Category Archives: Reviews

Ulasan seputar film-film yang berkesan untuk dibahas

Dilan 1990 (2018) – Dilan dan Mereka yang Tidak Jelas

Sebelumnya, kami meminta maaf karena kembali membahas sesuatu yang sepertinya sudah agak terlambat untuk dibicarakan. Terlalu banyak kesibukan duniawi yang menghalangi untuk menyelesaikan hobi kami yang tulus dari hati dan tidak dibayar ini. Namun biarpun begitu, kami rasa belum terlambat bagi kami untuk mendiskusikan satu film Indonesia yang mungkin tidak terlalu bagus, namun penting untuk dibicarakan karena animo serta angka penjualan tiketnya yang sangat tinggi.

Tayang pada 25 Januari lalu, Dilan 1990 sukses menjadi bahan pembahasan utama mayoritas penduduk Indonesia. Volume pembicaraan yang menggunung selama dua bulan berturut-turut di sosial media ini juga sukses memancing tidak hanya institusi pemerintahan, namun juga brand-brand terkemuka di Indonesia untuk menjadikan kutipan film ini sebagai gimmick demi menarik minat dan perhatian target konsumen mereka.

Sudah banyak sekali yang membahas tentang film ini dari berbagai sudut pandang. Detha Prastyphylia membahas tentang bagaimana film ini bisa laku keras di Indonesia lewat akun Twitter miliknya. Stephany Josephine, blogger film “suka-suka”, membahas daya tarik film ini lewat sudut pandang penonton awam dengan gaya bahasa yang mengundang gelak tawa di blog miliknya. Kami pun pada awalnya berniat membahas film ini dari perspektif yang umum, namun seiring berjalannya percakapan, kami berdua menemukan kecemasan yang sama terhadap salah satu unsur penting di film ini: para karakternya.

  • Tommy: “Nah Bung, sebagai orang yang cuma pernah diceritain tentang Dilan 1990, gue menilai Dilan 1990 sebagai sebuah cerita yang sebenernya komedi romansa, bukan serius. Cerita ini menurut gue adalah komedi romansa dengan unsur unik di mana unsur seriusnya dibawakan oleh situasi dan skenario, sedangkan komedinya sendiri dibangkitkan oleh para karakternya. Nah, gue pun secara fisik menilai Dilan penggambaran Pidi sebagai sesosok pria SMA Sunda yang caleuy, sok ganteng, tapi punya prinsip kuat. Begitu gue denger kabar bahwa Iqbal CJR yang bakal meranin Dilan, antusiasme gue langsung turun. Dari yang males nonton sampe anjir ogah banget.”
  • Bunga: “Hahaha wajar sih, Tom. Terus, menurut lo gimana setelah nonton?”
  • Tommy: “Asli, Bung. Gue merasa bodoh banget udah mikir kayak gitu. Gila Iqbal, bagus banget jadi Dilan.”
  • Bunga: “YA KAN? Gue juga awalnya amat sangat bingung waktu tau Dilan bakal diperanin sama Iqbal. Jangan salah sangka, gue dari dulu ngikutin Iqbal (dan kalaupun bukan fans CJR) tapi tau kalo kemampuan akting dia kalau diasah bakalan bagus. Gue cuma gak yakin apakah dia bisa menjadi “Dilan” seperti yang ada di buku. Ehhhh ternyata…kaget gue. Asli. 100% melebihi ekspektasi. Dia ngasih warna ke Dilan, yang visualisasinya masih burem banget buat pembacanya. Cheesy quotes-nya gak berkesan “pendek” dan maksa. Salut deh pokoknya.”
  • Tommy: “Asli gue juga mikir kayak gitu, Bung! Eh, tapi gue penasaran deh. Menurut lo yang udah tamat baca bukunya, Dilan itu karakter yang seperti apa?”
  • Bunga: “Hmm… karena gue sudah baca buku Dilan jauh sebelum nonton filmnya, buat gue buku ini bisa masuk ke berbagai genre seperti komedi, drama, keluarga, dan bahkan nyerempet sedikit ke literatur, tapi tetap di dominasi sama romansa yang unik dan punya gaya nya sendiri. Karakter Dilan itu buat gue, your high school bad boy with a twist. Entah gimana caranya dia bisa bikin segala hal yang cliche menjadi nyeleneh dan “Dilan” banget. Dia ganteng, tapi bukan sekedar ganteng. Dia puitis, tapi suka ngakak. Dia bandel, tapi gak pernah kurang ajar. Tapi betul kata lo, yang jelas dia punya prinsip.”
  • Tommy: “Yes, I hate to say this, tapi Iqbal ke karakter Dilan tuh seakan akan udah kayak Nicholas Saputra ke karakter Rangga. His true aura empower Dilan’s character. Nggak akan ada lagi yang bisa meranin Dilan sebagus dia. Biarpun mungkin memang cara dia delivering his lines itu terdengar sangat textbook, tapi ya memang karakternya Dilan begitu kan di buku? Dia kalo ngomong nggak kayak orang biasa. Kadang terlalu baku, jadi aneh. Gue sepakat sama lo tentang karakter Dilan. He’s one of a kind character that you can relate to, and he’s the one you definitely can root for.”
  • Bunga: “Betul. Banyak yang bilang kalau akting Iqbal sebagai Dilan & cara dia menyampaikan dialog itu kaku banget, tapi justru gue kebalikannya. Di dalam kekakuan karakter Dilan, Iqbal justru berhasil membuat kakunya menjadi kaku yang punya makna terselubung. Something that’s bigger than the words said themselves, kalaupun memang nggak bisa dibandingkan dengan cara remaja biasa ngomong in reality.
  • Tommy: “Betul, Bung. Nah tapi cuma satu yang bikin gue sedikit resah.
  • Bunga: “Nah, kayaknya gue tahu lo mau ngomong apa nih, Tom…”
  • Tommy: “I know you know it, karena lo feminis dan gue anti-patriarkis, pasti pikiran kita sama soal satu karakter ini.”
  • Bunga: “Milea?”
  • Tommy: “Ya iyalah. Siapa lagi? Hahaha.”

  • Bunga: “Sejujurnya gue lebih menaruh harapan ke Vanesha dibandingkan Iqbal, mungkin karena gue udah liat akting kakaknya (Sissy Priscillia) duluan di berbagai film dan instantly menganggap kalau Vanesha akan ngasih justice buat Milea juga. Tapi ternyata gue salah. Gue gak bilang akting Vanesha jelek (it’s her debut, for God’s sake!) tapi memang gak bisa dibohongin kalau Milea yang gue “cari” nggak ada disitu. Ibaratnya, Milea sebagai karakter cuma ada untuk ngebalesin Dilan doang. Gue gak bisa menangkap sifat dia, apa yang dia suka dan gak suka, kenapa dia mau sama Dilan (selain karena digombalin) dan Dilan mau sama dia, dan lain sebagainya. Dia gak punya personality yang cukup signifikan untuk jadi sebuah karakter, let alone protagonis.”
  • Tommy: “Wah, sangat menarik nih. Soalnya gue udah ngomong sama dua orang tentang hal ini: Fira dan temen kerjaan gue Annisa. Mereka berdua bilang bahwa Milea itu di buku memang nggak jelas maunya apa. Annisa yang bahkan udah baca semua seri buku Dilan pun bilang bahwa Milea dari awal sampe akhir bakal gitu terus. Manic Pixie Dream Girl versi nggak ada rasanya. Nah bagi lo sendiri, Milea yang lo baca di novel itu seperti apa? Mungkin lo punya interpretasi yang beda dari Annisa nih…”
  • Bunga: Gue setuju dengan Annisa yang bilang Milea itu nggak jelas maunya apa. Menurut gue, di buku Milea adalah karakter yang plain banget. Lebih mengarah ke pemanis cerita dibandingkan protagonis yang bold & solid seperti Dilan. Dia itu ibarat kanvas putih polos yang belum diisi apa-apa. Entah Milea yang asli orangnya memang begitu atau gimana, gue kurang tau juga. Cuma gue sedikit kaget aja kalau Milea yang di film bisa bener-bener sehambar ini… hahahaha.
  • Tommy: “Berarti secara tidak sengaja, Vanesha sebenarnya bisa dibilang sukses jadi Milea dong ya?”
  • Bunga: “HAHAHAHAHA WOI JAHAT AH!”
  • Tommy: “HAHAHAHA! Anyway, gue seneng dengan ceritanya Dilan yang almost plotless tapi nggak mencoba mendramatisir apa yang sebetulnya nggak perlu. Film Dilan 1990 ini juga tahu apa yang ingin dituju dan apa yang ingin dikisahkan. Fresh banget untuk film-film romansa remaja Indonesia.”
  • Bunga: “Yes! Plotless adalah hal pertama yang ada di pikiran gue setelah keluar dari bioskop. Dilan adalah film yang punya tujuan, tetapi tetap realistis dan memilih untuk “menggantungkan” penonton demi membuat mereka penasaran nonton film selanjutnya. Gue suka bagaimana Dilan tidak takut untuk menunjukkan bahwa cewek dipukul cowok itu — unfortunately — masih lumrah, terutama di kalangan anak muda (karena yang biasanya kesorot itu cuma orang tua). Plus adegan tawuran & geng motor yang nyeremin, tetapi emang masih bener terjadi di dunia nyata. Eksplisit banget. Gue sampai sekarang masih belum bisa lupa tatapan Dilan yang keras saat naik motor, jadi panglima tempur di paling depan. Seakan-akan, ini loh sisi lain Dilan yang 180 derajat dari si tukang gombal dengan bahasa khas EYD.”
  • Tommy: “Betul. Mereka bener bener ngegambarin dunia nyata tanpa harus mendramatisir hal-hal yang sebenernya nggak perlu. Dilan ini cerita yang sebenernya character-driven. Dilan nggak cuma pegang komando geng motor, tapi dia pegang kontrol atas cerita tentang dirinya sendiri, and isn’t that amazing? I mean, segala hal yang ada di film ini, kalo nggak ada interupsi Dilan, pasti jadinya plain banget. Walaupun ada saat-saat di mana Dilan ilang, kita masih dibuat selalu menunggu “apa yang bakal Dilan lakukan ya?” Sebenernya hal seperti ini bisa dibilang sesuatu yang minus juga, karena hal ini bikin Milea ga bisa berkembang jadi karakter yang menarik.
  • Bunga: “This movie takes the importance of Dilan’s character to a whole new level. Di satu sisi bagus karena kita benar-benar ngerasain emosi, sifat & perilaku Dilan firsthand, meskipun di sisi lain pada akhirnya karakter-karakter lainnya (baik protagonis, antagonis dan pendukung) jadi sedikit “terlupakan”, including Milea-nya sendiri. Gue sendiri sejujurnya masih bingung sama esensinya karakter Kang Adi di film ini. Not gonna lie that he’s really an eye candy though, hehe.”

  • Tommy: “HAHAHA ANJIR ngomongin Kang Adi lagi. Agak ngakak loh gue ngeliat karakter Kang Adi bener-bener terlecehkan di film ini. Cuma sebagai Guru Privat Milea yang diem diem suka sama dia doang. Kenapa sih dua lelaki terhormat seperti Dilan dan Kang Adi harus suka sama Milea. Hmm mungkin karena amat sangat submisif kali ya?”
  • Bunga: “Sedih gue huh. Kang Adi potensinya banyak banget, entah memang belum dikembangkan (disimpan untuk lanjutan film Dilan) atau hanya hadir sebagai guru privat. Tapi kalau ternyata yang kedua yang benar, disayangkan banget sih.”
  • Tommy: “Iyaaa! Kalau nggak salah itu aktornya juga yang kemarin main Galih dan Ratna kan?”
  • Bunga: “Oh iya, ya. By the way, gila gue suka banget Galih dan Ratna! It was a really nice movie.”
  • Tommy: “Hadeh gue belum sempet nonton lagi. Oh iya, adegan favorit lo di film Dilan 1990 apa nih, Bung? Kalo gue sih jelas, pas Dilan tubir. Both sama gurunya yang nampar dia dan juga sama Anhar.”
  • Bunga: “Hmm, gue setuju sama lo waktu Dilan tubir. Feelnya dapet banget. Waktu dia naik motor, natap kamera dengan intens dengan background orang-orang bersorak ria yang super anarkis. Bener-bener bikin merinding. Gue juga enjoy waktu scene Milea dipukul sama temannya Dilan di warung tongkrongan mereka. Buat gue, itu adalah salah satu scene yang berhasil menepis stereotype di masyarakat. Wake up, masih banyak loh di luar sana, in reality, yang cowok berani mukul cewek! And it’s not always about KDRT!”
  • Tommy: “Whoa preach girl!”
  • Bunga: “Eh sorry-sorry gue ngegas. Tapi gimana ya, Tom. Karena buat gue potrayal dari violence itu penting banget (karena sayangnya masih marak di Indonesia), jadi agak seneng kalau ada ranah seperti ini diangkat ke layar lebar. Serem banget sih, tapi gue rasa bikin kita jadi mikir 2x dalam berkata dan berperilaku saat kita lagi emosi. Sama seperti Posesif.”
  • Tommy: “HAHAHA santai bungs, we should be uneasy about that stuff anyway.
  • Bunga: “Yes of course we should. Anyway, what’s your least favorite scene?”
  • Tommy: “If I have to say my least favorite scene, yaitu semua scene yang ada Kang Adi nya hahahaha. Sumpah, saking numpang lewatnya itu karakter gapenting, jadi resah terus bawaannya gue. Kayak “woi relevansinya apaan anjeng kasian ini karakter kaga jelas banget munculnya tiba tiba perginya juga tiba tiba, cuma buat jadi orang yang diem diem suka sama Milea aja hhhh”. Anyways, kalo lo gimana Bung? Least favorite scene lo apa?
  • Bunga: “Halah, gue juga scenes-nya Kang Adi sih.”
  • Tommy: “Sudah lah Bung ya, makin diomongin makin perih hahaha.”
  • Bunga: “Oh ya! Patut diacungi jempol juga akting Brandon Salim sebagai slut-shaming boyfriend nya Milea. Asli, akting dia bagus tapi underrated banget. Mungkin karena udah pada terlanjur fokus ke Dilan kali ya, hehehe. But thumbs up buat dia!”
  • Tommy: “Gue setuju banget. Brandon Salim aktingnya bagus jadi anak cengeng yang sok sok maskulin dan overprotektif.”

