Tag Archives: 2001

In the Mood for Love (2001) – Selingkuh itu Dosa

Seandainya dinding bisa bicara dan mengungkapkan rahasia-rahasia manusia yang ia simpan di dalamnya, maka ia akan berkata bahwa hanya ada dua hal yang paling indah saat sepasang manusia menyimpan hasrat:

  1. Saat saling berusaha mengenal.
  2. Saat saling berselingkuh.

Seperti mereka yang mabuk kepayang oleh anggur asmara, Mrs. Chan (diperankan oleh Maggie Cheung) dan Mr. Chow (diperankan oleh Tony Leung Chiu-wai) terayun gontai seperti bunga teratai di atas sungai beriak. Bukan hanya karena lecutan cinta yang kepalang liar, namun karena masing-masing dari mereka sudah ada yang memiliki. Seperti layaknya orang yang jatuh cinta, mereka sering diam-diam berkunjung ke tempat yang dikunjungi satu sama lain dan selalu berpura-pura kebetulan berpapasan. Mereka senang menatap mata satu sama lain dalam-dalam, kemudian berbasa-basi mengalihkan perhatian seakan-akan tidak ada yang mereka temukan di balik mata masing-masing.

Begitulah cinta, semakin terlarang, semakin berjuta rasanya. Semakin ia dipendam dalam diam, semakin panas gelora apinya. Wong Kar-wai, sutradara dan auteur Mandarin, mengerti bagaimana caranya melukiskan nestapa memendam cinta terlarang ke dalam gambar yang bergerak dan bersuara. Bukan hanya eksposisi dialog dan plotting, namun semua aspek-aspek simbolis yang ada di dalam film ini seakan menjadi nyawa yang membuat hidup film dan membuat mati jiwa-jiwa penontonnya. Romantisasi nelangsa batin lewat kombinasi slow-motion sequence+Yumeji’s Theme, komposisi frame within frame, dan repetisi latar tempat di dalam film ini membuat penonton semakin tenggelam ke dalam dunia mereka yang sempit dan menyengsarakan.

Ada satu hal yang patut menjadi bahan perhatian lebih dalam film ini, yaitu bagaimana mereka mencari cara untuk terus bersama menjalin cinta tanpa harus benar-benar berselingkuh. Mereka tidak pernah sekalipun berhubungan badan atau bahkan berciuman di film ini. Mereka hanya bermain peran, saling mengisi lubang yang ditinggalkan pasangan hidup mereka masing-masing yang berselingkuh. Ms. Chan bertanya di mana Mr. Chow membeli dasi yang menurutnya suaminya sukai. Mr. Chow bertanya di mana Mrs. Chan membeli tas gandeng yang menurutnya istrinya sukai. Penulis bertanya-tanya merk pomade apa yang dipakai Mr. Chow…ah sudah lah. Mereka melakukan semua itu semata-mata karena sadar bahwa mereka tidak bisa mengelak dari cinta, namun mereka masih bisa mengelak dari dosa perselingkuhan, seperti yang dilakukan pasangan mereka masing-masing. Bagaimana pun juga, dalamnya hati siapa yang tahu?

“He remembers those vanished years. As though looking through a dusty window pane, the past is something he could see, but not touch. And everything he sees is blurred and indistinct.”

Mungkin cinta mereka murni, namun sudah pasti tidak suci. Berkat arahan sutradara Wong Kar-wai, penyuguhan sinematis yang minimalis dan memukau dari Christopher Doyle, serta ikatan kimiawi yang manis dari penampilan Maggie Cheung dan Tony Leung Chiu-wai, In the Mood for Love sukses membangun ilusi kesejatian cinta yang salah dengan cantik dan memilukan secara bersamaan. Para penggemar film romansa ringan cheesy mungkin akan sedikit bosan dan mengantuk menonton film ini, tapi penulis sangat merekomendasikan mahakarya ini agar kalian belajar merasakan cinta dalam diam.

Dan jika suatu saat kalian memiliki hasrat untuk berselingkuh, cukup bisikkan hasrat kalian ke dalam lubang di dinding, kubur dengan tanah sampai padat, dan kembalilah bersetia pada pasangan resmi kalian masing-masing.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.