The Imitation Game (2014) – The Enigma of Equality

Salah seorang sineas ternama asal Polandia bernama Andrzej Wajda pernah mengatakan bahwa,

“When a film is created, it is created in a language, which is not only about words, but also the way that very language encodes our perception of the world, our understanding of it.”

Gue selalu terkagum-kagum setiap kali menemukan sebuah film yang dapat membahasakan banyak unsur kehidupan dan kemanusiaan dalam durasi yang relatif terbatas. Ada kalanya gue mencoba menulis ulasan tentang film tersebut, namun gue sering merasa kurang kredibilitas dan kurang ilmu yang pada akhirnya ngga jadi-jadi terus, termasuk The Imitation Game (2014) yang dulu urung gue ulas karena konten di film ini terlalu sensitif dan di luar batas kemampuan gue. Kali ini, gue mau mencoba menulis ulasan film yang sebenernya udah gue tonton dari empat bulan yang lalu ini dengan mencoba sedikit sok tahu. Sudah lulus kuliah kok, sekarang. Masak belum mau ada perkembangan?

Di tahun 1939, pasukan Nazi Jerman memulai serangannya ke Polandia, dan bersamaan dengan mobilisasi British Armed Force serta evakuasi rakyat sipil Inggris untuk mengantisipasi serangan udara dari Jerman, seorang ahli matematika terbaik di Inggris bernama Alan Turing (the famous Benedict Cumberbatch) direkrut oleh Commander Denniston untuk memecahkan Enigma, sebuah perangkat sandi paling mutakhir yang pernah dirancang sepanjang sejarah.

Meskipun bercerita tentang sebuah misi pemecahan kode sandi rahasia, treatment film ini sangat jauh dari atmosfer action-thriller ataupun war. Layaknya sebuah biographical drama, sutradara Morten Tyldum serta penulis skrip Graham Moore memfokuskan film ini pada konflik dramatis yang menimpa Alan Turing baik yang melibatkan rekan-rekan kerjanya maupun dirinya sendiri. Yang menarik adalah, seperti sub-judul yang gue berikan pada artikel ini, terdapat banyak sekali sandi-sandi yang mereka gunakan untuk membahasakan persamaan hak dan derajat bagi umat manusia. Tidak ada satu scene pun–atau bahkan satu dialog pun–yang terbuang sia-sia. Akan sangat panjang jika gue membahas scene demi scene, tapi gue akan coba merincikan beberapa poin penting yang gue dapatkan dalam film ini.

1. The Nature of Bullying, War, and Violence

“Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction and the act becomes hollow.” – Alan Turing

Alan mengatakan hal ini dua kali di dalam film ini. Yang pertama adalah flashback sequence Alan Turing saat di masa sekolah dasarnya, di mana ia sering ditumpahkan makanan dan dikurung di bawah papan kayu lantai kelas oleh anak-anak lain karena dianggap ‘aneh’. Yang kedua adalah ketika Alan dipukul oleh Hugh Alexander (Matthew Goode) karena menghalanginya untuk memberitahu Commander Denniston atas rencana agresi Jerman ke arah iring-iringan kapal penumpang di Samudera Atlantik.

 “Do you know why people like violence? It is because it feels good.” – Alan Turing

Tentu, kekerasan memang terasa menyenangkan bagi sang pelaku. Kekerasan adalah salah satu cara yang paling disukai sebagian manusia untuk merasa menjadi kuat dan perkasa di dunia yang berat bebannya membuat mereka menjadi lemah dan tak berdaya. Bagi yang sudah familiar dengan konsep cycle of abuse dari Lenora Walker (1979) tentu mengerti bahwa kekerasan bisa dikategorikan sebagai gaya hidup tidak sehat yang masih sering dianggap lumrah oleh masyarakat di lingkungan sekitar kita. Mengapa? Karena mereka tahu betapa menyenangkannya kekerasan, dan mereka memaklumi perbuatan itu biarpun mereka tahu bahwa korban merasakan sakit fisik dan mental. Mereka juga sudah memaklumi itu sebagai sebuah siklus kehidupan dan tidak mau ikut campur urusan pelaku dan korban. Mungkin film ini memang tidak menjadikan bullying atau violence sebagai pusat perputaran tata cerita, tapi untuk menyejajarkan kekerasan dalam konteks ‘bullying’ dengan ‘peperangan’ lewat repetisi dialog pada dua scene yang berbeda yang telah disebutkan sebelumnya adalah strategi yang cukup efektif untuk menyindir kelalaian dan ketidakpedulian kita terhadap kekerasan kendati cukupnya pemahaman kita tentang sebab bahaya dari kekerasan itu sendiri.

2. Feminism

“You said to finish under six minutes.” – Joan Clarke

Yap, semua dimulai saat Joan Clarke (Keira Knightley) masuk ke ruang ujian dengan disambut oleh pandangan skeptis para pengawas yang tidak percaya bahwa seorang perempuan berhasil memecahkan teka-teki silang. Melihat pada sejarah feminisime sendiri, meskipun kaum wanita sudah memperoleh hak untuk bekerja pada sektor non-militer dan industri, tahun 1939 memang masih menjadi zaman yang tabu bagi mereka untuk melakukan pekerjaan otak, apalagi di sektor intelijen. Blame the sexism. Nyatanya Joan membuktikan bahwa ia bisa jauh lebih unggul dibanding peserta ujian lain yang semuanya pria. Terlebih lagi, kedisiplinan serta kontribusi fisik maupun emosional yang Joan berikan terhadap Turing Machine maupun terhadap Alan sendiri memperlihatkan posisinya sebagai mitra kerja yang sejajar di dalam sebuah tim yang–lagi-lagi–semuanya pria. Graham Moore sebagai penulis skrip mampu merefleksikan karakter yang three-dimensional pada pribadi Joan Clarke lewat dialog yang mampu diperankan dengan sempurna oleh Keira Knightley dari awal kemunculan sampai akhir film. Penggambaran yang sangat baik ini seharusnya menjadikan Joan Clarke sebagai salah satu ikon baru bagi para modern feminist.

3. LGBT

“Do you know what they do to
homosexuals? You’ll never be able
to work again. Never be able to
teach. Your precious machine —
doubt you’ll ever see him again.” – John Cairncross

Sejujurnya, satu topik inilah yang beberapa kali membuat gue urung mengulas film ini. Bukan karena pandangan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih menganggap isu ini tabu, namun karena kompleksitas masalah yang disajikan. Sekilas, The Imitation Game dengan baik menggambarkan kondisi di dalam catatan sejarah di mana homoseksualitas masih dianggap sebuah penyimpangan berbahaya, dan menurut gue karakter Alan Turing serta plot yang disajikan di film ini–bagaimana Alan menamai mesinnya Christopher, pernyataan Alan pada Joan tentang orientasi seksualnya, ancaman dari John sang mata-mata terhadap Alan yang memergokinya, dan hukuman yang diderita Alan karena pengakuannya sebagai seorang homoseksual pada polisi–cukup baik menggambarkan tentang kekejaman pandangan masyarakat dan juga pemerintah Inggris yang salah kaprah terhadap sebab dan akibat dari homoseksualitas. Namun di lain pihak, film ini mendapatkan protes dari beberapa komunitas gay karena tidak adanya ‘gay sex scene’ sehingga menurut mereka Morten Tyldum dan Graham Moore tidak mempunyai nyali yang cukup untuk mengkampanyekan kebebasan hak kaum gay di seluruh dunia dan malah menganggap bahwa mereka berdua takut akan perolehan Box Office yang tidak mencapai target jika adegan yang masih ditabukan oleh banyak orang itu ditayangkan. Belum lagi adanya beberapa pihak yang mempermasalahkan orientasi seksual Graham Moore yang heteroseksual sebagai penyebab dari tidak adanya ‘gay sex scene’ di dalam film ini. Like, come on, gue orang yang netral terhadap isu homoseksualitas, namun bicara soal treatment film, adanya ‘gay sex scene’ hanya akan membuang-buang durasi karena seperti yang Morten Tyldum katakan di The Guardian,

The only reason to have a sex scene in the film would be to satisfy critics who feels that every gay character needs to have a gay sex scene.”

Pada hakikatnya, semua filmmaker memahami bahwa dalam setiap frame, setiap adegan, dan setiap dialog harus memiliki unsur yang sepadat mungkin untuk bisa menceritakan suatu hal yang banyak dan penting dengan durasi yang sesingkat dan seefektif mungkin, dan pernyataan Morten Tyldum di atas menurut gue cukup kuat untuk mempertahankan keputusannya dalam membentuk The Imitation Game menjadi sebuah film berdurasi sedang yang sangat padat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan persamaan hak.

