Great World of Sound (2007) – Sharking Dreams

Ada sebuah jargon yang sudah melekat erat dalam hidup para pekerja, terutama fresh graduate tanpa pengalaman kerja yang sering menghabiskan waktu dan uang (orang tua)-nya demi mondar-mandir ke seminar motivasi entrepreneurship.

Setiap orang pasti mempunyai mimpi, dan jika kita memiliki komitmen untuk berjuang dan bekerja keras, pasti kita akan mampu meraih mimpi kita.”

Jargon-jargon serupa sering keluar dari mulut mereka yang optimis, tanpa sadar bahwa sebenarnya banyak dari mereka yang sedang dicurangi oleh kaum-kaum oportunis lewat berbagai cara atas nama ‘passion‘ dan ‘komitmen’. Baik lewat pengurangan hak-hak kerja, multi-level-marketing, atau segala macam modus lainnya. Dalam film yang diproduksi oleh Magnolia Pictures pada tahun 2007 ini, perusahaan low-budget music label bernama Great World of Sound merupakan salah satu pihak oportunis tersebut.

Beberapa penulis lagu dan produser profesional mempunyai terminologi khusus untuk mendeskripsikan modus kejahatan yang dilakukan Great World of Sound (dan tentunya music label serupa di dunia nyata), yaitu song sharking: membuat para korban percaya bahwa mereka mempunyai potensi musik yang istimewa, lalu mengiming-imingi mereka kesuksesan meraih mimpi, dan kemudian meminta sejumlah uang yang tidak sedikit sebagai bentuk dari komitmen mereka terhadap mimpi yang ingin mereka raih. Sebenarnya praktik semacam ini tidak bisa dikatakan salah. Sebagian besar uang yang dibayarkan oleh para korban memang akan digunakan untuk studio recording dan publishing dari para korban itu sendiri. Great World of Sound tidak membohongi para korban tentang cara kerja mereka.

Namun lebih parah dari itu, mereka membohongi para korban dengan berkata manis melebih-lebihkan ‘bakat’ mereka untuk membiayai produksi musik mereka sendiri yang sebenarnya tidak berharga.

Kendati demikian, alih-alih menjadikan film ini sebagai caper comedy film, Craig Zobel memilih untuk melakukan pendekatan bromance comedy drama dengan menuturkan cerita ini lewat sudut pandang dua orang sales producer dengan karakter dan motivasi yang berbeda. Martin (diperankan oleh Pat Healy), seorang lelaki introvert dengan kepribadian melankolis, harus bekerja berpasangan dengan seorang pria periang dan bersemangat yang bernama Clarence (diperankan oleh Kene Holliday) untuk mendapatkan ‘klien’ sebanyak mungkin dengan berkunjung dari satu kota ke kota lain dan mengadakan audisi kecil-kecilan di kamar hotel mereka masing-masing. Walaupun karakter mereka sangat berbeda kutubnya, namun itu tidak pernah menghalangi mereka untuk saling mendukung satu sama lain dalam menjalin ikatan persahabatan dan memburu ‘talenta-talenta’ yang siap untuk ‘berkomitmen’ membangun ‘mimpi’ mereka.

Setidaknya sampai mereka berdua merasa bersalah atas apa yang mereka lakukan.

Treatment film yang sangat low-budget oriented dengan penampilan apik dari musisi-musisi dengan bakat mentah ini membuat Great World of Sound memiliki rasa yang sama dengan Once. Kita akan dibawa seakan memasuki sebuah realita, menuju ruang audisi yang menampilkan manusia-manusia dengan bakat, emosi, dan mimpi yang jauh lebih murni daripada yang ditampilkan oleh pertunjukan mencari bakat di televisi seperti X-Factor atau The Voice. Tidak hanya itu, beberapa dari mereka (termasuk gadis kecil penyanyi ‘New National Anthem‘ yang menjadi plot device penting dalam film ini) memiliki ciri khas yang sangat kental dan unik sehingga meninggalkan kesan yang mendalam setelah kita selesai menonton film. Inilah yang membuat perjalanan emosional di film ini menjadi efektif: kita akan dibuat simpati oleh Martin dan Clarence di awal film, lalu bersimpati dengan para peserta ‘audisi’ di pertengahan film, dan kemudian menjadi linglung saat ternyata mereka—Martin, Clarence, dan para peserta audisi—adalah mangsa dari kaum-kaum oportunis yang memasang ‘mimpi’ sebagai umpan.

Di dalam dunia yang semakin hari semakin penuh dan sesak ini, peradaban yang didominasi oleh kapitalisme seakan semakin menjelma menjadi serupa kanibalisme. Jadi pemburu atau jadi binatang yang terperangkap, itu pilihannya. Secara garis besar, ini merupakan topik yang diusung oleh Great World of Sound. Craig Zobel memahami hal itu dengan baik, namun ia menyampaikan lewat film yang sangat segar ini bahwa ada kalanya pemburu pun suatu saat akan terjebak dan mati di dalam perangkap binatang yang mereka ciptakan sendiri.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) – Penebus Rindu

Hal yang paling dibenci setiap manusia adalah menunggu tanpa kepastian yang jelas. Kita semua mengerti dan pernah merasakan hal itu, maka saat Miles Film mengumumkan bahwa sekuel dari Ada Apa dengan Cinta resmi ditayangkan setelah empat belas tahun lamanya, hampir semua penikmat film Indonesia yang pernah hidup menyaksikan film romansa paling ikonik di Indonesia tersebut langsung antusias menyambutnya. Mereka tidak hanya ingin tahu bagaimana kabar Rangga dan Cinta serta Geng Mading SMA yang digawangi Cinta, Milly, Karmen, Maura, Alya, dan Mamet. Sebagai penikmat film Indonesia yang sudah terlalu lama terlena dengan film-film ‘asing’ yang selalu menjajah bioskop mereka, sebagian besar dari mereka juga berharap akan adanya plot twist yang unik dan menggemparkan di antara hubungan kedua pecinta sastra tersebut.

Sebagian dari mereka mungkin terlalu berharap banyak. AADC 2 yang kini disutradarai langsung oleh Riri Riza memang menghidupkan kembali nostalgia romansa terbaik yang pernah Indonesia miliki dengan lembut dan manis tanpa ada satu hal pun yang harus dilebih-lebihkan. Semua tokoh lama AADC tampil prima dengan charm dan karakteristik mereka masing-masing, kecuali tokoh-tokoh baru yang sayangnya hanya dijadikan tempelan agar cerita yang tidak bergerak kemana-mana ini terkesan progresif dan dinamis.

“Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku untuk memilikimu sekali lagi.”

