Koala Kumal (2016) – Patah Hati dan Konsistensi Realita

Setiap drama sejatinya adalah studi kasus tentang emosi manusia, dan setiap komedi sejatinya menyampaikan studi kasus tersebut dengan kritis dan menggelitik. Laurence Olivier, aktor Inggris pada abad ke-20, pernah berkata bahwa,

“The office of drama is to exercise, possibly to exhaust, human emotions. The purpose of comedy is to tickle those emotions into an expression of light relief; of tragedy, to wound them and bring the relief of tears. Disgust and terror are the other points of the compass.”

Bicara tentang Koala Kumal berarti bicara tentang Raditya Dika. Saya pernah berdiskusi dengan kerabat sesama film blogger, Picture Play, dan kami bersepakat bahwa Raditya Dika mempunyai potensi untuk menjadi Woody Allen-nya Indonesia. Mereka berdua mempunyai keresahan terhadap hal yang sama: cinta dan budaya berkencan di daerah asal mereka masing-masing. Mereka sama-sama dengan mudah menerjemahkan keresahan mereka lewat bahasa komedi mereka masing-masing (Woody nihilis, Dika sarkastis). Sayang, ada satu hal yang menjadi kekurangan besar Dika: ia terlalu nyaman bermain di ranah aman, di kerak sebuah persoalan tanpa berani menggali ke dalam inti sehingga pesan yang ingin ia sampaikan terkesan lemah dan tidak kritis.

Seperti yang telah tercantum di tagline, film komedi romantis ini berkisah tentang perjalanan seorang Dika untuk mendewasakan dirinya lewat patah hati. Putus cinta di ujung tanggal pernikahan, Dika mencoba untuk ‘move-on’ dengan berbagai cara yang konyol dan garing dibantu oleh Trisna (diperankan oleh Sheryl Sheinafia) yang tomboy. Judul Koala Kumal sendiri diambil berdasarkan kisah nyata seekor Koala dari New South Wales yang pulang kembali ke rumahnya di hutan setelah ditebangi. Ia kebingungan saat sampai karena rumah yang dulu ia naungi tidak lagi sama baginya. Ia merasa asing, seperti saat kamu mencium bau kamar yang biasa kamu tiduri menjadi seperti bau orang lain.

Film ketiga yang ia sutradarai setelah Marmut Merah Jambu dan Single ini mengalami peningkatan sinematik yang cukup signifikan. Dika seperti mulai mengerti bagaimana caranya menggunakan camera movement, komposisi, serta momentum editing untuk membuat sebuah komedi visual yang klasik dan tetap segar ditonton. Soal plotting dan cara Dika menyajikan setiap adegan dengan warna tematik dan kontekstual yang kental patut diacungi jempol. Sekuens yang paling saya sukai adalah saat adegan Dika datang ke rumah Trisna untuk minta penjelasan sampai kemudian selesai di adegan Dika lumpuh di atas panggung. Skema dramatik cerdas yang dibumbui referensi humor klasik ala-ala Marx bersaudara dan Warkop DKI inilah yang membuat saya menyandingkan dia dengan seorang Woody Allen.

Saat menonton film ini di bioskop, saya menyaksikan langsung hampir semua orang yang menonton tertawa terbahak-bahak di setiap momentum jokes. Mungkin, cuma saya yang tidak tertawa, meskipun saya mengagumi kecerdasan Dika dalam menulis materi komedi yang berbicara secara sarkastis dan realistis (meskipun kurang kritis) tentang budaya berpacaran pemuda Jakarta yang memang tidak jelas. Tapi saya tidak tertawa. Maka dari itu, saya mencari tahu alasan kenapa jokes Dika yang menurut saya cerdas itu tidak berhasil menggelitik saya, dan saya menemukan jawabannya. Saya tidak bersimpati pada tokoh-tokoh di film ini karena saya tidak bisa mempercayai karakter mereka, termasuk Dika sendiri. Karakter-karakter mereka bersifat dua dimensi dan cenderung tidak konsisten dengan realita yang dibentuk oleh cerita. Jika Dika berencana membuat alam cerita yang dipenuhi dengan karakter komikal seperti Trisna dan James, maka tokoh Andrea dan Kinara yang karakternya sangat aktual dengan gadis-gadis di kehidupan nyata tentunya adalah sebuah kesalahan fatal yang menggoyahkan keajaiban make-believe cerita Koala Kumal. Dialog antar tokoh pun terlalu cheesy, teeny-kind-of-preachy soal cinta tanpa ada ulasan yang lebih dalam dan kritis tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Alhasil, kemampuan film Koala Kumal dalam memberikan kritik romantika remaja dengan pesan pendewasaan emosional sama lemahnya seperti nasihat perbaikan sebuah hubungan dari teman SMA kamu yang jumlah mantan pacarnya sudah sampai dua digit.

Seniman dengan bakat sehebat apapun, apabila berkarya dengan tidak jujur dan setengah hati, maka hasilnya tidak akan maksimal. Saya melihat Dika sebagai orang cerdas dengan bakat luar biasa yang—sayangnya—terjebak dalam pengkultusan publik yang melihat dirinya lewat persepsi yang salah. Sedari awal, orang mengenal Dika sebagai blogger yang eksis lewat humor-humornya tentang kejombloan dan cinta monyet…atau brontosaurus. Setelah saya menonton Koala Kumal, saya semakin yakin bahwa Dika sebenarnya adalah seorang yang kritis, sedikit misantropis, dan mempunyai idealisme kuat yang sayangnya terkekang oleh konsistensi dari realita kehidupannya. Ada beberapa detail mise-en-scene yang sempat mencuri perhatian saya, salah satunya adalah kutipan Anais Nin, seorang tokoh esais abad 20 yang terkenal frontal, yang menghiasi dinding kamarnya. Cara dia mengalegorikan kehidupan koala New South Wales dengan pasangan yang balikan setelah patah hati juga membuktikan bahwa Dika sebenarnya punya kedalaman batin yang jauh melebihi dialog-dialog medioker yang ia tulis di film ini.

Namun jika ia tidak berani untuk mengambil langkah keluar dari zona aman, gagasan-gagasan besarnya tentang cinta dan patah hati akan membusuk di dalam kenyamanan selebritas dan popularitasnya.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

In the Mood for Love (2001) – Selingkuh itu Dosa

Seandainya dinding bisa bicara dan mengungkapkan rahasia-rahasia manusia yang ia simpan di dalamnya, maka ia akan berkata bahwa hanya ada dua hal yang paling indah saat sepasang manusia menyimpan hasrat:

  1. Saat saling berusaha mengenal.
  2. Saat saling berselingkuh.

Seperti mereka yang mabuk kepayang oleh anggur asmara, Mrs. Chan (diperankan oleh Maggie Cheung) dan Mr. Chow (diperankan oleh Tony Leung Chiu-wai) terayun gontai seperti bunga teratai di atas sungai beriak. Bukan hanya karena lecutan cinta yang kepalang liar, namun karena masing-masing dari mereka sudah ada yang memiliki. Seperti layaknya orang yang jatuh cinta, mereka sering diam-diam berkunjung ke tempat yang dikunjungi satu sama lain dan selalu berpura-pura kebetulan berpapasan. Mereka senang menatap mata satu sama lain dalam-dalam, kemudian berbasa-basi mengalihkan perhatian seakan-akan tidak ada yang mereka temukan di balik mata masing-masing.

