Category Archives: Distopiana’s Choice

Menghadirkan daftar film-film rekomendasi terbaik dengan tema tertentu yang menarik untuk ditonton.

10 Tokoh Wanita Terkuat dan Inspiratif di Film dan TV Series

Sebagai seorang pria yang dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang wanita, saya mengagumi mereka sebagai sosok yang tangguh dan perkasa, terlepas dari segala stereotipe yang ada di dalam kepala saya dulu, saat saya masih mengenal RA Kartini hanya sebagai wanita yang harinya dirayakan. Saya yakin sekali sebenarnya para kaum patriarki di luar sana juga menganggap wanita sebagai sosok yang berbahaya dan mengancam citra maskulinitas lelaki yang sudah dibentuk oleh tradisi, makanya dahulu (dan sampai sekarang) banyak sekali tatanan yang mereka bentuk untuk membatasi ruang gerak wanita di dunia.

Kini dunia semakin modern, dan gerakan emansipasi wanita di seluruh dunia semakin kuat dan berpengaruh, menghasilkan berbagai tatanan yang juga memberikan kesetaraan derajat dan hak bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan kerja dan perlakuan yang setara dengan laki-laki. Dengan kondisi seperti ini, tentu penggambaran wanita sebagai sosok damsel in distress sudah tidak relevan dan bertentangan dengan akal sehat. Why would picture them weak if they are actually strong?

Ada banyak sekali tokoh wanita tangguh di film dan serial televisi, namun saya akan menulis tentang sepuluh tokoh yang menurut saya paling tepat menjadi representasi wanita terkuat di dunia modern dan, hopefully, juga dapat menjadi pedoman bagi kaum lelaki untuk bagaimana seharusnya kita memandang wanita.

Bagaimana kita seharusnya memandang mereka?

Just treat them equally, and don’t mess with them…

  1. Elizabeth Sloane – Miss Sloane (2017)


Tanpa berlebihan, Elizabeth Sloane is an epitome of resilience and dedication. Pekerjaannya sebagai lobbyist tidak pernah mengguncang moral compass yang ia pegang teguh, terutama persoalan gun control di Amerika Serikat. Dia hanya bekerja kepada klien yang sejalan dengan pemikiran yang ia anut, which also means that she only works in her own favor. She knows her things, and if she doesn’t, she will master it before her opponents can blink their eyes. She will not rest until she wins, no matter how small her team is or how fast her opponent moves, she will only move three times faster and grow stronger. Satu hal yang paling menarik dari Sloane adalah: pendiriannya mempunyai basis yang dikokohkan oleh argumen moral tanpa disertai sedikitpun unsur personal dan emosional di dalamnya. Tentu hal ini juga memiliki kekurangannya tersendiri. Kemampuannya dalam berempati sangat buruk sehingga cenderung menjadi manipulatif. Namun yah, mau bagaimana lagi? Dalam seni lobbying, empati memang lebih baik digunakan sebagai pedang, bukan tameng.

2. Louise Banks – Arrival (2016)

Banks adalah figur seorang ibu yang selalu kita idamkan. Penyabar, intuitif, ulet, dan pemberani. Sebagai seorang pakar linguistik, ia tahu persis bahwa senjata utama yang harus dikeluarkan pertama kali saat konflik terjadi adalah “komunikasi”. Kaum lelaki mungkin akan menganggap Banks pribadi yang gegabah karena bertindak keluar dari protokol dan menyalahi aturan, namun Banks akan tetap kokoh pada pendiriannya bahwa “gegabah” yang sebenarnya adalah melakukan tindakan agresif dalam konflik sebelum terjalinnya komunikasi yang baik dari kedua belah pihak.

You: “Mah, aku kesel. Masa sahabat aku Si Anto tadi jalan gandengan tangan sama Gladis, pacar aku!
Banks: “Yo wes lah ajak Anto sama Gladis ke sini ngopi dulu, biar kalian bisa ngobrol.”
You: “But Mom, science says…”
Banks: “If you want science, go ask your Father.”

3. Katniss Everdeen – The Hunger Games Trilogy (2012 – 2015)

Kalau Louise Banks adalah figur ibu idaman, maka Katniss Everdeen adalah figur kakak idaman. She always treats you well, she prioritize you first, and she will do anything to protect you. Oke lah, kamu nggak mau kakakmu gegabah “volunteering as a tribute” demi ngelindungin kamu, tapi kamu harusnya juga tahu kalo kakakmu nggak selemah itu untuk mati sia-sia jadi hiburan para aristokrat di Capitol. Faktanya, dia juga membenci Capitol, dan orang sekuat dan seulet kakakmu itu bisa menjadi simbol perlawanan yang kuat untuk menginspirasi para pemberontak lain menusuk jantung Capitol dari dalam.

Please…be a decent one and don’t talk about what happened with Primrose. It’s not her fault.

4. Leia Skywalker – Star Wars Universe (since 1977)


Berbeda dengan Louise Banks dan Katniss Everdeen, Leia Skywalker mungkin adalah seorang figur pacar idaman kita semua (kecuali bagi kalian para lelaki patriarkis lemah yang gengsi kalo pacarmu lebih bisa ngelindungin kamu). Cantik? Nggak ada yang meragukan. Cerdas? Sudah jelas. However, most importantly, she’s one kind of a strong, fearless lover that will dare to fight side by side with you, no matter how terrifying your opponents are. With love, forever and always.

Rest in Peace, Carrie Fisher. The Force is with you.

WARNING: Sebelum memacari wanita seperti Leia, pastikan dulu bahwa dia bukan saudara kandung kamu ya.

5. Hermione Granger – Harry Potter Series (2001 – 2011)

Semua penggemar Harry Potter pastinya pengen banget macarin Hermione Granger, tapi bagi saya, Hermione itu tipe wanita yang pas banget untuk jadi pacarnya sahabat kita, terutama jika sahabat kita itu lelaki yang cenderung gegabah dalam mengambil keputusan dan agak careless sama dirinya sendiri. Hermione ini meskipun independen, kuat, dan cerdas setengah mati, tapi dia orang yang perhatian dan protektif banget. Lihat sendiri bagaimana hubungan dia dengan Ron dari awal Sorcerer’s Stone sampai Deathly Hallows part 2. Biarpun sering banget berbeda pendapat dan cekcok, tapi Hermione masih tetep care banget sama Ron. Kamu juga nggak perlu khawatir kalau temen kamu bukan tipe orang yang bisa ngelindungin pacarnya, karena Hermione bisa banget ngelindungin bukan hanya dirinya sendiri, tapi sahabat kamu juga. Yah, sekali lagi, kalau sahabat kamu itu patriarkis akut dan nggak kuat sama cewek yang sekeras kepala dan sebawel Hermione, bakal susah cocoknya.

6. Cersei Lannister – Game of Thrones (since 2011)

Untuk yang satu ini, you don’t want to do anything with her. You don’t even want to be her child, because, well, she is obviously a pretty bad Mom. Mungkin kalian heran dari sekian banyaknya karakter di Game of Thrones, kenapa gue malah milih Cersei dan bukan Daenerys, Brienne the Tarth, atau malah Lyanna Mormont idola baru kita itu. Well, look at what she’s been through and where she is now. Banyak orang yang ingin membunuhnya dan merebut kuasa dari tangannya, namun sepanjang Season 1 – 6, dia adalah satu-satunya sosok yang tak pernah kehilangan genggaman kekuasaannya.

Daenerys? She has dragons. Dia bisa dapetin tentara Unsullied dan ngerebut Yunkai dan Meereen juga karena bantuan Rhaegal, Viserion, dan Drogon. Oke lah, sebut nama Jorah Mormont, Daario Naharis, dan Missandei. She is a good person and she can take people’s heart, but to be honest and frank, she is really suck at politic.

Lyanna? Okay, she is fierce for his own age, but look at how small her army is, plus she hadn’t even started anything yet.

Cersei has lost so many things since the beginning at series. Her husband Robert Baratheon, her children, Joffrey and Tommen, and even her own dignity by Walk of Shame. At this point, she almost have nothing.

Look where she is now.

7. Jessica Jones – Jessica Jones (since 2015)

Gelap, pahit, dan rapuh, Jessica Jones adalah representasi dari survivor sekaligus petarung sisi gelap realita kehidupan. Setelah melepaskan diri dari manipulasi dan mental abuse yang dilakukan mantan kekasihnya, Kilgrave (sebuah personifikasi nyata dari domestic abuse dan sexism), ia berusaha bangkit melawan post-traumatic stress disorder dan membangun kembali hidup baru sebagai seorang private investigator. Jessica mungkin terlihat sebagai orang yang sudah kehilangan empati karena sifatnya yang cenderung cuek dan pahit and she’s been too hard on herself, but she knows how the world works, and nothing entertains her more than stopping Kilgrave and make the darkest side of the world gets brighter.

8. Diana – Wonder Woman (2017)

Jika anda bertanya kepada banyak orang siapa karakter favorit mereka di Batman V Superman: Dawn of Justice, pasti mayoritas akan menjawab “Wonder Woman”. Yup, saat pertama kali tampil di film tersebut, dia sudah mencuri perhatian banyak orang dengan pesonanya sebagai wanita yang tangguh dan kuat. Ketika film solonya tayang, ia langsung menjadi simbol wanita independen dan tangguh, dan banyak sekali mereka yang terinspirasi oleh segala sifat yang dimilikinya: tangguh, lugu, memiliki sense of justice yang tinggi, serta penuh rasa empati dan kasih sayang. Bagaimana Bruce Wayne dan Kal-El menyikapi Wonder Woman saat bertarung bersama-sama menghadapi Doomsday adalah cerminan bagaimana seharusnya kita, sebagai lelaki, menyikapi wanita di tempat kerja. Equally, cooperatively, and not sexually.

9. Claire Underwood – House of Cards (since 2013)

Dude. She is the President of The United States.

Kuat dan memiliki pendirian yang teguh, Claire Underwood adalah tipe wanita yang tenang dan dingin dalam memangsa para lawannya secara buas. A true Machiavellist with no empathy. Dia adalah orang yang mengerti bagaimana cara menggunakan kekuasaannya secara tepat agar dia bisa naik lebih tinggi dan membantai semua yang mencoba menggoyahkannya, termasuk suaminya sendiri, Frank Underwood. Dengan manuver-manuver politik liar dan cerdik, ia berhasil menaiki tangga hierarki tertinggi di Amerika Serikat dengan berturut-turut menjadi Second Lady of the United States, First Lady of the United States, the United States Ambassador to the United Nations, Vice President of the United States, dan pada akhirnya President of the United States.

Dear sexist men, if you think women’s tendency for being emotional makes them unfit for the job you think men like you should be capable of, I advise you to watch House of Card, take full attention to Claire Underwood, and reconsider your toxic view immediately.

10. Ellen Ripley – Alien Series (1979 – 1997)

Before Gal Gadot’s Wonder Woman, Sigourney Weaver’s Ellen Ripley in Alien film series might be the strongest face of women we’ve ever had. Empat seri film dan semua Xenomorph habis dibantai tanpa sisa. Ridley Scott, sang sutradara film Alien, pernah mengatakan bahwa sebelumnya ia berniat menjadikan tokoh utamanya sebagai seorang lelaki, namun ia berpikir “What would you think if Ripley was a woman? People will not expecting her to be the main character. People would think she’s gonna be the one who died first.”

Hasilnya? Sigourney Weaver mendapat nominasi Oscar untuk film tersebut, dan banyak media yang menjadikan dia sebagai salah satu karakter terbaik yang pernah ada dalam sejarah fiksi dunia.

It’s nice to know that Ridley Scott used those rotten stereotype as an element of surprise, which is also done by Adam Wingard in You’re Next (2013). But it’s even nicer to realise that nowadays we have so much female leads, enough to wipe that stereotype away from the face of our modern culture.

HONORABLE MENTIONS.

Clarice Starling – Silence of The Lambs (1991)
Elle Woods – Legally Blonde (2001)
Buffy – Buffy The Vampire Slayer (1997)
Imperator Furiosa – Mad Max Fury Road (2015)
The Bride – Kill Bill series (2003 – 2004)

5 Film Yang Membahas Tentang Kesehatan Mental

“If mental disorders could be seen on a sufferer, maybe society wouldn’t say ‘get over it’.”

