The Judge (2014) – Setengah Setengah

Saat membaca sinopsis film ini, gue akuin gue seneng banget akhirnya Hollywood kembali memproduksi film legal thriller. Ditambah dengan melihat Robert Downey Jr. sebagai main cast, rasanya akan ada atmosfer baru dalam film-film dengan genre sejenis di kemudian hari, mengingat sudah lama sekali Hollywood tidak memproduksi film legal thriller.

Dikisahkan Hank, (diperankan oleh Robert Downey Jr.) seorang pengacara tangguh di Chicago, pulang kembali ke kampung halamannya di Carlineville, Indiana setelah 20 tahun dikarenakan wafatnya sang ibunda. Dia bertemu kembali dengan kakaknya Glen (diperankan oleh Vincent D’Onofrio), adiknya Dale (diperankan oleh Jeremy Strong) serta ayahnya Judge Joseph Palmer (diperankan oleh Robert Duvall), seorang hakim yang terhormat di Carlineville. Suatu pagi, setelah sebuah pertengkaran terjadi yang mengakibatkan Hank hampir berangkat kembali ke Chicago, Glen menelepon Hank dan mengabarkan bahwa ayahnya telah menjadi tersangka pelaku tabrak lari terhadap seseorang yang darahnya menempel di bemper belakang mobil ayahnya. Hubungan yang tidak harmonis antara Judge Joseph dan Hank sebagai ayah dan anak serta pertemuannya kembali dengan Samantha (diperankan oleh Vera Farmiga) membuat Hank kocar kacir memecahkan berbagai macam permasalahan yang berakar dari apa yang ia tinggalkan saat meninggalkan Carlineville. Dia harus meyakinkan pengadilan bahwa ayahnya tidak bersalah—walaupun ayahnya sendiri tidak peduli dan tidak partisipatif—dan merajut kembali serta memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ia perbuat dalam hubungannya dengan Samantha.

Film ini memuaskan dari segi teknis dan performa akting para cast. Penampilan baru Downey Jr. sebagai seorang pengacara berintegritas tinggi dan seorang anak yang tinggi egonya akan kita temukan dalam film ini. Tidak hanya dia, penampilan Duvall juga cukup sukses menciptakan chemistry ‘ayah-anak-selek-selekan’ yang kuat antara mereka berdua. Kita akan dibawa menuju sebuah keluarga yang berusaha keras untuk menjalin hubungan yang harmonis, biarpun ‘shits will always happen anyway anytime’ yang mengakibatkan mereka tidak hanya membenci satu sama lain, tetapi juga membenci diri mereka masing-masing terhadap kejadian demi kejadian yang menimpa mereka.

Yang mengecewakan adalah film ini dibangun dengan pondasi yang setengah-setengah sehingga cenderung terlihat tidak konsisten. Film ini terlalu mellow dan klise untuk disebut sebagai legal thriller, namun terlalu standar dan bertele-tele untuk sebuah family melodrama. Mungkin gue terlalu tinggi untuk menetapkan standar namun mari kita lihat Fracture, A Few Good Men, atau Primal Fear sebagai legal thriller dan A Separation, Mother, atau Silver Linings Playbook sebagai family drama. Mereka semua konsisten dengan satu landasan masing-masing yang kokoh dibangun sejak awal. Inkonsistensi dalam The Judge terpapar dalam romansa Hank dengan Samantha. No objection, I love Vera Farmiga (apalagi adiknya, Taissa, my dream girl), namun keberadaan dia dan anaknya, Carla (diperankan oleh Leighton Meester) dalam film ini menjadi irrelevan tatkala membahas premise film dan ‘jenis film apa ini.’ Fun fact buat kalian: mereka berdua ngga pernah dateng ke pengadilan kasus Judge Joseph dan ngga pernah ngomongin perihal apapun soal kasusnya. Apa yang sebenarnya Hank fokuskan di sini? Apakah membangun kembali hubungan baik dengan keluarga dan ayahnya, atau secara general memperbaiki apa yang telah berkarat karena ia acuhkan di Carlineville? Bila jawabannya yang pertama, maka karakter Samantha dan Carla is a waste dan hanya menimbulkan humor dan romansa yang justru terkesan cheesy, namun bila jawabannya yang kedua, maka film ini terlalu terfokus pada Hank dan Judge Joseph serta tidak memberikan benang merah antara Judge Joseph dengan Samantha, yang bila dirancang seharusnya bisa menajamkan konflik serta membuat premise cerita lebih solid dan konsisten.

Di luar konsistensi cerita dan premise, mungkin film ini bisa dibilang family drama yang baik karena chemistry ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ yang berhasil tercipta antara Judge Joseph dan Hank yang masing-masing keras kepala dan egois namun tegas dan memiliki determinasi. Ending film ini pun cukup baik. Tidak perlu twist bertele-tele dan penggambaran isak tangis ‘mblabar-mbleber’ plus orkestra massal untuk mengoyak-ngoyak emosi penonton. Film ini juga masih terbilang recommended untuk ditonton fangirl Robert Downey Jr. It’s him on his different, manly shape, girls. Go get him!

