Category Archives: Reviews

Ulasan seputar film-film yang berkesan untuk dibahas

Headshot (2016) – A Tremendous Shots of Empty Shells

Iko Uwais melawan Julie Estelle dan Very Tri Yulisman, aksi bela diri yang brutal, serta tone film yang cenderung gelap dan penuh ketegangan. Rasanya sangat tidak mungkin untuk tidak membandingkan film yang disutradarai oleh Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto ini dengan The Raid 1 & 2 yang notabene menjadi pedoman dalam film aksi modern Indonesia. Mengingat Iko, Julie, dan Very juga sempat terlibat di dua project The Raid besutan Gareth Evans tersebut, penonton awam seperti saya akan otomatis bertanya-tanya, “Apa bedanya Headshot dengan The Raid?” dan sesungguhnya jika mempertimbangkan ketiga unsur yang telah saya sebutkan di atas, itu adalah pertanyaan yang tidak bisa disalahkan. Mengapa pula menghadirkan tiga aktor serupa ke dalam film aksi dengan warna dan rasa yang sama namun tidak ada kaitan cerita sama sekali dengan film sebelumnya?

Seorang pria misterius (dibintangi oleh Iko Uwais) terbangun di sebuah rumah sakit, tidak mengingat siapa namanya dan apa yang terjadi pada dirinya. Di sampingnya, seorang dokter-dokteran kawaii bernama Ailin (diperankan  oleh Chelsea Islan) menemaninya dengan sabar dan penuh kasih sayang, meskipun ia tidak tahu siapa lelaki itu sebelumnya dan apa yang telah ia perbuat. Ailin menamainya Ishmael, berdasarkan karakter yang ia temukan di novel Moby Dick yang ia baca saat menunggui pria itu sadar. Serangan demi serangan menimpa mereka tanpa alasan yang jelas, Ailin disandera oleh segerombolan orang yang mencari Ishmael, dan Ishmael harus mencari tahu tentang siapa sebenarnya dirinya dan menyelamatkan Ailin dari cengkeraman pria bernama Lee (diperankan oleh Sunny Pang) sebelum semuanya terlambat.

Sebagai film yang serupa tapi tak sama dengan The Raid ini, Headshot tidak menawarkan banyak hal-hal baru. Malah, bagi saya, film ini terasa seperti sebuah The Raid dengan plot Bourne-ish yang kurang detail. Tidak ada kejutan yang besar ataupun plot twist yang mindblowing dalam film ini, jadi jangan berharap terlalu banyak, karena semua akan mudah kalian tebak bahkan saat kalian baru sampai di pertengahan babak kedua film. Oke, beberapa adegan seperti bus on fire scene dan police station raiding scene cukup inovatif, menegangkan, dan menghibur di mata penonton umum, namun jika kamu penggemar film-film aksi Jepang dan Korea Selatan (terutama karya-karya Takashi Miike, Park Chan-wook, dan Kim Jee-woon) semua akan terasa seperti deja vu yang diwarnai dengan sekuens kamera yang terlalu sering berotasi mengelilingi para petarung saat sedang serius baku hantam. Take one shot of whiskey every time the camera starts to rotate, and you will get hopelessly wasted at the end of the film.

Dosa terbesar The Mo Brothers di film ini adalah: memberikan peran Ailin, the damsel-in-distress, kawaii-oriented doctor, pada Chelsea Islan. Awalnya saya berpikir ia akan berlaga sebagai dokter cantik yang ternyata memiliki kemampuan bela diri sehebat Iko Uwais, sehingga mereka bisa saling tandem, mengingat track-record Chelsea yang selalu berhasil memerankan gadis petarung yang tangguh, cerdas, dan independen (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, 3Srikandi, Di Balik 98). Ternyata saya salah, dan saya kecewa teramat besar saat mengetahui bahwa potensi terbaik Chelsea disia-siakan di film ini. Saya jadi tidak habis pikir, banyak aktris-aktris kualitas sinetron yang bisa mereka berikan kesempatan lebih untuk tampil di sebuah film bergengsi yang ditayangkan di banyak festival film mancanegara ini dengan memerankan karakter Ailin. Sungguh, mereka akan dengan lebih mudah menyatu dengan persona yang dibutuhkan, karena sejujurnya memang penulisan dan pembangunan karakternya secetek itu. Chelsea Islan memang harus diakui mempunyai fitur penampilan yang kawai: kulit putih mulus, rambut lurus, wajah cantik dan lucu, apalagi jika dipakaikan kacamata. Namun dengarkan saja suaranya yang tegas dan rasakan persona yang keluar dengan kuat saat ia berbicara, maka kamu akan menyadari bahwa kamu bahkan jauh lebih cerdas dari pada produser dan sutradara yang memilih Chelsea sebagai Ailin.

Jika kamu sudah menonton trailernya dan menyangka bahwa ada suatu kesalahan fatal dalam karakter Ailin, maka percayalah prasangka kamu benar adanya.

Tentu ada beberapa aspek dalam film ini yang patut kita puji, seperti penggunaan koreografi aksi sebagai medium dalam menyampaikan emotional connection yang terjadi pada tiap-tiap dari mereka yang bertarung. Tiga sekuens pertarungan terakhir (Besi, Rika, dan Lee) cukup efisien bercerita tentang latar belakang emosional para tokoh antagonis dengan Ishmael lewat jurus-jurus yang dikeluarkan, ekspresi wajah, serta dialog yang sangat minimalis. Cukup mengesankan, mengingatkan kita dengan film-film laga Bruce Lee dan Jackie Chan. Yak, betul, sekali lagi jangan mengharapkan ada sesuatu yang otentik dan segar dalam film ini, karena meskipun Headshot dieksekusi dengan maksimal dan punya production value yang terlihat megah, semuanya hanya pengulangan yang terlalu sering diulang-ulang.

Film aksi memang seharusnya memberikan penekanan pada skenario-skenario yang memacu adrenalin, namun dengan premis film yang terlalu banal dan banyak lubang serta ketidaksempurnaan pada keutuhan logika plot dan karakter, Headshot lebih terasa sebagai rangkaian koreografi bela diri yang repetitif dan predictable dengan dibumbui percintaan unyu-unyu. Bukan sebagai sebagai cerita yang utuh, otentik, segar, kontekstual, dan menyentuh.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Anomalisa (2015) – Modus Anomalisa

Ada kalanya saat mengulas film yang bikin baper, saya butuh waktu untuk sendirian, lalu meringkuk di atas kursi kerja sambil merenungi rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dada saya. Namun ada kalanya juga, saya harus membicarakan beberapa hal yang saya rasa perlu dipaparkan lewat dua sudut pandang yang berbeda agar komprehensif dan tidak bias. Untuk itu, dalam mengulas film Anomalisa, saya mengajak Icha Chairunnisa, salah seorang blogger kondang asal Samarinda yang juga sering ngebaperin film-film yang sudah ia tonton di blognya, Terketik. Film yang istimewa, tentunya harus diulas dengan cara yang istimewa, dan ulasan kali ini akan saya paparkan dengan bentuk rekap hasil korespondensi saya dengan Icha.

[CHAPTER 1]

T : “Halo Ichaa, Kapan nih kita baperin Anomalisa?”

I : “Hai Tommy! Ayok kita mulai sekarang baperinnya. Hehehe. Aku suka filmnya! Dan aneh sih, aku pas nonton adegan Lisa dan Michael lagi beradegan ena ena, aku ngomong ‘Film animasi nakal!’ berkali-kali. Awalnya aku bingung sih kenapa suaranya kok sama semua. Mulai dari orang yang duduk di sebelahnya waktu di pesawat, di hotel, nggak cewek nggak cowok. Bahkan mantannya yang namanya Bella itu pake suara cowok. Bajingak. Geli nontonnya. Ngakak gitu aku.”

T : “Tapi pada akhirnya kamu ngerti kan itu kenapa?”

I : “Hmm… kalau yang aku baca dari review soal film itu, suara cewek pake suara cowok dan semua suara orang di situ sama semua, menandakan betapa membosankannya hidupnya Michael. Dia nganggap semuanya sama. Kalau nggak salah, itu ada di ilmu psikologi gitu ya. Fregoli Syndrome kalau nggak salah.”

T : “Yup, betul, every girl is just another boring person for him, kecuali Lisa…”

I : “((KECUALI LISA))”

T : “…dan ketika suara Lisa menjadi berat dan Michael ogah-ogahan, itu juga karena dia udah bosen sama Lisa.”

I : “Oooh….. secepat itu dia bosen sama Lisa? Trus yang dia pidato hancur-hancuran itu? Itu dia maksudnya curhat colongan ya?”

T : “It’s because he literally can’t stop thinking about her, and what happened between him and her. Lisa itu sama-sama korban kayak Bella. Korban PHP. Korban ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Korban cowok ilfil yang nggak bisa konsisten sama perasaan dia sendiri.”

I : “AAAH! Jadi, Michael itu memang tipe orang yang bosenan? Madefaqa. Eh, kamu ngerasa relate nggak sih, Tom? Wkakakakaka.”

T : “Aku pernah jadi Michael dan juga jadi Lisa. Tapi lebih sering jadi Lisa sih HAHAHA.”

I : “Wuahahaha. Lebih sering jadi Lisa. Yakin? :p”

T : “Hmm…gimana yah? Udah ah lanjut ngomongin Anomalisa wqwq…”

I : “Ih dasar, mengalihkan perhatian wkwk. Aku pikir karakter Michael itu mirip sama karakter Theodore-nya Her. Soalnya filmnya sama-sama tentang kesepian gitu kan. Tapi ternyata…”

T : “Nah justru film ini mengajak kita untuk mengerti sebenarnya apa yang si manusia PHP ini rasakan. Pertanyaannya adalah: Kamu pernah jadi Michael atau Lisa nggak? Hehe hehe~”

I : “Aku pernah jadi Lisa. Aku pernah ceritain itu di blog. Dan kasusnya sih mirip-mirip kayak film Anomalisa. Aku kayak Lisa yang rendah diri, pemalu, minderan, dan ngerasa waaaaw banget pas orang yang aku idolain itu deket sama aku dan bilang suka sama aku.”