Sama halnya seperti Cinta di film ini, cerita di AADC 2 tidak move-on ke arah yang seharusnya. Bisa dikatakan bahwa AADC 2 hanyalah sebuah medium storytelling yang menceritakan tentang apa yang terjadi dalam kurun waktu 14 tahun setelah akhir film AADC dan sebelum awal film AADC 2. Fungsi dari film ini hanyalah sebagai penebus rindu bagi para penggemarnya, atau seperti yang PicturePlay katakan, “brand continuation effort“. Sebagaimana penebus rindu berfungsi, film ini terlalu banyak berbicara tentang masa lalu. Adapun pembahasan masa depan yang hanya terdapat di paruh akhir act 3 film dapat diibaratkan layaknya MSG yang menjadi solusi tepat dan ‘murah’ kalau sang koki tidak yakin masakannya cukup enak untuk disukai banyak orang.

Namun, jangan salah paham. Mengatakan film ini buruk dan tidak layak untuk ditonton adalah sebuah hiperbola yang kejam dan tidak beralasan. Justru, plot film yang ‘terlihat-seperti-maju-namun-nyatanya-mundur‘ ini akan mampu mengiris-iris hati mereka yang masih belum bisa move-on dari hubungan mereka sebelumnya, baik yang pernah terjadi maupun yang hanya angan-angan saja. Aspek sinematografi, naskah, soundtrack, dan akting para tokoh pun sebenarnya sudah jauh dari kata buruk. Awalnya pada act 1, sangat jelas terlihat dari ritme editing dan dialog antar tokoh bahwa AADC 2 linglung dan pincang seperti orang yang baru saja berolahraga kembali setelah lebih dari empat belas tahun bermalas-malasan. Namun menjelang pertemuan Cinta dan Rangga kembali, film ini mulai mendapatkan nyawa yang seharusnya sudah hidup sejak awal cerita. Belum lagi ditambah rangkaian puisi indah yang ditulis oleh Aan Mansyur yang mampu menjadikan film ini memiliki subteks yang berlapis-lapis. Banyak yang berpendapat bahwa beberapa adegan saat pertemuan kembali Rangga dan Cinta terkesan klise dan kesinetron-sinetronan, namun penulis sendiri malah berpendapat bahwa cara Riri Riza menyajikan adegan ‘kesinetron-sinetronan’ tersebut dengan gaya satir dan komikal menunjukkan bahwa ia punya tujuan mulia untuk menghidupkan sedikit humor sarkastik di tengah pekatnya kegalauan yang meracau di film ini.

Besarnya antusiasme masyarakat pada AADC 2 yang membuat film ini mampu meraih 700 ribu penonton di hari ketiga penayangannya telah memberikan harapan bagi kebangkitan industri perfilman Indonesia akan kepercayaan penonton terhadap film-film yang mereka produksi. Tentu, penulis juga berharap hal ini akan berdampak positif pada perkembangan kualitas film romansa Indonesia, karena seharusnya dari kasus AADC 2 ini, para produser film Indonesia pun bisa belajar bahwa penonton film Indonesia tidak harus selalu disodori superfisialitas agar bisa menyukai film romansa. Sebagai sekuel penebus rindu, AADC 2 telah mempersembahkan sebuah nostalgia cinta yang manis, tulus, dan penuh warna tanpa pretensi dan pernyataan cinta yang berlebih-lebihan.

Namun layaknya sebuah penebusan rindu, film ini tidak akan membawamu kemana-mana kecuali ke masa lalu.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

5 Film Mencekam yang Terinspirasi dari Cerita Dongeng

If you expect the world to be fair with you because you are fair, you’re fooling yourself. That’s like expecting a lion not to eat you because you didn’t eat him.”

Hidup memang tidak selamanya selalu adil. Orang baik tidak selalu terlihat sebagai malaikat, dan orang jahat tidak selalu terlihat sebagai devil dengan tanduk diatas kepala dan tongkat yang tajam. Tetapi, bagaimana jika protagonis-protagonis kita kali ini berjuang mati-matian untuk mendapatkan apa yang memang sepantasnya mereka semua dapatkan?

Berikut adalah lima film mencekam versi penulis yang terinspirasi dari berbagai cerita dongeng penuh moral yang biasa kita baca sewaktu kecil.

  1. Black Swan (2010), Directed by Darren Aronofsky

image

Film psychological thriller/horror yang merupakan versi dark dan twisted dari dongeng Swan Lake milik Tchaikovsky ini bercerita tentang seorang ballerina muda bernama Nina (Natalie Portman) yang berjuang untuk mendapatkan peran White Swan yang anggun dan rapuh pada sebuah produksi ballet ternama di Kota New York, tetapi juga diharuskan untuk memerankan tokoh Black Swan yang sensual dan penuh intrik, yang sebenarnya juga diinginkan oleh seorang ballerina lainnya, Lily (Mila Kunis).

Secara otomatis, Nina yang sejak awal diceritakan memiliki kepribadian introvert dan sangat sensitif, mengalami kesulitan yang amat dalam mengatur emosi dan immense pressure yang dihadapinya, terutama saat ia menemukan dirinya berkompetisi dengan orang lain, dan bukan hanya dengan sang ballerina, Lily—melainkan dengan dirinya sendiri.

2. Hanna (2011), Directed by Joe Wright

image

Young, sweet, deathly. Ketiga kata yang sempurna untuk menggambarkan film action/adventure/thriller ini. Dengan skenario yang terinspirasi dari beberapa cerita dongeng berbeda milik Grimm, film ini menceritakan seorang remaja perempuan bernama Hanna (Saoirse Ronan), yang hidup di tengah pedalaman hutan Finlandia bersama ayahnya, Erik Heller atau “Papa” (Eric Bana), yang secara diam-diam merupakan seorang mantan agen CIA.

Sejak kecil, Hanna sudah dipersiapkan oleh Erik untuk menjadi assassin, yang pada akhirnya ditugaskan untuk berperang dengan seorang agen senior CIA bernama Marissa Wiegler (Cate Blanchett), yang sejak dulu berusaha untuk menemukan dan membunuh Hanna dan ayahnya. Things will be questioned, murders will be done, and mysteries will be solved.

3. Hansel & Gretel (2007), Directed by Lim Pil-Sung

image

Diselaraskan dengan judulnya, film horror asal Korea Selatan ini terinspirasi dari cerita dongeng anak-anak Hansel & Gretel asal Jerman. Menceritakan tentang Eun-soo (Chun Jung-Myung), seorang salesman yang tengah menyetir di Highway 69 sambil berargumen lewat telfon dengan pacarnya, Hae-Young, lalu secara tidak sengaja kehilangan kendali mobilnya dan menabrak batu. Setelah tidak sadarkan diri, Eun-soo menemukan dirinya terbangun ditengah hutan yang gelap dan hampir tidak berpenghuni, hingga pada akhirnya ia diselamatkan oleh seorang anak kecil misterius bernama Young-hee (Shim Eun-kyung).

Setelah menerima tawaran Young-hee untuk berteduh dan membersihkan diri di rumahnya, Eun-soo pun tersadar bahwa Young-hee bukanlah sekedar anak kecil lugu yang tinggal di hutan, terutama setelah Young-hee memperkenalkan Eun-soo kepada kedua saudaranya yang lain, Man-bok (Eun Won-jae) dan Jung-soon (Jin Ji-hee). Bersama orang tuanya, ketiga bersaudara ini tinggal di sebuah rumah besar nan misterius yang dinamakan House of Happy Children.

