Category Archives: TV Series

13 Reasons Why (Miniseries 2017) – We Need to Talk About Hannah Baker

Kesehatan mental, bullying, serta pergaulan remaja sudah menjadi salah satu isu yang sudah umum dijadikan pembahasan menarik di berbagai media pop kultur. Banyak film dan TV show yang secara eksplisit membahas tentang gaya pergaulan remaja dan baik buruk dampaknya terhadap perkembangan emosional mereka, seperti Glee, The Virgin Suicides, Elephant, dan Bang Bang You’re Dead. Bicara remaja, tentu sasaran utama dari film dan TV show tersebut adalah remaja, dan kita tentunya sadar bahwa remaja merupakan objek yang sangat rentan untuk menerima sesuatu yang mereka anggap menarik menjadi inspirasi untuk mereka tiru. Berangkat dari fakta tersebut dan banyaknya kasus kriminal yang terinspirasi dari film dan TV show, setiap dari mereka sepatutnya berusaha untuk menggambarkan isu-isu tersebut secara detail dan penuh kehati-hatian agar apa yang mereka coba sampaikan tidak menjadi bumerang dan malah menginspirasi para remaja yang menontonnya untuk menjadi apa yang seharusnya mereka hindari (bully, school shooter, serial killer, or suicide victim).

Diangkat dari novel karya Jay Asher, 13 Reasons Why bercerita tentang aftermath dari sebuah kasus bunuh diri di Liberty High School. Hannah Baker (Katherine Langford), Sang Korban, secara rahasia merekam tujuh buah kaset yang berisi rekaman pengakuannya tentang tiga belas orang yang ia anggap bertanggung jawab terhadap kematiannya. Ia kemudian menduplikasinya menjadi tiga belas copy dan, dengan alasan yang misterius, mengirimkannya kepada tiga belas orang yang ia ceritakan di rekamannya tersebut setelah kematiannya. Di saat yang sama, Liberty High School juga mendapatkan tuntutan hukum dari orang tua Hannah Baker karena Sang Ibu curiga bahwa anaknya mendapatkan tekanan dan bullying dari murid-murid di sekolahnya dan pihak sekolah memilih untuk tidak menanggapi persoalan tersebut dengan serius. Kita akan dibawa menuju sebuah perjalanan emosional yang dialami oleh Hannah Baker secara kronologikal lewat perspektif Clay Jensen (Dylan Minnette), seorang bocah lelaki manis dan canggung yang pernah dekat dengan Hannah dan juga termasuk ke dalam tiga belas alasan tersebut.

Memiliki nuansa yang identik dengan video game Life is Strange, serial televisi yang sebagian besar episodenya disutradarai oleh Tom McCarthy (Spotlight) ini penuh dengan intrik drama kenakalan remaja yang tidak hanya membuat kita murka, namun juga berlinangan air mata. Meskipun masih agak terkungkung dalam stereotipe klasifikasi (nerds, jocks, cheerleaders, preppies, hipsters, emo kids, teacher’s pets), namun semua tokoh yang terlibat mempunyai kompleksitas karakter yang sangat manusiawi dan mewakili kondisi emosional yang dialami remaja pada umumnya. Beberapa tokoh seperti Justin Foley (Brandon Flynn), Alex Standall (Miles Heizer), Courtney Crimsen (Michele Selene Ang), Jessica (Alisha Boe), atau bahkan yang hanya muncul di tiga episode seperti Jeff Atkins (Brandon Larracuente) mampu mengaduk-aduk amarah dan empati yang kita rasakan terhadap mereka menjadi lebur dan tak terpisahkan. Kita peduli terhadap mereka, seakan mereka adalah teman kita di dunia nyata yang perlu kita dekati dan ajak bicara dengan penuh pengertian agar kita tidak kehilangan mereka. Yah, secara garis besarnya, 13 Reasons Why memang secara detail dan simpatik menggambarkan sebuah dampak buruk dari pengabaian, ketidakinginan untuk mengerti satu sama lain, dan keinginan untuk saling menang sendiri.

Namun dengan beberapa alasan, saya sedikit takut dengan apa yang 13 Reasons Why dapat timbulkan pada remaja yang menontonnya.

Mari kita resapi premis ini dengan hati-hati: seorang gadis yang depresi merekam tujuh kaset yang berisi curahan hatinya tentang siapa saja orang-orang yang “bertanggung jawab” pada keputusannya untuk bunuh diri. Setelah diduplikasi, ia mengirimkan “masing-masing copy dari ketujuh kaset tersebut” kepada “orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman” dengan alasan yang personal. Hal ini agak mengerikan buat saya karena bukan hanya terkesan terlalu kreatif dan out-of-the-box (pun intended), namun konsep ini seakan mengglorifikasi aksi bunuh diri sebagai salah satu cara yang efektif untuk “mengungkap kebenaran” dan “menegakkan keadilan“.