T : “Hmmm ya ya.  Coba gimana detailnya?”

I : “Kejadiannya udah lama sih. Hahaha. Kalau boleh curhat nih, basah sekalian, dia itu komika. Dulu aku ngedukung dia penuh pas ikut SUCI. Nontonin dia kalau Open Mic. Dan nggak nyangka aku bisa deket sama dia. Padahal waktu itu aku punya pacar. Hahahaha.”

T : (menyeruput kopi)

I : “Tapi lama kelamaan dia ngejauh. Tanpa sebab. Atau akunya aja yang nggak tau sebabnya apa. Atau dia ya kayak Michael, bosen sama aku. Padahal aku udah mau mutusin pacarku waktu itu demi dia. Tapi akhirnya ya aku tetap sama pacar. Setelah ngaku kalau aku pernah deket sama idolaku itu.”

T : “Pembicaraan ini telah saya screenshot dan sudah pasti akan masuk Distopiana HAHAHA~~~~~”

I : “BAJINGAAAAAK!!!!!!!!!!!!”

T : “Wqwq buodo amat. Eh cha, mau pulang dulu. Makan dulu. Boleh nggak cha? Malem lanjutin lagi gitu.”

I : “Boleh lah, Tom. Makan yang banyaaaak. Biar kuat kalau mau jadi Lisa lagi! Wkakaka.”

[CHAPTER 2]

T : “Oy oy.”

I : “Hadiir! Duh, Gara-gara nonton Anomalisa, jadi pengen nonton Eternal Sunshine lagi. Wkakakaka.

T : “Hahaha oke lanjut. Apa persepsi kamu terhadap orang yang PHP in kamu itu? Kamu nganggep dia bajingak kah? Atau gimana?”

I : “Aku nganggap dia jahat banget. Bajingak gitu. Gimana ya, aku yang awalnya minderan, rendah diri, pas kenal dan deket sama dia jadinya mulai percaya diri gitu. Soalnya dia mandang kekuranganku sebagai kelebihan. Sama kayak Michael mandang kekurangannya Lisa sebagai kelebihan. Pas tau dia cuma pehapein aku, akunya jadi ngerasa lebih minder daripada sebelum dekat sama dia. Ngerasa nggak berharga. Ngerasa bego juga, karena kok aku bisa gede rasa sama dia. Padahal dianya cuma nggak mau serius sama aku.”

T: “Hmm…oke oke.”

I : “Trus, Tom. Si Lisa kenapa tegar aja ya pas di ending? Padahal dia dipehapein gitu. Ditinggalin sama Michael.”

T : “Lisa falls too deep. Too hard. She was destroyed. And you know what, that’s what a destroyed person does when he got destroyed too much before. She’s just taking it like a lady, when she actually feels like a hobo.”

I : “Feels like a hobo :’) Jadi…sebenarnya Anomalisa ini ceritanya bukan sekedar cowok bosen hidup yang tiba-tiba jadi semangat hidup karena ketemu cewek yang berbeda dari yang lain kan?”

T : “It’s hard to describe sih, Cha. Kamu pernah ngerasa bosen nggak sama seseorang yang pernah kamu suka sebelumnya?”

I : “Pernah. Tapi bukan ke bosen sih. Gimana ya, kan jadi ikutan susah ngejelasinnya. Ya gini. Aku suka sama seseorang, yang menurutku dia itu nggak pernah aku temuin di cowok-cowok lain. Atau gini, dia jadi seseorang yang aku nggak sangka bakal datang ke hidupku. Ceilah. Hidup. Seseorang yang aku suka itu, dia humoris tapi juga manis. Kami juga punya hobi yang sama dan dia selalu nyemangatin aku kalau minderku kumat.”

T : “Hmm terus terus?”

I : “Tapi makin ke sini, aku jadi tau dia itu memang manusia. Pasti ada kurangnya. Aku bosen sih ngertiin dia. Menganggap kalau sifatnya itu nggak apa apa. Tapi bosen yang nggak lama. Itu sih.”

T : “I see…”

I : “Kalau menurut kamu, kita bisa bosen sama orang itu sebenarnya karena apa, Tom? Karena nggak ada yang bikin kita penasaran lagi sama dia? Karena hubungan yang dijalin terlalu lama? Atau apa?”

T : “Nah, ini dia. Aku pernah bilang sama temen aku, aku pengen banget tahu caranya bedain rasa ‘sayang’ sama yang sekedar ‘penasaran’ doang. Terus temen aku ngetawain aku sambil bilang: Good luck aja deh, Tom. HAHAHA!”

I : “KOCAK TEMEN KAMU IH. JAHAT JUGA JAWABNYA KAYAK GITU. HAHAHAHA.”

T : “Wqwq terdengar jahat memang, Tapi dia sebenernya bilang kalo sampai sekarang pun, manusia sepandai apapun nggak akan pernah bisa bedain mana cinta dan mana penasaran. Hoki-hokian aja sebenernya. Sama kayak Michael yang tiba tiba sadar di pagi hari setelah ena ena sama Lisa. Lisa yang udah nyaman banget sama Michael tiba-tiba malah bikin Michael ilfil karena pada akhirnya Michael ngeliat Lisa sama aja kayak manusia-manusia pada umumnya. Cinta dan penasaran sama-sama bisa bikin kita clingy sama seseorang. Sama sama bisa bikin dia menghantui mimpi kita. Sama-sama bisa bikin kita mau ngelakuin apa aja buat dia.”

I : “ITU DEEP SIH TOM! Eh, tapi bener juga. Nyaris nggak ada bedanya mungkin. Jatuh cinta sama penasaran. Memang bener mempertahankan itu lebih susah daripada mendapatkan. Termasuk mempertahankan jatuh cintanya kita sama seseorang.”

T : “When we try to get love, we only have to fight for one person. When we try to defend love, we have to face another difficult enemies: ourselves.”

I : “Aaak bijaque banget sih :’) Trus, Tom. Setuju nggak sih kalau kita terlalu nyaman sama seseorang atau sesuatu, kita malah ngerasain kebosenan? Mungkin itu yang dirasain Michael.”

T : “Nggak semua orang begitu, sih, tapi dalam kasus Anomalisa ini mungkin. Kamu lihat kan pas di scene di mana Michael kebayang-bayang sama hantunya Bella? He actually feels guilty and wants to settle it once and for all. Tapi dia tetep nggak bisa ngerasain cinta yang dia mau. Pas di Lisa yang dia kira true love nya dia pun, dia ternyata nggak bisa ngerasain itu. Pas di istrinya pun sama, istrinya pake suara cowok kan. He still feel the same empty, numb feeling towards her. But he settle it once and for all with her, without feeling love, the feeling that he is unable to have.”

I : “Hooh iya iya…”

T : “Bisa aja Michael ini a realistically mundane version of Summer Finn.”

I : “YAAAAA! AKU JUGA SEMPET KEPIKIRAN 500 DAYS OF SUMMER! MICHAEL SAMA SUMMER ITU SAMAAAA! SAMA-SAMA BIKIN KITA BINGUNG MAUNYA MEREKA ITU SEBENARNYA APA! AAAAAAK! Summer juga ngerasain kekosongan dalam hidupnya kan? Dia nggak percaya apa itu cinta. Tapi bedanya sama Michael, dia riang dan gembira dalam menjalani hari-harinya. Aku mikir kalau dia nggak mau cinta-cintaan karena dia nggak mau ngerasain kesedihan kayak yang dirasain kedua orangtuanya. Orangtuanya yang bercerai. Kesedihannya ngeliat orangtua mereka bercerai. Summer udah kayak judul lagu yang dinyanyiin sama Lisa. Girls Just Want To Have Fun. Gitu kali ya HAHA.”

T : “Yup yup, bener banget!”

I : “Oke. Itu yang dirasain sama para tukang PHP ya? Nggak punya keberanian buat making decision to love and protect someone. Madefaqa. Lemah. Lemah syahwat. Fix itu yang dirasain Michael. Dan mungkin juga Summer Finn. Pantesan kayaknya tukang PHP memang doyannya sama orang yang rendah diri dan minderan gitu deh. Michael bisa pehapein Lisa karena dia rendah diri dan suka bilang ‘Shut up, Lisa’ pas dia ngomong terlalu banyak. Summer bisa pehapein Tom Hansen karena Tom Hansen rendah diri. Tom yang pesimis sama hidupnya. Bella juga keliatan rendah diri kan? Pas di telpon, dia kasih tau kalau sekarang dia gemuk, pake gigi palsu, bla bla bla. Pas ketemu dia bilang kalau dirinya jelek.”

T : “YAHELAH KENAPA BALIKNYA KE (500) DAYS OF SUMMER LAGI SIH!! *kraiii*”

I : “HAHAHA MAAF TOOM JANGAN BAPER! Film 500 Days of Summer itu genrenya slasher, gore, thriller, kalau kata temenku 😂😂”

T : “Iya udah jangan dilanjutin, gasehat bapernya. Terus-terus, pandangan kamu terhadap orang yang PHP gimana sekarang?”

I : “Setelah nonton Anomalisa, aku ngeliatnya ternyata jadi tukang PHP itu nyusahin diri sendiri. Ternyata tukang PHP itu bisa jadi tukang PHP bukan karena dari awal niatnya mau memberi harapan palsu. Bisa aja dia niat awalnya mau serius sama seseorang. Tapi karena dia nggak bisa tegas sama perasaannya sendiri, dia terlalu mengejar kesempurnaan mungkin nggak bisa nerima kekurangan kecil pasangannya kayak Michael nggak bisa nerima kebiasaan Lisa yang suka ngomong sambil makan, ya udah dia milih pergi aja. Huhuhu.”

T : “Yup. Aku juga ngerasanya gitu kok.”

I : “Dan…. sekarang aku yang tanya. Waktu kamu pernah jadi Michael, kamu kayak gimana? 😂😂😂😂”

T : *tidak ada jawaban* *hening*

T : “Chaaaa, maaf baru bales. Aku semalem ketiduran!”

I : “Ketiduran apa menghindari pertanyaan? Hahaha. Yuk lanjut lagi.”