The Imitation Game, sekali lagi, tidak mengandalkan twist dan suspense untuk menceritakan sebuah pemecahan kode rahasia paling mutakhir dalam sejarah PD II. Maka jangan berharap Benedict akan menjadi seorang Sherlock (TV Series) yang keren dan teknik editing yang secara visual meledak-ledak di film ini. The Imitation Game berbicara tentang manusia dengan cara yang sangat manusiawi, dan itulah sebabnya gue sangat merekomendasikan film ini untuk kalian tonton.

Apa, memang masih ada yang belum nonton?

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.

N.B.: Pidato kemenangan Oscar yang luar biasa menggerakkan dari Graham Moore sebagai Best Adapted Screenplay 2015.

“When I was 16, I tried to kill myself, because I felt weird, and I felt different, and I felt that I did not belong. And now I’m standing here, and I would like this moment to be for that kid out there who feels she’s weird or she’s different or she doesn’t fit in anywhere. Yes, you do. … Stay different, and then when it’s your turn, and you’re standing on this stage, please pass the message to the next person that comes along.”

Nonton Film di Bioskop Sendirian? Siapa Takut?

Pola sosial yang terbentuk pada masyarakat perkotaan dengan jumlah bioskop yang membludak membuat suatu pandangan bahwa menonton di bioskop HANYA merupakan salah satu cara untuk mengisi waktu luang bersama kerabat dan teman dekat. Paradigma ini nyatanya juga secara tidak langsung mempengaruhi pandangan mereka terhadap orang-orang yang memilih untuk menonton film di bioskop sendirian. Segala macam cap mereka lontarkan sembarangan, seperti “Kasian banget sih lo kayak ngga ada temennya” atau  “Duh, jomblo ya? Makanya cari pacar gih biar ngga ngenes-ngenes banget”, atau bahkan yang sedikit ekstrim seperti “dasar freak”. Gue pribadi–yang memang termasuk senang menonton film sendirian–sering dipandang sinis bahkan sama mbak-mbak penjual tiket di bioskop karena pas ditanya “buat berapa orang?” gue cuma jawab “satu aja”. Kebiasaan labeling seperti ini membuat orang-orang yang senang untuk menonton sendirian di bioskop merasa rendah diri atau bahkan menjadi kapok untuk menonton sendirian lagi.

Tapi serius deh, apa salahnya sih menonton di bioskop sendirian?

Lewat artikel ini gue akan mencoba mewakili para individual moviegoers (yang senang menonton di bioskop sendirian) untuk menjelaskan pada collective moviegoers (yang tidak mau menonton di bioskop kalau ngga ada yang menemani) bahwa mereka punya alasan yang lebih kuat terhadap kebiasaan mereka menonton film sendirian di bioskop daripada sekedar ‘ngga ada yang mau temenan sama gue’.

1. Apresiasi dan Rasa Cinta yang Tinggi

Please deh, untuk beberapa collective moviegoers yang sering memandang rendah para individual moviegoers, coba kalian renungi lagi kenapa kalian memandang mereka seperti itu. Di saat kalian, collective moviegoers, memandang film hanya sebagai sebuah hiburan numpang lewat yang akan kalian lupakan di kemudian hari (meskipun secara obyektif tidak ada salahnya untuk berpikiran seperti itu), namun para individual moviegoers lebih melihat film sebagai sebuah medium penyampaian pesan yang penting untuk diserap dan/atau karya seni yang patut diapresiasi. Belum lagi bagi para geek yang tergila-gila dengan beberapa sutradara atau cast film yang orang awam jarang mengenal, seperti Wes Anderson, Takeshi Miike, Meryl Streep, (alm) Philip Seymour Hoffman dll. Kalau mereka tidak menganggap film itu penting, untuk apa mereka menyusahkan diri datang ke bioskop sendirian dan mengeluarkan uang sebanyak demikian?

2. Pendirian dan Prinsip yang Kuat

Sudah jelas, bukan? Mungkin beberapa dari collective moviegoers mempunyai kecintaan dan pikiran yang sama terhadap film layaknya individual moviegoers seperti yang sudah gue terangkan di poin sebelumnya, namun karena pendirian dan prinsip mereka yang mudah goyah, mereka akhirnya menjadi minder dan lebih memilih untuk mengabaikan rasa cinta dan apresiasi mereka hanya karena tidak ingin dianggap freak atau forever alone oleh lingkungan sekitar mereka. Kalau gue jadi Rangga di film Ada Apa dengan Cinta (2002), gue bakal ngatain mereka “Kayak ngga punya pendirian aja sih”, namun jujur sebenarnya gue bersimpati terhadap collective moviegoers seperti ini, karena memang pada dasarnya manusia memang peduli dengan kasih sayang dan image pribadi mereka, namun baca artikel ini sampai selesai dan gue akan jelasin kenapa mereka patut untuk memperkuat pendirian dan prinsip mereka. Untuk individual moviegoers, selamat!

3. Sense of Intimacy

Tak bisa dipungkiri, individual moviegoers punya suatu hubungan yang erat dan sakral dengan film yang berakar dari dua poin yang gue sebutkan sebelumnya: rasa cinta, apresiasi, pendirian, dan prinsip. Jika kalian merasakan dengan seksama, akan ada sesuatu dalam diri kalian yang berubah setelah kalian menonton sebuah film. Entah kalian akan merasa jauh lebih badass, melankolis, atau bahkan bisa merujuk pada gejala psikosomatis, tergantung film yang kalian tonton. Pas dulu gue menonton premiere The Raid 2 (2014), gue merasa badan gue sakit semua setelah film selesai, dan gue langsung ingin pergi ke panti pijat atau spa terdekat, namun di satu sisi gue juga merasa lebih perkasa, tangguh, dan bahkan lebih ‘terbakar’ daripada sebelumnya. Hal inilah yang sebenarnya menjadi prioritas bagi sebagian individual moviegoers. Film itu seperti narkotik bagi mereka, dan mereka harus fokus untuk bisa merasakan pengalaman yang berbeda-beda secara total tanpa harus ada campur tangan atau pengaruh dari orang lain yang menonton bersama mereka. Kalau yang namanya menonton bersama orang lain, pasti mereka akan diajak mengobrol ataupun diberikan opini-opini (yang terkadang tidak relevan) yang akan mengganggu konsentrasi mereka. Bagi mereka, “Ngapain menonton bareng orang lain? Ganggu doang.”

4. Idealisme Pilihan Film

Ini sebenarnya alasan paling sederhana yang memang benar adanya bagi para individual moviegoers. Kalau kalian pergi ke bioskop sendirian, nggak akan terjadi perdebatan sengit dengan pihak lain tentang film apa yang harus kalian tonton, dan bagi sebagian pecinta film yang kurang digandrungi masyarakat awam, menonton sendirian tidak akan membuat mereka harus mengalah terhadap keputusan mayoritas. Ini perihal kebebasan memilih, Bung!

5. The Joy of Solitude

Shia-LaBeouf-Watching-His-Own-Movies-Pictures

Poin ini sebenarnya hanya berlaku bagi para introvert, individualis, dan bahkan juga para anti-sosial. Film adalah sarana untuk menyalurkan hasrat eskapis mereka yang sudah merasa cukup muak terhadap omong kosong dan kepalsuan realita, dan agak hipokrit bagi mereka untuk menonton film dengan ditemani oleh bagian-bagian dari realita mereka yang mereka anggap busuk. Mereka ingin istirahat sejenak dan meluncur di atas kereta wisata menuju dunia yang dirancang sang sutradara. Sendirian. Mungkin bagi sebagian orang, ini bukan alasan yang baik, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan harus berbagi kebahagiaan satu sama lain. Namun dipandang dari perspektif eksistensialisme, terlepas dari segala macam klise dan jargon tentang kebersamaan, kita semua berjalan sendirian di dunia ini, dari hidup sampai mati. Terhadap mereka yang berpikiran seperti itu, sah-sah saja buat gue. Atau ada pula dari mereka yang sebenarnya secara sosial tidak canggung, namun mereka manusia mandiri yang sudah mengerti bahwa satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan mereka hanyalah diri mereka sendiri, dan mereka tidak mau repot-repot membujuk teman mereka yang sedang sibuk untuk menonton bersama-sama, pun tidak menganggap itu sebagai halangan untuk menonton film yg ingin mereka tonton.

Ada begitu banyak alasan yang logis dan relevan untuk kalian sebagai individual moviegoers untuk melanjutkan kebiasaan kalian menonton film sendirian di bioskop, dan untuk para collective moviegoers, semoga artikel ini bisa memberikan kalian pandangan baru untuk belajar memahami serta tidak melemparkan sembarang labeling pada individual moviegoers yang bisa menyakiti perasaan dan self-esteem mereka, apalagi sampai merusak image mereka di mata lingkungan sosial mereka. Pada akhirnya, kita sama-sama manusia yang senang menonton film. Buat apa saling merendahkan satu sama lain?

