Category Archives: Opinion Articles & Previews

Tulisan-tulisan personal tentang bagaimana sang penulis menghubungkan hidupnya dengan film.

THE SUNSHINE BLOGGER AWARDS 2016

Suatu kehormatan bagi Distopiana untuk bisa turut serta meramaikan The Sunshine Blogger Awards 2016–yang kalau tidak salah pertama kali dicetuskan oleh Paskalis Damar lewat blognya, Sinekdoks. Terima kasih atas nominasi yang telah diberikan oleh Amelia Puteri, orang di belakang blog keren berjudul Marry The Fiction. Terakhir, kami juga harus berterima kasih kepada Jack Dorsey, karena tanpa Twitter, kami tidak akan pernah bisa mengenal orang-orang sekeren mereka.

Distopiana saya cetuskan pertama kali dua tahun yang lalu, saat saya sedang magang di salah satu korporasi yang bergerak di bidang sociopreneur sebagai social media specialist. Mulai awal tahun 2016 ini, saya menggaet Bunga Maharani, teman penulis yang saya temui sewaktu terlibat dalam proyek Gemuruh oleh Jakarta Movement of Inspiration (JKTMoveIn). Tidak kami duga-duga, Distopiana mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari kawan-kawan blogger dan penggemar film di media sosial. Kami sangat senang dengan kenyataan bahwa ada orang di luar sana yang menyukai celotehan kami tentang film-film yang berkesan di hati kami.

Oh, ya, saat ini, Bunga sedang sibuk menjalani orientasi mahasiswa baru di Universitas Udayana. Mari kita doakan semoga orientasi serta keseluruhan perkuliahannya berjalan lancar.

Now let me put the main rules of this award here:

  1. Post the award on your blog.
  2. Thank the person who nominated you. (thank you Amel!)
  3. Answer the 11 questions they set you.
  4. Pick another 11 bloggers. (and let them know they are nominated)
  5. Set them 11 questions.

So, here’s Tommy’s answer to the questions set by Amelia Puteri from Marry The Fiction.

  1. What is the last movie you have watched?
    Train to Busan.
  2. Based on the answer #1, tell me the reason why you choose to watch that movie?
    My colleagues in Iris Worldwide (Mbak Nurina, Mbak Romaria, Mbak Wulan, Bani, Enrico) loves horror movies. We have planned this movie trip as the film was highly recommended by Mbak Wulan, who really loves zombie movies. She ever took her 5 year old daughter to routinely watch The Walking Dead with her. Extreme mother, she is.
  3. Talking about awards, choose one: to watch The Academy/Oscars or Grammy?
    Oscars of course. I barely watched Grammy.
  4. Give me your “Top 5” actors and/or actresses!
    Ingrid Bergman, Julianne Moore, Philip Seymour Hoffman, Robin Williams, Jared Leto (f*ck Suicide Squad).
  5. Make a playlist of songs you listen when you are heartbroken!
    a. Bon Iver – I Can’t Make You Love Me.
    b. Labrinth – Jealous.
    c. Bright Eyes – Lover I Don’t Have to Love.
    d. Nine Inch Nails – Hurt.
    e. Damien Rice – My Favorite Faded Fantasy.
    f. Radiohead – True Love Waits.
    g. Jeff Buckley – Hallelujah.
    h. D’Masiv – Cinta ini Membunuhku.
    i. Bright Eyes – Lua.
    j. Beck – Guess I’m Doing Fine.
    h. Frightened Rabbits – Keep Yourself Warm.
  6. What is the last book you’ve read? Any kind of book works.
    “O” by Eka Kurniawan.
  7. Based on the answer #6, choose one sentence from the book that really grabs your attention/interesting!
    “Huh, manusia. Dari sampah kembali ke sampah.”
  8. If you could travel around the world, name a place you want to visit!
    Anywhere on the Northern Hemisphere. Norway is preferrable.
  9. Which one would you choose: the ability to go back to 5 years ago, or go forward to your future 5 years later?
    The ability to go back to 5 years ago and fix everything I’ve done wrong.
  10. Post your inspirational quote(s) you got from any movie!
    “I came.” – Happiness (1998).
  11. Last, watching a movie via streaming or download/torrent? (Ignore the speed of your internet connection)
    Torrent mostly, but I stream via Netflix once. Never tried illegal streaming site, because their compressed video resolution mostly sucks.