Begitulah cinta, semakin terlarang, semakin berjuta rasanya. Semakin ia dipendam dalam diam, semakin panas gelora apinya. Wong Kar-wai, sutradara dan auteur Mandarin, mengerti bagaimana caranya melukiskan nestapa memendam cinta terlarang ke dalam gambar yang bergerak dan bersuara. Bukan hanya eksposisi dialog dan plotting, namun semua aspek-aspek simbolis yang ada di dalam film ini seakan menjadi nyawa yang membuat hidup film dan membuat mati jiwa-jiwa penontonnya. Romantisasi nelangsa batin lewat kombinasi slow-motion sequence+Yumeji’s Theme, komposisi frame within frame, dan repetisi latar tempat di dalam film ini membuat penonton semakin tenggelam ke dalam dunia mereka yang sempit dan menyengsarakan.

Ada satu hal yang patut menjadi bahan perhatian lebih dalam film ini, yaitu bagaimana mereka mencari cara untuk terus bersama menjalin cinta tanpa harus benar-benar berselingkuh. Mereka tidak pernah sekalipun berhubungan badan atau bahkan berciuman di film ini. Mereka hanya bermain peran, saling mengisi lubang yang ditinggalkan pasangan hidup mereka masing-masing yang berselingkuh. Ms. Chan bertanya di mana Mr. Chow membeli dasi yang menurutnya suaminya sukai. Mr. Chow bertanya di mana Mrs. Chan membeli tas gandeng yang menurutnya istrinya sukai. Penulis bertanya-tanya merk pomade apa yang dipakai Mr. Chow…ah sudah lah. Mereka melakukan semua itu semata-mata karena sadar bahwa mereka tidak bisa mengelak dari cinta, namun mereka masih bisa mengelak dari dosa perselingkuhan, seperti yang dilakukan pasangan mereka masing-masing. Bagaimana pun juga, dalamnya hati siapa yang tahu?

“He remembers those vanished years. As though looking through a dusty window pane, the past is something he could see, but not touch. And everything he sees is blurred and indistinct.”

Mungkin cinta mereka murni, namun sudah pasti tidak suci. Berkat arahan sutradara Wong Kar-wai, penyuguhan sinematis yang minimalis dan memukau dari Christopher Doyle, serta ikatan kimiawi yang manis dari penampilan Maggie Cheung dan Tony Leung Chiu-wai, In the Mood for Love sukses membangun ilusi kesejatian cinta yang salah dengan cantik dan memilukan secara bersamaan. Para penggemar film romansa ringan cheesy mungkin akan sedikit bosan dan mengantuk menonton film ini, tapi penulis sangat merekomendasikan mahakarya ini agar kalian belajar merasakan cinta dalam diam.

Dan jika suatu saat kalian memiliki hasrat untuk berselingkuh, cukup bisikkan hasrat kalian ke dalam lubang di dinding, kubur dengan tanah sampai padat, dan kembalilah bersetia pada pasangan resmi kalian masing-masing.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

7 Film Terbaik untuk Wanita-Wanita Hopeless Romantics

Setelah memberikan rekomendasi film-film terbaik untuk para pria pencundang asmara, kini saatnya penulis merekomendasikan film-film terbaik untuk para wanita-wanita hopeless romantics.

Tidak semua yang kita harapkan dapat berjalan mulus. Terkadang, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan-pilihan sulit yang harus kita lewati, dan berusaha untuk menerima segalanya dengan tangan terbuka. Tanpa pilihan-pilihan sulit tersebut, kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya belajar dari kesalahan, mengikhlaskan segala hal yang tidak mudah diikhlaskan, serta menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan yang sudah kita buat dengan seksama. Berikut adalah daftar film-film terbaik pilihan Distopiana yang dapat disaksikan untuk para wanita-wanita hopeless romantics, yang sedang berusaha menerima realita pahit dengan tangan terbuka, dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja selama masih menyisakan harapan.

  1. Something Borrowed (2011) directed by Luke Greenfield

tumblr_n1a9ugpl5E1qgxmqno1_500

Diangkat dari novel Emily Giffin dengan judul yang sama, Something Borrowed merupakan film drama romantis yang sudah pasti akan meninggalkan kesan speechless untuk anda. Diperankan oleh dua aktris ternama seperti Ginnifer Goodwin dan Kate Hudson, diceritakan lika-liku kisah percintaan Rachel White (Goodwin), seorang attorney muda yang bekerja untuk sebuah firma hukum ternama di kota New York. Setelah one-night stand penuh makna yang ia lalui dengan Dex (Egglesfield), seorang pengusaha mapan yang kebetulan merupakan high school crush Rachel sendiri, hidup Rachel berubah 360 derajat saat ia berusaha menyembunyikan perselingkuhannya dengan Dex, yang merupakan tunangan sahabatnya sendiri, serta mengalami mental breakdown berkepanjangan, saat ia tersadar bahwa Dex tidak pernah benar-benar mencintainya.

2. Love, Rosie (2014) directed by Christopher Ditter

tumblr_o6iioslPEt1v0ttqao1_500

Film drama komedi yang satu ini dijamin akan membuat kalian para wanita-wanita hopeless romantics tertawa terbahak-bahak sambil meneteskan air mata. Bagaimana tidak, film yang diangkatan dari novel Where Rainbows End karya Cecelia Ahern ini membahas tentang isu-isu yang masih jarang diperlihatkan kepada masyarakat luas. Mulai dari persahabatan, kehamilan remaja, hingga pencapaian mimpi dan aspirasi. Dikisahkan dua sahabat kecil bernama Rosie Dunne (Lily Collins) dan Alex Stewart (Sam Claflin), yang secara tidak sengaja mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah menemukan keberanian untuk mengakui perasaan mereka. Pada film ini, para penonton juga akan disuguhkan berbagai keindahan yang kota London dan New York tawarkan. Secara tegas, film Love, Rosie mengajarkan kita bahwa timing dan komunikasi merupakan salah satu hal yang paling esensial dalam suatu hubungan.

3. About Time (2013) directed by Richard Curtis

8-The-Time-Travelers-Wife-quotes

About Time merupakan sebuah film karya sutradara sekaligus penulis naskah terkenal bernama Richard Curtis, yang diantara karyanya merupakan Love Actually, Mr. Bean’s Holiday dan Notting Hill. Film ini mengisahkan tenting, Tim Lake (Domhnall Gleeson), seorang laki-laki yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Cornwall di Inggris, yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan waktu. Dengan kemampuan spesial yang ia miliki ini, Tim pun bertekad untuk mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Konflik ceritapun mulai memanas ketika ia memutuskan untuk pindah ke London dan bertemu dengan seorang perempuan asal Amerika bernama Mary (Rachel McAdams) di sebuah restoran.

4. Finding Mr. Destiny (2010) directed by Jang Yoo-jeong

tumblr_n3iinjIZcJ1rw93m3o1_r1_500

Film box office asal Korea Selatan ini menceritakan tentang Seo Ji-woo (Lim Soo-jung), seorang perempuan yang berpergian ke India seorang diri dan bertemu cinta pertamanya, Kim Jong-ok (Woo Ki-jun), seorang dokter handal di negara asalnya. Setelah berpisah dengan Jong-ok, Ji-woo yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa hubungan mereka telah berakhir memutuskan untuk mendatangi sebuah perusahaan biro jodoh terkenal untuk membantunya mencari Jong-ok. Tidak disangka-sangka, Ji-woo justru bertemu dengan Han Gi-joon (Gong Woo), pemilik perusahaan biro jodoh tersebut yang akan membantunya untuk mendapatkan Jong-ok kembali. Bersama-sama, mereka pergi berkeliling Korea Selatan dan dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka mulai merasa nyaman terhadap satu sama lain.