450 juta orang di dunia mengalami masalah gangguan jiwa, baik depresi, schizophrenia, epilepsy, penyalahgunaan alkohol, narkoba, percobaan bunuh diri dan masih banyak lagi. Untuk lebih detailnya, setiap 40 detik seseorang yang mengalami depresi melakukan percobaan bunuh diri. Angka tersebut bisa dibilang cukup fatal, terutama dikarenakan masalah gangguan jiwa yang tidak mengenal umur maupun cara mereka bersosialisasi di lingkungan sekitarnya.

Dalam artikel kali ini, Distopiana akan berbicara mengenai 5 film yang membahas tentang kesehatan mental. Sudah sewajarnya kita sebagai bagian dari lapisan masyarakat menyadari pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental, dan bukan hanya kesehatan fisik. Masalah-masalah psikologis seperti yang sudah disebutkan diatas juga membutuhkan atensi yang sama banyaknya, terlebih dikarenakan sebagian besar dari kita mengalaminya sendiri.

  1. It’s Kind of a Funny Story (2010) directed by  Anna Boden & Ryan Fleck

large

Mungkinkah seseorang yang tidak menghadapi permasalahan fatal apapun dalam hidupnya mengalami depresi? Jawabannya, ya. Diangkat dari novel Ned Vizzini dengan judul yang sama, It’s Kind of a Funny Story membuka mata setiap penontonnya dengan satu ungkapan: not everyone is doing great, even if they look like it. Film ini mengisahkan tentang seorang remaja asal New York bernama Craig Gilner (Keir Gilchrist), yang setelah gagal melakukan percobaan bunuh diri dengan cara melompat dari Brooklyn Bridge secara diam-diam datang ke rumah sakit untuk mencari bantuan. Dengan orang tua yang selalu mendorongnya untuk menjadi yang terbaik, aplikasi summer school yang menguras pikiran, dan rasa tidak percaya dirinya terhadap orang-orang disekitarnya, Craig pun belajar bahwa tidak semua rencana dapat berjalan sesuai dengan harapan. Menjadi terbuka dengan orang lain bukanlah sesuatu yang memalukan, apapun alasannya.

2. The Perks of Being a Wallflower (2012) directed by Stephen Chbosky

paul-rhodd

Ditulis dan disutradarai oleh Stephen Chbosky, para penikmat film maupun literature judah pasti akrab dengan The Perks of Being a Wallflower. Diangkat dari novel dengan judul yang sama, film ini sudah pasti akan membuat anda meneteskan air mata, merenungkan pilihan-pilihan hidup yang telah anda buat dan tersenyum tiada henti, sambil sesekali bernostalgia menuju awal tahun 90-an. Meskipun sedikit berbeda dengan alur cerita yang ada pada novel, film ini tetap mama memenangkan hati para penontonnya. Bagaimana tidak? Diceritakan Charlie Kelmeckis (Logan Lerman), seorang high school freshman yang berusaha melewati post-traumatic stress disorder yang diakibatkan oleh sexual abuse yang dialaminya sewaktu kecil. Dengan sekolah baru, teman-teman baru, dan gaya hidup baru, Charlie dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua orang yang ia temui akan menganggapnya sebagai ‘freak’. Buktinya, Charlie justru bertemu dengan Sam (Emma Watson) dan Patrick (Ezra Miller), dua senior yang mau menerimanya dengan tangan terbuka, tanpa mempermasalahkan kecanggungannya terhadap dunia sekitar.

3. Silver Linings Playbook (2012) directed by David O. Russell 

9-Silver-Linings-Playbook-quotes

Dibintangi oleh berbagai aktor dan aktris papan atas seperti Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert DeNiro dan Julia Stiles, film yang diangkat dari novel Matthew Quick ini judah pasti dapat memuaskan kecintaan anda terhadap film-film yang bertajuk romantic comedy-drama. Dikisahkan Patrick “Pat” Solitano, Jr. (Cooper), seorang pasien penderita bipolar disorder yang baru saja keluar dari rumah sakit dan pada akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama kedua orangtuanya. Bertekad untuk merebut kembali hati mantan istrinya, Pat bertemu dengan Tiffany Maxwell (Lawrence), seorang janda yang menawarkan bantuan untuk mendapatkan istrinya jika Pat bersedia untuk menemaninya mengikuti sebuah kompetisi menari. Seiring berjalannya waktu, Pat dan Tiffany pun belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan terhadap hubungan-hubungan yang mereka pernah jalani, selagi mempertimbangkan pilihan-pilihan mereka dalam hidup.

4. Side Effects (2013) directed by Steven Soderbergh

Sebuah film psychological thriller yang ditulis oleh Scott Z. Burns ini menceritakan tentang seorang perempuan muda bernama Emily Taylor (Rooney Mara) dengan gangguan mental yang membunuh suaminya sendiri setelah mendapatkan rekomendasi obat anti-depresan baru yang masih bersifat experimental oleh kedua psikiaternya, Dr. Jonathan Banks (Jude Law) dan Dr. Victoria Siebert (Catherine Zeta-Jones). With its main focus on psychological issues, stock price manipulation, title malfunction, law abundance dan masih banyak lagi, Side Effects dijamin mampu membuat para penonton menggeleng-gelengkan kepala dengan segala plot twist mencengangkan yang disajikan.

5. Still Alice (2014) directed by Richard Glatzer & Wash Westmoreland

Early-onset Alzheimer’s Disease, seperti yang dikisahkan dalam novel dan film Still Alice, adalah salah satu jenis penyakit Alzheimer yang paling jarang kita temui. Selain menyerang penderita dibawah umur 65 tahun, Early-onset Alzheimer’s Disease juga diwariskan secara turun temurun / genetik secara autosomal dominan, layaknya sebuah kromosom. Diceritakan seorang perempuan paruh baya bernama Alice Howland (Julianne Moore), seorang profesor linguistik di Columbia University yang baru saja berulang tahun ke-50. Setelah beberapa kali mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi-materi dalam lecture-nya, keluarga Alice pun memiliki kecurigaan bahwa ia mengalami penurunan kesehatan mental, yang ternyata dibuktikan sebagai penyakit Alzheimer. Dengan penulis novel Still Alice yang juga merupakan seorang neuroscientist ternama, Lisa Genova, penonton dibawa melewati sebuah lorong sains emosional, yang dijamin akan membuat mereka meneteskan air mata.

Sometimes, life gives you thousands of choices… or nothing at all. Dan terkadang, pilihan-pilihan tersebut tidaklah ideal dengan apa yang ada di benak kita. Tetapi kita tetap harus maju. Harus memilih. Karena para akhirnya, happiness is indeed one of the most fragile feelings, but it’s always worth the try. You just have to believe in yourself in order to do so. Jangan menyerah dan patah semangat, apalagi merasa bahwa kita adalah orang yang paling bersedih di dunia ini. Karena sejujurnya, saat kita membuka mata dan melihat melihat sekitar, ada banyak sekali orang-orang yang mendukung dan mau menerima kita apa adanya, meskipun kasih sayang tersebut tidak selalu ditunjukkan secara terang-terangan. You just have to look a little deeper.

The Big Five Mainstream Horrors of Early 2016: Short Review

Bagi kita, mungkin mudah sekali merasa takut sekaligus terlibat secara emosional saat menonton film horor yang baik. Kenyataannya, bagi para produsen film, horor adalah sebuah genre yang menuntut keahlian serta kepekaan ekstra dalam pembuatannya. Mengapa? Karena mayoritas film horor dibuat dengan bujet yang sangat terbatas, namun hampir selalu berhasil untuk menghasilkan keuntungan Box Office berkali-kali lipat, kadang tidak peduli seberapa buruk kualitas film tersebut. Ambil saja contoh kasus Annabelle. Film yang hanya mendapatkan rating 29% di Rotten Tomatoes (karena, yah, memang jelek) ini mendapatkan keuntungan worldwide yang bombastis ($256,873,813) dibandingkan bujetnya yang hanya berkisar $6.5 juta. Keuntungan ini tentunya juga dibantu dari kesuksesan The Conjuring sebelumnya yang mendapatkan keuntungan worldwide $318 Juta dari bujet $20 juta. Inilah yang membuat saya merasa bahwa para produsen film horor patut diberikan apresiasi lebih. Mereka mampu memanfaatkan keterbatasan untuk menciptakan ilusi realita yang maksimal.

Lewat artikel ini, saya ingin mengulas, mengapresiasi, serta mendiskusikan lima film horor mainstream dari awal tahun 2016 sampai artikel ini selesai ditulis.

1. The Conjuring 2, directed by James Wan.

Production Budget: $40,000,000
Worldwide Box Offfice: $320,070,008 (est. 19/09/2016)

Seperti film-film yang sebelumnya disutradarai James Wan, The Conjuring 2 adalah sebuah film yang sangat menyenangkan, terutama bila kamu menontonnya bersama keluargamu atau dengan temanmu yang orangnya kagetan. Premis ‘haunted family in a haunted house’ yang sudah sangat familiar di ranah film-film bergenre horor ini dikemas dengan treatment cerita yang lebih berorientasi pada anak-anak dan keluarga sehingga atmosfer film tidak melulu gelap, namun juga hangat dan penuh kasih sayang. Adegan saat Ed Lorraine (diperankan oleh Patrick Wilson) menyanyikan tembang “Can’t Help Falling in Love” dari Elvis Presley sambil bermain gitar di depan keluarga Hodgson adalah salah satu contoh kehangatan yang jarang kita temukan dari film-film horor modern kebanyakan. Tidak hanya itu, semua jump-scare yang terdapat dalam film pun ini dilakukan dengan crafting yang solid dan segar sehingga tepat sasaran dalam membuat para penonton berteriak kencang tanpa harus mempertanyakan relevansinya dengan logika cerita (that Nun-in-the-Mirror scene was perfect!).

Di antara semakin banyaknya film horor yang mempertontonkan kesadisan dan seksualitas, The Conjuring 2 adalah film horor yang paling aman untuk ditonton bersama anak anda dalam segala usia.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

2. The Wailing, directed by Na Hong-jin.

Production Budget: N/A
Worldwide Box Office: $51,252,403 (est. 19/09/2016)

Bisa dibilang, The Wailing adalah sebuah kombinasi apik antara Memories of Murder dan The Witch dengan kearifan mistik lokal dari Korea Selatan. Disutradarai oleh Na Hong-jin (The Chaser, The Yellow Sea) film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang diserang wabah penyakit mematikan setelah kedatangan seorang lelaki misterius ke desa tersebut. Seorang detektif ceroboh bernama Jong-goo (diperankan oleh Kwak Do-won) yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut malah berbalik menjadi korban tatkala anak perempuannya yang masih kecil ikut terjangkit wabah tersebut.

Biarpun dipenuhi dengan adegan-adegan yang keji, gila, dan agak disturbing, kengerian utama dalam film ini dihasilkan dari gaya penceritaan yang atmosferik dengan menempatkan elemen-elemes simbolis seperti burung-burung gagak yang mati, altar pemujaan setan dengan foto-foto misterius tertempel di dinding, serta iklim latar film yang sebagian besar diisi oleh hujan deras dengan awan yang gelap. Suspensi berlangsung dengan efektif dari awal film sampai akhir. Dalam dua jam lebih durasi film, setidaknya ada tiga plot twist di setiap titik pergantian babak. Kita akan dibuat curiga oleh semua tokoh dan kesal terhadap karakter Jong-goo yang tidak pernah bertindak rasional dalam menghadapi masalah (padahal dia seorang detektif) sampai pada akhirnya kita mengetahui bahwa semua hal tersebut merujuk kepada persoalan yang lebih besar dari sekadar praktik guna-guna.