9 Tokoh Anti-Hero Modern Terfavorit dalam Film

Akui saja, kita tahu bahwa kita mulai dewasa ketika kita menganggap ‘anti-heroes’ itu seksi dan layak dicintai. Mereka adalah representasi dari betapa lemah dan tidak berdayanya kita dalam mencoba untuk merangkak naik menuju puncak tertinggi dari pandangan idealis kita terhadap kesempurnaan. Di mata kita yang sudah terbiasa mencicipi pahitnya realita, ‘anti-heroes’ layaknya malaikat yang jatuh ke Bumi dan menjelma menjadi berbagai macam wujud: pecundang yang baik hati, penjahat yang menyedihkan, ataupun seorang idealis humanis yang tolol. Dalam kebudayaan film modern, ada beberapa tokoh ‘anti-hero’ yang patut kita simak dan perhatikan bagaimana mereka mampu merefleksikan diri kita dalam kehidupan nyata.

1. Riggan Thomson – Birdman (2014)


Why?: Impian paling sederhana dari seorang pecundang adalah untuk tidak dianggap sebagai pecundang. Sesederhana itu, dan Michael Keaton berhasil memerankan seorang Riggan Thomson yang ingin lepas dari bayang-bayang masa lalunya sebagai maskot superhero komersil anak-anak dan ingin membuktikan bahwa sebagai individu ia memiliki talenta seni yang pantas untuk diakui, dan seperti layaknya seorang ‘anti-hero’, he overestimated himself too much.

2. Andrew Neiman – Whiplash (2014)


Why?: Siapa yang tidak jatuh cinta dengan anak muda menyedihkan dengan idealisme dan ambisi buta untuk menjadi musisi legendaris? Siapa yang tidak merasa simpati ketika dia harus berhadapan dengan guru brutal yang kejam dan bengis demi mencapai mimpinya? Terlebih lagi, siapa yang tidak terpesona melihat pemuda ini merangkak keluar dari mobil dan berlari memaksakan diri bermain drum di panggung audisi dengan darah yang masih berceceran di sekujur tubuhnya?

3. Frank & Roxy – God Bless America (2012)

Why?: Mereka berdua sama-sama membenci apa yang kita benci. Pembodohan publik, disfungsi sosial, dan kefanatikan. Mereka merupakan perwakilan dari imajinasi terliar kita dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut: “Bunuh-bunuhin aja sampai semua sumber masalahnya mati, kan kelar tuh”. Kita tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan salah. Tapi kita mampu memaklumi mereka dan pada akhirnya ikut bersimpati terhadap miringnya jalan pikiran mereka dan konsekuensi yang harus mereka hadapi di akhir cerita.

4. Yu Honda – Love Exposure (2007)

Why?: Pada saat diwawancarai di acara BAFTA: A Life in Pictures, David Fincher, salah satu sutradara ternama Hollywood, mengatakan bahwa “Basically, people are perverts.” Inilah kenapa gue memasukkan Yu sebagai salah satu anti-hero terfavorit, karena dia mampu menunjukkan betapa mesumnya kita, terutama para pria, dan bagaimana kebodohannya membuat dia melakukan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan, seperti mengabdi di perguruan mesum dan menjadi seorang maestro dalam memotret celana dalam wanita. Lagi-lagi kita akan merasa ikutan malu dibuatnya.

5. Mark Zuckerberg – The Social Network (2010)

Why?: Terlepas dari akurat atau tidaknya penggambaran sang inventor Facebook dalam film garapan David Fincher ini, Jesse Eisenberg mampu menjadi karakter nerd yang mampu membuat pecundang asmara dan sosial seperti kita merasa simpatik dan terhubung satu sama lain. Gue pribadi sih, jadi merasa bersyukur mengetahui bahwa gue nggak sendirian, dan orang-orang sehebat Mark ternyata mampu membuat sebuah alternatif yang (nyaris) sempurna terhadap pergaulan dan jejaring sosial yang tradisional. Coba deh, sebelum ada Facebook, para nerd cuma berani show-off dan curhat tentang dirinya di dalam diary, bukan di status updates.

6. Sonny Wortzik – Dog Day Afternoon (1975)

Why?: Dia adalah tipe penjahat yang sebenarnya bukan orang jahat dan nggak bisa jadi jahat. Pada awal perampokan bank, semua berjalan dengan menegangkan sampai suatu ketika Sonny bilang “I’m a Catholic. I don’t want to hurt anybody.” Kemudian semua akan berubah menjadi sangat menyenangkan saat kita tahu bahwa penjahat konyol yang diperankan oleh Al Pacino ini merampok bank untuk membiayai operasi transgender pacarnya.

7. Neville Longbottom & Severus Snape – Harry Potter Series (2001 – 2012)


Why?: Alright, alright. Calm down, Muggles, I’m on your side! Gue mengalami perkembangan pola pikir dan beranjak dewasa bersama Harry Potter series. Selain trio wizards yang menjadi tokoh utama, kedua orang ini adalah penyihir-penyihir yang ada di belakang Harry dan ikhlas serta setia melindunginya. Neville Longbottom, dengan karakternya yang pada awalnya introvert dan penakut, ternyata berani menolak untuk tunduk pada kekuasaan tertinggi kegelapan Lord Voldemort dan dia pula yang menggotong mayat Harry sambil berpidato di depan kubu Voldemort dan Hogwarts bahwa “Harry Potter akan selalu hidup di dalam hati kita!” Dan si malang Severus Snape? Dia adalah simbol dari lelaki lemah yang memilih untuk tetap setia pada cinta terakhirnya yang tak akan pernah berbalas. Severus Snape adalah kita. Hidup Severus Snape!

8. Tyler Durden – Fight Club (1999)

Why?: Di dalam bukunya yang berjudul “Stranger than Fiction”, Chuck Palahniuk, yang juga menulis novel Fight Club yang akhirnya diadaptasi menjadi sebuah film oleh David Fincher ini memberikan penjelasan bahwa semua cerita yang ia tulis berkisah tentang orang-orang yang mencari cara-cara unik untuk berinteraksi dengan kehidupan sosialnya. Inilah yang sebenarnya berusaha diceritakan oleh Fight Club. Kebanyakan orang lebih terfokus pada permasalahan psikologi yang dialami Tyler dan narator, tapi mereka lupa bahwa film ini banyak membuat perumpamaan terhadap manusia-manusia yang membenci dirinya sendiri dan lebih memilih untuk tenggelam dan hilang dalam identitas palsu yang mereka buat demi sebuah penerimaan.

9. Travis Bickle – Taxi Driver (1976)

Why?: Ngga perlu nanya kenapa sih kalau kalian udah nonton salah satu masterpiece dari Martin Scorsese ini. Travis Bickle adalah icon modern dari Sisyphus. Dia adalah produk dari sebuah pemikiran eksistensialisme manusia-manusia kesepian dan bodoh yang ingin mengejar sebuah konsep kesempurnaan dari idealisme mereka. Travis tahu apa yang dia inginkan, dan dia tahu itu semua tidak akan jatuh tiba-tiba di atas tempat tidurnya, jadi ia terus berusaha, meskipun lama kelamaan dia hanya terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Lagipula, bukankah kita juga seperti itu?

Long live Anti-Heroes!

Honorable Mention:

Frank Darbo – Super (2009), Dave Lizewski – KickAss (2010), Mike & Mallory – Natural Born Killers (1994), Vincent & Jules – Pulp Fiction (1994).

7 Film dengan Ending yang Paling Menyebalkan

Beberapa dari kita secara umum menyukai akhir cerita bahagia layaknya dongeng-dongeng Disney ataupun film-film action Blockbuster Hollywood yang menonjolkan tokoh utama dengan kekuatan istimewa yang mampu menyelamatkan dunia. Beberapa juga tergila-gila pada ending menyedihkan yang mampu membuat mereka berlinangan air mata dan mengibakan kondisi tokoh utama yang lemah dan tak berdaya menghadapi permasalahan mereka di akhir cerita (baca juga “7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Kalian Dengar”). Namun, ada pula dari kita yang secara unik memiliki ketertarikan terhadap ending film yang bukan hanya mampu membuat kita merasa depresi, namun juga terkejut dan bahkan murka semurka-murkanya terhadap akhir cerita yang berlawanan jauh dengan apa yang kita harapkan sebelumnya. Untuk kalian yang kecanduan terhadap siksaan mental tersebut, berikut akan gue berikan rekomendasi 7 film dengan ending menyebalkan yang bisa bikin kalian melemparkan barang apapun yang ada di dekat kalian secara liar di akhir film.

