Category Archives: Behind the Magic

Pembahasan tentang orang-orang hebat di balik sebuah produksi film fenomenal.

55 Years of Julianne Moore – Better Late than Never

Ada sebuah ungkapan yang cukup populer di seluruh dunia yang disebutkan dengan berbagai macam bahasa: “better late than never” (lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali). Selama dinominasikannya Julianne Moore sebagai Best Supporting Actress of Oscars 1998 di film Boogie Nights sampai pada akhirnya ia mendapatkan penghargaan Best Lead Actress di film Still Alice, dapatkah kita katakan bahwa penghargaan tersebut sedikit terlambat untuk sampai kepadanya?

“Only five people got nominated in that category, and that’s not very many people. So I did all right.” – on losing her Oscar 2000 nomination.

Sampai saat ini terhitung 76 proyek yang telah ia selesaikan, dan aktris berdarah Inggris-Amerika yang mengawali karir aktingnya lewat opera sabun berjudul As The World Turns ini bisa dikatakan sebagai pribadi profesional yang produktif, total, namun tetap rendah hati. Dia tidak percaya dengan glamorisme dan hedonisme meskipun kejayaan Hollywood telah membesarkan namanya. Dia percaya bahwa kesahajaan hidup akan membuat dirinya lebih maksimal dalam menyelesaikan setiap pekerjaan, dan konsistensi gaya hidup serta lima nominasi Oscar yang telah ia kumpulkan sejak 1998 telah membuktikan kebenaran pahamnya. Pada artikel yang dilansir oleh Entertainment Weekly, ia berkata bahwa ia selalu membaca setiap skrip yang datang padanya dari awal sampai akhir, baik yang ia terima maupun tidak. Dia tidak pernah membiarkan agennya untuk mendikte skrip seperti apa yang pantas baginya. Hal ini juga yang mungkin membuat filmografinya cukup banyak diwarnai oleh film-film musim panas Box Office seperti Seventh Son, Carrie, Non-Stop, dan The Hunger Games: Mockingjay pt.1 & 2.

”The time that I would have been reading novels for pleasure, that goes out the window.” – on reading every script she received.

Ada ketidakadilan yang cukup kejam bila kita membahas kehebatan akting Julianne Moore hanya lewat peran-peran yang membuat ia dinominasikan di Academy Awards. Sejak Short Cuts, film ambisius tentang perjalanan kehidupan yang mengisahkan 22 karakter dalam 9 cerita berbeda yang saling berkaitan, akting Julianne Moore sebagai Marian Wyman dinilai sangat berani dan mengejutkan bagi kritikus film saat itu, mengingat bahwa dia masih sekedar aktris opera sabun sebelumnya. Lewat film tersebut, Todd Haynes, sutradara film independen yang sekarang menghentak jagad perfilman Hollywood lewat Carol, tertarik untuk mengajaknya berperan di sebuah film thriller berjudul Safe, di mana ia berperan sebagai Carol White, seorang istri paranoid yang merasa bahwa dia alergi terhadap segala sesuatu di sekitarnya, entah apapun itu. Banyak yang beranggapan bahwa film itu adalah penampilan terbaiknya sepanjang masa, namun malang rasanya ketika ia tidak mendapatkan penghargaan yang sepadan.

“I try to make my characters as specific as I can.” – on Still Alice, 2015.

Nominasi Oscar baru datang padanya setelah ia memerankan seorang veteran bintang porno bernama Amber Waves di Boogie Nights. Aktingnya yang menonjolkan banyak lapisan emosional dan kemampuannya meracik segala komplikasinya menjadi manusiawi dan alamiah tanpa harus membumbuinya dengan melodramatisasi yang dangkal (terlambat) dinilai oleh AMPAS sebagai sebuah terobosan yang jenius. Terlebih, dia harus puas untuk terpilihnya Kim Basinger sebagai Best Supporting Actress of Oscars 1998 di film L.A. Confidential, melangkahinya dan tiga nominee lainnya.

Karir terus berjalan. Nama Julianne Moore sebagai aktris yang handal memerankan wanita-wanita dengan gangguan mental pun melesat walaupun bergerilya hanya di kalangan para penikmat film. Orang-orang awam penonton Box Office musim panas pada saat itu hanya mengenalnya sebagai Sarah Harding, seorang paleontologis, sementara ia berjaya di film-film festival dengan banyak memorable scene seperti adegan “Strongly Vaginal Art” di The Big Lebowski  dan adegan “Motherf*cker” di Magnolia. Nominasi demi nominasi ia terima di film-film berikutnya, seperti The End of The Affair, The Hours, dan Far From Heaven. Entah apa yang membuat penampilannya yang dahsyat dan meledak-ledak di film-film seperti Magnolia, A Single Man, dan Maps to The Stars bagaikan luput dari perhatian AMPAS.