The Wailing adalah sebuah film mystery-supernatural-horror yang pekat dan padat oleh atmosfer yang mengerikan. Cocok bagi kamu yang sudah bosan terhadap film-film horor dengan skenario yang sketched dan mengandalkan jump scare sebagai senjata utamanya.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

3. The Shallows, directed by Jaume Collet-Serra.

Production Budget: $17,000,000
Worldwide Box Office: $116,055,707 (est. 19/09/2016)

Nancy Adams (diperankan oleh Blake Lively), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran, pergi berlibur ke pantai terpencil untuk berselancar dan melipur lara setelah kematian sang Ibu tercinta. Saat sedang asyik bermain ombak di atas papan, tiba-tiba seekor hiu putih raksasa menyerang Nancy, menggigit kakinya, dan membuatnya terjebak di tengah batu karang besar di lautan bersama seekor burung camar yang ia beri nama Steven Seagull (nggak, burung camarnya nggak bisa Wing-Chun, mohon maaf).

Saat kita berpikir bahwa era film-film monster telah usai, Jaume Collet-Serra menghadirkan kembali kengerian teror serangan hiu buas dengan pendekatan yang sangat milenial di film The Shallows. Kenapa saya bilang milenial? Karena variasi komposisi shot, camera movement, dan editing yang terdapat di film ini mengingatkan saya pada video-video bertema paradise adventure yang sering diunggah para travel vlogger seperti Nainoa Langer, Giarro Giarratana, atau konten-konten viral marketing GoPro di YouTube. Bahkan bisa dibilang, hal tersebut lah yang menjadikan film ini unik dan berbeda dibanding film shark attack lain. Semua elemen lain yang terdapat di film ini sebenarnya sangatlah familiar bagi penonton, yaitu lanskap pantai yang memanjakan mata, eksploitasi pesona tubuh wanita, dan penggabungan premis ‘isolation terror‘ (Buried, 127 Hours, Gravity) dengan ‘monster terror’ (Lake Placid, Deep Blue Sea, Anaconda, Jaws). Selebihnya, tidak ada perbedaan yang signifikan, tapi dengan penyutradaraan yang solid dari Jaume Collet-Serra, The Shallows mampu menjadi sebuah wahana jungkir balik yang segar dan menyenangkan bagi para penikmat film horror-thriller.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

4. Don’t Breathe, directed by Fede Alvarez.

Production Budget: $9,900,000
Worldwide Box Office: $107,028,781 (est. 19/09/2016)

Bila seorang kakek tua mencoba menghabisi nyawa tiga orang anak muda yang berusaha untuk membunuh si kakek dan merampok rumahnya, siapa yang akan kamu salahkan? Hal inilah yang menjadi premis utama Don’t Breathe, film horror-thriller arahan sutradara Fede Alvarez. Dari adegan pembukaan pun, film ini sudah menegaskan untuk tidak bertele-tele dan langsung berangkat pada inti cerita: pembantaian tanpa ampun.

Tidak ada momen percintaan dramatis, tidak ada percakapan sok cerdas, hanya pembantaian dan kejar-kejaran.

Pengenalan terhadap keempat tokoh utama pun benar-benar dilakukan seminimal mungkin dan plot langsung masuk ke dalam permasalahan bahkan sebelum lima belas menit pertama berakhir. Dengan plot yang menyerupai Wait Until Dark, Don’t Breathe dikemas sesempit dan sepadat mungkin dengan sentuhan Panic Room dan Inside sehingga menjadi sebuah film yang, seperti judulnya, akan membuatmu sulit untuk bernafas.

Kekuatan utama film ini terdapat pada efektifitasnya dalam memanfaatkan premis yang standar dan lokasi yang minimalis menjadi kengerian klaustrofobik yang tanpa henti sepanjang pertunjukan berlangsung. Don’t Breathe dengan cermat memanfaatkan kompleksitas moral dan idiot plot untuk memaksimalkan potensi horor dari home-invasion thriller yang sudah banyak sekali dibuat. Teknik sinematografi yang digunakan Don’t Breathe juga cukup unik untuk sebuah film horror-thriller. Daripada memanfaatkan efek shaky camera atau fast-cutting untuk memicu ketegangan, Pedro Luque, sang sinematografer, cukup menggunakan teknik konvensional dengan pergerakan kamera yang mulus, komposisi yang rapi, dan penyuntingan yang jeli terhadap momentum. Plot-twist yang muncul di awal babak ketiga film pun cukup menambah sensasi kekacauan tokoh Pak Tua dan kelinglungan moral penonton, meskipun memang menimbulkan banyak kontroversi dari berbagai pihak. Namun jika kamu sedang mencari film horror-thriller yang tidak banyak basa-basi, Don’t Breathe adalah pilihan yang sangat tepat buatmu.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

5. Train to Busan, directed by Yeon Sang-ho.

Production Budget: $8,500,000
Worldwide Box Office: $99,067,452 (est. 13/9/2016)

Film zombie sudah ada sejak tahun 1932, dibuat secara independen dan dengan bujet yang sangat terbatas oleh Victor dan Edward Halperin. Kendati demikian, George Romero-lah yang pertama kali mempopulerkan zombie sebagai medium kritik sosial politik lewat Night of The Living Dead. Generasi Y dan Z mungkin akan lebih familiar dengan The Walking Dead (serial TV) dan World War Z, namun harus diakui, Train to Busan akan menjadi salah satu film zombie sarat kritik sosial yang sangat berkesan dalam pengalaman mereka menonton film horor.

Seorang fund manager bernama Seok-woo (diperankan oleh Gong Yoo) terjebak di dalam sebuah KTX bersama anaknya (Kim Soo-an) saat epidemik misterius yang membuat manusia berubah menjadi zombie menyebar di seluruh Korea Selatan, termasuk di dalam KTX yang mereka tumpangi. Bersama seorang calon ayah dan istrinya yang sedang hamil serta sepasang muda-mudi SMA yang saling mencintai, mereka harus bertahan hidup hingga kereta sampai di Busan, satu-satunya kota yang berhasil bertahan dari serangan wabah.

Setelah The Wailing, Don’t Breathe, dan The Shallows yang menggabungkan dua premis dan referensi film berbeda, Train to Busan juga bagaikan sebuah kombinasi apik antara Snowpiercer dan World War Z, lagi-lagi dengan kearifan lokal Korea Selatan yang terkadang penuh dengan dramatisasi yang klise. Ada banyak drama sosial yang diangkat di sini, dan meskipun porsi melodrama di babak ketiga film akan membuatmu sedikit mengernyitkan dahi, skenario yang dirancang sangat apik dan kokoh sejak permulaan sampai akhir film ini akan tetap berhasil membuatmu menyanyikan lagu “Aloha Oe” sambil menangis tersedu-sedu saat keluar dari bioskop. Disutradarai oleh Yeong San-ho, seorang mantan komikus yang juga pernah membuat film animasi Seoul Station, Train to Busan menghadirkan sebuah horror-thriller dengan pengadeganan yang elok dan tokoh-tokoh yang mampu membuat emosi kita bercampur aduk sepanjang film berlangsung. Meskipun ada Gong Yoo dan Jung Yu-mi yang pernah bermain di Silenced, namun tokoh yang berhasil menyajikan cita rasa yang beragam di film ini adalah Sang Hwa, sang calon ayah bertubuh besar (diperankan oleh Ma Dong-seok) dan Yong Suk, sang COO pengecut (diperankan oleh Kim Ui-seong).

Sebenarnya, inti dari kemantapan Train to Busan adalah kritiknya yang efektif dan lugas tentang strata dan fungsi sosial. Hal ini sebenarnya sudah dimunculkan saat Sang Hwa berkata pada istrinya bahwa Seok-woo itu lintah darat, namun kritik sosial selanjutnya dimasak dengan lezat dan cantik di babak kedua, saat skenario penumpang gerbong belakang versus depan dimulai. Dalam sekejap, horor klaustrofobik pun berubah menjadi drama politik sentimental tentang masyarakat yang mudah disetir opininya saat rasa takut mengancam mereka. Dalam situasi yang telah dibangun tersebut, Yeong San-ho pun menggunakan logika penyelesaian yang mengingatkan saya pada Ran, film dari Akira Kurosawa.

“In a mad world, only the mad are sane.” – Kyoami, Ran (1985).

Beberapa persoalan yang bersifat ilmiah dan rasional di film ini memang memiliki banyak permasalahan, namun dengan subteks ‘pengorbanan’ yang menjadi landasan utama skenario film ini (dan tanggal rilisnya yang kebetulan berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha), Train to Busan adalah film horror-thriller yang sangat menghibur dan cocok untuk ditonton bagi semua orang untuk mendalami esensi dari pengorbanan sebagai bentuk dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap kemanusiaan.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

 

N.B.: Semua data kuantitatif bersumber dari IMDb.com, BoxOfficeMojo.com, dan The-Numbers.com.

7 Film Terbaik untuk Wanita-Wanita Hopeless Romantics

Setelah memberikan rekomendasi film-film terbaik untuk para pria pencundang asmara, kini saatnya penulis merekomendasikan film-film terbaik untuk para wanita-wanita hopeless romantics.

Tidak semua yang kita harapkan dapat berjalan mulus. Terkadang, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan-pilihan sulit yang harus kita lewati, dan berusaha untuk menerima segalanya dengan tangan terbuka. Tanpa pilihan-pilihan sulit tersebut, kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya belajar dari kesalahan, mengikhlaskan segala hal yang tidak mudah diikhlaskan, serta menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan yang sudah kita buat dengan seksama. Berikut adalah daftar film-film terbaik pilihan Distopiana yang dapat disaksikan untuk para wanita-wanita hopeless romantics, yang sedang berusaha menerima realita pahit dengan tangan terbuka, dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja selama masih menyisakan harapan.

  1. Something Borrowed (2011) directed by Luke Greenfield

tumblr_n1a9ugpl5E1qgxmqno1_500

Diangkat dari novel Emily Giffin dengan judul yang sama, Something Borrowed merupakan film drama romantis yang sudah pasti akan meninggalkan kesan speechless untuk anda. Diperankan oleh dua aktris ternama seperti Ginnifer Goodwin dan Kate Hudson, diceritakan lika-liku kisah percintaan Rachel White (Goodwin), seorang attorney muda yang bekerja untuk sebuah firma hukum ternama di kota New York. Setelah one-night stand penuh makna yang ia lalui dengan Dex (Egglesfield), seorang pengusaha mapan yang kebetulan merupakan high school crush Rachel sendiri, hidup Rachel berubah 360 derajat saat ia berusaha menyembunyikan perselingkuhannya dengan Dex, yang merupakan tunangan sahabatnya sendiri, serta mengalami mental breakdown berkepanjangan, saat ia tersadar bahwa Dex tidak pernah benar-benar mencintainya.

2. Love, Rosie (2014) directed by Christopher Ditter

tumblr_o6iioslPEt1v0ttqao1_500

Film drama komedi yang satu ini dijamin akan membuat kalian para wanita-wanita hopeless romantics tertawa terbahak-bahak sambil meneteskan air mata. Bagaimana tidak, film yang diangkatan dari novel Where Rainbows End karya Cecelia Ahern ini membahas tentang isu-isu yang masih jarang diperlihatkan kepada masyarakat luas. Mulai dari persahabatan, kehamilan remaja, hingga pencapaian mimpi dan aspirasi. Dikisahkan dua sahabat kecil bernama Rosie Dunne (Lily Collins) dan Alex Stewart (Sam Claflin), yang secara tidak sengaja mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah menemukan keberanian untuk mengakui perasaan mereka. Pada film ini, para penonton juga akan disuguhkan berbagai keindahan yang kota London dan New York tawarkan. Secara tegas, film Love, Rosie mengajarkan kita bahwa timing dan komunikasi merupakan salah satu hal yang paling esensial dalam suatu hubungan.

3. About Time (2013) directed by Richard Curtis

8-The-Time-Travelers-Wife-quotes

About Time merupakan sebuah film karya sutradara sekaligus penulis naskah terkenal bernama Richard Curtis, yang diantara karyanya merupakan Love Actually, Mr. Bean’s Holiday dan Notting Hill. Film ini mengisahkan tenting, Tim Lake (Domhnall Gleeson), seorang laki-laki yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Cornwall di Inggris, yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan waktu. Dengan kemampuan spesial yang ia miliki ini, Tim pun bertekad untuk mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Konflik ceritapun mulai memanas ketika ia memutuskan untuk pindah ke London dan bertemu dengan seorang perempuan asal Amerika bernama Mary (Rachel McAdams) di sebuah restoran.