4. Freeway (1996), directed by Matthew Bright

image

Dibuat sebagai versi modern dari cerita dongeng klasik, Little Red Riding Hood, film crime/action bertabur bintang ini menceritakan tentang seorang remaja sarkastik berusia 15 tahun, Vanessa Lutz (Reese Witherspoon), yang setelah  bebas dari jeratan kekerasan seksual ayahnya, pergi untuk tinggal di rumah neneknya—seseorang yang belum pernah ia temui seumur hidupnya. Permasalahan mulai bermunculan saat mobil Vanessa rusak di tengah jalan, memaksanya untuk menerima bantuan dari seorang pengemudi lain yang terkesan ramah dan mudah dipercaya bernama Bob Wolverton (Kiefer Sutherland), yang tanpa ia ketahui merupakan seorang pembunuh berantai yang sedang ramai dicari polisi.

5. Suspiria (1977), Directed by Dario Argento

image

Berparalel dengan cerita dongeng Snow White, film fantasy/mystery asal Italia ini dianggap sebagai film dengan audio dan setting terbaik di akhir tahun 70-an. Bahkan, remake film Suspiria akan diris tahun depan, dengan Dakota Johnson dari Fifty Shades of Grey sebagai pemeran utamanya.

Bercerita tentang seorang ballerina asal Amerika bernama Suzy (Jessica Hadper) yang melanjutkan studinya pada salah satu sekolah ballet terbaik di Jerman, Suzy pun mendapati teman-temannya menghilang secara misterius dan dibunuh dengan berbagai cara yang grotesque dan tidak manusiawi. Ia tersadar bahwa tempat yang awalnya di anggap sebagai surga menarinya, ternyata memiliki sejarah yang mendebarkan dibalik semua fasilitas dan kemewahan yang ditawarkannya.

Film Suspiria merupakan installment pertama dari trilogi Three Mothers, yang kemudian diikuti dengan Inferno dan The Mother of Tears. Dalam ketiga film ini, pentonton akan dihadapkan dengan berbagai elemen supernatural (terutama evil witchcrafts), yang pada akhirnya akan membentuk sebuah kesimpulan psikologis yang mencengangkan.

image

Setelah menonton kelima film diatas, dapat disimpulkan bahwa fairy tales tidak melulu berisi putri-putri anggun dan cantik dengan berbagai gaun mewah yang purpose utama dalam hidupnya hanya bertemu pangeran-pangeran tampan and live happily ever after! Terkadang, there is (almost) no fine line between our protagonists and antagonists in real life, and that’s completely realistic and acceptable.

The Jungle Book (2016) – The Future of Storytelling

Sepanjang sejarah peradaban, manusia tidak pernah berhenti membuat cerita dan menceritakannya kepada satu sama lain. Sejarah mencatat bahwa cerita tertua yang pernah dibuat oleh manusia berasal dari Mesopotamia kuno, dibuat pada tahun 2700 SM di atas sebuah tablet iPad batu dengan judul The Epic of Gilgamesh yang mengisahkan tentang petualangan seorang manusia setengah dewa yang membangun kota Uruk dan kemudian berkelana untuk mencari tetua Utnapishtim. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, manusia juga selalu mencari cara untuk memodernisasi gaya bercerita mereka agar relevan dengan tren dan konteks sosiopolitik masyarakat di zaman mereka saat itu. Bukan hanya kecanggihan teknologi pada medium yang dieksplorasi, namun juga dari teknik dan struktur bercerita. Sebut saja Troy (2004) yang mengadaptasi Iliad dan Noah (2014) yang merujuk pada banyak versi kitab suci mengenai The Great Flood.

The Jungle Book pun merupakan salah satu kisah lama yang sudah beberapa kali diadaptasi dengan medium serta teknik dan struktur bercerita yang berbeda-beda. Rudyard Kipling, seorang jurnalis dan novelis asal Inggris, pertama kali menulis dan mempublikasikan cerita tersebut pada tahun 1894 sebagai hadiah untuk putrinya, yang dua tahun kemudian meninggal dunia di usianya yang keenam.

Sama halnya seperti Iliad dan The Great Flood, The Jungle Book menjadi cerita yang legendaris dan banyak menjadi bahan adaptasi oleh beberapa pihak (khususnya Hollywood) ke dalam medium bercerita yang berbeda-beda. Pertama kali cerita ini diangkat ke layar lebar oleh Korda bersaudara pada tahun 1942, lalu oleh Walt Disney dibuat versi animasi 2D pada tahun 1967 yang kemudian di-remake ulang menjadi live-action film pada tahun 1994.

Berdasarkan rentang zaman yang ditempuh setiap versi adaptasi (1942-1967-1994), adalah keputusan yang tepat untuk menciptakan kembali nostalgia antar-generasi dan meremake ulang The Jungle Book di tahun ini, tentunya dengan pendekatan yang relevan dengan kemajuan teknologi dan sinematografi di zaman ini.

Saat pertama kali melihat trailernya, penulis menganggap film ini tidak jauh berbeda dengan film kombinasi live action dengan CGI-Animation yang sudah kebanyakan dibuat oleh Hollywood sebelumnya (Avatar, Star Wars Ep. I-III, Scooby Doo, Alvin and The Chipmunks). Agaknya tidak perlu diingatkan lagi bahwa kecanggihan teknologi yang digunakan pada sebuah film tidak selalu menentukan bagus atau tidaknya film tersebut.

Namun saat menonton The Jungle Book langsung di teater IMAX 3D, penulis takjub setengah mati.

Bisa dibilang, film yang disutradarai oleh Jon Favreau ini sangat kuat dan all-out mengeksplorasi ketangkasan bercerita. The Jungle Book tidak semata-mata memanfaatkan CGI sebagai senjata utamanya, namun juga dalam segala aspek lain, baik dari framing composition sampai ke ranah scoring dan sound mixing. Biarpun fokus film ini hanyalah ‘menceritakan kembali’, namun kekuatan skrip yang diiringi dengan akting hebat seorang Neel Sethi sebagai Mowgli dan juga penampilan voice-over yang memukau dari para bintang ternama Hollywood seperti Idris Elba, Bill Murray, Christopher Walken, dan Scarlett Johansson berhasil membuat film ini menjadi sebuah remake langka yang melampaui kualitas para pendahulunya.

