All posts by Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Pengabdi Setan (2017) – Teror Lintas Generasi (SPOILER REVIEW)

Bagi orang Indonesia yang pernah hidup di era 80 dan 90-an, pasti mereka pernah merasakan kengerian traumatis yang diciptakan oleh film-film horor eksploitasi pada zaman Orde Baru. Sebutlah tokoh-tokoh seperti H. Tut Djalil, Lilik Sudjio, dan Sisworo Gautama Putra. Berangkat dari hasrat eskapisme sekaligus perlawanan mereka terhadap pemerintahan Suharto yang opresif, terciptalah banyak film-film yang tidak hanya brutal dan menyeramkan secara audiovisual, namun juga menonjolkan unsur seksualitas yang padat. Ratu Ilmu Hitam, Bayi Ajaib, dan Leak menjadi contoh dari film-film yang pernah terkenal dan berkesan bagi para penikmat sinema di zaman tersebut.

Pengabdi Setan bisa dibilang merupakan salah satu film yang penting di zaman tersebut. Bukan hanya berhasil membuat banyak anak-anak kecil kesulitan tidur, namun karena beberapa elemen di dalam film ini mencerminkan idealisme dan superstisi masyarakat di zaman Orde Baru terhadap agama, mitos, dan cerita-cerita hantu. Film ini pun juga merupakan film yang disukai secara personal oleh Joko Anwar. Oleh karena itu, atas izin dan dukungan dari Rapi Film, ia membuat ulang Pengabdi Setan menggunakan idealisme dan caranya sendiri, namun masih tetap memberi penghormatan dengan menggunakan beberapa elemen yang menjadi daya tarik serta keunikan film karya Sisworo Gautama Putra tersebut.

Percayalah, seskeptis apapun kalian terhadap film horor Indonesia, kalian tetap akan ketakutan setengah mati menonton film ini.

Ibu (Ayu Laksmi) meninggal setelah menderita sakit aneh selama dua tahun, dan sehari setelah penguburan jenazahnya, Bapak (Bront Palarae) harus langsung ke kota selama beberapa hari. Selama ditinggal Bapak, Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat) mengalami kejadian demi kejadian janggal di dalam rumah mereka. Perlahan-lahan, sebuah rahasia mengerikan yang selama ini disembunyikan Bapak dan Ibu pun terungkap. Didorong oleh rasa kasih sayang yang kuat, mereka harus bersatu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari ancaman yang bangkit dari dalam neraka.

Secara cermat, Pengabdi Setan (2017) berhasil menciptakan sebuah teror yang tepat sasaran bagi para penonton Indonesia yang sudah lebih dulu familiar dengan The Conjuring sebagai standar film horor yang menakutkan bagi mereka. Bagi kalian yang sudah menonton The Conjuring, The Conjuring 2, dan Annabelle: Creation lebih dari dua kali, kalian akan melihat formula serupa diterapkan oleh Joko Anwar dan dieksekusi menjadi lebih efektif di film ini.

Pertama: Jump-scare yang mengharmonisasikan momentum pergerakan kamera (Ical Tanjung rocks!) dengan sudut pandang tokoh serta sound effect sebagai pengejut di akhir. Beberapa teknik jump-scare yang pernah digunakan di The Conjuring 2 akan banyak kamu temukan juga di Pengabdi Setan (haunted paintings, moving chairs, mirror reflection). Bedanya, film ini tidak memberikan efek kejutan yang sama dengan film karya James Wan tersebut.

Jadi begini kira-kira contohnya:

Reaksi di akhir jump-scare The Conjuring 2:
“WUANJENG KAGET!”
Reaksi di akhir jump-scare Pengabdi Setan:
“Oh shit….oh shit….anjeng….ANJEEEEEENG KABOOOOR!!!”

Kedua: Cursed objects. Objek-objek ini selalu membuka sebuah adegan jump scare sebagai penanda resmi kehadiran ‘Sang Pemilik’ untuk meningkatkan suspense dan memaksimalkan kengerian yang akan didatangkan di ujung adegan. Ada boneka Annabelle serta kotak musik di The Conjuring. Ada juga mainan ‘the crooked man’, lukisan ‘the nun’, serta kursi goyang di The Conjuring 2. Pengabdi Setan? Lonceng Ibu, kursi dorong nenek, serta lukisan Ibu yang berada di ujung lorong.

Ketiga: Possessed Child(ren). Anak kecil kesurupan itu serem banget, apalagi kalau aktingnya bagus seperti Mackenzie Foy di The Conjuring dan Madison Wolfe di The Conjuring 2. Di Pengabdi Setan, ada sebuah pembeda yang sangat efektif. Alih-alih menjadi fokus narasi, ia menjadikan tokoh Si Bocah yang kerasukan sebagai distraksi. Penampilan Nasar Annuz sebagai Bondi yang tiba-tiba diam dan pucat setelah kematian neneknya itu bakal bikin semua kecurigaan kamu mengarah pada dia dan mengalihkan kita dari bahaya sesungguhnya yang bersembunyi di balik kesenyapan.

Menggunakan formula khas film atau sutradara lain bukan berarti menjadi peniru, dan menuduh Joko Anwar sebagai seorang peniru bukanlah sebuah kelakuan yang terdidik maupun terpuji. Ketiga unsur tersebut hanya menjadi penajam dari atmosfer mencekam yang berhasil diciptakan lewat konsep produksi yang solid, alur cerita dan skenario yang cerdas, tata rias yang minimalis, sound effect dan iringan musik jazz 80’an yang antik, serta penampilan ansambel yang memukau dari para pemeran. Sekali lagi saya tegaskan, Ical Tanjung keren abis. Komposisi terjaga dengan baik sepanjang berlangsungnya film, membuat setiap teror terasa lebih nyata dan menyesakkan nafas. Dari sisi akting, penampilan yang paling menonjol di film ini dihasilkan oleh pasangan Nasar Annuz dan M. Adhiyat. Mereka berhasil membangun chemistry yang kuat sebagai kakak dan adik yang menggemaskan, apalagi setiap kali melihat Ian yang bisu mengejek Bondi dengan bahasa isyarat dan senyum imutnya yang menjengkelkan.

Hal yang terpenting dan patut kita bicarakan adalah bagaimana film ini menyelipkan kritik terhadap penggambaran fungsi agama di dalam sebuah film, khususnya film horor. Semenjak Orde Baru, tokoh-tokoh pemuka agama seperti Kiai atau Ustadz selalu digambarkan sebagai sosok yang mampu memberikan solusi terhadap gangguan makhluk halus. Hampir semua film horor Indonesia selalu menggambarkan Kiai atau Ustadz seperti pahlawan dengan kemampuan super yang berasal dari kekuatan iman mereka (bahkan ini juga terjadi di film Pengabdi Setan sebelumnya). Ditambah dengan kelatahan sinetron horor yang tayang setiap primetime di layar kaca, hal ini secara tidak langsung menimbulkan sebuah glorifikasi dari masyarakat terhadap para pemuka agama. Walhasil, siapapun yang menyandang gelar ustadz, kiai, atau haji, mereka mampu memegang kontrol atas opini masyarakat.

Joko Anwar, seseorang yang dikenal gerah terhadap “kelompok agama yang mengontrol opini masyarakat” (nggak usah saya sebut lah siapa, kalian semua sudah tahu), menyampaikan keresahannya dengan satu keputusan yang cukup berani: membunuh satu-satunya karakter ustadz di film ini dengan kematian yang sama seperti bagaimana manusia biasa seharusnya mati di film horor. Prinsipnya terhadap kebebasan dalam menganut kepercayaan juga disampaikan lewat karakter Hendra, anak ustadz yang mengatakan secara gamblang pada Rini:

“Ayahku memang ustadz, tapi kalau aku, lebih terbuka terhadap teori-teori lain.”

 

Hormat film ini terhadap karya asli dari Sisworo Gautama Putra pun disampaikan dengan cara yang gemilang. Ingat adegan motor yang tertabrak truk di film Pengabdi Setan yang sebelumnya? Adegan ini dikemas kembali dengan penyajian yang lebih brutal dan mengerikan, menayangkan sebuah teror legendaris ke mata penonton milenial dengan lebih hidup dan nyata. Terlebih, ia juga menghadirkan kembali sosok penting di film Pengabdi Setan terdahulu pada epilog film, sehingga membuka kemungkinan untuk adanya sekuel.

Pengabdi Setan (2017) berhasil membuat penonton Indonesia di tahun 2017 ini sama ketakutannya seperti bagaimana saat penonton Indonesia di tahun 1980 menonton Pengabdi Setan versi Sisworo Gautama Putra, dan ini bukanlah sebuah hal yang mudah. Jarang sekali ada sebuah reboot horror yang berhasil.  Dari empat judul film horror reboot dari Hollywood di tahun 2017 (IT, Flatliners, Rings, Amityville: The Awakening), hanya IT yang benar-benar berhasil secara kualitas dan pendapatan komersil. Dalam kurun waktu lima hari sejak penayangan publik pertama, Pengabdi Setan sudah sukses mengumpulkan lebih dari enam ratus ribu penonton, sehingga diprediksikan film ini akan mampu merangkul 2 juta penonton dalam waktu kurang dari sebulan. Jika berhasil, maka Pengabdi Setan tidak hanya akan menjadi salah satu film horor Indonesia tersukses sepanjang masa, namun juga meletakkan standar yang lebih tinggi untuk film-film horor Indonesia selanjutnya.

Jadi tolong, jika kalian memang orang yang pemberani, tolong dukung film ini dengan menontonnya lebih dari dua kali di bioskop.

Tapi kalau tidak berani juga, yah, tidak apa-apa. Saya bisa maklum kok. Saya tiga malam berturut-turut tidur ditemani lampu kamar yang menyala serta lagu-lagu Blink 182 di Spotify dari laptop yang tidak saya matikan setelah nonton film ini, jadi kalau saya katakan film ini bukan buat orang penakut, saya mengatakannya dengan sangat jujur tanpa ada unsur sarkasme sama sekali.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Death Note (2017) – Terrific Material, Terrible Story

Ada beberapa hal yang menarik dan menjadi entertainment value dari cerita original Death Note:

  1. Duel kecerdasan antara dua karakter utama, Light dan “L”, untuk saling mendahului langkah satu sama lain. Menegangkan dan penuh dengan hal-hal yang tidak terduga.
  2. Kekuatan karakter Light dan L yang menginspirasi dan mengokohkan moral dilemma di dalam alur cerita.
  3. Toxic relationship antara Light dan Misa yang rumit dan penuh dengan tipu daya.

Jika kalian mengharapkan ketiga poin itu ada di dalam film Death Note hasil adaptasi Netflix dan Adam Wingard ini, lebih baik urungkan niat untuk menonton karena kalian bakal kecewa bahkan saat 15 5 menit pertama film berlangsung.

Kehidupan Light Turner (diperankan oleh Nat Wolff), seorang bocah SMA yang terkenal suka jual contekan, tiba-tiba berubah drastis saat ia menemukan sebuah buku tulis dengan sampul bertuliskan ‘Death Note’ jatuh dari langit. Lewat buku itu, ia mendapatkan kemampuan istimewa untuk membunuh siapapun yang ia kehendaki hanya dengan menuliskan nama lengkapnya di Death Note. Bersama Ryuk (suara diperankan oleh Willem Dafoe) dan Mia Sutton (diperankan oleh Margaret Qualley), Light menjadi sesosok Kira: dewa keadilan yang mampu membunuh siapapun yang menurut mereka “tidak pantas hidup di dunia”. Pembantaian massal Kira pun mendapatkan perhatian seorang detektif pribadi jenius beraliaskan L (diperankan oleh LaKeith Stanfield). Perlahan tapi pasti, L menemukan identitas Kira dan mulai melakukan segala cara agar Light Turner mampu ditahan atas perilaku pembunuhan masssalnya.