1. Sightseers (2013) – Directed by Ben Wheatley.

Film ini diawali dengan sangat romantis. Dua orang yang sudah saling bertunangan, Tina (Alice Lowe) dan Chris (Steve Oram) memutuskan untuk mengadakan ‘road trip’ dengan sebuah mini van meskipun ibu dari pihak wanita (Eileen Davis) tidak merestui hubungan mereka. Film berjalan dengan sangat manis sampai akhirnya mini van yang mereka kendarai melindas seorang pria gemuk sampai mati di parkiran mini market. Kita akan dibawa menuju sebuah praduga kuat terhadap kondisi kejiwaan Chris yang ternyata memang seorang idealis psikopat cerdik yang tidak bisa mengontrol dirinya untuk membunuh orang-orang yang mengganggunya selama perjalanan bersama Tina, yang perlahan-lahan terpengaruh oleh cara berfikir Chris yang telah membuatnya merasa nyaman dan klik dengan caranya yang memperlakukan Tina dengan sangat baik. Film dengan tone yang cukup gelap ini mampu membuat kita kebingungan dengan absensi moralitas dan pembenaran psikopasi dengan alasan idealisme dan cinta yang cukup mendominasi dari Chris dan Tina. Endingnya juga cukup manis. Mereka berlarian di tengah padang rumput setelah membakar mini van mereka yang telah menjadi barang bukti pembunuhan dan berjalan menuju sebuah tebing curam untuk bunuh diri bersama sambil bergandengan tangan dengan diiringi lagu “The Power of Love” dari Frankie Goes to Hollywood sampai pada akhirnya…WHAT!!??

After-Ending Reaction:

2. Oldboy (2003) – Directed by Park Chan-Wook

Gue ngga menyarankan kalian untuk menonton versi Hollywood remake-nya karena hasilnya sangat mengecewakan. Film yang disutradari oleh maestro revenge-thriller yang sudah diakui kritikus dan pembuat film di seluruh dunia ini bercerita tentang seorang pria bernama Oh Dae-su (Choi Min-sik) yang melakukan pembalasan dendam setelah 12 tahun disekap di dalam sebuah penjara dan disiksa secara mental oleh seseorang yang tidak ia ketahui siapa. Dengan segala petunjuk dan ilmu yang ia pelajari serta keahlian bela diri yang ia asah selama penyekapan, ia melalui perjalanan misterius, menegangkan, dan gila (terutama scene yang melibatkan sushi dan gurita) ditemani seorang wanita lucu yang submisif bernama Mi-do (Kang Hye-jeong). Film yang juga mahsyur karena salah satu adegan perkelahian yang terjadi di lorong sempit ini mempunyai twist ending luar biasa cerdas sekaligus mengejutkan. Bagi mereka orang-orang yang terpilih mungkin akan berpikir bahwa Oldboy bukan hanya film thriller dengan ending yang tidak terduga, tapi juga sekaligus film tragedi tentang ayah dan anak yang sangat menyedihkan.

After-Ending Reaction:

3. Funny Games (1997) – Directed by Michael Haneke

Hollywood pernah meremake film ini pada tahun 2007 dengan bintang utama Naomi Watts, Michael Pitt, dan Tim Roth. Terserah kalian mau nonton yang mana, karena kedua versi sama-sama disutradarai oleh Michael Haneke yang memang ahli dalam meramu sifat ketidakpuasan dan keterasingan dalam pribadi tiap karakter yang ia ciptakan. Film yang cenderung sadis dan brutal secara psikologis ini bercerita tentang dua orang pemuda berpakaian seragam golf yang menawan satu keluarga di dalam rumah mereka sendiri. Sederhana, memang, namun kekonyolan tingkah laku kedua pemuda yang sangat tenang seperti sedang bermain-main dengan kekejaman mereka tersebut sanggup untuk menimbulkan amarah yang luar biasa bagi para penonton bahkan kepada mereka yang sudah terbiasa dengan film-film slasher sekali pun. Sebenarnya hal paling menyebalkan di film ini bukan pada endingnya, tapi lebih tepatnya pada adegan ‘Remote Control’ sebelum ending–yang sebelumnya kita harapkan berakhir bahagia–terjadi. Bukan hanya karena menarik ulur emosi kita, namun juga karena terkesan sangat tidak logis, memaksakan, dan juga tidak memberikan moral content apapun pada keseluruhan cerita ini. Tapi menurut gue disitulah letak keunikan dan keistimewaan film yang hanya terfokus di satu latar ini. Funny Games hanya ingin bermain-main dengan reaksi lucu kalian saat menontonnya sampai akhir.

After-Ending Reaction:

4. Eden Lake (2008) – Directed by James Watkins

Tema yang diangkat oleh film slasher dari Britania Raya ini kali ini adalah kenakalan remaja. Bullying? Hmm…bisa jadi, kalau kalian menganggap sekumpulan anak (super) nakal yang meneror pasangan orang dewasa yang sedang berlibur di pinggir danau itu juga jenis ‘bullying’. Tidak seperti film slasher pada umumnya yang menjadikan remaja-remaja nakal sebagai korban dari psikopat misterius yang mengincar mereka untuk dibunuh satu persatu, Eden Lake malah menjadikan mereka sebagai pelaku utama pembunuhan dan penyiksaan pasangan dewasa yang sedang melakukan piknik romantis. Bayangin aja, pria semacho dan seganteng Steve (Michael Fassbender) bakal diacak-acak sampai menangis seperti bayi oleh para remaja super nakal berwajah super menyebalkan ini. Sang perempuan, Jenny (Kelly Reilly), seperti biasanya film slasher, adalah yang paling mampu bertahan sampai 10 menit sebelum ending film yang bakal meledak-ledakkan emosi kalian. Yah, setidaknya, kalian akan berjanji untuk menjadi orang tua yang baik dan tegas pada anak-anak kalian kelak di masa depan setelah selesai menonton film ini dan selesai bergulat dengan percikan api amarah yang masih akan menyala-nyala seterusnya.

After-Ending Reaction:

5. Prisoners (2013) – Directed by Denis Villeneuve

Dibintangi oleh dua punggawa Blockbuster Hollywood, Jake Gyllenhaal dan Hugh Jackman, film ini adalah sebuah crime-thriller emosional yang mungkin terlewatkan oleh kalian di tahun 2013 kemarin karena rilis pada musim panas di mana Iron Man 3, Star Trek: Into Darkness, dan Fast 6 lebih merajai singgasana bioskop dunia. Cerita berfokus pada Keller, yang kehilangan anak dan teman anaknya secara misterius pada saat sedang merayakan hari Natal bersama keluarga. Beberapa hari kemudian, Detektif Loki (Jake Gyllenhaal–iya, bukan Tom Hiddleston) menangkap Alex Jones (Paul Dano) yang terduga sebagai penculik anak-anak tersebut. Dikarenakan tidak cukupnya bukti, kepolisian melepas Alex dan memulangkannya ke rumah. Kecewa dengan lemahnya kepolisian serta dikendalikan oleh amarah buta, Keller menculik Alex dan menyekap serta memukuli sambil terus menginterogasinya secara paksa di dalam toilet rumahnya sendiri. Detektif Loki, yang mencurigai kelakuan Keller serta hilangnya Alex, mulai melakukan investigasi lanjutan hingga pada akhirnya menemukan fakta demi fakta yang mengungkap siapa pelaku sebenarnya di balik penculikan tersebut dan di mana anak-anak itu disembunyikan. Lagi-lagi, endingnya secara cerdik mempermainkan psikologi kita layaknya seorang gebetan yang suka menarik ulur emosi kita kemudian mencampakkan kita begitu saja. Anak-anaknya berhasil ditemukan, memang, walaupun dalam kondisi yang buruk. Tapi bukan itu masalahnya, karena ada hal lain yang akan bikin kalian geregetan dan mengutuk sutradara film ini “Kurang Ajar” sebagaimana kita mengutuk gebetan yang telah meninggalkan kita.

After-Ending Reaction:

6. Triangle (2009) – Directed by Christopher Smith

Satu lagi film menyebalkan yang berasal dari Britania Raya. Bagi kalian pecinta teori konspirasi, film ini akan memuaskan hasrat fantasi kalian tentang apa saja yang akan terjadi ketika perahu kalian melintasi kawasan Segitiga Bermuda dan terjebak di dalam sebuah badai. Saat Jess (Melissa George) dan teman-temannya mengalami hal tersebut, mereka menemukan sebuah kapal penumpang besar yang kosong dan mereka naik ke atasnya mencoba untuk mencari pertolongan. Namun tiba-tiba seseorang dengan topeng dan jaket hitam memburu mereka satu persatu sambil menembaki mereka dengan shotgun. Tidak ada yang tersisa kecuali Jess, yang semakin berusaha untuk keluar dari kapal, malah menemukan keganjilan demi keganjilan yang berujung pada sebuah fakta mengerikan yang harus Jess alami seumur hidupnya. Terlalu banyak spoiler yang ngga bisa gue ceritakan di sini yang kalian akan paham kenapa jika kalian sudah selesai menonton film yang secara absurd mengerikan ini.

