Tag Archives: 2015

Anomalisa (2015) – Modus Anomalisa

Ada kalanya saat mengulas film yang bikin baper, saya butuh waktu untuk sendirian, lalu meringkuk di atas kursi kerja sambil merenungi rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dada saya. Namun ada kalanya juga, saya harus membicarakan beberapa hal yang saya rasa perlu dipaparkan lewat dua sudut pandang yang berbeda agar komprehensif dan tidak bias. Untuk itu, dalam mengulas film Anomalisa, saya mengajak Icha Chairunnisa, salah seorang blogger kondang asal Samarinda yang juga sering ngebaperin film-film yang sudah ia tonton di blognya, Terketik. Film yang istimewa, tentunya harus diulas dengan cara yang istimewa, dan ulasan kali ini akan saya paparkan dengan bentuk rekap hasil korespondensi saya dengan Icha.

[CHAPTER 1]

T : “Halo Ichaa, Kapan nih kita baperin Anomalisa?”

I : “Hai Tommy! Ayok kita mulai sekarang baperinnya. Hehehe. Aku suka filmnya! Dan aneh sih, aku pas nonton adegan Lisa dan Michael lagi beradegan ena ena, aku ngomong ‘Film animasi nakal!’ berkali-kali. Awalnya aku bingung sih kenapa suaranya kok sama semua. Mulai dari orang yang duduk di sebelahnya waktu di pesawat, di hotel, nggak cewek nggak cowok. Bahkan mantannya yang namanya Bella itu pake suara cowok. Bajingak. Geli nontonnya. Ngakak gitu aku.”

T : “Tapi pada akhirnya kamu ngerti kan itu kenapa?”

I : “Hmm… kalau yang aku baca dari review soal film itu, suara cewek pake suara cowok dan semua suara orang di situ sama semua, menandakan betapa membosankannya hidupnya Michael. Dia nganggap semuanya sama. Kalau nggak salah, itu ada di ilmu psikologi gitu ya. Fregoli Syndrome kalau nggak salah.”

T : “Yup, betul, every girl is just another boring person for him, kecuali Lisa…”

I : “((KECUALI LISA))”

T : “…dan ketika suara Lisa menjadi berat dan Michael ogah-ogahan, itu juga karena dia udah bosen sama Lisa.”

I : “Oooh….. secepat itu dia bosen sama Lisa? Trus yang dia pidato hancur-hancuran itu? Itu dia maksudnya curhat colongan ya?”

T : “It’s because he literally can’t stop thinking about her, and what happened between him and her. Lisa itu sama-sama korban kayak Bella. Korban PHP. Korban ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Korban cowok ilfil yang nggak bisa konsisten sama perasaan dia sendiri.”

I : “AAAH! Jadi, Michael itu memang tipe orang yang bosenan? Madefaqa. Eh, kamu ngerasa relate nggak sih, Tom? Wkakakakaka.”

T : “Aku pernah jadi Michael dan juga jadi Lisa. Tapi lebih sering jadi Lisa sih HAHAHA.”

I : “Wuahahaha. Lebih sering jadi Lisa. Yakin? :p”

T : “Hmm…gimana yah? Udah ah lanjut ngomongin Anomalisa wqwq…”

I : “Ih dasar, mengalihkan perhatian wkwk. Aku pikir karakter Michael itu mirip sama karakter Theodore-nya Her. Soalnya filmnya sama-sama tentang kesepian gitu kan. Tapi ternyata…”

T : “Nah justru film ini mengajak kita untuk mengerti sebenarnya apa yang si manusia PHP ini rasakan. Pertanyaannya adalah: Kamu pernah jadi Michael atau Lisa nggak? Hehe hehe~”

I : “Aku pernah jadi Lisa. Aku pernah ceritain itu di blog. Dan kasusnya sih mirip-mirip kayak film Anomalisa. Aku kayak Lisa yang rendah diri, pemalu, minderan, dan ngerasa waaaaw banget pas orang yang aku idolain itu deket sama aku dan bilang suka sama aku.”

T : “Hmmm ya ya.  Coba gimana detailnya?”

I : “Kejadiannya udah lama sih. Hahaha. Kalau boleh curhat nih, basah sekalian, dia itu komika. Dulu aku ngedukung dia penuh pas ikut SUCI. Nontonin dia kalau Open Mic. Dan nggak nyangka aku bisa deket sama dia. Padahal waktu itu aku punya pacar. Hahahaha.”

T : (menyeruput kopi)

I : “Tapi lama kelamaan dia ngejauh. Tanpa sebab. Atau akunya aja yang nggak tau sebabnya apa. Atau dia ya kayak Michael, bosen sama aku. Padahal aku udah mau mutusin pacarku waktu itu demi dia. Tapi akhirnya ya aku tetap sama pacar. Setelah ngaku kalau aku pernah deket sama idolaku itu.”

T : “Pembicaraan ini telah saya screenshot dan sudah pasti akan masuk Distopiana HAHAHA~~~~~”

I : “BAJINGAAAAAK!!!!!!!!!!!!”

T : “Wqwq buodo amat. Eh cha, mau pulang dulu. Makan dulu. Boleh nggak cha? Malem lanjutin lagi gitu.”

I : “Boleh lah, Tom. Makan yang banyaaaak. Biar kuat kalau mau jadi Lisa lagi! Wkakaka.”

[CHAPTER 2]

T : “Oy oy.”

I : “Hadiir! Duh, Gara-gara nonton Anomalisa, jadi pengen nonton Eternal Sunshine lagi. Wkakakaka.

T : “Hahaha oke lanjut. Apa persepsi kamu terhadap orang yang PHP in kamu itu? Kamu nganggep dia bajingak kah? Atau gimana?”

I : “Aku nganggap dia jahat banget. Bajingak gitu. Gimana ya, aku yang awalnya minderan, rendah diri, pas kenal dan deket sama dia jadinya mulai percaya diri gitu. Soalnya dia mandang kekuranganku sebagai kelebihan. Sama kayak Michael mandang kekurangannya Lisa sebagai kelebihan. Pas tau dia cuma pehapein aku, akunya jadi ngerasa lebih minder daripada sebelum dekat sama dia. Ngerasa nggak berharga. Ngerasa bego juga, karena kok aku bisa gede rasa sama dia. Padahal dianya cuma nggak mau serius sama aku.”

T: “Hmm…oke oke.”

I : “Trus, Tom. Si Lisa kenapa tegar aja ya pas di ending? Padahal dia dipehapein gitu. Ditinggalin sama Michael.”

T : “Lisa falls too deep. Too hard. She was destroyed. And you know what, that’s what a destroyed person does when he got destroyed too much before. She’s just taking it like a lady, when she actually feels like a hobo.”

I : “Feels like a hobo :’) Jadi…sebenarnya Anomalisa ini ceritanya bukan sekedar cowok bosen hidup yang tiba-tiba jadi semangat hidup karena ketemu cewek yang berbeda dari yang lain kan?”

T : “It’s hard to describe sih, Cha. Kamu pernah ngerasa bosen nggak sama seseorang yang pernah kamu suka sebelumnya?”

I : “Pernah. Tapi bukan ke bosen sih. Gimana ya, kan jadi ikutan susah ngejelasinnya. Ya gini. Aku suka sama seseorang, yang menurutku dia itu nggak pernah aku temuin di cowok-cowok lain. Atau gini, dia jadi seseorang yang aku nggak sangka bakal datang ke hidupku. Ceilah. Hidup. Seseorang yang aku suka itu, dia humoris tapi juga manis. Kami juga punya hobi yang sama dan dia selalu nyemangatin aku kalau minderku kumat.”

T : “Hmm terus terus?”

I : “Tapi makin ke sini, aku jadi tau dia itu memang manusia. Pasti ada kurangnya. Aku bosen sih ngertiin dia. Menganggap kalau sifatnya itu nggak apa apa. Tapi bosen yang nggak lama. Itu sih.”

T : “I see…”

I : “Kalau menurut kamu, kita bisa bosen sama orang itu sebenarnya karena apa, Tom? Karena nggak ada yang bikin kita penasaran lagi sama dia? Karena hubungan yang dijalin terlalu lama? Atau apa?”