T : “Nggak menghindar kok. Nih aku jawab sekarang ya. I’m a simple guy who goes for a girl for a sweet life companion. Intinya hidup udah susah, kerjaanku juga udah susah, aku nggak suka sama yang bikin-bikin drama yang harusnya nggak ada, main mainin perasaan cowok cuma biar dia dikasih perhatian lebih 1×24 jam. Aku orang yang bener-bener sederhana, cuma beberapa cewek yang berhasil bikin aku terpikat di awal kenal itu ternyata seneng over-complicating things sehingga aku capek dan akhirnya aku tinggalin sebelum semuanya terlambat.”

I : “Hahaha. Tauk nggak sih. Aku ngakak bacanya. Jujur dari hati banget. Lugas. Fix cowok memang nggak suka sama cewek yang ngedrama gitu ya. Kalau punya perasaan yang sama, yaudah lanjut. Nggak usah nunggu siapa duluan yang nyatain gitu kan? Nggak usah sok-sok minta diperjuangin gitu kan dengan bertingkah sok jual mahal?”

T : “Nah, kalau aku sih, begitu, Cha, tapi kayaknya tiap cowok beda-beda sih. Banyak cowok yang aku kenal juga ada yang nggak suka sama cewek yang belum apa-apa udah clingy dan demanding, ada yang emang syariah dan nyari satu langsung diseriusin, ada yang emang cuma nyari selangkangan doang abis itu bosen terus ditinggalin, dan ada yang kayak Michael juga, Si Pria Modus Anomalisa.”

I : “(((MODUS ANOMALISA)))”

T : “Okay, that should be our post’s tagline. HAHAHA.”

I : “Setuju banget! Nah, Sekarang bahas soal teknisnya deh, Tom. Kalau mau.”

T : “Aku nggak komentar masalah teknis, because it all seems bizzarely, strangely mundane. Tapi jelas ada maksud tertentu dari kenapa Charlie Kaufman menggunakan animasi stop motion ala-ala Aardman. Lewat setiap manusia yang berbentuk seperti manekin dengan wajah yang hampir mirip, Anomalisa eerily tells us that we are no different than the others. That we are not as special as Tumblr tells us. That we are just someone else.”

I : “Dalem banget sik kata-kata kamu, Tom. Tapi bikin ngakak juga. Hahaha.”

T : “KOK NGAQAQ SIH? KZL! Yaudah sekarang menurut kamu secara teknis, Anomalisa gimana?”

I : “Ngahaha. Kalau aku, lebih ngerasa relate sama Lisa sih. Lisa yang pemalu dan rendah diri itu kurang lebih kayak aku. Aku sempat nangis dikit pas Lisa ‘ngasih tau’ kekurangan-kekurangannya tapi MIchael menyangkal semua itu. Pasti bahagia banget jadi Lisa di malam itu. Ada cowok yang menyanjung dia sampe segitunya. Nganggap kalau dia itu berbeda. Spesial. Kalau ada cowok yang muji kami, cewek-cewek, dengan kalimat, “Kamu berbeda.” Itu lebih bikin senyam-senyum daripada dipuji cantik atau semacamnya.”

T : *mencatat*

I : “Tapi pas Michael dan Lisanya sarapan, aku juga nangis dikit. Tapi beda sih nangisnya. Aku nangis dikit karena mikir, ini Lisa kok gampang banget ya ngiyain Michael? Michael yang mau bareng dia terus sampe mau cerai dari istri. Apa semua cewek yang rendah diri itu gitu? Kalau ada yang suka sama dia, trus dia nyaman dan suka juga, dia nggak mikirin ke depannya kayak gimana? Seolah yang ada di pikirannya itu cuma “ada yang sayang sama aku dan aku nggak peduli apapun yang penting ada yang sayang sama aku”. Dan endingnya tadi nonton lagi filmnya. Dan aku nangis masaaaaa. HAHAHAHAHA. Aku cengeng banget ya.”

T : “Nggak cengeng, kok. Menangis itu manusiawi. Pukpuk Icha.”

I : “Hahaha iya nih, Anomalisa bikin bingung, bikin ngakak, dan bikin baper emang. Beda sama 500 Days of Summer yang menampilkan Summer sebagai tukang PHP secara gamblang jadinya Summer terlihat kejam, Anomalisa nampilin Michael sebagai tukang PHP yang menurutku patut dikasihani. Kasihan aja sih, dia capek sendiri sama perasaannya yang nggak konsisten.”

T : “Jadi menurut kamu, tukang PHP terkadang juga harus dipahami ya?”

I : “Kurang lebih begitu sih, karena terkadang sebenarnya yang kasihan itu si tukang PHP, bukan yang dipehapein kan. Apalagi kalau tukang PHP-nya kayak Michael. Yang kayak dihantui perasaan bersalah gitu. Kalau kesimpulan dari kamu apa, Tom?”

T : “Sebelumnya aku boleh nanya dulu nggak, Cha?”

I : “Boleh, nanya apa, Tom?”

T : “Itu siapa sih yang menemukan kata bajingak? Tak senonoh. Sungguh. Wkwkwk.”

I : “AKU! BAHAHAHAHAHAHAHA. Gara-gara keseringan misuh di grup main werewolf, sering dibunuh di awal permainan, yaudah aku ngumpat. Mau pake bajingan kayaknya kasar banget. Yaudah diplesetin jadi bajingak.”

T : “Luar biasa hahaha. Yaudah lanjut. Kesimpulan dari aku: Pen + Apple = Apple Pen.”

I : “Sialan. Hahahaha. Kesimpulannya bagus, Tom. Seandainya boneka yang dibeli sama Michael itu bukan nyanyi lagu Jepang, tapi lagu pen apple apple pen itu ya.”

T : “Ya, seandainya Michael menyanyikan PPAP saat memberikan kuliah umum, mungkin hidupnya akan jauh lebih berbeda.”

I : ” BAJINGAAAAAK. PPAP berpengaruh besar ya.”

T : “Canda deng hahaha. Kesimpulan dari aku adalah: Anomalisa memperlihatkan bahwa beberapa tukang PHP seperti Michael yang sering dibajingak-bajingakkan itu sebenarnya memiliki kelinglungan yang menyiksa dan sama saja seperti kita yang clueless dalam mengartikan kehidupan dan memaknai perasaan. Kalo kesimpulan dari kamu apa?

I : “Kalau dari aku: Anomalisa memperlihatkan kalau tukang PHP seperti Michael adalah orang yang menyedihkan. Dia kelewat bosan, dia (mungkin) terlalu mengejar kesempurnaan hidup sehingga semua yang di sekitarnya jadi terlihat salah dan sama aja. Nggak ada yang spesial. Dia nggak mensyukuri karirnya yang bagus, orang-orang terdekatnya yang sayang sama dia. Dan sebenarnya orang kayak Lisa adalah orang yang lebih menghargai perasaan orang lain dan bisa bertanggung jawab dengan perasaannya sendiri. Meskipun dia minderan, rendah diri, pemalu, atau semacamnya.

T : “Ntap cha. Good point. Oke deh, seneng banget nih ngulas film bareng kamu. Makasih ya!”

I : “Aku juga seneng banget. Makasih juga! Ngulas film sama kamu menyenangkan. Seneng banget bisa ngulas sama orang yang aku kagumin ulasannya. Huahahahaha.”

– THE END –

The Big Five Mainstream Horrors of Early 2016: Short Review

Bagi kita, mungkin mudah sekali merasa takut sekaligus terlibat secara emosional saat menonton film horor yang baik. Kenyataannya, bagi para produsen film, horor adalah sebuah genre yang menuntut keahlian serta kepekaan ekstra dalam pembuatannya. Mengapa? Karena mayoritas film horor dibuat dengan bujet yang sangat terbatas, namun hampir selalu berhasil untuk menghasilkan keuntungan Box Office berkali-kali lipat, kadang tidak peduli seberapa buruk kualitas film tersebut. Ambil saja contoh kasus Annabelle. Film yang hanya mendapatkan rating 29% di Rotten Tomatoes (karena, yah, memang jelek) ini mendapatkan keuntungan worldwide yang bombastis ($256,873,813) dibandingkan bujetnya yang hanya berkisar $6.5 juta. Keuntungan ini tentunya juga dibantu dari kesuksesan The Conjuring sebelumnya yang mendapatkan keuntungan worldwide $318 Juta dari bujet $20 juta. Inilah yang membuat saya merasa bahwa para produsen film horor patut diberikan apresiasi lebih. Mereka mampu memanfaatkan keterbatasan untuk menciptakan ilusi realita yang maksimal.

Lewat artikel ini, saya ingin mengulas, mengapresiasi, serta mendiskusikan lima film horor mainstream dari awal tahun 2016 sampai artikel ini selesai ditulis.

1. The Conjuring 2, directed by James Wan.

Production Budget: $40,000,000
Worldwide Box Offfice: $320,070,008 (est. 19/09/2016)

Seperti film-film yang sebelumnya disutradarai James Wan, The Conjuring 2 adalah sebuah film yang sangat menyenangkan, terutama bila kamu menontonnya bersama keluargamu atau dengan temanmu yang orangnya kagetan. Premis ‘haunted family in a haunted house’ yang sudah sangat familiar di ranah film-film bergenre horor ini dikemas dengan treatment cerita yang lebih berorientasi pada anak-anak dan keluarga sehingga atmosfer film tidak melulu gelap, namun juga hangat dan penuh kasih sayang. Adegan saat Ed Lorraine (diperankan oleh Patrick Wilson) menyanyikan tembang “Can’t Help Falling in Love” dari Elvis Presley sambil bermain gitar di depan keluarga Hodgson adalah salah satu contoh kehangatan yang jarang kita temukan dari film-film horor modern kebanyakan. Tidak hanya itu, semua jump-scare yang terdapat dalam film pun ini dilakukan dengan crafting yang solid dan segar sehingga tepat sasaran dalam membuat para penonton berteriak kencang tanpa harus mempertanyakan relevansinya dengan logika cerita (that Nun-in-the-Mirror scene was perfect!).