  • Tommy: “Kalau secara keseluruhan cerita dan treatmentnya, menurut lo Dilan gimana Bungs?”
  • Bunga: “Dilan is a heartwarming coming-of-age slash romance slash comedy slash drama movie that takes you on a rollercoaster ride of cheesy yet poetic pick up lines and how reality doesn’t really have endings. It just simply goes on, seperti yang divisualisasikan film Dilan itu sendiri. Which is a good thing karena buat gue, terkadang dunia perfilman Indonesia (terutama dalam genre romansa) sering terbuai sama safety-nya happy endings. It’s nice to see film-film romansa belakangan seperti Dilan dan Posesif perlahan mengubah stigma tentang itu.”
  • Tommy: “Interesting! Kalo menurut gue, film ini disajikan secara puitis dan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan HLHKNTL…”
  • Bunga: “HAHAHAHAHA “HLHKNTL” SERIUS AH TOMS :)))”
  • Tommy: “HAHAHAH SORRY …but seriously I love how Dilan 1990 serve the plotless story in a very modest manner as a reminder for everyone on how beautiful it is to be young, silly, idealist, and in love. Dan gue setuju terhadap deskripsi lo tentang film Dilan. Ia menjadi sebuah kisah cinta romantis lintas generasi yang semata-mata ingin menghidupkan kembali nostalgia remaja SMA tahun 1990 secara manis dan tetap realistis. Mungkin tetap juga, Dilan bisa dikatakan happy ending, tapi cerita ini pun seperti nggak ada awal dan nggak berakhir. Cerita Dilan juga mungkin akan berlanjut, seperti apa yang akhir film ini katakan, tapi berakhir di sini pun sebenarnya sudah cukup. It’s already a satisfactory nostalgia less-sugar candy for everyone who has ever feel love in their high school age.”
  • Bunga: “Karena mungkin emang untuk film-film seperti Dilan, gak butuh particular happy ending atau sad ending. Dengan mereka mengusut cerita yang realistic, seharusnya memang gak perlu ada ending, kan? I’m actually more excited for what is about to come in the second movie. Apakah mereka bisa menghidupkan kembali Dilan yang ini? Apakah Milea masih submisif? Apakah Dilan masih menjadi pusat dari filmnya? Apakah Kang Adi masih menjadi relevan? So many questions inside my head that are begging to be solved. Gue pun merasa film ini melebihi ekspekstasi gue, karena di awal udah drop sekaligus tinggi banget (aneh gak tuh?). But it really gives a nice tone to begin 2018, so I’m most likely almost satisfied.”
  • Tommy: “Biarpun memang agak biasa aja, tapi Dilan melebihi ekspektasi gue. Ini film yang cukup manis dan sama sekali nggak norak. Dan sebenernya separah apapun temen-temen gue tidak merekomendasikan Dilan karena novelnya sama sekali tidak memberikan perubahan pada karakter Milea, gue masih tetep penasaran apakah ke depannya sang filmmaker pada akhirnya mencoba untuk mengubah konsep cerita dan melakukan sesuatu pada si karakter perempuan utama tersebut.”
  • Bunga: “Right, right! Last thing, Tom. Who do you think should watch this movie?”
  • Tommy: “Film ini sangat baik untuk ditonton bagi orang-orang yang capek baru pulang kerja, terutama para pria. Enak gitu kelar kerja, stres, nonton Dilan ngalusin anak orang. Ngeliat kisah cinta mereka, terus berandai-andai jadi Dilan. Anak motor, ganteng, jago ngalusin anak orang, eh bisa dapetin MPDG kayak Milea. Atau, simply, ya orang-orang Bandung berumur 30-an ke atas yang pengen nostalgia masa-masa SMA mereka. Kalau menurut lo, Bung?”
  • Bunga: “Iya, sejujurnya buat gue biarpun latar film ini SMA, film ini lebih cocok untuk audience yang bukan anak SMA (atau setidaknya anak SMA dengan pola pikir yang diatas umurnya). Tapi, yang SMA tetep boleh nonton kok. Kali-kali aja bisa jadi referensi kalo mau ngemodusin cewek. Hehe.”

Masa muda, memang masanya bercinta. Namun sangat disayangkan apabila tradisi dan budaya berkencan anak muda zaman sekarang mesti terus menerus diromantisasi dengan karakter-karakter pasif yang tak mempunyai kejelasan motivasi namun selalu berhasil menemukan apa yang ia mau dan mendapatkannya tanpa ada usaha apapun yang signifikan. Dilan 1990 adalah film yang menarik, namun akan jauh lebih menarik bila karakter Milea dapat lebih dipertajam dengan motivasi dan effort yang lebih jelas agar tidak hanya mampu menarik simpati gadis-gadis muda, namun juga memotivasi mereka untuk mencari jati diri yang lebih kuat selain soal pacaran dengan ketua geng motor ganteng dan juga harus melakukan upaya yang nyata untuk mendapatkannya selain hanya menunggu untuk dikejar.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Maze Runner: The Death Cure – An Imperfect Execution to A Big Idea (SPOILER REVIEW)

Sudah berapa banyak novel-novel post-apocalyptic/fantasy YA mancanegara yang diadaptasi ke dalam cerita layar lebar? Mulai dari The Hunger Games, City of Ember, The Mortal Instruments, Divergent, dan lainnya sudah kita saksikan baik di bioskop Indonesia maupun platform streaming seperti Netflix dan lainnya. Tidak peduli betapa seragamnya mereka dari segi narasi, para remaja tetap banyak yang menyenangi genre cerita yang memberikan mereka sense of power to change the world ini.

Salah satu cerita post-apocalyptic YA yang banyak mendapat respons positif adalah seri Maze Runner. Berdasarkan situs Box Office Mojo, hanya dalam seminggu setelah penayangan pertamanya di Amerika Serikat, film dari seri pertamanya, The Maze Runner, langsung berhasil balik modal dengan meraup $32,512,804. Harus diakui, The Maze Runner memang memberikan sesuatu yang berbeda dengan mencampurkan elemen-element post-apocalyptic YA dan human experiment survival horror. Namun keistimewaan itu seketika hilang di sequel Maze Runner yang berjudul The Scorch Trials. Penulis seperti kehilangan arah menentukan kemana cerita seharusnya berlayar dan pada akhirnya berpasrah di template adventure-thriller yang malas dan membosankan.

Minggu lalu, sekuel terakhir dan penghabisan dari Maze Runner yang berjudul The Death Cure telah tayang di bioskop Indonesia. Setelah menonton filmnya selama dua setengah jam, saya masih merasakan keresahan yang sama seperti waktu menonton The Scorch Trials. Hanya saja, kali ini jujur saya merasa jauh lebih terhibur karena nampaknya Wes Ball lebih matang dalam mengeksekusi beberapa adegan penting meskipun skripnya masih seperti ditulis oleh orang yang kurang digaji. Oleh karena terlalu banyak pertanyaan yang muncul, saya memutuskan untuk mengulas film ini bersama Bunga kembali karena ia adalah salah satu remaja yang membaca novel seri Maze Runner dari awal sampai akhir (and obviously karena dia juga mengulas film di Distopiana). Berikut pembicaraan kami.

  • Tommy : Oke Bungs, sebelum memulai review, gue mau menjelaskan terlebih dahulu. Jadi sebenernya gini, kalo misal kemarin pas ngulas Posesif kita jadi dua orang di kutub yang sama, sekarang kita bakal jadi dua orang dengan kutub yang berbeda.
  • Bunga : Hmm…and why is that?
  • Tommy : Karena gue berpikir Maze Runner: The Death Cure ini cuma bakal bisa menjadi spesial buat mereka yang emang udah jatuh cinta dan immerse ke dalam cerita awalnya. Honestly I found so many flaws in this story, and I believe I will only find this film emotionally intriguing if I wanted to close my eyes to all that stuffs.
  • Bunga : True, true. Kita harus ngikutin dari awal untuk mengerti esensinya The Death Cure. I believe that The Death Cure has many flaws too, though I may or may not be on the exact same boat with you. Let’s get started!
  • Tommy : Okay then, great!
  • Bunga : Well, I’ve read all the books way before the movies even existed, and I have to be honest, I’ve got some mixed reviews to share with you tonight. The first installment was great — still decent but not the best, the second was a flop, and the third was a complete improvement.
  • Tommy : Bring it on, Bungs. I wanna hear from you first because you’re the one who read the books.
  • Bunga : Meskipun The Death Cure bukan adaptasi novel terbaik yang pernah gue tonton, filmnya definitely ngikutin novelnya dengan presentase diatas 60%. Yang sangat gue sayangkan adalah bagaimana mereka membuat imaginasi berbentu literatur-nya Dashner came to life. And this is not even rooted on the special effects. Some characters are portrayed differently from the books, and there is another big revelation those who haven’t read the book. It’s gonna be a huge let down, though.
  • Tommy : Oh really? They adapted it that badly?? Honestly gue selalu ngerasa Maze Runner series ini di novelnya sebenernya punya cerita yang lebih bagus dari apa yang ditampilkan di film loh.
  • Bunga : Yeah, it is that badly adapted.
    • A) Thomas isn’t supposed to find out about Newt’s flare like that.
    • B) Aris should’ve stood out A LITTLE BIT more.
    • C) Minho’s abduction isn’t supposed to be prolonged.
    • D) Teresa isn’t supposed to be that kind.
    • E) Seharusnya ada adegan surgeries yang amat sangat penting dalam development cerita The Death Cure secara keseluruhan.
  • Tommy : Wait sorry, who’s Aris again? :/
  • Bunga : NAH KAN!
  • Tommy : Do you know that there’s supposed to be another maze, the same exact maze like you saw in Group A (the first movie), with Group B as the subjects — all girls with one boy? Well, Aris is the male version of Teresa.
  • Tommy : Wait, now I do remember. The question is: why isn’t this part being highlighted in the film? I mean…this is important. This means Thomas isn’t the only protagonist then.
  • Bunga : Because the film would sell better kalau yang jadi protagonisnya cuma Dylan O’Brien, Tom.
  • Tommy : Goddammit, it makes sense! Seriously, one of the things I hate in this series was like how Thomas is always the center of the stories and the other characters are only the hands of him. They don’t even have a proper skeletons and foundations to stand on their own feet.
  • Bunga : Mereka mengeksploitasi Thomas gitu gak, sih?
  • Tommy : Yes bener banget. Padahal gue pengen banget ngeliat Newt, Minho, ataupun Frypan punya motive, purpose, and function yang lebih solid dan vital di dalam cerita ini.
  • Bunga : Let’s start talking about this in a chronological order, shall we?

  • Tommy : Let’s. I got to admit that train mission in the first scene was executed well. Dari sini gue bisa ngeliat bahwa Wes Ball udah mulai dewasa soal crafting meskipun screenwriternya kayak cuma digaji UMR doang makanya kerjanya males-malesan.
  • Bunga : HAHAHAHAHA SIAL UMR. Kalaupun kurang realistis waktu keretanya di angkat (efek anginnya mana, nih? Masa badannya mereka yg diatas gerbong gak goyang parah) dan nyari Minho cuma moda teriak2 (makanya salah gerbong!) tapi boleh lah. Ide nya cukup brilliant.
  • Tommy : OH ITU SALAH GERBONG YA? BUKANNYA DIPINDAHIN?
  • Bunga : Wait… emang Minho pernah dipindahin? Gue clueless nih, karena gak seharusnya dia diculik! Kalo dia dipindahin kenapa bisa saling denger…
  • Tommy : Lo inget nggak pas Thomas nanya salah satu glader di gerbong, “Where’s Minho? He was on this car, wasn’t he?” terus si glader bilang “I’m sorry. He was.”
  • Bunga : OH IYAAAA. Astaghfirullah lupa. Berarti impactnya kurang hahaha.
  • Tommy : Bener kan?? Gue emang ngerasa bahwa di bagian itu pas Minho dipindahin atau diculik, ada bagian yang sangat sangat kurang.
  • Bunga : And Dashner didn’t write this whole abduction in the first place. The way the film wrote this shit instead just gave WICKED more power (that they stupidly didn’t use well) to abuse the former gladers and Thomas too much screen time to be the fucking knight in shining armor. Thomas itu karakter yang impulsif, spontan, berani dan sebenernya intelek – tapi kalau melakukan sesuatu kadang terlalu tergesa2 dan gak mikir efeknya, kebalikan dari Minho yang selalu hati2, organized tapi gesit (which was why he was chosen as the keeper of the runners). Jadi, apa gunanya bikin cerita Minho diculik? Wasn’t he a little too clever for that?
  • Tommy : Holy shit…so the reason why this film is actually terrible is because they wanted it to be terrible? So they can sell it to the teenagers they think are only worshipping Thomas?
  • Bunga : The Maze Runner series are supposed to be a tale of brave men and women who are determined fight for their rights – which means bringing down WICKED, a wealthy organization made by a bunch of psychotic scientists who are obsessed to find the cure to a zombie-like disease called Flare. Tapi film-film adaptasinya malah bikin The Maze Runner jadi cerita klise tentang satu protagonis dan teman-temannya (yang mau disuruh-suruh padahal punya potensi yang sama, atau bahkan lebih) dalam memberantas kejahatan. Dibumbui dengan drama dan back story yang bikin remaja baperan, tentunya.
  • Tommy : Goddammit. Oke Bung, now I really want to talk about Gally.
  • Bunga : OH YES.
  • Tommy : Gini loh.
    • The film never provide enough closure for how Gally came back to life after MINHO PUT A FUCKING SPEAR THROUGH HIS FUCKING CHEST. He was just like “Oh, WCKD just patched me up after y’all gone”
    • There is no urgency – or even relevancy for Gally to come back to life and assist Thomas in bringing down WCKD. I mean, even if it’s not Gally, the story will just go along as it is.
  • Bunga : Yeah, the unfortunate thing about Gally’s revival story is that Dashner gak pernah bener-bener jelasin juga di bukunya. Mungkin dampak nya jadi ada plot hole di film juga. Padahal memang Gally ini karakter yang menarik. Gally itu buat gue ibarat… bunglon. Gak jahat, tapi gak baik juga. He was simply a man who believes in survival, no matter what. He was never a part of the gladers, nor a part of the Right Arm. He was his own person. Jadi antek2nya Lawrence itu cuma salah satu bagian dari survival kit nya dia aja. A coping mechanism.
  • Tommy : Nah, menurut gue memang Gally ini karakter yang sangat menarik yang seharusnya dieksplor lebih lanjut. Justru dia yang memberi nyawa di Maze Runner pertama selain Minho dan Newt. Begitu pertama kali muncul Gally di Death Cure, sebenernya gue seneng banget loh. Like “Ooooh okay this is going to be interesting again” tapi ternyata hhhh such a waste.
  • Bunga : Gally itu very, very complex. Sudah pasti ada alasan kenapa dia stood out dibandingkan yang lain.
  • Tommy : I agree. Now Bung, let’s talk about Lawrence, the disfigured leader of the Right Arm.
  • Bunga : Fun fact! Alasan kenapa muka dia bisa kelihatan hancur di film adalah dia ngidap Flare. Very cliche. Tapi, yang lebih menarik lagi, diluar serum WICKED yang butuh ekstrak darah immune. ada serum lain yang bernama Bliss yang bisa memperlambat pertumbuhan Flare untuk mereka yang sudah terinfeksi — which was the one Lawrence used for survival. Kalau lo perhatiin, dia bawa2 infus di awal introduction. Seperti yang dia sendiri bilang, Lawrence is a businessman. Bukan melawan WICKED karena activism, tapi karena dia butuh benefit.
  • Tommy :  Then why, may I frustratingly asked, is his role being depicted so poorly unimportant without leaving any remarkable impression in the movie? I mean, the moment when he was seen as important was only that moment when he gives Thomas permission to enter the city and the moment when he brings down the wall.
  • Bunga : Because again, the story would be too deep and complicated. AND wouldn’t be as selling as it is now. Harusnya Lawrence dibikin lebih tegas, lebih berkuasa, lebih licik. Bikin point bahwa “I may be your leader but I have my own needs too” karena balik lagi- Lawrence was a businessman. He wasn’t here for charities.
  • Tommy : Holy shit I swear…the screenwriters HAD ONE JOB! Should’ve figure out how to make all the complexities fit into one compact and solid film.
  • Bunga : Nyatanya, adaptasi novel ke film itu susah bukan main. I have been writing for awhile dan hal yang gue tangkap adalah menghidupkan literatur itu bukan cuma tentang special effects yang canggih atau presentase kemiripan cerita yang tinggi, tapi bagaimana kita membuat setiap karakter ter-explored seperti di buku. Yang protagonis tetap stand out (tanpa membuat supporting roles menjadi sekedar antek2 dia), yang supporting roles tetap terkesan penting dan tambahan2 lain (seperti romance, friendship antar karakter) hanya menjadi sekedar “pemanis”.
  • Tommy : You’re absolutely right Bung. It’s just very frustrating to know that an interesting story like Maze Runner series could have such a shitty film adaptation that barely represents the whole story. Okay, now all the question about how tangled the story and why’s there so much plot hole is answered. Put that aside, I love how some of the scene is being executed. That elevator scene when Janson is talking to Teresa while she’s taking the disguised Gally and Thomas made me chuckled.
  • Bunga : Yes! HAHAHA that was funny.

