Tag Archives: 2014

55 Years of Julianne Moore – Better Late than Never

Ada sebuah ungkapan yang cukup populer di seluruh dunia yang disebutkan dengan berbagai macam bahasa: “better late than never” (lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali). Selama dinominasikannya Julianne Moore sebagai Best Supporting Actress of Oscars 1998 di film Boogie Nights sampai pada akhirnya ia mendapatkan penghargaan Best Lead Actress di film Still Alice, dapatkah kita katakan bahwa penghargaan tersebut sedikit terlambat untuk sampai kepadanya?

“Only five people got nominated in that category, and that’s not very many people. So I did all right.” – on losing her Oscar 2000 nomination.

Sampai saat ini terhitung 76 proyek yang telah ia selesaikan, dan aktris berdarah Inggris-Amerika yang mengawali karir aktingnya lewat opera sabun berjudul As The World Turns ini bisa dikatakan sebagai pribadi profesional yang produktif, total, namun tetap rendah hati. Dia tidak percaya dengan glamorisme dan hedonisme meskipun kejayaan Hollywood telah membesarkan namanya. Dia percaya bahwa kesahajaan hidup akan membuat dirinya lebih maksimal dalam menyelesaikan setiap pekerjaan, dan konsistensi gaya hidup serta lima nominasi Oscar yang telah ia kumpulkan sejak 1998 telah membuktikan kebenaran pahamnya. Pada artikel yang dilansir oleh Entertainment Weekly, ia berkata bahwa ia selalu membaca setiap skrip yang datang padanya dari awal sampai akhir, baik yang ia terima maupun tidak. Dia tidak pernah membiarkan agennya untuk mendikte skrip seperti apa yang pantas baginya. Hal ini juga yang mungkin membuat filmografinya cukup banyak diwarnai oleh film-film musim panas Box Office seperti Seventh Son, Carrie, Non-Stop, dan The Hunger Games: Mockingjay pt.1 & 2.

”The time that I would have been reading novels for pleasure, that goes out the window.” – on reading every script she received.

Ada ketidakadilan yang cukup kejam bila kita membahas kehebatan akting Julianne Moore hanya lewat peran-peran yang membuat ia dinominasikan di Academy Awards. Sejak Short Cuts, film ambisius tentang perjalanan kehidupan yang mengisahkan 22 karakter dalam 9 cerita berbeda yang saling berkaitan, akting Julianne Moore sebagai Marian Wyman dinilai sangat berani dan mengejutkan bagi kritikus film saat itu, mengingat bahwa dia masih sekedar aktris opera sabun sebelumnya. Lewat film tersebut, Todd Haynes, sutradara film independen yang sekarang menghentak jagad perfilman Hollywood lewat Carol, tertarik untuk mengajaknya berperan di sebuah film thriller berjudul Safe, di mana ia berperan sebagai Carol White, seorang istri paranoid yang merasa bahwa dia alergi terhadap segala sesuatu di sekitarnya, entah apapun itu. Banyak yang beranggapan bahwa film itu adalah penampilan terbaiknya sepanjang masa, namun malang rasanya ketika ia tidak mendapatkan penghargaan yang sepadan.

“I try to make my characters as specific as I can.” – on Still Alice, 2015.

Nominasi Oscar baru datang padanya setelah ia memerankan seorang veteran bintang porno bernama Amber Waves di Boogie Nights. Aktingnya yang menonjolkan banyak lapisan emosional dan kemampuannya meracik segala komplikasinya menjadi manusiawi dan alamiah tanpa harus membumbuinya dengan melodramatisasi yang dangkal (terlambat) dinilai oleh AMPAS sebagai sebuah terobosan yang jenius. Terlebih, dia harus puas untuk terpilihnya Kim Basinger sebagai Best Supporting Actress of Oscars 1998 di film L.A. Confidential, melangkahinya dan tiga nominee lainnya.

Karir terus berjalan. Nama Julianne Moore sebagai aktris yang handal memerankan wanita-wanita dengan gangguan mental pun melesat walaupun bergerilya hanya di kalangan para penikmat film. Orang-orang awam penonton Box Office musim panas pada saat itu hanya mengenalnya sebagai Sarah Harding, seorang paleontologis, sementara ia berjaya di film-film festival dengan banyak memorable scene seperti adegan “Strongly Vaginal Art” di The Big Lebowski  dan adegan “Motherf*cker” di Magnolia. Nominasi demi nominasi ia terima di film-film berikutnya, seperti The End of The Affair, The Hours, dan Far From Heaven. Entah apa yang membuat penampilannya yang dahsyat dan meledak-ledak di film-film seperti Magnolia, A Single Man, dan Maps to The Stars bagaikan luput dari perhatian AMPAS.

Di luar layar, tidak hanya dikenal sebagai wanita yang secara vokal menyuarakan dukungannya terhadap kebijakan-kebijakan politik liberal, Julianne dikenal sebagai pribadi yang sangat keibuan dan mencintai keluarganya sama dalamnya seperti ia mencintai karirnya sebagai seorang aktris. Untuk itu, ia berkomitmen untuk tetap menjaga prioritas gaya hidupnya pada karir dan keluarga. Tidak ada yang lain.

“What did [Gustave Flaubert] say? ‘Be ordinary in your life so that you can be violent and original in your work!’ I believe that.”

Kendati demikian, dalam sebuah wawancara dengan Ben Shepherd di program Good Morning Britain, ia menyatakan bahwa anak-anaknya tidak pernah menonton filmnya, karena filmnya sendiri kebanyakan bukan film-film yang seharusnya ditonton anak-anak. Ia terlalu banyak bicara tentang manusia dan dosa-dosanya, dan terkadang memang ia butuh untuk telanjang dan akan banyak sekali adegan hubungan seksual yang tidak mungkin dilihat oleh Caleb dan Liv. Pola hidup yang memang sepertinya agak aneh, namun tidak mustahil untuk dilakukan. Sutradara Todd Haynes pun mengakui konsistensi Julianne sebagai seorang ibu dan aktris profesional. Dia menyebut Julianne sebagai seorang perempuan yang tahu aturan-aturan apa saja yang harus ia mainkan agar kedua prioritas tersebut mampu ia jaga dengan baik.

”She has reached her level of success and stardom completely on her own terms.” – Todd Haynes, on Julianne Moore.

Ia tercatat memiliki peran penting sebagai ambassador dari Save the Children, sebuah gerakan sosial yang menangani anak-anak pra-sejahtera dan sampai sekarang sudah mampu menjangkau 70,000 jumlah target di Amerika Serikat per tahun. Di website resmi Save the Children, dinyatakan bahwa Julianne telah berkontribusi penuh untuk memastikan anak-anak pedesaan agar dapat membaca. “One thing I say about reading to children is that you can really, you can do anything if you can read,” ungkap Julianne. Ia pun memiliki respon yang cerdas terhadap publik yang nyinyir terhadap kepeduliannya yang terlihat seperti terbatas hanya pada anak-anak di Amerika. “It’s not that I don’t believe there are many, many needy causes all over the world, particularly in the Third World, but I do believe in terms of poverty in our country, often, people hide in plain sight,” katanya, seperti dilansir oleh CNN. “There’s a refusal, because we have so much in the United States. There’s sometimes a refusal to acknowledge what’s going on right here.”