4. Finding Mr. Destiny (2010) directed by Jang Yoo-jeong

tumblr_n3iinjIZcJ1rw93m3o1_r1_500

Film box office asal Korea Selatan ini menceritakan tentang Seo Ji-woo (Lim Soo-jung), seorang perempuan yang berpergian ke India seorang diri dan bertemu cinta pertamanya, Kim Jong-ok (Woo Ki-jun), seorang dokter handal di negara asalnya. Setelah berpisah dengan Jong-ok, Ji-woo yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa hubungan mereka telah berakhir memutuskan untuk mendatangi sebuah perusahaan biro jodoh terkenal untuk membantunya mencari Jong-ok. Tidak disangka-sangka, Ji-woo justru bertemu dengan Han Gi-joon (Gong Woo), pemilik perusahaan biro jodoh tersebut yang akan membantunya untuk mendapatkan Jong-ok kembali. Bersama-sama, mereka pergi berkeliling Korea Selatan dan dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka mulai merasa nyaman terhadap satu sama lain.

5. One Day (2011) directed by Lone Scherfig

tumblr_mdc62u884v1rodugmo1_500

Film yang diangkat dari novel David Nicholls ini dijamin akan membuat para penonton banjir air mata. Diperankan oleh Anne Hathaway dan Jim Sturgess, film ini mengisahkan tentang persahabatan dua mahasiswa yang baru saja lulus dari University of Edinburgh, Dexter Mayhew (Sturgess) dan Emma Morley (Hathaway). Secara kronologis, film ini menceritakan kisah Dexter dan Emma (terkadang disajikan secara terpisah) yang awalnya bertemu pada tanggal 14 Juli, dan dilanjutkan pada setiap tanggal 15 Juli selama delapan belas tahun berturut-turut. Dengan berbagai konflik yang dilewati pasangan protagonisnya, One Day menyuguhkan berbagai pesan moral tentang cinta, persahabatan, serta serentetan pilihan yang harus mereka buat secara berani.

6. Safe Haven (2013) directed by Lasse Hallström

movie-quotes-quote-safe-haven-Favim.com-836586

Diangkat dari novel bestseller Nicholas Sparks, film ini sungguh berbeda dari adaptasi-adaptasi film Nicholas Sparks lainnya. Safe Haven sendiri menceritakan tentang Erin Tierney (Julianne Hough), seorang istri dari polisi detektif yang berusaha melarikan diri dari Boston, dikarenakan suaminya yang secara diam-diam berperilaku abusive. Setelah memulai hidup barunya di Southport dengan nama Katie Feldman, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Alex Weathey (Josh Duhamel), seorang ayah tunggal yang masih belum bisa melepaskan kepergian istrinya yang meninggal karena kanker. Safe Haven merupakan film thriller romantis yang akan membawa anda menuju sebuah emotional rollercoaster penuh haru dan misteri yang mencengangkan.

7. A Little Thing Called Love (2010) directed by Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn & Wasin Pokpong

tumblr_luuwzqcw5V1r2iejoo1_500

Sleeper hit asal Thailand ini merupakan film yang paling digemari para hopeless romantics. Dengan akting dan penjiwaan para aktornya yang menjanjikan, bagaimana mungkin kita mampu melewatkan film yang satu ini? Dengan alur cerita the-ugly-duck-meets-the-prince-charming yang klise, A Little Thing Called Love dapat dipastikan mengubah perspektif kita tentang the prince charming itu sendiri. Dikisahkan tentang seorang remaja SMA bernama Nam (Pimchanok Baifern) dengan wajah yang tidak cantik dan kepribadian introvert, yang berusaha mati-matian untuk mengubah dirinya demi Shone (Mario Maurer), kayak kelas Nam yang pintar, tampan, dan disukai banyak orang. Dalam perjalanannya untuk mempercantik diri, Nam pun belajar bahwa tidak semua hal yang ia inginkan dapat berjalan sesuai ekspektasinya.

tumblr_mkdru2k7281racrzqo1_

Setelah menonton film-film yang telah di rekomendasikan, kita dapat belajar bahwa tidak segalanya cinta itu indah dan penuh jawaban. Flowers can’t grow without a little rain, and that’s perfectly okay. Terkadang, saat kita sudah mengikhlaskan apa yang kita inginkan, aspirasi tersebut justru akan tercapai. Intinya, keihklasan merupakan suatu keharusan, dan kita sebagai para hopeless romantics harus bisa menyikapinya dengan seksama. Hidup tidak selamanya mulus dan penuh kebahagiaan, tapi justru turbulensi-turbulensi itulah yang mampu membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Honorable Mention: Never Let Me Go (2010), Il Mare (2000), Stuck in Love (2012), He’s Just Not That Into You (2009).

5 Film Mencekam yang Terinspirasi dari Cerita Dongeng

If you expect the world to be fair with you because you are fair, you’re fooling yourself. That’s like expecting a lion not to eat you because you didn’t eat him.”

Hidup memang tidak selamanya selalu adil. Orang baik tidak selalu terlihat sebagai malaikat, dan orang jahat tidak selalu terlihat sebagai devil dengan tanduk diatas kepala dan tongkat yang tajam. Tetapi, bagaimana jika protagonis-protagonis kita kali ini berjuang mati-matian untuk mendapatkan apa yang memang sepantasnya mereka semua dapatkan?

Berikut adalah lima film mencekam versi penulis yang terinspirasi dari berbagai cerita dongeng penuh moral yang biasa kita baca sewaktu kecil.

  1. Black Swan (2010), Directed by Darren Aronofsky

image

Film psychological thriller/horror yang merupakan versi dark dan twisted dari dongeng Swan Lake milik Tchaikovsky ini bercerita tentang seorang ballerina muda bernama Nina (Natalie Portman) yang berjuang untuk mendapatkan peran White Swan yang anggun dan rapuh pada sebuah produksi ballet ternama di Kota New York, tetapi juga diharuskan untuk memerankan tokoh Black Swan yang sensual dan penuh intrik, yang sebenarnya juga diinginkan oleh seorang ballerina lainnya, Lily (Mila Kunis).

Secara otomatis, Nina yang sejak awal diceritakan memiliki kepribadian introvert dan sangat sensitif, mengalami kesulitan yang amat dalam mengatur emosi dan immense pressure yang dihadapinya, terutama saat ia menemukan dirinya berkompetisi dengan orang lain, dan bukan hanya dengan sang ballerina, Lily—melainkan dengan dirinya sendiri.

2. Hanna (2011), Directed by Joe Wright

image

Young, sweet, deathly. Ketiga kata yang sempurna untuk menggambarkan film action/adventure/thriller ini. Dengan skenario yang terinspirasi dari beberapa cerita dongeng berbeda milik Grimm, film ini menceritakan seorang remaja perempuan bernama Hanna (Saoirse Ronan), yang hidup di tengah pedalaman hutan Finlandia bersama ayahnya, Erik Heller atau “Papa” (Eric Bana), yang secara diam-diam merupakan seorang mantan agen CIA.

Sejak kecil, Hanna sudah dipersiapkan oleh Erik untuk menjadi assassin, yang pada akhirnya ditugaskan untuk berperang dengan seorang agen senior CIA bernama Marissa Wiegler (Cate Blanchett), yang sejak dulu berusaha untuk menemukan dan membunuh Hanna dan ayahnya. Things will be questioned, murders will be done, and mysteries will be solved.

3. Hansel & Gretel (2007), Directed by Lim Pil-Sung

image

Diselaraskan dengan judulnya, film horror asal Korea Selatan ini terinspirasi dari cerita dongeng anak-anak Hansel & Gretel asal Jerman. Menceritakan tentang Eun-soo (Chun Jung-Myung), seorang salesman yang tengah menyetir di Highway 69 sambil berargumen lewat telfon dengan pacarnya, Hae-Young, lalu secara tidak sengaja kehilangan kendali mobilnya dan menabrak batu. Setelah tidak sadarkan diri, Eun-soo menemukan dirinya terbangun ditengah hutan yang gelap dan hampir tidak berpenghuni, hingga pada akhirnya ia diselamatkan oleh seorang anak kecil misterius bernama Young-hee (Shim Eun-kyung).

Setelah menerima tawaran Young-hee untuk berteduh dan membersihkan diri di rumahnya, Eun-soo pun tersadar bahwa Young-hee bukanlah sekedar anak kecil lugu yang tinggal di hutan, terutama setelah Young-hee memperkenalkan Eun-soo kepada kedua saudaranya yang lain, Man-bok (Eun Won-jae) dan Jung-soon (Jin Ji-hee). Bersama orang tuanya, ketiga bersaudara ini tinggal di sebuah rumah besar nan misterius yang dinamakan House of Happy Children.

4. Freeway (1996), directed by Matthew Bright

image

Dibuat sebagai versi modern dari cerita dongeng klasik, Little Red Riding Hood, film crime/action bertabur bintang ini menceritakan tentang seorang remaja sarkastik berusia 15 tahun, Vanessa Lutz (Reese Witherspoon), yang setelah  bebas dari jeratan kekerasan seksual ayahnya, pergi untuk tinggal di rumah neneknya—seseorang yang belum pernah ia temui seumur hidupnya. Permasalahan mulai bermunculan saat mobil Vanessa rusak di tengah jalan, memaksanya untuk menerima bantuan dari seorang pengemudi lain yang terkesan ramah dan mudah dipercaya bernama Bob Wolverton (Kiefer Sutherland), yang tanpa ia ketahui merupakan seorang pembunuh berantai yang sedang ramai dicari polisi.

5. Suspiria (1977), Directed by Dario Argento

image

Berparalel dengan cerita dongeng Snow White, film fantasy/mystery asal Italia ini dianggap sebagai film dengan audio dan setting terbaik di akhir tahun 70-an. Bahkan, remake film Suspiria akan diris tahun depan, dengan Dakota Johnson dari Fifty Shades of Grey sebagai pemeran utamanya.

Bercerita tentang seorang ballerina asal Amerika bernama Suzy (Jessica Hadper) yang melanjutkan studinya pada salah satu sekolah ballet terbaik di Jerman, Suzy pun mendapati teman-temannya menghilang secara misterius dan dibunuh dengan berbagai cara yang grotesque dan tidak manusiawi. Ia tersadar bahwa tempat yang awalnya di anggap sebagai surga menarinya, ternyata memiliki sejarah yang mendebarkan dibalik semua fasilitas dan kemewahan yang ditawarkannya.

Film Suspiria merupakan installment pertama dari trilogi Three Mothers, yang kemudian diikuti dengan Inferno dan The Mother of Tears. Dalam ketiga film ini, pentonton akan dihadapkan dengan berbagai elemen supernatural (terutama evil witchcrafts), yang pada akhirnya akan membentuk sebuah kesimpulan psikologis yang mencengangkan.

image

Setelah menonton kelima film diatas, dapat disimpulkan bahwa fairy tales tidak melulu berisi putri-putri anggun dan cantik dengan berbagai gaun mewah yang purpose utama dalam hidupnya hanya bertemu pangeran-pangeran tampan and live happily ever after! Terkadang, there is (almost) no fine line between our protagonists and antagonists in real life, and that’s completely realistic and acceptable.

7 Film Bahagia untuk Membahagiakan Hari-Harimu

Hidup ini memang terkadang kurang ajar, dan sebagai orang yang masih hidup, kita tidak akan pernah lepas dari kekurangajaran tersebut. Entah gagal melaksanakan tugas dengan baik karena suatu kecerobohan yang kita lakukan, mendapatkan penolakan telak atau penghinaan kasar, atau tertimpa suatu musibah yang menyebabkan kehilangan, hidup selalu punya cara yang unik untuk membuat kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri.

Namun, sebagaimana Eleanor Roosevelt bersabda:

“No one can make you feel inferior without your consent.”

Maka duduklah sejenak, ambil beberapa bungkus keripik kentang, cheeseburger, cokelat, minuman bersoda atau makanan apapun yang menyenangkan, lalu tonton ketujuh film yang akan kami rekomendasikan ini untuk membangkitkan semangat hidupmu kembali.