DISTOPIANA’S RATING: 2 out of 5

The Hunger Games: Mockingjay Pt.1 (2014) – A Fine Beginning to an End

To be honest, gue bukan pembaca serial buku Suzanne Collins ini, namun gue setia ngikutin sekuel film The Hunger Games dari awal. Gue tertarik dengan dystopian future theory—yang juga menjadi alasan kenapa gue bikin blog ini—dan sekuel The Hunger Games menawarkan konsep dystopian future yang menarik untuk diulas. Karena gue terlanjur nonton dan tertarik sama filmnya duluan, maka mungkin gue baru akan baca bukunya setelah gue udah nonton semua sekuel filmnya sampai selesai untuk mengetahui apakah Francis Lawrence berhasil menginterpretasikan isi kepala Suzanne Collins atau tidak. Jadi kali ini gue akan ulas film ini dari sudut pandang cerita film tanpa membandingkan dengan bukunya.

Katniss Everdeen (diperankan oleh Jennifer Lawrence) memercikkan api pemberontakan terhadap Capitol setelah menembakkan panahnya ke electric barrier saat Quarter Quell di film sebelumnya (Baca: Hunger Games – Catching Fire Ending and Spoiler Discussion). Dia berhasil diselamatkan oleh Gale ke District 13, markas tempat di mana para pemberontak terkuat berpusat dan menggerak serta mengakomodir para pemberontak seluruh distrik di Panem. Di sana, Katniss mendapatkan 3 kabar buruk: District 12 telah hancur menjadi puing-puing, Peeta telah ditawan dan dimanfaatkan oleh Capitol, dan bahwa dia kini menjadi satu-satunya sosok yang mampu menjadi simbol resistensi dan membakar gerakan pemberontakan di Panem—The Mockingjay. Dipandu oleh President Alma Coin (diperankan oleh Julianne Moore) dan Plutarch (diperankan oleh mendiang Phillip Seymour Hoffman), Katniss menyuarakan propaganda lewat rekaman video pergerakannya bersama kru tentara yang disutradarai oleh Cressida (diperankan oleh Natalie Dormer) dan yang kemudian akan disiarkan ke seluruh distrik lewat frequency hijacking oleh Beetee (diperankan oleh Jeffrey Wright).

Francis Lawrence berhasil membangun ketegangan lewat percakapan antar tokoh dan akting yang intens. Secara tidak terduga, kita tidak akan menemukan banyak action di film ini. Sebagian temen-temen gue di social media bahkan bilang film ini adalah yang paling membosankan di antara seri The Hunger Games lainnya. Mungkin mereka sebelumnya mempunyai harapan bahwa akan ada lebih banyak ledakan, kehancuran, dan kematian tragis di film ini dibandingkan film sebelumnya (link: Hunger Games – Catching Fire Review). Namun sebagai orang yang senang menonton film drama-thriller, menurut gue Mockingjay pt.1 berhasil membangun sebuah suspense yang konsisten lewat warna yang gelap dan pesan yang kuat sehingga cenderung terkesan politis. Bagaimana Capitol memanfaatkan Peeta sebagai instrumen anti-propaganda merupakan sebuah satir terhadap pengalihan fungsi media massa dan public figure sebagai alat kontrol politik dan pengendali opini masyarakat. Kita juga akan disuguhkan dengan Marketing Video: Directing Tutorial dan How to Do Viral Campaign oleh Plutarch, Coin, dan Cressida. Mereka mendemonstrasikan aplikasi semiotika dengan baik dalam film ini, terutama di scene “People of Panem, we fight, we dare, we end our hunger for justice! (pfft)” dan scene di mana Finnick berbicara panjang lebar untuk mengacaukan frekuensi gelombang pertahanan Capitol.

Bicara soal warna film, penggambaran visual tentang kekacauan dan huru-hara pemberontakan di film ini sudah cukup baik walaupun memang kurang ramai dibandingkan film-film epik lain (mungkin karena memang cerita ini pada dasarnya bukan epik). Scene yang memperlihatkan tumpukan tulang mayat-mayat di District 12 dan kondisi rumah sakit darurat di District 8 mampu menciptakan momen emosional karena penataan seni dekorasi dan sinematografi yang hebat. Scene “8-Minute Evacuation” menjadi favorit gue karena menggunakan permainan lighting yang biasa dipakai di film-film survival horror. Namun lumayan banyak pertanyaan muncul di scene “Dam Bombing” karena para pemberontak terlihat sangat kekurangan strategi; menembus pertahanan pintu masuk dam dengan hanya menggunakan human shield sebagai pelindung para bomber. Bila memang ‘showing brave-to-death volunteers dying for hope’ semata untuk membangun atmosfer tragis, maka hal tersebut reasonable untuk dilakukan, biarpun menurut gue gagal, karena seharusnya barisan depan bisa menggunakan pelindung dari kayu atau logam untuk mengurangi korban dan lebih efektif untuk menabrakkan diri mereka dengan keras pada pasukan pertahanan Capitol.