Yang menarik dari The Jungle Book versi Jon Favreau kali ini adalah keberanian Disney untuk membuka kegelapan yang dahulu disembunyi-sembunyikan dari cerita aslinya dan menggunakannya sebagai bumbu yang mampu menggetarkan jiwa para penontonnya untuk menangkap konteks environmental dan humanisme yang digaungkan film ini dengan efektif. Kita akan dibawa terlalu larut ke dalam rimba sehingga kita merasa ngeri saat adegan di mana Mowgli berhasil menuju desa dan melihat manusia-manusia yang mengelilingi ‘bunga merah’ besar yang menyala di tengah alun-alun. Terlebih lagi, bentuk para tokoh-tokoh hewan yang didesain begitu realistis dan buas ternyata tidak membatasi Jon Favreau untuk membangun karakter-karakter mereka menjadi tetap kuat dan komikal secara bersamaan. Lihat saja bagaimana Akeela, Shere Khan, Baloo, dan King Louie menghidupkan keberadaan mereka lewat dialog dan gaya berbicara yang sangat kental oleh ciri khas dan karakter masing-masing. Realisasi desain rimba dan semua tokoh hewan yang ada di film ini pun secara tidak langsung membuat para penonton mampu merasakan secara real-time experience betapa hutan rimba dan segala makhluk-makhluk buas yang ada di dalamnya pantas untuk dicintai dan dilindungi sepenuh hati.

Dan bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang jauh lebih ganas daripada hewan.

Singkat kata, film ini adalah contoh nyata dari pemanfaatan CGI yang tepat guna serta efektif dalam penceritaan lewat medium film. Seperti yang penulis katakan pada ulasan Eye in The Sky lalu, kemajuan teknologi—layaknya perang dan bencana alam—adalah hal yang tidak dapat dihindari, begitu juga tren serta habit para penonton film. Tidak ada yang salah dari CGI, asal penggunaan teknologi ini ditujukan untuk mendobrak batas-batas ide bercerita manusia serta mendukung penyampaian konteks dengan jauh lebih efektif kepada para penontonnya. Bukan hanya sekedar gimmick mimesis, tapi sebagai pendukung diegesis. Saatnya kita berhenti untuk berpura-pura menjadi hipster wannabe dan mulai mengakui bahwa penggunaan CGI sebagai pendukung dalam post-produksi sebuah film akan menjadi hal yang lebih lazim dilakukan di masa depan bukan hanya oleh para produsen film Hollywood, namun juga para indie filmmaker.

Amin.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Eye in The Sky (2016) – Rethinking War

Apa yang muncul di dalam pikiran kalian saat pertama kali mendengar ‘film perang‘? Jika kalian penonton film kasual, tentu jawaban kalian adalah ‘ledakan’ dan ‘baku tembak‘. Namun jika kalian penggemar berat film perang sejak zaman All Quiet on The Western Front, pasti kalian menjawab ‘anti-war’ atau ‘propaganda’. Dalam buku Alternative Scriptwriting: Beyond the Hollywood Formula yang secara mendetail dan sistematik membahas tentang formula bercerita film-film Hollywood, Ken Dancyger dan Jeff Rush, dua orang peneliti dan teoris film, menuliskan rangkuman dari keseluruhan analisis mereka tentang film perang secara umum,

“The war film genre is a national melodrama; these films are about transgression and power. How does the individual survive intact, physically and mentally? How are we, the audience, to feel about a particular war, or about war in general?”

Ada dua macam moral purpose yang biasa diselipkan ke dalam konteks pembantaian di dalam film-film perang pada umumnya. Kedua moral purpose itu dapat kita bedakan dari bagaimana cara film-film tersebut menggambarkan medan peperangan.

1. Propaganda & Patriotism: Film-film perang yang mengandung moral purpose ini biasanya selalu berfokus pada bipolarisme ‘kawan dan lawan’ serta nilai-nilai patriotisme yang dibela oleh sang karakter utama mati-matian. Medan peperangan biasanya diperlihatkan sangat seru dan memacu adrenalin di film ini, sehingga para penonton pun akan melihat tokoh utama di pihak ‘kawan’ sebagai seorang patriot sejati dan orang-orang di pihak ‘lawan’ sebagai musuh yang nyata bagi umat manusia. Ex: Rambo, American Sniper, Why We Fight series.

2. Anti-War: Meskipun terdengar seperti oxymoron, namun film perang anti-war adalah jenis film yang cukup populer meskipun tidak diproduksi dengan frekuensi yang masif karena memang tujuan utamanya bukan untuk meraup keuntungan besar. Film-film ini mengkritik kekejaman dan ketidakbergunaan perang dengan cara menggambarkan para karakter (tidak ada bipolarisme ‘kawan’ dan ‘lawan’ di sini) sebagai manusia-manusia kurang beruntung yang terjebak di dalam medan perang yang brutal, sadis, mencekam, dan tidak beradab. Ex: Full Metal Jacket, Apocalypse Now, Saving Private Ryan.

Secara mengejutkan, Eye in The Sky sukses untuk keluar dari kedua ‘zona nyaman’ tersebut dengan membuka sebuah perdebatan sengit tentang hasil serta konsekuensi moral dan politik dari sebuah aksi peperangan terhadap terorisme. Alih-alih menggambarkan pembantaian sebagai sesuatu yang ‘patriotis’ ataupun ‘tidak manusiawi’, film yang disutradarai oleh Gavin Hood ini memperlihatkan sebuah pembantaian sebagai sesuatu yang ‘necessary‘ dan ‘inevitable‘.

Saat sedang melakukan misi pengintaian lewat drone di sebuah rumah yang ternyata merupakan markas teroris di Kenya, Col. Katherine Powell (diperankan oleh Helen Mirren) dan Lt. Gen. Frank Benson (diperankan oleh mendiang Alan Rickman) harus berhadapan dengan sebuah situasi genting di mana mereka harus merudal para teroris yang sedang mempersiapkan operasi bom bunuh diri di dalam rumah tersebut. Kondisi menjadi semakin menegangkan saat tiba-tiba seorang gadis kecil datang dan kemudian berjualan roti tepat di luar pagar rumah tersebut. Bermacam argumen muncul dari berbagai pihak yang terlibat dalam operasi tersebut yang akan memancing dan memprovokasi pemikiran penonton tentang apakah hasil dari aksi penumpasan terorisme ini akan sebanding dengan luka dan nyawa yang harus dibayar gadis kecil itu dan orang tua mereka kelak.

Film ini mengandalkan suspensi yang ditimbulkan oleh konflik argumen dari tiga perspektif yang berbeda: militer, politik, dan sipil. Secara mengerikan, kamu tidak akan menemukan argumen yang terdengar salah. Ada kalanya kamu setuju atas dasar manusiawi bahwa teroris-teroris itu seharusnya ditangkap serta diadili dan anak kecil yang ada di luar pagar tersebut tidak seharusnya mati. Namun ada kalanya kamu juga setuju bahwa demi menyelamatkan nyawa ratusan orang, gadis kecil tersebut mau tidak mau harus menjadi martir. Terdengar apatis dan bahkan cenderung hipokrit, memang, tapi seperti itulah pertimbangan keputusan yang terjadi di saat-saat peperangan. Lewat kutipan dari seorang tragedian asal Yunani Kuno, Aeschylus, film ini telah memberikan ‘forewarning’ di awal film agar kita bersiap-siap untuk menghadapi hal tersebut.

“In war, truth is the first casualty.”