Untuk selanjutnya, saya akan menominasikan blog-blog berikut:

  1. Rekomendeath
  2. Tonight’s Read
  3. Cinemaudy
  4. PicturePlay
  5. Review Luthfi
  6. Catatan Icha Hairunnisa
  7. Si Ochoy
  8. Ruang Benak Ruby
  9. Dibaca Aja
  10. Yudo Nugroho

Saya harus mengosongkan satu slot karena teman-teman blogger saya tidak begitu banyak dan ada beberapa pula yang sudah dinominasikan oleh blogger lain.

*POST EDITED: MENAMBAHKAN DIBACA AJA DAN YUDO NUGROHO KE DALAM LIST BLOG NOMINATIONS.

11 pertanyaannya adalah:

  1. Apa film terakhir yang membuat Anda merasa feel-good?
  2. Jika ada production company yang cukup gila untuk memberikan modal 200 Juta US Dollar untuk Anda memproduksi sebuah film, film seperti apa yang akan Anda buat?
  3. Jika Anda harus memerankan seorang public figure dalam sebuah film biopik, siapa public figure yang menurut Anda cocok untuk Anda perankan?
  4. Berdasarkan pertanyaan #3, siapa aktor/aktris yang anda inginkan untuk memerankan kekasih sang publik figur?
  5. Buatlah sebuah playlist lagu yang dapat membangkitkan rasa percaya diri Anda!
  6. Sebutkan novel/komik yang sangat Anda inginkan untuk diadaptasi menjadi sebuah film!
  7. Berdasarkan pertanyaan #6, siapa yang Anda inginkan untuk menyutradarai film tersebut?
  8. Sebutkan 3 film terburuk yang pernah Anda tonton!
  9. Sebutkan 3 sekuel/prekuel film yang sangat anda inginkan untuk terwujud!
  10. Jika suatu saat Anda harus berubah menjadi seekor binatang dan Anda diharuskan untuk memilih, Anda ingin menjadi binatang apa?
  11. Terakhir, jika anda diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan mengubah sejarah peradaban, peristiwa apa yang akan anda ubah?

You can nominate other bloggers by passing it to them – I’m really thanking you for that, or just answer these questions on my comment section. But it’s better to pass it on, believe me.

Selamat bersenang-senang!

Oscars 2016 – Where Miracles Took Place

Hanya ada tiga kata yang mampu mendeskripsikan Oscars tahun ini: unity in diversity.

Mulai dari Chris Rock – everyone’s favorite person – yang mendapat kesempatan untuk memandu acara, set of nominees and winners yang tidak diduga-duga, sampai dengan Lady Gaga yang secara khusus mendedikasikan lagunya yang berjudul “Till It Happens To You” untuk para sexual assault survivors yang ada di luar sana.

Nah, sebelum kita membahas ketiga iconic moments diatas secara lebih lanjut, here’s some of the categories and nominees of this prestigious award show.

BEST PICTURE:

The Martian, The Revenant, Room, Bridge of Spies, Spotlight, The Big Short, Brooklyn, Mad Max: Fury Road

BEST ACTOR:

Matt Damon: The Martian, Leonardo DiCaprio: The Revenant, Michael Fassbender: Steve Jobs, Eddie Redmayne: The Danish Girl, Bryan Cranston: Trumbo

BEST ORIGINAL SONG:

Earned It: Fifty Shades of Grey, Manta Ray: Racing Extinction, Simple Song #3: Youth, Till It Happens To You: The Hunting Ground, Writing’s on the Wall: Spectre

1. Chris Rock’s Opening Monologue

First of all, let’s talk about how Chris Rock practically owned the stage. With his usual remarks and heartwarming jokes, he definitely proved everyone that his satirical comedy will never vanish into the thin air.

Tidak percaya?

Berikut sebagian monolog pembukaan upacara Oscars dari Chris yang lucu, sarkastik, dan secara tidak langsung berhasil menai kontroversi dari berbagai pihak dan awak media.

“Here is the crazy thing. This is the wildest, craziest Oscars to ever host because we got all this controversy — no black nominees. And people are like. “Chris, you should boycott! Chris, you should quit! You should quit.” How come it’s only unemployed people that tell you to quit something, you know? No one with a job ever tells you to quit.

So I thought about quitting. I thought about it real hard, but I realized, “They’re gonna have the Oscars anyway.” They’re not gonna cancel the Oscars because I quit! And the last thing I need is to lose another job to Kevin Hart, OK? I don’t need that! Kev, right there [points to Hart in audience]. Kev make movies fast! Every month! Porno stars don’t make movies that fast.