Seriously, kalau kalian tertarik mendalami dunia marketing, tanpa harus menonton dua film sebelumnya pun, film ini bisa jadi sangat menarik untuk kalian tonton. Untuk kalian yang ingin menonton film ini untuk mendapatkan keseruan ringan atau sekadar mengikuti jaman, catatan bagi kalian adalah: segera urungkan niat untuk dihibur oleh aksi-aksi akrobat Katniss dan nikmati film ini sebagai appetizer untuk sebuah akhir yang (semoga) spektakuler.

If we burn, you burn with us!”

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

Interstellar (2014) – Emotional Transcendence

“We used to look up at the sky and wonder at our place in the stars, now we just look down and worry about our place in the dirt.” – Cooper

Nolan did it again! Dua tahun penantian gue sebagai Nolan fanboy untuk menunggu film selanjutnya berakhir di tanggal 6 November kemarin. Sempet penasaran banget sama film yang satu ini karena posisi DOP yang dikemudikan oleh Hoyte van Hoytema (Her, Tinker Taylor Soldier Spy) menggantikan Wally Pfister yang kemarin sibuk dengan debut penyutradaraannya, Transcendence. Film ini juga merupakan terobosan baru bagi Nolan dari segi tema dan konsep setelah mencoba mengeksploitasi mimpi, muslihat, dan kriminalitas di beberapa film sebelumnya. Banyak juga yang memprediksi bahwa film ini tidak akan dapat menandingi—atau bahkan sejajar—dengan film-film yang pernah dia buat sebelumnya.

Saat masa depan tengah dilanda bencana ekologis berupa hama, anomali cuaca, dan badai pasir yang kian memarah, semua tenaga kerja manusia dipaksa untuk menjadi petani darurat demi memenuhi kebutuhan pangan yang semakin menipis. Cooper (diperankan oleh Matthew McConaughey), seorang mantan pilot pesawat terbang dan insinyur, mendapatkan sebuah koordinat dari anomali gravitasi di kamar anaknya yang menuntun dia menuju sebuah fasilitas NASA yang tersembunyi dan dirahasiakan oleh pemerintah. Dituntun oleh Prof. Brand (diperankan oleh Michael Caine), anaknya Amelia (diperankan oleh Anne Hathaway), dan dua astronot NASA lain, dia mempelajari bahwa krisis ekologis ini akan segera mengakhiri peradaban manusia di Bumi, dan bahwa ada 12 astronot dalam proyek Lazarus yang menunggu untuk dijemput di sebuah planet di galaksi lain yang memiliki potensi kehidupan layaknya Bumi. Tanpa punya pilihan lain, Cooper terpaksa meninggalkan anak-anaknya, Tom (diperankan oleh Timothee Calamet dan Casey Affleck) dan Murph (diperankan oleh Mackenzie Foy dan Jessica Chastain) untuk melakukan penjelajahan antar galaksi demi mencari rumah yang lebih baik lagi untuk umat manusia.

Meskipun tidak lebih baik dari Inception dan The Dark Knight, menurut gue ini adalah film paling emosional yang pernah dibuat Nolan selama ini. Nolan mengeksplor penjelajahan luar angkasa dari sisi yang lebih manusiawi dan sentimental. Terlebih treatment visual dan musik latar yang epic membuat film ini terlihat seperti 2001: A Space Odyssey dengan sentimen dan twist modern khas Nolan di dalamnya. Ini juga merupakan film Nolan yang paling eksperimental dalam segi apapun. Di bagian visual, Hoyte van Hoytema menggunakan kamera analog 35mm dan kamera IMAX untuk pengambilan gambar sehingga tekstur film terlihat sedikit kasar namun dapat dinikmati tiap detilnya. Belum lagi visualisasi luar angkasa, wormhole, dan blackhole di dalam film ini yang menurut gue jauh lebih spektakuler dari yang pernah diberikan Gravity (of course, Gravity didn’t give you any wormhole or blackhole, didn’t it? Aaand did I mention about the tsunami and glacier inside the inhabited planets? It’s awesome) Dalam segi durasi, ini merupakan film terpanjang Nolan dengan 169 menit waktu tayang di luar kredit. Namun tentu panjangnya durasi film tidak pernah menjadi suatu kekurangan untuk setiap film-film yang dia buat. Dalam Interstellar, dia selalu memanfaatkan setiap detik yang ada untuk mengaduk-aduk perasaan penontonnya lewat kekuatan penulisan skrip. Dalam adegan di mana Cooper dan Amelia masing-masing menonton transmit pesan dari keluarga mereka di Bumi, terdapat monolog serta akting terbaik yang pernah gue liat dan dengar dalam film-film di tahun 2014 ini. Emotional, heartbreaking, ditambah komposisi musik dari Hans Zimmer yang menurut gue layak banget dapet nominasi Best Original Scoring untuk Oscar tahun depan. Mackenzie Foy sebagai Murph kecil sukses mencuri perhatian dalam setengah jam pertama film ini. She’s so adorable I wish my daughter in the future resembles her.