T : “Nah, ini dia. Aku pernah bilang sama temen aku, aku pengen banget tahu caranya bedain rasa ‘sayang’ sama yang sekedar ‘penasaran’ doang. Terus temen aku ngetawain aku sambil bilang: Good luck aja deh, Tom. HAHAHA!”

I : “KOCAK TEMEN KAMU IH. JAHAT JUGA JAWABNYA KAYAK GITU. HAHAHAHA.”

T : “Wqwq terdengar jahat memang, Tapi dia sebenernya bilang kalo sampai sekarang pun, manusia sepandai apapun nggak akan pernah bisa bedain mana cinta dan mana penasaran. Hoki-hokian aja sebenernya. Sama kayak Michael yang tiba tiba sadar di pagi hari setelah ena ena sama Lisa. Lisa yang udah nyaman banget sama Michael tiba-tiba malah bikin Michael ilfil karena pada akhirnya Michael ngeliat Lisa sama aja kayak manusia-manusia pada umumnya. Cinta dan penasaran sama-sama bisa bikin kita clingy sama seseorang. Sama sama bisa bikin dia menghantui mimpi kita. Sama-sama bisa bikin kita mau ngelakuin apa aja buat dia.”

I : “ITU DEEP SIH TOM! Eh, tapi bener juga. Nyaris nggak ada bedanya mungkin. Jatuh cinta sama penasaran. Memang bener mempertahankan itu lebih susah daripada mendapatkan. Termasuk mempertahankan jatuh cintanya kita sama seseorang.”

T : “When we try to get love, we only have to fight for one person. When we try to defend love, we have to face another difficult enemies: ourselves.”

I : “Aaak bijaque banget sih :’) Trus, Tom. Setuju nggak sih kalau kita terlalu nyaman sama seseorang atau sesuatu, kita malah ngerasain kebosenan? Mungkin itu yang dirasain Michael.”

T : “Nggak semua orang begitu, sih, tapi dalam kasus Anomalisa ini mungkin. Kamu lihat kan pas di scene di mana Michael kebayang-bayang sama hantunya Bella? He actually feels guilty and wants to settle it once and for all. Tapi dia tetep nggak bisa ngerasain cinta yang dia mau. Pas di Lisa yang dia kira true love nya dia pun, dia ternyata nggak bisa ngerasain itu. Pas di istrinya pun sama, istrinya pake suara cowok kan. He still feel the same empty, numb feeling towards her. But he settle it once and for all with her, without feeling love, the feeling that he is unable to have.”

I : “Hooh iya iya…”

T : “Bisa aja Michael ini a realistically mundane version of Summer Finn.”

I : “YAAAAA! AKU JUGA SEMPET KEPIKIRAN 500 DAYS OF SUMMER! MICHAEL SAMA SUMMER ITU SAMAAAA! SAMA-SAMA BIKIN KITA BINGUNG MAUNYA MEREKA ITU SEBENARNYA APA! AAAAAAK! Summer juga ngerasain kekosongan dalam hidupnya kan? Dia nggak percaya apa itu cinta. Tapi bedanya sama Michael, dia riang dan gembira dalam menjalani hari-harinya. Aku mikir kalau dia nggak mau cinta-cintaan karena dia nggak mau ngerasain kesedihan kayak yang dirasain kedua orangtuanya. Orangtuanya yang bercerai. Kesedihannya ngeliat orangtua mereka bercerai. Summer udah kayak judul lagu yang dinyanyiin sama Lisa. Girls Just Want To Have Fun. Gitu kali ya HAHA.”

T : “Yup yup, bener banget!”

I : “Oke. Itu yang dirasain sama para tukang PHP ya? Nggak punya keberanian buat making decision to love and protect someone. Madefaqa. Lemah. Lemah syahwat. Fix itu yang dirasain Michael. Dan mungkin juga Summer Finn. Pantesan kayaknya tukang PHP memang doyannya sama orang yang rendah diri dan minderan gitu deh. Michael bisa pehapein Lisa karena dia rendah diri dan suka bilang ‘Shut up, Lisa’ pas dia ngomong terlalu banyak. Summer bisa pehapein Tom Hansen karena Tom Hansen rendah diri. Tom yang pesimis sama hidupnya. Bella juga keliatan rendah diri kan? Pas di telpon, dia kasih tau kalau sekarang dia gemuk, pake gigi palsu, bla bla bla. Pas ketemu dia bilang kalau dirinya jelek.”

T : “YAHELAH KENAPA BALIKNYA KE (500) DAYS OF SUMMER LAGI SIH!! *kraiii*”

I : “HAHAHA MAAF TOOM JANGAN BAPER! Film 500 Days of Summer itu genrenya slasher, gore, thriller, kalau kata temenku 😂😂”

T : “Iya udah jangan dilanjutin, gasehat bapernya. Terus-terus, pandangan kamu terhadap orang yang PHP gimana sekarang?”

I : “Setelah nonton Anomalisa, aku ngeliatnya ternyata jadi tukang PHP itu nyusahin diri sendiri. Ternyata tukang PHP itu bisa jadi tukang PHP bukan karena dari awal niatnya mau memberi harapan palsu. Bisa aja dia niat awalnya mau serius sama seseorang. Tapi karena dia nggak bisa tegas sama perasaannya sendiri, dia terlalu mengejar kesempurnaan mungkin nggak bisa nerima kekurangan kecil pasangannya kayak Michael nggak bisa nerima kebiasaan Lisa yang suka ngomong sambil makan, ya udah dia milih pergi aja. Huhuhu.”

T : “Yup. Aku juga ngerasanya gitu kok.”

I : “Dan…. sekarang aku yang tanya. Waktu kamu pernah jadi Michael, kamu kayak gimana? 😂😂😂😂”

T : *tidak ada jawaban* *hening*

T : “Chaaaa, maaf baru bales. Aku semalem ketiduran!”

I : “Ketiduran apa menghindari pertanyaan? Hahaha. Yuk lanjut lagi.”

T : “Nggak menghindar kok. Nih aku jawab sekarang ya. I’m a simple guy who goes for a girl for a sweet life companion. Intinya hidup udah susah, kerjaanku juga udah susah, aku nggak suka sama yang bikin-bikin drama yang harusnya nggak ada, main mainin perasaan cowok cuma biar dia dikasih perhatian lebih 1×24 jam. Aku orang yang bener-bener sederhana, cuma beberapa cewek yang berhasil bikin aku terpikat di awal kenal itu ternyata seneng over-complicating things sehingga aku capek dan akhirnya aku tinggalin sebelum semuanya terlambat.”

I : “Hahaha. Tauk nggak sih. Aku ngakak bacanya. Jujur dari hati banget. Lugas. Fix cowok memang nggak suka sama cewek yang ngedrama gitu ya. Kalau punya perasaan yang sama, yaudah lanjut. Nggak usah nunggu siapa duluan yang nyatain gitu kan? Nggak usah sok-sok minta diperjuangin gitu kan dengan bertingkah sok jual mahal?”

T : “Nah, kalau aku sih, begitu, Cha, tapi kayaknya tiap cowok beda-beda sih. Banyak cowok yang aku kenal juga ada yang nggak suka sama cewek yang belum apa-apa udah clingy dan demanding, ada yang emang syariah dan nyari satu langsung diseriusin, ada yang emang cuma nyari selangkangan doang abis itu bosen terus ditinggalin, dan ada yang kayak Michael juga, Si Pria Modus Anomalisa.”

I : “(((MODUS ANOMALISA)))”

T : “Okay, that should be our post’s tagline. HAHAHA.”

I : “Setuju banget! Nah, Sekarang bahas soal teknisnya deh, Tom. Kalau mau.”

T : “Aku nggak komentar masalah teknis, because it all seems bizzarely, strangely mundane. Tapi jelas ada maksud tertentu dari kenapa Charlie Kaufman menggunakan animasi stop motion ala-ala Aardman. Lewat setiap manusia yang berbentuk seperti manekin dengan wajah yang hampir mirip, Anomalisa eerily tells us that we are no different than the others. That we are not as special as Tumblr tells us. That we are just someone else.”

I : “Dalem banget sik kata-kata kamu, Tom. Tapi bikin ngakak juga. Hahaha.”