1. Chungking Express (1994) directed by Wong Kar Wai.

Untuk sebuah film romansa, Chungking Express lebih mengedepankan unsur eksperimentasi visual, karakterisasi, dan dialog antar tokoh ketimbang memaparkan struktur naratif secara konvensional. Alur cerita tidak akan begitu berarti di sini, karena tujuan film yang pernah membuat seorang Quentin Tarantino menangis karena bahagia ini hanya sesederhana mengajak penontonnya untuk bersenang-senang dalam arung jeram cinta. Kita tidak harus peduli apakah cinta mereka berbalas atau tidak, karena bagi mereka, mencintai hanyalah sebatas mencintai. Patah hati? Itu urusan belakangan. Yang penting, ayo jatuh cinta!

2. About Time (2013) directed by Richard Curtis

Perjalanan lintas waktu mungkin sudah menjadi sebuah topik yang basi untuk industri film di manapun, namun About Time berhasil mengolahnya menjadi sebuah cerita yang manis dan introspektif secara bersamaan. Lupakan tujuan-tujuan mulia seperti menyelamatkan dunia dari cengkeraman ilmuwan gila atau konspirasi masif alien untuk menghancurkan umat manusia. Mari gunakan time-travel sebagai alat untuk menyelamatkan diri kita di masa depan dari ketiadaan keturunan (baca: cari istri). Sesering apapun Domhnall Gleeson dan Rachel McAdams muncul di dalam film-film yang kita tonton, namun pesona serta chemistry yang mereka bangun di film yang disutradarai oleh orang yang pernah menyutradarai Love Actually ini akan membuatmu percaya lagi akan kesempurnaan cinta dan kasih sayang di dalam sebuah keluarga. Live each of your day to the fullest, guys!

3. Good Morning Vietnam (1987) directed by Barry Levinson.

Film yang disebut Roger Ebert sebagai penampilan terbaik dari Robin Williams ini membawa atmosfer yang penuh canda tawa pada konteks perang US – Vietnam, tentunya tanpa berceramah dan bersikap menghakimi karena sang karakter utama hanyalah seorang komedian yang ditugaskan untuk menjadi penyiar radio di sebuah daerah pangkalan militer. Terlebih, tidak hanya bekerja dengan baik sebagai film komedi, Good Morning Vietnam juga berperan sebagai film anti-war yang sarat dengan humor internal bernada sarkastik. Film ini sangat cocok untuk ditonton bagi mereka yang punya banyak pengalaman pahit soal birokrasi dan bagi aktivis sayap kiri.

4. The Lego Movie (2005) directed by Chris Miller and Phil Lord.

EVERYTHING IS AWESOME! Sekilas, The Lego Movie memang terlihat seperti film untuk bocah, tapi film animasi yang memenangkan Best Animated Feature Film di BAFTA 2015 ini cocok bagi mereka yang pernah merasakan kerennya jadi anak bocah. Buang skeptisme dan idealisme jauh-jauh karena Emmett akan membawa kalian bertualang melintasi dunia Lego dan menjalani petualangan-petualangan seru bersama Batman, Wonder Woman, dan Gandalf. Terdengar absurd, bukan? Namun percayalah, akan sangat menyenangkan bagi comic geeks untuk menyaksikan hiburan penuh fantasi ini!

5. 3 Idiots (2009) directed by Rajkumar Hirani.

Lagi bete karena revisian skripsi nggak kelar-kelar? Pusing di tengah kuliah karena baru sadar ternyata jurusan yang kamu jalani atas pilihan orang tua ini nggak sesuai minat kamu? Elus dada kamu pelan-pelan, ucapkan mantera “Aal izz well” sebanyak tiga kali, lalu tonton film ini. Kejeniusan Rajkumar Hirani dalam membungkus isu pendidikan yang krusial lewat guyonan-guyonan cerdas yang menyindir dengan lantang akan membuatmu tertawa terbahak-bahak dan menerima seikhlasnya bahwa satu-satunya jalan untuk menghadapi sistem pendidikan yang cacat ini hanyalah dengan menjalaninya dengan sabar sambil menggumamkan “Aal izz well” sebanyak mungkin.

6. The Intouchables (2011) directed by  Olivier Nakache and Eric Toledano.

Kebanyakan film yang mengusung topik disabilitas selalu menyajikan ceritanya dengan depresif dan muram.  Oleh karena itu, The Intouchables menawarkan sesuatu yang 180 derajat lebih menyenangkan daripada sekedar menjadikan para penyandang disabilitas sebagai korban yang tidak berdaya dan mengeksploitasi kesedihan yang mereka alami. Bayangkan, bagaimana jadinya jika Phillippe, bilyuner kaku yang lumpuh berteman dengan Driss, seorang mantan copet yang menjadi pengasuh pribadinya? Bukan, bukan kekacauan dan drama sentimental yang akan kita dapatkan, melainkan kegilaan-kegilaan yang asik dan menyenangkan dari Driss yang selalu melakukan segala halnya di luar batasan tanpa tanggung-tanggung.

7. Singin in The Rain (1952) directed by Gene Kelly and Stanley Donen.

Tak bisa diragukan lagi, film ini adalah film musikal terbaik dan paling menyenangkan yang pernah ada sepanjang masa. Dengan konteks film yang menceritakan konflik internal industri film Hollywood pada masa transisi film bisu ke film bersuara, kita akan dibawa ke alam musikal yang penuh dengan tap dance dan setting Broadway yang diwarnai gimmick-gimmick mengagumkan. Jika kamu tidak mampu menangkap keceriaan di saat Don, Kathy, dan Cosmo bernyanyi dan menggoyangkan tubuh mereka seirama dengan musik, kamu harus segera berkonsultasi ke psikolog mengenai masalahmu.

Mungkin ini terdengar garing dan membosankan, tapi dunia ini tidak sekurang ajar itu jika kita mampu melihat semuanya dari sudut pandang lain. Film-film ini secara tidak langsung mengajarkan pada kita bahwa bagaimana dunia memperlakukan kita sebenarnya tergantung pada bagaimana kita memperlakukan dunia. It works both ways! Intinya, apapun yang terjadi, dibikin asik aja, benar tidak?

5 Film Paling Underrated di Tahun 2015

Nggak setuju dengan pandangan bahwa cuma film-film box office terkenal yang patut kalian lihat? Jangan khawatir. Masih banyak kok, film-film yang sangat menarik untuk ditonton. Tahun 2015 adalah tahun yang benar-benar produktif untuk para pembuat film. Mulai dari film bertemakan petualangan/war/distopia seperti The Hunger Games: Mockingjay Pt. 2, film-film action menjanjikan seperti Mission Impossible: Rogue Nation dan Furious 7, bahkan sampai film-film kartun menggemaskan seperti Minions, Pixels dan Inside Out.

Nah, untuk menutup tahun 2015 yang penuh kejutan dari sineas dunia, kami akan memberikan kalian 5 referensi film paling underrated yang perlu kalian tonton.

1. 6 Years, directed by Hannah Fidell

635814384325552408300944574_tumblr_nw6m4mdCwN1rwyolao1_500.gif

Berkisah tentang lika-liku yang dialami pasangan muda, Melanie dan Dan, dalam kurun 6 tahun, film ini berhasil memberikan kesan “realistis” bagi para penontonnya. Dibintangi oleh Taissa Farmiga (The Bling Ring, American Horror Story) dan Ben Rosenfield (Boardwalk Empire), agak sayang rasanya untuk melewatkan film yang satu ini. 6 Years mengajarkan kita bahwa nggak semua long-term relationship itu mulus-mulus aja. Teori tersebut dibuktikan dengan berbagai obstacles yang mereka alami selama 6 tahun berpacaran, seperti violence, volatile, sex, maupun ketidakcocokan yang sudah pasti nggak bisa mereka hindari. Alasan kenapa film ini kurang diapresiasi para penikmat film? Penggambaran tentang kekerasan dan sex dalam hubungan mereka dianggap sedikit vulgar, dalam maksud memberikan kesan realistis yang sudah penulis bahas sebelumnya. Overall, this movie is definitely worth to watch.

2. Before We Go, directed by Chris Evans

4f2ddcce5829d9f1cee38f7dd91ccf3b.jpg

Kualitas akting Chris Evans dan Alice Eve udah nggak perlu diragukan lagi. Before We Go juga merupakan directorial debut Chris Evans sendiri. Bagi penulis, film dengan dialog sederhana namun romantis ini adalah salah satu film independen terbaik yang pernah penulis tonton. Dengan latar kota New York yang megah dan penuh dengan berbagai kejutan, dikisahkan seorang aspiring musician bernama Nick Vaughn yang secara tidak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan muda bernama Brooke yang ketinggalan kereta terakhir ke Boston. Yang lebih uniknya lagi, film ini hanya bercerita tentang satu malam penuh petualangan Nick dan Brooke yang memutuskan untuk berkeliling New York. Mulai dari bertemu mantan pacar Nick secara nggak sengaja, kehilangan tas, crashing strangers’ wedding, sampai dengan menyelinap ke dalam kamar hotel salah satu teman Nick yang sibuk berpesta di sebuah bar. What makes this movie interesting, is the fact that Brooke is married to a man who’s nowhere near loyal to her. Jadi, buat kalian yang ingin bergalau-galau ria sambil menikmati pemandangan kota New York yang disuguhkan dengan begitu apik, this movie’s perfect for you.

3. Project Almanac, directed by Dean Israelite

Project-Almanac

If you enjoy watching found footage sci-fi thriller movies, Project Almanac is the way to go. Film ini jauh lebih berbobot daripada installment-nya Paranormal Activity. Berceritakan tentang David Raskin (Jonny Weston), seorang kutu buku yang bercita-cita untuk kuliah di MIT dan beberapa teman SMA-nya yang secara tidak sengaja berhasil membuat temporal displacement device yang memudahkan mereka untuk melakukan perjalanan waktu. Namun, sehebat apapun mesin yang mereka ciptakan, their excitement soon ends when they begin to discover the consequences behind their newly made device. Film ini sangat menarik untuk ditonton, karena selain film ini dan Chronicle, masih sangat jarang film sci-fi thriller yang menggunakan teknik pengambilan gambar found footage. So far, 7.5 out of 10.

4. The Age of Adaline, directed by Lee Toland Krieger

imagess

Kira-kira gimana ya rasanya, hidup sebagai perempuan berumur 29 tahun selama hampir 8 dekade? This miraculous immortality happened setelah seorang perempuan muda bernama Adaline Bowman (Blake Lively) terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil. Dikisahkan hidup abadi Adaline yang awalnya membosankan dan monoton, berubah 180 derajat setelah bertemu seorang philanthropist bernama Ellis Jones (Michiel Huisman) yang menyadarkan Adaline mengenai betapa berharganya hidup dan cinta. Aneh? Sudah pasti. Penuh rahasia? Apalagi. Tapi, menurut gue, film ini patut kita acungi jempol. Premisnya sangat menjanjikan, jalur ceritanya pun tidak terkesan “dibuat-buat” meskipun keseluruhan film ini bertemakan fantasy/fiction. Hanya ada satu hal yang perlu penulis singgung dari film ini, yaitu kurangnya penggambaran yang jelas mengenai immortality yang dihadapi oleh Adaline itu sendiri.

5. The End of the Tour, directed by James Ponsoldt

tumblr_nwmqohFlOJ1rsyukao1_500.jpg

Film drama bertabur bintang yang diperankan oleh Jason Segel (How I Met Your Mother, Forgetting Sarah Marshall) dan Jesse Eisenberg (Zombieland, The Social Network) ini diadaptasi dari memoir terkenal David Lipsky yang berjudul Although of Course You End Up Becoming Yourself. Film ini menceritakan tentang seorang reporter Rolling Stone bernama David Lipsky (diperankan oleh Eisenberg) yang mewawancarai seorang novelis terkenal bernama David Foster Wallace (diperankan oleh Segel) yang baru saja mempublikasikan novel terbarunya yang berjudul Infinite Jet pada tahun 1996. Buat kalian yang juga menikmati dunia jurnalisme, film ini cocok banget buat kalian tonton. The End of the Tour dikemas dengan sangat simpel, tetapi tetap logis dan penuh tanda tanya. Yang sangat disayangkan dari film ini, adalah kurangnya plot twist yang sudah diincar para penonton sejak awal. Bisa dibilang, konsep film ini sangat brilliant, tetapi execution-nya masih kurang mendetail. Tapi, despite all of the critics about this movie, film ini masih layak untuk ditonton.

before-we-go

Setelah kalian baca (dan menonton) film-film yang gue sudah referensikan diatas, kita pasti nggak akan berfikir dua kali untuk nonton film-film yang tidak dikategorikan sebagai box office. Film-film 2015 itu bukan hanya terdiri dari 50 Shades of Grey dan Pitch Perfect 2. Masih banyak kok, film-film berbobot yang (sayangnya) masih menjadi misteri karena kurangnya apresiasi dari para penikmat film. Isn’t it a good thing to expand our knowledge, terutama pada film-film indie/independen seperti ini? Jangan takut untuk nggak jadi mainstream dan keluar dari comfort zone kamu. Karena terkadang, mencoba hal-hal baru itu menyenangkan, kok.