After-Ending Reaction:

7. The Mist (2007) – Directed by Frank Darabont

HERE COMES THE KING! *pun intended* Oke, sejauh ini dari enam film yang gue share di atas, film ini yang paling memenuhi syarat untuk dinobatkan sebagai film dengan ending paling menyebalkan yang pernah ada. Diangkat dari novel Stephen King berjudul sama, film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang tiba-tiba diselimuti kabut yang sangat tebal di mana terdapat monster besar dengan tentakel yang misterius yang akan membunuh siapapun yang ada di luar ruangan. Beberapa penduduk kota yang tersisa mencoba untuk bertahan dan berlindung di dalam sebuah supermarket. Perbedaan kepercayaan, sifat, serta kepentingan menimbulkan konflik yang tidak bisa dihindari sehingga beberapa harus mencoba keluar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagi-lagi, seperti apa yang pernah gue lakukan pada Requiem for a Dream di artikel sebelumnya, gue harus memperingatkan kalian bahwa ending film ini bukan buat orang-orang berhati lemah. Gue ngga akan bertanggung jawab atas reaksi ekstrim kalian setelah menyaksikan akhir film yang menurut gue bahkan kelewat batas untuk bisa dibilang sebagai menyebalkan.

After-Ending Reaction:

Honorable Mention:

Arlington Road (1999), Audition (1999), The Descent (2005), 500 Days of Summer (2009)

The Disappearance of Eleanor Rigby (2014) – Kisah tentang Cinta, Luka, dan Trauma

Oke, ini bukan salah satu film yang terinspirasi dari The Beatles ataupun lagu mereka, Eleanor Rigby, yang berkisah tentang kesendirian. Bahkan satu-satunya cara film ini mereferensikan The Beatles hanyalah lewat dialog antara satu tokoh dengan tokoh yang lain di salah satu scene. Ceritanya bahkan tidak terlalu rumit, hanya tentang dua orang suami istri bernama Conor dan Elly yang mengalami perpisahan setelah satu insiden yang menimbulkan trauma seumur hidup bagi mereka. Uniknya, film ini terbagi menjadi tiga versi. Him (menampilkan cerita dari perspektif Conor), Her (menampilkan cerita dari perspektif Elly), dan Them (gabungannya/sudut pandang orang ketiga).

Film yang dibintangi oleh Dr. Xavier muda James McAvoy dan sang ‘Osama hunter’ Jessica Chastain ini mengusung tema cinta dan perpisahan dengan menggunakan atmosfer yang realis serta plot yang dewasa dan alur yang sedikit non-linear sehingga cenderung terkesan datar dan lamban. Penonton yang tidak biasa dengan film-film drama realis mungkin akan merasa sedikit jengah, namun filmgoers pemburu festival akan puas menyaksikan studi karakter dan psikologi kedua tokoh serta akting yang luar biasa natural dari James McAvoy dan Jessica Chastain.

Dilihat dari judulnya, pasti semua orang–termasuk gue–mendapat kesan awal bahwa film ini bercerita tentang pencarian seorang wanita yang hilang, Fokus cerita ini, kiranya, sebenarnya tentang pencarian kembali jati diri yang hilang karena sebuah hubungan yang hancur. Seperti yang Conor katakan pada Elly,

“You know, before you, i had no idea who i was. Then we were together, I thought i had it all figured out. Now i’m just back to wondering again.” – Conor Ludlow.

Seperti pada umumnya drama realis, kita akan banyak melihat hal-hal yang sangat familiar dengan kehidupan sehari-hari kita dan bagaimana cara kita dalam menyelesaikan permasalahan. Elly yang mengambil mata kuliah ‘Art Theory’ hanya dengan alasan “The class sounds interesting” demi perjalanan hidup yang baru dan menemukan dirinya sendiri lagi, Conor yang terlalu idealis untuk mandiri dan tidak mau ketergantungan terhadap ayahnya demi sebuah penebusan dosa atas rasa bersalah akibat trauma yang diderita, dan mereka yang berkali-kali menemukan satu sama lain dan berkali-kali memutuskan untuk berpisah sebelum akhirnya bertemu kembali hanya untuk membicarakan masa lalu yang mereka tak bisa lari darinya. Karena itu tidak heran jika di akhir film penonton akan merasa susah move-on dari kedua karakter yang sangat manusiawi ini. Alasannya sederhana, kita merasa sehancur dan setidak berdaya mereka.

Kalian tidak harus menonton ketiga versi film ini untuk bisa menikmati ceritanya. Cukup tonton ‘Them’. Namun kalau kalian memang tertarik untuk melakukan pembelajaran karakter dan psikologi Elly dan Conor dan menghubungkannya pada dunia nyata, maka kalian wajib meluangkan sehari penuh liburan kalian demi menonton ketiganya.

DISTOPIANA’S RATING:  3.5 out of 5.

6 Film untuk Ditonton Bersama Keluarga di Bulan Ramadhan

Marhaban yaa Ramadhan!

Di bulan yang penuh berkah ini, memang sangat benar jika ustadz/ustadzah bilang semua umat Muslim harus berlomba-lomba dalam kebaikan demi terbukanya pintu taubat dan pahala yang berlipat ganda. Namun tidak ada salahnya bila sesudah selesai melaksanakan ibadah, kita berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga tercinta sambil menonton film-film yang dapat meningkatkan pemahaman kita terhadap kasih sayang antar sesama manusia dan juga pada Tuhan YME. Nah, berikut ini gue punya beberapa rekomendasi film yang bisa kita tonton bersama keluarga baik sambil menunggu berbuka puasa atau sesudah sholat tarawih.

1. A Separation (2011) – Directed by Asghar Farhadi

Film asal Iran yang pernah memenangkan berbagai macam penghargaan termasuk Best Foreign Film of The Year (Oscar 2012) dan Best Foreign Language Film (Golden Globe 2012) ini bercerita tentang perceraian dan berbagai dampak buruk yang bisa ditimbulkan. Hal yang unik dari film ini adalah kita tidak akan digiring pada siapa atau apa yang salah dan benar. Asghar Farhadi dengan sangat brilian menciptakan karakter-karakter yang mampu menarik simpati penonton sehingga kita hanya akan fokus men-judge permasalahan yang mereka hadapi, dampak yang ditimbulkan, dan bagaimana cara menyelesaikannya. Film ini sangat baik untuk ditonton bukan hanya bagi anak, tapi juga bagi para orang tua agar tercipta keharmonisan di dalam keluarga yang dilandasi oleh kepercayaan, kasih sayang. dan pengertian.

2. Turtles Can Fly (2004) – Directed by Bahman Ghobadi

Secara personal, film ini adalah salah satu film anti-war yang paling saya sukai setelah Grave of The Fireflies (Baca Juga: 7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Kalian Dengar). Di sebuah tenda pengungsian Kurdi di perbatasan Irak-Turki, seorang bocah bernama Satellite yang terobsesi dengan teknologi dan bisa berbahasa Inggris memimpin sekawanan teman-temannya untuk mengumpulkan ranjau-ranjau yang bertebaran dan mengumpulkannya untuk kemudian dijual ke pasar agar dia bisa memasang antenna dan mempelajari serangan-serangan US berikutnya lewat gelombang radio Fox News yang ia peroleh. Dengan sederhana, film ini mampu menjelaskan tentang dampak dari konflik US – Iraq tanpa harus menjual sentiment negatif lewat isu-isu konspirasi ataupun propaganda anti-semit yang memojokkan satu pihak. Layaknya sebuah film yang dinilai baik bagi kritikus maupun sineas, film ini lebih menonjolkan drama kemanusiaan dan derita yang realis dengan tidak mengabaikan humor sebagai penyejuk layaknya oasis di padang pasir.