Hannah Baker adalah seorang gadis yang terlihat normal. Cantik, mampu bergaul dengan baik, serta memiliki keluarga yang pengertian terhadapnya. Kita tidak akan menemukan tanda-tanda kesedihan di mata Hannah, namun pada kenyataannya, ia sering merasa terabaikan dan teracuhkan karena orang-orang yang ia temui di sekolahnya tidak pernah memperlakukan ia dengan baik. Ini mengingatkan pada kita tentang dua fakta: bahwa tanda-tanda depresi itu memang sangat tidak kasat mata dan bahwa bullying serta pengabaian dapat berdampak langsung pada kesehatan mental dan emosional remaja. Hannah memang memiliki gejala depresi, meskipun hanya ditunjukkan sedikit di keseluruhan episode serial ini, namun kesalahan terbesar 13 Reasons Why adalah membuat sebuah premis kokoh yang berdasarkan logika irasional bahwa bullying adalah penyebab dari sebuah aksi bunuh diri, dan bahwa ada orang-orang yang patut dimintai pertanggungjawaban atas sebuah aksi bunuh diri. Bullying mungkin menjadi salah satu faktor seseorang menjadi depresi dan memutuskan untuk bunuh diri, tapi menyebut bullying sebagai penyebab bunuh diri adalah sebuah simplifikasi yang salah besar, meracuni persepsi, dan dapat mengarah kepada keputusan-keputusan yang membahayakan pihak-pihak tak bersalah.

Seperti belum cukup, serial ini mempertunjukkan secara langsung dan eksplisit aksi bunuh diri Hannah di episode terakhir, yang mana merupakan sebuah tindakan yang gegabah karena riset dari American Foundation for Suicide Prevention menunjukkan bahwa “risk of additional suicides increases when the story explicitly describes the suicide method, uses dramatic/graphic headlines or images and repeated/extensive coverage sensationalizes or glamorizes a death.” Tidak hanya itu, adegan tersebut dikemas dengan sangat menyakitkan sehingga saya khawatir akan memunculkan kembali luka dan trauma yang tidak diinginkan bagi para survivor yang menontonnya.

Penting bagi kita untuk membicarakan apa dampak yang akan ditimbulkan oleh tiga belas rekaman pesan terakhir Hannah Baker bukan hanya terhadap orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman tersebut, namun juga terhadap para remaja di dunia nyata yang menonton serial ini. Layaknya Hannah, mereka yang memiliki kecenderungan bunuh diri yang tinggi juga merasa terabaikan oleh orang-orang di sekitarnya. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti “If I die, would it matter” sering mengendap dan merasuki pikiran mereka. Pastinya, seluruh episode di serial ini memperlihatkan betapa kematian Hannah membawa pengaruh yang besar pada Liberty High. Betapa akhirnya, ketiga belas orang tersebut mendapatkan hal yang “setimpal” akibat rasa bersalah mereka terhadap Hannah. Remaja memiliki ego yang tinggi terhadap tiga hal: ingin diberikan perhatian lebih, ingin dianggap istimewa, dan ingin memberikan pembuktian yang mendukung dirinya sendiri. Ditambah dengan sikap Clay Jensen sebagai sudut pandang utama, serial ini seakan mengangkat sebuah gagasan yang keliru yang dapat “menginspirasi” para remaja labil: bahwa bunuh diri adalah satu-satunya cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian penuh, membuat orang-orang di sekitarmu merasa bersalah terhadapmu, dan membuktikan “kebenaran yang hakiki” pada mereka bahwa selama ini mereka salah dalam memperlakukanmu.

Selain penokohan dan penulisan naskah yang apik, gaya penuturan cerita non-linear yang dieksekusi dengan sangat mulus lewat match-cuts, extremely detailed continuity, serta color tone editing adalah sesuatu yang harus dipuji dari serial yang digarap oleh Brian Yorkey ini. Sayang sekali, 13 Reasons Why memang memiliki kekeliruan fatal pada konsep yang seharusnya lebih diolah melalui filter moral yang penuh pertimbangan. Saya tidak menyarankan 13 Reasons Why ditonton oleh mereka yang emotionally unstable atau pun mereka yang sensitif terhadap isu bunuh diri. Namun bagi kita yang orangnya agak cuek, serial yang bisa kita saksikan di Netflix ini akan memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya melucuti ego kita demi memberikan perhatian lebih kepada orang-orang yang kita sayangi.

Well, as Tony said, just listen to the tapes.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Black Mirror (TV Series) – A Traumatizing Picture of Technological Catastrophe

Ini ulasan pertama saya tentang serial televisi. Jujur, sedari dulu saya agak malas mengulas serial televisi karena ada terlalu banyak hal yang harus saya ulas dan yah, saya memang pemalas. Namun demi mensyiarkan titah-titah Black Mirror pada umat manusia untuk mencegah kehancuran zaman, saya akan mencoba untuk pertama kalinya.

Banyak serial televisi yang saya tonton, dan semuanya bagus-bagus. Kalau anda bertanya rekomendasi, saya bisa sebutkan banyak judul berdasarkan serial seperti apa yang anda cari. Namun untuk semua orang yang bertanya, saya pasti akan merekomendasikan untuk menyempatkan diri menonton Black Mirror.