Banyak yang mempermasalahkan film ini karena banyak hal. Isu white-washingpelecehan karakter Light Yagami, serta pemilihan LaKeith Stanfield sebagai L yang bagi sebagian orang ‘nggak cocok’ atau ‘terlalu maksa’. Well, gue nggak bisa nyalahin mereka. White-washing is indeed a serious issue that needs to be addressed in every Hollywood attempt to remake a movie. Penggemar manga dan anime Death Note yang asli pun berhak untuk patah hati melihat idola mereka Light Yagami yang pemberani dan fokus diacak-acak oleh Adam Wingard menjadi Light Turner yang cengeng dan picisan. Semua yang mengutarakan kekecewaan mereka tentang betapa ‘Amerika’-nya Death Note versi Netflix ini tidak bisa disalahkan kok.

Hanya saja, saya tidak sependapat bahwa alasan-alasan tersebutlah yang membuat Death Note menjadi film yang jelek.

Death Note jelek karena naskah dan skenarionya jelek.

Premis Death Note memiliki potensi yang sangat kuat untuk menjadikannya film cat-and-mouse thriller yang gelap dan penuh dengan skenario-skenario tak terduga. Entah kenapa, Adam Wingard, sang sutradara yang juga pernah menggarap You’re Next dan The Guest ini seperti kehabisan akal atau pesimis dengan tokoh-tokohnya sendiri.

Mari kita mulai dengan sang karakter utama: Light Turner. Semua permainan cerdas Light menggunakan Death Note jatuh menjadi datar dan hambar. Sebagian penonton banyak yang menyalahkan keputusan Adam Wingard untuk membuat Light Turner menjadi dua kali lipat lebih bodoh dari Light Yagami. Yah, kalau dengan alasan bahwa kecerdasan yang dimiliki Light Yagami itu tidak manusiawi dan merupakan sebuah refleksi dari budaya remaja Jepang dan ambisi mereka untuk selalu over-achieving something, hal tersebut bisa dibenarkan. Melakukan cultural adjustment kepada Light Turner dengan mengambil sampel bocah Kaukasian self-righteous cengeng sebagai perwakilan dari remaja Amerika Serikat pun sebenarnya merupakan sebuah keputusan yang bisa dibenarkan.

Belum lagi karakter L yang diperankan oleh aktor kulit hitam LaKeith Stanfield. Saya tidak bermasalah sama sekali dengan hal ini. Malah bagi saya, LaKeith menampilkan akting yang sangat maksimal sebagai seorang detektif jenius yang berperangai aneh. Cultural adjustment yang dilakukan Adam Wingard pun tepat sasaran, mengingat di film adaptasi ini, L yang seorang pria berkulit hitam telah yatim piatu sejak kecil dan dilatih sejak dini oleh sebuah organisasi rahasia untuk dijadikan detektif hebat. Terdengar sangat menarik, bukan?

Yang salah bukan pada persiapan materinya, namun perencanaannya. Ibarat musik, Death Note adalah seorang John Petrucci yang memainkan “Let it Go” dari Frozen dengan strumming. Seperti ini kira-kira.

Semua skenario di film ini, yang harusnya bisa sangat menarik dan menegangkan, malah menjadi predictable dan membosankan. Oke, visualnya asik, karakternya keren, tapi bukannya mengembangkan alur cerita menjadi lebih rumit dan mendorong tokoh-tokoh di film ini sampai ke titik nadir mereka, Adam Wingard memilih untuk mengurung dan memenjarakan Light, L, dan Mia ke dalam template teenage Hollywood thriller dan membiarkan potensi mereka membusuk sampai akhir film. Cheesy romantic youth stories between Light & Mia? “My dad is a cop” scenario? Homecoming and prom? Ferris Wheel accident scenario? Oh, belum lagi Ryuk yang tampil dengan sangat menyeramkan di film ini nggak dikasi peran yang lebih penting dari sekedar ekornya Light dan comic relief.

Bukan cuma plot, tapi naskah film ini pun kacau berantakan. Death Note memang selalu memfokuskan temanya pada sudut pandang hitam putih keadilan. Namun karena isu serumit ini tidak diimbangi dengan cerita yang cerdas dan kompleks, segala percakapan tentang hal tersebut menjadi terdengar sangat pretensius–dan bahkan terkesan dibuat-buat.

Sungguh sebuah kesia-siaan yang menyedihkan.

Saya turut simpati dengan segala kecaman yang diterima oleh Adam Wingard terkait betapa kecewanya penonton terhadap Death Note. However, with all due respect, it was indeed a total disappointment. Mungkin kekecewaan ini hanyalah awal dari suatu master plan yang sudah dirancang Adam Wingard ke depannya: Death Note trilogy. Mungkin memang ada beberapa sekuel yang telah direncanakan dengan lebih matang dan bisa menjadi berkali-kali lipat lebih baik daripada film sampah ini. Namun tak bisa dipungkiri, ia telah membuat Death Note lebih believable sebagai teenage coming-of-age thriller semacam Final Destination, The Covenant, atau Twilight di mana sejatinya cerita Death Note adalah sebuah political thriller yang brilian dan bisa disandingkan dengan V for Vendetta, Watchmen, atau The Hunger Games.

You don’t deserve all the hate, Adam, but people deserve to be disappointed.

Distopiana’s Rating: 1 out of 5.

Nikmati Bioskop Mewah Surabaya Tanpa Takut Bangkrut

Sebagai kota besar sekaligus ibukota Jawa Timur, mayoritas penduduk yang tinggal di Surabaya adalah pendatang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Karena itulah, Surabaya menjadi surga bebas macet saat hari raya Idul Fitri di hari pertama dan kedua

Tetapi, jangan ditanya bagaimana kemacetan akan terjadi lagi setelah itu. Hal ini karena Surabaya menjadi kota yang paling sering dikunjungi oleh warga di kota-kota sekitarnya, seperti Gresik, Lamongan, Sidoarjo dan Malang, untuk berlibur. Maklum, Surabaya memiliki fasilitas hiburan metropolitan seperti ibukota negara, Jakarta. Hal ini juga berlaku bagi bioskop-bioskop di kota ini. Studio XXI dan The Premiere, bahkan IMAX ada di Surabaya.

Jika Anda adalah arek Suroboyo asli, maka Anda akan sangat menikmati lengangnya kota tercinta Anda di hari pertama Idul Fitri. Setelah sholat Ied dan sungkem kepada orang tua serta bersilaturahmi dengan para kerabat, Anda dapat segera menghabiskan liburan asyik di berbagai mal mewah yang pastinya tak sepadat di akhir pekan. Menonton pun bisa lebih nyaman, apalagi menjelang liburan panjang jadwal bioskop Surabaya pasti hadir dengan beragam film Box Office terbaru.

Jika Anda penggemar film action seperti “Transformers: The Last Knight”, pastikan Anda menyaksikannya di studio IMAX yang ada di Tunjungan atau Pakuwon Mall. Di momen liburan ini, studio IMAX paling asyik untuk menyaksikan film robot canggih tersebut—yang akan dirilis pada 21 Juni 2017—atau  “War for the Planet of the Apes” yang tayang premier pada, Jumat, 14 Juli 2017.

Jika memang studio IMAX di dua tempat tersebut menayangkan film horor “Jailangkung”—rilis 25 Juni—atau “Petak Umpet Minako yang dirilis pada 13 Juli 2017, tentu Anda juga tak ingin melewatkannya, bukan?

Bila Anda adalah tipe orang yang tak terlalu suka berkendara terlalu jauh demi menonton film kesayangan, pastinya Anda tak kesulitan mencari studio XXI mewah di Surabaya karena banyak pilihan bioskop di kawasan-kawasan strategis. Salah satunya adalah Ciputra World Surabaya, yang terletak di jalan Mayjen Sungkono.

Siapa tak kenal dengan jalur elit ini. Ciputra World memiliki studio XXI dan The Premiere yang pastinya merepresentasikan kemewahan khas dari setiap pusat perbelanjaan yang dikelola oleh salah satu pengembang terbesar di Indonesia ini.

Anda bisa pilih genre film yang Anda suka. Jika Anda ingin menikmati liburan lebaran sambil menonton bioskop, mungkin Anda bingung memilih karena di tanggal 25 Juni 2017, ada empat film Indonesia terbaru yang tayang serentak, yakni “Sweet 20”, “Surat Kecil Untuk Tuhan”, “Insya Allah, Sah!” atau “Jailangkung”.

Tetapi jika Anda penggemar film Hollywood, Anda tak akan kehabisan hiburan. Sejak Juni hingga Juli 2017, ragam film komedi, action serta thriller bisa Anda nikmati, beberapa diantaranya adalah “Baywatch”, “War for the Planet of the Apes”, “Spider-Man: Homecoming” serta “Dunkirk”.

Pilihan bagi para warga luar kota Surabaya yang menggunakan bus antar kota atau kereta api juga tak kalah beragam. Bagi mereka yang suka jadi turis lokal dengan naik bis kota, mereka pasti sangat paham dengan rute menuju ke Tunjungan Plaza, ikon legendaris kota Surabaya.  Mal mewah ini memiliki akses mudah terutama bagi penumpang bis kota. Tunjungan Plaza punya studio XXI, The Premiere, sekaligus IMAX.

Namun, bagi warga luar kota yang ingin  menikmati perjalanan murah meriah ke kota Surabaya via kereta api, pastinya mereka tak asing lagi dengan Grand City XXI. Terletak di Jl. Walikota Mustajab, bioskop ini sangat mudah diakses dari stasiun kota Gubeng.

Surabaya juga memiliki bioskop-bioskop 21 yang menawarkan harga tiket yang jauh lebih murah, tanpa mengabaikan fasilitas dan kualitas. Jangan khawatir, film-film yang ditayangkan pun adalah film terbaru. Bioskop 21 yang merupakan bioskop terlama di Surabaya adalah Delta 21, Cito 21 atau Royal 21.

Intinya, Surabaya memiliki banyak pilihan menonton film terbaru, sesuai keinginan para pecintanya.

10 Tokoh Wanita Terkuat dan Inspiratif di Film dan TV Series

Sebagai seorang pria yang dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang wanita, saya mengagumi mereka sebagai sosok yang tangguh dan perkasa, terlepas dari segala stereotipe yang ada di dalam kepala saya dulu, saat saya masih mengenal RA Kartini hanya sebagai wanita yang harinya dirayakan. Saya yakin sekali sebenarnya para kaum patriarki di luar sana juga menganggap wanita sebagai sosok yang berbahaya dan mengancam citra maskulinitas lelaki yang sudah dibentuk oleh tradisi, makanya dahulu (dan sampai sekarang) banyak sekali tatanan yang mereka bentuk untuk membatasi ruang gerak wanita di dunia.

Kini dunia semakin modern, dan gerakan emansipasi wanita di seluruh dunia semakin kuat dan berpengaruh, menghasilkan berbagai tatanan yang juga memberikan kesetaraan derajat dan hak bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan kerja dan perlakuan yang setara dengan laki-laki. Dengan kondisi seperti ini, tentu penggambaran wanita sebagai sosok damsel in distress sudah tidak relevan dan bertentangan dengan akal sehat. Why would picture them weak if they are actually strong?

Ada banyak sekali tokoh wanita tangguh di film dan serial televisi, namun saya akan menulis tentang sepuluh tokoh yang menurut saya paling tepat menjadi representasi wanita terkuat di dunia modern dan, hopefully, juga dapat menjadi pedoman bagi kaum lelaki untuk bagaimana seharusnya kita memandang wanita.

Bagaimana kita seharusnya memandang mereka?