Seorang diktator Uni Soviet bernama Joseph Stalin pernah berkata, “The death of one man is a tragedy, the death of one million is a statistic.”  Eye in The Sky bukanlah sebuah film perang konvensional yang naif berteriak-teriak ‘we should fight to defend peace’ atau ‘we should avoid war at any cost‘. Film ini membuka mata para penontonnya untuk melihat ruang sempit di antara kedua pesan moral yang saling beririsan tersebut, bahwa perang–layaknya kemajuan teknologi dan bencana alam–adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari, dan keputusan yang paling bijak untuk diambil dalam sebuah situasi peperangan adalah untuk menghindari terjadinya statistik, bukan tragedi.

Oh, dan penulis patut memuji penampilan Hellen Mirren, Barkhad Abdi, Aaron Paul, serta si kecil Aisha Takow yang sangat memukau di film ini. Terkhusus untuk Alan Rickman, penulis berharap bahwa penampilan terakhirnya di film ini dapat membawa reputasinya jauh lebih luas dari semesta Harry Potter dan membuatnya dikenal oleh para milenial sebagai salah satu aktor Inggris paling berpengaruh di abad 21, bukan hanya sebagai Professor Snape.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

10 Cloverfield Lane (2016) – The Lesser, The Better

Kamu pernah pacaran dengan orang yang selalu mengekangmu dan membuatmu tidak nyaman? Pernah berpikir bahwa kamu malah bisa lebih meningkatkan kualitas dirimu apabila kamu jomblo? Tenang, jangan baper dulu. 10 Cloverfield Lane mempunyai masalah yang kurang lebih sama denganmu.

Jika kamu seseorang yang enak dilihat, berpenampilan sahaja, berkelakuan baik, serta cerdas dalam akal dan akhlak, begitu pun analogi dari film yang disutradarai oleh Dan Trachtenberg ini. Sejak sekuens pembuka sampai di paruh pertama act 3, film ini berhasil menciptakan ketegangan-ketegangan sederhana lewat sentralisasi karakter Howard yang utuh namun misterius secara bersamaan. Malah bisa dibilang, inti dari kekuatan cerita ini ada pada karakter yang diperankan oleh John Goodman tersebut. Plot device lain, seperti bunker sempit yang mengurung ketiga karakter tersebut (Michelle, Howard, Emmett), berbagai properti aneh yang bernaung di dalamnya, lubang udara yang sempit, serta dunia luar yang misterius berhasil dimainkan dengan logika-logika cerdas untuk membangun claustrophobic horror yang efektif membuat para penonton sulit bernafas serta menduga-duga siapa sebenarnya Howard dan apa rencana besar yang ia miliki. Penulis tidak akan menceritakan rangkuman sinopsisnya karena semakin sedikit yang kamu tahu tentang 10 Cloverfield Lane, akan semakin seru pula film ini untuk kamu tonton pertama kali, dan bahkan akan tambah menegangkan apabila kamu belum menonton Cloverfield sama sekali.

“Crazy is building your ark after the flood has already come.” – Howard.

Sebenarnya, di situlah permasalahan terbesar 10 Cloverfield Lane. Meskipun kita sebelumnya tidak diberi tahu apakah film ini merupakan sekuel, prekuel, atau sekedar spin-off dari Cloverfield, setidaknya lewat keterlibatan Matt Reeves, Drew Goddard, dan J. J. Abrams kembali di film ini kita sudah tahu bahwa film ini memiliki keterkaitan dengan film found-footage sci-fi horror tersebut. Bahkan dari judul film dan promosi pun sebenarnya sudah sangat eksplisit, yang di dukung pula oleh trailer yang mengaksentuasikan ‘Cloverfield’ saat menampilkan judulnya. Sangat disayangkan film ini tidak bisa dinikmati secara keseluruhan oleh semua orang karena branding ‘Cloverfield’ tersebut membuat twist keren di akhir film menjadi sesuatu yang sudah sepatutnya diharapkan ada oleh mereka yang sudah menonton Cloverfield terlebih dahulu.

Jika kita boleh berandai-andai, ada dua skenario yang bisa membuat film ini menjadi sebuah thriller yang lebih solid dan exceptional.

  1. Apabila film ini tayang terlebih dahulu sebelum Cloverfield, film ini akan menjadi sebuah snowball marketing untuk film Cloverfield yang akan ditayangkan beberapa tahun setelahnya. Secara visual, 10 Cloverfield Lane pun memang terlihat seperti indie low-budget sci-fi film yang akan memancing studio besar untuk membiayai versi blockbuster-nya, yang mana adalah Cloverfield itu sendiri. Terlebih, pertanyaan-pertanyaan besar yang ditimbulkan oleh film minimalis ini bahkan jauh lebih banyak dan membuat penasaran ketimbang Cloverfield yang skalanya sudah terlalu masif melibatkan seluruh kota dan pangkalan militer.
  2. Apabila film ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan cerita dengan Cloverfield, maka ending film akan dapat digarap dengan lebih matang sehingga twist yang tercipta akan jauh lebih tak terduga (jangan lupa, kita hanya berandai-andai).

Jika kamu orang yang peka, kamu akan merasakan bahwa di paruh kedua act 3, film ini terlihat seperti tidak nyaman bereksplorasi sehingga kapasitas kecerdasan skenario di ending pun menurun drastis. Dari hal berikut, dapat disimpulkan bahwa tanpa branding ‘Cloverfield’ ataupun alur cerita yang harus selalu mengacu pada film tersebut, film ini akan mampu dianalogikan sebagai high-quality (minimalist) jomblo yang mungkin mampu bersinar lebih terang menjadi salah satu film sci-fi horror terbaik di tahun 2016 ini. Itu jika kamu orang yang peka.

Entahlah, mungkin penulis hanya sedang butuh kepekaan seseorang saja akhir-akhir ini.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

Iseng (2016) – Bercerita atau Berceramah?

Idealnya, dalam bercerita, seorang pencerita tidak boleh menyisipkan opini pribadi yang bersifat menceramahi pada penikmatnya. Secara logika bahasa pun, sebuah cerita seharusnya bertujuan untuk menceritakan. Jika tujuannya untuk menceramahi, namanya ceramah. Maxime du Camp, seorang penulis asal Perancis, pernah secara sarkastis mendeskripsikan gaya bercerita yang ideal dengan mereferensikan gaya penulisan sahabatnya yang juga seorang novelis, Gustave Flaubert:

“If a novel allows the author’s opinions to show through then the novel deserves to be thrown on the fire. Impersonal and impervious, the writer stands in for his characters. Thinks and acts like them. The subject of work of art…is as nothing, the execution is all that matters.”