T : “KOK NGAQAQ SIH? KZL! Yaudah sekarang menurut kamu secara teknis, Anomalisa gimana?”

I : “Ngahaha. Kalau aku, lebih ngerasa relate sama Lisa sih. Lisa yang pemalu dan rendah diri itu kurang lebih kayak aku. Aku sempat nangis dikit pas Lisa ‘ngasih tau’ kekurangan-kekurangannya tapi MIchael menyangkal semua itu. Pasti bahagia banget jadi Lisa di malam itu. Ada cowok yang menyanjung dia sampe segitunya. Nganggap kalau dia itu berbeda. Spesial. Kalau ada cowok yang muji kami, cewek-cewek, dengan kalimat, “Kamu berbeda.” Itu lebih bikin senyam-senyum daripada dipuji cantik atau semacamnya.”

T : *mencatat*

I : “Tapi pas Michael dan Lisanya sarapan, aku juga nangis dikit. Tapi beda sih nangisnya. Aku nangis dikit karena mikir, ini Lisa kok gampang banget ya ngiyain Michael? Michael yang mau bareng dia terus sampe mau cerai dari istri. Apa semua cewek yang rendah diri itu gitu? Kalau ada yang suka sama dia, trus dia nyaman dan suka juga, dia nggak mikirin ke depannya kayak gimana? Seolah yang ada di pikirannya itu cuma “ada yang sayang sama aku dan aku nggak peduli apapun yang penting ada yang sayang sama aku”. Dan endingnya tadi nonton lagi filmnya. Dan aku nangis masaaaaa. HAHAHAHAHA. Aku cengeng banget ya.”

T : “Nggak cengeng, kok. Menangis itu manusiawi. Pukpuk Icha.”

I : “Hahaha iya nih, Anomalisa bikin bingung, bikin ngakak, dan bikin baper emang. Beda sama 500 Days of Summer yang menampilkan Summer sebagai tukang PHP secara gamblang jadinya Summer terlihat kejam, Anomalisa nampilin Michael sebagai tukang PHP yang menurutku patut dikasihani. Kasihan aja sih, dia capek sendiri sama perasaannya yang nggak konsisten.”

T : “Jadi menurut kamu, tukang PHP terkadang juga harus dipahami ya?”

I : “Kurang lebih begitu sih, karena terkadang sebenarnya yang kasihan itu si tukang PHP, bukan yang dipehapein kan. Apalagi kalau tukang PHP-nya kayak Michael. Yang kayak dihantui perasaan bersalah gitu. Kalau kesimpulan dari kamu apa, Tom?”

T : “Sebelumnya aku boleh nanya dulu nggak, Cha?”

I : “Boleh, nanya apa, Tom?”

T : “Itu siapa sih yang menemukan kata bajingak? Tak senonoh. Sungguh. Wkwkwk.”

I : “AKU! BAHAHAHAHAHAHAHA. Gara-gara keseringan misuh di grup main werewolf, sering dibunuh di awal permainan, yaudah aku ngumpat. Mau pake bajingan kayaknya kasar banget. Yaudah diplesetin jadi bajingak.”

T : “Luar biasa hahaha. Yaudah lanjut. Kesimpulan dari aku: Pen + Apple = Apple Pen.”

I : “Sialan. Hahahaha. Kesimpulannya bagus, Tom. Seandainya boneka yang dibeli sama Michael itu bukan nyanyi lagu Jepang, tapi lagu pen apple apple pen itu ya.”

T : “Ya, seandainya Michael menyanyikan PPAP saat memberikan kuliah umum, mungkin hidupnya akan jauh lebih berbeda.”

I : ” BAJINGAAAAAK. PPAP berpengaruh besar ya.”

T : “Canda deng hahaha. Kesimpulan dari aku adalah: Anomalisa memperlihatkan bahwa beberapa tukang PHP seperti Michael yang sering dibajingak-bajingakkan itu sebenarnya memiliki kelinglungan yang menyiksa dan sama saja seperti kita yang clueless dalam mengartikan kehidupan dan memaknai perasaan. Kalo kesimpulan dari kamu apa?

I : “Kalau dari aku: Anomalisa memperlihatkan kalau tukang PHP seperti Michael adalah orang yang menyedihkan. Dia kelewat bosan, dia (mungkin) terlalu mengejar kesempurnaan hidup sehingga semua yang di sekitarnya jadi terlihat salah dan sama aja. Nggak ada yang spesial. Dia nggak mensyukuri karirnya yang bagus, orang-orang terdekatnya yang sayang sama dia. Dan sebenarnya orang kayak Lisa adalah orang yang lebih menghargai perasaan orang lain dan bisa bertanggung jawab dengan perasaannya sendiri. Meskipun dia minderan, rendah diri, pemalu, atau semacamnya.

T : “Ntap cha. Good point. Oke deh, seneng banget nih ngulas film bareng kamu. Makasih ya!”

I : “Aku juga seneng banget. Makasih juga! Ngulas film sama kamu menyenangkan. Seneng banget bisa ngulas sama orang yang aku kagumin ulasannya. Huahahahaha.”

– THE END –

A Copy of My Mind (2015) – Jakarta dalam Cerita Cinta Nyata

Kita bisa menyebutkan banyak sekali kekurangan yang dimiliki kebanyakan film Indonesia yang telah diproduksi, namun yang paling sering diulang-ulang adalah keengganan dalam menyorot konteks sosial yang gamblang dan detail tentang kehidupan masyarakat Jakarta, khususnya daerah sub-urban. Demi konsumen mayoritas yang (mereka anggap) udik, mereka lebih memfokuskan pada kehidupan masyarakat menengah ke atas dan sudut kota Jakarta yang megah dan gemerlap. Jika sudah tidak ada lagi yang bisa dieksplorasi, ya sudah, tinggal shooting di luar negeri, bawa aktor-aktor Indonesia. Premis dan skrip pun ditulis sebasi mungkin, sebasi puisi-puisi kacangan akun fake official Line dengan satu tujuan yang sama: mengeksploitasi kenaifan remaja akan cinta. Jika kamu termasuk golongan orang-orang yang sudah muak akan materi-materi seperti yang telah disebutkan, maka ada dua film di awal 2016 ini yang akan menghidupkan kembali kepercayaanmu terhadap film-film Indonesia: Siti dan A Copy of My Mind. Bila Siti mungkin terlalu marjinal dan tersegmen untuk kamu yang biasa menonton film-film romansa hedonis berbujet mahal, kamu bisa mulai untuk menonton A Copy of My Mind terlebih dahulu.

1227161_a-copy-of-my-mind

Kita semua sebenarnya sudah tahu bahwa Jakarta bukan hanya tentang wanita-wanita dengan make-up tebal menenteng tas mahal berkeliling di dalam sebuah mal megah ditemani pria metroseksual yang tidak jelas apakah dia pacar, saudara, ayah, atau bodyguard. Jakarta juga tentang seorang gadis kleptomania pegawai salon kecil yang hidup di kos-kosan sepetak yang berpacaran dengan pria belel yang bekerja sebagai penerjemah subtitel DVD bajakan. Joko Anwar (Modus Anomali, Kala, Janji Joni) sebagai sutradara serta Tara Basro (Pendekar Tongkat Emas, Killers, Catatan Harian Si Boy) dan Chico Jericho (Filosofi Kopi, Cahaya dari Timur: Beta Maluku) sebagai pasangan pemeran utama berhasil merepresentasikan kehidupan masyarakat Jakarta golongan kelas menengah kebawah dengan detail dan jujur apa adanya. Akting serta chemistry mereka solid, tidak terbantahkan bahwa mereka sudah melebur dengan sempurna menjadi karakter mereka masing-masing. Adegan seks antara mereka berdua di dalam film ini pun bisa dibilang sebagai salah satu adegan seks terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia.