Just treat them equally, and don’t mess with them…

  1. Elizabeth Sloane – Miss Sloane (2017)


Tanpa berlebihan, Elizabeth Sloane is an epitome of resilience and dedication. Pekerjaannya sebagai lobbyist tidak pernah mengguncang moral compass yang ia pegang teguh, terutama persoalan gun control di Amerika Serikat. Dia hanya bekerja kepada klien yang sejalan dengan pemikiran yang ia anut, which also means that she only works in her own favor. She knows her things, and if she doesn’t, she will master it before her opponents can blink their eyes. She will not rest until she wins, no matter how small her team is or how fast her opponent moves, she will only move three times faster and grow stronger. Satu hal yang paling menarik dari Sloane adalah: pendiriannya mempunyai basis yang dikokohkan oleh argumen moral tanpa disertai sedikitpun unsur personal dan emosional di dalamnya. Tentu hal ini juga memiliki kekurangannya tersendiri. Kemampuannya dalam berempati sangat buruk sehingga cenderung menjadi manipulatif. Namun yah, mau bagaimana lagi? Dalam seni lobbying, empati memang lebih baik digunakan sebagai pedang, bukan tameng.

2. Louise Banks – Arrival (2016)

Banks adalah figur seorang ibu yang selalu kita idamkan. Penyabar, intuitif, ulet, dan pemberani. Sebagai seorang pakar linguistik, ia tahu persis bahwa senjata utama yang harus dikeluarkan pertama kali saat konflik terjadi adalah “komunikasi”. Kaum lelaki mungkin akan menganggap Banks pribadi yang gegabah karena bertindak keluar dari protokol dan menyalahi aturan, namun Banks akan tetap kokoh pada pendiriannya bahwa “gegabah” yang sebenarnya adalah melakukan tindakan agresif dalam konflik sebelum terjalinnya komunikasi yang baik dari kedua belah pihak.

You: “Mah, aku kesel. Masa sahabat aku Si Anto tadi jalan gandengan tangan sama Gladis, pacar aku!
Banks: “Yo wes lah ajak Anto sama Gladis ke sini ngopi dulu, biar kalian bisa ngobrol.”
You: “But Mom, science says…”
Banks: “If you want science, go ask your Father.”

3. Katniss Everdeen – The Hunger Games Trilogy (2012 – 2015)

Kalau Louise Banks adalah figur ibu idaman, maka Katniss Everdeen adalah figur kakak idaman. She always treats you well, she prioritize you first, and she will do anything to protect you. Oke lah, kamu nggak mau kakakmu gegabah “volunteering as a tribute” demi ngelindungin kamu, tapi kamu harusnya juga tahu kalo kakakmu nggak selemah itu untuk mati sia-sia jadi hiburan para aristokrat di Capitol. Faktanya, dia juga membenci Capitol, dan orang sekuat dan seulet kakakmu itu bisa menjadi simbol perlawanan yang kuat untuk menginspirasi para pemberontak lain menusuk jantung Capitol dari dalam.

Please…be a decent one and don’t talk about what happened with Primrose. It’s not her fault.

4. Leia Skywalker – Star Wars Universe (since 1977)


Berbeda dengan Louise Banks dan Katniss Everdeen, Leia Skywalker mungkin adalah seorang figur pacar idaman kita semua (kecuali bagi kalian para lelaki patriarkis lemah yang gengsi kalo pacarmu lebih bisa ngelindungin kamu). Cantik? Nggak ada yang meragukan. Cerdas? Sudah jelas. However, most importantly, she’s one kind of a strong, fearless lover that will dare to fight side by side with you, no matter how terrifying your opponents are. With love, forever and always.

Rest in Peace, Carrie Fisher. The Force is with you.

WARNING: Sebelum memacari wanita seperti Leia, pastikan dulu bahwa dia bukan saudara kandung kamu ya.

5. Hermione Granger – Harry Potter Series (2001 – 2011)

Semua penggemar Harry Potter pastinya pengen banget macarin Hermione Granger, tapi bagi saya, Hermione itu tipe wanita yang pas banget untuk jadi pacarnya sahabat kita, terutama jika sahabat kita itu lelaki yang cenderung gegabah dalam mengambil keputusan dan agak careless sama dirinya sendiri. Hermione ini meskipun independen, kuat, dan cerdas setengah mati, tapi dia orang yang perhatian dan protektif banget. Lihat sendiri bagaimana hubungan dia dengan Ron dari awal Sorcerer’s Stone sampai Deathly Hallows part 2. Biarpun sering banget berbeda pendapat dan cekcok, tapi Hermione masih tetep care banget sama Ron. Kamu juga nggak perlu khawatir kalau temen kamu bukan tipe orang yang bisa ngelindungin pacarnya, karena Hermione bisa banget ngelindungin bukan hanya dirinya sendiri, tapi sahabat kamu juga. Yah, sekali lagi, kalau sahabat kamu itu patriarkis akut dan nggak kuat sama cewek yang sekeras kepala dan sebawel Hermione, bakal susah cocoknya.

6. Cersei Lannister – Game of Thrones (since 2011)

Untuk yang satu ini, you don’t want to do anything with her. You don’t even want to be her child, because, well, she is obviously a pretty bad Mom. Mungkin kalian heran dari sekian banyaknya karakter di Game of Thrones, kenapa gue malah milih Cersei dan bukan Daenerys, Brienne the Tarth, atau malah Lyanna Mormont idola baru kita itu. Well, look at what she’s been through and where she is now. Banyak orang yang ingin membunuhnya dan merebut kuasa dari tangannya, namun sepanjang Season 1 – 6, dia adalah satu-satunya sosok yang tak pernah kehilangan genggaman kekuasaannya.

Daenerys? She has dragons. Dia bisa dapetin tentara Unsullied dan ngerebut Yunkai dan Meereen juga karena bantuan Rhaegal, Viserion, dan Drogon. Oke lah, sebut nama Jorah Mormont, Daario Naharis, dan Missandei. She is a good person and she can take people’s heart, but to be honest and frank, she is really suck at politic.

Lyanna? Okay, she is fierce for his own age, but look at how small her army is, plus she hadn’t even started anything yet.

Cersei has lost so many things since the beginning at series. Her husband Robert Baratheon, her children, Joffrey and Tommen, and even her own dignity by Walk of Shame. At this point, she almost have nothing.

Look where she is now.

7. Jessica Jones – Jessica Jones (since 2015)

Gelap, pahit, dan rapuh, Jessica Jones adalah representasi dari survivor sekaligus petarung sisi gelap realita kehidupan. Setelah melepaskan diri dari manipulasi dan mental abuse yang dilakukan mantan kekasihnya, Kilgrave (sebuah personifikasi nyata dari domestic abuse dan sexism), ia berusaha bangkit melawan post-traumatic stress disorder dan membangun kembali hidup baru sebagai seorang private investigator. Jessica mungkin terlihat sebagai orang yang sudah kehilangan empati karena sifatnya yang cenderung cuek dan pahit and she’s been too hard on herself, but she knows how the world works, and nothing entertains her more than stopping Kilgrave and make the darkest side of the world gets brighter.

8. Diana – Wonder Woman (2017)

Jika anda bertanya kepada banyak orang siapa karakter favorit mereka di Batman V Superman: Dawn of Justice, pasti mayoritas akan menjawab “Wonder Woman”. Yup, saat pertama kali tampil di film tersebut, dia sudah mencuri perhatian banyak orang dengan pesonanya sebagai wanita yang tangguh dan kuat. Ketika film solonya tayang, ia langsung menjadi simbol wanita independen dan tangguh, dan banyak sekali mereka yang terinspirasi oleh segala sifat yang dimilikinya: tangguh, lugu, memiliki sense of justice yang tinggi, serta penuh rasa empati dan kasih sayang. Bagaimana Bruce Wayne dan Kal-El menyikapi Wonder Woman saat bertarung bersama-sama menghadapi Doomsday adalah cerminan bagaimana seharusnya kita, sebagai lelaki, menyikapi wanita di tempat kerja. Equally, cooperatively, and not sexually.

9. Claire Underwood – House of Cards (since 2013)

Dude. She is the President of The United States.

Kuat dan memiliki pendirian yang teguh, Claire Underwood adalah tipe wanita yang tenang dan dingin dalam memangsa para lawannya secara buas. A true Machiavellist with no empathy. Dia adalah orang yang mengerti bagaimana cara menggunakan kekuasaannya secara tepat agar dia bisa naik lebih tinggi dan membantai semua yang mencoba menggoyahkannya, termasuk suaminya sendiri, Frank Underwood. Dengan manuver-manuver politik liar dan cerdik, ia berhasil menaiki tangga hierarki tertinggi di Amerika Serikat dengan berturut-turut menjadi Second Lady of the United States, First Lady of the United States, the United States Ambassador to the United Nations, Vice President of the United States, dan pada akhirnya President of the United States.

Dear sexist men, if you think women’s tendency for being emotional makes them unfit for the job you think men like you should be capable of, I advise you to watch House of Card, take full attention to Claire Underwood, and reconsider your toxic view immediately.

10. Ellen Ripley – Alien Series (1979 – 1997)

Before Gal Gadot’s Wonder Woman, Sigourney Weaver’s Ellen Ripley in Alien film series might be the strongest face of women we’ve ever had. Empat seri film dan semua Xenomorph habis dibantai tanpa sisa. Ridley Scott, sang sutradara film Alien, pernah mengatakan bahwa sebelumnya ia berniat menjadikan tokoh utamanya sebagai seorang lelaki, namun ia berpikir “What would you think if Ripley was a woman? People will not expecting her to be the main character. People would think she’s gonna be the one who died first.”

Hasilnya? Sigourney Weaver mendapat nominasi Oscar untuk film tersebut, dan banyak media yang menjadikan dia sebagai salah satu karakter terbaik yang pernah ada dalam sejarah fiksi dunia.

It’s nice to know that Ridley Scott used those rotten stereotype as an element of surprise, which is also done by Adam Wingard in You’re Next (2013). But it’s even nicer to realise that nowadays we have so much female leads, enough to wipe that stereotype away from the face of our modern culture.

HONORABLE MENTIONS.

Clarice Starling – Silence of The Lambs (1991)
Elle Woods – Legally Blonde (2001)
Buffy – Buffy The Vampire Slayer (1997)
Imperator Furiosa – Mad Max Fury Road (2015)
The Bride – Kill Bill series (2003 – 2004)

13 Reasons Why (Miniseries 2017) – We Need to Talk About Hannah Baker

Kesehatan mental, bullying, serta pergaulan remaja sudah menjadi salah satu isu yang sudah umum dijadikan pembahasan menarik di berbagai media pop kultur. Banyak film dan TV show yang secara eksplisit membahas tentang gaya pergaulan remaja dan baik buruk dampaknya terhadap perkembangan emosional mereka, seperti Glee, The Virgin Suicides, Elephant, dan Bang Bang You’re Dead. Bicara remaja, tentu sasaran utama dari film dan TV show tersebut adalah remaja, dan kita tentunya sadar bahwa remaja merupakan objek yang sangat rentan untuk menerima sesuatu yang mereka anggap menarik menjadi inspirasi untuk mereka tiru. Berangkat dari fakta tersebut dan banyaknya kasus kriminal yang terinspirasi dari film dan TV show, setiap dari mereka sepatutnya berusaha untuk menggambarkan isu-isu tersebut secara detail dan penuh kehati-hatian agar apa yang mereka coba sampaikan tidak menjadi bumerang dan malah menginspirasi para remaja yang menontonnya untuk menjadi apa yang seharusnya mereka hindari (bully, school shooter, serial killer, or suicide victim).

Diangkat dari novel karya Jay Asher, 13 Reasons Why bercerita tentang aftermath dari sebuah kasus bunuh diri di Liberty High School. Hannah Baker (Katherine Langford), Sang Korban, secara rahasia merekam tujuh buah kaset yang berisi rekaman pengakuannya tentang tiga belas orang yang ia anggap bertanggung jawab terhadap kematiannya. Ia kemudian menduplikasinya menjadi tiga belas copy dan, dengan alasan yang misterius, mengirimkannya kepada tiga belas orang yang ia ceritakan di rekamannya tersebut setelah kematiannya. Di saat yang sama, Liberty High School juga mendapatkan tuntutan hukum dari orang tua Hannah Baker karena Sang Ibu curiga bahwa anaknya mendapatkan tekanan dan bullying dari murid-murid di sekolahnya dan pihak sekolah memilih untuk tidak menanggapi persoalan tersebut dengan serius. Kita akan dibawa menuju sebuah perjalanan emosional yang dialami oleh Hannah Baker secara kronologikal lewat perspektif Clay Jensen (Dylan Minnette), seorang bocah lelaki manis dan canggung yang pernah dekat dengan Hannah dan juga termasuk ke dalam tiga belas alasan tersebut.