Sebagian orang, termasuk gue, mungkin bakal banyak bertanya-tanya selepas keluar menonton film ini dari bioskop. Di samping tema yang diambil memang thought-provoking dan kontroversial dalam segi sains itu sendiri (tentang interstellar travel melalui wormhole dan fifth dimensional space yang berada pada satu titik di dalam black hole), ada beberapa hal dalam film ini yang menurut gue seharusnya bisa dieksekusi dengan lebih baik oleh Nolan:

  • Pertama, pernyataan Amelia tentang “Love is the one thing that transcends time and space” (huwek). Gosh, kenapa tiba-tiba harus muncul pernyataan seperti ini dari mulut seorang intergalactic space scientist di dalam dialog film seorang Christopher Nolan? I mean, I know she was desperate and she can say anything she wants, but isn’t that line is too cheesy for Nolan to be forgiven?
  • Kedua, I hate the ending. Period. Kecuali ada pernyataan dari Nolan bahwa 15 menit terakhir film tersebut hanyalah imajinasi visual Cooper menjelang detik-detik kematiannya di dalam black hole, gue menganggap ini adalah ending paling sampah yang pernah dibuat Nolan. Seriously, dengan ending-ending spektakuler yang pernah dia buat di Following, Memento, dan The Prestige, Nolan surely can do it damn better than that crappy-too-happy ending.

Banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa Interstellar adalah film space travel terbaik yang mengilustrasikan blackhole dan wormhole secara ilmiah namun ringan (meskipun beberapa kontroversi tentang tidak adanya spaghettification di dalam blackhole). Di samping segala kekurangan kecilnya, film ini tidak boleh dilewatkan sama sekali dan harus kalian tonton di bioskop (I recommend, much much recommend IMAX! With Dolby ATMOS!) dan selamat melakukan penjelajahan antar galaksi sambil menangis tersedu-sedu!

P.S: Dear, Anne Hathaway. Stop rolling your eyes like that *blushing*

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

What If (2014) – Escaping Friendzone 101

Harry Potter got friendzoned by Ruby Sparks. Could it be any funnier? Seenggaknya ini kesan pertama gue saat ngebaca logline dan cast dari film ini. Harry Potter, Friend-Zone, Ruby Sparks. Tiga elemen yang secara subjektif menjadi favorit gue. Awalnya gue berpikir film ini akan jadi semacam 500-Days-of-Harry-and-Ruby, tapi ternyata Michael Dowse, sang sutradara, berhasil meramu film ini menjadi sesuatu yang lain.

Berkisah tentang Wallace (diperankan oleh Daniel Radcliffe) yang bertemu dengan seorang gadis bernama Chantry (diperankan oleh Zoe Kazan) di sebuah pesta setelah setahun mengurung diri di rumahnya karena patah hati. Mereka kemudian menjalin sebuah hubungan yang mereka sebut sebagai ‘pertemanan’ di saat mereka tahu bahwa mereka saling menyukai satu sama lain namun Chantry sudah terlebih dulu memiliki kekasih bernama Ben (diperankan oleh Rafe Spall), seorang praktisi HAKI di UN yang sangat menyayanginya. Peristiwa demi peristiwa mereka lalui sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka terlalu banyak berbohong pada diri mereka masing-masing tentang perasaan mereka pada satu sama lain.

Iya, inti alur ceritanya memang hanya sesimpel itu. Namun detail yang disajikan oleh sang sutradara Michael Dowse dan sang penulis skrip Elan Mastai membuat film ini menjadi sebuah permainan perasaan yang tidak pernah kita tahu kapan saja dia berkata jujur atau dusta. Like I said before, film ini tentang dua orang yang saling jatuh cinta namun saling membohongi perasaannya masing-masing karena situasi pribadi yang tengah mereka alami. Wallace dengan hati yang retak dan “Love is Stupid” principle-nya dengan Chantry yang sudah lebih dulu punya pacar yang menyayanginya.