Ia mencintai anak-anak, bukan dalam pandangannya sebagai seorang ibu, namun sebagai seorang anak. Istri dari Bart Freundlich ini telah menulis buku berjudul Freckleface Strawberry, yang ia ambil dari nama julukan yang ia dapat oleh teman-temannya sewaktu kecil. “In grade school I was a complete geek. You know, there’s always the kid who’s too short, the one who wears glasses, the kid who’s not athletic. Well, I was all three,” katanya. Buku tersebut dikemas dengan cerita yang sangat familiar dan membawa pesan penting tentang penerimaan terhadap diri sendiri.

Kita mungkin bisa bebas beropini tentang terlambat atau tidaknya Julianne Moore mendapat penghargaan paling bergengsi dalam ranah seni peran film tersebut, namun ia telah memenangkan hati dunia sejak pertama kali ia menunjukkan totalitasnya sebagai seorang aktris profesional dan mendapatkan nominasi pertamanya di tahun 1998. Lagipula, bukan Academy Awards, Golden Globes, BAFTA, Cannes, atau festival-festival film mewah lain yang memutuskan apakah seorang aktris bisa disebut sebagai yang terbaik. Lalu apa? Net worth, jumlah film yang telah dibintangi, atau kecantikan fisik yang tidak pernah memudar seiring usia bertambah? Bukan. Komitmen mereka terhadap kehidupan, profesionalitas karir, dan konsistensi pesan yang mereka bawakan dengan kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat yang membutuhkanlah yang membuat mereka patut untuk mendapat penghargaan yang pantas dari dunia. Menjadi yang terbaik bukan berarti harus mengalahkan pesaing-pesaing lain di dunia akting. Menjadi yang terbaik artinya mampu untuk mengalahkan iblis dalam diri sendiri, meningkatkan kualitas hidup dari waktu ke waktu dengan memberikan yang terbaik dan merayakan kebahagiaan sesederhana mungkin bersama orang-orang yang mereka sayangi. Menjadi yang terbaik bukanlah demi kekayaan material ataupun ketenaran komersil. Menjadi yang terbaik adalah demi menginspirasi orang-orang untuk berbuat baik, menginspirasi dunia untuk menjadi lebih baik.

Julianne Moore tidak pernah terlambat untuk menjadi yang terbaik dari dirinya sendiri.

“When someone says, ‘I’m not political’, I feel like what they’re saying is, ‘I only care about myself. In my bathtub. Me and my bathtub is what I care about’.”

Seperti pernyataan di awal paragraf, better late than never, so happy 55th birthday, Julianne Moore. Live your Oscar.

The Physician (2014) – Science & Religion

Sangat mengherankan bagi gue ketika mengetahui bahwa sampai artikel ini ditulis, belum banyak orang yang menonton film historical epic yang diangkat dari novel karya Noah Gordon ini. Mungkin karena ini film Jerman yang memiliki sedikit nudity content dan kalah pamor dengan Exodus: Gods and Kings yang tanggal rilisnya berdekatan pada tahun lalu. Secara tema dan alur cerita pun, sebenarnya film yang disutradari oleh Philipp Stolzl dan ditulis oleh Jan Berger ini sangat penting untuk disimak, terutama bagi rakyat Indonesia yang hidup dalam keberagaman suku dan agama.

Di zaman pertengahan Eropa, saat ilmu penyembuhan yang berkembang di Roma telah terlupakan akibat kekuasaan gereja yang menganggap semua kegiatan penyembuhan medis adalah sihir dan setiap pelakunya akan dihukum sampai mati, seorang pemuda Kristiani bernama Rob Cole (diperankan oleh Tom Payne) ditinggal mati oleh ibunya yang terjangkit ‘side sickness’ (yang sekarang dikenal dengan ‘appendicitis’) sewaktu kecil karena pihak gereja melarang ibunya untuk berobat pada seorang ‘barber’ (diperankan oleh Stellan Skarsgard). Saat ia beranjak remaja dan akhirnya menjadi ‘anak magang’ dari barber tersebut, ia mendengar kabar bahwa terdapat seorang tabib termahsyur di dunia bernama Ibn Sina (diperankan oleh Ben Kingsley) yang bisa mengobati segala macam penyakit. Dengan dibekali pengetahuan bahwa umat Kristiani akan dibunuh saat menginjak tanah Muslim, Rob mengembara dari London menuju Isfahan untuk belajar dengan Ibn Sina dengan berpura-pura menjadi seorang penganut Yahudi bernama Jesse bin Benjamin. Di Isfahan, Rob harus menghadapi tantangan yang muncul satu persatu disebabkan oleh politik agama yang dipengaruhi bangsa Seljuk dan tirani Shah Ala ad Daula (diperankan oleh Olivier Martinez) demi membawa kembali penerangan terhadap kebenaran dan ilmu pengetahuan di zaman kegelapan.

Meskipun harus diakui bahwa film ini adalah hasil rajutan antara fiksi dan sejarah, The Physician menawarkan pandangan yang cenderung skeptis terhadap kontribusi agama dan sains dalam kemajuan peradaban manusia. Bukan hanya doktrin Kristiani yang disindir pada film ini, namun propaganda politik Islam fundamentalis dan ajaran Yahudi juga disinggung sebagai beberapa hal dalam sejarah yang menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan. Memang terdengar provokatif, namun tidak mengeneralisir karena film ini turut mempromosikan progresivitas ajaran agama lewat karakter Rob Cole, Ibn Sina, dan Mirdin yang berasal dari kepercayaan yang berbeda namun mampu melakukan gebrakan sains lewat pemikirian mereka yang kritis dan berorientasi pada kemanusiaan tanpa harus menjadi murtad.

Ibn Sina: “What are you proposing, Allah forbids. As does Yahweh. As does Jesus Christ.”

Rob Cole: “People are dying and we can only watch. How can that be the will of any God?”

Hal yang patut diperhatikan lagi dari film ini adalah bagaimana Ben Kingsley mampu membawakan sosok Ibn Sina dengan penuh kehormatan dan tetap menjadikannya manusiawi. Hal ini diperlihatkan pada pembawaan karakternya yang tenang, cerdas, dan bijaksana. Kendati demikian, layaknya karakter yang sepatutnya disebut manusiawi, Ibn Sina tetap tidak menganggap dirinya paling pintar dan bertanya dengan penuh rasa penasaran ketika ada seorang murid seperti Rob yang pada akhirnya mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui, meskipun Rob harus melakukan cara yang dilarang oleh agama mereka. Belum lagi tentang bagaimana Ibn Sina mengajarkan eksistensi dalam metafisika (Exists due to existence, existence is not the consequence of existing…) dan bagaimana dia juga beberapa kali merujuk pada filsafat Aristotle. Kita belum mengetahui bagaimana sebenarnya sejarah bicara, namun film ini memberi pesan—khususnya bagi para fundamentalis yang sering mengagungkan Ibn Sina sebagai tokoh Islam yang berperan penting dalam kemajuan ilmu kedokteran—bahwa keagamaan tidak selalu bertentangan dengan filsafat dan ilmu pengetahuan selama bertujuan untuk kemaslahatan manusia dan seisi dunia.