Memiliki nuansa yang identik dengan video game Life is Strange, serial televisi yang sebagian besar episodenya disutradarai oleh Tom McCarthy (Spotlight) ini penuh dengan intrik drama kenakalan remaja yang tidak hanya membuat kita murka, namun juga berlinangan air mata. Meskipun masih agak terkungkung dalam stereotipe klasifikasi (nerds, jocks, cheerleaders, preppies, hipsters, emo kids, teacher’s pets), namun semua tokoh yang terlibat mempunyai kompleksitas karakter yang sangat manusiawi dan mewakili kondisi emosional yang dialami remaja pada umumnya. Beberapa tokoh seperti Justin Foley (Brandon Flynn), Alex Standall (Miles Heizer), Courtney Crimsen (Michele Selene Ang), Jessica (Alisha Boe), atau bahkan yang hanya muncul di tiga episode seperti Jeff Atkins (Brandon Larracuente) mampu mengaduk-aduk amarah dan empati yang kita rasakan terhadap mereka menjadi lebur dan tak terpisahkan. Kita peduli terhadap mereka, seakan mereka adalah teman kita di dunia nyata yang perlu kita dekati dan ajak bicara dengan penuh pengertian agar kita tidak kehilangan mereka. Yah, secara garis besarnya, 13 Reasons Why memang secara detail dan simpatik menggambarkan sebuah dampak buruk dari pengabaian, ketidakinginan untuk mengerti satu sama lain, dan keinginan untuk saling menang sendiri.

Namun dengan beberapa alasan, saya sedikit takut dengan apa yang 13 Reasons Why dapat timbulkan pada remaja yang menontonnya.

Mari kita resapi premis ini dengan hati-hati: seorang gadis yang depresi merekam tujuh kaset yang berisi curahan hatinya tentang siapa saja orang-orang yang “bertanggung jawab” pada keputusannya untuk bunuh diri. Setelah diduplikasi, ia mengirimkan “masing-masing copy dari ketujuh kaset tersebut” kepada “orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman” dengan alasan yang personal. Hal ini agak mengerikan buat saya karena bukan hanya terkesan terlalu kreatif dan out-of-the-box (pun intended), namun konsep ini seakan mengglorifikasi aksi bunuh diri sebagai salah satu cara yang efektif untuk “mengungkap kebenaran” dan “menegakkan keadilan“.

Hannah Baker adalah seorang gadis yang terlihat normal. Cantik, mampu bergaul dengan baik, serta memiliki keluarga yang pengertian terhadapnya. Kita tidak akan menemukan tanda-tanda kesedihan di mata Hannah, namun pada kenyataannya, ia sering merasa terabaikan dan teracuhkan karena orang-orang yang ia temui di sekolahnya tidak pernah memperlakukan ia dengan baik. Ini mengingatkan pada kita tentang dua fakta: bahwa tanda-tanda depresi itu memang sangat tidak kasat mata dan bahwa bullying serta pengabaian dapat berdampak langsung pada kesehatan mental dan emosional remaja. Hannah memang memiliki gejala depresi, meskipun hanya ditunjukkan sedikit di keseluruhan episode serial ini, namun kesalahan terbesar 13 Reasons Why adalah membuat sebuah premis kokoh yang berdasarkan logika irasional bahwa bullying adalah penyebab dari sebuah aksi bunuh diri, dan bahwa ada orang-orang yang patut dimintai pertanggungjawaban atas sebuah aksi bunuh diri. Bullying mungkin menjadi salah satu faktor seseorang menjadi depresi dan memutuskan untuk bunuh diri, tapi menyebut bullying sebagai penyebab bunuh diri adalah sebuah simplifikasi yang salah besar, meracuni persepsi, dan dapat mengarah kepada keputusan-keputusan yang membahayakan pihak-pihak tak bersalah.

Seperti belum cukup, serial ini mempertunjukkan secara langsung dan eksplisit aksi bunuh diri Hannah di episode terakhir, yang mana merupakan sebuah tindakan yang gegabah karena riset dari American Foundation for Suicide Prevention menunjukkan bahwa “risk of additional suicides increases when the story explicitly describes the suicide method, uses dramatic/graphic headlines or images and repeated/extensive coverage sensationalizes or glamorizes a death.” Tidak hanya itu, adegan tersebut dikemas dengan sangat menyakitkan sehingga saya khawatir akan memunculkan kembali luka dan trauma yang tidak diinginkan bagi para survivor yang menontonnya.

Penting bagi kita untuk membicarakan apa dampak yang akan ditimbulkan oleh tiga belas rekaman pesan terakhir Hannah Baker bukan hanya terhadap orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman tersebut, namun juga terhadap para remaja di dunia nyata yang menonton serial ini. Layaknya Hannah, mereka yang memiliki kecenderungan bunuh diri yang tinggi juga merasa terabaikan oleh orang-orang di sekitarnya. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti “If I die, would it matter” sering mengendap dan merasuki pikiran mereka. Pastinya, seluruh episode di serial ini memperlihatkan betapa kematian Hannah membawa pengaruh yang besar pada Liberty High. Betapa akhirnya, ketiga belas orang tersebut mendapatkan hal yang “setimpal” akibat rasa bersalah mereka terhadap Hannah. Remaja memiliki ego yang tinggi terhadap tiga hal: ingin diberikan perhatian lebih, ingin dianggap istimewa, dan ingin memberikan pembuktian yang mendukung dirinya sendiri. Ditambah dengan sikap Clay Jensen sebagai sudut pandang utama, serial ini seakan mengangkat sebuah gagasan yang keliru yang dapat “menginspirasi” para remaja labil: bahwa bunuh diri adalah satu-satunya cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian penuh, membuat orang-orang di sekitarmu merasa bersalah terhadapmu, dan membuktikan “kebenaran yang hakiki” pada mereka bahwa selama ini mereka salah dalam memperlakukanmu.

Selain penokohan dan penulisan naskah yang apik, gaya penuturan cerita non-linear yang dieksekusi dengan sangat mulus lewat match-cuts, extremely detailed continuity, serta color tone editing adalah sesuatu yang harus dipuji dari serial yang digarap oleh Brian Yorkey ini. Sayang sekali, 13 Reasons Why memang memiliki kekeliruan fatal pada konsep yang seharusnya lebih diolah melalui filter moral yang penuh pertimbangan. Saya tidak menyarankan 13 Reasons Why ditonton oleh mereka yang emotionally unstable atau pun mereka yang sensitif terhadap isu bunuh diri. Namun bagi kita yang orangnya agak cuek, serial yang bisa kita saksikan di Netflix ini akan memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya melucuti ego kita demi memberikan perhatian lebih kepada orang-orang yang kita sayangi.

Well, as Tony said, just listen to the tapes.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Get Out (2017) – A Terrifying Joke

“Yo, my man! What’s up my n**ga!”

 

Black people are, in fact, the coolest people in America. Kaum kulit hitam telah banyak memberikan pengaruh pada trend fashion dan hiburan di Amerika Serikat. Beyonce is The Queen. Michael Jackson is The King. Morgan Freeman is God. Hal ini juga menjadi penyebab dari banyak sekali orang kulit putih yang mencoba untuk terlihat swag dengan bercakap-cakap dan berpakaian layaknya orang kulit hitam. White people really want to be black, dan Jordan Peele, seorang komedian yang terkenal lewat komedi sketsa Key and Peele, mengemas isu tersebut ke dalam sebuah lelucon yang ia sulap menjadi sebuah teror mengerikan berjudul Get Out.

Seorang fotografer kulit hitam bernama Chris (Daniel Kaluuya) berpacaran dengan seorang gadis kulit putih bernama Rose (Allison Williams). Pada satu weekend di bulan keempat mereka berpacaran, Rose mengajak Chris untuk berkenalan dengan orang tuanya dan menginap selama dua malam di rumah mereka. Pada awalnya, Chris sedikit mencurigai keberadaan dua orang pelayan di rumah tersebut, yaitu Georgina dan Walter. Mereka semua berkulit hitam, sama seperti Chris, namun Chris merasa asing dengan perangai mereka yang suspiciously obedient dan—-kalau kata pacar saya—-“so white“. Kejadian demi kejadian aneh terjadi pada Chris, yang kemudian berujung pada satu peristiwa mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Do they know I’m black?”

 

Saya bukan dari kaum kulit hitam di Amerika, tapi paling tidak saya sedikit mendapatkan gambaran tentang bagaimana perasaan mereka saat menjalani hubungan inter-rasial, terutama di saat mereka harus berkenalan dengan orang tua masing-masing. Yah, di Indonesia, ibaratnya kurang lebih seperti pacaran beda suku atau beda agama. Meskipun dalam beberapa hal tidak bisa diibaratkan seperti itu karena kaum kulit hitam punya sejarah yang kelam di tanah Paman Sam, di mana mereka ditindas, dijadikan budak, dan diperlakukan secara diskriminatif oleh penegak hukum seakan mereka tidak mempunyai hak sebagai warga negara. Sampai sekarang, diskriminasi pun masih sering dialami oleh mereka, oleh karena itu kaum kulit hitam pun selalu memiliki paranoia tersendiri terhadap kaum bangsawan dan aparat kulit putih, sekecil apapun itu. Lagi-lagi, Jordan Peele membentuk isu tersebut menjadi sebuah lelucon yang menjadi plot device dalam film horor yang serius ini. Coba bayangkan bila kamu seorang lelaki dari kaum kulit hitam. Kamu berpacaran dengan seorang wanita dari kaum bangsawan kulit putih yang memiliki orang tua yang mempekerjakan orang-orang kulit hitam yang terlihat patuh seperti budak sebagai pelayan mereka. Terdengar seperti sketsa komedi, bukan? Although the scenario was obviously based on a joke, Peele delivers it in a terrifyingly unexpected way, and that’s what makes Get Out an exceptionally experimental horror.

Saya tidak bisa bilang ini film horor komedi, karena secara premis dan treatment, Get Out sebenarnya adalah sebuah ide semi-parodik yang dimasak menjadi film horor yang serius. Film yang baru saja mendobrak rekor sebagai The Highest Grossing Film from An Original Screenplay Debut ini menjadi lucu karena kedua hal berikut:

  1. Penampilan LilRel Howery sebagai Rod Williams, seorang polisi bandara yang menjadi sahabat Chris dan menjagai anjingnya saat ia ke rumah orang tua Rose. Joke-joke receh ala African-American yang ia lontarkan akan membuatmu terpingkal-pingkal dalam paranoia.
  2. Saat kita mendapatkan closure di babak ketiga film dan menyadari apa sebenernya satir jenaka yang mendasari ide cerita dan konklusi dari film ini. Penasaran apa yang saya maksud? Tonton saja sendiri.

Get Out berdiri di atas pondasi dan pilar-pilar yang cukup kompleks, namun film ini tetap berhasil untuk menjadi sederhana dengan tidak mengabaikan unsur-unsur klasik film horor. Creepy sound effects and musics, jump scares, kombinasi pergerakan kamera dan penyuntingan dalam menciptakan suspense masih menjadi faktor-faktor utama pencipta teror dalam film ini.  Meskipun demikian, kengerian terbesar Get Out terpancar dari akting yang memukau dari Betty Gabriel sebagai pelayan berkulit hitam bernama Georgina. Seriously, that “No, No, No” scene will terrorize you, take control over you, and put you right into the sunken place. Plot twist pada akhir film bukanlah hal yang baru, dan tidak akan terlalu mengejutkan bila kamu memang horror freak yang sudah khatam dengan film-film horor tahun 2000-an. Namun yang mengesankan, Jordan Peele menggunakan stereotipe masyarakat terhadap kaum kulit putih (serakah dan kapitalis sejati) sebagai lelucon satir dan, lagi-lagi, memasaknya menjadi sebuah konklusi yang menyeramkan.