Pernyataan du Camp tersebut menunjukkan bahwa seorang novelis, ataupun pencerita pada umumnya, haruslah menjadikan karakter mereka sebagai pedoman pokok dari sebuah cerita tanpa harus melemparkan penghakiman apapun terhadap apa yang para karakter ini lakukan. Dengan begitu, para karakterlah yang kemudian akan menjadi penggerak sebuah cerita dan bukan penulisnya. Cerita yang ideal haruslah menjadi sebuah studi kasus dengan interpretasi konklusi yang subjektif bagi para penikmatnya. Bukan seperti yang sinetron-sinetron murahan Indonesia dengan orang tua lemah, anak durhaka, rentenir kejam, ustadz, dan petir ataupun kutukan yang merepresentasikan Tuhan sebagai karakter utamanya.  Bukan juga seperti apa yang Iseng lakukan.

20 karakter dalam empat cerita yang berbeda terhubung secara tidak langsung ke dalam sebuah peristiwa bunuh diri dan pembunuhan pada suatu malam. Diceritakan dalam konteks kehidupan masyarakat urban Jakarta dengan berbagai macam kelas sosial yang ada, Iseng memiliki premis yang sangat menarik meskipun tidak bisa dibilang unik karena sudah pernah digunakan oleh Selamat Pagi, Malam sebelumnya. Ada beberapa poin di dalam film ini yang bisa penulis puji karena telah direncanakan dan dieksekusi dengan sangat baik, namun ada juga yang patut penulis kritik karena alasan krusial yang menyangkut tentang idealisme sebuah cerita.

Biarpun film yang disutradarai oleh Adrian Tang ini mempunyai jumlah tokoh yang bisa dikatakan terlalu banyak untuk standar film drama-thriller, namun semua tokoh tersebut mampu bersinar dengan karakteristik mereka masing-masing dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi para penonton setelah keluar dari ruangan teater. Bahkan untuk tokoh dengan screen time tersingkat seperti si ‘pelanggan’ yang diperankan oleh Cecep Arif Rahman dan Andi yang diperankan oleh Fauzi Baadila pun masih tetap mampu tampil mengesankan. Agak segar dan mengejutkan melihat kedua bintang bela diri seperti Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman mampu memberikan performa akting yang natural tanpa harus melakukan adegan perkelahian sengit seperti yang mereka lakukan di The Raid 2.

Keempat konflik besar yang diusung ke dalam film ini pun sangat menarik dan sederhana, karena siapapun yang menontonnya, terutama orang Jakarta, pasti mampu mengaitkan cerita ini dengan kehidupan sehari-hari mereka. Seorang sekretaris kantoran yang suka tebar pesona kemana-mana, sepasang sahabat yang berusaha mencari rezeki dengan melacur di pinggir jalanan Jakarta, sekelompok preman yang ditugaskan untuk membunuh wanita yang menjadi selingkuhan bosnya, dan seorang maniak seks yang bekerja sebagai seorang koki di sebuah rumah makan. Meskipun memang secara sekilas mereka semua terdengar agak ekstrim di telinga kita, namun cara mereka bertingkah, bahasa yang mereka gunakan saat berdialog, dan latar belakang personal yang mereka miliki sangat mirip dengan orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-harinya sehingga mereka tidak harus berusaha terlalu keras untuk dapat menarik simpati kita. Mungkin hal ini juga yang membantu para aktor untuk dapat tampil lebih natural dan menyatu dengan tokoh mereka masing-masing. Aplaus untuk kehebatan sang penulis naskah Husein M. Atmojo yang mampu merangkai struktur naratif yang cerdas dengan tokoh sederhana dan kompleksitas emosional yang akrab dengan kehidupan kita, masyarakat Jakarta.

Sayang, kecerdasan film ini kemudian hancur lebur luluh lantak saat sebuah teks muncul di layar hitam sebelum judul film dan kredit titel muncul diselingi epilog yang menampilkan sekuens latar belakang personal para tokoh dengan desaturasi warna seperti adegan-adegan flashback pada umumnya. Lewat kedua hal tersebut, seperti ada sebuah penghakiman terselubung dari sang sutradara dan penulis naskah yang mencoba menyatakan bahwa semua kemalangan yang terjadi pada tokoh-tokoh ini semata-mata adalah kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu. Penulis yang sempat dibuat kagum sepanjang keseluruhan film tiba-tiba langsung dibuat jijik oleh usaha sang pencerita untuk berceramah dan lepas tangan dengan menghilangkan keberpihakan mereka pada moral setiap tokoh yang mereka ciptakan. Seandainya semua kelebihan yang penulis nyatakan di awal tidak terdapat dalam film ini, mungkin penulis akan secara tegas menyimpulkan bahwa film ini tidak ada bedanya dengan sinetron-sinetron ‘ustadz kame-hame-ha’ yang tayang setiap fringe time di stasiun televisi lokal Indonesia.

Seandainya sutradara dan produser film Iseng berani untuk menghapus kedua hal yang penulis kritik di atas, maka Iseng sejatinya dapat menjadi sebuah film yang mampu bersaing di festival film mancanegara dan menjadi kebanggaan insan perfilman Indonesia karena berhasil memotret kehidupan Jakarta yang kejam dan tanpa ampun dengan akurat dan tidak kalah lantang dari A Copy of My Mind. Ini film yang bisa dibilang keren secara teknis dan naratif, namun dengan ending yang menghakimi tersebut, film ini tetap menjadi sebuah khotbah, bukan sebuah cerita.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Oscars 2016 – Where Miracles Took Place

Hanya ada tiga kata yang mampu mendeskripsikan Oscars tahun ini: unity in diversity.

Mulai dari Chris Rock – everyone’s favorite person – yang mendapat kesempatan untuk memandu acara, set of nominees and winners yang tidak diduga-duga, sampai dengan Lady Gaga yang secara khusus mendedikasikan lagunya yang berjudul “Till It Happens To You” untuk para sexual assault survivors yang ada di luar sana.

Nah, sebelum kita membahas ketiga iconic moments diatas secara lebih lanjut, here’s some of the categories and nominees of this prestigious award show.

BEST PICTURE:

The Martian, The Revenant, Room, Bridge of Spies, Spotlight, The Big Short, Brooklyn, Mad Max: Fury Road

BEST ACTOR:

Matt Damon: The Martian, Leonardo DiCaprio: The Revenant, Michael Fassbender: Steve Jobs, Eddie Redmayne: The Danish Girl, Bryan Cranston: Trumbo

BEST ORIGINAL SONG:

Earned It: Fifty Shades of Grey, Manta Ray: Racing Extinction, Simple Song #3: Youth, Till It Happens To You: The Hunting Ground, Writing’s on the Wall: Spectre

1. Chris Rock’s Opening Monologue

First of all, let’s talk about how Chris Rock practically owned the stage. With his usual remarks and heartwarming jokes, he definitely proved everyone that his satirical comedy will never vanish into the thin air.

Tidak percaya?

Berikut sebagian monolog pembukaan upacara Oscars dari Chris yang lucu, sarkastik, dan secara tidak langsung berhasil menai kontroversi dari berbagai pihak dan awak media.

“Here is the crazy thing. This is the wildest, craziest Oscars to ever host because we got all this controversy — no black nominees. And people are like. “Chris, you should boycott! Chris, you should quit! You should quit.” How come it’s only unemployed people that tell you to quit something, you know? No one with a job ever tells you to quit.