Ia pun mengakhirinya dengan sebuah tanggapan yang mengusung tema sexism dan racism yang ada di dunia perfilman Hollywood, mengundang tawa sekaligus decak kagum dari seluruh auditorium.

“Another big thing tonight — somebody told me this — you’re not allowed to ask women what they’re wearing anymore. It’s a whole thing: #AskHerMore. “You have to ask her more! You ask the men more!” Everything’s not sexism, everything’s not racism. They ask the men more because the men are all wearing the same outfits! Every guy in here is wearing the exact same thing! If George Clooney showed up with a lime green tux on, and a swan coming out of his ass, somebody would go, “Whatcha wearin’, George!”

Hey, welcome to the 88th Academy Awards!”

2. Leonardo DiCaprio’s First Oscar

Moving onto the greatest, most iconic event of the year – wait for it – Leonardo DiCaprio finally won an Oscar!

Dalam sepuluh tahun terakhir, sudah terlalu banyak memes dan canda tawa yang kita lontarkan mengenai DiCaprio yang sudah berkali-kali masuk ke dalam nominasi Oscar, tetapi tidak pernah mendapatkan piala impian tersebut, but for now, he finally got the golden trophy he deserves.

Acceptance speech dari DiCaprio yang membuat kita meneteskan air mata juga patut diacungi jempol. Tidak hanya berterima kasih kepada rekan-rekan kerjanya pada film The Revenant yang memberinya kesempatan untuk membawa pulang piala Oscar, DiCaprio juga membahas isu-isu penting yang sedang dihadapi dunia, yakni climate change dan environmentalism.

Berikut adalah sebagian dari transcript pidato DiCaprio yang singkat dan padat, tetapi berhasil memberikan dampak besar terhadap dunia perfilman tahun ini.

“And lastly, I just want to say this: Making The Revenant was about man’s relationship to the natural world.

A world that we collectively felt in 2015 as the hottest year in recorded history. Our production needed to move to the southern tip of this planet just to be able to find snow. Climate change is real, it is happening right now. It is the most urgent threat facing our entire species, and we need to work collectively together and stop procrastinating.

We need to support leaders around the world who do not speak for the big polluters, but who speak for all of humanity, for the indigenous people of the world, for the billions and billions of underprivileged people out there who would be most affected by this. For our children’s children, and for those people out there whose voices have been drowned out by the politics of greed. I thank you all for this amazing award tonight. Let us not take this planet for granted. I do not take tonight for granted. Thank you so very much.”

3. Lady Gaga’s Heartbreaking Song

Meskipun lagu “Till It Happens To You” yang merupakan original song dari film dokumentasi The Hunting Ground belum berhasil membuat Lady Gaga membawa pulang piala Oscar, semua mata tertuju padanya malam itu.

Gaga menegaskan bahwa lagu tersebut ia dedikasikan untuk para korban kekerasan seksual yang masih memiliki kesulitan untuk memperjuangkan hak mereka. Bahkan, pada salah satu interview-nya dengan Elvis Duran & The Morning Show, dengan berani Gaga juga bercerita tentang pengalaman pribadinya mengenai sexual assault yang pernah ia alami, yang pada akhirnya menjadi salah satu influent terbesar dalam penulisan lagu ini.

Ia berkata, “I feel physical pain and there’s a lot of other people that suffer from chronic pain who have been through a traumatic experience. I actually suffer from chronic pain all the time, and it’s from this paralyzing fear that I’ve experienced for almost 10 years.”

Meskipun pada akhirnya piala tersebut dimenangkan oleh Sam Smith dengan lagu “Writings On The Wall” dari Spectre, yang juga dengan berani mengusung tema LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), pertunjukan yang dibawakan Gaga tetap membuktikan bahwa sebuah lagu dapat memberikan impact yang besar bagi siapapun yang mendengarnya.

Berikut adalah sebagian dari acceptance speech milik Sam Smith, yang juga membuat seluruh auditorium tercengang dan bertepuk tangan, even Lady Gaga herself who’s been known as a very devoted activist for the LGBT community.