Shah Ala ad Daula: “Did Allah ever create a more lowly beasts than you?”

Dengan visual effect yang luar biasa mencengangkan dan akting yang prima dari para cast, The Physician adalah sebuah cerita yang penting disimak oleh siapapun yang memiliki keraguan dalam iman yang mereka tanamkan. Karena sejatinya pemikiran kritis, ilmu pengetahuan, dan rasa kemanusiaan jauh lebih mulia dalam membentengi iman seseorang daripada hasrat politik, rasa takut, dan kebencian.

The Tale of Princess Kaguya (2014) – Cantik itu Luka

Studio Ghibli memang nggak ada matinya. Sudah diakui oleh kritikus dan publik bahwa studio animasi ini mampu menghasilkan mahakarya yang menyentuh kehidupan sehari-hari dengan kesederhanaan, padat akan pesan moral, dan tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Sebut saja Kiki’s Delivery Service, My Neighbor Totoro, Grave of The Fireflies, dan Spirited Away, maka akan tergugah jiwa-jiwa mereka para manusia yang telah menyaksikan kisah-kisah mengharukan tersebut. Pada 2013 kemarin, Studio Ghibli kembali merilis dua mahakarya yang dihasilkan Hayao Miyazaki (The Wind Rises) dan Isao Takahata (The Tale of Princess Kaguya) di tahun yang sama dan kembali menuai kesuksesan dari kedua film tersebut baik secara kritik maupun komersil. Dari kedua film animasi yang telah gue sebutkan, gue akan bahas satu mahakarya berjudul The Tale of Princess Kaguya yang dihasilkan oleh Isao Takahata, seseorang yang mengaku tidak bisa menggambar meskipun caranya merancang storyboard malah memperlihatkan sebaliknya.

Beberapa animator banyak yang berkomentar bahwa seiring berkembangnya era digital, hand-drawn animation kini telah mati. Lewat film animasi yang ia klaim sebagai karya terakhirnya, sang animator yang memulai karirnya di Toei Animation ini membuktikan bahwa ungkapan itu terlalu dibesar-besarkan. Keseluruhan film yang berdurasi 137 menit ini diciptakan oleh hand-drawn animation dari tangan Isao sendiri dengan gaya impresionis menggunakan cat air yang sedikit mirip dengan My Neighbor Yamadas yang ia ciptakan 16 tahun yang lalu. Sederhana. Namun kita merindukan kesederhanaan, bukan?

Film ini mengambil referensi cerita dari dongeng rakyat Jepang kuno tentang seorang petani bambu yang menemukan seorang bayi kecil di dalam sebuah batang bambu yang tiba-tiba memancarkan sinar terang di malam hari. Sang petani kemudian merawat bayi itu bersama istrinya hingga tumbuh dengan sangat cepat menjadi seorang gadis yang cantik. Belum lagi, sang petani juga menemukan emas berlimpah dan kain yang secara ajaib berada di dalam sebuah batang bambu sehingga pada akhirnya sang ayah dan ibu memutuskan untuk pindah ke kota dan menjadi bangsawan di sana. Sang gadis periang yang sudah terbiasa dengan kehidupan pedesaan dan bermain dengan teman-temannya yang sesama anak petani pun pada awalnya menolak, namun akhirnya harus menurut pula pada kehendak ayahnya yang ambisius. Saat menjadi bangsawan, sang gadis yang akhirnya diberi nama Kaguya ini menyadari bahwa kehidupan seorang bangsawan sangat penuh dengan tipu daya dan keserakahan. Dia yang merindukan manisnya canda tawa dengan teman-temannya di desa pun akhirnya harus menjalani peristiwa demi peristiwa yang—seperti pada animasi Studio Ghibli biasanya—mampu membuat kita merenungkan kembali cara pandang kita terhadap kepalsuan duniawi yang tercipta dari obsesi setiap manusia akan kepemilikan materi.

Satu hal yang menarik dibahas di film ini adalah bagaimana kecantikan berpotensi besar membawa bencana bagi si penyandang dan keluarganya. Kecantikan adalah penyakit, sama seperti yang pernah dibahas oleh Eka Kurniawan di novelnya yang berjudul Cantik itu Luka. Dalam film ini, diperlihatkan saat Putri Kaguya dilamar oleh lima orang bangsawan, kelima lelaki ini berpuisi dan mengibaratkan kecantikannya layaknya harta benda yang keberadaannya mustahil di dunia ini. Saat Putri Kaguya mengadakan sayembara pada mereka untuk membuktikan cintanya dengan membawa harta benda yang mereka sebutkan, kelima bangsawan tamak itu pun kelabakan dan menghalalkan segara cara agar Putri Kaguya mau menerima lamaran mereka atas pertimbangan apapun. Film ini dengan sangat baik membuat sebuah alegori tentang kehidupan bangsawan dan wanita-wanita cantik yang penuh oleh derita dan kepalsuan dunia, tidak peduli di zaman tradisional maupun modern.

The Tale of Princess Kaguya telah meraih nominasi Best Animated Feature Film di Oscar 2015, dan jika gaya impresionis yang unik, cerita yang sederhana namun powerful, serta musical scoring yang diisi oleh sang maestro Joe Hisaishi tidak mampu membuatmu mengakui bahwa Studio Ghibli telah membuat salah satu film animasi terbaik sepanjang masa lewat The Tale of Princess Kaguya, maka gue nggak tahu harus gimana lagi.

The Imitation Game (2014) – The Enigma of Equality

Salah seorang sineas ternama asal Polandia bernama Andrzej Wajda pernah mengatakan bahwa,

“When a film is created, it is created in a language, which is not only about words, but also the way that very language encodes our perception of the world, our understanding of it.”

Gue selalu terkagum-kagum setiap kali menemukan sebuah film yang dapat membahasakan banyak unsur kehidupan dan kemanusiaan dalam durasi yang relatif terbatas. Ada kalanya gue mencoba menulis ulasan tentang film tersebut, namun gue sering merasa kurang kredibilitas dan kurang ilmu yang pada akhirnya ngga jadi-jadi terus, termasuk The Imitation Game (2014) yang dulu urung gue ulas karena konten di film ini terlalu sensitif dan di luar batas kemampuan gue. Kali ini, gue mau mencoba menulis ulasan film yang sebenernya udah gue tonton dari empat bulan yang lalu ini dengan mencoba sedikit sok tahu. Sudah lulus kuliah kok, sekarang. Masak belum mau ada perkembangan?

Di tahun 1939, pasukan Nazi Jerman memulai serangannya ke Polandia, dan bersamaan dengan mobilisasi British Armed Force serta evakuasi rakyat sipil Inggris untuk mengantisipasi serangan udara dari Jerman, seorang ahli matematika terbaik di Inggris bernama Alan Turing (the famous Benedict Cumberbatch) direkrut oleh Commander Denniston untuk memecahkan Enigma, sebuah perangkat sandi paling mutakhir yang pernah dirancang sepanjang sejarah.