7 Film Terbaik untuk Pria-Pria Pecundang Asmara

Sering merasa putus asa terhadap diri kita karena terlalu lama sendiri dan tidak pernah bisa menjalin hubungan asmara yang baik dengan siapapun? Tenang, itu semua manusiawi. Penulis juga pernah mengalaminya. Jangan merasa terlalu cepat rendah diri, karena hal itu tidak selalu berarti bahwa kita adalah pribadi yang tidak pantas untuk dicintai. Bisa saja itu karena kita terlalu idealis memberikan kriteria pasangan hidup atau kita berada di dalam lingkungan sosial dengan iklim gersang yang tidak mampu menyuburkan bibit-bibit pasangan hidup yang ideal bagi kita. Bagian yang terpenting adalah: kita tidak sendirian, dan seburuk-buruknya kita menilai kehidupan cinta kita, masih ada kisah yang menarik untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan kita ke depannya. Tidak percaya? Berikut ini adalah daftar film-film terbaik bagi kita, pria-pria pecundang asmara, untuk disaksikan agar kita mampu merenungkan dengan damai tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan tanpa harus membanding-bandingkan keadaan kita dengan pria-pria beruntung di sekitar kita.

  1. Annie Hall (1977) directed by Woody Allen

Film yang menurut Roger Ebert menandai berakhirnya era “Hollywood Golden Age” ini bercerita tentang Alvy Singer (diperankan oleh Woody Allen) seorang stand-up comic melankolis yang memiliki tingkatan idealisme yang terlampau tinggi. Sayangnya, hal itu bukannya membuat hidupnya menjadi lebih bertaraf, namun malah jadi merepotkan dirinya sendiri, terutama dalam menjalani hubungannya dengan seorang gadis bernama Annie Hall (diperankan oleh Diane Keaton). Semua—bahkan hal-hal kecil pun—akan dikomentari oleh Alvy dan tak jarang membuat mentalnya depresi. Begitulah Alvy, seorang hardcore nerd nihilis yang bahkan kritis terhadap ‘kode’ dari wanita yang menyukainya. Tonton saja percakapan saat Annie dan Alvy bertemu pertama kali di lapangan tenis, dan kalian akan tahu sendiri.

  1. Ruby Sparks (2012) directed by Jonathan Dayton and Valerie Faris

Pernah membayangkan bagaimana jika seandainya gadis imajiner yang sering kalian impikan tiba-tiba hidup dan secara instan menjadi kekasih hati kalian? Hanya lelaki beruntung seperti Calvin (diperankan oleh Paul Dano) yang pernah secara ajaib mengalaminya. Seorang penulis novel itu suatu pagi dikejutkan oleh kemunculan Ruby (diperankan oleh Zoe Kazan), seorang gadis imajiner dengan kecantikan surgawi yang dijadikan inspirasi oleh Calvin untuk sebuah karakter di novel yang sedang ia tulis. Ruby hidup ke dunia nyata sebagai kekasih Calvin, dan ini bukanlah penipuan atau semacamnya karena ternyata Calvin bisa mengendalikan Ruby hanya dengan menuliskan karakternya di mesin tik sesuai yang ia inginkan. Calvin memiliki kontrol sempurna atas Ruby, sebuah keleluasaan yang diimpikan pria manapun di Bumi. Kehidupan asmara Calvin, sang introvert pecundang asmara, yang bagaikan mimpi indah pada akhirnya berubah menjadi mimpi buruk karena ironisnya Calvin menyadari bahwa ia tidak memiliki kontrol sempurna atas hubungan dan rasa cintanya dengan Ruby. Cerita dan naskah film ini ditulis oleh Zoe Kazan sendiri, dan mungkin itu sebabnya di samping berbicara tentang keseimbangan kuasa di dalam sebuah hubungan, film ini juga memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang tinggi.

  1. Her (2013) directed by Spike Jonze

Sutradara dari film Being John Malkovich ini membuat sebuah film yang membahas tentang interdependensi dari cinta, intelijensi buatan, dan filsafat keberadaan. Diceritakan Theodore (diperankan oleh Joaquin Phoenix) adalah seorang pemurung dan penyendiri yang bekerja sebagai penulis surat-surat cinta bagi mereka yang tidak mampu atau tidak mau menulis surat mereka sendiri. Setelah perceraiannya dengan Catherine (diperankan oleh Rooney Mara), Theodore membeli sebuah sistem operasi dengan intelijensi buatan yang diberi nama Samantha (disuarai oleh Scarlett Johannson). Pembicaraan mereka yang intim mengenai hal-hal kecil serta keberadaan Samantha yang selalu setia menemani kesendirian Theodore membuat mereka perlahan-lahan jatuh cinta pada satu sama lain. Ada sebuah ulasan mendalam dan filosofis yang ditulis oleh Mas Dony Iswara di blognya tentang Her yang penting untuk kalian—para pecundang asmara—baca dan bisa dilihat di tautan berikut ini.

  1. 500 Days of Summer (2010) directed by Marc Webb

Gue asumsikan semua orang sudah pernah menonton film ini, maka gue tidak perlu menceritakan ulang betapa Summer (diperankan oleh Zooey Deschanel) dengan kecantikan fisik dan perangainya yang tidak masuk akal tersebut berhasil mengobrak-abrik kehidupan Tom (diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt) dalam waktu 500 hari. Inilah yang terjadi, wahai pria-pria pecundang asmara, jika kita berharap terlalu banyak dalam suatu hubungan yang tidak jelas dan bukan malah menikmatinya seakan-akan hal tersebut bisa berakhir kapan saja. Tidak semua wanita mengharapkan komitmen, dan jika memang komitmen yang kita cari sejak awal, maka jangan coba-coba bermain api dengan ketidakjelasan, secantik apapun rupanya. Bersenang-senanglah. Hidup cuma sekali, kawan.

  1. In Search of A Midnight Kiss (2007) directed by Alex Holdridge

Tidak ada pecundang asmara yang lebih pecundang dari seorang Wilson (diperankan oleh Scott McNairy), yang pada malam Tahun Baru tertangkap basah sedang masturbasi dengan foto seorang bintang porno yang wajahnya di-photoshop dengan wajah Min (diperankan oleh Katy Luong), kekasih dari sahabatnya sendiri, Jacob (diperankan oleh Brian McGuire). Kasihan dengan Wilson, Jacob menyarankan sahabatnya tersebut untuk mencari teman kencan menghabiskan malam Tahun Baru lewat Craigslist. Secara mengejutkan, Wilson yang menulis di kolom deskripsinya ‘misanthrope looking for misanthropee’ menerima panggilan ‘audisi’ dari seorang gadis bernama Vivian (diperankan oleh Sara Simmonds) untuk menjadi teman kencannya di malam Tahun Baru ini. Film dengan pengambilan gambar serta penggunaan warna monochrome yang terkesan indie-looking ini agaknya seperti ‘Before Midnight’ yang ceritanya berpusat pada percakapan menarik antar karakter utama pria dan wanita (dalam film ini Wilson dan Vivian) serta apa yang mereka alami dari sore hari hingga tengah malam pada perayaan Tahun Baru. Perbedaannya hanya terdapat pada karakter Vivian dan Wilson yang jauh lebih quirky dan lebih manusiawi.

  1. Punch-Drunk Love (2002) directed by Paul Thomas Anderson

Sebelum menonton film ini, penulis sedikit meremehkan kemampuan akting Adam Sandler yang tidak pernah memiliki peran yang cukup menantang di tiap filmnya. Namun seperti layaknya Robin Williams dan Jim Carrey (yang akan penulis bahas di nomor berikutnya), komedian ini mencoba untuk sedikit ‘melawan arus’ dengan menjadi Barry Egan, seorang eksekutif di sebuah perusahaan furnitur toilet yang melankolis, introvert, kesepian, namun memiliki kemauan untuk melawan yang cenderung destruktif. Barry bahkan membenci dirinya sendiri yang memiliki kepribadian pecundang dan pasif sehingga ia sering melampiaskannya dengan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Di tengah kesepiannya yang menyakitkan, ia bertemu dengan Lena Leonard (diperankan oleh Emily Watson) yang—setelah kencan pertamanya di sebuah restoran—memutuskan untuk melakukan business trip ke Hawaii. Didorong keinginan untuk kabur dari para tukang pukul yang mengejarnya karena penipuan kartu kredit yang ia lakukan pada sebuah agensi ‘phone sex’, Barry memutuskan untuk menyusul Lena ke Hawaii dengan membeli puding cokelat Healthy Choice sebanyak-banyaknya demi sebuah tiket pesawat gratis ke Honolulu. Membayangkan betapa menyedihkannya Barry Egan di film ini kurang lebih sama seperti berkaca pada cermin retak, ya, wahai pria-pria kesepian?

  1. Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) directed by Michel Gondry

Menjadi lupa dipandang sebagai hal yang sangat menyenangkan bagi manusia-manusia yang dirundung patah hati, namun bagaimana bila itu semua masih tidak cukup? Inilah yang Michel Gondry dan Charlie Kaufman coba ceritakan di Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Joel Barish (diperankan oleh Jim Carrey) mendapati mantan kekasihnya, Clementine (diperankan oleh Kate Winslet), telah menghapus segala ingatan tentang dirinya lewat sebuah prosedur eksperimental yang dilakukan oleh Dr. Mierzwiak (diperankan oleh Tom Wilkinson). Lagi-lagi, penyebab putusnya hubungan mereka ditengarai oleh sifat Joel yang introvert dan posesif terhadap Clementine. Tidak mau kalah, Joel pun merelakan dirinya sebagai bahan eksperimen berikutnya demi menghapus segala ingatannya tentang Clementine. Di tengah proses penghapusan, Joel, di dalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba memutuskan untuk berontak dan mengamankan Clementine dari segala sudut memori yang telah terhapus dan melakukan perjalanan waktu demi membawa kekasihnya kembali merasakan cinta yang dulu pernah mereka rasakan sebelumnya. Film ini menjadi istimewa karena eksplorasi narasi dan visual yang begitu imajinatif, scoring yang indah dari Jon Brion, serta peran Jim Carrey sebagai sesosok pria patah hati yang pemurung, nihilis, dan melankolis. Film ini membawa konsep ‘pecundang asmara’ ke ranah yang lebih umum, yaitu pada ketidakberdayaan seseorang untuk ‘move-on’ dari cinta yang telah karam.

her-movie-still-3

Setelah menonton film-film yang ada di dalam daftar ini, kita tidak hanya akan merenungkan kembali apa yang harus kita benahi dalam diri kita, namun juga mendapati bahwa sebenarnya pria pecundang asmara adalah sosok paling romantis yang sayangnya tidak mampu dipahami oleh gadis-gadis awam. Coba kita pikirkan kembali, bukankah itu sebenarnya hal yang baik? Proses seleksi alam akan terjadi dengan sendirinya sehingga apa yang kita dapati merupakan hal yang memang benar-benar terbaik dan cocok untuk kita. Jadi, mengapa harus khawatir, wahai pria-pria pecundang asmara? Cintailah diri kita sendiri dan berbahagialah dengan kesendirian ini, niscaya ketika saatnya gadis itu datang, akan banyak kebahagiaan yang dapat kita bagi bersamanya.