  • Tommy : Wait, you mentioned something about Teresa before. What about her?
  • Bunga : Teresa… one of the most complex characters other than Gally. She was supposed to die in a much, much sadistic way. She was crushed by falling debris while saving Thomas. Though the last part was used in the movie, buat gue eksekusinya terlalu dramatically ridiculous. Dengan durasi sepanjang itu lebih dari mungkin mereka narik tangan Teresa setelah Thomas selamat dilempar ke Berg. Tapi of course, cuma bengong sampe gedungnya roboh. Mungkin sengaja dibuat less graphic karena ini bukan film dengan rating 17+, tapi transisi dan timingnya sedikit… curam.
  • Tommy : Yeah, I noticed that cringeworthy moment tho.
  • Bunga : Lanjut ke karakternya Teresa lagi ya. Buat gue, Teresa itu gak baik. Gak jahat juga, sih. Tapi gimana pun juga, she betrayed her own friends dan kalau yang gue baca berdasarkan buku, she was a very wicked girl (pun intended). She was almost like mini Ava, tapi sedikit lebih polos (makanya dibegoin). Dia percaya bahwa wicked was good.
  • Tommy : Wait… Isn’t WCKD… Actually good? It was revealed in the middle of the film that WCKD was actually only trying to find a cure, right?
  • Bunga : Tujuannya sih iya, tapi orang2nya? WICKED was good, but was also filled with greed and people who wanted the cure for themselves. Or even worse, cuma menyelamatkan yang mereka pikir “perlu” diselamatkan.
  • Tommy : Okay, so there are actually so many spectrums delivered by this story. Thank you for the enlightenment, Bungs. Now, shall we discussed…Newt?
  • Bunga : *sobs violently*
  • Tommy : GODDAMMIT HE WAS ONE OF MY FAVORITE CHARACTERS.
  • Bunga : NO DOUBT. The sad thing about The Maze Runner is that at some points, I liked Newt better than Thomas…
  • Tommy : Is there more to Newt that I should know Bungs? Because no matter how much I like him, I still didn’t think the writer did his part of story with justice.
  • Bunga : You already know he was suicidal right?
  • Tommy : What…since when?
  • Bunga : Like, back when he just got into the maze.
  • Tommy : I mean, that part when he tried several times to killl himself after he got the flare was obvious. He was suicidal before??
  • Bunga : Him limping was a result from his suicide attempt of falling down from top of the wall (the maze), though in Scorch Trials and Death Cure his limps weren’t as exposed.
  • Tommy : Was this one ever mentioned in the first film? Gue samar samar soalnya. Gue ada inget Newt ngobrol intim sama Thomas but can’t remember exactly what the conversation is. Is it this one?
  • Bunga : Eh… i don’t know, but I don’t think so. Yang jelas, Newt was a very dark person. He had a younger sister named Lizzy who was also an immune like Thomas, and they were both taken by WICKED as subjects after WICKED killed their parents. It was sad that this wasn’t mentioned in the movie (I want to know more about her sister). Dan yang terpenting (dan tersedih) alasan dia mau bunuh diri adalah karena dia gak bisa cope sama orang2 yang mati “gara-gara” dia. Which was why he was very leader-like (despite Alby being the real leader) to the other gladers, thus earning the second-in-command position. Dia sayang banget sama Thomas karena dia tau yang Thomas rasain kayak gimana, tapi sayangnya kurang di explore lebih jauh aja.
  • Tommy : No…I’m not crying. Tears didn’t just run down my face after knowing that. You know I’m a masculine man, right?
  • Bunga : Yes, I do :”
  • Tommy : If this was actually revealed in Death Cure, I don’t know what will happen to me when I’m watching THAT SCENE and the one when Thomas read Newt’s letter to him.
  • Bunga : Another fan fact: Newt should have been the one abducted
  • Tommy : What? Why he was the one that is abducted?
  • Bunga : This is a whole another story, tapi yang jelas Thomas and the others should’ve had an expedition to Denver, and they left Newt to watch the Berg. Disana, dia malah ketemu sama cranks dan diajak buat ninggalin gladers yang lain – toh dia udah keinfeksi flare juga. He was then taken to a place called The Crank Palace, “a place where he belonged”. That was when he started writing the letter for Thomas (isinya hampir sama kayak yang di film).
  • Tommy : That sounds fascinating.
  • Bunga : Addition-nya, dia minta Thomas buat bunuh dia kalo mereka ketemu. Dia gak mau jadi crank dan bunuh orang2 disekitar dia kayak yang kejadian sama keluarga & temen2 dia yang lain. “Kill me, if you’ve ever been my friend, kill me”. And well, when they met again, Thomas did.
  • Tommy : Goddammit.
  • Bunga : This fucked me up a thousand times worse daripada yang di film (kalaupun gue nangis2 juga sih, hehe)
  • Tommy : Yeah, I bet you do, Bungs. What about Minho? Was there ever more to him than just “being abducted and tested and helping Thomas”?
  • Bunga : Minho was never really explored, both in the books and the movies… but he’s supposed to be a gag man with sass. He was no doubt the strongest, smartest and funniest among the group, which balanced Newt’s traits. Tapi emang sih, Minho itu fond banget sama Thomas. Bahkan dia hampir milih Thomas jadi keeper untuk runners (gantiin dia) setelah Thomas berhasil survive semaleman di maze, tapi buru2 dilarang sama Newt hahahahaha. But it was nice to see an Asian that’s portrayed in such un-stereotypical ways.
  • Tommy : I agree to that. Duh,  emang paling the best tuh Maze Runner yang pertama deh.
  • Bunga : The Maze Runner series overall are such great installments. Kalaupun temanya dystopian, ceritanya sama sekali gak mainstream. Karakternya kompleks, filosofis (they were all named from important people scientists!) dan setiap reaksi selalu datang dari setiap aksi. Cuma memang eksekusinya aja yang kurang bagus. Terutama untuk film2nya, ya. But I get what Dashner meant in general. Kalau dibuat dengan baik dan benar, I bet my ass The Maze Runner bakalan jadi masterpiece.
  • Tommy : I agree once again, it had a big idea, but poor execution. Nah Bungs, now I want to discuss about the ending. What happened to the rest of the world? Is it actually just them in that paradise-like island? Did Thomas and other gladers ever find their memories back?
  • Bunga : Seharusnya gak se-happy ending itu sih, tapi gue tetep dibikin sendu gara suratnya Newt dan name-carving nya Teresa. To be honest, there was another back story about their memories.

  • Bunga :  Kalau berdasarkan buku, all gladers are supposed to have the chance to restore their memories, dengan cara operasi pengangkatan chip. Ini offer dari WICKED-nya sendiri. On one condition: setelah operasi, kemampuan telepati nya Thomas, Teresa & Aris akan hilang. Thomas, Newt & Minho were the only ones who decided not to restore their memories. Menurut mereka, the people they were today itu ya mereka yang sebenarnya, dan gak akan berpengaruh dengan cure yang mereka cari – toh jawabannya udah ada di depan mata, immune’s blood. They escaped the surgery with the help of Brenda & Jorge, who were apparently – surprise, surprise – antek2 nya WICKED!
  • Tommy : WHOA, that is interesting.
  • Bunga : Plus, WICKED nggak sebodoh itu. Kalaupun chip memori mereka di ambil, mind-control chips mereka akan tetap ada & yang ada malah mempersulit gerak mereka. So why bother? This eventually led to their Denver expedition, karena mereka mau nyari scientist bernama Hans yang bisa ngangkat both chips. Eh, balik lagi deh ke kronologis yang Newt ketemu Cranks.
  • Tommy : Wait, wait a second. WAIT, WHAT, THEY SUPPOSED TO HAVE TELEPHATIC ABILITIES?
  • Bunga : TOM, THEY EXPLAINED IT BACK IN THE FIRST FILM HAHAHAHA. Also in the third film tapi gak exposed banget. It happened waktu Teresa sama Thomas & Newt nyusup ke WICKED.Bunga
  • Tommy : This dumbing-down surgery towards the film adaptation is far worse than I thought. Please help me out here, mereka nggak dijelasin punya telepathic ability sama sekali. Terus di bagian penyusupan WCKD mananya yang mereka menggunakan telepathy?
  • Bunga : Inget gak, waktu Thomas sama Teresa nyolot2an pas mau masuk ke lift? They sort of disagreed on each other’s opinions, kalo gak salah – which was talked inside their heads instead of in person. Makanya Newt nyelonong jalan di depan.
  • Tommy : Kenapa se-subtle itu sih? It could be awesome if this film utilize more of it.
  • Bunga : I know, right?
  • Tommy : Okay, now let’s sum it all up in one conclusion. What do you think about the movie in general, Bungs?
  • Bunga : I think The Death Cure an entertaining movie after all. Definitely a huge improvement from Scorch Trials, though it didn’t give the entire justice Dashner’s book deserves. Visual effects nya bagus, cast nya solid, costumes & make up bener-bener thorough antar konsep rustic dan futuristic-nya. Yang gue sayangkan adalah plot holes, aspek-aspek penting dari buku yang dihilangkan (mungkin supaya filmnya lebih menjual) & balik lagi, unnecessary dramas.
  • Tommy : 100% agree with this.
  • Bunga : If there is one thing I can change from this whole installment is how they made the script. Intentions nya gue ngerti, tapi eksekusinya nggak sama sekali. But again, this is an adaptation we’re talking about. Gue nggak heran sih, malah cukup bersyukur karena setidaknya mereka punya decency untuk tidak membagi novel terakhir menjadi 2 film just for the sakes of money. That very concept already destroyed Twilight, The Hunger Games, Divergent — but Thank God nggak untuk The Maze Runner. This installment really taught us a lot about friendship, sacrifice and how science should always stick together with conscience itself. Humanity is a very complex area to understand, but if we’re willing to dive in & do what we think is right, it’s possible.
  • Tommy :  True. I’m thinking that Death Cure is actually filled with some distinctive elements that differentiate this one from any other post apocalyptic YA stories. Although the direction is much better than The Scorch Trials, it is lazily written and heavily focuses on many wrong things that in the end only works as a closure for those who feel emotionally distracted by Newt and Teresa’s death.
  • Bunga : Agree, Tom. The Death Cure isn’t shit, but it’s more of the kind of movies that were only made for the sole purpose of satisfying their viewers and simply ending a story (unlike, again, installments like Divergent or The Mortal Instruments that were severely discontinued).
  • Tommy : Soal Divergent dan The Mortal Instruments ini kayaknya lo take it personally banget ya? Hehehe.
  • Bunga : OH DON’T GET ME STARTED WITH THAT!
  • Tommy : Okay. Jadi bakal kita kasih rating berapa nih film?
  • Bunga : Hmm…let’s settle in 2.5?
  • Tommy : Agree. Mereka punya takaran kekurangan dan kelebihan yang imbang soalnya.
  • Bunga : True. Menurut gue kelebihannya adalah  special effects sama ensemble cast.
  • Tommy : Yes, dan directing sutradaranya yang lumayan membaik dibanding Scorch Trials! Kekurangannya ada di script yang malas dan Thomas-centric.
  • Bunga : HAHAHAHAHA THOMAS CENTRIC I JUST CHOKED.
  • Tommy : Padahal kita semua sudah tahu bahwa meskipun dia karakter utama, Thomas bukan karakter yang terlalu menarik.
  • Bunga : Thomas menarik, tapi MASIH ADA YG LEBIH MENARIK. For example Newt.
  • Tommy : YEAH! Gally, don’t forget Gally please…
  • Bunga : Kalo lebih digali lagi betrayal nya, Teresa juga sebenernya. MY FEMINIST HEART IS SHAKING akhirnya ada yang cewek juga!
  • Tommy : HAHAHA. What do you think about Brenda, then?
  • Bunga : Brenda sok savage buat gue. I like her tapi kadang… overboard? She and Jorge did make a wonderful pair tho.
  • Tommy : Gue setuju Brenda itu overboard. Terlebih, ceritanya sendiri tidak memberikan dia porsi yang penting, tapi screen time nya dia kebanyakan dan tengilnya nirfaedah.
  • Bunga : Iyaaa, dia sama Jorge tuh seakan2 jadi cuma kayak tim P3K nya thomas anjir. Dateng buat nyelametin doang like…Situ punya GPS?????
  • Tommy : HAHAHAHA TIM P3K. BASARNAS KALI ANJIR!
  • Bunga : TOM DONT MAKE ME CRY IN TEARS HAHAHAHA.
  • Tommy : HAHAHAHA. Oke deh bungs, thank you ya! It has been a great duet review session, once again. Terima kasih atas semua penerangannya.
  • Bunga : You’re welcome, Tom. This is very messy tapi mudah2an bisa ngasih pencerahan buat yang bingung tentang holes-nya juga.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

Membedah “Posesif” (2017) – Orang Tua, Remaja, dan Keluguan yang Berbahaya

Kita semua pernah menjadi remaja, dan kita pasti merasa amat sangat bodoh bila mengingat kembali segala keputusan yang pernah kita ambil di masa remaja. Manjat pagar sekolah saat pintu gerbang ditutup karena telat, ngelawan guru dengan argumen-argumen sok pinter saat kita kena hukuman, pacaran sama cewek/cowok populer di kampus cuma karena mereka populer, jatuh cinta dengan obsesi serta kecemburuan yang mereka tunjukkan pada kita, dan hal-hal bodoh lainnya. Kebodohan yang kita lakukan tersebut tidak serta merta ada tiba-tiba, namun berasal dari lingkungan keluarga kita.

Inilah yang Posesif coba bahas secara berani dan gamblang. Berfokus pada isu toxic relationship, film yang disutradarai oleh Edwin tidak semata-mata memprovokasi kita untuk mengutuk dan mengecam pelaku kekerasan dalam sebuah hubungan, namun malah mengajak kita untuk memahami akar dari segala siklus kekerasan — yaitu pranata keluarga.

Film ini sangat istimewa buat saya. Saking istimewanya, saya memutuskan untuk tidak hanya mengulas film ini sendirian, namun juga membedah film ini secara dalam bersama rekan saya, Bunga Maharani, yang kebetulan sedang rehat sejenak dalam studi Psikologinya di Universitas Udayana. Agar terkesan mentah, familiar, serta enak dibaca, saya akan menyalin chat saya dan Bunga dari Line langsung sebagai ulasan film ini.

  • Tommy: “Halo Bungs! Akhirnya kita bisa review film bareng ya.”
  • Bunga  : “Yay! Setelah sekian lama 🙏🏻”
  • Tommy: “Nah, sebelum kita breakdown film ini, let’s start with one question: Apa kesan lo tentang Posesif sebelum nonton film ini?”
  • Bunga  : “Oh, look, it’s another coming-of-age romance! The premise does seem interesting though I’m not very sure about its execution, but let’s watch it anyway.
  • Tommy: “HAHAHA SAMA”
  • Bunga  : “I mean, it’s Indonesia’s teen romance after all…”
  • Tommy: “Kalo gue, awal ngeliat sih ‘Anjir lah Edwin kok berani sih masuk pasar mainstream tapi bawa premis yang terlalu biasa dan cheesy’?”
  • Bunga  : “I’ve been looking out for Edwin for quite awhile, but I never expected him to take an interest over film-film kayak gini. Karena film ini dari luar tidak terkesan complex. Meskipun pada akhirnya, ya… you know…”
  • Tommy : “Yess, secara gue ngikutin Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcard from The Zoo, nggak percaya lah gue Edwin bakal bikin film yang biasa aja. Apalagi produsernya Meiske Taurisia, yang bikin dokumenter “Potongan” yang blak blakan ngungkap LSF itu kayak gimana. Finally emang gue nggak kecewa sama sekali, dan kepercayaan gue terhadap Edwin sepenuhnya benar.”
  • Bunga  : “Dan satu poin lagi, when the word “posesif” crossed my mind, yang di otak gue adalah: pacar-pacaran SMA yang masih bersifat experimental, pasangan yang saling mengekang satu sama lain, atau A jealous sama B dan B jealous sama C. That’s it. Tapi ternyata… wah. So much more than that.”
  • Tommy : “Nah iya! Gue juga. I mean, film ini sukses ngangkat tema toxic relationship dari perspektif yang sungguh realistis, dengan narasi yang simpel tanpa ada unsur preaching sama sekali. Terlebih, bukan cuma sukses ngupas kulitnya, Edwin juga berhasil ngebedah daging dan akar-akarnya tanpa harus ngorbanin ceritanya menjadi sebuah khotbah Jumat ataupun pesan layanan masyarakat.”
  • Bunga  : “Karena pada akhirnya, yang masyarakat butuhkan adalah sebuah film yang bisa depict kejadian yang sehari-hari terjadi dengan cara yang paling simple, raw, tidak harus verbal (bisa dibuat metaphorical because, hey, some things are not always meant to be spoken out loud) tapi tetap ngena sampai ke hati dan bisa bikin kita mikir dua kali tentang life choices yang udah kita buat selama ini. Bukan cuma yang menggurui dan bias, atau bahkan jadi me-romanticize yang tidak seharusnya.”
  • Tommy  : “Goshhhh bener banget! Yuk langsung kita breakdown bareng filmnya!”
  • Bunga     : “Let’s goo!”