Meskipun bercerita tentang sebuah misi pemecahan kode sandi rahasia, treatment film ini sangat jauh dari atmosfer action-thriller ataupun war. Layaknya sebuah biographical drama, sutradara Morten Tyldum serta penulis skrip Graham Moore memfokuskan film ini pada konflik dramatis yang menimpa Alan Turing baik yang melibatkan rekan-rekan kerjanya maupun dirinya sendiri. Yang menarik adalah, seperti sub-judul yang gue berikan pada artikel ini, terdapat banyak sekali sandi-sandi yang mereka gunakan untuk membahasakan persamaan hak dan derajat bagi umat manusia. Tidak ada satu scene pun–atau bahkan satu dialog pun–yang terbuang sia-sia. Akan sangat panjang jika gue membahas scene demi scene, tapi gue akan coba merincikan beberapa poin penting yang gue dapatkan dalam film ini.

1. The Nature of Bullying, War, and Violence

“Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction and the act becomes hollow.” – Alan Turing

Alan mengatakan hal ini dua kali di dalam film ini. Yang pertama adalah flashback sequence Alan Turing saat di masa sekolah dasarnya, di mana ia sering ditumpahkan makanan dan dikurung di bawah papan kayu lantai kelas oleh anak-anak lain karena dianggap ‘aneh’. Yang kedua adalah ketika Alan dipukul oleh Hugh Alexander (Matthew Goode) karena menghalanginya untuk memberitahu Commander Denniston atas rencana agresi Jerman ke arah iring-iringan kapal penumpang di Samudera Atlantik.

 “Do you know why people like violence? It is because it feels good.” – Alan Turing

Tentu, kekerasan memang terasa menyenangkan bagi sang pelaku. Kekerasan adalah salah satu cara yang paling disukai sebagian manusia untuk merasa menjadi kuat dan perkasa di dunia yang berat bebannya membuat mereka menjadi lemah dan tak berdaya. Bagi yang sudah familiar dengan konsep cycle of abuse dari Lenora Walker (1979) tentu mengerti bahwa kekerasan bisa dikategorikan sebagai gaya hidup tidak sehat yang masih sering dianggap lumrah oleh masyarakat di lingkungan sekitar kita. Mengapa? Karena mereka tahu betapa menyenangkannya kekerasan, dan mereka memaklumi perbuatan itu biarpun mereka tahu bahwa korban merasakan sakit fisik dan mental. Mereka juga sudah memaklumi itu sebagai sebuah siklus kehidupan dan tidak mau ikut campur urusan pelaku dan korban. Mungkin film ini memang tidak menjadikan bullying atau violence sebagai pusat perputaran tata cerita, tapi untuk menyejajarkan kekerasan dalam konteks ‘bullying’ dengan ‘peperangan’ lewat repetisi dialog pada dua scene yang berbeda yang telah disebutkan sebelumnya adalah strategi yang cukup efektif untuk menyindir kelalaian dan ketidakpedulian kita terhadap kekerasan kendati cukupnya pemahaman kita tentang sebab bahaya dari kekerasan itu sendiri.

2. Feminism

“You said to finish under six minutes.” – Joan Clarke

Yap, semua dimulai saat Joan Clarke (Keira Knightley) masuk ke ruang ujian dengan disambut oleh pandangan skeptis para pengawas yang tidak percaya bahwa seorang perempuan berhasil memecahkan teka-teki silang. Melihat pada sejarah feminisime sendiri, meskipun kaum wanita sudah memperoleh hak untuk bekerja pada sektor non-militer dan industri, tahun 1939 memang masih menjadi zaman yang tabu bagi mereka untuk melakukan pekerjaan otak, apalagi di sektor intelijen. Blame the sexism. Nyatanya Joan membuktikan bahwa ia bisa jauh lebih unggul dibanding peserta ujian lain yang semuanya pria. Terlebih lagi, kedisiplinan serta kontribusi fisik maupun emosional yang Joan berikan terhadap Turing Machine maupun terhadap Alan sendiri memperlihatkan posisinya sebagai mitra kerja yang sejajar di dalam sebuah tim yang–lagi-lagi–semuanya pria. Graham Moore sebagai penulis skrip mampu merefleksikan karakter yang three-dimensional pada pribadi Joan Clarke lewat dialog yang mampu diperankan dengan sempurna oleh Keira Knightley dari awal kemunculan sampai akhir film. Penggambaran yang sangat baik ini seharusnya menjadikan Joan Clarke sebagai salah satu ikon baru bagi para modern feminist.

3. LGBT

“Do you know what they do to
homosexuals? You’ll never be able
to work again. Never be able to
teach. Your precious machine —
doubt you’ll ever see him again.” – John Cairncross

Sejujurnya, satu topik inilah yang beberapa kali membuat gue urung mengulas film ini. Bukan karena pandangan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih menganggap isu ini tabu, namun karena kompleksitas masalah yang disajikan. Sekilas, The Imitation Game dengan baik menggambarkan kondisi di dalam catatan sejarah di mana homoseksualitas masih dianggap sebuah penyimpangan berbahaya, dan menurut gue karakter Alan Turing serta plot yang disajikan di film ini–bagaimana Alan menamai mesinnya Christopher, pernyataan Alan pada Joan tentang orientasi seksualnya, ancaman dari John sang mata-mata terhadap Alan yang memergokinya, dan hukuman yang diderita Alan karena pengakuannya sebagai seorang homoseksual pada polisi–cukup baik menggambarkan tentang kekejaman pandangan masyarakat dan juga pemerintah Inggris yang salah kaprah terhadap sebab dan akibat dari homoseksualitas. Namun di lain pihak, film ini mendapatkan protes dari beberapa komunitas gay karena tidak adanya ‘gay sex scene’ sehingga menurut mereka Morten Tyldum dan Graham Moore tidak mempunyai nyali yang cukup untuk mengkampanyekan kebebasan hak kaum gay di seluruh dunia dan malah menganggap bahwa mereka berdua takut akan perolehan Box Office yang tidak mencapai target jika adegan yang masih ditabukan oleh banyak orang itu ditayangkan. Belum lagi adanya beberapa pihak yang mempermasalahkan orientasi seksual Graham Moore yang heteroseksual sebagai penyebab dari tidak adanya ‘gay sex scene’ di dalam film ini. Like, come on, gue orang yang netral terhadap isu homoseksualitas, namun bicara soal treatment film, adanya ‘gay sex scene’ hanya akan membuang-buang durasi karena seperti yang Morten Tyldum katakan di The Guardian,

The only reason to have a sex scene in the film would be to satisfy critics who feels that every gay character needs to have a gay sex scene.”

Pada hakikatnya, semua filmmaker memahami bahwa dalam setiap frame, setiap adegan, dan setiap dialog harus memiliki unsur yang sepadat mungkin untuk bisa menceritakan suatu hal yang banyak dan penting dengan durasi yang sesingkat dan seefektif mungkin, dan pernyataan Morten Tyldum di atas menurut gue cukup kuat untuk mempertahankan keputusannya dalam membentuk The Imitation Game menjadi sebuah film berdurasi sedang yang sangat padat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan persamaan hak.