Di antara semakin banyaknya film horor yang mempertontonkan kesadisan dan seksualitas, The Conjuring 2 adalah film horor yang paling aman untuk ditonton bersama anak anda dalam segala usia.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

2. The Wailing, directed by Na Hong-jin.

Production Budget: N/A
Worldwide Box Office: $51,252,403 (est. 19/09/2016)

Bisa dibilang, The Wailing adalah sebuah kombinasi apik antara Memories of Murder dan The Witch dengan kearifan mistik lokal dari Korea Selatan. Disutradarai oleh Na Hong-jin (The Chaser, The Yellow Sea) film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang diserang wabah penyakit mematikan setelah kedatangan seorang lelaki misterius ke desa tersebut. Seorang detektif ceroboh bernama Jong-goo (diperankan oleh Kwak Do-won) yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut malah berbalik menjadi korban tatkala anak perempuannya yang masih kecil ikut terjangkit wabah tersebut.

Biarpun dipenuhi dengan adegan-adegan yang keji, gila, dan agak disturbing, kengerian utama dalam film ini dihasilkan dari gaya penceritaan yang atmosferik dengan menempatkan elemen-elemes simbolis seperti burung-burung gagak yang mati, altar pemujaan setan dengan foto-foto misterius tertempel di dinding, serta iklim latar film yang sebagian besar diisi oleh hujan deras dengan awan yang gelap. Suspensi berlangsung dengan efektif dari awal film sampai akhir. Dalam dua jam lebih durasi film, setidaknya ada tiga plot twist di setiap titik pergantian babak. Kita akan dibuat curiga oleh semua tokoh dan kesal terhadap karakter Jong-goo yang tidak pernah bertindak rasional dalam menghadapi masalah (padahal dia seorang detektif) sampai pada akhirnya kita mengetahui bahwa semua hal tersebut merujuk kepada persoalan yang lebih besar dari sekadar praktik guna-guna.

The Wailing adalah sebuah film mystery-supernatural-horror yang pekat dan padat oleh atmosfer yang mengerikan. Cocok bagi kamu yang sudah bosan terhadap film-film horor dengan skenario yang sketched dan mengandalkan jump scare sebagai senjata utamanya.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

3. The Shallows, directed by Jaume Collet-Serra.

Production Budget: $17,000,000
Worldwide Box Office: $116,055,707 (est. 19/09/2016)

Nancy Adams (diperankan oleh Blake Lively), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran, pergi berlibur ke pantai terpencil untuk berselancar dan melipur lara setelah kematian sang Ibu tercinta. Saat sedang asyik bermain ombak di atas papan, tiba-tiba seekor hiu putih raksasa menyerang Nancy, menggigit kakinya, dan membuatnya terjebak di tengah batu karang besar di lautan bersama seekor burung camar yang ia beri nama Steven Seagull (nggak, burung camarnya nggak bisa Wing-Chun, mohon maaf).

Saat kita berpikir bahwa era film-film monster telah usai, Jaume Collet-Serra menghadirkan kembali kengerian teror serangan hiu buas dengan pendekatan yang sangat milenial di film The Shallows. Kenapa saya bilang milenial? Karena variasi komposisi shot, camera movement, dan editing yang terdapat di film ini mengingatkan saya pada video-video bertema paradise adventure yang sering diunggah para travel vlogger seperti Nainoa Langer, Giarro Giarratana, atau konten-konten viral marketing GoPro di YouTube. Bahkan bisa dibilang, hal tersebut lah yang menjadikan film ini unik dan berbeda dibanding film shark attack lain. Semua elemen lain yang terdapat di film ini sebenarnya sangatlah familiar bagi penonton, yaitu lanskap pantai yang memanjakan mata, eksploitasi pesona tubuh wanita, dan penggabungan premis ‘isolation terror‘ (Buried, 127 Hours, Gravity) dengan ‘monster terror’ (Lake Placid, Deep Blue Sea, Anaconda, Jaws). Selebihnya, tidak ada perbedaan yang signifikan, tapi dengan penyutradaraan yang solid dari Jaume Collet-Serra, The Shallows mampu menjadi sebuah wahana jungkir balik yang segar dan menyenangkan bagi para penikmat film horror-thriller.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

4. Don’t Breathe, directed by Fede Alvarez.

Production Budget: $9,900,000
Worldwide Box Office: $107,028,781 (est. 19/09/2016)

Bila seorang kakek tua mencoba menghabisi nyawa tiga orang anak muda yang berusaha untuk membunuh si kakek dan merampok rumahnya, siapa yang akan kamu salahkan? Hal inilah yang menjadi premis utama Don’t Breathe, film horror-thriller arahan sutradara Fede Alvarez. Dari adegan pembukaan pun, film ini sudah menegaskan untuk tidak bertele-tele dan langsung berangkat pada inti cerita: pembantaian tanpa ampun.

Tidak ada momen percintaan dramatis, tidak ada percakapan sok cerdas, hanya pembantaian dan kejar-kejaran.

Pengenalan terhadap keempat tokoh utama pun benar-benar dilakukan seminimal mungkin dan plot langsung masuk ke dalam permasalahan bahkan sebelum lima belas menit pertama berakhir. Dengan plot yang menyerupai Wait Until Dark, Don’t Breathe dikemas sesempit dan sepadat mungkin dengan sentuhan Panic Room dan Inside sehingga menjadi sebuah film yang, seperti judulnya, akan membuatmu sulit untuk bernafas.

Kekuatan utama film ini terdapat pada efektifitasnya dalam memanfaatkan premis yang standar dan lokasi yang minimalis menjadi kengerian klaustrofobik yang tanpa henti sepanjang pertunjukan berlangsung. Don’t Breathe dengan cermat memanfaatkan kompleksitas moral dan idiot plot untuk memaksimalkan potensi horor dari home-invasion thriller yang sudah banyak sekali dibuat. Teknik sinematografi yang digunakan Don’t Breathe juga cukup unik untuk sebuah film horror-thriller. Daripada memanfaatkan efek shaky camera atau fast-cutting untuk memicu ketegangan, Pedro Luque, sang sinematografer, cukup menggunakan teknik konvensional dengan pergerakan kamera yang mulus, komposisi yang rapi, dan penyuntingan yang jeli terhadap momentum. Plot-twist yang muncul di awal babak ketiga film pun cukup menambah sensasi kekacauan tokoh Pak Tua dan kelinglungan moral penonton, meskipun memang menimbulkan banyak kontroversi dari berbagai pihak. Namun jika kamu sedang mencari film horror-thriller yang tidak banyak basa-basi, Don’t Breathe adalah pilihan yang sangat tepat buatmu.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

5. Train to Busan, directed by Yeon Sang-ho.

Production Budget: $8,500,000
Worldwide Box Office: $99,067,452 (est. 13/9/2016)

Film zombie sudah ada sejak tahun 1932, dibuat secara independen dan dengan bujet yang sangat terbatas oleh Victor dan Edward Halperin. Kendati demikian, George Romero-lah yang pertama kali mempopulerkan zombie sebagai medium kritik sosial politik lewat Night of The Living Dead. Generasi Y dan Z mungkin akan lebih familiar dengan The Walking Dead (serial TV) dan World War Z, namun harus diakui, Train to Busan akan menjadi salah satu film zombie sarat kritik sosial yang sangat berkesan dalam pengalaman mereka menonton film horor.

Seorang fund manager bernama Seok-woo (diperankan oleh Gong Yoo) terjebak di dalam sebuah KTX bersama anaknya (Kim Soo-an) saat epidemik misterius yang membuat manusia berubah menjadi zombie menyebar di seluruh Korea Selatan, termasuk di dalam KTX yang mereka tumpangi. Bersama seorang calon ayah dan istrinya yang sedang hamil serta sepasang muda-mudi SMA yang saling mencintai, mereka harus bertahan hidup hingga kereta sampai di Busan, satu-satunya kota yang berhasil bertahan dari serangan wabah.

Setelah The Wailing, Don’t Breathe, dan The Shallows yang menggabungkan dua premis dan referensi film berbeda, Train to Busan juga bagaikan sebuah kombinasi apik antara Snowpiercer dan World War Z, lagi-lagi dengan kearifan lokal Korea Selatan yang terkadang penuh dengan dramatisasi yang klise. Ada banyak drama sosial yang diangkat di sini, dan meskipun porsi melodrama di babak ketiga film akan membuatmu sedikit mengernyitkan dahi, skenario yang dirancang sangat apik dan kokoh sejak permulaan sampai akhir film ini akan tetap berhasil membuatmu menyanyikan lagu “Aloha Oe” sambil menangis tersedu-sedu saat keluar dari bioskop. Disutradarai oleh Yeong San-ho, seorang mantan komikus yang juga pernah membuat film animasi Seoul Station, Train to Busan menghadirkan sebuah horror-thriller dengan pengadeganan yang elok dan tokoh-tokoh yang mampu membuat emosi kita bercampur aduk sepanjang film berlangsung. Meskipun ada Gong Yoo dan Jung Yu-mi yang pernah bermain di Silenced, namun tokoh yang berhasil menyajikan cita rasa yang beragam di film ini adalah Sang Hwa, sang calon ayah bertubuh besar (diperankan oleh Ma Dong-seok) dan Yong Suk, sang COO pengecut (diperankan oleh Kim Ui-seong).

Sebenarnya, inti dari kemantapan Train to Busan adalah kritiknya yang efektif dan lugas tentang strata dan fungsi sosial. Hal ini sebenarnya sudah dimunculkan saat Sang Hwa berkata pada istrinya bahwa Seok-woo itu lintah darat, namun kritik sosial selanjutnya dimasak dengan lezat dan cantik di babak kedua, saat skenario penumpang gerbong belakang versus depan dimulai. Dalam sekejap, horor klaustrofobik pun berubah menjadi drama politik sentimental tentang masyarakat yang mudah disetir opininya saat rasa takut mengancam mereka. Dalam situasi yang telah dibangun tersebut, Yeong San-ho pun menggunakan logika penyelesaian yang mengingatkan saya pada Ran, film dari Akira Kurosawa.

“In a mad world, only the mad are sane.” – Kyoami, Ran (1985).