So I thought about quitting. I thought about it real hard, but I realized, “They’re gonna have the Oscars anyway.” They’re not gonna cancel the Oscars because I quit! And the last thing I need is to lose another job to Kevin Hart, OK? I don’t need that! Kev, right there [points to Hart in audience]. Kev make movies fast! Every month! Porno stars don’t make movies that fast.

Ia pun mengakhirinya dengan sebuah tanggapan yang mengusung tema sexism dan racism yang ada di dunia perfilman Hollywood, mengundang tawa sekaligus decak kagum dari seluruh auditorium.

“Another big thing tonight — somebody told me this — you’re not allowed to ask women what they’re wearing anymore. It’s a whole thing: #AskHerMore. “You have to ask her more! You ask the men more!” Everything’s not sexism, everything’s not racism. They ask the men more because the men are all wearing the same outfits! Every guy in here is wearing the exact same thing! If George Clooney showed up with a lime green tux on, and a swan coming out of his ass, somebody would go, “Whatcha wearin’, George!”

Hey, welcome to the 88th Academy Awards!”

2. Leonardo DiCaprio’s First Oscar

Moving onto the greatest, most iconic event of the year – wait for it – Leonardo DiCaprio finally won an Oscar!

Dalam sepuluh tahun terakhir, sudah terlalu banyak memes dan canda tawa yang kita lontarkan mengenai DiCaprio yang sudah berkali-kali masuk ke dalam nominasi Oscar, tetapi tidak pernah mendapatkan piala impian tersebut, but for now, he finally got the golden trophy he deserves.

Acceptance speech dari DiCaprio yang membuat kita meneteskan air mata juga patut diacungi jempol. Tidak hanya berterima kasih kepada rekan-rekan kerjanya pada film The Revenant yang memberinya kesempatan untuk membawa pulang piala Oscar, DiCaprio juga membahas isu-isu penting yang sedang dihadapi dunia, yakni climate change dan environmentalism.

Berikut adalah sebagian dari transcript pidato DiCaprio yang singkat dan padat, tetapi berhasil memberikan dampak besar terhadap dunia perfilman tahun ini.

“And lastly, I just want to say this: Making The Revenant was about man’s relationship to the natural world.

A world that we collectively felt in 2015 as the hottest year in recorded history. Our production needed to move to the southern tip of this planet just to be able to find snow. Climate change is real, it is happening right now. It is the most urgent threat facing our entire species, and we need to work collectively together and stop procrastinating.

We need to support leaders around the world who do not speak for the big polluters, but who speak for all of humanity, for the indigenous people of the world, for the billions and billions of underprivileged people out there who would be most affected by this. For our children’s children, and for those people out there whose voices have been drowned out by the politics of greed. I thank you all for this amazing award tonight. Let us not take this planet for granted. I do not take tonight for granted. Thank you so very much.”

3. Lady Gaga’s Heartbreaking Song

Meskipun lagu “Till It Happens To You” yang merupakan original song dari film dokumentasi The Hunting Ground belum berhasil membuat Lady Gaga membawa pulang piala Oscar, semua mata tertuju padanya malam itu.

Gaga menegaskan bahwa lagu tersebut ia dedikasikan untuk para korban kekerasan seksual yang masih memiliki kesulitan untuk memperjuangkan hak mereka. Bahkan, pada salah satu interview-nya dengan Elvis Duran & The Morning Show, dengan berani Gaga juga bercerita tentang pengalaman pribadinya mengenai sexual assault yang pernah ia alami, yang pada akhirnya menjadi salah satu influent terbesar dalam penulisan lagu ini.

Ia berkata, “I feel physical pain and there’s a lot of other people that suffer from chronic pain who have been through a traumatic experience. I actually suffer from chronic pain all the time, and it’s from this paralyzing fear that I’ve experienced for almost 10 years.”

Meskipun pada akhirnya piala tersebut dimenangkan oleh Sam Smith dengan lagu “Writings On The Wall” dari Spectre, yang juga dengan berani mengusung tema LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), pertunjukan yang dibawakan Gaga tetap membuktikan bahwa sebuah lagu dapat memberikan impact yang besar bagi siapapun yang mendengarnya.

Berikut adalah sebagian dari acceptance speech milik Sam Smith, yang juga membuat seluruh auditorium tercengang dan bertepuk tangan, even Lady Gaga herself who’s been known as a very devoted activist for the LGBT community.

“I read an article a few months ago by Sir Ian McKellen and he said that no openly gay man had ever won an Oscar. And if this is the case, even if it isn’t the case, I want to dedicate this to the LGBT community all around the world. I stand here tonight as a proud gay man, and I hope we can all stand together as equals one day.”

image

Akhir kata, Oscars 2016 merupakan satu dari sekian acara penghargaan yang berhasil membuktikan bahwa stereotypes will never take place unless you start it yourself. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, tidak ada kata kecewa untuk sebuah kekalahan, dan tidak ada kata biasa untuk sesuatu yang sebenarnya luar biasa. It’s all about perspectives, finding your true selves and embracing the flaws you’re never been comfortable with.

Zootopia (2016) – The Animatopia

Tidak butuh atmosfer yang gelap serta struktur naratif yang bertele-tele untuk menceritakan isu-isu yang rumit dan sensitif di kalangan masyarakat dunia saat ini, khususnya isu toleransi di dalam sebuah keberagaman. Namun agaknya mengejutkan bila Disney, yang notabene lebih sering memilih untuk main aman di ranah monarki utopis, dapat memahami hal ini dan memanfaatkannya dengan berbicara politis tentang demokrasi dan toleransi untuk pertama kalinya dengan gaya bercerita yang sangat menghibur.

Film ini berkisah tentang Judy Hopps, seorang kelinci yang ingin menjadi polisi. Judy hidup di dalam sebuah dunia fauna di mana predator dan herbivora hidup berdampingan, meskipun banyak stereotipe terhadap satu sama lain yang menghalangi mereka untuk benar-benar bisa saling menyatu dalam harmoni. Saat kerja keras dan tekad yang kuat membawa Judy menjadi satu-satunya polisi kelinci di pusat kota Zootopia, ia menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam sebuah kasus besar yang dapat membongkar rahasia kelam Zootopia serta memercikkan kembali api kebencian antara herbivor dan predator. Terdengar seperti sebuah cerita yang seru dan menyenangkan, bukan?

Jika kalian ragu apakah cerita ini mampu menjadi menyenangkan dan penting secara bersamaan untuk penonton segala usia, kalian akan terkejut sambil tertawa terbahak-bahak menyaksikan setiap satir yang disajikan dengan jenius dalam film ini. Adegan ‘DMV Sloths’ dan ‘Mr. Big’ akan mampu menguras tawa yang maksimal bila kalian menyukai film The Godfather, pernah punya pengalaman buruk dalam proses administrasi pelayanan publik, ataupun bila kalian hanya seorang anak kecil yang mudah tertawa dengan aksi tokoh-tokoh binatang yang komikal dan menggemaskan.