Joko Anwar, lewat akun Twitternya, pernah menyatakan bahwa film ini adalah film berbujet medium dengan set design, properti, serta perlengkapan yang sebagian merupakan buah kebaikan beberapa pihak yang bersedia meminjamkan kepemilikannya demi terlaksananya film yang memenangkan dana Rp150 Juta dari Asian Project Market di Busan Film Festival 2014 ini. Mungkin memang koinsidental, tapi segala yang membentuk film ini mulai dari struktur narasi sampai detail artistik dan sinematografi dapat saling mendukung satu sama lain dalam kesederhanaan dan ketidakcukupan untuk membentuk keutuhan kontekstual yang memperkuat nyawa cerita. Yang paling bisa dilihat dari hal ini adalah kepingan DVD bajakan yang menghiasi dinding kamar Alek serta absensi dari color grading pada keseluruhan film yang ditambal dengan komposisi serta pencahayaan yang manis. Jenius, low-budget, dan tetap relevan dengan konteks. Hal ini membuktikan bahwa film dengan kualitas yang baik tidak harus selalu didukung dengan bujet yang mahal. Proporsionalitas dan profesionalitaslah yang terpenting.

Jika penulis boleh meromantisir, A Copy of My Mind adalah sebuah kado Valentine dari Lo-Fi Flicks untuk mereka yang hidup di bawah garis ketidakcukupan dan masih mempertahankan cita-citanya untuk merasakan kenikmatan duniawi. Konteks politik yang berasal dari keresahan Joko Anwar terhadap korupsi dan suap menyuap antar pejabat pun juga melekat erat membumbui kisah cinta dari sudut Jakarta yang terabaikan ini. Jangan khawatir akan ‘berat’ nya tema yang kamu baca di sinopsis. Ini adalah kisah cinta yang mampu dengan mudah kamu hubungkan dengan kehidupanmu di dunia nyata, jadi nikmati saja.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Star Wars Ep. VII: The Force Awakens (2015) – Unleashing The True Forces

Sebagian penggemar Star Wars sudah pernah merasakan kekecewaan yang mendalam ketika George Lucas dengan sangat gegabah memproduksi Star Wars Episode I-III tanpa memikirkan ulang kematangan konsep dan karakter. Ditambah dengan pemilihan aktor yang sembrono untuk karakter utama, Lucas sukses membuat mereka berpikiran bahwa keputusannya merilis ulang Star Wars yang sukses besar di tahun 1977 dengan embel-embel “Episode IV: A New Hope” hanya sekadar strategi bisnis murahan untuk memberikan harapan palsu bagi para penggemarnya. Banyak opini yang bermunculan bahwa sejak Episode I: The Phantom Menace, Star Wars hanyalah sebuah jebakan uang yang dibuat oleh kapitalis serakah dan impoten, sehingga banyak yang sangsi bahwa kebangkitan besar akan terjadi ketika Lucasfilm memutuskan untuk menghidupkan Star Wars kembali lewat Episode VII: The Force Awakens dan menunjuk J. J. Abrams, maestro sci-fi dengan signature yang kental, sebagai sutradaranya.

Well, their lack of faith are disturbing, because The Force Awakens brings a new hope for the fans.

Tanpa sedikit pun berlebihan, film ini adalah segalanya yang pernah diharapkan bagi para penggemar Star Wars. Film ini membunuh berbagai opini negatif lewat kerapihan konsep, komposisi drama yang tepat, serta dalam dan padatnya lapisan tiap karakter baik dari protagonis maupun antagonis, yang mana tidak kita temukan pada prequel trilogy (I-II-III). Sangat mengesankan bahwa tidak seperti Jurassic World, film ini tidak hanya unggul karena menyajikan nostalgia yang diolah dengan treatment inovatif, namun juga karena menawarkan karakter-karakter baru seperti Rey, Finn, Poe, dan BB-8 yang sangat ikonik dan bahkan mampu bersinar lebih terang dari Luke Skywalker, Han Solo, Chewbacca, Leia Organa, R2-D2, dan C3PO yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah (in a good way). Mengagumkan bagaimana J. J. Abrams dan Lawrence Kasdan menyusun sebuah premis dengan porsi yang ideal bagi karakter baru untuk timbul tanpa perlu mengecewakan penggemar dengan kurangnya durasi penampilan karakter legendaris.

Poin yang sangat menarik untuk dibahas adalah Kylo Ren. Darth Vader–dengan segala detail lahiriah dan batiniah yang karismatik–adalah ikon penjahat yang karakternya sulit untuk ditandingkan. Tidak akan ada yang bisa mengantisipasi betapa Kylo dan rahasia gelapnya mampu menarik hati para penonton, baik penggemar berat Star Wars yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan Vader maupun khalayak umum. Kylo mencuri simpati kita dengan cara yang berbeda dari Vader, walaupun luka dan bisa yang mereka bawa lari sama pedih dan perinya. Selain dari jenis lightsaber, perbedaan mereka juga terdapat pada manajemen amarah dan pengambilan keputusan terhadap hal-hal yang bersifat kekeluargaan. Biarpun ia cengeng minta ampun, tapi Kylo Ren adalah suatu kegelapan yang segar dan memiliki potensi untuk bersanding dengan iblis-iblis kultur pop terbaik seperti Joker, King Joffrey, dan Ultron.

Baik penggemar Star Wars maupun kritikus film memiliki kesamaan yang unik: mereka membenci segala cacat dalam prequel trilogy namun mencintai segala cacat dalam original trilogy. Sangat terlihat dalam film ini betapa Abrams memahami hal tersebut, karena premis yang sedikit menyerupai repetisi naratif dari film-film original trilogy Star Wars ini dikemas dengan intensitas emosional tinggi yang tidak kita temukan di prequel trilogy dan menggunakan dramatical cliche serta fandom jokes di dalam original trilogy menjadi sebuah bumbu nostalgia yang tidak hanya gurih, namun bergizi. Konkritnya apa? Adegan pertarungan lightsaber yang emosional, contohnya, atau Finn yang tidak lihai dalam menembak karena ia seorang mantan Stormtrooper, atau saat Rey menyebut Millenium Falcon ‘butut’.

Kekurangan film ini bisa dibilang sangat minim. Permasalahannya hanya ada pada treatment visual khas J. J. Abrams yang seakan mengaburkan garis tebal yang memisahkan Star Wars dan Star Trek. Itu pun hanya ada pada adegan pertempuran di luar angkasa. Hal ini masih bisa dikategorikan sebagai suatu kesalahan yang patut dimaklumi, karena sangat terlihat bahwa dari segi make-up effects, costume design, dan character relations, Abrams berusaha keras untuk membuat rasa film ini tetap khas film Star Wars dan bukan khas film J. J. Abrams.

Secara metaforikal, pada scene di mana:
1. Rey secara kebetulan mampu bekerja sama dengan Han Solo saat pertama kali bertemu,
2. Finn menyebut dirinya sendiri–yang tidak tahu apa-apa–sebagai ‘orang penting’ di hadapan Han Solo, dan
3. Adegan terakhir di mana kita menyadari bahwa tidak hanya Jedi dan ex-Jedi yang bisa bertarung menggunakan lightsaber,
Abrams memperlihatkan bahwa meskipun film ini adalah jawaban dari semua doa para penggemar Star Wars, ia tidak mengeksklusifkan film ini hanya untuk die-hard fans, tapi juga untuk anak-anak baru yang ingin mengenal Star Wars lebih dekat tanpa peduli apakah pendekatan mereka polos seperti Rey atau pretensius seperti Finn. Hindarilah untuk menghina mereka dengan sebutan ‘karbitan’ dan mari kita nikmati kesuksesan produksi film ini sebagai awal yang baik karena dengan ini, Abrams telah menciptakan suatu standar baru yang ideal untuk film-film Star Wars di kemudian hari. Berdoalah semoga Episode VIII dan IX akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang menggantung di akhir film ini dengan relevan dan masuk akal.

Dan bersyukurlah Chewbacca tidak diubah menjadi makhluk CGI.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

The Hunger Games: Mockingjay pt.2 (2015) – A Hero Hanging by A Tree

Kebanyakan dari kita punya persepsi yang berbeda-beda terhadap makna dari pahlawan. Mereka yang nasionalis menganggap pahlawan adalah orang-orang yang membebaskan negeri mereka dari penjajahan. Para aktivis feminisme, LGBT, dan apartheid akan menyebutkan pejuang-pejuang terdahulu mereka sebagai pahlawan. Masyarakat awam akan berterima kasih kepada orang tua dan guru mereka karena telah menjadi pahlawan yang berarti dalam hidup mereka. Anak-anak yang gemar menonton film laga dan superhero akan menganggap pahlawan sebagai makhluk berkekuatan super yang selalu menolong orang-orang yang ditimpa bencana tanpa pamrih. Berdasarkan hal-hal tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pahlawan adalah setiap mereka yang berbuat baik dan mengubah hidup orang di sekitarnya menjadi lebih baik. Namun bila dikatakan demikian, maka setiap dari kita adalah pahlawan bagi mereka yang ada di sekitar kita, dan tentu masih ada hal yang janggal rasanya bila menyebutkan bahwa semua orang adalah pahlawan. Jadi apa yang kurang?