  • Tommy : “Di awal seperempat film, gue dibuat agak sedikit bingung sama perasaan gue sendiri.”
  • Bunga     : “And why was that?”
  • Tommy   : “Antara ‘Anjir ini cheesy abis mereka pedekate cepet amat, Yudhis kayak gaada tantangannya sama sekali buat dapetin Lala. Baru jalan sebentar langsung gambar-gambar pinguin di tangan’ sama ‘astaga kok treatmentnya indah banget. Tone filmnya seperti sebuah mixture lovely-lovely cinta monyet plus indie-indie Payung Teduh. Everything was visually beautiful’
  • Bunga   : “True! The visual aesthetics are so pleasing that I want to take screenshots of each scene and put them on my IG, hahahaha.”
  • Tommy  : “YAKAAN anjir itu gambar-gambarnya dibikin grid di IG bagus banget gila. Terkesan pop, tapi nggak murahan banget.”
  • Bunga    : “Dan lo notice kan, dari awal Yudhis itu terkesan… harmless. Your typical good guy with the perfect family and a balanced life. Well, that, until everything took a toll on both of them… *drumroll!!!*”
  • Tommy   : “Betul. Betul banget. Image good guy Yudhis perlahan diruntuhin sejak dia pertama kali nyamperin Lala latihan loncat indah pas malam hari. I mean…it’s not actually wrong, tapi kesan creepynya udah muncul.”
  • Bunga    : “Those laser beams, though, holy shit!!! Gue sama sekali tidak expect dia akan mulai transisi nya dengan nyenterin mata Jihan.”
  • Tommy  : “Kalo gue udah expect, tapi tetep aja gue ngeri pas dia akhirnya bener ngelakuin hal itu.”
  • Bunga    : “Ekspresi wajahnya Adipati bener-bener keren, dia bisa portray sisi-sisi lain Yudhis tanpa terkesan artificial. Yudhis yang manis, Yudhis yang posesif, Yudhis yang sakit.”
  • Tommy  : “Goddamn right. Ini bener bener penampilan Adipati terbaik sepanjang karir dia. Dari pembawaan Adipati sebagai Yudhis pas ngelaserin Jihan, gue malah udah bisa ngeliat kalo Yudhis itu cowok yang nggak bener buat Lala, he’s going to do something harmful to her sooner or later. Dia udah bisa bikin gue nerawang watak serigala di balik bulu dombanya.”
  • Bunga    : “Tidak perlu dengan gerak gerik yang berlebihan, cukup dari cara Yudhis menatap udah bisa bikin gue merinding. Dan ternyata dia umpetin lasernya di bawah sepatu! Sneakily clever.”
  • Tommy  : “Plus, treatment kamera dan editingnya bikin narasi jadi makin tajem. Mulai dari adegan Yudhis ngomong ke Lala di mobil pas siang “Aku itu pacar atau supir kamu” udah mulai serem, but somehow, lewat chemistry Adipati dan Putri Marino yang tajem, kita masih ngerasain manis-manisnya dikit.”
  • Bunga   : “Bikin kita pengen bilang “aww yudhis…” dan “anjinggg anjing anjing yudhis anjing” dalam waktu yang bersamaan.”
  • Tommy : “It’s not right to say “aww yudhis” because it’s not a good thing to do, tapi di sisi lain, kita bisa ngerti kalo dia ngelakuin itu karena sayang Lala dan cuma pengen ngabisin waktu lebih banyak sama dia.”
  • Bunga   : “FINALLY SOMEONE SAID IT. It’s the most fucked up “Aw Yudhis” ever.”
  • Tommy : “You’re damn right it is. Okay, sekarang let’s discuss about hubungan Lala dan ayahnya.”
  • Bunga    : “A heartbroken father who cares about his daughter but is unable to deliver his feelings the right way.”
  • Tommy  : “Nah, Fira kemaren baru abis nonton Posesif juga, dan dia bilang “Sayang banget hubungan Lala sama ibunya nggak begitu dalam dibahas di film ini“”
  • Bunga   : “True! It should have been explored more, kalau pun tidak perlu berlebihan.”
  • Tommy : “Nah, tapi menurut gue, memang harusnya persepsi penonton terhadap hubungan Lala dan ibunya harus dibuat seblur dan sesamar mungkin. Karena inilah alasannya mengapa Lala gampang banget jatuh ke Yudhis.”
  • Bunga   : “Yes, though us viewers are really curious about Lala’s mom, kalau misalnya ibu Lala diceritain secata detil dari awal, Lala nggak akan bisa segampang itu jatuh ke pelukan Yudhis. Gimana pun juga, ibu adalah role model anak perempuannya.”
  • Tommy : “Nah bener banget bung. Lala bener-bener harus dijauhin dari kasih sayang, supaya si viewers bisa dapet perception bias “cuma Yudhis yang bisa nyayangin dia”. Bapaknya nggak bisa ngungkapin rasa sayang ke anaknya karena lebih dibutakan sama ambisi agar Lala bisa push her limit. It doesn’t matter if Lala hated him. If it’s actually what it takes to make Lala to train harder and win the Olympiad, he would do it.
  • Bunga  : “Bapaknya terlalu sibuk dengan ambisi dan luka batinnya dia sendiri, dia lupa kalo anaknya juga punya trauma psikologis yang ekuivalen sama punya dia, atau mungkin lebih.”
  • Tommy  : “True. True banget.”
  • Bunga  : “Kelihatan banget dari ekspresi Lala waktu bapaknya bilang Jihan itu patokan dia. Pain, annoyance, mortification… tapi dia gak bisa bilang apa-apa (setidaknya sampai beberapa saat kedepan).
  • Tommy  : “Yup, bener banget. Nah, sekarang kita bahas adegan pas Lala main ke kafe sama Ega dan Rino.”
  • Bunga    : “Holy mother of God… THIS.”
  • Tommy  : “I KNOW RIGHT. INI ASIK BANGET BUAT DIBAHAS.”

  • Bunga   : “Gue dari awal udah greget banget waktu Lala bohong kalau nggak ada laki-laki yang ikutan nongkrong. ASLI.”
  • Tommy : “Kita tahu sebelumnya Yudhis udah sering ngebuntutin Lala secara creepy, dan Yudhis tuh udah mulai cemburu buta sama Rino.”
  • Bunga   : “Belasan, bahkan puluhan missed calls! Seriously, Yudhis?”
  • Tommy : “ANJING EMANG ITU GILAAAA 37 MISSED CALLS.”
  • Bunga   : “He failed to understand that guys and girls CAN be best friends. At least dalam circumstance ini. Waktu Lala keluar cafe dengan wajah panik dan ketemu Yudhis di depannya…wah.”
  • Tommy : “YES, when finally the shot shows the reflection of Yudhis di sebelah kanan, refleksi Lala di sebelah kiri, dan Lalanya sendiri di tengah menghadap ke belakang. ITU POETIC ABIS.”
  • Bunga : “Salut juga sih dengan pengambilan gambarnya — refleksi. Tidak haru tersirat tapi tetep ngena. Gesture nya simpleee banget, tapi nyes.”
  • Tommy : “Nah gue mau nanya nih bung. Menurut lo, gesturnya Rino sebagai temen cowok itu agak berlebihan nggak ke Lala?”
  • Bunga   : “As a girl who actually HAS a guy best friend… nggak berlebihan tapi nggak kekurangan, sih. Gue suka banget sama tagline Rino yang bilang, “gue ada buat lo”. Meskipun gue juga gak bisa nyalahin itu semua 100% Yudhis karena sebagai laki-laki, yang punya pacar dan pacarnya itu punya sahabat lawan jenis yang kenal duluan daripada dia, pasti akan ada sedikit (well, in this case banyak) sense of threat dalam dirinya. Rino is like…your gay best friend who is NOT gay — tipe persahabatan yang tulus dan asik, tapi paling mudah disalahartikan. Menurut lo?”
  • Tommy   : “Nah, sebagai orang yang punya pacar (dan sayang banget sama pacarnya), gue merasa Rino agak sedikit berlebihan. Gini loh, gue juga punya beberapa temen cewek yang akrab, tapi misal gue jadi Rino di situ, gue bakal nyuruh Ega buat ada di samping Lala secara personal, bukan nawarin bahu sendiri. Gue cuma bakal bilang “Gue ada buat lo” kalo misal temen cewek gue yang lagi sedih itu jomblo, ditinggalin gebetan, atau putus sama cowoknya. Selama permasalahan di antara temen cewek gue dan pacarnya bukan sesuatu yang ‘memutuskan hubungan’, gue gabakal mau risk myself nyelip di tengah tengah mereka. Makanya, menurut gue Rino salah di sini, tapi apa yang Yudhis lakukan ke Rino itu sama sekali nggak bisa dibenarkan. Dan apa yang Yudhis lakukan ke Lala (jambak-jambak kayak tai) itu juga salah. Salah banget.”
  • Bunga  : “Hmm, you do have a point sih. Karena bagaimana pun juga Rino itu laki-laki. Tapi perhatiin deh, Tom, ini sih point of view gue aja… dari semenjak tokoh Rino diperkenalkan, Rino itu udah keliatan banget kalo dia ngerasa kayak something’s up with Yudhis. Matanya, cara natapnya, gerak-gerik tubuhnya. Dan Ega gak bisa ngelihat itu. Maybe that’s why he decided to make an indirect intervention.”
  • Tommy   : “I see…you do have a point, too.”
  • Bunga  : “Gila, gue bawaannya pengen jambak Yudhis waktu nonton hahahaha. Setuju sih dengan tagline film Posesif — buat Lala, ini cuma cinta pertama. Tapi Yudhis mau selamanya. Tercermin banget di scene itu.”
  • Tommy  :  “Anjing ye ini film keliatannya simpel banget, tapi kalo dibedah bener-bener complicated.”
  • Bunga    : “Welcome to Edwin and Meiske’s world!”
  • Tommy  : “Okay, bahas caranya Yudhis pertama kali minta maaf ke Lala.”
  • Bunga   : “AH!”
  • Tommy: “Ini anjing treatmentnya bisa dibikin horror banget begitu. Lo notice kan…key shotsnya itu horror banget. Silhoutte behind the door. Suspense when Lala walks downstairs. Fokus shot ke gagang pintu yang digerak-gerakin dari luar…”
  • Bunga   : “YES. YES. YES. Apalagi dengan design rumah Lala yang agak “jadul” dan lampunya yang remang, lalu pintu kaca yang, hey, did you see a small hole on its surface?!
  • Tommy : “YA KAAAN?”
  • Bunga  : “Maafin aku, La… *jedotin kepala, ngetok pintu sampe gila*. Gue jadi Lala langsung telpon polisi lololol. Pancaran matanya bisa banget lho ini. Seakan-akan he lost control of himself and he KNEW that. Jarang lho ada orang abusive yang sadar akan kesalahan dia…”
  • Tommy  : ” Menurut lo, apa yang dilakukan sama Yudhis dengan jedotin kepala di pintu dan nampar nampar muka dia sendiri di depan Lala itu… Banyak ga sih cowo cowo yang kayak gitu? Because pas adegan ini di bioskop, ada sekumpulan cewek2 duduk di depan gue, mereka pada “Awwww kasian :3” pas Yudhis ngelakuin hal itu. Which I was like “no… That’s not how you suppose to react…“”
  • Bunga    : ” Dibilang banyak sih engga, tapi apakah cowok-cowok yang emotionally unstable punya tendensi untuk ngelakuin hal-hal itu? Iya. Karena gue — yang personally juga bilang kasian kalaupun gak pake aw juga sih HAHAHA — ngelihat Yudhis begitu lebih ke act of self-harm (because it’s so much more than slitting your wrist, hell). What he tried to showcase was self-hate, karena seperti yang tadi kita bahas dia lost control dan gak bisa jadi laki-laki yang baik untuk Lala, and self-hate IS considered self-harm. Seakan-akan dia punish dirinya sendiri, as if he deserved that kind of treatment and, surprise surprise! That kind of action was brought by none other than lingkungan sekitar dia, dan dalam case ini ibunya.
  • Tommy    : “Oh, I see. Thanks Bung! By the way, gue suka banget cara Lala meluk Yudhis di scene ini. Full of undescribable emotion yang bahkan gue juga ga bisa jelasin.”
  • Bunga   : “That was beatiful *sheds tear*”

  • Tommy  : “Lanjut ke scene clubbing.”
  • Bunga    : “LET’S! Don’t even get me started with this one. Dari awal sampe akhir scene clubbing cushion kursi bioskopnya udah gue cubit-cubitin parah.”
  • Tommy  : “Oke deh kalo gitu. Gue mau denger dari lo dulu tentang scene ini.”
  • Bunga    : “Intinya gue curiga sih, bener-bener penuh tanda tanya. Kenapa tiba-tiba Yudhis menurunkan ego dia dan mau berbaur sama temen-temennya Lala? ESPECIALLY RINO. Gak ada yang simple tentang behavior Yudhis. Dan bagaimana di club Yudhis selalu nyium Lala dengan agresif seakan-akan pengen nunjukin kalo, “she’s mine!” Dan ternyata, Rino juga notice hal ini setelah stealing glances here and there. Lo gimana?”
  • Tommy   : “Putri Marino jago banget nunjukin “Ih Yudhis apaan sih, freak banget. Jangan gitu dong sayang, jangan gini.” Dia tahu dengan hangout sama Ega dan Rino, Yudhis ngga bener-bener pengen mingle, tapi cuma pengen “membuktikan“, seperti kata Yudhis sebelumnya “aku bakal buktiin kalo aku bisa dapet maaf dari kamu.” And isn’t that such an annoying thing, dateng ke club tiba tiba, cuma pengen nunjukin “pembuktian”.
  • Bunga      : “YESSSSSS. Seakan-akan kasarnya kayak, “nih loh! gue udah main sama temen-temen lo! berarti kita baik-baik aja kan? udah puas?“”
  • Tommy    : “IYA.”
  • Bunga    : “And by the way, is it just me atau Rino keliatan aneh (baca: high) waktu scene pulang naik motor? As if someone spiked his drink or something? Atau dia emang kecapekan aja HAHA”
  • Tommy    : “Gue nggak ngeliat sih kayanya hahahaha tapi ya paling tipsy bungs, namanya juga party wqwq”
  • Bunga      : “HAHAHA been there done that. That scene tho, waktu Adipati bilang “hati-hati” ke Rino. Asli gue takut Tom. “
  • Tommy    : “What’s on your mind saat itu Bung, kenapa lo takut?”
  • Bunga  : “Karena hati-hati yang diucapin Yudhis itu kayak metafor. Perumpamaan dari sesuatu yang lebih besar, even when he wasn’t planning to do anything beforehand. Pasti ada ujungnya. And voila! Look what we got here.”
  • Tommy    : “Now i’m thinking about it again… And it DOES sounds scary. Kita masih belum tahu state of mind nya Yudhis itu beneran udah tobat apa emang cuma mau buktiin sesuatu karena ada maunya aja. Begitu dia ngomong “hati hati No“, it does become scary…”
  • Bunga      : “He was basically playing everyone’s minds. And guess what? The bitch made a u-turn and did the deeds.”
  • Tommy    : “Goddamnit… And how the film shows it. So subtle but so fucking intense.”
  • Bunga     : “Tidak perlu dialog (bahkan monolog) apapun, cukup dengan a simple hati-hati dan dampaknya anak orang dateng-dateng ke sekolah udah pake gips. Nice.”
  • Tommy   : “And… Is it just my imagination or… Pas Lala bangun dan nanya “Itu apa sayang?” Si Yudhis jawab “Bukan apa apa kok sayang” dengan suara yang parau banget. Seakan pengen nangis. Tau apa yang dia perbuat salah tapi demon nya dia lebih dominating his mind.”
  • Bunga    : “Antara bersalah sekaligus lega karena hasrat dia untuk nabrak Rino terpuaskan.”
  • Tommy  : “Right. Oke move on ke key scene selanjutnya. Pas Lala tiba tiba masuk UI.”
  • Bunga    : “Dilema kelas 12… *sighs* Gue agak kaget sih karena Lala teguh sama pendiriannya. Setelah serentetan kejadian antara dia sama Yudhis gue sangka bakalan ikut ke Bandung.”
  • Tommy    : “Justru menurut gue Lala salah di sini. Dia bohong sama Yudhis. Tapi Lala nggak bisa disalahkan begitu saja karena once again, dia takut sama Yudhis.”
  • Bunga   : “Fear makes people do illogical things, itu sih yg gue tangkep dari Lala dan Yudhis selama film berlangsung.”
  • Tommy : “Yesss bener banget. Posesif bagus banget nunjukin relasi hubungan yang rumit antara kasih sayang dan rasa takut. Also, I notice something really really scary about men’s tendency to demoralize women who reject her. “Udah dipake berapa orang lo? Berani banget ngelepasin cowok segampang ini?” Cowok itu makhluk yang paling fragile dan berbahaya kalo udah kena rejection dan humiliation. Sebagai cowok pun gue bisa mengakui hal ini.”
  • Bunga   : “HAHAHAHA. Males are complex indeed. Padahal kan bukan berarti kalo cewek punya pendirian aka sesuatu itu artinya dia bisa dengan mudah di konotasikan dengan stereotype2 gak beralasan.”
  • Tommy  : “Tapi lagi lagi kalo situasinya udah kayak gini, cowok tuh cuma mikirin perasaannya sendiri.”
  • Bunga    : ” Emotion is a scary mind trick.”