Patut diingat bahwasanya di dalam film yang penuh dengan canda tawa ini, diskriminasi, stereotipe, dan intoleransi harus menjadi sebuah pembahasan yang serius dan penting untuk disimak bagi para penonton dewasa. Segala detail mise en scene maupun dialog antar karakter membentuk pesan-pesan demokratis yang tidak boleh untuk kita abaikan begitu saja. Contohnya, ketika Judy berkata, “only a bunny can call another bunny ‘cute'”  dan perangai para penumpang saat Judy menaiki sebuah kereta yang diisi oleh predator dan herbivor. Atau saat kita menyadari bahwa kecuali Judy, seluruh personel kepolisian di ZPD merupakan binatang-binatang bertubuh besar dan kita anggap kuat seperti banteng, gajah, badak, dan jerapah. Kita akan dibawa menuju sebuah dunia di mana stereotipe yang sering kita tujukan pada binatang-binatang tersebut di dunia nyata menjadi stereotipe yang mereka tujukan terhadap satu sama lain. Lebih jauh, kita bukan hanya akan dibuat berpikir lebih dalam tentang stereotipe kita terhadap binatang-binatang tersebut, namun juga terhadap manusia satu sama lain di dunia nyata.

Meskipun semua tokoh di film Zootopia adalah binatang dan tiap-tiap dari mereka memiliki ciri khas yang sama dengan binatang-binatang yang ada di dunia nyata, namun kepribadian mereka serta cara mereka berinteraksi dengan satu sama lain sangatlah manusiawi. Hal ini mungkin harusnya bisa menjadi renungan bagi para penonton tentang “apa yang menjadikan manusia itu manusia?” serta “apakah kita manusia sebenarnya lebih baik dari binatang?”. Film ini memenuhi dua materi yang sangat strategis untuk menjadi tontonan wajib bagi semua orang, termasuk di Indonesia yang sedang dipenuhi kebencian politik yang sangat kuat antara satu golongan dengan golongan yang lain. Dua materi itu adalah: film ini amat sangat menghibur dan film ini mempunyai subteks yang penting untuk didiskusikan lebih lanjut. Penulis berharap bagi mereka yang sudah berkeluarga agar menonton Zootopia bersama-sama agar orang tua dapat melakukan diskusi dengan anak-anaknya tentang subteks yang terkandung di dalam film ini.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

A Copy of My Mind (2015) – Jakarta dalam Cerita Cinta Nyata

Kita bisa menyebutkan banyak sekali kekurangan yang dimiliki kebanyakan film Indonesia yang telah diproduksi, namun yang paling sering diulang-ulang adalah keengganan dalam menyorot konteks sosial yang gamblang dan detail tentang kehidupan masyarakat Jakarta, khususnya daerah sub-urban. Demi konsumen mayoritas yang (mereka anggap) udik, mereka lebih memfokuskan pada kehidupan masyarakat menengah ke atas dan sudut kota Jakarta yang megah dan gemerlap. Jika sudah tidak ada lagi yang bisa dieksplorasi, ya sudah, tinggal shooting di luar negeri, bawa aktor-aktor Indonesia. Premis dan skrip pun ditulis sebasi mungkin, sebasi puisi-puisi kacangan akun fake official Line dengan satu tujuan yang sama: mengeksploitasi kenaifan remaja akan cinta. Jika kamu termasuk golongan orang-orang yang sudah muak akan materi-materi seperti yang telah disebutkan, maka ada dua film di awal 2016 ini yang akan menghidupkan kembali kepercayaanmu terhadap film-film Indonesia: Siti dan A Copy of My Mind. Bila Siti mungkin terlalu marjinal dan tersegmen untuk kamu yang biasa menonton film-film romansa hedonis berbujet mahal, kamu bisa mulai untuk menonton A Copy of My Mind terlebih dahulu.

1227161_a-copy-of-my-mind

Kita semua sebenarnya sudah tahu bahwa Jakarta bukan hanya tentang wanita-wanita dengan make-up tebal menenteng tas mahal berkeliling di dalam sebuah mal megah ditemani pria metroseksual yang tidak jelas apakah dia pacar, saudara, ayah, atau bodyguard. Jakarta juga tentang seorang gadis kleptomania pegawai salon kecil yang hidup di kos-kosan sepetak yang berpacaran dengan pria belel yang bekerja sebagai penerjemah subtitel DVD bajakan. Joko Anwar (Modus Anomali, Kala, Janji Joni) sebagai sutradara serta Tara Basro (Pendekar Tongkat Emas, Killers, Catatan Harian Si Boy) dan Chico Jericho (Filosofi Kopi, Cahaya dari Timur: Beta Maluku) sebagai pasangan pemeran utama berhasil merepresentasikan kehidupan masyarakat Jakarta golongan kelas menengah kebawah dengan detail dan jujur apa adanya. Akting serta chemistry mereka solid, tidak terbantahkan bahwa mereka sudah melebur dengan sempurna menjadi karakter mereka masing-masing. Adegan seks antara mereka berdua di dalam film ini pun bisa dibilang sebagai salah satu adegan seks terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia.

Joko Anwar, lewat akun Twitternya, pernah menyatakan bahwa film ini adalah film berbujet medium dengan set design, properti, serta perlengkapan yang sebagian merupakan buah kebaikan beberapa pihak yang bersedia meminjamkan kepemilikannya demi terlaksananya film yang memenangkan dana Rp150 Juta dari Asian Project Market di Busan Film Festival 2014 ini. Mungkin memang koinsidental, tapi segala yang membentuk film ini mulai dari struktur narasi sampai detail artistik dan sinematografi dapat saling mendukung satu sama lain dalam kesederhanaan dan ketidakcukupan untuk membentuk keutuhan kontekstual yang memperkuat nyawa cerita. Yang paling bisa dilihat dari hal ini adalah kepingan DVD bajakan yang menghiasi dinding kamar Alek serta absensi dari color grading pada keseluruhan film yang ditambal dengan komposisi serta pencahayaan yang manis. Jenius, low-budget, dan tetap relevan dengan konteks. Hal ini membuktikan bahwa film dengan kualitas yang baik tidak harus selalu didukung dengan bujet yang mahal. Proporsionalitas dan profesionalitaslah yang terpenting.

Jika penulis boleh meromantisir, A Copy of My Mind adalah sebuah kado Valentine dari Lo-Fi Flicks untuk mereka yang hidup di bawah garis ketidakcukupan dan masih mempertahankan cita-citanya untuk merasakan kenikmatan duniawi. Konteks politik yang berasal dari keresahan Joko Anwar terhadap korupsi dan suap menyuap antar pejabat pun juga melekat erat membumbui kisah cinta dari sudut Jakarta yang terabaikan ini. Jangan khawatir akan ‘berat’ nya tema yang kamu baca di sinopsis. Ini adalah kisah cinta yang mampu dengan mudah kamu hubungkan dengan kehidupanmu di dunia nyata, jadi nikmati saja.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.