Beberapa persoalan yang bersifat ilmiah dan rasional di film ini memang memiliki banyak permasalahan, namun dengan subteks ‘pengorbanan’ yang menjadi landasan utama skenario film ini (dan tanggal rilisnya yang kebetulan berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha), Train to Busan adalah film horror-thriller yang sangat menghibur dan cocok untuk ditonton bagi semua orang untuk mendalami esensi dari pengorbanan sebagai bentuk dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap kemanusiaan.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

 

N.B.: Semua data kuantitatif bersumber dari IMDb.com, BoxOfficeMojo.com, dan The-Numbers.com.

Mimpi Anak Pulau (2016) – Mendayung Mimpi

Ada tiga penyakit terbesar yang biasanya menjangkiti film-film Indonesia, terutama yang bertema triumph of the spirit. Ketiga penyakit tersebut adalah: narasi yang pretensius, naskah yang preachy, dan eksploitasi tokoh dengan hagiografi demi menyesuaikan arus pasar (quoting PicturePlay). Sinema Indonesia belakangan ini seperti kehilangan arah dalam menentukan ciri khas mereka dari segi visual, naratif, dan kontekstual cerita sehingga terkesan pretensius karena seperti ada ambisi untuk menyamai Hollywood. Lihat saja Rudy Habibie yang terkesan mengimitasi The Imitation Game dan menjadikan tokoh Rudy sebagai sosok utama yang sempurna, pusat dari tata peredaran tokoh-tokoh ‘pelengkap’ lainnya. Ada juga Modus Anomali, film Indonesia yang tidak ingin menjadi Indonesia, meskipun Joko Anwar pada akhirnya membayarnya dengan telak di film A Copy of My Mind. Perfilman Indonesia terlalu sibuk mencoba menjadi Hollywood sampai mereka lupa bagaimana rasanya saat Laskar Pelangi sukses menghajar belantika bioskop tanah air dengan kehangatan yang jujur dan otentik, tanpa pretensi dan kesan menceramahi.

Diadaptasi dari novel karya Abidah El-Khalieqy, Mimpi Anak Pulau bercerita tentang seorang bocah laki-laki bernama Gani (diperankan oleh Daffa Permana), anak pertama dari Rabiah (diperankan oleh Ananda Lontoh) dan Lasa (diperankan oleh Ray Sahetapy) yang tinggal di pesisir pantai Nongsa, Pulau Batam. Gani menjalani masa kecilnya dengan penuh semangat dan harapan meski kenyataan yang dia hadapi sering berujung pahit, apalagi setelah ayahnya meninggal. Kerasnya hidup tidak berarti apa-apa bagi Gani. Terkadang ia menangis di pelukan ibunya, tapi ia tidak pernah lupa untuk tetap bangkit dan mencari cara untuk mengejar mimpinya: menuntut ilmu dan membeli sepatu baru.

Secara teknis, Mimpi Anak Pulau memang sangat jauh bila harus dibandingkan dengan Laskar Pelangi. Struktur naratifnya pun bisa dibilang berantakan akibat terlalu sering mengambil sekuens inset yang (mungkin) sengaja ditujukan untuk memperkuat konteks, sehingga jalan cerita menjadi cenderung inkoheren dan penonton awam akan sulit mencerna apa yang sebenarnya ingin diceritakan film ini pada babak pertama dan kedua. Harus diakui dan juga dipuji, Kiki Nuriswan dan Ichsan Zulkarnain sudah berusaha keras membangun dramatisasi kisah nyata yang penuh kehangatan dengan believable sekaligus relatable, namun beberapa kalimat dialog terkesan sangat textbook, seakan dicomot langsung dari novel tanpa penyesuaian dengan akting dan reading dari para pemerannya, dan itu akan sedikit mengganggu bagi penonton yang peka dan senang memperhatikan hal-hal kecil. Film ini juga hampir terjangkit virus hagiografi karena Gani, sang karakter utama, lagi-lagi ditempatkan sebagai pusat tata edar tokoh-tokoh pembantu lainnya. Sekuens epilognya pun, aduh, dirancang dengan sangat lemah sehingga terlihat seperti iklan-iklan properti Agung Sedayu Group atau semacamnya. Entah, mungkin karena kekurangan bujet atau terlalu terburu-buru dalam mengeksekusi ide mentah.

Untungnya, banyak aspek dari Mimpi Anak Pulau yang menjadikan film ini cukup istimewa dan menyenangkan untuk ditonton. Pertama: lewat otentisitas yang berhasil diciptakan oleh gaya bertutur yang hangat dan berani untuk menjadi Indonesia, tidak peduli apapun latar belakang para penonton, mereka akan merasa sangat relate dengan keluguan Gani. Inilah yang mencegah terjangkitnya Mimpi Anak Pulau dari virus hagiografi. Karakter Gani berhasil menjadi utuh lewat perangainya yang tengil namun juga norak bila dihadapkan dengan hal-hal yang di luar batas pengetahuannya. Kedua: Ada beberapa adegan yang biasanya sangat rentan diisi dengan kalimat-kalimat preachy, yaitu sewaktu Gani sedang belajar di sekolah dan saat di pengajian. Untungnya, penulis naskah dan sutradara berhasil menjadikan kedua adegan tersebut hanya berfokus pada pemaparan detail karakter dan turning point dari plot, bukan pada penanaman pesan moral (yang sayangnya masih banyak dijadikan patokan bagus atau tidaknya sebuah film). Ketiga: Kerja sinematografi dan penyuntingan serta color grading yang harmonis dalam kesederhanaan akan mampu menyempurnakan keindahan latar Pulau Batam tahun 70-an di mata para penontonnya. Saya harus memuji salah satu adegan yang menunjukkan Gani dengan abangnya, Kodir, mendayung sampan menyeberangi pulau sambil diombang-ambing oleh badai di tengah malam. Terlihat sangat otentik dan nyata, seperti mereka memang melakukan pengambilan gambarnya di tengah laut. Keempat: Kombinasi akting Ray Sahetapy dan Ananda Lontoh di babak pertama mengejutkan saya. Sungguh. Di babak kedua dan ketiga pun istri dari Attar Syah ini masih tampil dengan prima, membuat mata para penonton tak bisa lepas darinya saat ia berada di dalam frame. Saya pikir Ananda Lontoh harus terlibat lebih banyak lagi di film-film besar Indonesia selanjutnya agar ia menemukan sutradara yang mampu membawanya ke batas tertinggi kemampuan aktingnya.

Setelah Laskar Pelangi, Mimpi Anak Pulau merupakan film yang hangat, otentik, dan penting untuk ditonton bagi seluruh orang Indonesia, terutama bagi para praktisi pendidikan dan pembangunan daerah tertinggal di Indonesia. Kenapa? Agar kita semua sadar bahwa mensinergikan pembangunan dan pendidikan demi menuntaskan hak bersekolah para anak di daerah tertinggal jauh lebih penting daripada membangun mal-mal megah di perkotaan dan menyalahkan rusaknya moral mereka akibat terlalu terpengaruh budaya konsumtif dan kebarat-baratan.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Suicide Squad (2016) – #SquadFails

Sebelum saya memberikan ulasan, saya harus menyatakan sebelumnya bahwa saya mempunyai kepedulian yang besar terhadap masa depan film-film DC Comics. Sekitar Agustus tahun lalu, saya pernah menulis tentang bagaimana DC Comics akan mampu mengimbangi Marvel Studio dalam segi konsep penuturan cerita. Maka dari itu, seburuk apapun saya akan mengulas film yang sudah saya nanti-nanti sejak tahun lalu ini, itu semua karena saya peduli. Hal yang sama juga berlaku pada kritikus Rotten Tomatoes yang ingin diboikot oleh para penggemar fanatik DC Comics karena dituduh selalu menjelek-jelekkan film DCEU. Saya yakin mereka semua juga sebenarnya peduli, dan bahwasanya harus dimengerti bahwa kritik film bukan hanya bertujuan untuk melindungi dompet penonton dari film buruk, namun juga bertujuan untuk menyelamatkan para produsen film dari malapetaka yang mungkin tidak mereka sadari ada di dalam film yang mereka buat. Jangan berpikiran seperti Cara DeLevingne yang bilang bahwa kritikus film membenci film superhero, padahal mereka pernah memberi nilai yang luar biasa bagus pada film The Dark Knight, yang notabene merupakan film superhero dari DC Comics.

Suicide Squad dibuka dengan pengenalan bertahap setiap penjahat super dengan mengeksposisi backstory mereka satu persatu mulai dari Deadshot (diperankan oleh Will Smith), Harley Quinn (diperankan oleh Margot Robbie), Captain Boomerang (diperankan oleh Jai Courtney), Killer Croc (diperankan oleh Adewale Akinnuoye-Agbaje), Enchantress/June Moone (diperankan oleh Cara DeLevingne), dan El Diablo (diperankan oleh Jay Hernandez). Tidak hanya para penjahat, namun para pelaksana proyek yaitu Rick Flag (diperankan oleh Joel Kinnaman) dan Amanda Waller (diperankan oleh Viola Davis) juga mendapat giliran perkenalan. Terlalu banyak tokoh? Setuju, apalagi dengan diperparah oleh pola penyuntingan yang berantakan dan tidak terkonsep dengan baik sehingga menjadikan keunikan karakter para tokoh tersebut saling tumpang tindih dan sulit untuk dinikmati.

Jika sebuah film action-adventure menawarkan sekumpulan penjahat kelas kakap dengan kekuatan super, seorang kolonel tangguh dan perkasa, dan seorang pemimpin bertangan dingin untuk mempertahankan sebuah kota dari serangan teror misterius, akan lebih bijak jika sutradara dan penulis skenario memanfaatkan keahlian unik masing-masing dari mereka semua untuk merancang sebuah skenario pertempuran yang tidak hanya epik, namun juga otentik dan ikonik. Entah apakah ini salah David Ayer sebagai sutradara dan penulis, ataukah salah Warner Bros. Executive yang terkenal senang mengintervensi visi sutradara dengan argumen yang labil, namun setiap adegan pertempuran di film ini menjadi sangat monoton karena hanya terdiri dari tembak-menembak, pukul-memukul, tebas-menebas, dan bakar-membakar. Brutal memang, jika berbicara tentang jumlah kerusakan yang dihasilkan, namun dilakukan dengan gaya yang terlalu konvensional, minim kecerdasan, dan tanpa emosi, seperti layaknya kita temukan di Man of Steel dan Batman v Superman: Dawn of Justice. Beberapa penjahat seperti Captain Boomerang, Katana, dan Slipknot menjadi hampir tidak berguna karena kekuatan spesial yang mereka miliki tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya di film ini. Well, we just can’t have them all, right?