“I read an article a few months ago by Sir Ian McKellen and he said that no openly gay man had ever won an Oscar. And if this is the case, even if it isn’t the case, I want to dedicate this to the LGBT community all around the world. I stand here tonight as a proud gay man, and I hope we can all stand together as equals one day.”

image

Akhir kata, Oscars 2016 merupakan satu dari sekian acara penghargaan yang berhasil membuktikan bahwa stereotypes will never take place unless you start it yourself. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, tidak ada kata kecewa untuk sebuah kekalahan, dan tidak ada kata biasa untuk sesuatu yang sebenarnya luar biasa. It’s all about perspectives, finding your true selves and embracing the flaws you’re never been comfortable with.

The Rise of DC against Marvel: San Diego Comic-Con 2015 Footage Review

Bagi seorang film and comic geek, tahun 2016 dan selanjutnya adalah saat-saat terindah bagi mereka untuk menikmati hidup. Sejak kesuksesan komersil Iron Man (2008) dan Man of Steel (2013), dapat dipastikan akan terjadi pertempuran sengit antara dua produsen raksasa film-film superhero Hollywood: Marvel Studios dan DC Entertainments. Seberapa sengitkah pertarungan ini kelak? Mari kita diskusikan.

Kita tahu bahwa Marvel Studios sudah beberapa langkah lebih jauh dari DC Entertainments dalam penciptaan dan pembangunan cinematic universe. Marvel Studios sudah memulai inisiasi pembentukan sejak Iron Man (2008) dan telah sukses memproduksi 11 film–termasuk dua film kolaborasi superhero The Avengers (2012) dan Avengers: Age of Ultron (2015)–dan 7 serial TV. Terhitung pendapatan Box Office yang dihasilkan dari 11 film tersebut mencapai $7,160,192,712 (BBC.com, 2015). Sementara DC Entertainments masih berkutat di angka $668,045,518 (Box Office Mojo, 2015) yang dihasilkan oleh Man of Steel (2013). Melihat dari sini saja rasanya sudah sangat tidak adil bila membandingkan Marvel dan DC lewat fakta konkrit seperti seberapa besar pendapatan yang telah  mereka hasilkan.

Namun mari kita coba prediksi ke depan. Saat DC Entertainment pertama kali mengumumkan tentang rencana produksi untuk sekuel Man of Steel (2013) yang akan dirilis pada Maret 2016 dan berjudul Batman v Superman: Dawn of Justice (BvS), banyak publik berspekulasi liar bahwa film ini akan gagal total karena selain persepsi awam mereka tentang ketidakseimbangan pertarungan antara manusia biasa dan dewa, sosok Bruce Wayne yang diperankan oleh Ben Affleck dinilai tidak akan mampu terlihat lebih baik dari yang diperankan oleh Christian Bale pada trilogi Batman yang sebelumnya sudah diproduksi dengan sempurna oleh Christopher Nolan dan Legendary Pictures (bahkan menurut MovieWeb.com, ada 30 petisi online yang dikeluarkan oleh publik untuk meminta Warner Bros. Pictures dan DC Entertainment mencopot Ben Affleck dari perannya sebagai Batman). Di luar dugaan, pada pergelaran San Diego Comic Con (SDCC) 2015 (9-12/5), DC Entertainment merilis official poster & trailer untuk BvS dan secara mengejutkan mendapatkan respon yang sangat positif dari publik.

Bagaimana tidak? Lihat saja pertarungan yang melibatkan Batsuit, Laser-Beam, dan Gal Gadot sebagai Wonder Woman tersebut. Sekali lagi, menimbang bahwa Bruce Wayne adalah manusia biasa dan Kal-El adalah dewa yang datang dari planet asing, mereka terlihat sangat imbang dan mampu menimbulkan kehancuran yang luar biasa terhadap satu sama lain. Bisa jadi ini karena tidak adanya lagi campur tangan dari pihak Legendary Pictures dan Syncopy dalam produksi BvS. Plot dan motif dari konflik Batman dan Superman pun kini terlihat lebih jelas. Kehancuran yang ditimbulkan pada pertarungan antara Superman dan General Zod di Man of Steel (2013) membuat Bruce Wayne menganggap bahwa Superman adalah ancaman terbesar umat manusia dan harus dihentikan. Hal ini mampu melemahkan pandangan sebagian kritik bahwa Zack Snyder sebagai sutradara dan David S. Goyer sebagai penulis telah gagal membangun image seorang superhero saat memutuskan bahwa resolusi terbaik di film Man of Steel (2013) dapat diperoleh Superman dengan mematahkan leher General Zod dan membunuhnya–kemudian menangis. Ending yang cukup kontroversial itu ternyata malah membuka lebar-lebar ruang untuk Zack mengeksplorasi plot yang lebih kompleks dan gelap–dengan tetap berpegangan pada kitab DC Comics–untuk kemudian disajikan di BvS.