Intinya, kalau mau ketemu sama calon mertua, jangan lupa bawain martabak, atau bakso, atau apa kek gitu. Gaboleh bawa tangan kosong. Pamali.

Saya tidak akan bicara lebih banyak tentang film ini karena the less you know, the better it will be. Get Out is a funny satire disguised as a terrifyingly scary horror film. This film is going to get you scared, laugh, and contemplating at the same time. Go watch it!

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Headshot (2016) – A Tremendous Shots of Empty Shells

Iko Uwais melawan Julie Estelle dan Very Tri Yulisman, aksi bela diri yang brutal, serta tone film yang cenderung gelap dan penuh ketegangan. Rasanya sangat tidak mungkin untuk tidak membandingkan film yang disutradarai oleh Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto ini dengan The Raid 1 & 2 yang notabene menjadi pedoman dalam film aksi modern Indonesia. Mengingat Iko, Julie, dan Very juga sempat terlibat di dua project The Raid besutan Gareth Evans tersebut, penonton awam seperti saya akan otomatis bertanya-tanya, “Apa bedanya Headshot dengan The Raid?” dan sesungguhnya jika mempertimbangkan ketiga unsur yang telah saya sebutkan di atas, itu adalah pertanyaan yang tidak bisa disalahkan. Mengapa pula menghadirkan tiga aktor serupa ke dalam film aksi dengan warna dan rasa yang sama namun tidak ada kaitan cerita sama sekali dengan film sebelumnya?

Seorang pria misterius (dibintangi oleh Iko Uwais) terbangun di sebuah rumah sakit, tidak mengingat siapa namanya dan apa yang terjadi pada dirinya. Di sampingnya, seorang dokter-dokteran kawaii bernama Ailin (diperankan  oleh Chelsea Islan) menemaninya dengan sabar dan penuh kasih sayang, meskipun ia tidak tahu siapa lelaki itu sebelumnya dan apa yang telah ia perbuat. Ailin menamainya Ishmael, berdasarkan karakter yang ia temukan di novel Moby Dick yang ia baca saat menunggui pria itu sadar. Serangan demi serangan menimpa mereka tanpa alasan yang jelas, Ailin disandera oleh segerombolan orang yang mencari Ishmael, dan Ishmael harus mencari tahu tentang siapa sebenarnya dirinya dan menyelamatkan Ailin dari cengkeraman pria bernama Lee (diperankan oleh Sunny Pang) sebelum semuanya terlambat.

Sebagai film yang serupa tapi tak sama dengan The Raid ini, Headshot tidak menawarkan banyak hal-hal baru. Malah, bagi saya, film ini terasa seperti sebuah The Raid dengan plot Bourne-ish yang kurang detail. Tidak ada kejutan yang besar ataupun plot twist yang mindblowing dalam film ini, jadi jangan berharap terlalu banyak, karena semua akan mudah kalian tebak bahkan saat kalian baru sampai di pertengahan babak kedua film. Oke, beberapa adegan seperti bus on fire scene dan police station raiding scene cukup inovatif, menegangkan, dan menghibur di mata penonton umum, namun jika kamu penggemar film-film aksi Jepang dan Korea Selatan (terutama karya-karya Takashi Miike, Park Chan-wook, dan Kim Jee-woon) semua akan terasa seperti deja vu yang diwarnai dengan sekuens kamera yang terlalu sering berotasi mengelilingi para petarung saat sedang serius baku hantam. Take one shot of whiskey every time the camera starts to rotate, and you will get hopelessly wasted at the end of the film.

Dosa terbesar The Mo Brothers di film ini adalah: memberikan peran Ailin, the damsel-in-distress, kawaii-oriented doctor, pada Chelsea Islan. Awalnya saya berpikir ia akan berlaga sebagai dokter cantik yang ternyata memiliki kemampuan bela diri sehebat Iko Uwais, sehingga mereka bisa saling tandem, mengingat track-record Chelsea yang selalu berhasil memerankan gadis petarung yang tangguh, cerdas, dan independen (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, 3Srikandi, Di Balik 98). Ternyata saya salah, dan saya kecewa teramat besar saat mengetahui bahwa potensi terbaik Chelsea disia-siakan di film ini. Saya jadi tidak habis pikir, banyak aktris-aktris kualitas sinetron yang bisa mereka berikan kesempatan lebih untuk tampil di sebuah film bergengsi yang ditayangkan di banyak festival film mancanegara ini dengan memerankan karakter Ailin. Sungguh, mereka akan dengan lebih mudah menyatu dengan persona yang dibutuhkan, karena sejujurnya memang penulisan dan pembangunan karakternya secetek itu. Chelsea Islan memang harus diakui mempunyai fitur penampilan yang kawai: kulit putih mulus, rambut lurus, wajah cantik dan lucu, apalagi jika dipakaikan kacamata. Namun dengarkan saja suaranya yang tegas dan rasakan persona yang keluar dengan kuat saat ia berbicara, maka kamu akan menyadari bahwa kamu bahkan jauh lebih cerdas dari pada produser dan sutradara yang memilih Chelsea sebagai Ailin.

Jika kamu sudah menonton trailernya dan menyangka bahwa ada suatu kesalahan fatal dalam karakter Ailin, maka percayalah prasangka kamu benar adanya.

Tentu ada beberapa aspek dalam film ini yang patut kita puji, seperti penggunaan koreografi aksi sebagai medium dalam menyampaikan emotional connection yang terjadi pada tiap-tiap dari mereka yang bertarung. Tiga sekuens pertarungan terakhir (Besi, Rika, dan Lee) cukup efisien bercerita tentang latar belakang emosional para tokoh antagonis dengan Ishmael lewat jurus-jurus yang dikeluarkan, ekspresi wajah, serta dialog yang sangat minimalis. Cukup mengesankan, mengingatkan kita dengan film-film laga Bruce Lee dan Jackie Chan. Yak, betul, sekali lagi jangan mengharapkan ada sesuatu yang otentik dan segar dalam film ini, karena meskipun Headshot dieksekusi dengan maksimal dan punya production value yang terlihat megah, semuanya hanya pengulangan yang terlalu sering diulang-ulang.

Film aksi memang seharusnya memberikan penekanan pada skenario-skenario yang memacu adrenalin, namun dengan premis film yang terlalu banal dan banyak lubang serta ketidaksempurnaan pada keutuhan logika plot dan karakter, Headshot lebih terasa sebagai rangkaian koreografi bela diri yang repetitif dan predictable dengan dibumbui percintaan unyu-unyu. Bukan sebagai sebagai cerita yang utuh, otentik, segar, kontekstual, dan menyentuh.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Anomalisa (2015) – Modus Anomalisa

Ada kalanya saat mengulas film yang bikin baper, saya butuh waktu untuk sendirian, lalu meringkuk di atas kursi kerja sambil merenungi rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dada saya. Namun ada kalanya juga, saya harus membicarakan beberapa hal yang saya rasa perlu dipaparkan lewat dua sudut pandang yang berbeda agar komprehensif dan tidak bias. Untuk itu, dalam mengulas film Anomalisa, saya mengajak Icha Chairunnisa, salah seorang blogger kondang asal Samarinda yang juga sering ngebaperin film-film yang sudah ia tonton di blognya, Terketik. Film yang istimewa, tentunya harus diulas dengan cara yang istimewa, dan ulasan kali ini akan saya paparkan dengan bentuk rekap hasil korespondensi saya dengan Icha.

[CHAPTER 1]

T : “Halo Ichaa, Kapan nih kita baperin Anomalisa?”

I : “Hai Tommy! Ayok kita mulai sekarang baperinnya. Hehehe. Aku suka filmnya! Dan aneh sih, aku pas nonton adegan Lisa dan Michael lagi beradegan ena ena, aku ngomong ‘Film animasi nakal!’ berkali-kali. Awalnya aku bingung sih kenapa suaranya kok sama semua. Mulai dari orang yang duduk di sebelahnya waktu di pesawat, di hotel, nggak cewek nggak cowok. Bahkan mantannya yang namanya Bella itu pake suara cowok. Bajingak. Geli nontonnya. Ngakak gitu aku.”

T : “Tapi pada akhirnya kamu ngerti kan itu kenapa?”

I : “Hmm… kalau yang aku baca dari review soal film itu, suara cewek pake suara cowok dan semua suara orang di situ sama semua, menandakan betapa membosankannya hidupnya Michael. Dia nganggap semuanya sama. Kalau nggak salah, itu ada di ilmu psikologi gitu ya. Fregoli Syndrome kalau nggak salah.”

T : “Yup, betul, every girl is just another boring person for him, kecuali Lisa…”

I : “((KECUALI LISA))”

T : “…dan ketika suara Lisa menjadi berat dan Michael ogah-ogahan, itu juga karena dia udah bosen sama Lisa.”

I : “Oooh….. secepat itu dia bosen sama Lisa? Trus yang dia pidato hancur-hancuran itu? Itu dia maksudnya curhat colongan ya?”

T : “It’s because he literally can’t stop thinking about her, and what happened between him and her. Lisa itu sama-sama korban kayak Bella. Korban PHP. Korban ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Korban cowok ilfil yang nggak bisa konsisten sama perasaan dia sendiri.”

I : “AAAH! Jadi, Michael itu memang tipe orang yang bosenan? Madefaqa. Eh, kamu ngerasa relate nggak sih, Tom? Wkakakakaka.”

T : “Aku pernah jadi Michael dan juga jadi Lisa. Tapi lebih sering jadi Lisa sih HAHAHA.”

I : “Wuahahaha. Lebih sering jadi Lisa. Yakin? :p”

T : “Hmm…gimana yah? Udah ah lanjut ngomongin Anomalisa wqwq…”

I : “Ih dasar, mengalihkan perhatian wkwk. Aku pikir karakter Michael itu mirip sama karakter Theodore-nya Her. Soalnya filmnya sama-sama tentang kesepian gitu kan. Tapi ternyata…”

T : “Nah justru film ini mengajak kita untuk mengerti sebenarnya apa yang si manusia PHP ini rasakan. Pertanyaannya adalah: Kamu pernah jadi Michael atau Lisa nggak? Hehe hehe~”

I : “Aku pernah jadi Lisa. Aku pernah ceritain itu di blog. Dan kasusnya sih mirip-mirip kayak film Anomalisa. Aku kayak Lisa yang rendah diri, pemalu, minderan, dan ngerasa waaaaw banget pas orang yang aku idolain itu deket sama aku dan bilang suka sama aku.”

T : “Hmmm ya ya.  Coba gimana detailnya?”

I : “Kejadiannya udah lama sih. Hahaha. Kalau boleh curhat nih, basah sekalian, dia itu komika. Dulu aku ngedukung dia penuh pas ikut SUCI. Nontonin dia kalau Open Mic. Dan nggak nyangka aku bisa deket sama dia. Padahal waktu itu aku punya pacar. Hahahaha.”

T : (menyeruput kopi)

I : “Tapi lama kelamaan dia ngejauh. Tanpa sebab. Atau akunya aja yang nggak tau sebabnya apa. Atau dia ya kayak Michael, bosen sama aku. Padahal aku udah mau mutusin pacarku waktu itu demi dia. Tapi akhirnya ya aku tetap sama pacar. Setelah ngaku kalau aku pernah deket sama idolaku itu.”

T : “Pembicaraan ini telah saya screenshot dan sudah pasti akan masuk Distopiana HAHAHA~~~~~”

I : “BAJINGAAAAAK!!!!!!!!!!!!”

T : “Wqwq buodo amat. Eh cha, mau pulang dulu. Makan dulu. Boleh nggak cha? Malem lanjutin lagi gitu.”

I : “Boleh lah, Tom. Makan yang banyaaaak. Biar kuat kalau mau jadi Lisa lagi! Wkakaka.”