  • Tommy   : “Nah Bung, menurut lo, terlepas dari seberapa creepy dan horror treatment film ini, apa yang dilakukan Yudhis ke Lala pas surprise ulang tahunnya di tengah malem itu sebenernya creepy ngga?”
  • Bunga    : “HELL IT WAS. 1) entah gimana caranya Yudhis bisa dapetin kunci rumah cadangan Lala, 2) I don’t know — most people yg berniat bikin surprise itu gak se-frontal Yudhis yg langsung nyelinap masuk kayak pencuri. What do you have in mind?”
  • Tommy   : “MOTHERFUCKING YES. Gue nggak ngerti kenapa Lala (dan obviously, sekumpulan cewek yang duduk di depan gue pas gue nonton) bisa nganggep itu sweet dan “awwww soswit”.”
  • Bunga     : “HAHAHAHA mereka mikirnya gak sampe sana Tom. The sad thing is that Lala (dan beberapa cewek di depan lo itu) was so blinded from the surprise (which equals, coughs, happiness) dia gak perhatiin 2 hal creepy yang gue list barusan.”
  • Tommy  : “Tapi yah…mungkin Lala nggak perhatiin hal tersebut karena sekali lagi, dia nggak ngedapetin kasih sayang yang cukup dari keluarganya, sehingga dia terima-terima aja apapun yang Yudhis lakukan sebagai “bentuk kasih sayang”
  • Bunga      : “True…. sadly. Film ini ngajarin betapa penting nya peran lingkungan terhadap seseorang.”
  • Tommy    : “Termasuk lingkungan keluarga dan kedekatan orang tua terhadap kondisi psikologis anak. Eh, by the way, lo sadar kan bahwa di adegan ini ada kayak “subtle hint” yang menunjukkan bahwa mereka itu “ngapa-ngapain”?”
  • Bunga  : “Of course *winks like batshit crazy* Which eventually led us to pernyataan Yudhis bahwa Lala “udah dipakai berapa cowok?”. Seperti yg udah kita bahas sebelumnya”
  • Tommy    : “Terus Lala juga luluh luluh aja lagi dengan cara Yudhis minta maaf yang sangat freak tersebut. Atmosfirnya berhasil banget dibikin sama Edwin jadi romanticly creepy.”
  • Bunga    : “GILA LO YA. Kalo ada laki-laki yg minta maaf ke gue dengan cara yg sama kayak Yudhis…I would flip my shit.”
  • Tommy  : “Flip your shit in a positive or negative way? Hahahaha.”
  • Bunga    : “THE LATTER. This bitch ain’t no hopeless romantic. Would you do the same thing like Yudhis? Seandainya lo bikin kesalahan sama pacar lo dan lo berniat surprise-in dia.”
  • Tommy   : “Nope. Never. Unlike Yudhis, gue berbaur sama temen-temennya dia (cewek maupun cowok) sejak kita awal pacaran. And they’re gonna be the ones who help me do that for her. Seandainya mereka nggak approve my way of saying sorry atau mereka nganggep gue lebih baik leave her for good, then it’s time for me to actually leave for good.”
  • Bunga    : “*flashbacks to when Fira asked me to help her assemble your birthday surprise* that was lit, fam.”
  • Tommy  : “I’m such a lucky bastard, aren’t I? :”)”
  • Bunga    : “Yes you are.”
  • Tommy  : “HAHAHA oke balik lagi ke Posesif. Now it’s time to talk about our favorite part: Cut Mini Part.”
  • Bunga    : “HAIL CUT MINI. Jarang banget perfilman Indonesia itu ngangkat tentang orangtua yg abusive, apalagi antara anak laki-laki dan ibunya. Gue pun gak yakin kalaupun udah diangkat, apakah bisa se-ngena ini atau engga.”
  • Tommy    : “BENER BANGET.”
  • Bunga     : “Terkadang masyarakat lupa, abusive parents can come from ANY background. Tidak harus alkoholik, tidak harus ber-gender tertentu, tidak harus penuh benci 24/7 dan tidak harus menghasilkan luka lebam noticeable di badan anaknya. Buktinya, Yudhis’ mother came out as a beautiful-yet-stern real estate agent who was balancing her life as a single parent.”
  • Tommy : “True. Very true. Nah, by the way gue mau nanya sama lo nih Bung. Menurut lo, tepat nggak menyebut fenomena yang dialami Lala ke Yudhis sebagai Stockholm Syndrome? Karena menurut gue kurang tepat deh…tapi kayaknya banyak kaum netijen yang tetap menyebut hal ini dengan terminologi “Stockholm Syndrome.” Padahal menurut gue, yang sebenernya Stockholm Syndrome itu Yudhis ke Mamanya.”
  • Bunga  : “Stockholm Syndrome… hmm… *stretches fingers for a long ass explanation* Sejatinya, stockholm syndrome itu kan feeling of affection towards a captor. Disini posisinya, Lala adalah victim dan Yudhis adalah sang culprit. Buat gue, personally — maaf masih amatir — apakah tindakan Lala benar2 mencerminkan seseorang yg mengalami Stockholm Syndrome? Mungkin. Tapi gue rasa belum sejauh itu. The symptoms DID exist, though, bisa keterusan kalo gak “dipangkas” hubungannya. Karena yg gue analisa, selain afeksi Lala juga punya rasa takut yg bersifat subconscious terhadap Yudhis. Jadi tidak pure afeksi aja. What do you think?”
  • Tommy   : “Sama. Menurut gue kurang tepat karena belum sejauh itu. Basis keinginan Lala bertahan di dalam hubungan mereka masih didasarkan afeksi yang timbul dari kelakuan baik Yudhis terhadapnya, bukan dari kelakuan buruk Yudhis.”
  • Bunga   : “Lala itu masih dalam ranah experiment. Yudhis tidak. Lala belum bisa memilah mana yang baik dan tidak (setidaknya sampai dia “kepentok” dengan perlakuan Yudhis). Sedangkan Yudhis TAU dimana letak kesalahan dia, cuma bedanya dia gak bisa kontrol. Karena kalo Yudhis gak tau, gak mungkin dia bakalan minta maaf sama Lala, apalagi dengan cara seperti itu. Sejujurnya, “terlalu” itu emang bahaya. Terlalu baik, terlalu jahat, terlalu sayang, terlalu peduli, terlalu emosi. Kayak lagi naik rollercoaster aja, gak ada in between nya (kalopun ada ya singkat banget, gak berpengaruh yg signifikan).”
  • Tommy   : “Betul Bung. Setuju. Nah, tapi kalo Yudhis ke ibunya itu sudah tepat belum kalau disebut Stockholm Syndrome?”
  • Bunga     : “Bukan tepat, tapi “lebih tepat”. Dibandingkan antara Lala dan Yudhis. Karena Yudhis itu KETAKUTAN. Dan itu tidak subtle kayak Lala. Lihat aja expression dia waktu dihajar pake high heels.”
  • Tommy    : “Dan expression dia pas Lala nenangin dia dan ngajak dia kabur. Goddammit, ini emang akting terbaik Adipati sepanjang karirnya.”
  • Bunga      : “SHIT FAM THAT SCENE GOT ME FUCKED UP. Literal goosebumps.”

  • Tommy      : “Gila kaaan! Yuk lanjut pas mereka sing along Dan.
  • Bunga     : “Gue gak akan pernah bisa denger lagu itu the same way again. Liriknya simpel, tapi ngena. Dan. Pas.”
  • Tommy   : “YESSS! Dengan mereka sing along out of tune gitu malah bikin konteksnya jadi lebih tajem.”
  • Bunga    : “So many metaphors. “Dan” itu kan kata sambung… hampir sama kayak hubungan Lala dan Yudhis, apalagi dikuatkan dengan scene karaoke dadakan. Yang seharusnya hubungan mereka putus di level awal, karena hal ini itu etcetera, lanjut lagi. Padahal Lala tau kalo something is toxic dan Yudhis tau dia toxic-nya. Setelah adu mulut, jambak, sampe cekek-cekekan… mereka tetep lanjut. Puitis. Sampe pada akhirnya, di suatu titik, mereka berhenti. Nggak ada “dan” lagi. Terlalu filosofis gak sih gue? HAHAHA.”
  • Tommy     : “NO NO THAT’S GOOD. I mean… Ternyata ada perspektif lain dari lagu “Dan” yang lebih puitis..”
  • Bunga       : “Emang perspektif lo apa?”
  • Tommy     : “Gue cuma melihat “Dan…” dari perspektif Yudhis yang sayang banget sama Lala tapi sudah “menancapkan duri tajam” ke Lala dan membuatnya menangis…Gue nggak tahu… Somehow gue di scene ini tiba tiba merasa relate banget sama Yudhis.”
  • Bunga         : “Relate? Tell me about it.”
  • Tommy   : “Gue nggak tahu apakah karena gue selalu merasa punya inner demon di dalam diri gue dan gue takut banget suatu saat dia unleashed…Ataukah cuma karena gue punya tendensi untuk nyalahin diri gue sendiri tiap something goes wrong and i am involved in it…”
  • Bunga       : “Sometimes I feel that way too. But honestly, you know what? Setiap manusia itu pasti punya “demon” nya mereka masing-masing. No one’s a saint here. But whether it’s going to leash or unleash, itu semua pilihan. Including self-hate. Pasti ada bagian dari diri kita yang kita gak suka, dan itu gak bisa dihindarin. Baik lo maupun Yudhis, bahkan Lala, atau diri gue sendiri.”
  • Tommy    : “You’re right, Bung. Bener banget.”
  • Bunga      : “Let’s move on!”
  • Tommy    : “Okay, move on ke adegan SPBU.”
  • Bunga      : “*cries in the corner* I bawled my eyes out it was violent. No pun intended.”
  • Tommy    : “….HAHA :'(“
  • Bunga      : “Tell me how you feel about it.”
  • Tommy  : “Ini adegan sebenernya pasaran banget di film film romance Indonesia, tp Posesif bisa ngebawain adegan ini dengan sangat baik. Pengaruh directingnya Edwin plus akting mereka berdua sih.”
  • Bunga      : “It’s the kind of the cliche you keep coming back for more. Gue suka cara mereka membuat adegan “papasan tapi gak nyadar kalo lagi papasan” jadi berkelas. “
  • Tommy    : “You’re really good at describing things with simple words hhhh.”
  • Bunga         : “I don’t write fan fiction for nothing ;))))”
  • Tommy       : “Tapi gue seneng lewat adegan ini Yudhis sadar bahwa emotional issuenya ngebahayain Lala.”
  • Bunga        : “Kesadaran diri Yudhis itu plot twist banget buat gue Tom, like, expected YET unexpected. Oh ya, one more thing. Gue sangat kaget waktu tau kalo scene Lala dan Yudhis lebam-lebam di trailer itu bukan karna mereka saling pukul, tapi mereka ribut sama orang lain. BEST PLOT TWIST. Ngecoh penonton banget, not that it’s a bad thing though. They really broke the stereotypes.”
  • Tommy      : “YESS. And it’s such a rare case for an abusive person to realise that he’s abusive and harming the one he loves gitu nggak sih bung? Soalnya banyak juga yg bilang kalo dengan cara kayak gini, Posesif memberikan alasan bagi para pelaku abusive relationship buat mencari alasan pembenaran kelakuan mereka, supaya si korban tetep stay atas dasar pity.”
  • Bunga       : “It is a rare case indeed. To be honest buat gue bukan mencari pembenaran sih, Tom… from what I’ve been studying, that’s definitely NOT how it works.”
  • Tommy       : “Please do tell me how it works.”
  • Bunga        : “Justru mengajarkan kalo pelaku abusive relationship MASIH BISA belajar dari kesalahannya. Which is portrayed by Yudhis’s decision to leave Lala at the gas station seperti yg kita bahas kemaren. Yudhis masih bisa sadar, Yudhis masih bisa buat keputusan yg tepat kalaupun gak mudah — karena bukan Lala, bukan ibunya, bukan psikolog, yg bisa “merubah” dia seperti statement Lala sebelumnya. Tapi cuma Yudhis-nya sendiri.”
  • Tommy        : “I see. Thank you for the illumination, Bung.”
  • Bunga          : “You’re welcome!! Seneng liat film yg sakit tapi edukatif dalam waktu yg bersamaan, hahahaha.”
  • Tommy       : “Goddamn right, film ini eye opening banget ya. Terus montage sequence Lala carry on without Yudhis itu poetic banget ya. Ditambah lagu Banda Neira pula. Aku ndak kuat nahan sesak di dada…”
  • Bunga   : “Ada satu hal yang HARUS gue point out di sini. Beberapa netizen yg udah nonton gue lihat kecewa sama ending-nya Posesif. Karena ngambang, gak jelas dan creepy kenapa tiba-tiba jadi ada Yudhis waktu Lala lagi lari. Buat mereka aneh, susah dimengerti. Kompleks. Padahal menurut gue, wah… mereka justru bikin hal yg kompleks menjadi sangat simple dengan — lagi — metafor. Tidak perlu ada dialog verbal untuk kita ngerti semuanya. Yudhis berhenti, Lala terus lari. Buat gue itu udah cukup. Bener-bener bikin nyesss. And yes… Banda Neira slayed.”
  • Tommy    : “Fira abis nonton langsung nelpon gue nanya “Tom, kata kamu endingnya sedih banget. Kok aku malah ngerasa biasa aja ya? Flat gitu.” Untung gue sayang hehehe, jadinya gue jelasin aja bahwa itu metaphor. Dia baru ngerti. Padahal pas scene itu air mata gue netes banget.”
  • Bunga         : “Aw, good boyfriend mode activated :” Terkadang hidup itu emang open ending, Tom. Karena kalo happy (atau bahkan sad) ending, itu artinya manusia gak hidup lagi… anggap aja kita lagi liat electrocardiograph di RS. Kalo ada grafik hidup, selemah apapun itu, tapi kalo cuma segaris mati kan? Tapi Lala mau hidup. Mau lanjut. So was Yudhis. Bedanya, jalan sendiri-sendiri aja…”
  • Tommy         : “Yudhis nggak bisa terus bersama sama Lala. Yudhis is a fuck up. But Yudhis loves her. Jadi dia melanjutkan takdir dia sebagai seorang creep untuk “melihat Lala” tanpa harus melakukan interaksi apa apa lagi dengan dia. Dan ketika Lala sadar bahwa Yudhis kembali ngebuntutin dia, Lala nggak punya obligation apa apa untuk nyapa Yudhis ataupun kembali ke dia, pun Yudhis nggak punya hak juga untuk minta balikan. Karena cara terbaik bagi Yudhis untuk mencintai Lala adalah melepaskan dia dari belenggunya.”
  • Bunga            : “BETUL. Sometimes people love from afar and for them, mungkin emang yg paling baik gitu. Film ini penuh metafor, tapi nggak ngurangin esensi dari flow ceritanya itu sendiri.”
  • Tommy         : YAKAAAN! Oke deh, sekarang tinggal kesimpulan nih bung! Why do you think people need to watch Posesif?”
  • Bunga         : “Because it’s your typical high school romance with a twist. Disaat semua orang berfokus pada membuat film yg mendeskripsikan “youth” secara keseluruhan, Posesif memilih untuk menggali lebih dalam lagi. Bukan cuma di area percintaan nya aja, tapi keluarga, pertemanan and everything in between dari berbagai sisi yg berbeda. Karena semua itu punya side effects, errors and trials, selflessness and selfishness.”
  • Tommy       : “Mantap. Kalo menurut gue, Posesif layak tonton because even though Posesif discuss about toxic relationship and perfectly depicting the horrors of it, Posesif still manages to be a romance movie that is both sweet and heartbreaking without romanticizing abusive relationship, obsession, and manipulation itself. This film is a one-of-a-kind, and it deserves to be watched by as many Indonesians as possible.”
  • Bunga         : ” Whoa, It’s been LONG and wonderful so thank you Toms!”
  • Tommy      : “Thank you juga for this review session! It has been a wonderful time.”