Pada tahun yang sama, DC Entertainment juga berencana untuk menayangkan Suicide Squad, sebuah film yang berkisah tentang tim DC supervillains yang menerima misi rahasia dari pemerintah yang mungkin akan berakhir dengan kematian mereka. Kali ini, optimisme sedikit muncul dari publik terkait sosok Joker yang akan diperankan oleh Jared Leto. Kehebatannya dalam mendobrak standar akting Hollywood lewat totalitas peran dan pengubahan wujudnya sudah diakui oleh khalayak luas berkat Requiem for A Dream (2001), Chapter 27 (2007), dan Dallas Buyers Club (2013) sehingga kali ini banyak yang percaya dia akan berhasil memerankan Joker dengan sangat baik–walaupun mungkin tak akan bisa sebaik Heath Ledger di The Dark Knight (2008). Layaknya BvS, DC Entertainment juga merilis official footage dari Suicide Squad pada SDCC 2015 dan kembali mendapatkan respon positif dari publik.

The Joker looks pretty f*cked up. In a positive way.

Daya tarik yang ditimbulkan dari trailer Suicide Squad tersebut tidak hanya datang dari Joker, namun juga dari Margot Robbie sebagai Harley Quinn dan Cara DeLevingne sebagai Enchantress. Sekilas terlihat bahwa departemen artistik telah melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk menciptakan desain produksi, make-up, dan kostum yang tidak hanya membuat mereka terlihat jahat namun juga sangat gila. Sejujurnya, gue berharap banyak banget dari film ini.

Pergelaran SDCC 2015 kemarin sayangnya tidak dihadiri oleh panel dari Captain America: Civil War yang juga akan keluar tayang pada 2016. Meskipun begitu, Marvel Studios tetap tidak mau ketinggalan dengan mendatangkan panel dari Deadpool, sebuah film super anti-hero yang akan ikut mengisi keramaian pertarungan Marvel vs. DC di tahun 2016. Publik khususnya para penggemar Marvel universe sesungguhnya sangat antusias menantikan film ini karena sosok Deadpool yang terkesan sadis, kasar, namun humoris. Ryan Reynolds yang akan memerankan tokoh Deadpool di film ini pun mengungkapkan bahwa Marvel Studios telah memberikan izin untuk membuat ‘Rated-R’ Deadpool (lebih banyak kata-kata kasar, lebih banyak kesadisan, dan mungkin…lebih banyak adegan seks dan ketelanjangan) yang agak sedikit ironis karena film ini menjadi tidak boleh ditonton anak-anak. Official footage pun dirilis di pergelaran ini, yang kemudian diakhiri standing applause yang meriah dan sorakan ‘We Want More’ dari para peserta SDCC 2015 saat selesai menontonnya. Sayangnya, kita yang tidak bisa menghadiri SDCC 2015 harus menunggu sampai official footagenya dirilis untuk publik luas pada Agustus 2015.

Gue adalah orang yang percaya bahwa sesuatu yang luar biasa akan muncul setelah kegagalan yang luar biasa, dan melihat dari kegagalan Green Lantern serta antusiasme dan respon positif publik terhadap Suicide Squad dan BvS, gue berani bilang bahwa DC akan mampu bersaing dalam pertarungan sengit melawan Marvel di tahun 2016 ini dan di tahun-tahun yang akan datang. Meskipun tidak dapat dipungkiri Captain America: Civil War juga mampu menarik antusiasme gila-gilaan karena adanya kemunculan Spiderman sebagai salah satu anggota baru The Avengers, namun gue dan mayoritas peserta SDCC 2015 (ngga, gue ngga dateng) menilai bahwa DC telah mampu mengubah pandangan skeptis publik tentang BvS dan Suicide Squad dan mereka akan sukses merebut hati masyarakat dunia dengan ciri khas ala DC sendiri.