[CHAPTER 2]

T : “Oy oy.”

I : “Hadiir! Duh, Gara-gara nonton Anomalisa, jadi pengen nonton Eternal Sunshine lagi. Wkakakaka.

T : “Hahaha oke lanjut. Apa persepsi kamu terhadap orang yang PHP in kamu itu? Kamu nganggep dia bajingak kah? Atau gimana?”

I : “Aku nganggap dia jahat banget. Bajingak gitu. Gimana ya, aku yang awalnya minderan, rendah diri, pas kenal dan deket sama dia jadinya mulai percaya diri gitu. Soalnya dia mandang kekuranganku sebagai kelebihan. Sama kayak Michael mandang kekurangannya Lisa sebagai kelebihan. Pas tau dia cuma pehapein aku, akunya jadi ngerasa lebih minder daripada sebelum dekat sama dia. Ngerasa nggak berharga. Ngerasa bego juga, karena kok aku bisa gede rasa sama dia. Padahal dianya cuma nggak mau serius sama aku.”

T: “Hmm…oke oke.”

I : “Trus, Tom. Si Lisa kenapa tegar aja ya pas di ending? Padahal dia dipehapein gitu. Ditinggalin sama Michael.”

T : “Lisa falls too deep. Too hard. She was destroyed. And you know what, that’s what a destroyed person does when he got destroyed too much before. She’s just taking it like a lady, when she actually feels like a hobo.”

I : “Feels like a hobo :’) Jadi…sebenarnya Anomalisa ini ceritanya bukan sekedar cowok bosen hidup yang tiba-tiba jadi semangat hidup karena ketemu cewek yang berbeda dari yang lain kan?”

T : “It’s hard to describe sih, Cha. Kamu pernah ngerasa bosen nggak sama seseorang yang pernah kamu suka sebelumnya?”

I : “Pernah. Tapi bukan ke bosen sih. Gimana ya, kan jadi ikutan susah ngejelasinnya. Ya gini. Aku suka sama seseorang, yang menurutku dia itu nggak pernah aku temuin di cowok-cowok lain. Atau gini, dia jadi seseorang yang aku nggak sangka bakal datang ke hidupku. Ceilah. Hidup. Seseorang yang aku suka itu, dia humoris tapi juga manis. Kami juga punya hobi yang sama dan dia selalu nyemangatin aku kalau minderku kumat.”

T : “Hmm terus terus?”

I : “Tapi makin ke sini, aku jadi tau dia itu memang manusia. Pasti ada kurangnya. Aku bosen sih ngertiin dia. Menganggap kalau sifatnya itu nggak apa apa. Tapi bosen yang nggak lama. Itu sih.”

T : “I see…”

I : “Kalau menurut kamu, kita bisa bosen sama orang itu sebenarnya karena apa, Tom? Karena nggak ada yang bikin kita penasaran lagi sama dia? Karena hubungan yang dijalin terlalu lama? Atau apa?”

T : “Nah, ini dia. Aku pernah bilang sama temen aku, aku pengen banget tahu caranya bedain rasa ‘sayang’ sama yang sekedar ‘penasaran’ doang. Terus temen aku ngetawain aku sambil bilang: Good luck aja deh, Tom. HAHAHA!”

I : “KOCAK TEMEN KAMU IH. JAHAT JUGA JAWABNYA KAYAK GITU. HAHAHAHA.”

T : “Wqwq terdengar jahat memang, Tapi dia sebenernya bilang kalo sampai sekarang pun, manusia sepandai apapun nggak akan pernah bisa bedain mana cinta dan mana penasaran. Hoki-hokian aja sebenernya. Sama kayak Michael yang tiba tiba sadar di pagi hari setelah ena ena sama Lisa. Lisa yang udah nyaman banget sama Michael tiba-tiba malah bikin Michael ilfil karena pada akhirnya Michael ngeliat Lisa sama aja kayak manusia-manusia pada umumnya. Cinta dan penasaran sama-sama bisa bikin kita clingy sama seseorang. Sama sama bisa bikin dia menghantui mimpi kita. Sama-sama bisa bikin kita mau ngelakuin apa aja buat dia.”

I : “ITU DEEP SIH TOM! Eh, tapi bener juga. Nyaris nggak ada bedanya mungkin. Jatuh cinta sama penasaran. Memang bener mempertahankan itu lebih susah daripada mendapatkan. Termasuk mempertahankan jatuh cintanya kita sama seseorang.”

T : “When we try to get love, we only have to fight for one person. When we try to defend love, we have to face another difficult enemies: ourselves.”

I : “Aaak bijaque banget sih :’) Trus, Tom. Setuju nggak sih kalau kita terlalu nyaman sama seseorang atau sesuatu, kita malah ngerasain kebosenan? Mungkin itu yang dirasain Michael.”

T : “Nggak semua orang begitu, sih, tapi dalam kasus Anomalisa ini mungkin. Kamu lihat kan pas di scene di mana Michael kebayang-bayang sama hantunya Bella? He actually feels guilty and wants to settle it once and for all. Tapi dia tetep nggak bisa ngerasain cinta yang dia mau. Pas di Lisa yang dia kira true love nya dia pun, dia ternyata nggak bisa ngerasain itu. Pas di istrinya pun sama, istrinya pake suara cowok kan. He still feel the same empty, numb feeling towards her. But he settle it once and for all with her, without feeling love, the feeling that he is unable to have.”

I : “Hooh iya iya…”

T : “Bisa aja Michael ini a realistically mundane version of Summer Finn.”

I : “YAAAAA! AKU JUGA SEMPET KEPIKIRAN 500 DAYS OF SUMMER! MICHAEL SAMA SUMMER ITU SAMAAAA! SAMA-SAMA BIKIN KITA BINGUNG MAUNYA MEREKA ITU SEBENARNYA APA! AAAAAAK! Summer juga ngerasain kekosongan dalam hidupnya kan? Dia nggak percaya apa itu cinta. Tapi bedanya sama Michael, dia riang dan gembira dalam menjalani hari-harinya. Aku mikir kalau dia nggak mau cinta-cintaan karena dia nggak mau ngerasain kesedihan kayak yang dirasain kedua orangtuanya. Orangtuanya yang bercerai. Kesedihannya ngeliat orangtua mereka bercerai. Summer udah kayak judul lagu yang dinyanyiin sama Lisa. Girls Just Want To Have Fun. Gitu kali ya HAHA.”

T : “Yup yup, bener banget!”

I : “Oke. Itu yang dirasain sama para tukang PHP ya? Nggak punya keberanian buat making decision to love and protect someone. Madefaqa. Lemah. Lemah syahwat. Fix itu yang dirasain Michael. Dan mungkin juga Summer Finn. Pantesan kayaknya tukang PHP memang doyannya sama orang yang rendah diri dan minderan gitu deh. Michael bisa pehapein Lisa karena dia rendah diri dan suka bilang ‘Shut up, Lisa’ pas dia ngomong terlalu banyak. Summer bisa pehapein Tom Hansen karena Tom Hansen rendah diri. Tom yang pesimis sama hidupnya. Bella juga keliatan rendah diri kan? Pas di telpon, dia kasih tau kalau sekarang dia gemuk, pake gigi palsu, bla bla bla. Pas ketemu dia bilang kalau dirinya jelek.”

T : “YAHELAH KENAPA BALIKNYA KE (500) DAYS OF SUMMER LAGI SIH!! *kraiii*”

I : “HAHAHA MAAF TOOM JANGAN BAPER! Film 500 Days of Summer itu genrenya slasher, gore, thriller, kalau kata temenku ??”

T : “Iya udah jangan dilanjutin, gasehat bapernya. Terus-terus, pandangan kamu terhadap orang yang PHP gimana sekarang?”

I : “Setelah nonton Anomalisa, aku ngeliatnya ternyata jadi tukang PHP itu nyusahin diri sendiri. Ternyata tukang PHP itu bisa jadi tukang PHP bukan karena dari awal niatnya mau memberi harapan palsu. Bisa aja dia niat awalnya mau serius sama seseorang. Tapi karena dia nggak bisa tegas sama perasaannya sendiri, dia terlalu mengejar kesempurnaan mungkin nggak bisa nerima kekurangan kecil pasangannya kayak Michael nggak bisa nerima kebiasaan Lisa yang suka ngomong sambil makan, ya udah dia milih pergi aja. Huhuhu.”

T : “Yup. Aku juga ngerasanya gitu kok.”

I : “Dan…. sekarang aku yang tanya. Waktu kamu pernah jadi Michael, kamu kayak gimana? ????”

T : *tidak ada jawaban* *hening*

T : “Chaaaa, maaf baru bales. Aku semalem ketiduran!”

I : “Ketiduran apa menghindari pertanyaan? Hahaha. Yuk lanjut lagi.”

T : “Nggak menghindar kok. Nih aku jawab sekarang ya. I’m a simple guy who goes for a girl for a sweet life companion. Intinya hidup udah susah, kerjaanku juga udah susah, aku nggak suka sama yang bikin-bikin drama yang harusnya nggak ada, main mainin perasaan cowok cuma biar dia dikasih perhatian lebih 1×24 jam. Aku orang yang bener-bener sederhana, cuma beberapa cewek yang berhasil bikin aku terpikat di awal kenal itu ternyata seneng over-complicating things sehingga aku capek dan akhirnya aku tinggalin sebelum semuanya terlambat.”

I : “Hahaha. Tauk nggak sih. Aku ngakak bacanya. Jujur dari hati banget. Lugas. Fix cowok memang nggak suka sama cewek yang ngedrama gitu ya. Kalau punya perasaan yang sama, yaudah lanjut. Nggak usah nunggu siapa duluan yang nyatain gitu kan? Nggak usah sok-sok minta diperjuangin gitu kan dengan bertingkah sok jual mahal?”

T : “Nah, kalau aku sih, begitu, Cha, tapi kayaknya tiap cowok beda-beda sih. Banyak cowok yang aku kenal juga ada yang nggak suka sama cewek yang belum apa-apa udah clingy dan demanding, ada yang emang syariah dan nyari satu langsung diseriusin, ada yang emang cuma nyari selangkangan doang abis itu bosen terus ditinggalin, dan ada yang kayak Michael juga, Si Pria Modus Anomalisa.”

I : “(((MODUS ANOMALISA)))”

T : “Okay, that should be our post’s tagline. HAHAHA.”

I : “Setuju banget! Nah, Sekarang bahas soal teknisnya deh, Tom. Kalau mau.”

T : “Aku nggak komentar masalah teknis, because it all seems bizzarely, strangely mundane. Tapi jelas ada maksud tertentu dari kenapa Charlie Kaufman menggunakan animasi stop motion ala-ala Aardman. Lewat setiap manusia yang berbentuk seperti manekin dengan wajah yang hampir mirip, Anomalisa eerily tells us that we are no different than the others. That we are not as special as Tumblr tells us. That we are just someone else.”

I : “Dalem banget sik kata-kata kamu, Tom. Tapi bikin ngakak juga. Hahaha.”

T : “KOK NGAQAQ SIH? KZL! Yaudah sekarang menurut kamu secara teknis, Anomalisa gimana?”

I : “Ngahaha. Kalau aku, lebih ngerasa relate sama Lisa sih. Lisa yang pemalu dan rendah diri itu kurang lebih kayak aku. Aku sempat nangis dikit pas Lisa ‘ngasih tau’ kekurangan-kekurangannya tapi MIchael menyangkal semua itu. Pasti bahagia banget jadi Lisa di malam itu. Ada cowok yang menyanjung dia sampe segitunya. Nganggap kalau dia itu berbeda. Spesial. Kalau ada cowok yang muji kami, cewek-cewek, dengan kalimat, “Kamu berbeda.” Itu lebih bikin senyam-senyum daripada dipuji cantik atau semacamnya.”