5. One Day (2011) directed by Lone Scherfig

tumblr_mdc62u884v1rodugmo1_500

Film yang diangkat dari novel David Nicholls ini dijamin akan membuat para penonton banjir air mata. Diperankan oleh Anne Hathaway dan Jim Sturgess, film ini mengisahkan tentang persahabatan dua mahasiswa yang baru saja lulus dari University of Edinburgh, Dexter Mayhew (Sturgess) dan Emma Morley (Hathaway). Secara kronologis, film ini menceritakan kisah Dexter dan Emma (terkadang disajikan secara terpisah) yang awalnya bertemu pada tanggal 14 Juli, dan dilanjutkan pada setiap tanggal 15 Juli selama delapan belas tahun berturut-turut. Dengan berbagai konflik yang dilewati pasangan protagonisnya, One Day menyuguhkan berbagai pesan moral tentang cinta, persahabatan, serta serentetan pilihan yang harus mereka buat secara berani.

6. Safe Haven (2013) directed by Lasse Hallström

movie-quotes-quote-safe-haven-Favim.com-836586

Diangkat dari novel bestseller Nicholas Sparks, film ini sungguh berbeda dari adaptasi-adaptasi film Nicholas Sparks lainnya. Safe Haven sendiri menceritakan tentang Erin Tierney (Julianne Hough), seorang istri dari polisi detektif yang berusaha melarikan diri dari Boston, dikarenakan suaminya yang secara diam-diam berperilaku abusive. Setelah memulai hidup barunya di Southport dengan nama Katie Feldman, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Alex Weathey (Josh Duhamel), seorang ayah tunggal yang masih belum bisa melepaskan kepergian istrinya yang meninggal karena kanker. Safe Haven merupakan film thriller romantis yang akan membawa anda menuju sebuah emotional rollercoaster penuh haru dan misteri yang mencengangkan.

7. A Little Thing Called Love (2010) directed by Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn & Wasin Pokpong

tumblr_luuwzqcw5V1r2iejoo1_500

Sleeper hit asal Thailand ini merupakan film yang paling digemari para hopeless romantics. Dengan akting dan penjiwaan para aktornya yang menjanjikan, bagaimana mungkin kita mampu melewatkan film yang satu ini? Dengan alur cerita the-ugly-duck-meets-the-prince-charming yang klise, A Little Thing Called Love dapat dipastikan mengubah perspektif kita tentang the prince charming itu sendiri. Dikisahkan tentang seorang remaja SMA bernama Nam (Pimchanok Baifern) dengan wajah yang tidak cantik dan kepribadian introvert, yang berusaha mati-matian untuk mengubah dirinya demi Shone (Mario Maurer), kayak kelas Nam yang pintar, tampan, dan disukai banyak orang. Dalam perjalanannya untuk mempercantik diri, Nam pun belajar bahwa tidak semua hal yang ia inginkan dapat berjalan sesuai ekspektasinya.

tumblr_mkdru2k7281racrzqo1_

Setelah menonton film-film yang telah di rekomendasikan, kita dapat belajar bahwa tidak segalanya cinta itu indah dan penuh jawaban. Flowers can’t grow without a little rain, and that’s perfectly okay. Terkadang, saat kita sudah mengikhlaskan apa yang kita inginkan, aspirasi tersebut justru akan tercapai. Intinya, keihklasan merupakan suatu keharusan, dan kita sebagai para hopeless romantics harus bisa menyikapinya dengan seksama. Hidup tidak selamanya mulus dan penuh kebahagiaan, tapi justru turbulensi-turbulensi itulah yang mampu membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Honorable Mention: Never Let Me Go (2010), Il Mare (2000), Stuck in Love (2012), He’s Just Not That Into You (2009).

Great World of Sound (2007) – Sharking Dreams

Ada sebuah jargon yang sudah melekat erat dalam hidup para pekerja, terutama fresh graduate tanpa pengalaman kerja yang sering menghabiskan waktu dan uang (orang tua)-nya demi mondar-mandir ke seminar motivasi entrepreneurship.

Setiap orang pasti mempunyai mimpi, dan jika kita memiliki komitmen untuk berjuang dan bekerja keras, pasti kita akan mampu meraih mimpi kita.”

Jargon-jargon serupa sering keluar dari mulut mereka yang optimis, tanpa sadar bahwa sebenarnya banyak dari mereka yang sedang dicurangi oleh kaum-kaum oportunis lewat berbagai cara atas nama ‘passion‘ dan ‘komitmen’. Baik lewat pengurangan hak-hak kerja, multi-level-marketing, atau segala macam modus lainnya. Dalam film yang diproduksi oleh Magnolia Pictures pada tahun 2007 ini, perusahaan low-budget music label bernama Great World of Sound merupakan salah satu pihak oportunis tersebut.

Beberapa penulis lagu dan produser profesional mempunyai terminologi khusus untuk mendeskripsikan modus kejahatan yang dilakukan Great World of Sound (dan tentunya music label serupa di dunia nyata), yaitu song sharking: membuat para korban percaya bahwa mereka mempunyai potensi musik yang istimewa, lalu mengiming-imingi mereka kesuksesan meraih mimpi, dan kemudian meminta sejumlah uang yang tidak sedikit sebagai bentuk dari komitmen mereka terhadap mimpi yang ingin mereka raih. Sebenarnya praktik semacam ini tidak bisa dikatakan salah. Sebagian besar uang yang dibayarkan oleh para korban memang akan digunakan untuk studio recording dan publishing dari para korban itu sendiri. Great World of Sound tidak membohongi para korban tentang cara kerja mereka.

Namun lebih parah dari itu, mereka membohongi para korban dengan berkata manis melebih-lebihkan ‘bakat’ mereka untuk membiayai produksi musik mereka sendiri yang sebenarnya tidak berharga.

Kendati demikian, alih-alih menjadikan film ini sebagai caper comedy film, Craig Zobel memilih untuk melakukan pendekatan bromance comedy drama dengan menuturkan cerita ini lewat sudut pandang dua orang sales producer dengan karakter dan motivasi yang berbeda. Martin (diperankan oleh Pat Healy), seorang lelaki introvert dengan kepribadian melankolis, harus bekerja berpasangan dengan seorang pria periang dan bersemangat yang bernama Clarence (diperankan oleh Kene Holliday) untuk mendapatkan ‘klien’ sebanyak mungkin dengan berkunjung dari satu kota ke kota lain dan mengadakan audisi kecil-kecilan di kamar hotel mereka masing-masing. Walaupun karakter mereka sangat berbeda kutubnya, namun itu tidak pernah menghalangi mereka untuk saling mendukung satu sama lain dalam menjalin ikatan persahabatan dan memburu ‘talenta-talenta’ yang siap untuk ‘berkomitmen’ membangun ‘mimpi’ mereka.

Setidaknya sampai mereka berdua merasa bersalah atas apa yang mereka lakukan.