The Imitation Game, sekali lagi, tidak mengandalkan twist dan suspense untuk menceritakan sebuah pemecahan kode rahasia paling mutakhir dalam sejarah PD II. Maka jangan berharap Benedict akan menjadi seorang Sherlock (TV Series) yang keren dan teknik editing yang secara visual meledak-ledak di film ini. The Imitation Game berbicara tentang manusia dengan cara yang sangat manusiawi, dan itulah sebabnya gue sangat merekomendasikan film ini untuk kalian tonton.

Apa, memang masih ada yang belum nonton?

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.

N.B.: Pidato kemenangan Oscar yang luar biasa menggerakkan dari Graham Moore sebagai Best Adapted Screenplay 2015.

“When I was 16, I tried to kill myself, because I felt weird, and I felt different, and I felt that I did not belong. And now I’m standing here, and I would like this moment to be for that kid out there who feels she’s weird or she’s different or she doesn’t fit in anywhere. Yes, you do. … Stay different, and then when it’s your turn, and you’re standing on this stage, please pass the message to the next person that comes along.”

The Disappearance of Eleanor Rigby (2014) – Kisah tentang Cinta, Luka, dan Trauma

Oke, ini bukan salah satu film yang terinspirasi dari The Beatles ataupun lagu mereka, Eleanor Rigby, yang berkisah tentang kesendirian. Bahkan satu-satunya cara film ini mereferensikan The Beatles hanyalah lewat dialog antara satu tokoh dengan tokoh yang lain di salah satu scene. Ceritanya bahkan tidak terlalu rumit, hanya tentang dua orang suami istri bernama Conor dan Elly yang mengalami perpisahan setelah satu insiden yang menimbulkan trauma seumur hidup bagi mereka. Uniknya, film ini terbagi menjadi tiga versi. Him (menampilkan cerita dari perspektif Conor), Her (menampilkan cerita dari perspektif Elly), dan Them (gabungannya/sudut pandang orang ketiga).

Film yang dibintangi oleh Dr. Xavier muda James McAvoy dan sang ‘Osama hunter’ Jessica Chastain ini mengusung tema cinta dan perpisahan dengan menggunakan atmosfer yang realis serta plot yang dewasa dan alur yang sedikit non-linear sehingga cenderung terkesan datar dan lamban. Penonton yang tidak biasa dengan film-film drama realis mungkin akan merasa sedikit jengah, namun filmgoers pemburu festival akan puas menyaksikan studi karakter dan psikologi kedua tokoh serta akting yang luar biasa natural dari James McAvoy dan Jessica Chastain.

Dilihat dari judulnya, pasti semua orang–termasuk gue–mendapat kesan awal bahwa film ini bercerita tentang pencarian seorang wanita yang hilang, Fokus cerita ini, kiranya, sebenarnya tentang pencarian kembali jati diri yang hilang karena sebuah hubungan yang hancur. Seperti yang Conor katakan pada Elly,

“You know, before you, i had no idea who i was. Then we were together, I thought i had it all figured out. Now i’m just back to wondering again.” – Conor Ludlow.

Seperti pada umumnya drama realis, kita akan banyak melihat hal-hal yang sangat familiar dengan kehidupan sehari-hari kita dan bagaimana cara kita dalam menyelesaikan permasalahan. Elly yang mengambil mata kuliah ‘Art Theory’ hanya dengan alasan “The class sounds interesting” demi perjalanan hidup yang baru dan menemukan dirinya sendiri lagi, Conor yang terlalu idealis untuk mandiri dan tidak mau ketergantungan terhadap ayahnya demi sebuah penebusan dosa atas rasa bersalah akibat trauma yang diderita, dan mereka yang berkali-kali menemukan satu sama lain dan berkali-kali memutuskan untuk berpisah sebelum akhirnya bertemu kembali hanya untuk membicarakan masa lalu yang mereka tak bisa lari darinya. Karena itu tidak heran jika di akhir film penonton akan merasa susah move-on dari kedua karakter yang sangat manusiawi ini. Alasannya sederhana, kita merasa sehancur dan setidak berdaya mereka.

Kalian tidak harus menonton ketiga versi film ini untuk bisa menikmati ceritanya. Cukup tonton ‘Them’. Namun kalau kalian memang tertarik untuk melakukan pembelajaran karakter dan psikologi Elly dan Conor dan menghubungkannya pada dunia nyata, maka kalian wajib meluangkan sehari penuh liburan kalian demi menonton ketiganya.

DISTOPIANA’S RATING:  3.5 out of 5.

Whiplash (2014) – Neiman and Fletcher Love Story

Anda bosan dengan film-film musikal yang dipenuhi dengan lagu-lagu pop easy-listening? Jenuh dengan kisah cinta dan persaingan remaja bau kencur yang diiringi oleh musikal ala-ala Disney yang dinyanyikan dengan suara cempreng? Ingin melihat sebuah film musikal yang ganteng, seksi, dan maskulin tanpa dibumbui terlalu banyak romansa klise dan menye-menye? Dengan durasi 106 menit, sebuah film berjudul “Whiplash” akan mengabulkan keinginan anda!

Film ini adalah cerita tentang ambisi buta seorang pria bernama Andrew Neiman (diperankan oleh Miles Teller) untuk menjadi seorang drummer jazz legendaris. Demi mencapai mimpinya, ia harus menarik perhatian Fletcher (diperankan oleh J.K. Simmons), seorang guru penting di New York Music School dan juga konduktor di sebuah band orkestra jazz terbaik di Amerika. Segala cara dan pengorbanan dilakukannya, termasuk meninggalkan gadis idamannya yang telah berhasil ia kencani (diperankan oleh Melissa Benoist) dan membiarkan dirinya dilecehkan dengan kekerasan fisik yang dilakukan berulang kali oleh sang Fletcher, yang dikenal memiliki temperamen tinggi serta metode pelatihan yang sangat keras sehingga semua muridnya takut dengannya.

Rumusan permasalahan yang menjadi akar dari keunikan cerita ini adalah: “Seberapa jauh anda akan melangkah demi mengejar mimpi anda? Seberapa gila anda akan mendorong diri anda sendiri?” Memang terdengar biasa saja, namun cara Damien Chazelle—sang sutradara—menuturkan problema ini dalam sebuah hubungan antara seorang pelajar dengan gurunya dan ambisi mereka yang saling kejar mengejar satu dengan yang lain mampu membuktikan kepada pasar bahwa ‘ambisi’ merupakan suatu tema yang bisa mengalahkan ‘cinta’ yang lambat laun membasi karena diolah terus menerus tanpa membuahkan evolusi yang nyata. Terlebih, performa Teller dan Simmons serta editing dan sinematografi film ini—which is more to European style than Hollywood—akan membuat anda bergidik dan kesulitan untuk menenangkan diri sepanjang film berlangsung.