Biarpun begitu, gue ngga berani bilang bahwa DC akan memenangkan pertarungan sengit ini, karena selain Captain America: Civil War dari Marvel Studios, Deadpool juga diprediksi bakal jadi salah satu ‘mega-hit’ di International Box Office. Menurut gue tidak masalah siapapun yang akan menang, pertarungan ini akan menjadi sangat menarik dan sangat layak untuk kita nikmati. Begini saja, ketika Marvel Studios berhasil menjaring pendapatan dan memuaskan penonton lewat atmosfer superheronya yang colorful dengan bumbu-bumbu humor segar seperti yang sudah mereka lakukan di Guardians of The Galaxy (2014), The Avengers (2012), dan Avengers: Age of Ultron (2015), DC Entertainment akan menghajar Box Office habis-habisan lewat tone yang gelap, depressing, dan twisted seperti yang akan mereka lakukan pada BvS dan Suicide Squad. Maybe they’re not gonna win…

“But DC Entertainments are just gonna hurt you really, really bad…”

Nonton Film di Bioskop Sendirian? Siapa Takut?

Pola sosial yang terbentuk pada masyarakat perkotaan dengan jumlah bioskop yang membludak membuat suatu pandangan bahwa menonton di bioskop HANYA merupakan salah satu cara untuk mengisi waktu luang bersama kerabat dan teman dekat. Paradigma ini nyatanya juga secara tidak langsung mempengaruhi pandangan mereka terhadap orang-orang yang memilih untuk menonton film di bioskop sendirian. Segala macam cap mereka lontarkan sembarangan, seperti “Kasian banget sih lo kayak ngga ada temennya” atau  “Duh, jomblo ya? Makanya cari pacar gih biar ngga ngenes-ngenes banget”, atau bahkan yang sedikit ekstrim seperti “dasar freak”. Gue pribadi–yang memang termasuk senang menonton film sendirian–sering dipandang sinis bahkan sama mbak-mbak penjual tiket di bioskop karena pas ditanya “buat berapa orang?” gue cuma jawab “satu aja”. Kebiasaan labeling seperti ini membuat orang-orang yang senang untuk menonton sendirian di bioskop merasa rendah diri atau bahkan menjadi kapok untuk menonton sendirian lagi.

Tapi serius deh, apa salahnya sih menonton di bioskop sendirian?

Lewat artikel ini gue akan mencoba mewakili para individual moviegoers (yang senang menonton di bioskop sendirian) untuk menjelaskan pada collective moviegoers (yang tidak mau menonton di bioskop kalau ngga ada yang menemani) bahwa mereka punya alasan yang lebih kuat terhadap kebiasaan mereka menonton film sendirian di bioskop daripada sekedar ‘ngga ada yang mau temenan sama gue’.

1. Apresiasi dan Rasa Cinta yang Tinggi

Please deh, untuk beberapa collective moviegoers yang sering memandang rendah para individual moviegoers, coba kalian renungi lagi kenapa kalian memandang mereka seperti itu. Di saat kalian, collective moviegoers, memandang film hanya sebagai sebuah hiburan numpang lewat yang akan kalian lupakan di kemudian hari (meskipun secara obyektif tidak ada salahnya untuk berpikiran seperti itu), namun para individual moviegoers lebih melihat film sebagai sebuah medium penyampaian pesan yang penting untuk diserap dan/atau karya seni yang patut diapresiasi. Belum lagi bagi para geek yang tergila-gila dengan beberapa sutradara atau cast film yang orang awam jarang mengenal, seperti Wes Anderson, Takeshi Miike, Meryl Streep, (alm) Philip Seymour Hoffman dll. Kalau mereka tidak menganggap film itu penting, untuk apa mereka menyusahkan diri datang ke bioskop sendirian dan mengeluarkan uang sebanyak demikian?

2. Pendirian dan Prinsip yang Kuat

Sudah jelas, bukan? Mungkin beberapa dari collective moviegoers mempunyai kecintaan dan pikiran yang sama terhadap film layaknya individual moviegoers seperti yang sudah gue terangkan di poin sebelumnya, namun karena pendirian dan prinsip mereka yang mudah goyah, mereka akhirnya menjadi minder dan lebih memilih untuk mengabaikan rasa cinta dan apresiasi mereka hanya karena tidak ingin dianggap freak atau forever alone oleh lingkungan sekitar mereka. Kalau gue jadi Rangga di film Ada Apa dengan Cinta (2002), gue bakal ngatain mereka “Kayak ngga punya pendirian aja sih”, namun jujur sebenarnya gue bersimpati terhadap collective moviegoers seperti ini, karena memang pada dasarnya manusia memang peduli dengan kasih sayang dan image pribadi mereka, namun baca artikel ini sampai selesai dan gue akan jelasin kenapa mereka patut untuk memperkuat pendirian dan prinsip mereka. Untuk individual moviegoers, selamat!