Treatment film yang sangat low-budget oriented dengan penampilan apik dari musisi-musisi dengan bakat mentah ini membuat Great World of Sound memiliki rasa yang sama dengan Once. Kita akan dibawa seakan memasuki sebuah realita, menuju ruang audisi yang menampilkan manusia-manusia dengan bakat, emosi, dan mimpi yang jauh lebih murni daripada yang ditampilkan oleh pertunjukan mencari bakat di televisi seperti X-Factor atau The Voice. Tidak hanya itu, beberapa dari mereka (termasuk gadis kecil penyanyi ‘New National Anthem‘ yang menjadi plot device penting dalam film ini) memiliki ciri khas yang sangat kental dan unik sehingga meninggalkan kesan yang mendalam setelah kita selesai menonton film. Inilah yang membuat perjalanan emosional di film ini menjadi efektif: kita akan dibuat simpati oleh Martin dan Clarence di awal film, lalu bersimpati dengan para peserta ‘audisi’ di pertengahan film, dan kemudian menjadi linglung saat ternyata mereka—Martin, Clarence, dan para peserta audisi—adalah mangsa dari kaum-kaum oportunis yang memasang ‘mimpi’ sebagai umpan.

Di dalam dunia yang semakin hari semakin penuh dan sesak ini, peradaban yang didominasi oleh kapitalisme seakan semakin menjelma menjadi serupa kanibalisme. Jadi pemburu atau jadi binatang yang terperangkap, itu pilihannya. Secara garis besar, ini merupakan topik yang diusung oleh Great World of Sound. Craig Zobel memahami hal itu dengan baik, namun ia menyampaikan lewat film yang sangat segar ini bahwa ada kalanya pemburu pun suatu saat akan terjebak dan mati di dalam perangkap binatang yang mereka ciptakan sendiri.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) – Penebus Rindu

Hal yang paling dibenci setiap manusia adalah menunggu tanpa kepastian yang jelas. Kita semua mengerti dan pernah merasakan hal itu, maka saat Miles Film mengumumkan bahwa sekuel dari Ada Apa dengan Cinta resmi ditayangkan setelah empat belas tahun lamanya, hampir semua penikmat film Indonesia yang pernah hidup menyaksikan film romansa paling ikonik di Indonesia tersebut langsung antusias menyambutnya. Mereka tidak hanya ingin tahu bagaimana kabar Rangga dan Cinta serta Geng Mading SMA yang digawangi Cinta, Milly, Karmen, Maura, Alya, dan Mamet. Sebagai penikmat film Indonesia yang sudah terlalu lama terlena dengan film-film ‘asing’ yang selalu menjajah bioskop mereka, sebagian besar dari mereka juga berharap akan adanya plot twist yang unik dan menggemparkan di antara hubungan kedua pecinta sastra tersebut.

Sebagian dari mereka mungkin terlalu berharap banyak. AADC 2 yang kini disutradarai langsung oleh Riri Riza memang menghidupkan kembali nostalgia romansa terbaik yang pernah Indonesia miliki dengan lembut dan manis tanpa ada satu hal pun yang harus dilebih-lebihkan. Semua tokoh lama AADC tampil prima dengan charm dan karakteristik mereka masing-masing, kecuali tokoh-tokoh baru yang sayangnya hanya dijadikan tempelan agar cerita yang tidak bergerak kemana-mana ini terkesan progresif dan dinamis.

“Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku untuk memilikimu sekali lagi.”

Sama halnya seperti Cinta di film ini, cerita di AADC 2 tidak move-on ke arah yang seharusnya. Bisa dikatakan bahwa AADC 2 hanyalah sebuah medium storytelling yang menceritakan tentang apa yang terjadi dalam kurun waktu 14 tahun setelah akhir film AADC dan sebelum awal film AADC 2. Fungsi dari film ini hanyalah sebagai penebus rindu bagi para penggemarnya, atau seperti yang PicturePlay katakan, “brand continuation effort“. Sebagaimana penebus rindu berfungsi, film ini terlalu banyak berbicara tentang masa lalu. Adapun pembahasan masa depan yang hanya terdapat di paruh akhir act 3 film dapat diibaratkan layaknya MSG yang menjadi solusi tepat dan ‘murah’ kalau sang koki tidak yakin masakannya cukup enak untuk disukai banyak orang.

Namun, jangan salah paham. Mengatakan film ini buruk dan tidak layak untuk ditonton adalah sebuah hiperbola yang kejam dan tidak beralasan. Justru, plot film yang ‘terlihat-seperti-maju-namun-nyatanya-mundur‘ ini akan mampu mengiris-iris hati mereka yang masih belum bisa move-on dari hubungan mereka sebelumnya, baik yang pernah terjadi maupun yang hanya angan-angan saja. Aspek sinematografi, naskah, soundtrack, dan akting para tokoh pun sebenarnya sudah jauh dari kata buruk. Awalnya pada act 1, sangat jelas terlihat dari ritme editing dan dialog antar tokoh bahwa AADC 2 linglung dan pincang seperti orang yang baru saja berolahraga kembali setelah lebih dari empat belas tahun bermalas-malasan. Namun menjelang pertemuan Cinta dan Rangga kembali, film ini mulai mendapatkan nyawa yang seharusnya sudah hidup sejak awal cerita. Belum lagi ditambah rangkaian puisi indah yang ditulis oleh Aan Mansyur yang mampu menjadikan film ini memiliki subteks yang berlapis-lapis. Banyak yang berpendapat bahwa beberapa adegan saat pertemuan kembali Rangga dan Cinta terkesan klise dan kesinetron-sinetronan, namun penulis sendiri malah berpendapat bahwa cara Riri Riza menyajikan adegan ‘kesinetron-sinetronan’ tersebut dengan gaya satir dan komikal menunjukkan bahwa ia punya tujuan mulia untuk menghidupkan sedikit humor sarkastik di tengah pekatnya kegalauan yang meracau di film ini.

Besarnya antusiasme masyarakat pada AADC 2 yang membuat film ini mampu meraih 700 ribu penonton di hari ketiga penayangannya telah memberikan harapan bagi kebangkitan industri perfilman Indonesia akan kepercayaan penonton terhadap film-film yang mereka produksi. Tentu, penulis juga berharap hal ini akan berdampak positif pada perkembangan kualitas film romansa Indonesia, karena seharusnya dari kasus AADC 2 ini, para produser film Indonesia pun bisa belajar bahwa penonton film Indonesia tidak harus selalu disodori superfisialitas agar bisa menyukai film romansa. Sebagai sekuel penebus rindu, AADC 2 telah mempersembahkan sebuah nostalgia cinta yang manis, tulus, dan penuh warna tanpa pretensi dan pernyataan cinta yang berlebih-lebihan.

Namun layaknya sebuah penebusan rindu, film ini tidak akan membawamu kemana-mana kecuali ke masa lalu.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

5 Film Mencekam yang Terinspirasi dari Cerita Dongeng

If you expect the world to be fair with you because you are fair, you’re fooling yourself. That’s like expecting a lion not to eat you because you didn’t eat him.”

Hidup memang tidak selamanya selalu adil. Orang baik tidak selalu terlihat sebagai malaikat, dan orang jahat tidak selalu terlihat sebagai devil dengan tanduk diatas kepala dan tongkat yang tajam. Tetapi, bagaimana jika protagonis-protagonis kita kali ini berjuang mati-matian untuk mendapatkan apa yang memang sepantasnya mereka semua dapatkan?