Di luar layar, tidak hanya dikenal sebagai wanita yang secara vokal menyuarakan dukungannya terhadap kebijakan-kebijakan politik liberal, Julianne dikenal sebagai pribadi yang sangat keibuan dan mencintai keluarganya sama dalamnya seperti ia mencintai karirnya sebagai seorang aktris. Untuk itu, ia berkomitmen untuk tetap menjaga prioritas gaya hidupnya pada karir dan keluarga. Tidak ada yang lain.

“What did [Gustave Flaubert] say? ‘Be ordinary in your life so that you can be violent and original in your work!’ I believe that.”

Kendati demikian, dalam sebuah wawancara dengan Ben Shepherd di program Good Morning Britain, ia menyatakan bahwa anak-anaknya tidak pernah menonton filmnya, karena filmnya sendiri kebanyakan bukan film-film yang seharusnya ditonton anak-anak. Ia terlalu banyak bicara tentang manusia dan dosa-dosanya, dan terkadang memang ia butuh untuk telanjang dan akan banyak sekali adegan hubungan seksual yang tidak mungkin dilihat oleh Caleb dan Liv. Pola hidup yang memang sepertinya agak aneh, namun tidak mustahil untuk dilakukan. Sutradara Todd Haynes pun mengakui konsistensi Julianne sebagai seorang ibu dan aktris profesional. Dia menyebut Julianne sebagai seorang perempuan yang tahu aturan-aturan apa saja yang harus ia mainkan agar kedua prioritas tersebut mampu ia jaga dengan baik.

”She has reached her level of success and stardom completely on her own terms.” – Todd Haynes, on Julianne Moore.

Ia tercatat memiliki peran penting sebagai ambassador dari Save the Children, sebuah gerakan sosial yang menangani anak-anak pra-sejahtera dan sampai sekarang sudah mampu menjangkau 70,000 jumlah target di Amerika Serikat per tahun. Di website resmi Save the Children, dinyatakan bahwa Julianne telah berkontribusi penuh untuk memastikan anak-anak pedesaan agar dapat membaca. “One thing I say about reading to children is that you can really, you can do anything if you can read,” ungkap Julianne. Ia pun memiliki respon yang cerdas terhadap publik yang nyinyir terhadap kepeduliannya yang terlihat seperti terbatas hanya pada anak-anak di Amerika. “It’s not that I don’t believe there are many, many needy causes all over the world, particularly in the Third World, but I do believe in terms of poverty in our country, often, people hide in plain sight,” katanya, seperti dilansir oleh CNN. “There’s a refusal, because we have so much in the United States. There’s sometimes a refusal to acknowledge what’s going on right here.”

Ia mencintai anak-anak, bukan dalam pandangannya sebagai seorang ibu, namun sebagai seorang anak. Istri dari Bart Freundlich ini telah menulis buku berjudul Freckleface Strawberry, yang ia ambil dari nama julukan yang ia dapat oleh teman-temannya sewaktu kecil. “In grade school I was a complete geek. You know, there’s always the kid who’s too short, the one who wears glasses, the kid who’s not athletic. Well, I was all three,” katanya. Buku tersebut dikemas dengan cerita yang sangat familiar dan membawa pesan penting tentang penerimaan terhadap diri sendiri.

Kita mungkin bisa bebas beropini tentang terlambat atau tidaknya Julianne Moore mendapat penghargaan paling bergengsi dalam ranah seni peran film tersebut, namun ia telah memenangkan hati dunia sejak pertama kali ia menunjukkan totalitasnya sebagai seorang aktris profesional dan mendapatkan nominasi pertamanya di tahun 1998. Lagipula, bukan Academy Awards, Golden Globes, BAFTA, Cannes, atau festival-festival film mewah lain yang memutuskan apakah seorang aktris bisa disebut sebagai yang terbaik. Lalu apa? Net worth, jumlah film yang telah dibintangi, atau kecantikan fisik yang tidak pernah memudar seiring usia bertambah? Bukan. Komitmen mereka terhadap kehidupan, profesionalitas karir, dan konsistensi pesan yang mereka bawakan dengan kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat yang membutuhkanlah yang membuat mereka patut untuk mendapat penghargaan yang pantas dari dunia. Menjadi yang terbaik bukan berarti harus mengalahkan pesaing-pesaing lain di dunia akting. Menjadi yang terbaik artinya mampu untuk mengalahkan iblis dalam diri sendiri, meningkatkan kualitas hidup dari waktu ke waktu dengan memberikan yang terbaik dan merayakan kebahagiaan sesederhana mungkin bersama orang-orang yang mereka sayangi. Menjadi yang terbaik bukanlah demi kekayaan material ataupun ketenaran komersil. Menjadi yang terbaik adalah demi menginspirasi orang-orang untuk berbuat baik, menginspirasi dunia untuk menjadi lebih baik.

Julianne Moore tidak pernah terlambat untuk menjadi yang terbaik dari dirinya sendiri.

“When someone says, ‘I’m not political’, I feel like what they’re saying is, ‘I only care about myself. In my bathtub. Me and my bathtub is what I care about’.”

Seperti pernyataan di awal paragraf, better late than never, so happy 55th birthday, Julianne Moore. Live your Oscar.