T : *mencatat*

I : “Tapi pas Michael dan Lisanya sarapan, aku juga nangis dikit. Tapi beda sih nangisnya. Aku nangis dikit karena mikir, ini Lisa kok gampang banget ya ngiyain Michael? Michael yang mau bareng dia terus sampe mau cerai dari istri. Apa semua cewek yang rendah diri itu gitu? Kalau ada yang suka sama dia, trus dia nyaman dan suka juga, dia nggak mikirin ke depannya kayak gimana? Seolah yang ada di pikirannya itu cuma “ada yang sayang sama aku dan aku nggak peduli apapun yang penting ada yang sayang sama aku”. Dan endingnya tadi nonton lagi filmnya. Dan aku nangis masaaaaa. HAHAHAHAHA. Aku cengeng banget ya.”

T : “Nggak cengeng, kok. Menangis itu manusiawi. Pukpuk Icha.”

I : “Hahaha iya nih, Anomalisa bikin bingung, bikin ngakak, dan bikin baper emang. Beda sama 500 Days of Summer yang menampilkan Summer sebagai tukang PHP secara gamblang jadinya Summer terlihat kejam, Anomalisa nampilin Michael sebagai tukang PHP yang menurutku patut dikasihani. Kasihan aja sih, dia capek sendiri sama perasaannya yang nggak konsisten.”

T : “Jadi menurut kamu, tukang PHP terkadang juga harus dipahami ya?”

I : “Kurang lebih begitu sih, karena terkadang sebenarnya yang kasihan itu si tukang PHP, bukan yang dipehapein kan. Apalagi kalau tukang PHP-nya kayak Michael. Yang kayak dihantui perasaan bersalah gitu. Kalau kesimpulan dari kamu apa, Tom?”

T : “Sebelumnya aku boleh nanya dulu nggak, Cha?”

I : “Boleh, nanya apa, Tom?”

T : “Itu siapa sih yang menemukan kata bajingak? Tak senonoh. Sungguh. Wkwkwk.”

I : “AKU! BAHAHAHAHAHAHAHA. Gara-gara keseringan misuh di grup main werewolf, sering dibunuh di awal permainan, yaudah aku ngumpat. Mau pake bajingan kayaknya kasar banget. Yaudah diplesetin jadi bajingak.”

T : “Luar biasa hahaha. Yaudah lanjut. Kesimpulan dari aku: Pen + Apple = Apple Pen.”

I : “Sialan. Hahahaha. Kesimpulannya bagus, Tom. Seandainya boneka yang dibeli sama Michael itu bukan nyanyi lagu Jepang, tapi lagu pen apple apple pen itu ya.”

T : “Ya, seandainya Michael menyanyikan PPAP saat memberikan kuliah umum, mungkin hidupnya akan jauh lebih berbeda.”

I : ” BAJINGAAAAAK. PPAP berpengaruh besar ya.”

T : “Canda deng hahaha. Kesimpulan dari aku adalah: Anomalisa memperlihatkan bahwa beberapa tukang PHP seperti Michael yang sering dibajingak-bajingakkan itu sebenarnya memiliki kelinglungan yang menyiksa dan sama saja seperti kita yang clueless dalam mengartikan kehidupan dan memaknai perasaan. Kalo kesimpulan dari kamu apa?

I : “Kalau dari aku: Anomalisa memperlihatkan kalau tukang PHP seperti Michael adalah orang yang menyedihkan. Dia kelewat bosan, dia (mungkin) terlalu mengejar kesempurnaan hidup sehingga semua yang di sekitarnya jadi terlihat salah dan sama aja. Nggak ada yang spesial. Dia nggak mensyukuri karirnya yang bagus, orang-orang terdekatnya yang sayang sama dia. Dan sebenarnya orang kayak Lisa adalah orang yang lebih menghargai perasaan orang lain dan bisa bertanggung jawab dengan perasaannya sendiri. Meskipun dia minderan, rendah diri, pemalu, atau semacamnya.

T : “Ntap cha. Good point. Oke deh, seneng banget nih ngulas film bareng kamu. Makasih ya!”

I : “Aku juga seneng banget. Makasih juga! Ngulas film sama kamu menyenangkan. Seneng banget bisa ngulas sama orang yang aku kagumin ulasannya. Huahahahaha.”

– THE END –

The Big Five Mainstream Horrors of Early 2016: Short Review

Bagi kita, mungkin mudah sekali merasa takut sekaligus terlibat secara emosional saat menonton film horor yang baik. Kenyataannya, bagi para produsen film, horor adalah sebuah genre yang menuntut keahlian serta kepekaan ekstra dalam pembuatannya. Mengapa? Karena mayoritas film horor dibuat dengan bujet yang sangat terbatas, namun hampir selalu berhasil untuk menghasilkan keuntungan Box Office berkali-kali lipat, kadang tidak peduli seberapa buruk kualitas film tersebut. Ambil saja contoh kasus Annabelle. Film yang hanya mendapatkan rating 29% di Rotten Tomatoes (karena, yah, memang jelek) ini mendapatkan keuntungan worldwide yang bombastis ($256,873,813) dibandingkan bujetnya yang hanya berkisar $6.5 juta. Keuntungan ini tentunya juga dibantu dari kesuksesan The Conjuring sebelumnya yang mendapatkan keuntungan worldwide $318 Juta dari bujet $20 juta. Inilah yang membuat saya merasa bahwa para produsen film horor patut diberikan apresiasi lebih. Mereka mampu memanfaatkan keterbatasan untuk menciptakan ilusi realita yang maksimal.

Lewat artikel ini, saya ingin mengulas, mengapresiasi, serta mendiskusikan lima film horor mainstream dari awal tahun 2016 sampai artikel ini selesai ditulis.

1. The Conjuring 2, directed by James Wan.

Production Budget: $40,000,000
Worldwide Box Offfice: $320,070,008 (est. 19/09/2016)

Seperti film-film yang sebelumnya disutradarai James Wan, The Conjuring 2 adalah sebuah film yang sangat menyenangkan, terutama bila kamu menontonnya bersama keluargamu atau dengan temanmu yang orangnya kagetan. Premis ‘haunted family in a haunted house’ yang sudah sangat familiar di ranah film-film bergenre horor ini dikemas dengan treatment cerita yang lebih berorientasi pada anak-anak dan keluarga sehingga atmosfer film tidak melulu gelap, namun juga hangat dan penuh kasih sayang. Adegan saat Ed Lorraine (diperankan oleh Patrick Wilson) menyanyikan tembang “Can’t Help Falling in Love” dari Elvis Presley sambil bermain gitar di depan keluarga Hodgson adalah salah satu contoh kehangatan yang jarang kita temukan dari film-film horor modern kebanyakan. Tidak hanya itu, semua jump-scare yang terdapat dalam film pun ini dilakukan dengan crafting yang solid dan segar sehingga tepat sasaran dalam membuat para penonton berteriak kencang tanpa harus mempertanyakan relevansinya dengan logika cerita (that Nun-in-the-Mirror scene was perfect!).

Di antara semakin banyaknya film horor yang mempertontonkan kesadisan dan seksualitas, The Conjuring 2 adalah film horor yang paling aman untuk ditonton bersama anak anda dalam segala usia.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

2. The Wailing, directed by Na Hong-jin.

Production Budget: N/A
Worldwide Box Office: $51,252,403 (est. 19/09/2016)

Bisa dibilang, The Wailing adalah sebuah kombinasi apik antara Memories of Murder dan The Witch dengan kearifan mistik lokal dari Korea Selatan. Disutradarai oleh Na Hong-jin (The Chaser, The Yellow Sea) film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang diserang wabah penyakit mematikan setelah kedatangan seorang lelaki misterius ke desa tersebut. Seorang detektif ceroboh bernama Jong-goo (diperankan oleh Kwak Do-won) yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut malah berbalik menjadi korban tatkala anak perempuannya yang masih kecil ikut terjangkit wabah tersebut.

Biarpun dipenuhi dengan adegan-adegan yang keji, gila, dan agak disturbing, kengerian utama dalam film ini dihasilkan dari gaya penceritaan yang atmosferik dengan menempatkan elemen-elemes simbolis seperti burung-burung gagak yang mati, altar pemujaan setan dengan foto-foto misterius tertempel di dinding, serta iklim latar film yang sebagian besar diisi oleh hujan deras dengan awan yang gelap. Suspensi berlangsung dengan efektif dari awal film sampai akhir. Dalam dua jam lebih durasi film, setidaknya ada tiga plot twist di setiap titik pergantian babak. Kita akan dibuat curiga oleh semua tokoh dan kesal terhadap karakter Jong-goo yang tidak pernah bertindak rasional dalam menghadapi masalah (padahal dia seorang detektif) sampai pada akhirnya kita mengetahui bahwa semua hal tersebut merujuk kepada persoalan yang lebih besar dari sekadar praktik guna-guna.

The Wailing adalah sebuah film mystery-supernatural-horror yang pekat dan padat oleh atmosfer yang mengerikan. Cocok bagi kamu yang sudah bosan terhadap film-film horor dengan skenario yang sketched dan mengandalkan jump scare sebagai senjata utamanya.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

3. The Shallows, directed by Jaume Collet-Serra.

Production Budget: $17,000,000
Worldwide Box Office: $116,055,707 (est. 19/09/2016)

Nancy Adams (diperankan oleh Blake Lively), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran, pergi berlibur ke pantai terpencil untuk berselancar dan melipur lara setelah kematian sang Ibu tercinta. Saat sedang asyik bermain ombak di atas papan, tiba-tiba seekor hiu putih raksasa menyerang Nancy, menggigit kakinya, dan membuatnya terjebak di tengah batu karang besar di lautan bersama seekor burung camar yang ia beri nama Steven Seagull (nggak, burung camarnya nggak bisa Wing-Chun, mohon maaf).

Saat kita berpikir bahwa era film-film monster telah usai, Jaume Collet-Serra menghadirkan kembali kengerian teror serangan hiu buas dengan pendekatan yang sangat milenial di film The Shallows. Kenapa saya bilang milenial? Karena variasi komposisi shot, camera movement, dan editing yang terdapat di film ini mengingatkan saya pada video-video bertema paradise adventure yang sering diunggah para travel vlogger seperti Nainoa Langer, Giarro Giarratana, atau konten-konten viral marketing GoPro di YouTube. Bahkan bisa dibilang, hal tersebut lah yang menjadikan film ini unik dan berbeda dibanding film shark attack lain. Semua elemen lain yang terdapat di film ini sebenarnya sangatlah familiar bagi penonton, yaitu lanskap pantai yang memanjakan mata, eksploitasi pesona tubuh wanita, dan penggabungan premis ‘isolation terror‘ (Buried, 127 Hours, Gravity) dengan ‘monster terror’ (Lake Placid, Deep Blue Sea, Anaconda, Jaws). Selebihnya, tidak ada perbedaan yang signifikan, tapi dengan penyutradaraan yang solid dari Jaume Collet-Serra, The Shallows mampu menjadi sebuah wahana jungkir balik yang segar dan menyenangkan bagi para penikmat film horror-thriller.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

4. Don’t Breathe, directed by Fede Alvarez.

Production Budget: $9,900,000
Worldwide Box Office: $107,028,781 (est. 19/09/2016)

Bila seorang kakek tua mencoba menghabisi nyawa tiga orang anak muda yang berusaha untuk membunuh si kakek dan merampok rumahnya, siapa yang akan kamu salahkan? Hal inilah yang menjadi premis utama Don’t Breathe, film horror-thriller arahan sutradara Fede Alvarez. Dari adegan pembukaan pun, film ini sudah menegaskan untuk tidak bertele-tele dan langsung berangkat pada inti cerita: pembantaian tanpa ampun.

Tidak ada momen percintaan dramatis, tidak ada percakapan sok cerdas, hanya pembantaian dan kejar-kejaran.