Yang menjadi penyelamat film ini adalah penampilan Margot Robbie, Will Smith, dan Jay Hernandez. Dengan penggambaran tokoh yang tepat sasaran, mereka berhasil membuat film ini menjadi lebih berwarna dengan kehangatan dan humor jenaka yang tidak pernah kita temukan di DCEU sebelumnya. El Diablo sukses menjadi kuda hitam dengan karakter dan backstory yang mampu menarik simpati kita tanpa perlu bersusah payah ingin terlihat keren, gila, dan edgy seperti para tokoh yang lain. Ada satu adegan di mana para penjahat beserta komandan regu duduk dan minum bersama di dalam sebuah bar yang tak berpenghuni kemudian berdiskusi tentang kejahatan mereka di masa lalu. Biarpun pembicaraan lagi-lagi hanya didominasi oleh Deadshot dan El Diablo, namun ironisnya adegan eksplorasi karakter ini justru menjadi satu-satunya adegan yang menarik di dalam Suicide Squad, dan bukan salah satu di antara adegan baku tembak dan hantam. Finale-nya pun, aduh, nggak banget, apalagi ditambah dengan akting Cara DeLevingne yang sangat buruk dan treatment third act yang sangat kacangan.

Satu hal yang paling dinanti-nanti Suicide Squad adalah keberadaan The Joker yang diperankan oleh sang maestro Jared Leto. Ada satu permasalahan yang sangat vital yang saya temukan pada The Joker di Suicide Squad, yaitu pada penggambaran hubungannya dengan Harley Quinn. Tidak salah jika kita mengharapkan hubungan yang abusif dan manipulatif di mana Joker selalu memperdaya Harley dengan cinta yang palsu, karena memang origin story mereka dari komik ke komik seperti itu. Bicara soal moral, hubungan abusif dan manipulatif tidak seharusnya diromantisasi, karena hal tersebut merupakan isu yang serius dan sering terjadi di kehidupan nyata. Itu kalau bicara soal moral. Lain lagi dari sudut pandang komersil. Pernah mendengar betapa suksesnya buku-buku dan film The Twilight Saga serta Fifty Shades of Grey? Ditambah dengan banyaknya remaja tanggung yang memuja betapa ‘kerennya’ hubungan mereka berdua, sudah pasti Suicide Squad akan menjangkau pasar lebih luas jika romantisasi itu diterapkan. Warner Bros dan DC Comics nampaknya setuju akan hal ini, jadi ya, mereka meromantisasi hubungan mereka berdua, tentunya dengan pendekatan yang—urgh—cheesy dan soundtrack seduktif submisif dari Kehlani sebagai lagu ‘peresmian’ hubungan mereka berdua. Hasilnya adalah crazy-love-cheesy-manipulative version of The Joker. Yak, betul, jika kamu mengharapkan versi The Joker yang filosofis, kuat, dan penting seperti versi Heath Ledger di The Dark Knight, kamu akan amat sangat kecewa.

Lagipula The Joker tidak akan berfungsi dengan sempurna jika tidak berhadapan dengan Batman.

Banyak yang bilang, penonton Suicide Squad yang kecewa alasannya adalah karena berharap terlalu banyak. Jujur, saya kecewa, tapi saya pikir saya tidak berharap terlalu banyak. Saya hanya mengharapkan sebuah film dengan konsep yang solid dan konsisten, dan Suicide Squad terlalu keras mencoba untuk menjadi brutal dan “pop” secara bersamaan sehingga malah berakhir berantakan dan dangkal. Bagi penonton film santai, mereka tentu akan menikmati kegilaan Harley, humor kebapakan Deadshot, dan asiknya soundtrack lagu-lagu pop yang memenuhi film. Namun percayalah,  film ini tidak akan menjadi lebih dari tiga hal tersebut.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Koala Kumal (2016) – Patah Hati dan Konsistensi Realita

Setiap drama sejatinya adalah studi kasus tentang emosi manusia, dan setiap komedi sejatinya menyampaikan studi kasus tersebut dengan kritis dan menggelitik. Laurence Olivier, aktor Inggris pada abad ke-20, pernah berkata bahwa,

“The office of drama is to exercise, possibly to exhaust, human emotions. The purpose of comedy is to tickle those emotions into an expression of light relief; of tragedy, to wound them and bring the relief of tears. Disgust and terror are the other points of the compass.”

Bicara tentang Koala Kumal berarti bicara tentang Raditya Dika. Saya pernah berdiskusi dengan kerabat sesama film blogger, Picture Play, dan kami bersepakat bahwa Raditya Dika mempunyai potensi untuk menjadi Woody Allen-nya Indonesia. Mereka berdua mempunyai keresahan terhadap hal yang sama: cinta dan budaya berkencan di daerah asal mereka masing-masing. Mereka sama-sama dengan mudah menerjemahkan keresahan mereka lewat bahasa komedi mereka masing-masing (Woody nihilis, Dika sarkastis). Sayang, ada satu hal yang menjadi kekurangan besar Dika: ia terlalu nyaman bermain di ranah aman, di kerak sebuah persoalan tanpa berani menggali ke dalam inti sehingga pesan yang ingin ia sampaikan terkesan lemah dan tidak kritis.

Seperti yang telah tercantum di tagline, film komedi romantis ini berkisah tentang perjalanan seorang Dika untuk mendewasakan dirinya lewat patah hati. Putus cinta di ujung tanggal pernikahan, Dika mencoba untuk ‘move-on’ dengan berbagai cara yang konyol dan garing dibantu oleh Trisna (diperankan oleh Sheryl Sheinafia) yang tomboy. Judul Koala Kumal sendiri diambil berdasarkan kisah nyata seekor Koala dari New South Wales yang pulang kembali ke rumahnya di hutan setelah ditebangi. Ia kebingungan saat sampai karena rumah yang dulu ia naungi tidak lagi sama baginya. Ia merasa asing, seperti saat kamu mencium bau kamar yang biasa kamu tiduri menjadi seperti bau orang lain.

Film ketiga yang ia sutradarai setelah Marmut Merah Jambu dan Single ini mengalami peningkatan sinematik yang cukup signifikan. Dika seperti mulai mengerti bagaimana caranya menggunakan camera movement, komposisi, serta momentum editing untuk membuat sebuah komedi visual yang klasik dan tetap segar ditonton. Soal plotting dan cara Dika menyajikan setiap adegan dengan warna tematik dan kontekstual yang kental patut diacungi jempol. Sekuens yang paling saya sukai adalah saat adegan Dika datang ke rumah Trisna untuk minta penjelasan sampai kemudian selesai di adegan Dika lumpuh di atas panggung. Skema dramatik cerdas yang dibumbui referensi humor klasik ala-ala Marx bersaudara dan Warkop DKI inilah yang membuat saya menyandingkan dia dengan seorang Woody Allen.

Saat menonton film ini di bioskop, saya menyaksikan langsung hampir semua orang yang menonton tertawa terbahak-bahak di setiap momentum jokes. Mungkin, cuma saya yang tidak tertawa, meskipun saya mengagumi kecerdasan Dika dalam menulis materi komedi yang berbicara secara sarkastis dan realistis (meskipun kurang kritis) tentang budaya berpacaran pemuda Jakarta yang memang tidak jelas. Tapi saya tidak tertawa. Maka dari itu, saya mencari tahu alasan kenapa jokes Dika yang menurut saya cerdas itu tidak berhasil menggelitik saya, dan saya menemukan jawabannya. Saya tidak bersimpati pada tokoh-tokoh di film ini karena saya tidak bisa mempercayai karakter mereka, termasuk Dika sendiri. Karakter-karakter mereka bersifat dua dimensi dan cenderung tidak konsisten dengan realita yang dibentuk oleh cerita. Jika Dika berencana membuat alam cerita yang dipenuhi dengan karakter komikal seperti Trisna dan James, maka tokoh Andrea dan Kinara yang karakternya sangat aktual dengan gadis-gadis di kehidupan nyata tentunya adalah sebuah kesalahan fatal yang menggoyahkan keajaiban make-believe cerita Koala Kumal. Dialog antar tokoh pun terlalu cheesy, teeny-kind-of-preachy soal cinta tanpa ada ulasan yang lebih dalam dan kritis tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Alhasil, kemampuan film Koala Kumal dalam memberikan kritik romantika remaja dengan pesan pendewasaan emosional sama lemahnya seperti nasihat perbaikan sebuah hubungan dari teman SMA kamu yang jumlah mantan pacarnya sudah sampai dua digit.

Seniman dengan bakat sehebat apapun, apabila berkarya dengan tidak jujur dan setengah hati, maka hasilnya tidak akan maksimal. Saya melihat Dika sebagai orang cerdas dengan bakat luar biasa yang—sayangnya—terjebak dalam pengkultusan publik yang melihat dirinya lewat persepsi yang salah. Sedari awal, orang mengenal Dika sebagai blogger yang eksis lewat humor-humornya tentang kejombloan dan cinta monyet…atau brontosaurus. Setelah saya menonton Koala Kumal, saya semakin yakin bahwa Dika sebenarnya adalah seorang yang kritis, sedikit misantropis, dan mempunyai idealisme kuat yang sayangnya terkekang oleh konsistensi dari realita kehidupannya. Ada beberapa detail mise-en-scene yang sempat mencuri perhatian saya, salah satunya adalah kutipan Anais Nin, seorang tokoh esais abad 20 yang terkenal frontal, yang menghiasi dinding kamarnya. Cara dia mengalegorikan kehidupan koala New South Wales dengan pasangan yang balikan setelah patah hati juga membuktikan bahwa Dika sebenarnya punya kedalaman batin yang jauh melebihi dialog-dialog medioker yang ia tulis di film ini.