Berikut adalah lima film mencekam versi penulis yang terinspirasi dari berbagai cerita dongeng penuh moral yang biasa kita baca sewaktu kecil.

  1. Black Swan (2010), Directed by Darren Aronofsky

image

Film psychological thriller/horror yang merupakan versi dark dan twisted dari dongeng Swan Lake milik Tchaikovsky ini bercerita tentang seorang ballerina muda bernama Nina (Natalie Portman) yang berjuang untuk mendapatkan peran White Swan yang anggun dan rapuh pada sebuah produksi ballet ternama di Kota New York, tetapi juga diharuskan untuk memerankan tokoh Black Swan yang sensual dan penuh intrik, yang sebenarnya juga diinginkan oleh seorang ballerina lainnya, Lily (Mila Kunis).

Secara otomatis, Nina yang sejak awal diceritakan memiliki kepribadian introvert dan sangat sensitif, mengalami kesulitan yang amat dalam mengatur emosi dan immense pressure yang dihadapinya, terutama saat ia menemukan dirinya berkompetisi dengan orang lain, dan bukan hanya dengan sang ballerina, Lily—melainkan dengan dirinya sendiri.

2. Hanna (2011), Directed by Joe Wright

image

Young, sweet, deathly. Ketiga kata yang sempurna untuk menggambarkan film action/adventure/thriller ini. Dengan skenario yang terinspirasi dari beberapa cerita dongeng berbeda milik Grimm, film ini menceritakan seorang remaja perempuan bernama Hanna (Saoirse Ronan), yang hidup di tengah pedalaman hutan Finlandia bersama ayahnya, Erik Heller atau “Papa” (Eric Bana), yang secara diam-diam merupakan seorang mantan agen CIA.

Sejak kecil, Hanna sudah dipersiapkan oleh Erik untuk menjadi assassin, yang pada akhirnya ditugaskan untuk berperang dengan seorang agen senior CIA bernama Marissa Wiegler (Cate Blanchett), yang sejak dulu berusaha untuk menemukan dan membunuh Hanna dan ayahnya. Things will be questioned, murders will be done, and mysteries will be solved.

3. Hansel & Gretel (2007), Directed by Lim Pil-Sung

image

Diselaraskan dengan judulnya, film horror asal Korea Selatan ini terinspirasi dari cerita dongeng anak-anak Hansel & Gretel asal Jerman. Menceritakan tentang Eun-soo (Chun Jung-Myung), seorang salesman yang tengah menyetir di Highway 69 sambil berargumen lewat telfon dengan pacarnya, Hae-Young, lalu secara tidak sengaja kehilangan kendali mobilnya dan menabrak batu. Setelah tidak sadarkan diri, Eun-soo menemukan dirinya terbangun ditengah hutan yang gelap dan hampir tidak berpenghuni, hingga pada akhirnya ia diselamatkan oleh seorang anak kecil misterius bernama Young-hee (Shim Eun-kyung).

Setelah menerima tawaran Young-hee untuk berteduh dan membersihkan diri di rumahnya, Eun-soo pun tersadar bahwa Young-hee bukanlah sekedar anak kecil lugu yang tinggal di hutan, terutama setelah Young-hee memperkenalkan Eun-soo kepada kedua saudaranya yang lain, Man-bok (Eun Won-jae) dan Jung-soon (Jin Ji-hee). Bersama orang tuanya, ketiga bersaudara ini tinggal di sebuah rumah besar nan misterius yang dinamakan House of Happy Children.

4. Freeway (1996), directed by Matthew Bright

image

Dibuat sebagai versi modern dari cerita dongeng klasik, Little Red Riding Hood, film crime/action bertabur bintang ini menceritakan tentang seorang remaja sarkastik berusia 15 tahun, Vanessa Lutz (Reese Witherspoon), yang setelah  bebas dari jeratan kekerasan seksual ayahnya, pergi untuk tinggal di rumah neneknya—seseorang yang belum pernah ia temui seumur hidupnya. Permasalahan mulai bermunculan saat mobil Vanessa rusak di tengah jalan, memaksanya untuk menerima bantuan dari seorang pengemudi lain yang terkesan ramah dan mudah dipercaya bernama Bob Wolverton (Kiefer Sutherland), yang tanpa ia ketahui merupakan seorang pembunuh berantai yang sedang ramai dicari polisi.

5. Suspiria (1977), Directed by Dario Argento

image

Berparalel dengan cerita dongeng Snow White, film fantasy/mystery asal Italia ini dianggap sebagai film dengan audio dan setting terbaik di akhir tahun 70-an. Bahkan, remake film Suspiria akan diris tahun depan, dengan Dakota Johnson dari Fifty Shades of Grey sebagai pemeran utamanya.

Bercerita tentang seorang ballerina asal Amerika bernama Suzy (Jessica Hadper) yang melanjutkan studinya pada salah satu sekolah ballet terbaik di Jerman, Suzy pun mendapati teman-temannya menghilang secara misterius dan dibunuh dengan berbagai cara yang grotesque dan tidak manusiawi. Ia tersadar bahwa tempat yang awalnya di anggap sebagai surga menarinya, ternyata memiliki sejarah yang mendebarkan dibalik semua fasilitas dan kemewahan yang ditawarkannya.

Film Suspiria merupakan installment pertama dari trilogi Three Mothers, yang kemudian diikuti dengan Inferno dan The Mother of Tears. Dalam ketiga film ini, pentonton akan dihadapkan dengan berbagai elemen supernatural (terutama evil witchcrafts), yang pada akhirnya akan membentuk sebuah kesimpulan psikologis yang mencengangkan.

image

Setelah menonton kelima film diatas, dapat disimpulkan bahwa fairy tales tidak melulu berisi putri-putri anggun dan cantik dengan berbagai gaun mewah yang purpose utama dalam hidupnya hanya bertemu pangeran-pangeran tampan and live happily ever after! Terkadang, there is (almost) no fine line between our protagonists and antagonists in real life, and that’s completely realistic and acceptable.

The Jungle Book (2016) – The Future of Storytelling

Sepanjang sejarah peradaban, manusia tidak pernah berhenti membuat cerita dan menceritakannya kepada satu sama lain. Sejarah mencatat bahwa cerita tertua yang pernah dibuat oleh manusia berasal dari Mesopotamia kuno, dibuat pada tahun 2700 SM di atas sebuah tablet iPad batu dengan judul The Epic of Gilgamesh yang mengisahkan tentang petualangan seorang manusia setengah dewa yang membangun kota Uruk dan kemudian berkelana untuk mencari tetua Utnapishtim. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, manusia juga selalu mencari cara untuk memodernisasi gaya bercerita mereka agar relevan dengan tren dan konteks sosiopolitik masyarakat di zaman mereka saat itu. Bukan hanya kecanggihan teknologi pada medium yang dieksplorasi, namun juga dari teknik dan struktur bercerita. Sebut saja Troy (2004) yang mengadaptasi Iliad dan Noah (2014) yang merujuk pada banyak versi kitab suci mengenai The Great Flood.

The Jungle Book pun merupakan salah satu kisah lama yang sudah beberapa kali diadaptasi dengan medium serta teknik dan struktur bercerita yang berbeda-beda. Rudyard Kipling, seorang jurnalis dan novelis asal Inggris, pertama kali menulis dan mempublikasikan cerita tersebut pada tahun 1894 sebagai hadiah untuk putrinya, yang dua tahun kemudian meninggal dunia di usianya yang keenam.