Sebagai seorang cowok, film ini lucu buat gue. Lucu, by means “cute”. Meskipun gue jauh lebih mengagumi cuteness dari Ruby Sparks (which is cuteness overload!) tetapi film ini juga mampu dikategorikan sebagai one of those cute films karena dua aspek. Pertama, film ini memperlihatkan secara natural bagaimana saat manusia senang membohongi dirinya sendiri. Kita biasa melihat di banyak film drama bagaimana manusia saling membohongi satu sama lain, namun dalam film ini Daniel dan Zoe berakting dengan sangat baik sehingga membentuk chemistry yang ‘cute’ dan memberikan rasa yang lebih kental dari film-film bertemakan ‘friendzone’ yang lain (ya…bahkan dibandingkan Ron Weasley & Hermione Granger, Harry’s childhood friend). Kedua, hal-hal kecil yang ada di film ini seperti “How much does Elvis colon weight when he died?” (Like, really…?), permainan ‘fridge puzzle’ yang mempertemukan mereka, serta ‘Fools Gold gift exchange’ membuat jomblo-jomblo mengenaskan (iya, termasuk gue. I.Y.A.) sedikit berandai-andai tentang kehidupan cinta yang mungkin akan dialami bersama seorang sahabat yang direncanakan untuk menjadi pacar di masa depan.

Film ini cukup unik dan mendapat nilai positif buat gue di antara film-film romantic comedy lain. Kalian yang senang dengan semi-fantasy love-life atau pria-pria nelangsa bernasib serupa namun berwajah tidak sama dengan Daniel Radcliffe, kalian wajib nonton film ini sebagai salah satu referensi kalian.

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

Oculus (2014) – The Killing Mirror

Pas awal-awal nonton film ini, lo bakal ngerasa agak kecewa dengan akting yang kurang matang dari kedua tokoh utamanya. Ditambah dengan sinematografi yang terlalu standar untuk film horror dan alur non-linear yang bikin lo ngga ngerti di mana sebenernya fokus cerita di film ini. Hell, lo bahkan baru ngerti film ini tentang apa setelah di menit ke-30 saat Kaylie (diperankan oleh Karen Gillan) menuturkan secara kronologis apa yang menjadi permasalahan film tersebut dalam ‘narrative explanation of video-making purpose’ scene.

Berkisah tentang Kaylie yang mencoba untuk membuktikan bahwa sebuah cermin antik telah bertanggung jawab terhadap kematian puluhan orang yang pernah menjadi pemiliknya, termasuk ayah dan ibunya. Bersama adiknya, Tim (diperankan oleh Brenton Thwaites) mereka memasang kamera dan perangkap di dalam ruangan tempat cermin itu disimpan untuk merekam bukti bahwa cermin tersebut mempunyai kekuatan supernatural yang bisa mempengaruhi orang di sekitarnya.

Namun seiring waktu berjalan, mereka pun akhirnya terjebak dalam distorsi realita yang mencekam saat cermin itu mulai bermain-main dengan pikiran mereka. Alur cerita yang non-linear namun paralel (seperti di film Memento) terkesan seperti saling sambung-menyambung di beberapa bagian. Plot cerita yang menyeramkan disusun sedemikian rupa sehingga membuat kita penasaran dan emosional saat melihat ending cerita yang ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Unsur horror di film ini bukan hanya ditimbulkan dari sosok hantu yang creepy, namun juga lewat special effect yang mengaburkan batas antara past timeline, present timeline, serta supernatural illusion sehingga membuat kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Kaylie dan Tim.

Gaya penuturan yang baik serta cerita yang kompleks (berdasarkan Oculus Chapter 3 – The Man with The Plan, short film yang disutradarai dan ditulis sendiri oleh Mike Flanagan) dengan alur yang unorthodox membuat film ini mendapat nilai plus, mampu menutupi akting yang kurang maksimal dari Karen Gillian dan Brenton Thwaites. Dengan ending yang cukup menggantung, penonton akan berharap banyak untuk sekuelnya. Direkomendasikan bagi kamu para penyuka film horror yang lebih suka dibuat bingung dan bertanya-tanya cemas ketimbang dikagetin dan dimuncrat-muncratin darah.

DISTOPIANA’S RATING: 2.5 out of 5.

Lucy (2014) – Kuliah Eksistensialisme dari Scarlett Johannson

Pierre del Rio: “I’d rather be late than be dead”
Lucy                 : “We never really die.”

Sebagai pribadi yang ngga mau ngabisin waktunya untuk nonton film jelek, gue selalu membiasakan diri untuk liat logline film sebelum memutuskan apakah gue akan nonton film ini atau tidak. Saat gue ngebaca logline dari ‘Lucy’, yang pertama kali terpikir oleh gue adalah “Meh. Limitless. Boring.” Namun gue penasaran karena penggarapnya adalah Luc Besson (sutradara dari Leon: The Professional) dan dibintangi oleh Scarlett Johannson (you don’t know her? Your life is worthless). Gue tonton trailernya. Meh, Transcendence. Boring. Gue sempet skeptis karena tingkat orisinalitas film sudah mulai meragukan, sampai akhirnya seorang kolega (yang paham akan hobi gue menonton film –and his taste of films are good) merekomendasikan film ini ke gue dengan sangat antusias. Walhasil, yaudah gue tonton aja. The result was half beyond my expectation. Until now, I still can’t even tell if this film is good or bad. Respon gue sesaat setelah selesai menonton film adalah “I’m gonna review this film in my blog.”