Namun jika ia tidak berani untuk mengambil langkah keluar dari zona aman, gagasan-gagasan besarnya tentang cinta dan patah hati akan membusuk di dalam kenyamanan selebritas dan popularitasnya.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

In the Mood for Love (2001) – Selingkuh itu Dosa

Seandainya dinding bisa bicara dan mengungkapkan rahasia-rahasia manusia yang ia simpan di dalamnya, maka ia akan berkata bahwa hanya ada dua hal yang paling indah saat sepasang manusia menyimpan hasrat:

  1. Saat saling berusaha mengenal.
  2. Saat saling berselingkuh.

Seperti mereka yang mabuk kepayang oleh anggur asmara, Mrs. Chan (diperankan oleh Maggie Cheung) dan Mr. Chow (diperankan oleh Tony Leung Chiu-wai) terayun gontai seperti bunga teratai di atas sungai beriak. Bukan hanya karena lecutan cinta yang kepalang liar, namun karena masing-masing dari mereka sudah ada yang memiliki. Seperti layaknya orang yang jatuh cinta, mereka sering diam-diam berkunjung ke tempat yang dikunjungi satu sama lain dan selalu berpura-pura kebetulan berpapasan. Mereka senang menatap mata satu sama lain dalam-dalam, kemudian berbasa-basi mengalihkan perhatian seakan-akan tidak ada yang mereka temukan di balik mata masing-masing.

Begitulah cinta, semakin terlarang, semakin berjuta rasanya. Semakin ia dipendam dalam diam, semakin panas gelora apinya. Wong Kar-wai, sutradara dan auteur Mandarin, mengerti bagaimana caranya melukiskan nestapa memendam cinta terlarang ke dalam gambar yang bergerak dan bersuara. Bukan hanya eksposisi dialog dan plotting, namun semua aspek-aspek simbolis yang ada di dalam film ini seakan menjadi nyawa yang membuat hidup film dan membuat mati jiwa-jiwa penontonnya. Romantisasi nelangsa batin lewat kombinasi slow-motion sequence+Yumeji’s Theme, komposisi frame within frame, dan repetisi latar tempat di dalam film ini membuat penonton semakin tenggelam ke dalam dunia mereka yang sempit dan menyengsarakan.

Ada satu hal yang patut menjadi bahan perhatian lebih dalam film ini, yaitu bagaimana mereka mencari cara untuk terus bersama menjalin cinta tanpa harus benar-benar berselingkuh. Mereka tidak pernah sekalipun berhubungan badan atau bahkan berciuman di film ini. Mereka hanya bermain peran, saling mengisi lubang yang ditinggalkan pasangan hidup mereka masing-masing yang berselingkuh. Ms. Chan bertanya di mana Mr. Chow membeli dasi yang menurutnya suaminya sukai. Mr. Chow bertanya di mana Mrs. Chan membeli tas gandeng yang menurutnya istrinya sukai. Penulis bertanya-tanya merk pomade apa yang dipakai Mr. Chow…ah sudah lah. Mereka melakukan semua itu semata-mata karena sadar bahwa mereka tidak bisa mengelak dari cinta, namun mereka masih bisa mengelak dari dosa perselingkuhan, seperti yang dilakukan pasangan mereka masing-masing. Bagaimana pun juga, dalamnya hati siapa yang tahu?

“He remembers those vanished years. As though looking through a dusty window pane, the past is something he could see, but not touch. And everything he sees is blurred and indistinct.”

Mungkin cinta mereka murni, namun sudah pasti tidak suci. Berkat arahan sutradara Wong Kar-wai, penyuguhan sinematis yang minimalis dan memukau dari Christopher Doyle, serta ikatan kimiawi yang manis dari penampilan Maggie Cheung dan Tony Leung Chiu-wai, In the Mood for Love sukses membangun ilusi kesejatian cinta yang salah dengan cantik dan memilukan secara bersamaan. Para penggemar film romansa ringan cheesy mungkin akan sedikit bosan dan mengantuk menonton film ini, tapi penulis sangat merekomendasikan mahakarya ini agar kalian belajar merasakan cinta dalam diam.

Dan jika suatu saat kalian memiliki hasrat untuk berselingkuh, cukup bisikkan hasrat kalian ke dalam lubang di dinding, kubur dengan tanah sampai padat, dan kembalilah bersetia pada pasangan resmi kalian masing-masing.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Great World of Sound (2007) – Sharking Dreams

Ada sebuah jargon yang sudah melekat erat dalam hidup para pekerja, terutama fresh graduate tanpa pengalaman kerja yang sering menghabiskan waktu dan uang (orang tua)-nya demi mondar-mandir ke seminar motivasi entrepreneurship.

Setiap orang pasti mempunyai mimpi, dan jika kita memiliki komitmen untuk berjuang dan bekerja keras, pasti kita akan mampu meraih mimpi kita.”

Jargon-jargon serupa sering keluar dari mulut mereka yang optimis, tanpa sadar bahwa sebenarnya banyak dari mereka yang sedang dicurangi oleh kaum-kaum oportunis lewat berbagai cara atas nama ‘passion‘ dan ‘komitmen’. Baik lewat pengurangan hak-hak kerja, multi-level-marketing, atau segala macam modus lainnya. Dalam film yang diproduksi oleh Magnolia Pictures pada tahun 2007 ini, perusahaan low-budget music label bernama Great World of Sound merupakan salah satu pihak oportunis tersebut.

Beberapa penulis lagu dan produser profesional mempunyai terminologi khusus untuk mendeskripsikan modus kejahatan yang dilakukan Great World of Sound (dan tentunya music label serupa di dunia nyata), yaitu song sharking: membuat para korban percaya bahwa mereka mempunyai potensi musik yang istimewa, lalu mengiming-imingi mereka kesuksesan meraih mimpi, dan kemudian meminta sejumlah uang yang tidak sedikit sebagai bentuk dari komitmen mereka terhadap mimpi yang ingin mereka raih. Sebenarnya praktik semacam ini tidak bisa dikatakan salah. Sebagian besar uang yang dibayarkan oleh para korban memang akan digunakan untuk studio recording dan publishing dari para korban itu sendiri. Great World of Sound tidak membohongi para korban tentang cara kerja mereka.

Namun lebih parah dari itu, mereka membohongi para korban dengan berkata manis melebih-lebihkan ‘bakat’ mereka untuk membiayai produksi musik mereka sendiri yang sebenarnya tidak berharga.

Kendati demikian, alih-alih menjadikan film ini sebagai caper comedy film, Craig Zobel memilih untuk melakukan pendekatan bromance comedy drama dengan menuturkan cerita ini lewat sudut pandang dua orang sales producer dengan karakter dan motivasi yang berbeda. Martin (diperankan oleh Pat Healy), seorang lelaki introvert dengan kepribadian melankolis, harus bekerja berpasangan dengan seorang pria periang dan bersemangat yang bernama Clarence (diperankan oleh Kene Holliday) untuk mendapatkan ‘klien’ sebanyak mungkin dengan berkunjung dari satu kota ke kota lain dan mengadakan audisi kecil-kecilan di kamar hotel mereka masing-masing. Walaupun karakter mereka sangat berbeda kutubnya, namun itu tidak pernah menghalangi mereka untuk saling mendukung satu sama lain dalam menjalin ikatan persahabatan dan memburu ‘talenta-talenta’ yang siap untuk ‘berkomitmen’ membangun ‘mimpi’ mereka.

Setidaknya sampai mereka berdua merasa bersalah atas apa yang mereka lakukan.

Treatment film yang sangat low-budget oriented dengan penampilan apik dari musisi-musisi dengan bakat mentah ini membuat Great World of Sound memiliki rasa yang sama dengan Once. Kita akan dibawa seakan memasuki sebuah realita, menuju ruang audisi yang menampilkan manusia-manusia dengan bakat, emosi, dan mimpi yang jauh lebih murni daripada yang ditampilkan oleh pertunjukan mencari bakat di televisi seperti X-Factor atau The Voice. Tidak hanya itu, beberapa dari mereka (termasuk gadis kecil penyanyi ‘New National Anthem‘ yang menjadi plot device penting dalam film ini) memiliki ciri khas yang sangat kental dan unik sehingga meninggalkan kesan yang mendalam setelah kita selesai menonton film. Inilah yang membuat perjalanan emosional di film ini menjadi efektif: kita akan dibuat simpati oleh Martin dan Clarence di awal film, lalu bersimpati dengan para peserta ‘audisi’ di pertengahan film, dan kemudian menjadi linglung saat ternyata mereka—Martin, Clarence, dan para peserta audisi—adalah mangsa dari kaum-kaum oportunis yang memasang ‘mimpi’ sebagai umpan.

Di dalam dunia yang semakin hari semakin penuh dan sesak ini, peradaban yang didominasi oleh kapitalisme seakan semakin menjelma menjadi serupa kanibalisme. Jadi pemburu atau jadi binatang yang terperangkap, itu pilihannya. Secara garis besar, ini merupakan topik yang diusung oleh Great World of Sound. Craig Zobel memahami hal itu dengan baik, namun ia menyampaikan lewat film yang sangat segar ini bahwa ada kalanya pemburu pun suatu saat akan terjebak dan mati di dalam perangkap binatang yang mereka ciptakan sendiri.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) – Penebus Rindu

Hal yang paling dibenci setiap manusia adalah menunggu tanpa kepastian yang jelas. Kita semua mengerti dan pernah merasakan hal itu, maka saat Miles Film mengumumkan bahwa sekuel dari Ada Apa dengan Cinta resmi ditayangkan setelah empat belas tahun lamanya, hampir semua penikmat film Indonesia yang pernah hidup menyaksikan film romansa paling ikonik di Indonesia tersebut langsung antusias menyambutnya. Mereka tidak hanya ingin tahu bagaimana kabar Rangga dan Cinta serta Geng Mading SMA yang digawangi Cinta, Milly, Karmen, Maura, Alya, dan Mamet. Sebagai penikmat film Indonesia yang sudah terlalu lama terlena dengan film-film ‘asing’ yang selalu menjajah bioskop mereka, sebagian besar dari mereka juga berharap akan adanya plot twist yang unik dan menggemparkan di antara hubungan kedua pecinta sastra tersebut.