The Hunger Games: Mockingjay pt.2 menjawab pertanyaan tersebut dengan mengangkat Katniss Everdeen sebagai pahlawan bagi rakyat Panem. The Mockingjay. Apa yang salah dari Katniss? Dia gegabah, ceroboh, dan labil. Meskipun harus diakui kemampuan memanah dan pengetahuan bertahan hidupnya sangat mumpuni, itu semua tidak mampu menyelamatkannya dari tragedi yang pada akhirnya menimpa orang yang paling ia sayangi di akhir film ini. Kepahlawanan Katniss tidak serta merta datang secara tiba-tiba, namun dibantu oleh President Alma Coin dan Plutarch Heavensbee lewat propaganda yang mereka bangun. Ada pernyataan kuat yang dibangun film ini dari awal sampai akhir: pahlawan hanyalah simbol, dan di balik setiap cerita kepahlawanan, selalu tersembunyi kepentingan politik yang lebih besar, meninggalkan sang pahlawan sebagai topeng dari konspirasi masif yang ada di luar kendalinya. Mockingjay berhasil memberikan gambaran realistis tentang betapa mengerikannya politisi dalam memegang kendali media dan menjadikan seorang pahlawan yang jujur dan tulus sebagai wayang dalam sandiwara pertempuran yang mereka ciptakan. Bahwa pahlawan sebenarnya adalah manusia dengan kepentingan sesederhana melindungi keluarga mereka. Bahwa pahlawan juga bisa menjadi seorang pencinta yang mencari pelampiasan setelah kepercayaannya dikhianati.

Secara utuh, film ini menyuguhkan aksi laga ala film action-horror dan drama cinta segitiga serta intrik politik dengan kadar intensitas yang sama tingginya tanpa kehilangan relevansi dari cerita sebenarnya. Penggemar film-film action-adventure dengan epic happy ending pasti akan sedikit kecewa dengan akhir film yang tragis dan terlalu realistis ini. Namun patut dipuji bahwasanya film yang berdasarkan dari novel YA karya Suzanne Collins ini menyajikan ending yang tidak biasa untuk target anak-anak remaja yang sedang beranjak dewasa. Francis Lawrence sebagai sutradara dan James Newton Howard sebagai komposer musik berhasil menciptakan atmosfer apokaliptik yang ideal tanpa harus menurunkan derajat agar bisa diterima target penontonnya.

Kekurangan di dalam film ini adalah ketiadaan chemistry yang kuat antara Katniss dan Peeta. Bagi penonton yang belum membaca bukunya, sangat sulit untuk mengetahui apakah Katniss benar-benar mencintai Peeta dan melakukan semua yang ia lakukan demi melindungi Peeta atas dasar cinta atau hanya sekedar rasa tanggung jawab dan balas budi terhadap perbuatan baik Peeta yang juga selalu melindungi Katniss sepanjang trilogi. Apakah absensi romantisme di epilog film ini bermaksud menunjukkan yang demikian, ataukah hanya kegagalan yang disebabkan oleh hal-hal teknis, ataukah Jennifer dan Francis ingin menunjukkan satu sisi lain dari Katniss yang linglung pasca tragedi yang telah menimpanya? Apapun itu, film ini mempunyai konklusi yang tidak jelas penyampaiannya dan bahkan tidak bisa disebut open-ending, dan ini kesalahan yang cukup fatal dalam kaidah penuturan cerita apapun, khususnya film.

Agak disesalkan bahwa Lionsgate harus membagi Mockingjay menjadi dua film, karena treatment film ini akan menjadi lebih brutal apabila pace film ini dipercepat dan dipadatkan menjadi satu film saja. Paling tidak, Mockingjay pt.2 layak untuk ditonton bagi penggemar serial buku The Hunger Games dan juga bagi para remaja beranjak dewasa yang sudah lebih dahulu mengerti apa artinya menjadi dewasa dan dilindas oleh kaki-kaki penguasa.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

Secret in Their Eyes (2015) – A Pointless Tribute

Why remake a masterpiece? Pertanyaan ini belakangan sering muncul di dalam kepala penulis tatkala melihat kondisi perfilman Hollywood yang terlalu stagnan di ranah penceritaan ulang (remake, reboot, based on, sequel, prequel, spin-off). Film Argentina yang memenangkan penghargaan Best Foreign Film di Oscar 2010 ini pun mendapatkan remake yang diproduksi oleh IM Global dan disutradarai oleh Billy Ray. Sejenak terlintas harapan melihat cast list yang cukup mumpuni seperti Chiwetel Ejiofor, Nicole Kidman, dan Julia Roberts. Namun harus diakui, versi originalnya mempunyai kekuatan teknis yang sangat sulit ditandingkan meskipun narasi dan alur ceritanya memang sulit dicerna kebanyakan orang.

Kenyataannya tidak jauh dari dugaan. Dengan kualitas kerja kamera dan editing yang tidak begitu istimewa, akting prima dari ketiga aktor kelas A tersebut bahkan tidak mampu menjadikan Secret in Their Eyes menjadi sebuah remake yang mampu mengungguli versi aslinya. Film ini hanya mampu menjadi film yang emotionally and thoughtfully provoking bagi para penonton Amerika yang malas membaca subtitel dan belajar kebudayaan asing. Penyesuaian plot dengan budaya dan isu sosial politik serta korelasi personalnya dengan tiap karakter mampu dikemas dengan baik tanpa melakukan penggiringan opini yang tidak perlu. Belum lagi kehadiran Julia Roberts sebagai Jess, agen FBI yang juga ibu dari korban pembunuhan dan pemerkosaan mampu menciptakan pembedaan plotting yang membuat film ini tidak serta merta menjiplak aslinya. Namun ketidakistimewaan teknis membuat film ini hanya berkesan seperti sebuah episode dari Law & Order dengan cast-list tamu yang spesial. Beberapa adegan yang menjadi kekuatan yang ikonik di film originalnya seperti adegan stadium, interogasi, dan elevator tidak mampu dikemas dengan baik dan berpotensi mengecewakan mereka yang sudah pernah menonton film aslinya.

Kendati demikian, sang sutradara sepertinya tetap ingin memberi penghormatan yang pantas terhadap film yang aslinya disutradarai Juan Jose Campanella tersebut. Hal ini terlihat dari pemilihan tone warna yang serupa baik dari kamera maupun desain kostum dan set. Contohnya, ada satu adegan di mana Nicole Kidman sebagai Claire memakai formal dress warna krimson yang mencolok layaknya yang dipakai Soledad Villamil sebagai Irene di film terdahulu. Beberapa dialog penting juga dijaga dengan penerjemahan yang akurat tanpa menanggalkan emosi dari tiap kalimatnya. Namun bukannya menjadi nilai tambah, film ini malah jadi terlihat seperti sebuah B-rated fanmade bagi yang sudah pernah menonton versi originalnya.