Ada suatu pernyataan penting yang diutarakan oleh Fletcher dalam film ini. “The most dangerous two words in the English language are good job.” Sebuah kalimat yang membuat kita berfikir apakah memang suatu bakat yang luar biasa dapat dipanen dari pembudidayaan potensi dengan metode radikal seperti yang Fletcher demonstrasikan? Dipandang dari berbagai sudut, hal ini merupakan sesuatu yang abu-abu dan menarik untuk diperdebatkan, meskipun mungkin memang secara empiris terbukti metode seperti ini menciptakan kualitas-kualitas prima. Bagi sebagian orang, hal ini juga membuat mereka mempertimbangkan apakah karakter Fletcher bisa dikategorikan sebagai seorang protagonis, mengingat di film ini karakter Neiman lah yang paling sok tahu, merasa paling benar, dan ambition-driven.

Di samping bermacam kegantengan visual, kematangan cerita, serta akting luar biasa yang akan memanjakan mata dan pikiran, musik-musik yang disuguhkan di film ini juga akan membuat telinga anda orgasme berkali-kali—especially the ending, oh what an ending. Whiplash mungkin akan menjadi sebuah tolak ukur baru terhadap film-film drama musikal lain ke depannya, dan jika prediksi gue yang sok tahu ini ternyata benar, then it’s gonna be jizzy jazzy!

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.

The Judge (2014) – Setengah Setengah

Saat membaca sinopsis film ini, gue akuin gue seneng banget akhirnya Hollywood kembali memproduksi film legal thriller. Ditambah dengan melihat Robert Downey Jr. sebagai main cast, rasanya akan ada atmosfer baru dalam film-film dengan genre sejenis di kemudian hari, mengingat sudah lama sekali Hollywood tidak memproduksi film legal thriller.

Dikisahkan Hank, (diperankan oleh Robert Downey Jr.) seorang pengacara tangguh di Chicago, pulang kembali ke kampung halamannya di Carlineville, Indiana setelah 20 tahun dikarenakan wafatnya sang ibunda. Dia bertemu kembali dengan kakaknya Glen (diperankan oleh Vincent D’Onofrio), adiknya Dale (diperankan oleh Jeremy Strong) serta ayahnya Judge Joseph Palmer (diperankan oleh Robert Duvall), seorang hakim yang terhormat di Carlineville. Suatu pagi, setelah sebuah pertengkaran terjadi yang mengakibatkan Hank hampir berangkat kembali ke Chicago, Glen menelepon Hank dan mengabarkan bahwa ayahnya telah menjadi tersangka pelaku tabrak lari terhadap seseorang yang darahnya menempel di bemper belakang mobil ayahnya. Hubungan yang tidak harmonis antara Judge Joseph dan Hank sebagai ayah dan anak serta pertemuannya kembali dengan Samantha (diperankan oleh Vera Farmiga) membuat Hank kocar kacir memecahkan berbagai macam permasalahan yang berakar dari apa yang ia tinggalkan saat meninggalkan Carlineville. Dia harus meyakinkan pengadilan bahwa ayahnya tidak bersalah—walaupun ayahnya sendiri tidak peduli dan tidak partisipatif—dan merajut kembali serta memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ia perbuat dalam hubungannya dengan Samantha.

Film ini memuaskan dari segi teknis dan performa akting para cast. Penampilan baru Downey Jr. sebagai seorang pengacara berintegritas tinggi dan seorang anak yang tinggi egonya akan kita temukan dalam film ini. Tidak hanya dia, penampilan Duvall juga cukup sukses menciptakan chemistry ‘ayah-anak-selek-selekan’ yang kuat antara mereka berdua. Kita akan dibawa menuju sebuah keluarga yang berusaha keras untuk menjalin hubungan yang harmonis, biarpun ‘shits will always happen anyway anytime’ yang mengakibatkan mereka tidak hanya membenci satu sama lain, tetapi juga membenci diri mereka masing-masing terhadap kejadian demi kejadian yang menimpa mereka.

Yang mengecewakan adalah film ini dibangun dengan pondasi yang setengah-setengah sehingga cenderung terlihat tidak konsisten. Film ini terlalu mellow dan klise untuk disebut sebagai legal thriller, namun terlalu standar dan bertele-tele untuk sebuah family melodrama. Mungkin gue terlalu tinggi untuk menetapkan standar namun mari kita lihat Fracture, A Few Good Men, atau Primal Fear sebagai legal thriller dan A Separation, Mother, atau Silver Linings Playbook sebagai family drama. Mereka semua konsisten dengan satu landasan masing-masing yang kokoh dibangun sejak awal. Inkonsistensi dalam The Judge terpapar dalam romansa Hank dengan Samantha. No objection, I love Vera Farmiga (apalagi adiknya, Taissa, my dream girl), namun keberadaan dia dan anaknya, Carla (diperankan oleh Leighton Meester) dalam film ini menjadi irrelevan tatkala membahas premise film dan ‘jenis film apa ini.’ Fun fact buat kalian: mereka berdua ngga pernah dateng ke pengadilan kasus Judge Joseph dan ngga pernah ngomongin perihal apapun soal kasusnya. Apa yang sebenarnya Hank fokuskan di sini? Apakah membangun kembali hubungan baik dengan keluarga dan ayahnya, atau secara general memperbaiki apa yang telah berkarat karena ia acuhkan di Carlineville? Bila jawabannya yang pertama, maka karakter Samantha dan Carla is a waste dan hanya menimbulkan humor dan romansa yang justru terkesan cheesy, namun bila jawabannya yang kedua, maka film ini terlalu terfokus pada Hank dan Judge Joseph serta tidak memberikan benang merah antara Judge Joseph dengan Samantha, yang bila dirancang seharusnya bisa menajamkan konflik serta membuat premise cerita lebih solid dan konsisten.

Di luar konsistensi cerita dan premise, mungkin film ini bisa dibilang family drama yang baik karena chemistry ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ yang berhasil tercipta antara Judge Joseph dan Hank yang masing-masing keras kepala dan egois namun tegas dan memiliki determinasi. Ending film ini pun cukup baik. Tidak perlu twist bertele-tele dan penggambaran isak tangis ‘mblabar-mbleber’ plus orkestra massal untuk mengoyak-ngoyak emosi penonton. Film ini juga masih terbilang recommended untuk ditonton fangirl Robert Downey Jr. It’s him on his different, manly shape, girls. Go get him!

DISTOPIANA’S RATING: 2 out of 5

The Hunger Games: Mockingjay Pt.1 (2014) – A Fine Beginning to an End

To be honest, gue bukan pembaca serial buku Suzanne Collins ini, namun gue setia ngikutin sekuel film The Hunger Games dari awal. Gue tertarik dengan dystopian future theory—yang juga menjadi alasan kenapa gue bikin blog ini—dan sekuel The Hunger Games menawarkan konsep dystopian future yang menarik untuk diulas. Karena gue terlanjur nonton dan tertarik sama filmnya duluan, maka mungkin gue baru akan baca bukunya setelah gue udah nonton semua sekuel filmnya sampai selesai untuk mengetahui apakah Francis Lawrence berhasil menginterpretasikan isi kepala Suzanne Collins atau tidak. Jadi kali ini gue akan ulas film ini dari sudut pandang cerita film tanpa membandingkan dengan bukunya.

