movie interesting, is the fact that Brooke is married to a man who’s nowhere near loyal to her. Jadi, buat kalian yang ingin bergalau-galau ria sambil menikmati pemandangan kota New York yang disuguhkan dengan begitu apik, this movie’s perfect for you.

3. Project Almanac, directed by Dean Israelite

Project-Almanac

If you enjoy watching found footage sci-fi thriller movies, Project Almanac is the way to go. Film ini jauh lebih berbobot daripada installment-nya Paranormal Activity. Berceritakan tentang David Raskin (Jonny Weston), seorang kutu buku yang bercita-cita untuk kuliah di MIT dan beberapa teman SMA-nya yang secara tidak sengaja berhasil membuat temporal displacement device yang memudahkan mereka untuk melakukan perjalanan waktu. Namun, sehebat apapun mesin yang mereka ciptakan, their excitement soon ends when they begin to discover the consequences behind their newly made device. Film ini sangat menarik untuk ditonton, karena selain film ini dan Chronicle, masih sangat jarang film sci-fi thriller yang menggunakan teknik pengambilan gambar found footage. So far, 7.5 out of 10.

4. The Age of Adaline, directed by Lee Toland Krieger

imagess

Kira-kira gimana ya rasanya, hidup sebagai perempuan berumur 29 tahun selama hampir 8 dekade? This miraculous immortality happened setelah seorang perempuan muda bernama Adaline Bowman (Blake Lively) terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil. Dikisahkan hidup abadi Adaline yang awalnya membosankan dan monoton, berubah 180 derajat setelah bertemu seorang philanthropist bernama Ellis Jones (Michiel Huisman) yang menyadarkan Adaline mengenai betapa berharganya hidup dan cinta. Aneh? Sudah pasti. Penuh rahasia? Apalagi. Tapi, menurut gue, film ini patut kita acungi jempol. Premisnya sangat menjanjikan, jalur ceritanya pun tidak terkesan “dibuat-buat” meskipun keseluruhan film ini bertemakan fantasy/fiction. Hanya ada satu hal yang perlu penulis singgung dari film ini, yaitu kurangnya penggambaran yang jelas mengenai immortality yang dihadapi oleh Adaline itu sendiri.

5. The End of the Tour, directed by James Ponsoldt

tumblr_nwmqohFlOJ1rsyukao1_500.jpg

Film drama bertabur bintang yang diperankan oleh Jason Segel (How I Met Your Mother, Forgetting Sarah Marshall) dan Jesse Eisenberg (Zombieland, The Social Network) ini diadaptasi dari memoir terkenal David Lipsky yang berjudul Although of Course You End Up Becoming Yourself. Film ini menceritakan tentang seorang reporter Rolling Stone bernama David Lipsky (diperankan oleh Eisenberg) yang mewawancarai seorang novelis terkenal bernama David Foster Wallace (diperankan oleh Segel) yang baru saja mempublikasikan novel terbarunya yang berjudul Infinite Jet pada tahun 1996. Buat kalian yang juga menikmati dunia jurnalisme, film ini cocok banget buat kalian tonton. The End of the Tour dikemas dengan sangat simpel, tetapi tetap logis dan penuh tanda tanya. Yang sangat disayangkan dari film ini, adalah kurangnya plot twist yang sudah diincar para penonton sejak awal. Bisa dibilang, konsep film ini sangat brilliant, tetapi execution-nya masih kurang mendetail. Tapi, despite all of the critics about this movie, film ini masih layak untuk ditonton.

before-we-go

Setelah kalian baca (dan menonton) film-film yang gue sudah referensikan diatas, kita pasti nggak akan berfikir dua kali untuk nonton film-film yang tidak dikategorikan sebagai box office. Film-film 2015 itu bukan hanya terdiri dari 50 Shades of Grey dan Pitch Perfect 2. Masih banyak kok, film-film berbobot yang (sayangnya) masih menjadi misteri karena kurangnya apresiasi dari para penikmat film. Isn’t it a good thing to expand our knowledge, terutama pada film-film indie/independen seperti ini? Jangan takut untuk nggak jadi mainstream dan keluar dari comfort zone kamu. Karena terkadang, mencoba hal-hal baru itu menyenangkan, kok.