Sama halnya seperti Iliad dan The Great Flood, The Jungle Book menjadi cerita yang legendaris dan banyak menjadi bahan adaptasi oleh beberapa pihak (khususnya Hollywood) ke dalam medium bercerita yang berbeda-beda. Pertama kali cerita ini diangkat ke layar lebar oleh Korda bersaudara pada tahun 1942, lalu oleh Walt Disney dibuat versi animasi 2D pada tahun 1967 yang kemudian di-remake ulang menjadi live-action film pada tahun 1994.

Berdasarkan rentang zaman yang ditempuh setiap versi adaptasi (1942-1967-1994), adalah keputusan yang tepat untuk menciptakan kembali nostalgia antar-generasi dan meremake ulang The Jungle Book di tahun ini, tentunya dengan pendekatan yang relevan dengan kemajuan teknologi dan sinematografi di zaman ini.

Saat pertama kali melihat trailernya, penulis menganggap film ini tidak jauh berbeda dengan film kombinasi live action dengan CGI-Animation yang sudah kebanyakan dibuat oleh Hollywood sebelumnya (Avatar, Star Wars Ep. I-III, Scooby Doo, Alvin and The Chipmunks). Agaknya tidak perlu diingatkan lagi bahwa kecanggihan teknologi yang digunakan pada sebuah film tidak selalu menentukan bagus atau tidaknya film tersebut.

Namun saat menonton The Jungle Book langsung di teater IMAX 3D, penulis takjub setengah mati.

Bisa dibilang, film yang disutradarai oleh Jon Favreau ini sangat kuat dan all-out mengeksplorasi ketangkasan bercerita. The Jungle Book tidak semata-mata memanfaatkan CGI sebagai senjata utamanya, namun juga dalam segala aspek lain, baik dari framing composition sampai ke ranah scoring dan sound mixing. Biarpun fokus film ini hanyalah ‘menceritakan kembali’, namun kekuatan skrip yang diiringi dengan akting hebat seorang Neel Sethi sebagai Mowgli dan juga penampilan voice-over yang memukau dari para bintang ternama Hollywood seperti Idris Elba, Bill Murray, Christopher Walken, dan Scarlett Johansson berhasil membuat film ini menjadi sebuah remake langka yang melampaui kualitas para pendahulunya.

Yang menarik dari The Jungle Book versi Jon Favreau kali ini adalah keberanian Disney untuk membuka kegelapan yang dahulu disembunyi-sembunyikan dari cerita aslinya dan menggunakannya sebagai bumbu yang mampu menggetarkan jiwa para penontonnya untuk menangkap konteks environmental dan humanisme yang digaungkan film ini dengan efektif. Kita akan dibawa terlalu larut ke dalam rimba sehingga kita merasa ngeri saat adegan di mana Mowgli berhasil menuju desa dan melihat manusia-manusia yang mengelilingi ‘bunga merah’ besar yang menyala di tengah alun-alun. Terlebih lagi, bentuk para tokoh-tokoh hewan yang didesain begitu realistis dan buas ternyata tidak membatasi Jon Favreau untuk membangun karakter-karakter mereka menjadi tetap kuat dan komikal secara bersamaan. Lihat saja bagaimana Akeela, Shere Khan, Baloo, dan King Louie menghidupkan keberadaan mereka lewat dialog dan gaya berbicara yang sangat kental oleh ciri khas dan karakter masing-masing. Realisasi desain rimba dan semua tokoh hewan yang ada di film ini pun secara tidak langsung membuat para penonton mampu merasakan secara real-time experience betapa hutan rimba dan segala makhluk-makhluk buas yang ada di dalamnya pantas untuk dicintai dan dilindungi sepenuh hati.

Dan bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang jauh lebih ganas daripada hewan.

Singkat kata, film ini adalah contoh nyata dari pemanfaatan CGI yang tepat guna serta efektif dalam penceritaan lewat medium film. Seperti yang penulis katakan pada ulasan Eye in The Sky lalu, kemajuan teknologi—layaknya perang dan bencana alam—adalah hal yang tidak dapat dihindari, begitu juga tren serta habit para penonton film. Tidak ada yang salah dari CGI, asal penggunaan teknologi ini ditujukan untuk mendobrak batas-batas ide bercerita manusia serta mendukung penyampaian konteks dengan jauh lebih efektif kepada para penontonnya. Bukan hanya sekedar gimmick mimesis, tapi sebagai pendukung diegesis. Saatnya kita berhenti untuk berpura-pura menjadi hipster wannabe dan mulai mengakui bahwa penggunaan CGI sebagai pendukung dalam post-produksi sebuah film akan menjadi hal yang lebih lazim dilakukan di masa depan bukan hanya oleh para produsen film Hollywood, namun juga para indie filmmaker.

Amin.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Eye in The Sky (2016) – Rethinking War

Apa yang muncul di dalam pikiran kalian saat pertama kali mendengar ‘film perang‘? Jika kalian penonton film kasual, tentu jawaban kalian adalah ‘ledakan’ dan ‘baku tembak‘. Namun jika kalian penggemar berat film perang sejak zaman All Quiet on The Western Front, pasti kalian menjawab ‘anti-war’ atau ‘propaganda’. Dalam buku Alternative Scriptwriting: Beyond the Hollywood Formula yang secara mendetail dan sistematik membahas tentang formula bercerita film-film Hollywood, Ken Dancyger dan Jeff Rush, dua orang peneliti dan teoris film, menuliskan rangkuman dari keseluruhan analisis mereka tentang film perang secara umum,

“The war film genre is a national melodrama; these films are about transgression and power. How does the individual survive intact, physically and mentally? How are we, the audience, to feel about a particular war, or about war in general?”

Ada dua macam moral purpose yang biasa diselipkan ke dalam konteks pembantaian di dalam film-film perang pada umumnya. Kedua moral purpose itu dapat kita bedakan dari bagaimana cara film-film tersebut menggambarkan medan peperangan.

1. Propaganda & Patriotism: Film-film perang yang mengandung moral purpose ini biasanya selalu berfokus pada bipolarisme ‘kawan dan lawan’ serta nilai-nilai patriotisme yang dibela oleh sang karakter utama mati-matian. Medan peperangan biasanya diperlihatkan sangat seru dan memacu adrenalin di film ini, sehingga para penonton pun akan melihat tokoh utama di pihak ‘kawan’ sebagai seorang patriot sejati dan orang-orang di pihak ‘lawan’ sebagai musuh yang nyata bagi umat manusia. Ex: Rambo, American Sniper, Why We Fight series.

2. Anti-War: Meskipun terdengar seperti oxymoron, namun film perang anti-war adalah jenis film yang cukup populer meskipun tidak diproduksi dengan frekuensi yang masif karena memang tujuan utamanya bukan untuk meraup keuntungan besar. Film-film ini mengkritik kekejaman dan ketidakbergunaan perang dengan cara menggambarkan para karakter (tidak ada bipolarisme ‘kawan’ dan ‘lawan’ di sini) sebagai manusia-manusia kurang beruntung yang terjebak di dalam medan perang yang brutal, sadis, mencekam, dan tidak beradab. Ex: Full Metal Jacket, Apocalypse Now, Saving Private Ryan.