3. PK (2014) – Directed by Rajkumar Hirani

Oke, untuk film yang satu ini, mungkin orang tua kalian akan sedikit bawel karena ada satu adegan kissing di awal film dan beberapa referensi seksual yang agak tabu namun lepas dari ketelanjangan dan eksposisi hubungan intim—emm, Aamir Khan sedikit telanjang di awal film dan banyak adegan ‘mobil goyang’ meskipun tidak menunjukkan dengan jelas ‘kenapa bergoyang’. Belum lagi Anushka Sharma ini wajahnya bisa bikin puasa setiap laki-laki berkurang pahalanya (cantik banget broh). Tapi terlepas dari itu semua, PK merupakan sebuah film yang wajib tonton untuk setiap dari kalian yang mengaku masih menjadi seorang penganut agama. Meskipun pada akhirnya film ini sedikit judgmental dengan menunjukkan apa yang salah dan benar—walaupun sebagai manusia gue yakin kita bisa setuju dengan apa yang film ini katakan ‘salah’ dan ‘benar’—Rajkumar Hirani dan Aamir Khan mampu menyederhanakan sebuah persoalan pelik tentang perbedaan dan konflik antar-agama dengan gaya bercerita dan humor rasional jenius khas 3 Idiots. Film ini tentu saja tidak bebas dari kritik para pemuka agama yang menilai bahwa PK mengesampingkan tradisi-tradisi keagamaan sebagai sesuatu yang irasional dan terlihat ‘non-sense’, namun tidak dapat diragukan bahwa PK membawa perspektif baru tentang perdamaian yang mampu berjalan harmonis di dalam segala macam perbedaan.

4. Wadjda (2012) – Directed by Haifaa Al-Mansour

Agak mengejutkan untuk mengetahui bahwa film yang sangat inspiratif ini berasal dari Arab Saudi, sebuah negeri yang hanya memiliki satu bioskop di daerah Khobar dan memiliki industri film yang kecil dan relatif kurang produktif. Lebih mengejutkan (dan membanggakan) lagi bahwa sutradara dan penulis film ini adalah seorang perempuan, ya, di sebuah negeri di mana adalah tabu bagi seorang perempuan bahkan untuk bekerja. Diceritakan seorang anak perempuan bernama Wadjda yang sangat periang di lingkungannya yang konservatif berlatih keras untuk memenangkan sebuah lomba Murottal Qur’an demi hadiah uang tunai yang akan ia gunakan untuk membeli sepeda berwarna hijau dan mengalahkan temannya, Abdullah, dalam permainan balap sepeda. Film ini menyajikan sebuah pandangan baru terhadap kompleksitas budaya konservatif yang masih memandang tabu agresivitas dan progresivitas wanita lewat sebuah cerita yang sangat sederhana dan dengan karakter yang mampu menyentuh perasaan kita di titik nadir agar kita mampu memikirkan kembali konsep keagamaan yang sebenarnya tidak bisa lepas dari peran wanita sebagai manusia yang ingin berkembang.

5. Children of Heaven (1997) – Directed by Majid Majidi

Anak-anak yang lahir di jaman 90-an awal pasti pernah nonton film ini berkali-kali di stasiun TV swasta dulu. Biasanya film ini ditayangkan pas awal-awal libur Hari Raya Idul Fitri sekitaran tahun 2009 – 2011. Lagi-lagi cerita yang sangat sederhana, tentang seorang anak bernama Ali yang tidak sengaja menghilangkan sepatu milik adiknya, Zahra. Didorong rasa tanggung jawab dan ketakutan akan dimarahi orang tua mereka, Ali dan Zahra bersepakat untuk tidak memberitahu orang tua mereka tentang hal ini dan membuat perundingan tentang bagaimana Zahra akan memakai sepatu ke sekolah serta bagaimana Ali akan menemukan, atau pada akhirnya mengganti sepatu Zahra dengan yang baru. Tidak ada yang terlalu rumit dalam film ini hingga semua orang dari semua kalangan dapat menikmati dan menyerap pesan positif dari film keluarga tentang kakak beradik yang menghangatkan jiwa ini. Oh ya, yang jadi Zahra ucu anet loh :3

6. Life is Beautiful (1997) – Directed by Roberto Benigni

“Tom, kok dari tadi rata-rata filmnya dari Middle-East semua sih?” Iya deh, iya. Film yang terakhir ini datang dari negerinya Don Vito Corleone, yaitu Italia. Gue memasukkan satu film special dari luar tanah Timur Tengah karena film ini menyampaikan satu pesan yang sangat penting demi melawan pemikiran-pemikiran konservatif radikal yang mengabsolutkan kelicikan dan kejahatan semua orang Yahudi (bahkan ada beberapa ajaran yang membenarkan holocaust). Dikisahkan pada saat pendudukan Italia oleh Jerman pada zaman Perang Dunia ke-II, seorang pria Yahudi bernama Guido dengan selera humor dan kemahiran berceritanya harus membawa anaknya pada sebuah dunia imajinatif di mana Holocaust hanyalah sebuah permainan belaka demi menyelamatkan anaknya dari kamp konsentrasi Jerman. Roberto Benigni mampu menyajikan sebuah tragedi dramatis lewat penuturan yang humoris dan riang sehingga membuat kita kebingungan di akhir film apakah kita sebenarnya sedih atau malah merasa terhibur. Overall, seperti yang tadi gue bilang, film ini akan mematahkan konsep ‘kelicikan Yahudi’ sehingga kita para penganut agama lain akan mampu hidup berdampingan tanpa pretensi dan prasangka buruk serta menyadari bahwa iman yang baik adalah iman yang mampu berdiri tanpa harus dipengaruhi oleh unsur ‘common enemy’ terhadap agama lain.

Honorable Mention : The Color of Paradise (1999), About Elly (2009), The White Balloon (1995).

7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar

Kalian menangis ketika menonton kisah cinta tujuh menit pada awal film Up? Atau mungkin kalian juga ikut merasa simpati saat Wall-E masuk ke dalam pesawat luar angkasa dan mengelilingi seluruh galaksi hanya untuk bertemu dengan Eve? Harus gue akuin, itu emang momen-momen yang bisa bikin manusia paling perkasa di dunia langsung klemar-klemer nyariin tisu buat ngelap pipinya. Tapi kalau kalian memang senang menyiksa diri kalian dengan kesedihan-kesedihan semacam itu, berikut akan gue list beberapa film penguras air mata yang mungkin jarang kalian dengar, namun harus kalian tonton.

1. Detachment (2012)

Di film ini, Adrien Brody menjadi Henry, seorang guru pengganti yang ditempatkan di sebuah sekolah di mana murid-muridnya sudah tidak menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang penting buat mereka dan bahkan berani untuk meneriaki dan melempari guru mereka. Kita akan dibawa menuju sebuah kota di mana setiap jiwa penduduknya hancur berantakan dan sistem sosial sudah tidak mampu lagi berfungsi dengan baik. Lambat laun, dengan ketabahan dan cara mengajarnya yang tidak biasa, Henry mampu menjadi teladan bagi mereka dalam berempati. Namun sayangnya, tidak ada yang mampu untuk menyelamatkan manusia-manusia tersebut dari depresi dan kebencian mereka terhadap diri mereka sendiri. Banyak kritikus yang menulis ulasan buruk tentang film ini karena pesan yang disampaikan di akhir film cenderung nihilis dan depresif sehingga tidak memberikan solusi yang baik untuk permasalahan psikososial yang dibicarakan. Namun menurut gue malah ending yang seperti itu cukup mampu untuk memberi gambaran nyata dan menggugah masyarakat untuk sadar terhadap bahaya apati dan racun sosial lainnya sehingga kita bisa memperlakukan satu sama lain agar lebih baik lagi. Humans do have conscience, after all.

After Taste:

2. Short Term 12 (2013)

Secara sederhana, film ini menceritakan sebuah hubungan batin antara seorang pengasuh yang memiliki kondisi emosional rapuh dengan anak-anak di panti asuhannya. Atmosfernya mungkin kurang lebih sama seperti Detachment (2012), namun film ini lebih banyak berbicara soal keterasingan, pengabaian, dan kekerasan terhadap anak di bawah umur. Para calon orang tua layaknya wajib untuk menonton film ini agar mereka bisa melihat secara lebih dekat apa akibatnya bila mereka terlalu sering mengabaikan, melarang-larang, dan melakukan kekerasan baik fisik maupun emosional terhadap anak mereka. Oh, kalian bakal pecah saat Marcus menyanyikan lagu ciptaannya sendiri dan saat Jayden membacakan sebuah cerita yang ia tulis sendiri. Dunia kita sudah berantakan, kawan.

After Taste:

3. Silenced/Crucible (2007)

Di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Korea di mana murid-muridnya diperkosa dan disodomi oleh seluruh pihak sekolah, seorang guru bernama In Hoo (diperankan oleh Gong Yoo) harus memperjuangkan hak dari anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan melawan pihak sekolah yang menutup-nutupi kasus tersebut meskipun itu artinya dia harus melawan raksasa yang dilindungi oleh kejaksaan dan kepolisian yang korup. Lihat betapa tersiksanya anak-anak di sekolah tersebut, maka kalian akan tahu kenapa gue masukin film ini ke dalam list.