3. Sense of Intimacy

Tak bisa dipungkiri, individual moviegoers punya suatu hubungan yang erat dan sakral dengan film yang berakar dari dua poin yang gue sebutkan sebelumnya: rasa cinta, apresiasi, pendirian, dan prinsip. Jika kalian merasakan dengan seksama, akan ada sesuatu dalam diri kalian yang berubah setelah kalian menonton sebuah film. Entah kalian akan merasa jauh lebih badass, melankolis, atau bahkan bisa merujuk pada gejala psikosomatis, tergantung film yang kalian tonton. Pas dulu gue menonton premiere The Raid 2 (2014), gue merasa badan gue sakit semua setelah film selesai, dan gue langsung ingin pergi ke panti pijat atau spa terdekat, namun di satu sisi gue juga merasa lebih perkasa, tangguh, dan bahkan lebih ‘terbakar’ daripada sebelumnya. Hal inilah yang sebenarnya menjadi prioritas bagi sebagian individual moviegoers. Film itu seperti narkotik bagi mereka, dan mereka harus fokus untuk bisa merasakan pengalaman yang berbeda-beda secara total tanpa harus ada campur tangan atau pengaruh dari orang lain yang menonton bersama mereka. Kalau yang namanya menonton bersama orang lain, pasti mereka akan diajak mengobrol ataupun diberikan opini-opini (yang terkadang tidak relevan) yang akan mengganggu konsentrasi mereka. Bagi mereka, “Ngapain menonton bareng orang lain? Ganggu doang.”

4. Idealisme Pilihan Film

Ini sebenarnya alasan paling sederhana yang memang benar adanya bagi para individual moviegoers. Kalau kalian pergi ke bioskop sendirian, nggak akan terjadi perdebatan sengit dengan pihak lain tentang film apa yang harus kalian tonton, dan bagi sebagian pecinta film yang kurang digandrungi masyarakat awam, menonton sendirian tidak akan membuat mereka harus mengalah terhadap keputusan mayoritas. Ini perihal kebebasan memilih, Bung!

5. The Joy of Solitude

Shia-LaBeouf-Watching-His-Own-Movies-Pictures

Poin ini sebenarnya hanya berlaku bagi para introvert, individualis, dan bahkan juga para anti-sosial. Film adalah sarana untuk menyalurkan hasrat eskapis mereka yang sudah merasa cukup muak terhadap omong kosong dan kepalsuan realita, dan agak hipokrit bagi mereka untuk menonton film dengan ditemani oleh bagian-bagian dari realita mereka yang mereka anggap busuk. Mereka ingin istirahat sejenak dan meluncur di atas kereta wisata menuju dunia yang dirancang sang sutradara. Sendirian. Mungkin bagi sebagian orang, ini bukan alasan yang baik, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan harus berbagi kebahagiaan satu sama lain. Namun dipandang dari perspektif eksistensialisme, terlepas dari segala macam klise dan jargon tentang kebersamaan, kita semua berjalan sendirian di dunia ini, dari hidup sampai mati. Terhadap mereka yang berpikiran seperti itu, sah-sah saja buat gue. Atau ada pula dari mereka yang sebenarnya secara sosial tidak canggung, namun mereka manusia mandiri yang sudah mengerti bahwa satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan mereka hanyalah diri mereka sendiri, dan mereka tidak mau repot-repot membujuk teman mereka yang sedang sibuk untuk menonton bersama-sama, pun tidak menganggap itu sebagai halangan untuk menonton film yg ingin mereka tonton.

Ada begitu banyak alasan yang logis dan relevan untuk kalian sebagai individual moviegoers untuk melanjutkan kebiasaan kalian menonton film sendirian di bioskop, dan untuk para collective moviegoers, semoga artikel ini bisa memberikan kalian pandangan baru untuk belajar memahami serta tidak melemparkan sembarang labeling pada individual moviegoers yang bisa menyakiti perasaan dan self-esteem mereka, apalagi sampai merusak image mereka di mata lingkungan sosial mereka. Pada akhirnya, kita sama-sama manusia yang senang menonton film. Buat apa saling merendahkan satu sama lain?