Secara mengejutkan, Eye in The Sky sukses untuk keluar dari kedua ‘zona nyaman’ tersebut dengan membuka sebuah perdebatan sengit tentang hasil serta konsekuensi moral dan politik dari sebuah aksi peperangan terhadap terorisme. Alih-alih menggambarkan pembantaian sebagai sesuatu yang ‘patriotis’ ataupun ‘tidak manusiawi’, film yang disutradarai oleh Gavin Hood ini memperlihatkan sebuah pembantaian sebagai sesuatu yang ‘necessary‘ dan ‘inevitable‘.

Saat sedang melakukan misi pengintaian lewat drone di sebuah rumah yang ternyata merupakan markas teroris di Kenya, Col. Katherine Powell (diperankan oleh Helen Mirren) dan Lt. Gen. Frank Benson (diperankan oleh mendiang Alan Rickman) harus berhadapan dengan sebuah situasi genting di mana mereka harus merudal para teroris yang sedang mempersiapkan operasi bom bunuh diri di dalam rumah tersebut. Kondisi menjadi semakin menegangkan saat tiba-tiba seorang gadis kecil datang dan kemudian berjualan roti tepat di luar pagar rumah tersebut. Bermacam argumen muncul dari berbagai pihak yang terlibat dalam operasi tersebut yang akan memancing dan memprovokasi pemikiran penonton tentang apakah hasil dari aksi penumpasan terorisme ini akan sebanding dengan luka dan nyawa yang harus dibayar gadis kecil itu dan orang tua mereka kelak.

Film ini mengandalkan suspensi yang ditimbulkan oleh konflik argumen dari tiga perspektif yang berbeda: militer, politik, dan sipil. Secara mengerikan, kamu tidak akan menemukan argumen yang terdengar salah. Ada kalanya kamu setuju atas dasar manusiawi bahwa teroris-teroris itu seharusnya ditangkap serta diadili dan anak kecil yang ada di luar pagar tersebut tidak seharusnya mati. Namun ada kalanya kamu juga setuju bahwa demi menyelamatkan nyawa ratusan orang, gadis kecil tersebut mau tidak mau harus menjadi martir. Terdengar apatis dan bahkan cenderung hipokrit, memang, tapi seperti itulah pertimbangan keputusan yang terjadi di saat-saat peperangan. Lewat kutipan dari seorang tragedian asal Yunani Kuno, Aeschylus, film ini telah memberikan ‘forewarning’ di awal film agar kita bersiap-siap untuk menghadapi hal tersebut.

“In war, truth is the first casualty.”

Seorang diktator Uni Soviet bernama Joseph Stalin pernah berkata, “The death of one man is a tragedy, the death of one million is a statistic.”  Eye in The Sky bukanlah sebuah film perang konvensional yang naif berteriak-teriak ‘we should fight to defend peace’ atau ‘we should avoid war at any cost‘. Film ini membuka mata para penontonnya untuk melihat ruang sempit di antara kedua pesan moral yang saling beririsan tersebut, bahwa perang–layaknya kemajuan teknologi dan bencana alam–adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari, dan keputusan yang paling bijak untuk diambil dalam sebuah situasi peperangan adalah untuk menghindari terjadinya statistik, bukan tragedi.

Oh, dan penulis patut memuji penampilan Hellen Mirren, Barkhad Abdi, Aaron Paul, serta si kecil Aisha Takow yang sangat memukau di film ini. Terkhusus untuk Alan Rickman, penulis berharap bahwa penampilan terakhirnya di film ini dapat membawa reputasinya jauh lebih luas dari semesta Harry Potter dan membuatnya dikenal oleh para milenial sebagai salah satu aktor Inggris paling berpengaruh di abad 21, bukan hanya sebagai Professor Snape.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

10 Cloverfield Lane (2016) – The Lesser, The Better

Kamu pernah pacaran dengan orang yang selalu mengekangmu dan membuatmu tidak nyaman? Pernah berpikir bahwa kamu malah bisa lebih meningkatkan kualitas dirimu apabila kamu jomblo? Tenang, jangan baper dulu. 10 Cloverfield Lane mempunyai masalah yang kurang lebih sama denganmu.

Jika kamu seseorang yang enak dilihat, berpenampilan sahaja, berkelakuan baik, serta cerdas dalam akal dan akhlak, begitu pun analogi dari film yang disutradarai oleh Dan Trachtenberg ini. Sejak sekuens pembuka sampai di paruh pertama act 3, film ini berhasil menciptakan ketegangan-ketegangan sederhana lewat sentralisasi karakter Howard yang utuh namun misterius secara bersamaan. Malah bisa dibilang, inti dari kekuatan cerita ini ada pada karakter yang diperankan oleh John Goodman tersebut. Plot device lain, seperti bunker sempit yang mengurung ketiga karakter tersebut (Michelle, Howard, Emmett), berbagai properti aneh yang bernaung di dalamnya, lubang udara yang sempit, serta dunia luar yang misterius berhasil dimainkan dengan logika-logika cerdas untuk membangun claustrophobic horror yang efektif membuat para penonton sulit bernafas serta menduga-duga siapa sebenarnya Howard dan apa rencana besar yang ia miliki. Penulis tidak akan menceritakan rangkuman sinopsisnya karena semakin sedikit yang kamu tahu tentang 10 Cloverfield Lane, akan semakin seru pula film ini untuk kamu tonton pertama kali, dan bahkan akan tambah menegangkan apabila kamu belum menonton Cloverfield sama sekali.

“Crazy is building your ark after the flood has already come.” – Howard.

Sebenarnya, di situlah permasalahan terbesar 10 Cloverfield Lane. Meskipun kita sebelumnya tidak diberi tahu apakah film ini merupakan sekuel, prekuel, atau sekedar spin-off dari Cloverfield, setidaknya lewat keterlibatan Matt Reeves, Drew Goddard, dan J. J. Abrams kembali di film ini kita sudah tahu bahwa film ini memiliki keterkaitan dengan film found-footage sci-fi horror tersebut. Bahkan dari judul film dan promosi pun sebenarnya sudah sangat eksplisit, yang di dukung pula oleh trailer yang mengaksentuasikan ‘Cloverfield’ saat menampilkan judulnya. Sangat disayangkan film ini tidak bisa dinikmati secara keseluruhan oleh semua orang karena branding ‘Cloverfield’ tersebut membuat twist keren di akhir film menjadi sesuatu yang sudah sepatutnya diharapkan ada oleh mereka yang sudah menonton Cloverfield terlebih dahulu.

Jika kita boleh berandai-andai, ada dua skenario yang bisa membuat film ini menjadi sebuah thriller yang lebih solid dan exceptional.

  1. Apabila film ini tayang terlebih dahulu sebelum Cloverfield, film ini akan menjadi sebuah snowball marketing untuk film Cloverfield yang akan ditayangkan beberapa tahun setelahnya. Secara visual, 10 Cloverfield Lane pun memang terlihat seperti indie low-budget sci-fi film yang akan memancing studio besar untuk membiayai versi blockbuster-nya, yang mana adalah Cloverfield itu sendiri. Terlebih, pertanyaan-pertanyaan besar yang ditimbulkan oleh film minimalis ini bahkan jauh lebih banyak dan membuat penasaran ketimbang Cloverfield yang skalanya sudah terlalu masif melibatkan seluruh kota dan pangkalan militer.
  2. Apabila film ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan cerita dengan Cloverfield, maka ending film akan dapat digarap dengan lebih matang sehingga twist yang tercipta akan jauh lebih tak terduga (jangan lupa, kita hanya berandai-andai).