Distopiana’s Rating : 5 out of 5.

Coin Locker Girl (2015) – Crime At Its Best

Hampir di setiap kota besar di dunia sudah pasti memiliki chinatown ― sebuah wilayah yang mayoritas penghuninya beretnis Tionghoa. Tidak terkecuali Seoul, Korea Selatan. Setelah berhasil meraup keuntungan sebesar US $ 10.7 juta serta mendapatkan kesempatan untuk screening dalam International Critics’ Week di Cannes Film Festival tahun 2015, sudah dipastikan bahwa film box office garapan Han Jun-hee ini telah sukses membawa sineas Asia Timur dalam skala internasional. Sebelum membaca review ini lebih lanjut, perlu diingat bahwa film Coin Locker Girl tidak diperuntukkan untuk segala usia dikarenakan efek gory, keseluruhan tema dan kekerasan yang disuguhkan selama 110 menit pemutaran.

Dikisahkan seorang bayi perempuan malang yang ditelantarkan orang tuanya di dalam salah satu loker penitipan barang MRT pada tahun 1996, yang kemudian ditemukan oleh seorang pemulung dan dijual kepada sekelompok mafia chinatown yang dipimpin oleh wanita paruh baya dengan julukan “Eomma” (yang berarti Ibu). Eomma sendiri merupakan seseorang yang berpengaruh di daerah Incheon, Seoul yang bergerak dalam peminjaman uang, human-trafficking serta jual beli organ manusia. Setelah tinggal bersama Eomma selama kurang lebih 18 tahun, dibekali dengan ilmu bela diri dan kemahiran dalam menggunakan pisau, the girl whose name is Ma Il-Young is given a task to kill the person she has always wanted to protect.

Bukan hanya mengedepankan sisi action, thriller dan suspense, film bergenre crime fiction ini juga memberikan sentuhan drama dan kisah persahabatan/percintaan dalam jumlah yang pas. Diperankan oleh Kim Hye-soo (Signal, Tazza: The High Rollers) sebagai Eomma dan Kim Go-eun (Goblin, Memories of the Sword) sebagai Ma Il-young, film Coin Locker Girl berhasil menyita perhatian media dengan bukan hanya sederet pemain yang berkualitas, tetapi juga premis cerita dan plot twist yang berhasil membuat kita bertanya-tanya.

I shouldn’t waste my luck on these things.”

Tackling stereotypical roles of both man and woman, Coin Locker Girl memberikan kita sebuah pencerahan terhadap kerasnya dunia kriminal dibalik bangunan-bangunan megah Korea Selatan ― salah negara paling maju dan adikuasa di Asia. Bagaimana mereka bertahan hidup dibawah tekanan sekelompok mafia keji, serta rela melakukan apa saja demi uang dan kehormatan. Bahwa pada akhirnya, dunia ini lebih dari sekedar perdebatan antara hidup dan mati, melainkan apa saja kontribusi yang dapat kita berikan untuknya.

Salah satu titik balik cerita yang (meskipun sedikit antiklimaks, tetapi masih sukses membuat para penonton tercegang) disajikan dalam Coin Locker Girl, adalah saat Ma Il-young bertemu dengan seorang laki-laki bernama Park Seok-hyun (diperankan oleh Park Bo-gum), seorang chef muda yang manis dan baik hati, yang juga merupakan anak dari peminjam uang yang sedang melarikan diri dari jeratan kelompok mafia Eomma. Trust me, it’s more than just a tragic romance. Pertemuannya dengan Park Seok-hyun membuat Ma Il-young tersadar, bahwa sejahat apapun dunia ini, masih ada seseorang dengan hati yang bersih. Bahwa ternyata, berperilaku layaknya seorang wanita biasa yang pergi berkencan, berpakaian menarik dan menikmati hidup tidaklah seburuk yang ia kira.

I’m still useful, you know, I’ll repay you no matter what it takes.”

Dan pada akhirnya, to conclude this one hell of an ride, Coin Locker Girl adalah sebuah film emosional penguras air mata (dan kesabaran) yang wajib kita masukkan ke dalam must-watch list. Dijamin, mata kita akan dimanjakan dengan penggunaan warna yang vibrant, jas hitam dan jaket kulit yang memberikan kesan maskulin, serta ciri khas chinatown yang dituangkan dalam bentuk detail-detail kecil (yang sayangnya kurang mendapat perhatian lebih) seperti furnitur dan dekorasi yang digunakan dalam set, mulai dari ukiran-ukiran naga berwarna gold, meja makan dengan kursi yang melingkar dan kaca tipis yang dapat diputar, serta lentera kertas bertuliskan aksara Cina yang digantungkan diatas langit-langit ruangan. Meskipun saya tidak menyarankan Coin Locker Girl untuk disaksikan mereka yang kurang menyukai adegan kekerasan yang brutal dan bersimbah darah, film ini akan mengajarkan kita banyak hal, baik tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana sebuah keluarga tidak harus tercipta melalui hubungan darah, melainkan rasa cinta dan peduli yang kita miliki terhadap sesama.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Pengabdi Setan (2017) – Teror Lintas Generasi (SPOILER REVIEW)

Bagi orang Indonesia yang pernah hidup di era 80 dan 90-an, pasti mereka pernah merasakan kengerian traumatis yang diciptakan oleh film-film horor eksploitasi pada zaman Orde Baru. Sebutlah tokoh-tokoh seperti H. Tut Djalil, Lilik Sudjio, dan Sisworo Gautama Putra. Berangkat dari hasrat eskapisme sekaligus perlawanan mereka terhadap pemerintahan Suharto yang opresif, terciptalah banyak film-film yang tidak hanya brutal dan menyeramkan secara audiovisual, namun juga menonjolkan unsur seksualitas yang padat. Ratu Ilmu Hitam, Bayi Ajaib, dan Leak menjadi contoh dari film-film yang pernah terkenal dan berkesan bagi para penikmat sinema di zaman tersebut.

Pengabdi Setan bisa dibilang merupakan salah satu film yang penting di zaman tersebut. Bukan hanya berhasil membuat banyak anak-anak kecil kesulitan tidur, namun karena beberapa elemen di dalam film ini mencerminkan idealisme dan superstisi masyarakat di zaman Orde Baru terhadap agama, mitos, dan cerita-cerita hantu. Film ini pun juga merupakan film yang disukai secara personal oleh Joko Anwar. Oleh karena itu, atas izin dan dukungan dari Rapi Film, ia membuat ulang Pengabdi Setan menggunakan idealisme dan caranya sendiri, namun masih tetap memberi penghormatan dengan menggunakan beberapa elemen yang menjadi daya tarik serta keunikan film karya Sisworo Gautama Putra tersebut.

Percayalah, seskeptis apapun kalian terhadap film horor Indonesia, kalian tetap akan ketakutan setengah mati menonton film ini.

Ibu (Ayu Laksmi) meninggal setelah menderita sakit aneh selama dua tahun, dan sehari setelah penguburan jenazahnya, Bapak (Bront Palarae) harus langsung ke kota selama beberapa hari. Selama ditinggal Bapak, Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat) mengalami kejadian demi kejadian janggal di dalam rumah mereka. Perlahan-lahan, sebuah rahasia mengerikan yang selama ini disembunyikan Bapak dan Ibu pun terungkap. Didorong oleh rasa kasih sayang yang kuat, mereka harus bersatu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari ancaman yang bangkit dari dalam neraka.

Secara cermat, Pengabdi Setan (2017) berhasil menciptakan sebuah teror yang tepat sasaran bagi para penonton Indonesia yang sudah lebih dulu familiar dengan The Conjuring sebagai standar film horor yang menakutkan bagi mereka. Bagi kalian yang sudah menonton The Conjuring, The Conjuring 2, dan Annabelle: Creation lebih dari dua kali, kalian akan melihat formula serupa diterapkan oleh Joko Anwar dan dieksekusi menjadi lebih efektif di film ini.

Pertama: Jump-scare yang mengharmonisasikan momentum pergerakan kamera (Ical Tanjung rocks!) dengan sudut pandang tokoh serta sound effect sebagai pengejut di akhir. Beberapa teknik jump-scare yang pernah digunakan di The Conjuring 2 akan banyak kamu temukan juga di Pengabdi Setan (haunted paintings, moving chairs, mirror reflection). Bedanya, film ini tidak memberikan efek kejutan yang sama dengan film karya James Wan tersebut.

Jadi begini kira-kira contohnya:

Reaksi di akhir jump-scare The Conjuring 2:
“WUANJENG KAGET!”
Reaksi di akhir jump-scare Pengabdi Setan:
“Oh shit….oh shit….anjeng….ANJEEEEEENG KABOOOOR!!!”

Kedua: Cursed objects. Objek-objek ini selalu membuka sebuah adegan jump scare sebagai penanda resmi kehadiran ‘Sang Pemilik’ untuk meningkatkan suspense dan memaksimalkan kengerian yang akan didatangkan di ujung adegan. Ada boneka Annabelle serta kotak musik di The Conjuring. Ada juga mainan ‘the crooked man’, lukisan ‘the nun’, serta kursi goyang di The Conjuring 2. Pengabdi Setan? Lonceng Ibu, kursi dorong nenek, serta lukisan Ibu yang berada di ujung lorong.

Ketiga: Possessed Child(ren). Anak kecil kesurupan itu serem banget, apalagi kalau aktingnya bagus seperti Mackenzie Foy di The Conjuring dan Madison Wolfe di The Conjuring 2. Di Pengabdi Setan, ada sebuah pembeda yang sangat efektif. Alih-alih menjadi fokus narasi, ia menjadikan tokoh Si Bocah yang kerasukan sebagai distraksi. Penampilan Nasar Annuz sebagai Bondi yang tiba-tiba diam dan pucat setelah kematian neneknya itu bakal bikin semua kecurigaan kamu mengarah pada dia dan mengalihkan kita dari bahaya sesungguhnya yang bersembunyi di balik kesenyapan.

Menggunakan formula khas film atau sutradara lain bukan berarti menjadi peniru, dan menuduh Joko Anwar sebagai seorang peniru bukanlah sebuah kelakuan yang terdidik maupun terpuji. Ketiga unsur tersebut hanya menjadi penajam dari atmosfer mencekam yang berhasil diciptakan lewat konsep produksi yang solid, alur cerita dan skenario yang cerdas, tata rias yang minimalis, sound effect dan iringan musik jazz 80’an yang antik, serta penampilan ansambel yang memukau dari para pemeran. Sekali lagi saya tegaskan, Ical Tanjung keren abis. Komposisi terjaga dengan baik sepanjang berlangsungnya film, membuat setiap teror terasa lebih nyata dan menyesakkan nafas. Dari sisi akting, penampilan yang paling menonjol di film ini dihasilkan oleh pasangan Nasar Annuz dan M. Adhiyat. Mereka berhasil membangun chemistry yang kuat sebagai kakak dan adik yang menggemaskan, apalagi setiap kali melihat Ian yang bisu mengejek Bondi dengan bahasa isyarat dan senyum imutnya yang menjengkelkan.

Hal yang terpenting dan patut kita bicarakan adalah bagaimana film ini menyelipkan kritik terhadap penggambaran fungsi agama di dalam sebuah film, khususnya film horor. Semenjak Orde Baru, tokoh-tokoh pemuka agama seperti Kiai atau Ustadz selalu digambarkan sebagai sosok yang mampu memberikan solusi terhadap gangguan makhluk halus. Hampir semua film horor Indonesia selalu menggambarkan Kiai atau Ustadz seperti pahlawan dengan kemampuan super yang berasal dari kekuatan iman mereka (bahkan ini juga terjadi di film Pengabdi Setan sebelumnya). Ditambah dengan kelatahan sinetron horor yang tayang setiap primetime di layar kaca, hal ini secara tidak langsung menimbulkan sebuah glorifikasi dari masyarakat terhadap para pemuka agama. Walhasil, siapapun yang menyandang gelar ustadz, kiai, atau haji, mereka mampu memegang kontrol atas opini masyarakat.

Joko Anwar, seseorang yang dikenal gerah terhadap “kelompok agama yang mengontrol opini masyarakat” (nggak usah saya sebut lah siapa, kalian semua sudah tahu), menyampaikan keresahannya dengan satu keputusan yang cukup berani: membunuh satu-satunya karakter ustadz di film ini dengan kematian yang sama seperti bagaimana manusia biasa seharusnya mati di film horor. Prinsipnya terhadap kebebasan dalam menganut kepercayaan juga disampaikan lewat karakter Hendra, anak ustadz yang mengatakan secara gamblang pada Rini:

“Ayahku memang ustadz, tapi kalau aku, lebih terbuka terhadap teori-teori lain.”

 

Hormat film ini terhadap karya asli dari Sisworo Gautama Putra pun disampaikan dengan cara yang gemilang. Ingat adegan motor yang tertabrak truk di film Pengabdi Setan yang sebelumnya? Adegan ini dikemas kembali dengan penyajian yang lebih brutal dan mengerikan, menayangkan sebuah teror legendaris ke mata penonton milenial dengan lebih hidup dan nyata. Terlebih, ia juga menghadirkan kembali sosok penting di film Pengabdi Setan terdahulu pada epilog film, sehingga membuka kemungkinan untuk adanya sekuel.

