Edge of Tomorrow (2014) – Loser.Die.Repeat.Hero

Dari tagline nya, kalian pasti bakal mikir bahwa film ini ngga akan jauh beda konsepnya dengan Source Code atau Groundhog Day. ‘Live. Die. Repeat.’ Tapi kalau kalian kira bakal jadi membosankan karena konsep ‘mengulang-ulang’ yang terlalu sering diulang-ulang, maka siap-siap untuk terkejut karena segala aspek dalam film ini akan mampu memuaskan kalian.

Saat kondisi Bumi tengah genting akibat invasi makhluk asing bernama ‘Mimic’, Officer Bill Cage (diperankan oleh Tom Cruise), seorang pembicara dari angkatan bersenjata US, ditugaskan untuk turun langsung ke barisan depan peperangan lepas pantai di Perancis tanpa memiliki pengalaman bertarung sekalipun. Sesaat dia berhasil membunuh satu spesies Mimic langka bernama ‘Alpha’ dan terkena limpahan darahnya (dia membunuhnya dengan meledakkan makhluk itu tepat satu meter di depan tubuhnya), dia terkontaminasi oleh racun yang membuatnya terjebak di dalam infinite-time loop di mana dia harus hidup kembali dan terbangun di waktu dan tempat yang sama setelah dia mati.

Kondisi ini ternyata mempertemukannya dengan Rita Vrataski (diperankan oleh Emily Blunt), prajurit wanita tangguh yang dijuluki The Angel of Verdun karena mampu membunuh ratusan Mimics dan menjadi penentu kemenangan di hari pertama dia bertarung di Verdun, Perancis—dan belakangan diketahui penyebabnya adalah karena dia pernah mempunyai kondisi yang sama seperti yang Bill alami (penegasan pada kata ‘pernah.’ Kekuatannya hilang akibat transfusi darah saat dia dirawat di RS setelah peperangan). Pertemuan mereka memaksa Bill untuk ikut serta dalam strategi yang telah disusun oleh Rita dan koleganya, seorang ilmuwan fisika partikel Dr. Carter (diperankan oleh Noah Taylor), untuk menghabisi seluruh spesies Mimic di Bumi dengan mencari lokasi induk semangnya yang bernama ‘Omega’ dan menghancurkannya.

Cerita film ini diadaptasi dari light visual-novel karya Hiroshi Sakurazaka berjudul ‘All You Need is Kill’ (I bet you never heard about that…or is it just me?). Cukup mengejutkan karena meskipun penulisan skrip dan alur ceritanya telah diubah dan disesuaikan dengan Hollywood-Blockbuster-style oleh Christopher McQuarry dan Jez Butterworth, namun film ini masih mampu bersaing dengan film-film time loop sebelumnya dan tetap terlihat berbeda walaupun sekilas menyerupai kombinasi dari Pacific Rim, Source Code, dan Saving Private Ryan.

Doug berhasil menemukan nilai-nilai baru yang fresh dari konsep film time-loop yang sudah sering dieksploitasi. Walaupun film epic action sci-fi ini terkonsep dengan sangat kompleks dan cermat, Evolusi karakter Bill Cage—dari seorang public talker menjadi silent warrior (from zero to hero)—membuat film ini berhasil untuk menjadi lebih manusiawi dari sekedar mecha-suit soldier-shooting, slashing, and bombing-the-gruesome-alien film.

*SPOILER ALERT*

Mungkin juga akting Tom Cruise dan Emily Blunt serta chemistry yang sukses mereka ciptakan yang membuat atmosfer film ini menjadi hidup dan bermakna lebih dari sekedar alien datang -> mati -> hidup lagi -> ulangi -> bunuh lagi. Personal, boundless, cold-but-silently-deceitful, and no-string-attached man-and-woman affection yang mereka tunjukkan saat saling melindungi satu sama lain dan menghabisi mimic bersama-sama akan membuat beberapa penonton seperti gue ngga peduli dengan long-term-continual relationship—yang tidak jelas apakah terjadi atau tidak—di ending film ini. Mungkin bisa dibilang gue kecewa karena di ending mereka tidak benar-benar mati. Mungkin gue orang yang terlalu meninggikan konsep ‘veiled-and-cold-happiness-of-having-each-other-behind-their-struggle’ di dalam cerita dibandingkan sekedar usual ‘udah-gitu-aja’ happy ending. Entah apakah Chris dan Jez menginginkan agar endingnya berhasil memuaskan penonton mayoritas. I like the story much better before it hits the ending.