Honorable Mention: Breakfast at Tiffany’s (1961), Napoleon Dynamite (2004), Taxi Driver (1976), Nightcrawler (2014).

6 Film dengan Teka-Teki yang Tak Pernah Terjawab

Kita pernah dibuat terkagum-kagum oleh bagaimana Christopher Nolan mampu menyelipkan petunjuk-petunjuk kecil di balik misteri ending film Inception. Ya, sebagaimana layaknya sulap dan teori konspirasi bekerja, manusia adalah makhluk yang senang dibuat penasaran setengah mati oleh hal-hal yang ada di luar batas kemampuan bernalar mereka. Bahkan lingkungan pergaulan kita pun dengan sembarangan menciptakan sendiri sebuah istilah untuk film-film yang penuh teka-teki seperti Inception, yaitu “film mikir”.

Tidak seperti Inception, ada beberapa film dengan teka-teki yang ditinggalkan oleh sutradara dan penulisnya tanpa ada satu jawaban pasti dan hanya bisa diinterpretasikan oleh penonton dan kritikus film dengan berbagai macam cara. Meminjam istilah pergaulan kita, film-film yang bakal gue diskusikan di daftar ini bisa dibilang adalah “film-film mikir tingkat dewa”. Bagi kalian yang senang melatih kemampuan berpikir kalian dengan misteri-misteri yang rumit dan membingungkan, ini akan menjadi daftar film yang bisa membuat kalian merasa tertantang.

1. Eyes Wide Shut (1999) directed by Stanley Kubrick

Tentang Apa?: Setelah sang istri yang bernama Alice (diperankan oleh Nicole Kidman) mengakui bahwa ia pernah berfantasi seksual dengan seorang pria yang pernah ia temui, seorang dokter bernama Bill (diperankan oleh Tom Cruise) secara tidak sengaja mendapati dirinya terjebak di dalam lingkaran pengkultusan seksualitas dan perzinahan.

Apa Yang Membingungkan?: Beberapa penggemar teori konspirasi mempunyai dugaan kuat bahwa sang sutradara ingin mengungkap tirai dari organisasi rahasia umum yang beranggotakan para elit dan pemegang kekuasaan penting (Illuminati, Freemason dll). Segala detail yang ada di dalam film ini sangat merujuk ke arah sana, mulai dari dekorasi mansion Ziegler yang dipenuhi simbol-simbol politeisme Mesir kuno hingga penamaan karakter yang seakan menjadikan film ini sebagai alegori dari sebuah konspirasi besar di akhir zaman. Belum lagi ditambah fakta bahwa sang sutradara, Stanley Kubrik, meninggal tepat lima hari setelah ia menyerahkan potongan terakhir dari film ini kepada distributor film. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa alur cerita film yang membingungkan ini seperti memberi kesan bahwa apa yang dialami Bill hanyalah sebuah manifestasi psikologi terhadap obsesinya akan eksplorasi dan kepuasan seksual. Sampai sekarang, belum ada teori yang memuaskan tentang misteri dari film yang sangat gamblang menggambarkan sebuah kegiatan masquerade orgy ini, namun film ini tetap menjadi sangat menarik untuk disimak karena, yah, Tom Cruise dan Nicole Kidman.

2. Primer (2004) directed by Shane Carruth

Tentang Apa?: Sekelompok pemuda yang bereksperimen untuk membuat sebuah mesin waktu sederhana.

Apa Yang Membingungkan?: Jika ada teman kalian yang baru menonton film ini sekali dan bilang bahwa dia mengerti tentang keseluruhan ceritanya, maka entah dia adalah seorang pembohong atau delusional. Akan sangat jelas bagi kalian setelah menonton lebih dari dua kali bahwa Primer bukanlah sebuah film yang bersifat naratif dan mampu dijelaskan secara mudah. Beberapa kritikus film bahkan mengibaratkan Primer seperti sebuah dokumentasi para ilmuwan gila tanpa ada eksposisi yang jelas dan kita sebagai penonton seakan-akan hanya menguping percakapan dan mengintip kejadian yang tidak kita mengerti maknanya, namun sangat menarik untuk disaksikan. Ada beberapa teori yang dibuat oleh penonton yang bisa diandalkan untuk membantu kalian memahami cerita. Film ini tidak akan memberikan kalian kepuasan sains fiksi yang dipaparkan dengan sederhana seperti teori wormhole di Interstellar, namun jelas akan membuat kalian menebak-nebak dan menonton film ini lebih dari sekali.

3. Cache (2005) directed by Michael Haneke

Tentang Apa?: Sebuah keluarga diteror oleh kiriman kaset misterius yang berisi rekaman-rekaman pengamatan yang diambil dari luar rumah mereka. Lama kelamaan, sang peneror semakin merambah ke permasalahan pribadi serta rahasia-rahasia kelam di masa lalu sang suami yang selama ini ia sembunyikan dari istrinya.

Apa Yang Membingungkan?: Film ini awalnya terlihat biasa saja dan mudah dicerna sampai pada akhirnya kita dikejutkan pada kenyataan bahwa film ini TIDAK mengungkapkan siapakah sang peneror tersebut di akhir film. Kita akan mulai menonton ulang dan membaca semua pertanda-pertanda kecil yang diberikan sang sutradara sampai akhirnya kita selesai menonton dan masih tidak mengerti. Roger Ebert, kritikus film ternama, bahkan membahas film ini lewat jurnal pribadinya. Beberapa penonton juga menyebutkan bahwa ada beberapa petunjuk kecil di tengah alur cerita dan SATU petunjuk besar di adegan terakhir film ini yang ditinggalkan oleh sang sutradara untuk kita menebak sendiri. Gue sudah mengetahui apa petunjuknya, dan gue pribadi merasa itu masih belum cukup kuat. Entah. Silahkan kalian tonton sendiri.

4. Donnie Darko (2001) directed by Richard Kelly

Tentang apa?: Seorang pemuda dengan permasalahan psikologis bernama Donnie Darko (diperankan oleh Jake Gyllenhaal) mengalami keanehan-keanehan beruntun dalam hidupnya, termasuk mesin jet pesawat yang jatuh tepat di atas atap rumahnya dan kemunculan sesosok kelinci raksasa bertopeng tengkorak yang selalu menghantuinya.

Apa Yang Membingungkan?: Mungkin tidak terhitung jumlahnya betapa banyak teori yang dibuat oleh para penonton terkait apa sebenarnya yang dialami oleh Donnie dan mengapa dia melakukan hal-hal gila di dalam film yang mengeksploitasi eksistensialisme ini. Tidak seperti Primer, film ini koheren secara naratif dan teknis, sehingga tidak membuat para penonton kesulitan untuk mengikuti film ini dari awal sampai akhir. Belum lagi keberadaan kakak beradik Jake & Maggie Gyllenhaal yang bisa membuat lelaki dan perempuan betah untuk tidak beranjak dari layar. Namun ending film yang sangat gelap dan misterius akan menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi dari awal. Website resmi film ini pun memberikan penjelasan yang cukup sederhana–walaupun nggak sederhana-sederhana amat–namun jika kalian melihat kolom komentar dan membaca teori-teori yang dikemukakan oleh penonton lain, kalian akan sadar bahwa kompleksitas detail Donnie Darko akan menjadikan film ini jauh lebih baik ditinggalkan begitu saja dengan membiarkan penonton menjelaskan sendiri maknanya.

5. Mulholland Drive (1999) directed by David Lynch

Tentang Apa?: Betty (diperankan oleh Naomi Watts), seorang gadis yang mengejar mimpinya untuk menjadi aktris Hollywood, harus menolong seorang gadis amnesia yang selamat dari kecelakaan tragis (diperankan oleh Laura Harring) untuk menemukan siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya.

Apa Yang Membingungkan?: David Lynch, The Maestro of Bizarre, membuka film ini dengan sekuens yang…yah, artistically bizarre! Sekumpulan pasangan berdansa jitterbug dengan latar belakang magenta dan kemunculan Betty serta dua orang tua bermimik absurd yang merangkulnya sambil tersenyum ke arah cahaya terik yang menyinari mereka. Lalu kemudian alur film berjalan dengan sederhana sampai pada Act 3 yang mengacaukan dugaan kita tentang apa yang sebenarnya film ini berusaha ceritakan. Beberapa film kritikus menyatakan bahwa Mulholland Drive adalah sebuah teka-teki yang menyampaikan pesan penting tentang kondisi industri film Hollywood dan para pekerja serta aktrisnya yang sedang dirundung kekacauan pada masa itu. Lagipula, bukan teka-teki namanya kalau tidak ada petunjuknya. Sebelum dan sesudah film ini rilis, David Lynch menyatakan bahwa dia tidak akan mengungkap apa makna sebenarnya dari Mulholland Drive bagi sang sutradara sendiri. Namun layaknya Donnie Darko, beberapa penonton–yang sungguh berdedikasi tinggi–mempublikasikan petunjuk-petunjuk di website resmi film ini yang bisa kita gunakan untuk memecahkan misteri di balik keanehan Mulholland Drive.

6. Memento (2000) directed by Christopher Nolan

Tentang Apa?: Leonard Shelby (diperankan oleh Guy Pearce), seorang pria yang menderita short-term memory loss, harus mencari siapa pembunuh istrinya dengan melakukan investigasi independen dan mentato setiap petunjuk yang ia temukan di tubuhnya agar ia tak pernah melupakannya.

Apa Yang Membingungkan?: Sebelum Inception dan The Dark Knight, Christopher Nolan telah lebih dahulu membuat Memento, sebuah thriller masterpiece dengan struktur cerita yang expensively unconventional dan ending yang membuat kepala kita seakan meledak-ledak dan butuh jawaban pasti tentang siapa yang membunuh istri Leonard. Kita dibuat merasa konyol oleh Christopher Nolan yang telah memasukkan kita ke dalam kepala Leonard dengan mempertanyakan di akhir film apakah Leonard benar-benar dapat dipercaya karena Teddy (diperankan oleh Joe Pantoliano) yang kita curigai dari awal pada akhirnya menjadi satu-satunya tokoh yang paling mampu kita percayai. Apakah Leonard yang ternyata membunuh istrinya sendiri? Apakah ada permainan manipulasi di antara Leonard, Teddy, serta seorang bartender bernama Natalie (diperankan oleh Carrie-Anne Moss) yang memiliki femme fatale gestures? Tidak ada jawaban yang tepat tentang hal ini dan tidak seperti Inception, Nolan tidak memberikan pernyataan apapun terkait hal ini.

Sebagai penutup, perlu gue peringatkan satu hal. Tidak direkomendasikan bagi kalian untuk membuka tautan yang gue masukkan di artikel ini terkait petunjuk dan penjelasan untuk setiap film, kecuali kalian sudah menonton film-film tersebut lebih dari dua kali dan masih benar-benar tidak mengerti. Tantangan itu mahal, namun lebih mahal lagi harga yang harus kita bayar jika kita menjadi orang yang gampang menyerah terhadap tantangan. Jadi selamat menonton dan selamat bersenang-senang!

9 Film Keluarga Yang Paling ‘Disturbing’ dan Menjijikkan

Disturbing films? Ah, sudah biasa. Bagaimana dengan disturbing films yang bertemakan keluarga? Pastinya kalian akan sangat tertarik untuk menontonnya, dan tentunya akan lebih sarat dengan pesan moral yang membahas tentang betapa berharganya keluarga. Namun jangan pula berharap bahwa film-film ini aman untuk ditonton bersama istri/suami ataupun anak-anak dan orang tua kalian, karena seperti yang sudah gue terangkan di judul, ini adalah daftar film-film disturbing. Selain konten ketelanjangan dan kesadisan yang sangat tidak layak konsumsi untuk anak-anak, premis tiap film serta beberapa scene paling gila di dalam daftar film yang akan gue sebutkan ini berisiko membuat orang-orang yang tidak kuat mental untuk mengalami trauma berkepanjangan.

Jadi, segera tutup laman ini jika anda termasuk orang-orang bermental lemah tersebut. Tontonlah film-film keluarga yang bisa membawa aura positif buat anda, seperti Home Alone, Petualangan Sherina, atau Keluarga Cemara. Namun jika anda memang orang yang senang mencari pengalaman berbeda dalam mengeksplorasi film  dan sedikit ‘gila’, maka bersiap-siaplah. Bukannya gue merendahkan, gue cuma mengingatkan saja, sebelum semuanya terlambat…

So…here it goes.