Pengabdi Setan (2017) berhasil membuat penonton Indonesia di tahun 2017 ini sama ketakutannya seperti bagaimana saat penonton Indonesia di tahun 1980 menonton Pengabdi Setan versi Sisworo Gautama Putra, dan ini bukanlah sebuah hal yang mudah. Jarang sekali ada sebuah reboot horror yang berhasil.  Dari empat judul film horror reboot dari Hollywood di tahun 2017 (IT, Flatliners, Rings, Amityville: The Awakening), hanya IT yang benar-benar berhasil secara kualitas dan pendapatan komersil. Dalam kurun waktu lima hari sejak penayangan publik pertama, Pengabdi Setan sudah sukses mengumpulkan lebih dari enam ratus ribu penonton, sehingga diprediksikan film ini akan mampu merangkul 2 juta penonton dalam waktu kurang dari sebulan. Jika berhasil, maka Pengabdi Setan tidak hanya akan menjadi salah satu film horor Indonesia tersukses sepanjang masa, namun juga meletakkan standar yang lebih tinggi untuk film-film horor Indonesia selanjutnya.

Jadi tolong, jika kalian memang orang yang pemberani, tolong dukung film ini dengan menontonnya lebih dari dua kali di bioskop.

Tapi kalau tidak berani juga, yah, tidak apa-apa. Saya bisa maklum kok. Saya tiga malam berturut-turut tidur ditemani lampu kamar yang menyala serta lagu-lagu Blink 182 di Spotify dari laptop yang tidak saya matikan setelah nonton film ini, jadi kalau saya katakan film ini bukan buat orang penakut, saya mengatakannya dengan sangat jujur tanpa ada unsur sarkasme sama sekali.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Death Note (2017) – Terrific Material, Terrible Story

Ada beberapa hal yang menarik dan menjadi entertainment value dari cerita original Death Note:

  1. Duel kecerdasan antara dua karakter utama, Light dan “L”, untuk saling mendahului langkah satu sama lain. Menegangkan dan penuh dengan hal-hal yang tidak terduga.
  2. Kekuatan karakter Light dan L yang menginspirasi dan mengokohkan moral dilemma di dalam alur cerita.
  3. Toxic relationship antara Light dan Misa yang rumit dan penuh dengan tipu daya.

Jika kalian mengharapkan ketiga poin itu ada di dalam film Death Note hasil adaptasi Netflix dan Adam Wingard ini, lebih baik urungkan niat untuk menonton karena kalian bakal kecewa bahkan saat 15 5 menit pertama film berlangsung.

Kehidupan Light Turner (diperankan oleh Nat Wolff), seorang bocah SMA yang terkenal suka jual contekan, tiba-tiba berubah drastis saat ia menemukan sebuah buku tulis dengan sampul bertuliskan ‘Death Note’ jatuh dari langit. Lewat buku itu, ia mendapatkan kemampuan istimewa untuk membunuh siapapun yang ia kehendaki hanya dengan menuliskan nama lengkapnya di Death Note. Bersama Ryuk (suara diperankan oleh Willem Dafoe) dan Mia Sutton (diperankan oleh Margaret Qualley), Light menjadi sesosok Kira: dewa keadilan yang mampu membunuh siapapun yang menurut mereka “tidak pantas hidup di dunia”. Pembantaian massal Kira pun mendapatkan perhatian seorang detektif pribadi jenius beraliaskan L (diperankan oleh LaKeith Stanfield). Perlahan tapi pasti, L menemukan identitas Kira dan mulai melakukan segala cara agar Light Turner mampu ditahan atas perilaku pembunuhan masssalnya.

Banyak yang mempermasalahkan film ini karena banyak hal. Isu white-washingpelecehan karakter Light Yagami, serta pemilihan LaKeith Stanfield sebagai L yang bagi sebagian orang ‘nggak cocok’ atau ‘terlalu maksa’. Well, gue nggak bisa nyalahin mereka. White-washing is indeed a serious issue that needs to be addressed in every Hollywood attempt to remake a movie. Penggemar manga dan anime Death Note yang asli pun berhak untuk patah hati melihat idola mereka Light Yagami yang pemberani dan fokus diacak-acak oleh Adam Wingard menjadi Light Turner yang cengeng dan picisan. Semua yang mengutarakan kekecewaan mereka tentang betapa ‘Amerika’-nya Death Note versi Netflix ini tidak bisa disalahkan kok.

Hanya saja, saya tidak sependapat bahwa alasan-alasan tersebutlah yang membuat Death Note menjadi film yang jelek.

Death Note jelek karena naskah dan skenarionya jelek.

Premis Death Note memiliki potensi yang sangat kuat untuk menjadikannya film cat-and-mouse thriller yang gelap dan penuh dengan skenario-skenario tak terduga. Entah kenapa, Adam Wingard, sang sutradara yang juga pernah menggarap You’re Next dan The Guest ini seperti kehabisan akal atau pesimis dengan tokoh-tokohnya sendiri.

Mari kita mulai dengan sang karakter utama: Light Turner. Semua permainan cerdas Light menggunakan Death Note jatuh menjadi datar dan hambar. Sebagian penonton banyak yang menyalahkan keputusan Adam Wingard untuk membuat Light Turner menjadi dua kali lipat lebih bodoh dari Light Yagami. Yah, kalau dengan alasan bahwa kecerdasan yang dimiliki Light Yagami itu tidak manusiawi dan merupakan sebuah refleksi dari budaya remaja Jepang dan ambisi mereka untuk selalu over-achieving something, hal tersebut bisa dibenarkan. Melakukan cultural adjustment kepada Light Turner dengan mengambil sampel bocah Kaukasian self-righteous cengeng sebagai perwakilan dari remaja Amerika Serikat pun sebenarnya merupakan sebuah keputusan yang bisa dibenarkan.

Belum lagi karakter L yang diperankan oleh aktor kulit hitam LaKeith Stanfield. Saya tidak bermasalah sama sekali dengan hal ini. Malah bagi saya, LaKeith menampilkan akting yang sangat maksimal sebagai seorang detektif jenius yang berperangai aneh. Cultural adjustment yang dilakukan Adam Wingard pun tepat sasaran, mengingat di film adaptasi ini, L yang seorang pria berkulit hitam telah yatim piatu sejak kecil dan dilatih sejak dini oleh sebuah organisasi rahasia untuk dijadikan detektif hebat. Terdengar sangat menarik, bukan?

Yang salah bukan pada persiapan materinya, namun perencanaannya. Ibarat musik, Death Note adalah seorang John Petrucci yang memainkan “Let it Go” dari Frozen dengan strumming. Seperti ini kira-kira.

Semua skenario di film ini, yang harusnya bisa sangat menarik dan menegangkan, malah menjadi predictable dan membosankan. Oke, visualnya asik, karakternya keren, tapi bukannya mengembangkan alur cerita menjadi lebih rumit dan mendorong tokoh-tokoh di film ini sampai ke titik nadir mereka, Adam Wingard memilih untuk mengurung dan memenjarakan Light, L, dan Mia ke dalam template teenage Hollywood thriller dan membiarkan potensi mereka membusuk sampai akhir film. Cheesy romantic youth stories between Light & Mia? “My dad is a cop” scenario? Homecoming and prom? Ferris Wheel accident scenario? Oh, belum lagi Ryuk yang tampil dengan sangat menyeramkan di film ini nggak dikasi peran yang lebih penting dari sekedar ekornya Light dan comic relief.

Bukan cuma plot, tapi naskah film ini pun kacau berantakan. Death Note memang selalu memfokuskan temanya pada sudut pandang hitam putih keadilan. Namun karena isu serumit ini tidak diimbangi dengan cerita yang cerdas dan kompleks, segala percakapan tentang hal tersebut menjadi terdengar sangat pretensius–dan bahkan terkesan dibuat-buat.

Sungguh sebuah kesia-siaan yang menyedihkan.

Saya turut simpati dengan segala kecaman yang diterima oleh Adam Wingard terkait betapa kecewanya penonton terhadap Death Note. However, with all due respect, it was indeed a total disappointment. Mungkin kekecewaan ini hanyalah awal dari suatu master plan yang sudah dirancang Adam Wingard ke depannya: Death Note trilogy. Mungkin memang ada beberapa sekuel yang telah direncanakan dengan lebih matang dan bisa menjadi berkali-kali lipat lebih baik daripada film sampah ini. Namun tak bisa dipungkiri, ia telah membuat Death Note lebih believable sebagai teenage coming-of-age thriller semacam Final Destination, The Covenant, atau Twilight di mana sejatinya cerita Death Note adalah sebuah political thriller yang brilian dan bisa disandingkan dengan V for Vendetta, Watchmen, atau The Hunger Games.

You don’t deserve all the hate, Adam, but people deserve to be disappointed.

Distopiana’s Rating: 1 out of 5.

You are the Apple of My Eye (2011) – Chances We Didn’t Take

Masa muda tentunya adalah masa-masa yang paling indah. Bukan hanya tentang manis pahitnya percintaan, kita juga belajar tentang indahnya persahabatan, hubungan kekeluargaan, serta lika-liku kehidupan. Begitu pula dengan film bergenre komedi romantis garapan Giddens Ko yang diangkat dari novelnya dengan judul yang sama, You are the Apple of My Eye. Tidak hanya menjadi box office di negaranya sendiri, film ini merupakan salah satu bukti bahwa dunia perfilman Taiwan juga mampu bersaing dalam skala internasional yang lebih besar.

Para tahun 1994, dikisahkan tentang tujuh orang sahabat yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Our heroines Ko Ching-teng (diperankan oleh Ko Chen-tung) is your typical mischievous bad boy yang tidak pernah belajar dan selalu membuat onar bersama kawan-kawannya, sedangkan Shen Chia-yi (diperankan oleh Michelle Chen) adalah seorang murid teladan yang bukan hanya pintar secara akademis, tetapi juga cantik dan memiliki tekad yang kuat untuk membahagiakan orang-orang disekelilingnya.

Tetapi, tunggu dulu! Jika pikiran skeptikal bahwa You are the Apple of My Eye tidak lain adalah sebuah cerita klasik “good girl meets bad boy” mulai terbesit di benak anda, then everything is just an illusion.

“I was wrong. In fact, when you really like a girl, you’d be happy for her. When you see her finding her Mr. Right, you will want them to be together and live a happy life.”

Berbeda halnya dengan film-film komedi romantis yang hanya sekedar menitikberatkan alur cerita pada kisah percintaan pasangan utamanya, You are the Apple of My Eye mengulas tentang bagaimana sekelompok individu dengan segala sita dan kebiasaan yang berbeda 180 derajat, mampu mengalahkan ego mereka masing-masing demi sebuah persahabatan yang tulus. Ko Ching-teng yang awalnya nakal dan tidak pernah memperdulikan apapun yang ada disekitarnya, rela belajar mati-matian demi mendapatkan nilai yang baik untuk lulus ujian masuk perguruan tinge. Berikut dengan Shen Chia-yi, yang juga belajar bahwa kepintaran seseorang bukanlah segalanya. Diwarnai dengan kelima sahabat mereka lainnya yang tidak kalah kompak dan berhasil mendatangkan tawa, we are left with a massive relatable feeling that will make us reminisce our old days youth.

And, of course . . . dibalik segala canda tawa yang disuguhkan dalam film ini, penonton juga dibuat menangis terharu saat Ko Ching-teng dan Shen Chia-yi mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah berani mengungkapkan perasaan mereka yang sesungguhnya – in fear of destroying their friendship and themselves – hingga film berakhir dan Shen Chia-yi dipersunting laki-laki lain. Meskipun begitu, dengan eksekusi plot yang luar biasa jujur (dan terkadang menyakitkan) serta sinematografi yang terkesan vintage dan patut diacungi jempol, hal ini merupakan bukti nyata, yang mungkin akan “membangunkan” para pemimpi cinta, bahwa tidak selamanya kisah kasih di SMA akan berakhir bahagia. That sometimes, people grow apart and there’s nothing they can do about it.

Fast forward to the present day, salah satu scene yang (mungkin) meninggalkan kesan terdalam untuk para penontonnya, adalah saat ketujuh sahabat yang sudah sibuk dengan kuliah masing-masing dan berhenti berkomunikasi secara intens, tiba-tiba dikagetkan dengan gempa bumi dahsyat yang mengguncang ibukota Taipei. Refleks, bermodalkan sebuah handphone Nokia tahun 2000an, dengan penuh kekhawatiran Ko Chin-teng berlari keluar area kampusnya demi mendapatkan sinyal untuk menelfon Shen Chia-yi, yang pada akhirnya menjadi titik balik kedua belah pihak untuk memulai semuanya dari awal lagi, meskipun hanya sebatas teman.

Secara garis besar, Giddens Ko berhasil membawa para penonton menaiki sebuah emotional rollercoaster panjang yang bukan hanya membuat sesak di dada, tetapi juga mengajarkan berbagai nilai kehidupan yang tidak kalah pentingnya. Bahwa disaat kita terjatuh dan berada di masa-masa yang paling terpuruk, sahabat sejati akan selalu ada untuk membantu kita kembali berdiri diatas kaki sendiri, apapun masalahnya. Everything was portrayed raw and realistic.

Meskipun begitu, perlu juga diingat bahwa film ini kurang cocok dipertontonkan untuk anak-anak dibawah umur, dengan beberapa uncensored scenes yang terlalu vulgar seperti referensi seksual, nudity dan kata-kata makian yang terkesan sedikit dipaksakan. But, overall, You are the Apple of My Eye is a heartwarming coming-of-age movie that will leave you smiling and crying, as the chances we regret are the chances we didn’t take.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Critical Eleven (2017) – Suka Duka Kesempatan Kedua

Di dunia ini, tidak ada cinta yang sempurna layaknya cerita dongeng. Sekalipun cinta yang larut dalam indahnya kota-kota besar seperti New York, Jakarta dan pesisir Meksiko. Tetapi, apakah dengan kehilangan kita akan belajar untuk saling melengkapi? Diangkat dari novel terlaris karya Ika Natassa, Critical Eleven menceritakan tentang suka duka kesempatan kedua, berikut dengan pilihan hidup yang terkadang tidak sejalan dengan ekspektasi.

Menceritakan tentang Ale dan Anya Risjad, sepasang suami istri dengan kehidupan pernikahan yang serba ada dibawah gemerlap kota New York, Critical Eleven mengangkat sebuah analogi unik yang berdasarkan sebuah istilah populer dalam dunia penerbangan dengan nama yang sama, critical eleven — dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Berdasarkan data statistik, 80% dari kecelakaan pesawat biasanya terjadi pada saat masa-masa kritis tersebut. Sedangkan, dalam novel/film ini, dikatakan bahwa 11 menit pertama dari sebuah pertemuan merupakan masa paling kritis yang akan menentukan kemana sebuah hubungan akan dibawa. 3 menit saat pembentukan kesan pertama, dan 8 menit sebelum perpisahan.

Tetapi, setelah dihadapkan pada realita yang berbanding 180 derajat dengan apa yang awalnya mereka harapkan, apakah 11 menit tersebut mampu menjadi alasan dibalik kekuatan cinta Ale dan Anya?

“Bisa bayangin nggak, kita lewatin jembatan bareng, terus kita bakar jembatan itu. Nggak ada jalan untuk kembali. Aku sama kamu kayak gitu, Nya. Ayo bakar jembatan bareng.”

Mungkin, istilah the calm before the storm sangat pas untuk menggambarkan keseluruhan film Critical Eleven secara general.  Meskipun film ini telah berhasil menyorot berbagai spot legendaris kota New York yang indah, serta teknik pengambilan gambar yang berhasil membuat siapa saja yang menontonnya berdecak kagum, rasanya agak sedikit sulit untuk benar-benar menikmatinya when their marriage life begins to sink faster than the Titanic.

Dengan kehidupan pernikahan Ale dan Anya yang (hampir) sempurna, ditambah dengan berita kehamilan Anya yang tidak disangka-sangka, kedua pasangan ini justru dihadapkan pada suatu kenyataan pahit dimana gelar orang tua yang hampir mereka raih dirampas secara ironis, saat dokter menyatakan bahwa Anya mengalami keguguran. The fact that it’s almost impossible to keep themselves composed over the searing pain of losing their son, and the aftermath of every single thing that happened beyond their consent is truly heartbreaking. Tidak hanya itu, pada saat penonton dibuat menangis sendu di klimaks cerita, even more plot twists — yang meskipun relevan, terkadang sedikit antiklimaks dan dipaksakan — start to bombard the remaining scenes until the very, very end.