After Taste:

4. Grave of The Fireflies/Hotaru No Haka (1988)

Diceritakan sepasang kakak beradik bernama Seita dan Setsuko harus bertahan hidup setelah ditinggal mati ibunya dan ditinggal perang oleh ayahnya di masa Perang Dunia II. Seita yang tidak sudi diasuh oleh bibinya yang terlalu keras memilih untuk mengasuh sendiri adiknya dan tinggal di sebuah cerukan di bantaran sungai. Film ini banyak berbicara tentang perang dan dampak buruknya terhadap masyarakat sipil dengan animasi yang begitu memanjakan mata dan menyayat jiwa secara bersamaan. Gue sangat menyayangkan bahwa hanya sedikit orang yang tahu tentang film ini karena film ini harus ditonton oleh semua orang untuk mengingatkan mereka betapa berharganya hal-hal sederhana yang mereka miliki.

After Taste:

5. One Hour Photo (2002)

Yes, it is Robin Williams, your childhood favorite. Di film ini, dia menunjukkan sisi lain dari kemampuan aktingnya yang cenderung terkesan selalu ceria dan menceriakan. Di film ini dia berperan sebagai tukang cuci foto bernama Sy Parrish yang kesepian dan terobsesi pada sebuah keluarga pelanggan cuci foto di tempatnya bekerja. Robin tidak berperan sebagai komedian di sini, namun karakternya merepresentasikan orang-orang kesepian yang sering kita hiraukan, atau bahkan kita bully di dunia nyata. Bagi kalian yang merasa kesepian cuma karena jomblo, film ini bisa membuka mata hati kalian lebar-lebar tentang bagaimana rasa kesepian yang sebenarnya.

After Taste:

6. Dancer in The Dark (2002)

Beberapa orang yang sudah terbiasa menonton film Hollywood mungkin akan merasa jenuh menonton film ini karena medium film nya masih menggunakan pita seluloid dengan warna terbatas dan framingnya kurang memanjakan mata. Bjork, musisi eksperimental dari Iceland, di film musikal ini berperan sebagai Selma, single-mother periang yang senang berdansa, menyanyi, dan mendengarkan musik. Terdengar menyenangkan ya? Tentu tidak setelah lo tahu bahwa Selma mengalami penyakit kebutaan bertahap yang diwariskan oleh gen dan ia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik demi menabung untuk operasi kornea mata anaknya. Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh Selma akan membuat lo muak terhadap hidup yang terlalu kejam bahkan pada orang-orang baik seperti Selma.

After Taste:

7. Requiem for A Dream (2000)

Bentar, tarik nafas dulu.

Oke, untuk film yang satu ini, gue ngga bener-bener mengharuskan kalian untuk nonton. Seriously, nuansa film ini bukan buat semua orang. Film ini menceritakan tentang empat orang pecandu narkoba yang semakin lama semakin tenggelam dalam kecanduan yang pada akhirnya menggerogoti hidup mereka sampai hancur berantakan. Requiem for A Dream mungkin tidak membuat kalian menangis, tapi setidaknya akan membuat kalian berjanji untuk tidak akan pernah memakai narkoba dan tidak akan pernah menonton film ini lagi.

Serius, menurut gue dan sebagian film blogger lainnya, film ini terlalu menyakitkan untuk ditonton. Tapi kalau kalian masih penasaran ya, terserah. I warned you.

After Taste:

Honorable Mention : Sophie’s Choice (1982), Leaving Las Vegas (1995), Blue Valentine (2010), Revolutionary Road (2008).

6 Film Romance yang Dapat Mengubah Pandanganmu terhadap Cinta

Ngaku deh, beberapa dari kita udah bosen dengan film-film romance yang cuma mengunggulkan kegantengan dan/atau kecantikan para aktornya tanpa alur cerita yang substansial dan quotable conversation yang kedaluwarsa. Mungkin memang mayoritas penonton–apalagi di Indonesia–nggak peduli terhadap bagus atau tidaknya cerita yang ditawarkan karena memang dalam kehidupan mereka segala hal yang berkaitan dengan romansa memang gitu-gitu aja. Nah, buat kamu yang udah terlanjur muak dan pengen mendapatkan experience yang berbeda dalam menonton film romance, gue bakal kasih list 6 film yang bukan hanya bisa ngasih kamu perspektif yang berbeda tentang cinta.

1. Closer (2004)

Oke, film ini dibintangi oleh Jude Law, Clive Owen, Julia Roberts, dan Natalie Portman. Cukup gila bukan? Belum. Film ini bercerita tentang manusia-manusia yang saling berusaha untuk menjaga ketulusan di dalam lubang kebohongan dan godaan yang terlanjur memerangkap mereka. Banyak yang mendeskripsikan film ini sebagai circle of love, tapi buat gue ini adalah circle of seduction, karena yang gue lihat ngga ada yang bener-bener mencintai satu sama lain di sini. Perasaan-perasaan yang membuat mereka emosional hanyalah hasil dari pengkhianatan dan pretensi yang mereka ciptakan sendiri. Ngga ada yang bener-bener jatuh cinta dan ngga ada yang bisa disalahin.

Perspective Offered:

Pikir-pikir lagi deh sebelum bikin komitmen sama seseorang. Lo beneran cinta sama dia atau lo cuma penasaran dan tergoda doang? Nanti kalo kegoda sama yang lain atau dianya digoda sama yang lain gimana? Yang salah siapa?

2. Before Sunrise, Before Sunset, dan Before Midnight (1995-2014)

Beberapa temen yang udah gue rekomendasiin film ini banyak yang nggak suka karena dari awal sampai akhir isinya cuma dua orang yang ngobrol dan jatuh cinta lewat obrolan mereka masing-masing. Tapi film ini menceritakan secara realistis bagaimana kita harus menyikapi cinta ketika ruang, waktu, dan kehidupan saling berkonspirasi untuk mengacak-acak hubungan kita. Yah, kalo kalian suka ngobrolin hal-hal kecil namun pengen sesuatu yang beda dari yang lain, coba deh perhatiin seberapa quotable percakapan-percakapan kecil mereka.

Perspective Offered:

3. Casablanca (1942)

“Eh buset, filmnya ngga ada yang lebih tua lagi, Tom?” Coba deh tonton dulu. Film ini emang tua banget. Akting para casts di film ini memang masih mentah banget dan kualitas gambar juga memang masih hitam putih. Tapi IMO sampai sekarang belum ada film romantic epic yang ceritanya bisa sebaik dan sedewasa film ini. Dari film ini lah orang-orang bisa belajar tentang the mind and attitude of the true ladies and gentlemen.

Perspective Offered:

Gentlemen, please look at Rick and Victor. They don’t fight over a girl. Love is not about possession. Love is giving what is best for each other for the sake of love itself.

4. Love Exposure/Ai no Mukidashi (2007)

Yang sering kita tonton di bioskop maupun di rumah adalah film-film romance tentang perfect people in an imperfect world (how is world perfect, anyway?), tetapi film ini menawarkan sebuah cerita romansa unik tentang imperfect people in an ultimately imperfect universe. Konten film ini agak sedikit ngaco karena film ini tergolong film arthouse yang lebih ditujukan kepada konsumen festival dan ngga semua common public bisa nerima. Udah gitu durasinya lama banget (+-4 jam), tapi bagi yang seneng nonton film action jepang dan yang bisa nyambung sama kekonyolan dan ke-WTF-an film ini bakal betah mantengin ini film dan bakal ngasi applause di akhir film yang dramatis.

Perspective Offered:

5. The One I Love (2014)

Yes, people. It’s so weird, but it’s mindblowingly relatable. Dua pasangan suami istri harus berhadapan dengan kejadian-kejadian aneh di luar logika saat mereka mencoba menenangkan diri di sebuah villa demi memperbaiki hubungan mereka yang sudah retak. Film ini memiliki ide yang sangat sederhana namun tidak mampu terpikirkan oleh banyak orang. Kalau kalian suka film-film romance dengan plot twist yang tidak biasa, film ini recommended banget buat kalian.

Perspective Offered:

Would you surrender with something that is not real, but makes you  feel instantly happy? Or would you fix what is real and try to be happy with something real and fight for your happiness together?

6. Blue Valentine (2010)

Love hurts, and love can run out. Film ini berkisah tentang pernikahan yang kandas di tengah jalan karena sang istri merasa jengah dan risih berkepanjangan atas kondisi emosional sang suami yang selalu berubah-ubah. Bukan hanya itu, alur film yang non-linear juga akan membawa kita kedalam sebuah perjalanan manis getir Dean dan Cindy sejak mereka pertama kali bertemu sampai akhirnya mereka bercerai. And…boy, no matter how good your first sight story is, marriage can absolutely screws you over. Oh iya, endingnya simpel tapi nyakitin loh.

Perspective Offered:

You think love is sweet? Think again.

Honorable Mention:

[500] Days of Summer (2009) ; Punch-Drunk Love (2002); Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004); Roman Holiday (1953); Revolutionary Road (2008).