Film ini istimewa dan layak untuk ditonton karena menawarkan sesuatu yang segar di antara kelahiran banyaknya film sci-fi di 2014 yang gitu-gitu aja. Tom Cruise, lagi-lagi, menciptakan pesona yang menonjol di film ini dengan aktingnya yang total. Film ini recommended buat siapapun, terutama bagi para remaja nanggung yang butuh memahami arti dari YOLO secara komprehensif dan filosofis.

DISTOPIANA’S RATING: 4 out of 5.

 

Begin Again (2014) – Can A Song Save Your Life?

Sebelum menonton film ini, jangan gantungkan harapan terlalu besar. Hanya karena film ini disutradarai oleh John Carney dan dibintangi one of the biggest pop stars Adam Levine, kemudian ‘Begin Again’ mampu menandingi the miraculous-lifetime masterpiece of ‘Once’. However, this film is decent enough for you to spend time for.

Berkisah tentang Dan (diperankan oleh Mark Ruffalo), yang mencoba untuk bangkit kembali setelah dipecat dari record label company yang pernah dia kembangkan karena terlalu idealis sehingga tidak produktif lagi dalam mencari bakat-bakat musik. Dia hampir bunuh diri ketika tiba-tiba mendengar Gretta (diperankan oleh Keira Knightley)—yang baru saja putus dengan kekasihnya, Dave (diperankan oleh Adam Levine)—bernyanyi di sebuah bar kecil dekat stasiun kereta bawah tanah tempat Dan akan meloncat ke tengah rel saat kereta datang. Dengan lagu ciptaannya dan bakat mentah yang ia miliki, Gretta mampu menarik perhatian Dan untuk memulai kembali karir musiknya dengan memproduseri Gretta. Mereka pun membuat demo tape dengan konsep ‘New York Street Summer Soundtrack’ yang membuat Gretta merekam lagu-lagunya dengan ‘mobile recording studio’ di tempat-tempat unik mulai dari gang kecil sampai di rooftop gedung di New York City bersama orkestra sederhana yang dikumpulkan oleh Dan.

Sekali lagi, Carney menjadi seorang talented romance storyteller yang mampu menempatkan cinta pada ruang yang sakral dan mampu membuat kita terdiam sejenak dan tersenyum dengan kontemplatif tanpa harus menonjolkan hal-hal vulgar. Carney doesn’t ever need his film to be sex-driven. He only needs music, smiles, and tears to screw everything into pieces and mend it over again by his own will. Yeah, note that. BY HIS OWN WILL. He’s a talented, idealist bastard. You will love Carney’s love story because it’s not exactly a fairy-tale love story, but a realistic life story.

SPOILER ALERT!!

Bakat kedua Carney adalah dia mampu menginterpretasikan ‘happy ending’ lewat perspektif yang cukup unik. Sekali lagi, kita tidak akan menemukan ‘two broken people which finding each other by music’ akan bersatu dan menjalin kisah cinta di akhir cerita. In this film, he’d rather mend those people’s broken things back and let those two fixed people ‘just be friends’. I mean, what the hell, right? However, if you think about it, they are happy after all. So…is it a happy ending? Or are we just being too selfish that we want them to have a sweet relationship to end the story without knowing what’s best for them? Who are we to judge?

Anyway, akting Keira Knightley dan Mark Ruffalo juga cukup memberikan atmosfer yang tepat pada film ini agar menjadi hangat tanpa harus ‘terlalu panas’. Yeah, I mean like casual, natural acting without being too over-dramatic. I love how Keira being a Gretta by just being her own self (or does she?). You’ll love that kind of lovely, laugh-out-loud-in-fragility Keira. No, sorry. You’ll love every characters in this film by how real they are. They’re all gray, not black and white. This film is about life and consequences fucking them up.

Musik di film ini mayoritas ditulis dan diaransemen oleh Gregg Alexander dan John Carney sendiri (like I said, he’s a talented bastard). Mungkin gue terlalu membanding-bandingkan film ini dengan ‘Once’, jadi gue ngga bisa menikmati musiknya seperti gue menikmati ‘Once’. Tapi secara obyektif, ‘Lost Stars’ dan ‘Like a Fool’ akan mampu membuat gaung yang cukup bertahan lama di kepala kita bersama memorable scenes saat lagu itu berkumandang. You’ll be surprised on how Keira actually have that beautiful voice inside her. Oh, and after you heard Adam sings ‘Lost Stars’ in the end of this film, you’d wish he quit Maroon 5 and starts a solo career instead. The song is a classic, ‘Songs about Jane’ pop typical style which you won’t find in Overexposed or V. Film ini recommended buat kamu yang lagi nyari film rom-com berkualitas tapi ringan dan full-music. Fans nya Adam Levine juga wajib nonton film ini.

Distopiana’s Rating: 3.5 out of 5