Katniss Everdeen (diperankan oleh Jennifer Lawrence) memercikkan api pemberontakan terhadap Capitol setelah menembakkan panahnya ke electric barrier saat Quarter Quell di film sebelumnya (Baca: Hunger Games – Catching Fire Ending and Spoiler Discussion). Dia berhasil diselamatkan oleh Gale ke District 13, markas tempat di mana para pemberontak terkuat berpusat dan menggerak serta mengakomodir para pemberontak seluruh distrik di Panem. Di sana, Katniss mendapatkan 3 kabar buruk: District 12 telah hancur menjadi puing-puing, Peeta telah ditawan dan dimanfaatkan oleh Capitol, dan bahwa dia kini menjadi satu-satunya sosok yang mampu menjadi simbol resistensi dan membakar gerakan pemberontakan di Panem—The Mockingjay. Dipandu oleh President Alma Coin (diperankan oleh Julianne Moore) dan Plutarch (diperankan oleh mendiang Phillip Seymour Hoffman), Katniss menyuarakan propaganda lewat rekaman video pergerakannya bersama kru tentara yang disutradarai oleh Cressida (diperankan oleh Natalie Dormer) dan yang kemudian akan disiarkan ke seluruh distrik lewat frequency hijacking oleh Beetee (diperankan oleh Jeffrey Wright).

Francis Lawrence berhasil membangun ketegangan lewat percakapan antar tokoh dan akting yang intens. Secara tidak terduga, kita tidak akan menemukan banyak action di film ini. Sebagian temen-temen gue di social media bahkan bilang film ini adalah yang paling membosankan di antara seri The Hunger Games lainnya. Mungkin mereka sebelumnya mempunyai harapan bahwa akan ada lebih banyak ledakan, kehancuran, dan kematian tragis di film ini dibandingkan film sebelumnya (link: Hunger Games – Catching Fire Review). Namun sebagai orang yang senang menonton film drama-thriller, menurut gue Mockingjay pt.1 berhasil membangun sebuah suspense yang konsisten lewat warna yang gelap dan pesan yang kuat sehingga cenderung terkesan politis. Bagaimana Capitol memanfaatkan Peeta sebagai instrumen anti-propaganda merupakan sebuah satir terhadap pengalihan fungsi media massa dan public figure sebagai alat kontrol politik dan pengendali opini masyarakat. Kita juga akan disuguhkan dengan Marketing Video: Directing Tutorial dan How to Do Viral Campaign oleh Plutarch, Coin, dan Cressida. Mereka mendemonstrasikan aplikasi semiotika dengan baik dalam film ini, terutama di scene “People of Panem, we fight, we dare, we end our hunger for justice! (pfft)” dan scene di mana Finnick berbicara panjang lebar untuk mengacaukan frekuensi gelombang pertahanan Capitol.

Bicara soal warna film, penggambaran visual tentang kekacauan dan huru-hara pemberontakan di film ini sudah cukup baik walaupun memang kurang ramai dibandingkan film-film epik lain (mungkin karena memang cerita ini pada dasarnya bukan epik). Scene yang memperlihatkan tumpukan tulang mayat-mayat di District 12 dan kondisi rumah sakit darurat di District 8 mampu menciptakan momen emosional karena penataan seni dekorasi dan sinematografi yang hebat. Scene “8-Minute Evacuation” menjadi favorit gue karena menggunakan permainan lighting yang biasa dipakai di film-film survival horror. Namun lumayan banyak pertanyaan muncul di scene “Dam Bombing” karena para pemberontak terlihat sangat kekurangan strategi; menembus pertahanan pintu masuk dam dengan hanya menggunakan human shield sebagai pelindung para bomber. Bila memang ‘showing brave-to-death volunteers dying for hope’ semata untuk membangun atmosfer tragis, maka hal tersebut reasonable untuk dilakukan, biarpun menurut gue gagal, karena seharusnya barisan depan bisa menggunakan pelindung dari kayu atau logam untuk mengurangi korban dan lebih efektif untuk menabrakkan diri mereka dengan keras pada pasukan pertahanan Capitol.

Seriously, kalau kalian tertarik mendalami dunia marketing, tanpa harus menonton dua film sebelumnya pun, film ini bisa jadi sangat menarik untuk kalian tonton. Untuk kalian yang ingin menonton film ini untuk mendapatkan keseruan ringan atau sekadar mengikuti jaman, catatan bagi kalian adalah: segera urungkan niat untuk dihibur oleh aksi-aksi akrobat Katniss dan nikmati film ini sebagai appetizer untuk sebuah akhir yang (semoga) spektakuler.

If we burn, you burn with us!”

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

Interstellar (2014) – Emotional Transcendence

“We used to look up at the sky and wonder at our place in the stars, now we just look down and worry about our place in the dirt.” – Cooper

Nolan did it again! Dua tahun penantian gue sebagai Nolan fanboy untuk menunggu film selanjutnya berakhir di tanggal 6 November kemarin. Sempet penasaran banget sama film yang satu ini karena posisi DOP yang dikemudikan oleh Hoyte van Hoytema (Her, Tinker Taylor Soldier Spy) menggantikan Wally Pfister yang kemarin sibuk dengan debut penyutradaraannya, Transcendence. Film ini juga merupakan terobosan baru bagi Nolan dari segi tema dan konsep setelah mencoba mengeksploitasi mimpi, muslihat, dan kriminalitas di beberapa film sebelumnya. Banyak juga yang memprediksi bahwa film ini tidak akan dapat menandingi—atau bahkan sejajar—dengan film-film yang pernah dia buat sebelumnya.

Saat masa depan tengah dilanda bencana ekologis berupa hama, anomali cuaca, dan badai pasir yang kian memarah, semua tenaga kerja manusia dipaksa untuk menjadi petani darurat demi memenuhi kebutuhan pangan yang semakin menipis. Cooper (diperankan oleh Matthew McConaughey), seorang mantan pilot pesawat terbang dan insinyur, mendapatkan sebuah koordinat dari anomali gravitasi di kamar anaknya yang menuntun dia menuju sebuah fasilitas NASA yang tersembunyi dan dirahasiakan oleh pemerintah. Dituntun oleh Prof. Brand (diperankan oleh Michael Caine), anaknya Amelia (diperankan oleh Anne Hathaway), dan dua astronot NASA lain, dia mempelajari bahwa krisis ekologis ini akan segera mengakhiri peradaban manusia di Bumi, dan bahwa ada 12 astronot dalam proyek Lazarus yang menunggu untuk dijemput di sebuah planet di galaksi lain yang memiliki potensi kehidupan layaknya Bumi. Tanpa punya pilihan lain, Cooper terpaksa meninggalkan anak-anaknya, Tom (diperankan oleh Timothee Calamet dan Casey Affleck) dan Murph (diperankan oleh Mackenzie Foy dan Jessica Chastain) untuk melakukan penjelajahan antar galaksi demi mencari rumah yang lebih baik lagi untuk umat manusia.