Whiplash (2014) – Neiman and Fletcher Love Story

Anda bosan dengan film-film musikal yang dipenuhi dengan lagu-lagu pop easy-listening? Jenuh dengan kisah cinta dan persaingan remaja bau kencur yang diiringi oleh musikal ala-ala Disney yang dinyanyikan dengan suara cempreng? Ingin melihat sebuah film musikal yang ganteng, seksi, dan maskulin tanpa dibumbui terlalu banyak romansa klise dan menye-menye? Dengan durasi 106 menit, sebuah film berjudul “Whiplash” akan mengabulkan keinginan anda!

Film ini adalah cerita tentang ambisi buta seorang pria bernama Andrew Neiman (diperankan oleh Miles Teller) untuk menjadi seorang drummer jazz legendaris. Demi mencapai mimpinya, ia harus menarik perhatian Fletcher (diperankan oleh J.K. Simmons), seorang guru penting di New York Music School dan juga konduktor di sebuah band orkestra jazz terbaik di Amerika. Segala cara dan pengorbanan dilakukannya, termasuk meninggalkan gadis idamannya yang telah berhasil ia kencani (diperankan oleh Melissa Benoist) dan membiarkan dirinya dilecehkan dengan kekerasan fisik yang dilakukan berulang kali oleh sang Fletcher, yang dikenal memiliki temperamen tinggi serta metode pelatihan yang sangat keras sehingga semua muridnya takut dengannya.

Rumusan permasalahan yang menjadi akar dari keunikan cerita ini adalah: “Seberapa jauh anda akan melangkah demi mengejar mimpi anda? Seberapa gila anda akan mendorong diri anda sendiri?” Memang terdengar biasa saja, namun cara Damien Chazelle—sang sutradara—menuturkan problema ini dalam sebuah hubungan antara seorang pelajar dengan gurunya dan ambisi mereka yang saling kejar mengejar satu dengan yang lain mampu membuktikan kepada pasar bahwa ‘ambisi’ merupakan suatu tema yang bisa mengalahkan ‘cinta’ yang lambat laun membasi karena diolah terus menerus tanpa membuahkan evolusi yang nyata. Terlebih, performa Teller dan Simmons serta editing dan sinematografi film ini—which is more to European style than Hollywood—akan membuat anda bergidik dan kesulitan untuk menenangkan diri sepanjang film berlangsung.

Ada suatu pernyataan penting yang diutarakan oleh Fletcher dalam film ini. “The most dangerous two words in the English language are good job.” Sebuah kalimat yang membuat kita berfikir apakah memang suatu bakat yang luar biasa dapat dipanen dari pembudidayaan potensi dengan metode radikal seperti yang Fletcher demonstrasikan? Dipandang dari berbagai sudut, hal ini merupakan sesuatu yang abu-abu dan menarik untuk diperdebatkan, meskipun mungkin memang secara empiris terbukti metode seperti ini menciptakan kualitas-kualitas prima. Bagi sebagian orang, hal ini juga membuat mereka mempertimbangkan apakah karakter Fletcher bisa dikategorikan sebagai seorang protagonis, mengingat di film ini karakter Neiman lah yang paling sok tahu, merasa paling benar, dan ambition-driven.

Di samping bermacam kegantengan visual, kematangan cerita, serta akting luar biasa yang akan memanjakan mata dan pikiran, musik-musik yang disuguhkan di film ini juga akan membuat telinga anda orgasme berkali-kali—especially the ending, oh what an ending. Whiplash mungkin akan menjadi sebuah tolak ukur baru terhadap film-film drama musikal lain ke depannya, dan jika prediksi gue yang sok tahu ini ternyata benar, then it’s gonna be jizzy jazzy!

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.

The Judge (2014) – Setengah Setengah

Saat membaca sinopsis film ini, gue akuin gue seneng banget akhirnya Hollywood kembali memproduksi film legal thriller. Ditambah dengan melihat Robert Downey Jr. sebagai main cast, rasanya akan ada atmosfer baru dalam film-film dengan genre sejenis di kemudian hari, mengingat sudah lama sekali Hollywood tidak memproduksi film legal thriller.

Dikisahkan Hank, (diperankan oleh Robert Downey Jr.) seorang pengacara tangguh di Chicago, pulang kembali ke kampung halamannya di Carlineville, Indiana setelah 20 tahun dikarenakan wafatnya sang ibunda. Dia bertemu kembali dengan kakaknya Glen (diperankan oleh Vincent D’Onofrio), adiknya Dale (diperankan oleh Jeremy Strong) serta ayahnya Judge Joseph Palmer (diperankan oleh Robert Duvall), seorang hakim yang terhormat di Carlineville. Suatu pagi, setelah sebuah pertengkaran terjadi yang mengakibatkan Hank hampir berangkat kembali ke Chicago, Glen menelepon Hank dan mengabarkan bahwa ayahnya telah menjadi tersangka pelaku tabrak lari terhadap seseorang yang darahnya menempel di bemper belakang mobil ayahnya. Hubungan yang tidak harmonis antara Judge Joseph dan Hank sebagai ayah dan anak serta pertemuannya kembali dengan Samantha (diperankan oleh Vera Farmiga) membuat Hank kocar kacir memecahkan berbagai macam permasalahan yang berakar dari apa yang ia tinggalkan saat meninggalkan Carlineville. Dia harus meyakinkan pengadilan bahwa ayahnya tidak bersalah—walaupun ayahnya sendiri tidak peduli dan tidak partisipatif—dan merajut kembali serta memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ia perbuat dalam hubungannya dengan Samantha.

Film ini memuaskan dari segi teknis dan performa akting para cast. Penampilan baru Downey Jr. sebagai seorang pengacara berintegritas tinggi dan seorang anak yang tinggi egonya akan kita temukan dalam film ini. Tidak hanya dia, penampilan Duvall juga cukup sukses menciptakan chemistry ‘ayah-anak-selek-selekan’ yang kuat antara mereka berdua. Kita akan dibawa menuju sebuah keluarga yang berusaha keras untuk menjalin hubungan yang harmonis, biarpun ‘shits will always happen anyway anytime’ yang mengakibatkan mereka tidak hanya membenci satu sama lain, tetapi juga membenci diri mereka masing-masing terhadap kejadian demi kejadian yang menimpa mereka.

Yang mengecewakan adalah film ini dibangun dengan pondasi yang setengah-setengah sehingga cenderung terlihat tidak konsisten. Film ini terlalu mellow dan klise untuk disebut sebagai legal thriller, namun terlalu standar dan bertele-tele untuk sebuah family melodrama. Mungkin gue terlalu tinggi untuk menetapkan standar namun mari kita lihat Fracture, A Few Good Men, atau Primal Fear sebagai legal thriller dan A Separation, Mother, atau Silver Linings Playbook sebagai family drama. Mereka semua konsisten dengan satu landasan masing-masing yang kokoh dibangun sejak awal. Inkonsistensi dalam The Judge terpapar dalam romansa Hank dengan Samantha. No objection, I love Vera Farmiga (apalagi adiknya, Taissa, my dream girl), namun keberadaan dia dan anaknya, Carla (diperankan oleh Leighton Meester) dalam film ini menjadi irrelevan tatkala membahas premise film dan ‘jenis film apa ini.’ Fun fact buat kalian: mereka berdua ngga pernah dateng ke pengadilan kasus Judge Joseph dan ngga pernah ngomongin perihal apapun soal kasusnya. Apa yang sebenarnya Hank fokuskan di sini? Apakah membangun kembali hubungan baik dengan keluarga dan ayahnya, atau secara general memperbaiki apa yang telah berkarat karena ia acuhkan di Carlineville? Bila jawabannya yang pertama, maka karakter Samantha dan Carla is a waste dan hanya menimbulkan humor dan romansa yang justru terkesan cheesy, namun bila jawabannya yang kedua, maka film ini terlalu terfokus pada Hank dan Judge Joseph serta tidak memberikan benang merah antara Judge Joseph dengan Samantha, yang bila dirancang seharusnya bisa menajamkan konflik serta membuat premise cerita lebih solid dan konsisten.

Di luar konsistensi cerita dan premise, mungkin film ini bisa dibilang family drama yang baik karena chemistry ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ yang berhasil tercipta antara Judge Joseph dan Hank yang masing-masing keras kepala dan egois namun tegas dan memiliki determinasi. Ending film ini pun cukup baik. Tidak perlu twist bertele-tele dan penggambaran isak tangis ‘mblabar-mbleber’ plus orkestra massal untuk mengoyak-ngoyak emosi penonton. Film ini juga masih terbilang recommended untuk ditonton fangirl Robert Downey Jr. It’s him on his different, manly shape, girls. Go get him!

DISTOPIANA’S RATING: 2 out of 5