Bercerita tentang seorang wanita bernama Lucy (diperankan oleh Scarlett Johannson) yang diculik oleh mafia narkoba dan dipaksa untuk menyelundupkan sekantung obat-obatan terlarang yang bernama CPH4. Karena suatu kecelakaan, Lucy tanpa sengaja menyerap sebagian obat-obatan tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Beruntungnya—atau lebih tepat, SIALNYA—hal ini membuat Lucy dapat mengakses dan menggunakan otaknya hingga mencapai 100% (berdasarkan salah satu pseudo-scientific theory yang mengatakan bahwa manusia selama ini paling maksimal hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya). Berkat unlimited access tersebut, Lucy memiliki kekuatan di luar batas yang bisa dijamah manusia—bahkan logika. Dia mampu mengingat segala yang pernah terjadi dalam hidupnya, termasuk saat dia baru pertama kali dilahirkan dari rahim ibunya. Dia mampu mengontrol apapun, mulai dari gelombang telekomunikasi nirkabel di seluruh dunia, gaya gravitasi, sampai sistem metabolisme tubuh orang lain dengan kuasanya. Menyadari konsekuensi kekuatan yang dia miliki, Lucy bekerjasama dengan Prof. Samuel Norm (diperankan oleh Morgan Freeman) untuk mencari jalan agar kekuatannya dapat dimanfaatkan untuk kebaikan ilmu pengetahuan dan sains manusia sebelum akhirnya konsekuensi dari kekuatan itu membuat dirinya menghilang dari dunia selamanya.

Film ini mempunyai banyak kelebihan meskipun kekurangannya juga tidak kalah banyak. Alur film ini sangat umum dan sederhana, namun thrill yang disuguhkan dari high-octane, playful action membuat film ini tetap seru untuk disaksikan dari awal sampai akhir (I’ve recognized that the punch-impact special effect is kinda looked like they have learned about fighting more from The Raid). I’m not gonna say it’s a popcorn movie because you would have no such time to realize that you have a cup of popcorn in your hand until the film is finished. ScarJo tampil menawan sebagai seorang gadis naif partygoer yang berubah menjadi heartless demi-God. Seperti tinggal mengulang kembali aktingnya sebagai Anna (He’s Just Not That into You) saat masih normal dan menggabungkan antara kelihaian bertarung Natasha Romanoff (The Avengers) dan kekakuan serta curiosity Laura (Under the Skin) saat sudah menjadi more-than-10-percent girl. Dari beberapa cooling-down scene yang ada di film ini, gue sempet mendadak kangen nyokap pas hospital scene di mana Lucy menelepon ibunya untuk menceritakan apa yang dia alami. Great script, but part of it were kinda cheesy somehow. Yang unik—dan paling seru untuk dibahas—kali ini adalah betapa Luc Besson mengemas konsep pseudo-scientific theory of underused brain capability (baca: The Under-used Brain? It’s All in The Mind) menjadi sedikit lebih crossing the boundaries. Secara eksplisit, masyarakat awam dapat mengartikan pesan dari film ini sebagai “100% access of human brain is a capability only God strong enough to handle it.” Namun bila kita memperhatikan lagi tesis demi tesis yang Lucy ungkapkan saat berhadapan dengan para scientist—termasuk saat sendirian dengan Prof. Norm—dapat kita cerna dan simpulkan bahwa Luc mencoba mengkaji dampak dari chaos theory in humanity lewat pendekatan eksistensialisme di film ini. Hal ini memang unsur yang unik untuk menjadikan film ini berkesan bagi penonton. Memberikan mereka something worth questioning and discussing for setelah keluar dari bioskop.

Namun lagi-lagi kekurangan yang berasal dari lack of originality di film ini memang pantas untuk ditegur. ‘Lucy’ seperti campuran antara ‘Limitless’ (the 10% concept), Leon: The Professional (Mr. Jang character similarity to Norman Stansfield and the action cinematography), Transcendence (the super-brain ability…aaand the lack of motivation & twist), The Avengers (Black Widow mostly), dan 2001: A Space Odyssey (the ending). Memang Luc pernah memberikan statement bahwa ‘Lucy’ terinspirasi dari beberapa film (baca: Luc Besson Says Lucy was Inspired by Three Unexpected and Unique Movies). Namun dengan mengimitasi karakteristik dari banyak film tanpa memberikan sedikit ruang bagi orisinalitas untuk show-off bukan merupakan suatu hal yang bisa dipuji. Dipandang secara idealis, ‘Lucy’ bukan tipe film yang bisa dikategorikan sebagai one of the best films in 2014, but at least it is still a good film for you to watch. Lumayan kalo kamu lagi pengen mulai belajar filsafat dikit-dikit. ScarJo is not a disappointment also (did I already told you she looked curvier than in ‘Under the Skin’?) and will blow your mind with her magic trick (…called it maaagic~).