Jika kamu orang yang peka, kamu akan merasakan bahwa di paruh kedua act 3, film ini terlihat seperti tidak nyaman bereksplorasi sehingga kapasitas kecerdasan skenario di ending pun menurun drastis. Dari hal berikut, dapat disimpulkan bahwa tanpa branding ‘Cloverfield’ ataupun alur cerita yang harus selalu mengacu pada film tersebut, film ini akan mampu dianalogikan sebagai high-quality (minimalist) jomblo yang mungkin mampu bersinar lebih terang menjadi salah satu film sci-fi horror terbaik di tahun 2016 ini. Itu jika kamu orang yang peka.

Entahlah, mungkin penulis hanya sedang butuh kepekaan seseorang saja akhir-akhir ini.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

Iseng (2016) – Bercerita atau Berceramah?

Idealnya, dalam bercerita, seorang pencerita tidak boleh menyisipkan opini pribadi yang bersifat menceramahi pada penikmatnya. Secara logika bahasa pun, sebuah cerita seharusnya bertujuan untuk menceritakan. Jika tujuannya untuk menceramahi, namanya ceramah. Maxime du Camp, seorang penulis asal Perancis, pernah secara sarkastis mendeskripsikan gaya bercerita yang ideal dengan mereferensikan gaya penulisan sahabatnya yang juga seorang novelis, Gustave Flaubert:

“If a novel allows the author’s opinions to show through then the novel deserves to be thrown on the fire. Impersonal and impervious, the writer stands in for his characters. Thinks and acts like them. The subject of work of art…is as nothing, the execution is all that matters.”

Pernyataan du Camp tersebut menunjukkan bahwa seorang novelis, ataupun pencerita pada umumnya, haruslah menjadikan karakter mereka sebagai pedoman pokok dari sebuah cerita tanpa harus melemparkan penghakiman apapun terhadap apa yang para karakter ini lakukan. Dengan begitu, para karakterlah yang kemudian akan menjadi penggerak sebuah cerita dan bukan penulisnya. Cerita yang ideal haruslah menjadi sebuah studi kasus dengan interpretasi konklusi yang subjektif bagi para penikmatnya. Bukan seperti yang sinetron-sinetron murahan Indonesia dengan orang tua lemah, anak durhaka, rentenir kejam, ustadz, dan petir ataupun kutukan yang merepresentasikan Tuhan sebagai karakter utamanya.  Bukan juga seperti apa yang Iseng lakukan.

20 karakter dalam empat cerita yang berbeda terhubung secara tidak langsung ke dalam sebuah peristiwa bunuh diri dan pembunuhan pada suatu malam. Diceritakan dalam konteks kehidupan masyarakat urban Jakarta dengan berbagai macam kelas sosial yang ada, Iseng memiliki premis yang sangat menarik meskipun tidak bisa dibilang unik karena sudah pernah digunakan oleh Selamat Pagi, Malam sebelumnya. Ada beberapa poin di dalam film ini yang bisa penulis puji karena telah direncanakan dan dieksekusi dengan sangat baik, namun ada juga yang patut penulis kritik karena alasan krusial yang menyangkut tentang idealisme sebuah cerita.

Biarpun film yang disutradarai oleh Adrian Tang ini mempunyai jumlah tokoh yang bisa dikatakan terlalu banyak untuk standar film drama-thriller, namun semua tokoh tersebut mampu bersinar dengan karakteristik mereka masing-masing dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi para penonton setelah keluar dari ruangan teater. Bahkan untuk tokoh dengan screen time tersingkat seperti si ‘pelanggan’ yang diperankan oleh Cecep Arif Rahman dan Andi yang diperankan oleh Fauzi Baadila pun masih tetap mampu tampil mengesankan. Agak segar dan mengejutkan melihat kedua bintang bela diri seperti Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman mampu memberikan performa akting yang natural tanpa harus melakukan adegan perkelahian sengit seperti yang mereka lakukan di The Raid 2.

Keempat konflik besar yang diusung ke dalam film ini pun sangat menarik dan sederhana, karena siapapun yang menontonnya, terutama orang Jakarta, pasti mampu mengaitkan cerita ini dengan kehidupan sehari-hari mereka. Seorang sekretaris kantoran yang suka tebar pesona kemana-mana, sepasang sahabat yang berusaha mencari rezeki dengan melacur di pinggir jalanan Jakarta, sekelompok preman yang ditugaskan untuk membunuh wanita yang menjadi selingkuhan bosnya, dan seorang maniak seks yang bekerja sebagai seorang koki di sebuah rumah makan. Meskipun memang secara sekilas mereka semua terdengar agak ekstrim di telinga kita, namun cara mereka bertingkah, bahasa yang mereka gunakan saat berdialog, dan latar belakang personal yang mereka miliki sangat mirip dengan orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-harinya sehingga mereka tidak harus berusaha terlalu keras untuk dapat menarik simpati kita. Mungkin hal ini juga yang membantu para aktor untuk dapat tampil lebih natural dan menyatu dengan tokoh mereka masing-masing. Aplaus untuk kehebatan sang penulis naskah Husein M. Atmojo yang mampu merangkai struktur naratif yang cerdas dengan tokoh sederhana dan kompleksitas emosional yang akrab dengan kehidupan kita, masyarakat Jakarta.

Sayang, kecerdasan film ini kemudian hancur lebur luluh lantak saat sebuah teks muncul di layar hitam sebelum judul film dan kredit titel muncul diselingi epilog yang menampilkan sekuens latar belakang personal para tokoh dengan desaturasi warna seperti adegan-adegan flashback pada umumnya. Lewat kedua hal tersebut, seperti ada sebuah penghakiman terselubung dari sang sutradara dan penulis naskah yang mencoba menyatakan bahwa semua kemalangan yang terjadi pada tokoh-tokoh ini semata-mata adalah kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu. Penulis yang sempat dibuat kagum sepanjang keseluruhan film tiba-tiba langsung dibuat jijik oleh usaha sang pencerita untuk berceramah dan lepas tangan dengan menghilangkan keberpihakan mereka pada moral setiap tokoh yang mereka ciptakan. Seandainya semua kelebihan yang penulis nyatakan di awal tidak terdapat dalam film ini, mungkin penulis akan secara tegas menyimpulkan bahwa film ini tidak ada bedanya dengan sinetron-sinetron ‘ustadz kame-hame-ha’ yang tayang setiap fringe time di stasiun televisi lokal Indonesia.

Seandainya sutradara dan produser film Iseng berani untuk menghapus kedua hal yang penulis kritik di atas, maka Iseng sejatinya dapat menjadi sebuah film yang mampu bersaing di festival film mancanegara dan menjadi kebanggaan insan perfilman Indonesia karena berhasil memotret kehidupan Jakarta yang kejam dan tanpa ampun dengan akurat dan tidak kalah lantang dari A Copy of My Mind. Ini film yang bisa dibilang keren secara teknis dan naratif, namun dengan ending yang menghakimi tersebut, film ini tetap menjadi sebuah khotbah, bukan sebuah cerita.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.