Meskipun tidak lebih baik dari Inception dan The Dark Knight, menurut gue ini adalah film paling emosional yang pernah dibuat Nolan selama ini. Nolan mengeksplor penjelajahan luar angkasa dari sisi yang lebih manusiawi dan sentimental. Terlebih treatment visual dan musik latar yang epic membuat film ini terlihat seperti 2001: A Space Odyssey dengan sentimen dan twist modern khas Nolan di dalamnya. Ini juga merupakan film Nolan yang paling eksperimental dalam segi apapun. Di bagian visual, Hoyte van Hoytema menggunakan kamera analog 35mm dan kamera IMAX untuk pengambilan gambar sehingga tekstur film terlihat sedikit kasar namun dapat dinikmati tiap detilnya. Belum lagi visualisasi luar angkasa, wormhole, dan blackhole di dalam film ini yang menurut gue jauh lebih spektakuler dari yang pernah diberikan Gravity (of course, Gravity didn’t give you any wormhole or blackhole, didn’t it? Aaand did I mention about the tsunami and glacier inside the inhabited planets? It’s awesome) Dalam segi durasi, ini merupakan film terpanjang Nolan dengan 169 menit waktu tayang di luar kredit. Namun tentu panjangnya durasi film tidak pernah menjadi suatu kekurangan untuk setiap film-film yang dia buat. Dalam Interstellar, dia selalu memanfaatkan setiap detik yang ada untuk mengaduk-aduk perasaan penontonnya lewat kekuatan penulisan skrip. Dalam adegan di mana Cooper dan Amelia masing-masing menonton transmit pesan dari keluarga mereka di Bumi, terdapat monolog serta akting terbaik yang pernah gue liat dan dengar dalam film-film di tahun 2014 ini. Emotional, heartbreaking, ditambah komposisi musik dari Hans Zimmer yang menurut gue layak banget dapet nominasi Best Original Scoring untuk Oscar tahun depan. Mackenzie Foy sebagai Murph kecil sukses mencuri perhatian dalam setengah jam pertama film ini. She’s so adorable I wish my daughter in the future resembles her.

Sebagian orang, termasuk gue, mungkin bakal banyak bertanya-tanya selepas keluar menonton film ini dari bioskop. Di samping tema yang diambil memang thought-provoking dan kontroversial dalam segi sains itu sendiri (tentang interstellar travel melalui wormhole dan fifth dimensional space yang berada pada satu titik di dalam black hole), ada beberapa hal dalam film ini yang menurut gue seharusnya bisa dieksekusi dengan lebih baik oleh Nolan:

  • Pertama, pernyataan Amelia tentang “Love is the one thing that transcends time and space” (huwek). Gosh, kenapa tiba-tiba harus muncul pernyataan seperti ini dari mulut seorang intergalactic space scientist di dalam dialog film seorang Christopher Nolan? I mean, I know she was desperate and she can say anything she wants, but isn’t that line is too cheesy for Nolan to be forgiven?
  • Kedua, I hate the ending. Period. Kecuali ada pernyataan dari Nolan bahwa 15 menit terakhir film tersebut hanyalah imajinasi visual Cooper menjelang detik-detik kematiannya di dalam black hole, gue menganggap ini adalah ending paling sampah yang pernah dibuat Nolan. Seriously, dengan ending-ending spektakuler yang pernah dia buat di Following, Memento, dan The Prestige, Nolan surely can do it damn better than that crappy-too-happy ending.

Banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa Interstellar adalah film space travel terbaik yang mengilustrasikan blackhole dan wormhole secara ilmiah namun ringan (meskipun beberapa kontroversi tentang tidak adanya spaghettification di dalam blackhole). Di samping segala kekurangan kecilnya, film ini tidak boleh dilewatkan sama sekali dan harus kalian tonton di bioskop (I recommend, much much recommend IMAX! With Dolby ATMOS!) dan selamat melakukan penjelajahan antar galaksi sambil menangis tersedu-sedu!

P.S: Dear, Anne Hathaway. Stop rolling your eyes like that *blushing*

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

What If (2014) – Escaping Friendzone 101

Harry Potter got friendzoned by Ruby Sparks. Could it be any funnier? Seenggaknya ini kesan pertama gue saat ngebaca logline dan cast dari film ini. Harry Potter, Friend-Zone, Ruby Sparks. Tiga elemen yang secara subjektif menjadi favorit gue. Awalnya gue berpikir film ini akan jadi semacam 500-Days-of-Harry-and-Ruby, tapi ternyata Michael Dowse, sang sutradara, berhasil meramu film ini menjadi sesuatu yang lain.

Berkisah tentang Wallace (diperankan oleh Daniel Radcliffe) yang bertemu dengan seorang gadis bernama Chantry (diperankan oleh Zoe Kazan) di sebuah pesta setelah setahun mengurung diri di rumahnya karena patah hati. Mereka kemudian menjalin sebuah hubungan yang mereka sebut sebagai ‘pertemanan’ di saat mereka tahu bahwa mereka saling menyukai satu sama lain namun Chantry sudah terlebih dulu memiliki kekasih bernama Ben (diperankan oleh Rafe Spall), seorang praktisi HAKI di UN yang sangat menyayanginya. Peristiwa demi peristiwa mereka lalui sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka terlalu banyak berbohong pada diri mereka masing-masing tentang perasaan mereka pada satu sama lain.

Iya, inti alur ceritanya memang hanya sesimpel itu. Namun detail yang disajikan oleh sang sutradara Michael Dowse dan sang penulis skrip Elan Mastai membuat film ini menjadi sebuah permainan perasaan yang tidak pernah kita tahu kapan saja dia berkata jujur atau dusta. Like I said before, film ini tentang dua orang yang saling jatuh cinta namun saling membohongi perasaannya masing-masing karena situasi pribadi yang tengah mereka alami. Wallace dengan hati yang retak dan “Love is Stupid” principle-nya dengan Chantry yang sudah lebih dulu punya pacar yang menyayanginya.

Sebagai seorang cowok, film ini lucu buat gue. Lucu, by means “cute”. Meskipun gue jauh lebih mengagumi cuteness dari Ruby Sparks (which is cuteness overload!) tetapi film ini juga mampu dikategorikan sebagai one of those cute films karena dua aspek. Pertama, film ini memperlihatkan secara natural bagaimana saat manusia senang membohongi dirinya sendiri. Kita biasa melihat di banyak film drama bagaimana manusia saling membohongi satu sama lain, namun dalam film ini Daniel dan Zoe berakting dengan sangat baik sehingga membentuk chemistry yang ‘cute’ dan memberikan rasa yang lebih kental dari film-film bertemakan ‘friendzone’ yang lain (ya…bahkan dibandingkan Ron Weasley & Hermione Granger, Harry’s childhood friend). Kedua, hal-hal kecil yang ada di film ini seperti “How much does Elvis colon weight when he died?” (Like, really…?), permainan ‘fridge puzzle’ yang mempertemukan mereka, serta ‘Fools Gold gift exchange’ membuat jomblo-jomblo mengenaskan (iya, termasuk gue. I.Y.A.) sedikit berandai-andai tentang kehidupan cinta yang mungkin akan dialami bersama seorang sahabat yang direncanakan untuk menjadi pacar di masa depan.

Film ini cukup unik dan mendapat nilai positif buat gue di antara film-film romantic comedy lain. Kalian yang senang dengan semi-fantasy love-life atau pria-pria nelangsa bernasib serupa namun berwajah tidak sama dengan Daniel Radcliffe, kalian wajib nonton film ini sebagai salah satu referensi kalian.

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5