“We’ve codified our existence to bring it down to human size, to make it comprehensible, we’ve created a scale so we can forget its unfathomable scale.”
DISTOPIANA’S RATING: 2.5 out of 5

Edge of Tomorrow (2014) – Loser.Die.Repeat.Hero

Dari tagline nya, kalian pasti bakal mikir bahwa film ini ngga akan jauh beda konsepnya dengan Source Code atau Groundhog Day. ‘Live. Die. Repeat.’ Tapi kalau kalian kira bakal jadi membosankan karena konsep ‘mengulang-ulang’ yang terlalu sering diulang-ulang, maka siap-siap untuk terkejut karena segala aspek dalam film ini akan mampu memuaskan kalian.

Saat kondisi Bumi tengah genting akibat invasi makhluk asing bernama ‘Mimic’, Officer Bill Cage (diperankan oleh Tom Cruise), seorang pembicara dari angkatan bersenjata US, ditugaskan untuk turun langsung ke barisan depan peperangan lepas pantai di Perancis tanpa memiliki pengalaman bertarung sekalipun. Sesaat dia berhasil membunuh satu spesies Mimic langka bernama ‘Alpha’ dan terkena limpahan darahnya (dia membunuhnya dengan meledakkan makhluk itu tepat satu meter di depan tubuhnya), dia terkontaminasi oleh racun yang membuatnya terjebak di dalam infinite-time loop di mana dia harus hidup kembali dan terbangun di waktu dan tempat yang sama setelah dia mati.

Kondisi ini ternyata mempertemukannya dengan Rita Vrataski (diperankan oleh Emily Blunt), prajurit wanita tangguh yang dijuluki The Angel of Verdun karena mampu membunuh ratusan Mimics dan menjadi penentu kemenangan di hari pertama dia bertarung di Verdun, Perancis—dan belakangan diketahui penyebabnya adalah karena dia pernah mempunyai kondisi yang sama seperti yang Bill alami (penegasan pada kata ‘pernah.’ Kekuatannya hilang akibat transfusi darah saat dia dirawat di RS setelah peperangan). Pertemuan mereka memaksa Bill untuk ikut serta dalam strategi yang telah disusun oleh Rita dan koleganya, seorang ilmuwan fisika partikel Dr. Carter (diperankan oleh Noah Taylor), untuk menghabisi seluruh spesies Mimic di Bumi dengan mencari lokasi induk semangnya yang bernama ‘Omega’ dan menghancurkannya.

Cerita film ini diadaptasi dari light visual-novel karya Hiroshi Sakurazaka berjudul ‘All You Need is Kill’ (I bet you never heard about that…or is it just me?). Cukup mengejutkan karena meskipun penulisan skrip dan alur ceritanya telah diubah dan disesuaikan dengan Hollywood-Blockbuster-style oleh Christopher McQuarry dan Jez Butterworth, namun film ini masih mampu bersaing dengan film-film time loop sebelumnya dan tetap terlihat berbeda walaupun sekilas menyerupai kombinasi dari Pacific Rim, Source Code, dan Saving Private Ryan.

Doug berhasil menemukan nilai-nilai baru yang fresh dari konsep film time-loop yang sudah sering dieksploitasi. Walaupun film epic action sci-fi ini terkonsep dengan sangat kompleks dan cermat, Evolusi karakter Bill Cage—dari seorang public talker menjadi silent warrior (from zero to hero)—membuat film ini berhasil untuk menjadi lebih manusiawi dari sekedar mecha-suit soldier-shooting, slashing, and bombing-the-gruesome-alien film.

*SPOILER ALERT*

Mungkin juga akting Tom Cruise dan Emily Blunt serta chemistry yang sukses mereka ciptakan yang membuat atmosfer film ini menjadi hidup dan bermakna lebih dari sekedar alien datang -> mati -> hidup lagi -> ulangi -> bunuh lagi. Personal, boundless, cold-but-silently-deceitful, and no-string-attached man-and-woman affection yang mereka tunjukkan saat saling melindungi satu sama lain dan menghabisi mimic bersama-sama akan membuat beberapa penonton seperti gue ngga peduli dengan long-term-continual relationship—yang tidak jelas apakah terjadi atau tidak—di ending film ini. Mungkin bisa dibilang gue kecewa karena di ending mereka tidak benar-benar mati. Mungkin gue orang yang terlalu meninggikan konsep ‘veiled-and-cold-happiness-of-having-each-other-behind-their-struggle’ di dalam cerita dibandingkan sekedar usual ‘udah-gitu-aja’ happy ending. Entah apakah Chris dan Jez menginginkan agar endingnya berhasil memuaskan penonton mayoritas. I like the story much better before it hits the ending.