Judul ‘Secret in Their Eyes’, seperti film terdahulunya, berangkat dari tiga hal. Pertama: cara sang pelaku melihat korban yang tertangkap kamera yang kemudian menjadi petunjuk utama sebuah penyelidikan. Kedua: cara Ray dan Claire—yang payah dalam merahasiakan perasaan mereka—dalam melihat satu sama lain. Ketiga: mata Jess yang dingin saat mendengar atau membicarakan sang pelaku yang membunuh anaknya, yang kemudian merujuk kepada sebuah akhir mengejutkan yang membuat kita mempertanyakan apakah prinsip dan moralitas yang kuat mampu menjaga manusia dari biasnya hitam putih keadilan. Film ini secara literal tidak bisa dikatakan gagal, karena ketiga hal tersebut mampu dibangun kembali dengan pendekatan yang baik, meskipun terlalu familiar. Namun remake ini menjadi pointless karena adanya penurunan kualitas teknis dari film sebelumnya. Seperti layaknya remake-remake lain yang Hollywood buat di tahun ini, entah dengan alasan apa mereka buang-buang uang.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Spectre (2015) – A Shot Misfired

James Bond is, and will always be, a cliche. Mari kita camkan itu baik-baik sebelum melihat Spectre dari spektrum yang terlalu realis. Semenjak pertama kali diperankan oleh Sean Connery hingga era keemasan Roger Moore, sosok agen rahasia—yang tidak begitu rahasia—ini selalu digambarkan sebagai seorang pria Kaukasian dengan kadar kejantanan yang terlalu sempurna sehingga cenderung klise dan misoginis. Baru di saat Daniel Craig terpilih memerankan James Bond di Casino Royale, kita melihat sebuah sosok baru yang dingin, realistis, dan penuh misteri. Warna franchise film yang diangkat dari kumpulan novel karya Ian Fleming ini pun kemudian turut menyesuaikan dengan karakter Bond baru, sehingga menjadi lebih terkesan gelap dan bengis. Semua berjalan begitu mulus dan film-film James Bond pun mendapatkan nyawa baru yang diterima secara baik oleh konsumen maupun kritik.

Lalu kemudian muncullah Spectre.

Secara teknis tidak ada yang terlalu salah pada film James Bond kedua yang diarahkan oleh Sam Mendes ini. Keberadaan Hoyte van Hoytema sebagai sinematografer malah mendukung keapikan visual storytelling lewat kerja kamera yang cukup inventif. Teknik extended shot yang dipakai pada empat menit pertama film ini pun memperlihatkan kelihaian Hoyte yang seperti menantang kerja Emmanuel Lubezki di Birdman. Belum lagi adegan klimaks pada third act film ini sangat berapi-api dan cukup menjadi nilai plus yang membedakan film ini dari film action lain dalam setahun belakangan ini. Dari awal sampai akhir, bisa dibilang Spectre mampu menghibur kita dengan pertunjukan visual yang memanjakan mata.

Sayangnya, permasalahan besar yang ada di film ini terletak pada naskah yang hambar, karakterisasi yang salah, dan plot yang gagal memenuhi premis yang sebenarnya sangat menjanjikan.

Di era di mana Hollywood sedang marak-maraknya mengeksploitasi nostalgia publik ini, Spectre mencoba bandwagoning dengan menggunakan formula James Bond era Sean Connery dan Roger Moore dengan  menonjolkan kembali sisi flamboyan sang 007 lawas yang komikal dalam racikan martininya (shaken; not stirred), egoisme butanya terhadap gadget yang futuristik, dan caranya menaklukkan wanita dengan genit dan lembut. Dari segi naratif pun, Spectre memilih untuk menjadi titik teratas dari jaring-jaring kejahatan yang telah Bond taklukkan sejak film Casino Royale sampai Skyfall. Sangat disayangkan, persona shift dan old-fashioned narrative ini malah membuat karakter Bond versi Daniel Craig terlihat tidak konsisten karena pembawaan sang aktor—yang sebenarnya memang tidak cocok untuk menjadi James Bond—terkesan sangat dipaksakan.

Ketidakcocokan karakter ini pun diperparah dengan dialog yang terlalu cheesy, seperti ditulis oleh screenwriter film action yang sudah menulis terlalu banyak naskah film action sehingga kehabisan ide untuk kalimat cerdas yang orisinil sehingga akhirnya ia mencontek naskah-naskah film yang ia tulis dulu untuk dia pakai kembali di Spectre. Satu-satunya dialog orisinil yang bisa dinikmati pada film ini hanya ada saat adegan ‘reuni’ Bond dengan Mr. White.

“You’re a kite dancing in a hurricane, Mr. Bond.” – Mr. White.

Secara keseluruhan, Spectre tidak bisa dibilang film yang jelek, namun untuk sebuah premis yang menempatkan cerita Skyfall sebagai downline, film ini cukup mengecewakan. Terima kasih pada Hoyte van Hoytema sebagai sinematografer serta Thomas Newman sebagai komposer, film ini menjadi tidak membosankan meskipun kecacatan telah terjadi di tempat-tempat yang cukup vital. Sebagai tambahan, ada dua dosa terbesar yang dimiliki Spectre. Pertama: opening credit scene dengan gaya avant-garde di tiap film James Bond adalah hal yang disakralkan bagi para penggemar film, terutama film-film James Bond, dan kualitas opening credit scene di Spectre bahkan tidak lebih baik dari opening credit scene dua season True Detective. Mengecewakan. Kedua: Aktris senior selevel Monica Belluci hanya dijadikan pemanis yang kemudian dibuang begitu saja bahkan sebelum first act berakhir. Shame on you, Mendes. Shame.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5

Bridge of Spies (2015) – Every Person Matters

Ada alasan yang cukup valid mengapa Steven Spielberg menjadi salah satu figur yang paling penting di dalam sejarah pembuatan film. Bukan hanya karena dia yang merancang Jaws, Indiana Jones, dan Jurassic Park yang telah menghiasi masa kecil banyak orang dan mengubah warna film Blockbuster Hollywood menjadi seperti sekarang, bukan. Spielberg menjadi legenda perfilman dunia karena di samping film-film yang telah disebutkan tadi, ia juga telah membuka jendela hati penontonnya dan menggambarkan sebuah kehidupan manusia dan fungsinya dalam sebuah tatanan sosial lewat gaya naratifnya yang merangkul dengan keteguhan hati tokoh utamanya yang cenderung lugu, awam, namun unik dan membawa perubahan tanpa terkesan menceramahi di film-film lainnya. Lewat film terbarunya Bridge of Spies yang diangkat dari kisah nyata ini, ia kembali berbicara tentang hal yang sangat penting: Nasionalisme vs HAM.

Ada suatu stereotipe yang digunakan sebagai formula narasi dalam setiap film spy action-thriller bahwa orang-orang yang mengabdi di bidang intelijen akan dihapus identitas kenegaraannya dan dicabut Hak Asasi Manusianya sebelum menjalankan satu tugas penting demi keamanan nasional. Mereka bukan hanya tidak akan diakui oleh negaranya, namun juga diwajibkan untuk bunuh diri jika mereka gagal dalam tugas. Demi keamanan nasional. Tentunya, dengan gaya narasi yang berfokus pada super-heroisme sang protagonis dalam menghadapi ancaman demi ancaman yang menantang dari sang antagonis, kita akan dibuat lupa terhadap betapa manusiawinya mereka. Betapa dekatnya mereka dengan kita. Bridge of Spies menantang stereotipe ini dengan menjadi tesis tentang kemanusiaan di dalam patriotisme intelijen. Lewat film yang ditulis oleh Matt Charman & Coen Brothers ini, kemanusiaan para petugas intelijen tersebut ditunjukkan dengan sangat halus. Layaknya di Tinker Tailor Soldier Spy, petugas intelijen digambarkan secara realistis sebagai pemberi, penerima, dan penerjemah informasi penting tanpa harus melakukan aksi-aksi bela diri, penembakan, atau praktik misoginis dengan menaklukkan wanita-wanita dengan status penting seperti anak presiden atau kepala institusi. Loh, jadi apa yang dilakukan mereka untuk menghabiskan waktu? Melukis, membaca buku, atau mengukir. Sesederhana itu, sesendiri itu.

Film ini dibuka dengan sebuah shot perspektif yang memperlihatkan seorang tua yang sedang melukis dirinya sendiri dengan kanvas di sebelah kanan dan cermin di sebelah kiri. Badan orang tua tersebut membelakangi kita sehingga kita figur yang bisa kita tangkap dari orang tua itu hanyalah refleksi natural dari cermin dan hasil interpretasi orang tua tersebut terhadap dirinya sendiri yang juga ia tangkap lewat cermin dan ia manifestasikan lewat lukisan. Shot pembukaan ini secara mengagumkan mampu menggambarkan filosofi penceritaan film ini, di mana cermin adalah sumber cerita yang filmmaker tangkap dari berbagai macam sumber sejarah dan di mana lukisan adalah film yang berhasil filmmaker buat. Kebenaran sejati ada di tengah, tidak bersembunyi, hanya tidak mampu kita lihat dikarenakan keterbatasan yang kita punya. Meskipun begitu, ia menjembatani di antara keduanya, yang merupakan konsep yang juga merupakan judul dari film ini, Bridge of Spies.