Pengenalan terhadap keempat tokoh utama pun benar-benar dilakukan seminimal mungkin dan plot langsung masuk ke dalam permasalahan bahkan sebelum lima belas menit pertama berakhir. Dengan plot yang menyerupai Wait Until Dark, Don’t Breathe dikemas sesempit dan sepadat mungkin dengan sentuhan Panic Room dan Inside sehingga menjadi sebuah film yang, seperti judulnya, akan membuatmu sulit untuk bernafas.

Kekuatan utama film ini terdapat pada efektifitasnya dalam memanfaatkan premis yang standar dan lokasi yang minimalis menjadi kengerian klaustrofobik yang tanpa henti sepanjang pertunjukan berlangsung. Don’t Breathe dengan cermat memanfaatkan kompleksitas moral dan idiot plot untuk memaksimalkan potensi horor dari home-invasion thriller yang sudah banyak sekali dibuat. Teknik sinematografi yang digunakan Don’t Breathe juga cukup unik untuk sebuah film horror-thriller. Daripada memanfaatkan efek shaky camera atau fast-cutting untuk memicu ketegangan, Pedro Luque, sang sinematografer, cukup menggunakan teknik konvensional dengan pergerakan kamera yang mulus, komposisi yang rapi, dan penyuntingan yang jeli terhadap momentum. Plot-twist yang muncul di awal babak ketiga film pun cukup menambah sensasi kekacauan tokoh Pak Tua dan kelinglungan moral penonton, meskipun memang menimbulkan banyak kontroversi dari berbagai pihak. Namun jika kamu sedang mencari film horror-thriller yang tidak banyak basa-basi, Don’t Breathe adalah pilihan yang sangat tepat buatmu.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

5. Train to Busan, directed by Yeon Sang-ho.

Production Budget: $8,500,000
Worldwide Box Office: $99,067,452 (est. 13/9/2016)

Film zombie sudah ada sejak tahun 1932, dibuat secara independen dan dengan bujet yang sangat terbatas oleh Victor dan Edward Halperin. Kendati demikian, George Romero-lah yang pertama kali mempopulerkan zombie sebagai medium kritik sosial politik lewat Night of The Living Dead. Generasi Y dan Z mungkin akan lebih familiar dengan The Walking Dead (serial TV) dan World War Z, namun harus diakui, Train to Busan akan menjadi salah satu film zombie sarat kritik sosial yang sangat berkesan dalam pengalaman mereka menonton film horor.

Seorang fund manager bernama Seok-woo (diperankan oleh Gong Yoo) terjebak di dalam sebuah KTX bersama anaknya (Kim Soo-an) saat epidemik misterius yang membuat manusia berubah menjadi zombie menyebar di seluruh Korea Selatan, termasuk di dalam KTX yang mereka tumpangi. Bersama seorang calon ayah dan istrinya yang sedang hamil serta sepasang muda-mudi SMA yang saling mencintai, mereka harus bertahan hidup hingga kereta sampai di Busan, satu-satunya kota yang berhasil bertahan dari serangan wabah.

Setelah The Wailing, Don’t Breathe, dan The Shallows yang menggabungkan dua premis dan referensi film berbeda, Train to Busan juga bagaikan sebuah kombinasi apik antara Snowpiercer dan World War Z, lagi-lagi dengan kearifan lokal Korea Selatan yang terkadang penuh dengan dramatisasi yang klise. Ada banyak drama sosial yang diangkat di sini, dan meskipun porsi melodrama di babak ketiga film akan membuatmu sedikit mengernyitkan dahi, skenario yang dirancang sangat apik dan kokoh sejak permulaan sampai akhir film ini akan tetap berhasil membuatmu menyanyikan lagu “Aloha Oe” sambil menangis tersedu-sedu saat keluar dari bioskop. Disutradarai oleh Yeong San-ho, seorang mantan komikus yang juga pernah membuat film animasi Seoul Station, Train to Busan menghadirkan sebuah horror-thriller dengan pengadeganan yang elok dan tokoh-tokoh yang mampu membuat emosi kita bercampur aduk sepanjang film berlangsung. Meskipun ada Gong Yoo dan Jung Yu-mi yang pernah bermain di Silenced, namun tokoh yang berhasil menyajikan cita rasa yang beragam di film ini adalah Sang Hwa, sang calon ayah bertubuh besar (diperankan oleh Ma Dong-seok) dan Yong Suk, sang COO pengecut (diperankan oleh Kim Ui-seong).

Sebenarnya, inti dari kemantapan Train to Busan adalah kritiknya yang efektif dan lugas tentang strata dan fungsi sosial. Hal ini sebenarnya sudah dimunculkan saat Sang Hwa berkata pada istrinya bahwa Seok-woo itu lintah darat, namun kritik sosial selanjutnya dimasak dengan lezat dan cantik di babak kedua, saat skenario penumpang gerbong belakang versus depan dimulai. Dalam sekejap, horor klaustrofobik pun berubah menjadi drama politik sentimental tentang masyarakat yang mudah disetir opininya saat rasa takut mengancam mereka. Dalam situasi yang telah dibangun tersebut, Yeong San-ho pun menggunakan logika penyelesaian yang mengingatkan saya pada Ran, film dari Akira Kurosawa.

“In a mad world, only the mad are sane.” – Kyoami, Ran (1985).

Beberapa persoalan yang bersifat ilmiah dan rasional di film ini memang memiliki banyak permasalahan, namun dengan subteks ‘pengorbanan’ yang menjadi landasan utama skenario film ini (dan tanggal rilisnya yang kebetulan berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha), Train to Busan adalah film horror-thriller yang sangat menghibur dan cocok untuk ditonton bagi semua orang untuk mendalami esensi dari pengorbanan sebagai bentuk dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap kemanusiaan.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

 

N.B.: Semua data kuantitatif bersumber dari IMDb.com, BoxOfficeMojo.com, dan The-Numbers.com.

THE SUNSHINE BLOGGER AWARDS 2016

Suatu kehormatan bagi Distopiana untuk bisa turut serta meramaikan The Sunshine Blogger Awards 2016–yang kalau tidak salah pertama kali dicetuskan oleh Paskalis Damar lewat blognya, Sinekdoks. Terima kasih atas nominasi yang telah diberikan oleh Amelia Puteri, orang di belakang blog keren berjudul Marry The Fiction. Terakhir, kami juga harus berterima kasih kepada Jack Dorsey, karena tanpa Twitter, kami tidak akan pernah bisa mengenal orang-orang sekeren mereka.

Distopiana saya cetuskan pertama kali dua tahun yang lalu, saat saya sedang magang di salah satu korporasi yang bergerak di bidang sociopreneur sebagai social media specialist. Mulai awal tahun 2016 ini, saya menggaet Bunga Maharani, teman penulis yang saya temui sewaktu terlibat dalam proyek Gemuruh oleh Jakarta Movement of Inspiration (JKTMoveIn). Tidak kami duga-duga, Distopiana mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari kawan-kawan blogger dan penggemar film di media sosial. Kami sangat senang dengan kenyataan bahwa ada orang di luar sana yang menyukai celotehan kami tentang film-film yang berkesan di hati kami.

Oh, ya, saat ini, Bunga sedang sibuk menjalani orientasi mahasiswa baru di Universitas Udayana. Mari kita doakan semoga orientasi serta keseluruhan perkuliahannya berjalan lancar.

Now let me put the main rules of this award here:

  1. Post the award on your blog.
  2. Thank the person who nominated you. (thank you Amel!)
  3. Answer the 11 questions they set you.
  4. Pick another 11 bloggers. (and let them know they are nominated)
  5. Set them 11 questions.

So, here’s Tommy’s answer to the questions set by Amelia Puteri from Marry The Fiction.

  1. What is the last movie you have watched?
    Train to Busan.
  2. Based on the answer #1, tell me the reason why you choose to watch that movie?
    My colleagues in Iris Worldwide (Mbak Nurina, Mbak Romaria, Mbak Wulan, Bani, Enrico) loves horror movies. We have planned this movie trip as the film was highly recommended by Mbak Wulan, who really loves zombie movies. She ever took her 5 year old daughter to routinely watch The Walking Dead with her. Extreme mother, she is.
  3. Talking about awards, choose one: to watch The Academy/Oscars or Grammy?
    Oscars of course. I barely watched Grammy.
  4. Give me your “Top 5” actors and/or actresses!
    Ingrid Bergman, Julianne Moore, Philip Seymour Hoffman, Robin Williams, Jared Leto (f*ck Suicide Squad).
  5. Make a playlist of songs you listen when you are heartbroken!
    a. Bon Iver – I Can’t Make You Love Me.
    b. Labrinth – Jealous.
    c. Bright Eyes – Lover I Don’t Have to Love.
    d. Nine Inch Nails – Hurt.
    e. Damien Rice – My Favorite Faded Fantasy.
    f. Radiohead – True Love Waits.
    g. Jeff Buckley – Hallelujah.
    h. D’Masiv – Cinta ini Membunuhku.
    i. Bright Eyes – Lua.
    j. Beck – Guess I’m Doing Fine.
    h. Frightened Rabbits – Keep Yourself Warm.
  6. What is the last book you’ve read? Any kind of book works.
    “O” by Eka Kurniawan.
  7. Based on the answer #6, choose one sentence from the book that really grabs your attention/interesting!
    “Huh, manusia. Dari sampah kembali ke sampah.”
  8. If you could travel around the world, name a place you want to visit!
    Anywhere on the Northern Hemisphere. Norway is preferrable.
  9. Which one would you choose: the ability to go back to 5 years ago, or go forward to your future 5 years later?
    The ability to go back to 5 years ago and fix everything I’ve done wrong.
  10. Post your inspirational quote(s) you got from any movie!
    “I came.” – Happiness (1998).
  11. Last, watching a movie via streaming or download/torrent? (Ignore the speed of your internet connection)
    Torrent mostly, but I stream via Netflix once. Never tried illegal streaming site, because their compressed video resolution mostly sucks.

Untuk selanjutnya, saya akan menominasikan blog-blog berikut:

  1. Rekomendeath
  2. Tonight’s Read
  3. Cinemaudy
  4. PicturePlay
  5. Review Luthfi
  6. Catatan Icha Hairunnisa
  7. Si Ochoy
  8. Ruang Benak Ruby
  9. Dibaca Aja
  10. Yudo Nugroho

Saya harus mengosongkan satu slot karena teman-teman blogger saya tidak begitu banyak dan ada beberapa pula yang sudah dinominasikan oleh blogger lain.

*POST EDITED: MENAMBAHKAN DIBACA AJA DAN YUDO NUGROHO KE DALAM LIST BLOG NOMINATIONS.

11 pertanyaannya adalah:

  1. Apa film terakhir yang membuat Anda merasa feel-good?
  2. Jika ada production company yang cukup gila untuk memberikan modal 200 Juta US Dollar untuk Anda memproduksi sebuah film, film seperti apa yang akan Anda buat?
  3. Jika Anda harus memerankan seorang public figure dalam sebuah film biopik, siapa public figure yang menurut Anda cocok untuk Anda perankan?
  4. Berdasarkan pertanyaan #3, siapa aktor/aktris yang anda inginkan untuk memerankan kekasih sang publik figur?
  5. Buatlah sebuah playlist lagu yang dapat membangkitkan rasa percaya diri Anda!
  6. Sebutkan novel/komik yang sangat Anda inginkan untuk diadaptasi menjadi sebuah film!
  7. Berdasarkan pertanyaan #6, siapa yang Anda inginkan untuk menyutradarai film tersebut?
  8. Sebutkan 3 film terburuk yang pernah Anda tonton!
  9. Sebutkan 3 sekuel/prekuel film yang sangat anda inginkan untuk terwujud!
  10. Jika suatu saat Anda harus berubah menjadi seekor binatang dan Anda diharuskan untuk memilih, Anda ingin menjadi binatang apa?
  11. Terakhir, jika anda diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan mengubah sejarah peradaban, peristiwa apa yang akan anda ubah?

You can nominate other bloggers by passing it to them – I’m really thanking you for that, or just answer these questions on my comment section. But it’s better to pass it on, believe me.

Selamat bersenang-senang!