1419367849BlackMirror1x02_0607

Black Mirror adalah serial antologi yang menghadirkan kisah-kisah tragis yang dibalut dengan satir jenius dan luar biasa berani tentang hubungan interdependensi antara manusia dengan teknologi. Karena ini serial antologi, maka setiap episode di tiap musim punya cerita yang berbeda-beda dan tidak saling sambung menyambung. Anda bisa bebas mau menonton episode yang mana dulu di season yang mana dulu. Bebas. Maka dari itu Black Mirror cocok bagi anda yang ogah menonton serial televisi karena malas untuk berkomitmen pada satu cerita yang panjang mengular naga.

Bicara soal teknis dan naratif, serial televisi yang ditulis dan diproduksi oleh Charlie Brooker ini punya kualitas yang prima dan didukung pula dengan performa dari para aktor dan aktris yang familiar di layar kaca (Rory McKinnear, Domhnall Gleeson, Toby Kebbell). Namun ada tiga faktor yang membuat saya ketakutan dan berpikir bahwa Black Mirror telah mendobrak batas terjauh dari sebuah serial televisi:

1. Berbicara dengan Kekuatan Satir yang Keras, Lantang, dan Mengerikan.

Setiap episode dari Black Mirror sejatinya adalah sebuah kritik sosial politik yang disajikan lewat medium horor psikologis. Alih-alih menceramahi dan mendikte penontonnya lewat polarisasi baik-buruk seperti yang sering dilakukan serial televisi murahan Indonesia, Charlie Brooker menjadikan teknologi dan sisi gelap kemanusiaan sebagai monster yang meneror setiap tokoh utamanya sampai jiwa mereka hancur berserakan di lumpur yang kotor dan hina. Biarpun semua kisah di tiap episode adalah allegorical fiction, Charlie tidak pernah ragu untuk meramu pandangan sinisnya tentang kemanusiaan ke dalam skenario what-if yang menegasikan khayalan babu kita tentang pengaruh teknologi futuristik pada kehidupan manusia.

“Gimana ya, kalo kita bisa ngerekam semua memori kehidupan kita menjadi data yang dapat ditonton dan di-transfer?”
“Gimana ya kalo kita bisa bicara sama orang kesayangan kita yang sudah meninggal?”

Percayalah, kawan. Kalian tidak benar-benar menginginkan semua itu.

2. Memberi Pengalaman Menonton yang Traumatis.

Tidak ada kebahagiaan secercah pun, sebutir pun di dalam kisah-kisah Black Mirror. Buat kalian yang suka sama list “7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar” ataupun kalian yang menganggap Red Wedding di Game of Thrones itu cukup traumatis buat kalian, mulailah menonton Black Mirror. Serius. Banyak kritikus film yang menyandingkan tragic and mind-wrenching storytelling di Black Mirror dengan The Twilight Zone karena plot-twist jenius yang ada di akhir setiap episodenya. Namun saya berpendapat lain. Plot twist yang ada di setiap episode Black Mirror tidak hanya akan mengejutkanmu, tapi akan meninggalkan bekas luka yang menganga di jiwamu.

3. Mampu Membaca Masa Depan.

Sungguh, ini nyata. Saya juga kaget. Episode Pilot (The National Anthem) tayang perdana di Channel 4 UK pada Desember 2011 dan Episode Black Mirror terakhir (White Christmas) tayang Desember 2014, namun banyak sekali isu-isu sosial maupun politik yang kemudian terjadi dan sangat mirip dengan apa yang telah dikisahkan oleh beberapa episode di Black Mirror. Saya ingin mengungkapkan banyak sekali kecocokan tersebut, namun saya tidak ingin menceritakan secara detail plot dari tiap episode karena the less you know, the better you will experience themJadi saya hanya akan menuturkan bahwa:

1. David Cameron’s “Piggate Scandal” yang terjadi pada September 2015 mempunyai kemiripan dengan Ep. 1 Season 1: The National Anthem.

2. Pencalonan dan Kampanye Calon Presiden Amerika Serikat 2016 Donald Trump mempunyai kemiripan dengan Ep. 3 Season 2: The Waldo Moment.

3. Popularitas Pokemon Go di pertengahan 2016 mempunyai kemiripan konseptual dengan Ep. 2 Season 2: White Bear.

Seperti judulnya, Black Mirror memberikan cermin hitam buat kita berkaca tentang seberapa gilakah kita sebagai manusia untuk membiarkan teknologi mempersenjatai kegilaan kita. Seperti layaknya 1984 yang ditulis oleh George Orwell, masa depan, yang kini jadi masa lalu, telah mengkonfirmasi beberapa tesis distopia yang telah disuguhkan Black Mirror di beberapa episodenya. Selebihnya terserah kita, apakah ingin bahu membahu introspeksi diri demi memperbaiki masa depan, ataukah membiarkan diri kita berada dalam kenyamanan futuristik yang semu dan membiarkan semua episode—termasuk Season 3 yang akan datang di Netflix pada 2017—mengacak-acak kehidupan kita sampai mampus tak tersisa.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.