Shot tersebut hanyalah satu dari sekian banyak simbolisme yang secara halus dan teratur Spielberg terapkan di dalam film yang berdurasi 2 jam 15 menit ini. Kombinasi kekuatan pemilihan komposisi dan warna dari Janusz Kaminski sebagai DoP dan Michael Kahn sebagai editor serta skoring yang minimalis dari Thomas Newman—yang mana ketiganya telah lama bekerja dengan Spielberg sejak Schindler’s List dan The Lost World: Jurassic Park—mampu menciptakan efektifitas narasi dan membangun skrip yang ditulis oleh Coen Brothers & Matt Charman menjadi tidak hanya padat oleh semantik, namun juga mampu menimbulkan sebuah ketegangan yang membuat penonton awam bahkan mampu menerima absensi dari aksi bela diri maupun baku tembak dalam film yang bagaimana pun masih bisa disebut spy-thriller ini. Alur film—yang awalnya gue kira non-linear—pun ternyata adalah simbolisme dari sebuah konsep ‘jembatan’ yang sangat halus. Di awal Act 1, kita akan melihat Rudolph Abel (diperankan oleh Mark Rylance), sang mata-mata Soviet, dari sudut pandangnya sendiri yang kemudian di pertengahan Act 1 dilanjutkan dengan sudut pandang Jim Donovan (diperankan oleh Tom Hanks) sebagai pengacara dengan integritas profesional tinggi yang ditugaskan untuk membela Abel. Begitupun di awal Act 2, kita melihat Francis Gary Powers (diperankan oleh Austin Stowell) dari sudut pandangnya sendiri sebagai pilot militer yang direkrut menjadi mata-mata tanpa mempunyai pengalaman sebelumnya, yang kemudian dilanjutkan kembali dengan sudut pandang Jim Donovan yang melihat peluang sempurna untuk menjembatani kesepakatan yang menguntungkan dua pihak. Act 3 pun berfungsi sebagaimana seharusnya sebuah jembatan yang telah dibangun dengan penuh pertimbangan dan berlandaskan pondasi yang kokoh.

Propaganda nasionalisme dan patriotisme yang sistematis memang akan menjadikan targetnya egois dan buta, melihat setiap manusia tidak sama rata. Seperti halnya propaganda anti-komunisme pada era Perang Dingin yang bahkan masih berdampak pada sebagian negara-negara penganut demokrasi liberal. Bahkan Indonesia yang Pancasila-is pun masih tenggelam dalam propaganda bahwa orang komunis itu tidak bertuhan dan pantas dihukum mati. Bridge of Spies tidak berceramah tentang ketuhanan, hitam putih moralitas, ataupun kemanusiaan. Lewat karakter-karakter Jim, Abel, Francis, serta agen CIA dan KGB lainnya, film ini hanya menceritakan manusia-manusia yang menjalankan tugasnya dan mengerti resiko apa yang harus mereka hadapi. Kendati memperlihatkan dua sisi koin lewat penjelasan paham liberalis-komunis, Bridge of Spies lebih memilih untuk melakukannya dengan menunjukkan kontras perspektif masyarakat sipil dan pemerintahan, yang jika mengacu pada filosofi politik adalah ‘dua jenis binatang yang berbeda’. Tidak melulu serius, film ini juga mempunyai lelucon ringan yang dieksekusi dengan familiar khas film-film Spielberg sebelumnya. Biarpun sebenarnya tidak sebegitu ringan untuk ditonton setelah bekerja seharian penuh, film Spielberg yang satu ini tidak boleh dilewatkan oleh para pecinta film festival karena dipastikan akan menjadi kandidat kuat pada Oscar 2016 nanti.

Distopiana’s Rating: 4.5 out of 5.

The Martian (2015) – Mars is Fun!

Saat pertama kali melihat trailernya, ada beberapa hal dalam film The Martian yang membuat penulis berpikir bahwa film ini mirip dengan Interstellar yang dirilis pada tahun 2014 kemarin. Pertama: film ini bercerita tentang astronot di luar angkasa, sama seperti Interstellar. Kedua: ada Matt Damon dan Jessica Chastain, seperti di Interstellar. Ketiga: Di Interstellar, Matt Damon menjadi seorang astronot yang terdampar di Planet Edmund, dan di The Martian, Matt Damon menjadi seorang astronot yang terdampar di Planet Mars sendirian. Awalnya gue ragu menonton film ini karena selain sudah terlalu bosan dengan film-film bertema space exploration, layaknya M. Night Shyamalan, Ridley Scott seperti sedang mengalami paceklik.

Premisnya sedehana. Mark Watney (diperankan oleh Matt Damon) terdampar di Planet Mars karena sebuah kecelakaan badai pasir yang menyebabkan semua krunya terpaksa harus menganggapnya telah mati dan meninggalkannya. Watney, yang kemudian tertinggal sendirian di sebuah planet tanpa kehidupan, harus memikirkan segala cara untuk bertahan hidup dan menjalin jaringan komunikasi dengan NASA di Bumi agar ia bisa dijemput dan pulang kembali.

Dugaan gue tentang kemiripan film ini dengan Interstellar ternyata salah besar. Film ini tidak mengandalkan twist serta drama yang sentimental untuk bercerita tentang sebuah kesendirian yang dialami seorang manusia di sebuah planet yang (sebelumnya) diduga tanpa air. Film ini terlalu gampang ditebak. Bahkan, tidak ada yang begitu istimewa dari efek visualnya, karena memang secara realistis, di Mars hanya ada tanah kering dan badai pasir—setidaknya sebelum penemuan air oleh NASA baru-baru ini, atau apalah itu yang belum menjadi air. Satu hal yang membuat film ini menarik adalah bagaimana sebuah film dengan premis yang begitu suram dapat disajikan dengan sangat humoris dan menyenangkan. Alih-alih memberi eksposisi dramatis pada kondisi Watney yang semakin hari semakin memburuk, Ridley Scott lebih memilih untuk memfokuskan pada bagaimana Watney selalu mencoba menghibur diri dengan bercocok tanam di ‘rumah kaca’ buatannya dan mendengarkan lagu-lagu disko jelek milik Komandan Lewis (diperankan oleh Jessica Chastain) demi mengusir kesepian yang ia alami. Scott mencoba untuk sesedikit mungkin melakukan eksploitasi emosional dan memberikan aura positif pada film yang berdurasi 2 jam 12 menit ini dan memfokuskan tensi pada sains dan teknologi, bukan penderitaan dan malapetaka. Sepengetahuan penulis, film space travel memang belum pernah ada yang seoptimis ini, dan itu merupakan hal yang sangat baik untuk penontonnya. Terlebih untuk NASA, Amerika Serikat, dan Cina, yang di dalam film ini memberikan bantuan pada NASA untuk menyelamatkan Watney.

Mungkin film ini tidak lebih mengagumkan daripada Interstellar, namun misi Christopher Nolan untuk menyemangati manusia-manusia di Bumi dalam melakukan perjalanan luar angkasa mampu disampaikan dengan lebih baik oleh Ridley Scott di The Martian. Beberapa orang berpendapat bahwa Gravity dan Interstellar telah membuat anak-anak takut untuk menjadi astronot karena mereka tidak ingin mati melayang-layang di angkasa luar ataupun pulang dengan melihat anaknya di masa depan menjadi jauh lebih tua darinya. Dengan harapan dan optimisme dari The Martian, cita-cita seorang anak untuk berpetualang ke antariksa akan timbul kembali dan semakin banyak dari mereka yang akan termotivasi untuk menghasilkan penemuan-penemuan yang bisa membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Inside Out (2015) – Outside In

Pixar tidak pernah berhenti menelurkan mahakarya yang emosional dengan cerita yang sederhana dan erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Setelah sukses membuat para penggemarnya berlinangan air mata dengan Finding Nemo (2009), Wall-E (2008), dan Up (2009), rumah produksi film animasi ini menghidupkan kelima emosi inti dalam pikiran seorang gadis berumur 11 tahun menjadi karakter-karakter yang sangat lucu lewat sebuah film animasi orisinil yang berjudul Inside Out.