Tetapi, untuk memuaskan hasrat para penonton yang telah sukses dibuat tersenyum dan menangis tidak karuan selama kurang lebih 135 menit, (dengan penuh kebingungan) Critical Eleven pun memutuskan untuk tidak mengikuti alur epilog yang ada di dalam novel, serta mengikuti tren yang tetap berada dalam comfort zone industri perfilman: a happy, fairytale-like ending.

Meskipun begitu, tidak dapat dikatakan bahwa Critical Eleven is not worth the watch. If you’re a sucker for adult-themed melodramatic romance with fancy settings, this one’s for you. Dengan sinematografi yang patut diacungi jempol, kata-kata mutiara penuh makna yang tidak henti-hentinya dilontarkan oleh Ale dan Anya, chemistry para pemain, eksistensi pemeran pendukung yang tidak kalah besar impact-nya, serta antusiasme penonton yang kebanyakan telah lebih dulu membaca novelnya, Critical Eleven merupakan sebuah film yang tepat untuk menggambarkan fantasi dan romantisme kehidupan pernikahan, serta sakitnya kehilangan orang yang paling kita cintai dengan tulus, bahkan sebelum kita dapat benar-benar bertatap muka dengan mereka.

13 Reasons Why (Miniseries 2017) – We Need to Talk About Hannah Baker

Kesehatan mental, bullying, serta pergaulan remaja sudah menjadi salah satu isu yang sudah umum dijadikan pembahasan menarik di berbagai media pop kultur. Banyak film dan TV show yang secara eksplisit membahas tentang gaya pergaulan remaja dan baik buruk dampaknya terhadap perkembangan emosional mereka, seperti Glee, The Virgin Suicides, Elephant, dan Bang Bang You’re Dead. Bicara remaja, tentu sasaran utama dari film dan TV show tersebut adalah remaja, dan kita tentunya sadar bahwa remaja merupakan objek yang sangat rentan untuk menerima sesuatu yang mereka anggap menarik menjadi inspirasi untuk mereka tiru. Berangkat dari fakta tersebut dan banyaknya kasus kriminal yang terinspirasi dari film dan TV show, setiap dari mereka sepatutnya berusaha untuk menggambarkan isu-isu tersebut secara detail dan penuh kehati-hatian agar apa yang mereka coba sampaikan tidak menjadi bumerang dan malah menginspirasi para remaja yang menontonnya untuk menjadi apa yang seharusnya mereka hindari (bully, school shooter, serial killer, or suicide victim).

Diangkat dari novel karya Jay Asher, 13 Reasons Why bercerita tentang aftermath dari sebuah kasus bunuh diri di Liberty High School. Hannah Baker (Katherine Langford), Sang Korban, secara rahasia merekam tujuh buah kaset yang berisi rekaman pengakuannya tentang tiga belas orang yang ia anggap bertanggung jawab terhadap kematiannya. Ia kemudian menduplikasinya menjadi tiga belas copy dan, dengan alasan yang misterius, mengirimkannya kepada tiga belas orang yang ia ceritakan di rekamannya tersebut setelah kematiannya. Di saat yang sama, Liberty High School juga mendapatkan tuntutan hukum dari orang tua Hannah Baker karena Sang Ibu curiga bahwa anaknya mendapatkan tekanan dan bullying dari murid-murid di sekolahnya dan pihak sekolah memilih untuk tidak menanggapi persoalan tersebut dengan serius. Kita akan dibawa menuju sebuah perjalanan emosional yang dialami oleh Hannah Baker secara kronologikal lewat perspektif Clay Jensen (Dylan Minnette), seorang bocah lelaki manis dan canggung yang pernah dekat dengan Hannah dan juga termasuk ke dalam tiga belas alasan tersebut.

Memiliki nuansa yang identik dengan video game Life is Strange, serial televisi yang sebagian besar episodenya disutradarai oleh Tom McCarthy (Spotlight) ini penuh dengan intrik drama kenakalan remaja yang tidak hanya membuat kita murka, namun juga berlinangan air mata. Meskipun masih agak terkungkung dalam stereotipe klasifikasi (nerds, jocks, cheerleaders, preppies, hipsters, emo kids, teacher’s pets), namun semua tokoh yang terlibat mempunyai kompleksitas karakter yang sangat manusiawi dan mewakili kondisi emosional yang dialami remaja pada umumnya. Beberapa tokoh seperti Justin Foley (Brandon Flynn), Alex Standall (Miles Heizer), Courtney Crimsen (Michele Selene Ang), Jessica (Alisha Boe), atau bahkan yang hanya muncul di tiga episode seperti Jeff Atkins (Brandon Larracuente) mampu mengaduk-aduk amarah dan empati yang kita rasakan terhadap mereka menjadi lebur dan tak terpisahkan. Kita peduli terhadap mereka, seakan mereka adalah teman kita di dunia nyata yang perlu kita dekati dan ajak bicara dengan penuh pengertian agar kita tidak kehilangan mereka. Yah, secara garis besarnya, 13 Reasons Why memang secara detail dan simpatik menggambarkan sebuah dampak buruk dari pengabaian, ketidakinginan untuk mengerti satu sama lain, dan keinginan untuk saling menang sendiri.

Namun dengan beberapa alasan, saya sedikit takut dengan apa yang 13 Reasons Why dapat timbulkan pada remaja yang menontonnya.

Mari kita resapi premis ini dengan hati-hati: seorang gadis yang depresi merekam tujuh kaset yang berisi curahan hatinya tentang siapa saja orang-orang yang “bertanggung jawab” pada keputusannya untuk bunuh diri. Setelah diduplikasi, ia mengirimkan “masing-masing copy dari ketujuh kaset tersebut” kepada “orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman” dengan alasan yang personal. Hal ini agak mengerikan buat saya karena bukan hanya terkesan terlalu kreatif dan out-of-the-box (pun intended), namun konsep ini seakan mengglorifikasi aksi bunuh diri sebagai salah satu cara yang efektif untuk “mengungkap kebenaran” dan “menegakkan keadilan“.

Hannah Baker adalah seorang gadis yang terlihat normal. Cantik, mampu bergaul dengan baik, serta memiliki keluarga yang pengertian terhadapnya. Kita tidak akan menemukan tanda-tanda kesedihan di mata Hannah, namun pada kenyataannya, ia sering merasa terabaikan dan teracuhkan karena orang-orang yang ia temui di sekolahnya tidak pernah memperlakukan ia dengan baik. Ini mengingatkan pada kita tentang dua fakta: bahwa tanda-tanda depresi itu memang sangat tidak kasat mata dan bahwa bullying serta pengabaian dapat berdampak langsung pada kesehatan mental dan emosional remaja. Hannah memang memiliki gejala depresi, meskipun hanya ditunjukkan sedikit di keseluruhan episode serial ini, namun kesalahan terbesar 13 Reasons Why adalah membuat sebuah premis kokoh yang berdasarkan logika irasional bahwa bullying adalah penyebab dari sebuah aksi bunuh diri, dan bahwa ada orang-orang yang patut dimintai pertanggungjawaban atas sebuah aksi bunuh diri. Bullying mungkin menjadi salah satu faktor seseorang menjadi depresi dan memutuskan untuk bunuh diri, tapi menyebut bullying sebagai penyebab bunuh diri adalah sebuah simplifikasi yang salah besar, meracuni persepsi, dan dapat mengarah kepada keputusan-keputusan yang membahayakan pihak-pihak tak bersalah.

Seperti belum cukup, serial ini mempertunjukkan secara langsung dan eksplisit aksi bunuh diri Hannah di episode terakhir, yang mana merupakan sebuah tindakan yang gegabah karena riset dari American Foundation for Suicide Prevention menunjukkan bahwa “risk of additional suicides increases when the story explicitly describes the suicide method, uses dramatic/graphic headlines or images and repeated/extensive coverage sensationalizes or glamorizes a death.” Tidak hanya itu, adegan tersebut dikemas dengan sangat menyakitkan sehingga saya khawatir akan memunculkan kembali luka dan trauma yang tidak diinginkan bagi para survivor yang menontonnya.

Penting bagi kita untuk membicarakan apa dampak yang akan ditimbulkan oleh tiga belas rekaman pesan terakhir Hannah Baker bukan hanya terhadap orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman tersebut, namun juga terhadap para remaja di dunia nyata yang menonton serial ini. Layaknya Hannah, mereka yang memiliki kecenderungan bunuh diri yang tinggi juga merasa terabaikan oleh orang-orang di sekitarnya. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti “If I die, would it matter” sering mengendap dan merasuki pikiran mereka. Pastinya, seluruh episode di serial ini memperlihatkan betapa kematian Hannah membawa pengaruh yang besar pada Liberty High. Betapa akhirnya, ketiga belas orang tersebut mendapatkan hal yang “setimpal” akibat rasa bersalah mereka terhadap Hannah. Remaja memiliki ego yang tinggi terhadap tiga hal: ingin diberikan perhatian lebih, ingin dianggap istimewa, dan ingin memberikan pembuktian yang mendukung dirinya sendiri. Ditambah dengan sikap Clay Jensen sebagai sudut pandang utama, serial ini seakan mengangkat sebuah gagasan yang keliru yang dapat “menginspirasi” para remaja labil: bahwa bunuh diri adalah satu-satunya cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian penuh, membuat orang-orang di sekitarmu merasa bersalah terhadapmu, dan membuktikan “kebenaran yang hakiki” pada mereka bahwa selama ini mereka salah dalam memperlakukanmu.

Selain penokohan dan penulisan naskah yang apik, gaya penuturan cerita non-linear yang dieksekusi dengan sangat mulus lewat match-cuts, extremely detailed continuity, serta color tone editing adalah sesuatu yang harus dipuji dari serial yang digarap oleh Brian Yorkey ini. Sayang sekali, 13 Reasons Why memang memiliki kekeliruan fatal pada konsep yang seharusnya lebih diolah melalui filter moral yang penuh pertimbangan. Saya tidak menyarankan 13 Reasons Why ditonton oleh mereka yang emotionally unstable atau pun mereka yang sensitif terhadap isu bunuh diri. Namun bagi kita yang orangnya agak cuek, serial yang bisa kita saksikan di Netflix ini akan memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya melucuti ego kita demi memberikan perhatian lebih kepada orang-orang yang kita sayangi.

Well, as Tony said, just listen to the tapes.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Get Out (2017) – A Terrifying Joke

“Yo, my man! What’s up my n**ga!”

 

Black people are, in fact, the coolest people in America. Kaum kulit hitam telah banyak memberikan pengaruh pada trend fashion dan hiburan di Amerika Serikat. Beyonce is The Queen. Michael Jackson is The King. Morgan Freeman is God. Hal ini juga menjadi penyebab dari banyak sekali orang kulit putih yang mencoba untuk terlihat swag dengan bercakap-cakap dan berpakaian layaknya orang kulit hitam. White people really want to be black, dan Jordan Peele, seorang komedian yang terkenal lewat komedi sketsa Key and Peele, mengemas isu tersebut ke dalam sebuah lelucon yang ia sulap menjadi sebuah teror mengerikan berjudul Get Out.

Seorang fotografer kulit hitam bernama Chris (Daniel Kaluuya) berpacaran dengan seorang gadis kulit putih bernama Rose (Allison Williams). Pada satu weekend di bulan keempat mereka berpacaran, Rose mengajak Chris untuk berkenalan dengan orang tuanya dan menginap selama dua malam di rumah mereka. Pada awalnya, Chris sedikit mencurigai keberadaan dua orang pelayan di rumah tersebut, yaitu Georgina dan Walter. Mereka semua berkulit hitam, sama seperti Chris, namun Chris merasa asing dengan perangai mereka yang suspiciously obedient dan—-kalau kata pacar saya—-“so white“. Kejadian demi kejadian aneh terjadi pada Chris, yang kemudian berujung pada satu peristiwa mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Do they know I’m black?”

 

Saya bukan dari kaum kulit hitam di Amerika, tapi paling tidak saya sedikit mendapatkan gambaran tentang bagaimana perasaan mereka saat menjalani hubungan inter-rasial, terutama di saat mereka harus berkenalan dengan orang tua masing-masing. Yah, di Indonesia, ibaratnya kurang lebih seperti pacaran beda suku atau beda agama. Meskipun dalam beberapa hal tidak bisa diibaratkan seperti itu karena kaum kulit hitam punya sejarah yang kelam di tanah Paman Sam, di mana mereka ditindas, dijadikan budak, dan diperlakukan secara diskriminatif oleh penegak hukum seakan mereka tidak mempunyai hak sebagai warga negara. Sampai sekarang, diskriminasi pun masih sering dialami oleh mereka, oleh karena itu kaum kulit hitam pun selalu memiliki paranoia tersendiri terhadap kaum bangsawan dan aparat kulit putih, sekecil apapun itu. Lagi-lagi, Jordan Peele membentuk isu tersebut menjadi sebuah lelucon yang menjadi plot device dalam film horor yang serius ini. Coba bayangkan bila kamu seorang lelaki dari kaum kulit hitam. Kamu berpacaran dengan seorang wanita dari kaum bangsawan kulit putih yang memiliki orang tua yang mempekerjakan orang-orang kulit hitam yang terlihat patuh seperti budak sebagai pelayan mereka. Terdengar seperti sketsa komedi, bukan? Although the scenario was obviously based on a joke, Peele delivers it in a terrifyingly unexpected way, and that’s what makes Get Out an exceptionally experimental horror.

Saya tidak bisa bilang ini film horor komedi, karena secara premis dan treatment, Get Out sebenarnya adalah sebuah ide semi-parodik yang dimasak menjadi film horor yang serius. Film yang baru saja mendobrak rekor sebagai The Highest Grossing Film from An Original Screenplay Debut ini menjadi lucu karena kedua hal berikut:

  1. Penampilan LilRel Howery sebagai Rod Williams, seorang polisi bandara yang menjadi sahabat Chris dan menjagai anjingnya saat ia ke rumah orang tua Rose. Joke-joke receh ala African-American yang ia lontarkan akan membuatmu terpingkal-pingkal dalam paranoia.
  2. Saat kita mendapatkan closure di babak ketiga film dan menyadari apa sebenernya satir jenaka yang mendasari ide cerita dan konklusi dari film ini. Penasaran apa yang saya maksud? Tonton saja sendiri.

Get Out berdiri di atas pondasi dan pilar-pilar yang cukup kompleks, namun film ini tetap berhasil untuk menjadi sederhana dengan tidak mengabaikan unsur-unsur klasik film horor. Creepy sound effects and musics, jump scares, kombinasi pergerakan kamera dan penyuntingan dalam menciptakan suspense masih menjadi faktor-faktor utama pencipta teror dalam film ini.  Meskipun demikian, kengerian terbesar Get Out terpancar dari akting yang memukau dari Betty Gabriel sebagai pelayan berkulit hitam bernama Georgina. Seriously, that “No, No, No” scene will terrorize you, take control over you, and put you right into the sunken place. Plot twist pada akhir film bukanlah hal yang baru, dan tidak akan terlalu mengejutkan bila kamu memang horror freak yang sudah khatam dengan film-film horor tahun 2000-an. Namun yang mengesankan, Jordan Peele menggunakan stereotipe masyarakat terhadap kaum kulit putih (serakah dan kapitalis sejati) sebagai lelucon satir dan, lagi-lagi, memasaknya menjadi sebuah konklusi yang menyeramkan.

Intinya, kalau mau ketemu sama calon mertua, jangan lupa bawain martabak, atau bakso, atau apa kek gitu. Gaboleh bawa tangan kosong. Pamali.

Saya tidak akan bicara lebih banyak tentang film ini karena the less you know, the better it will be. Get Out is a funny satire disguised as a terrifyingly scary horror film. This film is going to get you scared, laugh, and contemplating at the same time. Go watch it!

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.