Sebagian dari mereka mungkin terlalu berharap banyak. AADC 2 yang kini disutradarai langsung oleh Riri Riza memang menghidupkan kembali nostalgia romansa terbaik yang pernah Indonesia miliki dengan lembut dan manis tanpa ada satu hal pun yang harus dilebih-lebihkan. Semua tokoh lama AADC tampil prima dengan charm dan karakteristik mereka masing-masing, kecuali tokoh-tokoh baru yang sayangnya hanya dijadikan tempelan agar cerita yang tidak bergerak kemana-mana ini terkesan progresif dan dinamis.

“Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku untuk memilikimu sekali lagi.”

Sama halnya seperti Cinta di film ini, cerita di AADC 2 tidak move-on ke arah yang seharusnya. Bisa dikatakan bahwa AADC 2 hanyalah sebuah medium storytelling yang menceritakan tentang apa yang terjadi dalam kurun waktu 14 tahun setelah akhir film AADC dan sebelum awal film AADC 2. Fungsi dari film ini hanyalah sebagai penebus rindu bagi para penggemarnya, atau seperti yang PicturePlay katakan, “brand continuation effort“. Sebagaimana penebus rindu berfungsi, film ini terlalu banyak berbicara tentang masa lalu. Adapun pembahasan masa depan yang hanya terdapat di paruh akhir act 3 film dapat diibaratkan layaknya MSG yang menjadi solusi tepat dan ‘murah’ kalau sang koki tidak yakin masakannya cukup enak untuk disukai banyak orang.

Namun, jangan salah paham. Mengatakan film ini buruk dan tidak layak untuk ditonton adalah sebuah hiperbola yang kejam dan tidak beralasan. Justru, plot film yang ‘terlihat-seperti-maju-namun-nyatanya-mundur‘ ini akan mampu mengiris-iris hati mereka yang masih belum bisa move-on dari hubungan mereka sebelumnya, baik yang pernah terjadi maupun yang hanya angan-angan saja. Aspek sinematografi, naskah, soundtrack, dan akting para tokoh pun sebenarnya sudah jauh dari kata buruk. Awalnya pada act 1, sangat jelas terlihat dari ritme editing dan dialog antar tokoh bahwa AADC 2 linglung dan pincang seperti orang yang baru saja berolahraga kembali setelah lebih dari empat belas tahun bermalas-malasan. Namun menjelang pertemuan Cinta dan Rangga kembali, film ini mulai mendapatkan nyawa yang seharusnya sudah hidup sejak awal cerita. Belum lagi ditambah rangkaian puisi indah yang ditulis oleh Aan Mansyur yang mampu menjadikan film ini memiliki subteks yang berlapis-lapis. Banyak yang berpendapat bahwa beberapa adegan saat pertemuan kembali Rangga dan Cinta terkesan klise dan kesinetron-sinetronan, namun penulis sendiri malah berpendapat bahwa cara Riri Riza menyajikan adegan ‘kesinetron-sinetronan’ tersebut dengan gaya satir dan komikal menunjukkan bahwa ia punya tujuan mulia untuk menghidupkan sedikit humor sarkastik di tengah pekatnya kegalauan yang meracau di film ini.

Besarnya antusiasme masyarakat pada AADC 2 yang membuat film ini mampu meraih 700 ribu penonton di hari ketiga penayangannya telah memberikan harapan bagi kebangkitan industri perfilman Indonesia akan kepercayaan penonton terhadap film-film yang mereka produksi. Tentu, penulis juga berharap hal ini akan berdampak positif pada perkembangan kualitas film romansa Indonesia, karena seharusnya dari kasus AADC 2 ini, para produser film Indonesia pun bisa belajar bahwa penonton film Indonesia tidak harus selalu disodori superfisialitas agar bisa menyukai film romansa. Sebagai sekuel penebus rindu, AADC 2 telah mempersembahkan sebuah nostalgia cinta yang manis, tulus, dan penuh warna tanpa pretensi dan pernyataan cinta yang berlebih-lebihan.

Namun layaknya sebuah penebusan rindu, film ini tidak akan membawamu kemana-mana kecuali ke masa lalu.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

The Jungle Book (2016) – The Future of Storytelling

Sepanjang sejarah peradaban, manusia tidak pernah berhenti membuat cerita dan menceritakannya kepada satu sama lain. Sejarah mencatat bahwa cerita tertua yang pernah dibuat oleh manusia berasal dari Mesopotamia kuno, dibuat pada tahun 2700 SM di atas sebuah tablet iPad batu dengan judul The Epic of Gilgamesh yang mengisahkan tentang petualangan seorang manusia setengah dewa yang membangun kota Uruk dan kemudian berkelana untuk mencari tetua Utnapishtim. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, manusia juga selalu mencari cara untuk memodernisasi gaya bercerita mereka agar relevan dengan tren dan konteks sosiopolitik masyarakat di zaman mereka saat itu. Bukan hanya kecanggihan teknologi pada medium yang dieksplorasi, namun juga dari teknik dan struktur bercerita. Sebut saja Troy (2004) yang mengadaptasi Iliad dan Noah (2014) yang merujuk pada banyak versi kitab suci mengenai The Great Flood.

The Jungle Book pun merupakan salah satu kisah lama yang sudah beberapa kali diadaptasi dengan medium serta teknik dan struktur bercerita yang berbeda-beda. Rudyard Kipling, seorang jurnalis dan novelis asal Inggris, pertama kali menulis dan mempublikasikan cerita tersebut pada tahun 1894 sebagai hadiah untuk putrinya, yang dua tahun kemudian meninggal dunia di usianya yang keenam.

Sama halnya seperti Iliad dan The Great Flood, The Jungle Book menjadi cerita yang legendaris dan banyak menjadi bahan adaptasi oleh beberapa pihak (khususnya Hollywood) ke dalam medium bercerita yang berbeda-beda. Pertama kali cerita ini diangkat ke layar lebar oleh Korda bersaudara pada tahun 1942, lalu oleh Walt Disney dibuat versi animasi 2D pada tahun 1967 yang kemudian di-remake ulang menjadi live-action film pada tahun 1994.

Berdasarkan rentang zaman yang ditempuh setiap versi adaptasi (1942-1967-1994), adalah keputusan yang tepat untuk menciptakan kembali nostalgia antar-generasi dan meremake ulang The Jungle Book di tahun ini, tentunya dengan pendekatan yang relevan dengan kemajuan teknologi dan sinematografi di zaman ini.

Saat pertama kali melihat trailernya, penulis menganggap film ini tidak jauh berbeda dengan film kombinasi live action dengan CGI-Animation yang sudah kebanyakan dibuat oleh Hollywood sebelumnya (Avatar, Star Wars Ep. I-III, Scooby Doo, Alvin and The Chipmunks). Agaknya tidak perlu diingatkan lagi bahwa kecanggihan teknologi yang digunakan pada sebuah film tidak selalu menentukan bagus atau tidaknya film tersebut.

Namun saat menonton The Jungle Book langsung di teater IMAX 3D, penulis takjub setengah mati.

Bisa dibilang, film yang disutradarai oleh Jon Favreau ini sangat kuat dan all-out mengeksplorasi ketangkasan bercerita. The Jungle Book tidak semata-mata memanfaatkan CGI sebagai senjata utamanya, namun juga dalam segala aspek lain, baik dari framing composition sampai ke ranah scoring dan sound mixing. Biarpun fokus film ini hanyalah ‘menceritakan kembali’, namun kekuatan skrip yang diiringi dengan akting hebat seorang Neel Sethi sebagai Mowgli dan juga penampilan voice-over yang memukau dari para bintang ternama Hollywood seperti Idris Elba, Bill Murray, Christopher Walken, dan Scarlett Johansson berhasil membuat film ini menjadi sebuah remake langka yang melampaui kualitas para pendahulunya.

Yang menarik dari The Jungle Book versi Jon Favreau kali ini adalah keberanian Disney untuk membuka kegelapan yang dahulu disembunyi-sembunyikan dari cerita aslinya dan menggunakannya sebagai bumbu yang mampu menggetarkan jiwa para penontonnya untuk menangkap konteks environmental dan humanisme yang digaungkan film ini dengan efektif. Kita akan dibawa terlalu larut ke dalam rimba sehingga kita merasa ngeri saat adegan di mana Mowgli berhasil menuju desa dan melihat manusia-manusia yang mengelilingi ‘bunga merah’ besar yang menyala di tengah alun-alun. Terlebih lagi, bentuk para tokoh-tokoh hewan yang didesain begitu realistis dan buas ternyata tidak membatasi Jon Favreau untuk membangun karakter-karakter mereka menjadi tetap kuat dan komikal secara bersamaan. Lihat saja bagaimana Akeela, Shere Khan, Baloo, dan King Louie menghidupkan keberadaan mereka lewat dialog dan gaya berbicara yang sangat kental oleh ciri khas dan karakter masing-masing. Realisasi desain rimba dan semua tokoh hewan yang ada di film ini pun secara tidak langsung membuat para penonton mampu merasakan secara real-time experience betapa hutan rimba dan segala makhluk-makhluk buas yang ada di dalamnya pantas untuk dicintai dan dilindungi sepenuh hati.

Dan bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang jauh lebih ganas daripada hewan.

Singkat kata, film ini adalah contoh nyata dari pemanfaatan CGI yang tepat guna serta efektif dalam penceritaan lewat medium film. Seperti yang penulis katakan pada ulasan Eye in The Sky lalu, kemajuan teknologi—layaknya perang dan bencana alam—adalah hal yang tidak dapat dihindari, begitu juga tren serta habit para penonton film. Tidak ada yang salah dari CGI, asal penggunaan teknologi ini ditujukan untuk mendobrak batas-batas ide bercerita manusia serta mendukung penyampaian konteks dengan jauh lebih efektif kepada para penontonnya. Bukan hanya sekedar gimmick mimesis, tapi sebagai pendukung diegesis. Saatnya kita berhenti untuk berpura-pura menjadi hipster wannabe dan mulai mengakui bahwa penggunaan CGI sebagai pendukung dalam post-produksi sebuah film akan menjadi hal yang lebih lazim dilakukan di masa depan bukan hanya oleh para produsen film Hollywood, namun juga para indie filmmaker.

Amin.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.