Inti dari cerita ini sebenarnya sangat sederhana, bahkan mungkin bisa dikatakan yang paling sederhana dibandingkan film-film Pixar yang lain. Riley (disuarai oleh Kaitlyn Dias) yang baru saja menginjak usia puber mengalami krisis emosional saat keluarganya harus pindah dari Minnesota ke San Fransisco karena pekerjaan ayahnya. Itu saja. Sangat alamiah, bukan? Semua orang pernah mengalaminya. Yang membuat Inside Out menjadi sebuah film yang jenius adalah penggambaran interaksi interdependensi dari lima emosi inti yang berada di dalam pikiran Riley, yaitu Joy (disuarai oleh Amy Poehler), Sadness (disuarai oleh Phyllis Smith), Fear (disuarai oleh Bill Hader), Anger (disuarai oleh Lewis Black), dan Disgust (disuarai oleh Mindy Kaling). Mereka harus bekerja sama dalam membangun kembali infrastruktur di dalam pikiran Riley yang hancur satu persatu karena krisis emosional dan terpisahnya Joy serta Sadness dari panel emosi karena terhisap ke dalam lubuk terdalam pikiran Riley.

Biarpun Inside Out dapat dikatakan imajinatif, bukan berarti film animasi yang disutradarai oleh Pete Docter ini dibuat secara serampangan. Karakteristik dari kelima emosi inti serta dunia dongeng yang menjadi sistem pemikiran Riley diciptakan dengan menghormati kaidah-kaidah psikoanalisis yang dikemukakan Sigmund Freud dan Carl Jung. Freud menyebutnya sebagai ‘alam sadar’ atau consciousness, di mana emosi, kenangan, persepsi, dan keinginan berada di dalam sebuah struktur fungsional yang saling mempengaruhi satu sama lain dan berkembang seiring bertambahnya usia dan pengalaman seseorang. Penulis tidak akan bicara banyak tentang psikoanalisis karena ini bukan disiplin ilmu yang penulis tekuni secara akademis, namun sebagai seorang psychology enthusiast, penulis dapat asumsikan dengan aman bahwa film ini telah menempuh riset yang cukup panjang untuk bisa sampai sejauh dan serinci ini.

Mind Police: “Forget it, Jake. It’s Cloudtown.”

 

Yang lebih menarik dan membuat film ini menjadi jenius adalah bagaimana semua kompleksitas sistem alam sadar tersebut mampu dipaparkan dengan sangat menyenangkan sehingga mudah diserap penonton tanpa harus berpikir susah-susah. Penggambaran karakter Joy dan Sadness sebagai emosi yang memiliki emosi juga menarik untuk dianalisis lebih lanjut. Joy penuh dengan ketidakpastian dan menangis saat terjebak di dalam lubang pembuangan, namun dia tidak serta merta berubah menjadi Sadness ataupun Fear. Pemberian fungsi Sadness sebagai emosi yang berperan untuk menarik orang lain agar memberi perhatian lebih pada Riley pun sebenarnya rentan untuk dikritisi karena tidak semua orang peduli saat kita bersedih dan kesedihan lebih sering memberikan cerminan buruk pada sebuah pribadi sehingga menimbulkan respon Disgust dari orang-orang di sekitar, seperti pada saat Riley menangis tiba-tiba saat memperkenalkan dirinya di depan kelas. Sadness adalah emosi yang terkucilkan, dan memang pantas untuk terus berada di dalam lingkaran kecil yang diciptakan oleh Joy.

Inside Out bukan hanya film animasi yang sangat brilian dan penuh dengan emosi *pun intended*, namun juga merupakan salah satu film Pixar yang penting untuk ditonton oleh semua orang, tidak peduli berapa usia mereka. Film ini akan membekas cukup kuat di hati penontonnya serta memberikan perenungan panjang tentang manajemen emosi serta bagaimana kita seharusnya membuat keputusan-keputusan penting yang akan mengembangkan kepribadian kita dan menjawab pertanyaan terbesar dalam hidup:

“Akan jadi manusia yang seperti apa kita nanti?”

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

The Man from U.N.C.L.E. (2015) – S.T.Y.L.E.

“Agar bisa lebih menarik perhatian dan menghibur penonton, suatu film harus mempunyai gaya yang kuat, baik lewat performa casts, penyuntingan, musik, serta dialog dan karakterisasi”. Pernyataan tersebut merupakan sebuah gagasan yang tidak salah. Semua aspek yang telah disebutkan memang penting untuk mendukung laku atau tidaknya sebuah film di bioskop, dan The Man from U.N.C.L.E. memiliki kekuatan gaya di dalam setiap aspeknya.

Setelah berakhirnya Perang Dunia Ke-II, seorang agen CIA dengan latar belakang perampok bernama Napoleon Solo (diperankan oleh Henry Cavill) ditandemkan dengan seorang agen KGB bernama Ilya Kuryakin (diperankan oleh Armie Hammer) untuk mencegah pembangunan silo nuklir oleh sepasang aristokrat bernama Victoria (diperankan oleh Elizabeth Debicki) dan Alexander (diperankan oleh Luca Calvani). Bagaimana caranya? Layaknya rutinitas film action, mereka harus menyamar. Solo menjadi ‘kolektor’ barang antik, Ilya menjadi seorang tunangan dari gadis bengkel bernama Gaby (diperankan oleh Alicia Vikander) yang merupakan anak dari professor yang bekerja di silo nuklir tersebut (diperankan oleh Christian Berkel).

Meskipun gaya film yang disuguhkan tidak cukup orisinil untuk bisa dibilang khas, namun kekuatan karakter serta hubungan antar tokoh dari Solo, Ilya, dan Gaby mampu memberi film yang disutradarai Guy Ritchie ini warna yang berbeda dari film-film action lain di tahun ini, dan juga bisa dibilang sebagai pemanis yang membuat film ini jadi tidak membosankan. Cukup banyak kadar humor segar yang disajikan lewat twist-twist kecil serta kelakuan konyol ketiga tokoh utama tersebut yang membuat mereka jadi terlihat kekanak-kanakan. Ada dua adegan favorit gue di sini. Pertama: saat Ilya dan Solo—kedua pria bertubuh kekar dan maskulin—berdebat tentang mitch-match belt Paco Rabbane dan gaun Dior di sebuah butik. Kedua: Saat mereka berdua membobol brangkas di sebuah laboratorium rahasia. Cukup konyol, namun tetap bergaya. Oh ya, pemilihan kendaraan, desain kostum, dan desain set serta lokasi pengambilan gambar juga terlihat sangat berkelas. Mungkin bisa disejajarkan dengan film-film James Bond era Roger Moore. Para old style fashion & automotive enthusiast akan sangat gembira menyaksikan koleksi-koleksi yang memuaskan hasrat mereka di film ini.

Yang bermasalah adalah: yang bisa diunggulkan dalam film ini hanya gayanya. Substansi plot dan premis film ini tidak banyak berbeda—bahkan kalah—dari film-film action sebelumnya. Film yang diangkat dari serial televisi tahun 60’an ini juga tidak menawarkan elevasi intensitas ketegangan dari awal sampai akhir. Bila digambarkan lewat kurva, tingkat antusiasme penonton akan meningkat di Act 1 dan perlahan-lahan menurun di akhir Act 2. Act 3? Hambar, namun yah, penuh dengan gaya. Seperti makanan cantik yang sering kita beli di restoran mahal. Secara kasar, dapat dibilang bahwa film ini adalah film gaya-gayaan.

Bagi gue, banyak film action yang bisa membuat kita seakan menontonnya di atas kursi listrik, dan The Man from U.N.C.L.E. bukanlah salah satu dari film tersebut. Namun jika kalian adalah orang yang senang menghabiskan uang untuk mengapresiasi gaya, maka The Man from U.N.C.L.E. adalah sebuah galeri old-fashioned bourgeois yang luar biasa dan cukup murah untuk kalian kunjungi. Hal yang dapat dipelajari dari film ini: yang penting gaya!

P.S.: Is it just me or does Elizabeth Debicki looks like Audrey Hepburn with too much make-ups?

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5