1. The Exorcist (1973) directed by William Friedkin

Film ini sudah didaulat oleh sebagian kritikus film sebagai film horror terbaik sepanjang masa. Berkisah tentang seorang ibu (Ellen Burstyn) yang meminta pertolongan kepada dua orang pendeta (Max von Sydow dan Lee J. Cobb) untuk mengeluarkan sosok jahat bernama ‘Pazuzu’ yang merasuki anak perempuannya (Linda Blair). Sepintas terlihat sederhana dan umum karena tema seperti ini memang sudah sering dibahas oleh film-film horor modern. Tapi percayalah, anda tidak akan mampu tidur semalaman setelah melihat sosok si anak gadis kecil lucu yang berubah setelah dirasuki Pazuzu.

The Most Disturbing Scene:

“In the name of Father, Son, and Holy Spirit, let Jesus f*ck you motherf*cker!!” Ujar sang anak sambil menusuk-nusukkan salib kayu ke kemaluannya sendiri.

2. Antichrist (2009) directed by Lars von Trier

Sutradara asal Denmark ini memang sudah dikenal piawai dalam mengeksploitasi depression dalam setiap film yang ia arahkan. Film ini pun mengusung tema depression dengan dinamika alur yang lambat dengan visual treatment yang indah namun sangat mengerikan seperti berniat untuk menyiksa kita pelan-pelan. Seorang istri (Charlotte Gainsborough) yang depresi karena kematian anaknya mencoba untuk menenangkan dirinya dengan pergi bersama suaminya yang juga seorang psikiater (Willem Dafoe) ke sebuah kabin di tengah hutan pinus dan menjalani terapi pribadi di sana. Di luar dugaan, duka nestapa yang diderita sang istri semakin menjadi-jadi sehingga sang istri pun melakukan hal-hal gila yang tidak hanya menyakiti suaminya, namun juga dirinya sendiri.

The Most Disturbing Scene:

Banyak yang bilang genital mutilation di akhir film adalah scene paling mengerikan yang pernah mereka tonton. Bagi saya yang seorang pria–dan tentunya para pria yang lain–yang paling membuat saya mengerutkan dahi adalah scene ‘genital annihilation’ dari sang istri kepada sang suami.

3. Bedevilled (2010) directed by Jang Cheol-soo

Harusnya film ini gue tempatkan di list film-film dengan ending paling menyebalkan, tetapi mengingat karena film ini dari awal sampai akhir sudah sangat menyebalkan, jadi gue masukkan saja dalam list ini. Seorang wanita bernama Kim Bok-nam (Seo Yeong-hi) menjadi objek kekerasan seksual, fisik, dan mental bagi para penduduk–ya, termasuk keluarga dan suaminya sendiri–di pulau terpencil yang bernama Moodoo. Tidak ada seorang pun yang memihak padanya, bahkan suami dan ibunya pun memperlakukannya lebih buruk daripada binatang. Kim beberapa kali mencoba untuk kabur dari pulau tersebut, namun selalu gagal karena–sekali lagi–tidak ada yang memihak kepadanya. Saudaranya yang bernama Hae-won (Ji Seong-won) yang datang berkunjung pun tidak kuasa untuk menolongnya karena dia tidak ingin ikut campur urusan seluruh penduduk yang sepertinya sudah bersepakat untuk tidak akan membiarkan Bok-nam melarikan diri dari pulau.

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya hampir semua scene penyiksaan Bok-nam di film ini sangat menyakitkan untuk ditonton, tapi sekadar highlights buat kalian, coba tonton scene yang satu ini.

4. Dogtooth (2009) directed by Yorgos Lanthimos

Home-schooling gone extreme. Bayangkan kalian sebagai seorang anak dikurung oleh orang tua kalian di dalam rumah dan tidak diperbolehkan untuk keluar sejak kalian dilahirkan sampai gigi depan kalian tanggal.  Kalian dididik sejak kecil oleh orang tua kalian sendiri dengan kebohongan-kebohongan dan bahkan diajari cara menggonggong seperti anjing seakan-akan hal tersebut merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Kalian diajarkan bahwa kata “Laut” berarti sebuah kursi beralaskan kulit yang diletakkan di dalam ruang keluarga. Televisi hanya digunakan untuk menonton video yang direkam sendiri oleh keluarga di dalam rumah. Belum cukup? Masih ada kegilaan-kegilaan lain yang ditunjukkan dalam film yang berbicara tentang konservatisme di dalam keluarga ini.

The Most Disturbing Scene:

Mari berdansa!!

5. Strange Circus (2003) directed by Sion Sono

Seorang ayah sengaja menyembunyikan anaknya (Masumi Miyazaki) di dalam kotak cello setiap kali sang ayah menyetubuhi sang ibu agar sang anak dapat melihat dengan jelas kenikmatan mereka berdua dari lubang kotak. Setelah selesai dengan sang ibu, sang ayah kemudian mengeluarkan anaknya dari dalam kotak Cello dan lanjut menyetubuhi anaknya yang masih berusia 7 tahun itu. Sudah cukup jelas seberapa disturbing film ini? Belum, yang membuat film ini akan sangat membekas dalam hidup kalian adalah betapa elegan dan artistiknya Sion Sono dalam mengemas kekejaman demi kekejaman yang disajikan. Bayangkan saja ketika Debussy, Liszt, dan Bach yang mengiringi adegan penyetubuhan ayah pada anak kecilnya di film ini membuat kalian mempertanyakan moralitas kalian sendiri karena kenyamanan dan keindahan yang tidak seharusnya yang kalian rasakan saat menontonnya.

The Most Disturbing Scene:

6. Eraserhead (1972) directed by David Lynch

Gue tidak bisa menemukan cara yang benar-benar pantas untuk bisa mendeskripsikan Feature-film debut dari sang art-house film auteur David Lynch ini bagaimana dan seperti apa. Begini deh, coba kalian bayangkan sendiri bagaimana bila seorang gadis yang kalian pernah pacari dulu ternyata hamil, kemudian kalian nikahi, lalu setelah melahirkan ternyata anaknya menyerupai kadal–atau alien, atau makhluk dampak radiasi Chernobyl, atau apalah–yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara-suara mengerikan dan memuntahkan cairan-cairan kental seperti limbah industri dari mulutnya. Belum, itu belum semuanya, bahkan mungkin hanya 5% dari keanehan-keanehan yang entah bagaimana dapat tercipta dari kepala seorang manusia seperti David Lynch. Lewat list ini, gue officially mendaulat film ini sebagai “THE MOST BIZARRE FILM EVER” karena secara harfiah gue belum pernah menonton film yang lebih aneh dari ini.

The Most Disturbing Scene:

Ketika Henry (John Nance), sang suami, mengalami sebuah mimpi yang mengubah hidupnya,

7. Moebius (2013) directed by Kim Ki-duk

Another South Korean film! Kalau kalian pernah menonton 3-Iron (2004) atau Spring, Summer, Fall, Winter and Spring (2003), film ini diarahkan oleh sutradara yang membuat kedua film tersebut. Kali ini, Kim Ki-duk membahas tentang disfungsi keluarga yang berakar dari kecemburuan dan seksualitas dengan pendekatan yang ekstrim. Seorang ibu (Eun-woo Lee) yang mengetahui perselingkuhan suaminya (Jae-hyeon Jo) pada suatu malam berencana untuk balas dendam dengan diam-diam memotong kemaluan suaminya saat sedang tertidur. Sang suami yang terbangun tiba-tiba menjadi marah dan mendorong serta memukul sang istri yang kemudian langsung beranjak pergi. Tidak menyerah sampai di situ, sang istri malah pergi ke kamar anaknya yang sedang tertidur dan memotong kemaluan anaknya (Young-ju Seo). Sang ayah yang merasa bersalah terhadap anaknya kemudian mulai mencari cara agar sang anak bisa tetap mendapatkan kepuasan seksual tanpa harus mengandalkan kemaluannya. Film ini sakit, namun lucu dan mengerikan secara bersamaan oleh adegan potong memotong penis yang lumayan banyak dan juga adegan pelampiasan seksual algolagnia dengan menusukkan pisau pada pundak dan kemudian menggoyangkannya sambil mendesah nikmat. Kelebihan dari film ini adalah kita tetap mampu merasakan kehangatan dan intensitas serta kerenggangan hubungan antar karakter walaupun tanpa ada dialog dan komunikasi verbal maupun musical scoring sepanjang film berlangsung.

The Most Disturbing Scene:

Ada satu adegan di mana kekasih (yang lucunya diperankan oleh orang yang sama dengan yang memerankan sang ibu, Eun-woo Lee) dari sang anak berkomplot mencarikan sang anak penis baru untuk disambungkan lewat operasi. Sang kekasih merayu seseorang yang dulu pernah memperkosanya, lalu saat pemerkosa itu lengah, sang kekasih memotong kemaluannya, lalu sang anak mengambil kemaluan itu dan berlari ke tengah jalan. Sang pemerkosa yang panik mencoba bangkit lagi dan mengejar sang anak, dan dari sini lah kegilaan dimulai.

8. Visitor Q (2001) directed by Takashi Miike

Dari semua film yang ada di list ini, film besutan sutradara Crows Zero (2007) ini adalah yang paling lucu dan menggelikan, meskipun tetap menjijikkan dan sinting. Bercerita tentang disfungsi sebuah keluarga di mana sang anak perempuan (Fujiko) melacur pada ayahnya sendiri (Ken’Ichi Endo) yang pecundang dan sang anak laki-laki (Jun Muto) berumur belasan tahun yang tega memukuli ibunya sendiri (Shungiku Uchida) yang lemah dengan penggebuk kasur, seorang pria misterius (Kazushi Watanabe) memasuki keluarga tersebut dan menciptakan keseimbangan yang harmonis dengan kelakuannya yang sembarangan. Meskipun terlihat sangat tolol dan di luar batas, namun film ini berbicara sangat banyak tentang kehangatan sebuah keluarga yang harus dijaga dengan baik. Premis film ini memaparkan dengan baik apa yang Harper Lee tulis di To Kill a Mockingbird, “You can choose your friend, but you can’t choose your family, and they’re still kin to you no matter whether you acknowledge ’em or not, and it makes you look right silly when you don’t.”

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya ada scene yang lebih disturbing di mana sang ayah memperkosa mayat rekan kerjanya yang ia bunuh dan tiba-tiba seluruh isi perut mayat (iya, tai) keluar dan mengotori tangan sang ayah. Tapi coba kalian lihat dulu adegan breast-milking ini dan silahkan kalian nilai sendiri.

9. A Serbian Film (2010) directed by Srdjan Spasojevic

Terkenal oleh kontroversi kesadisan yang jauh melebihi batas wajar dan telah dilarang untuk tayang oleh banyak negara, film ini telah diakui sebagai film yang paling sinting dan ekstrim yang pernah dibuat. Seorang bintang film porno bernama Milos (Srdjan Todorovic) yang telah pensiun tiba-tiba mendapatkan tawaran kembali untuk bermain di pangsa pasar elit di Serbia dengan bayaran tinggi yang bisa menjamin kemakmuran hidup istri (Jelena Gavrilovic) dan anaknya (Slobodan Bestic). Milos tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan sampai pada akhirnya ia mengetahui bahwa ia harus terlibat dalam pembuatan film porno tersadis yang melibatkan kematian. Gue sudah pernah menonton The Human Centipede I dan II dan itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan film yang menyajikan seorang gadis yang kepalanya dipenggal oleh si pemerkosa saat sedang disetubuhi ini. Terlebih, film ini menyajikan ending yang tragis dan nihilis. Tidak ada alasan untuk kalian menonton film ini kecuali kalian memang ingin menantang diri kalian sendiri, dan jangan salahkan gue kalau kalian nggak kuat menonton sampai selesai. Kalian sudah diperingatkan.

The Most Disturbing Scene:

“NEWBORN RAPE! NEWBORN RAPE!” Scene yang membuat gue langsung mandi wajib setelah selesai menonton.