Film ini istimewa dan layak untuk ditonton karena menawarkan sesuatu yang segar di antara kelahiran banyaknya film sci-fi di 2014 yang gitu-gitu aja. Tom Cruise, lagi-lagi, menciptakan pesona yang menonjol di film ini dengan aktingnya yang total. Film ini recommended buat siapapun, terutama bagi para remaja nanggung yang butuh memahami arti dari YOLO secara komprehensif dan filosofis.

DISTOPIANA’S RATING: 4 out of 5.

 

Begin Again (2014) – Can A Song Save Your Life?

Sebelum menonton film ini, jangan gantungkan harapan terlalu besar. Hanya karena film ini disutradarai oleh John Carney dan dibintangi one of the biggest pop stars Adam Levine, kemudian ‘Begin Again’ mampu menandingi the miraculous-lifetime masterpiece of ‘Once’. However, this film is decent enough for you to spend time for.

Berkisah tentang Dan (diperankan oleh Mark Ruffalo), yang mencoba untuk bangkit kembali setelah dipecat dari record label company yang pernah dia kembangkan karena terlalu idealis sehingga tidak produktif lagi dalam mencari bakat-bakat musik. Dia hampir bunuh diri ketika tiba-tiba mendengar Gretta (diperankan oleh Keira Knightley)—yang baru saja putus dengan kekasihnya, Dave (diperankan oleh Adam Levine)—bernyanyi di sebuah bar kecil dekat stasiun kereta bawah tanah tempat Dan akan meloncat ke tengah rel saat kereta datang. Dengan lagu ciptaannya dan bakat mentah yang ia miliki, Gretta mampu menarik perhatian Dan untuk memulai kembali karir musiknya dengan memproduseri Gretta. Mereka pun membuat demo tape dengan konsep ‘New York Street Summer Soundtrack’ yang membuat Gretta merekam lagu-lagunya dengan ‘mobile recording studio’ di tempat-tempat unik mulai dari gang kecil sampai di rooftop gedung di New York City bersama orkestra sederhana yang dikumpulkan oleh Dan.

Sekali lagi, Carney menjadi seorang talented romance storyteller yang mampu menempatkan cinta pada ruang yang sakral dan mampu membuat kita terdiam sejenak dan tersenyum dengan kontemplatif tanpa harus menonjolkan hal-hal vulgar. Carney doesn’t ever need his film to be sex-driven. He only needs music, smiles, and tears to screw everything into pieces and mend it over again by his own will. Yeah, note that. BY HIS OWN WILL. He’s a talented, idealist bastard. You will love Carney’s love story because it’s not exactly a fairy-tale love story, but a realistic life story.

SPOILER ALERT!!

Bakat kedua Carney adalah dia mampu menginterpretasikan ‘happy ending’ lewat perspektif yang cukup unik. Sekali lagi, kita tidak akan menemukan ‘two broken people which finding each other by music’ akan bersatu dan menjalin kisah cinta di akhir cerita. In this film, he’d rather mend those people’s broken things back and let those two fixed people ‘just be friends’. I mean, what the hell, right? However, if you think about it, they are happy after all. So…is it a happy ending? Or are we just being too selfish that we want them to have a sweet relationship to end the story without knowing what’s best for them? Who are we to judge?

Anyway, akting Keira Knightley dan Mark Ruffalo juga cukup memberikan atmosfer yang tepat pada film ini agar menjadi hangat tanpa harus ‘terlalu panas’. Yeah, I mean like casual, natural acting without being too over-dramatic. I love how Keira being a Gretta by just being her own self (or does she?). You’ll love that kind of lovely, laugh-out-loud-in-fragility Keira. No, sorry. You’ll love every characters in this film by how real they are. They’re all gray, not black and white. This film is about life and consequences fucking them up.

Musik di film ini mayoritas ditulis dan diaransemen oleh Gregg Alexander dan John Carney sendiri (like I said, he’s a talented bastard). Mungkin gue terlalu membanding-bandingkan film ini dengan ‘Once’, jadi gue ngga bisa menikmati musiknya seperti gue menikmati ‘Once’. Tapi secara obyektif, ‘Lost Stars’ dan ‘Like a Fool’ akan mampu membuat gaung yang cukup bertahan lama di kepala kita bersama memorable scenes saat lagu itu berkumandang. You’ll be surprised on how Keira actually have that beautiful voice inside her. Oh, and after you heard Adam sings ‘Lost Stars’ in the end of this film, you’d wish he quit Maroon 5 and starts a solo career instead. The song is a classic, ‘Songs about Jane’ pop typical style which you won’t find in Overexposed or V. Film ini recommended buat kamu yang lagi nyari film rom-com berkualitas tapi ringan dan full-music. Fans nya Adam Levine juga wajib nonton film ini.

Distopiana’s Rating: 3.5 out of 5