Tag Archives: 2017

Death Note (2017) – Terrific Material, Terrible Story

Ada beberapa hal yang menarik dan menjadi entertainment value dari cerita original Death Note:

  1. Duel kecerdasan antara dua karakter utama, Light dan “L”, untuk saling mendahului langkah satu sama lain. Menegangkan dan penuh dengan hal-hal yang tidak terduga.
  2. Kekuatan karakter Light dan L yang menginspirasi dan mengokohkan moral dilemma di dalam alur cerita.
  3. Toxic relationship antara Light dan Misa yang rumit dan penuh dengan tipu daya.

Jika kalian mengharapkan ketiga poin itu ada di dalam film Death Note hasil adaptasi Netflix dan Adam Wingard ini, lebih baik urungkan niat untuk menonton karena kalian bakal kecewa bahkan saat 15 5 menit pertama film berlangsung.

Kehidupan Light Turner (diperankan oleh Nat Wolff), seorang bocah SMA yang terkenal suka jual contekan, tiba-tiba berubah drastis saat ia menemukan sebuah buku tulis dengan sampul bertuliskan ‘Death Note’ jatuh dari langit. Lewat buku itu, ia mendapatkan kemampuan istimewa untuk membunuh siapapun yang ia kehendaki hanya dengan menuliskan nama lengkapnya di Death Note. Bersama Ryuk (suara diperankan oleh Willem Dafoe) dan Mia Sutton (diperankan oleh Margaret Qualley), Light menjadi sesosok Kira: dewa keadilan yang mampu membunuh siapapun yang menurut mereka “tidak pantas hidup di dunia”. Pembantaian massal Kira pun mendapatkan perhatian seorang detektif pribadi jenius beraliaskan L (diperankan oleh LaKeith Stanfield). Perlahan tapi pasti, L menemukan identitas Kira dan mulai melakukan segala cara agar Light Turner mampu ditahan atas perilaku pembunuhan masssalnya.

Banyak yang mempermasalahkan film ini karena banyak hal. Isu white-washingpelecehan karakter Light Yagami, serta pemilihan LaKeith Stanfield sebagai L yang bagi sebagian orang ‘nggak cocok’ atau ‘terlalu maksa’. Well, gue nggak bisa nyalahin mereka. White-washing is indeed a serious issue that needs to be addressed in every Hollywood attempt to remake a movie. Penggemar manga dan anime Death Note yang asli pun berhak untuk patah hati melihat idola mereka Light Yagami yang pemberani dan fokus diacak-acak oleh Adam Wingard menjadi Light Turner yang cengeng dan picisan. Semua yang mengutarakan kekecewaan mereka tentang betapa ‘Amerika’-nya Death Note versi Netflix ini tidak bisa disalahkan kok.

Hanya saja, saya tidak sependapat bahwa alasan-alasan tersebutlah yang membuat Death Note menjadi film yang jelek.

Death Note jelek karena naskah dan skenarionya jelek.

Premis Death Note memiliki potensi yang sangat kuat untuk menjadikannya film cat-and-mouse thriller yang gelap dan penuh dengan skenario-skenario tak terduga. Entah kenapa, Adam Wingard, sang sutradara yang juga pernah menggarap You’re Next dan The Guest ini seperti kehabisan akal atau pesimis dengan tokoh-tokohnya sendiri.

Mari kita mulai dengan sang karakter utama: Light Turner. Semua permainan cerdas Light menggunakan Death Note jatuh menjadi datar dan hambar. Sebagian penonton banyak yang menyalahkan keputusan Adam Wingard untuk membuat Light Turner menjadi dua kali lipat lebih bodoh dari Light Yagami. Yah, kalau dengan alasan bahwa kecerdasan yang dimiliki Light Yagami itu tidak manusiawi dan merupakan sebuah refleksi dari budaya remaja Jepang dan ambisi mereka untuk selalu over-achieving something, hal tersebut bisa dibenarkan. Melakukan cultural adjustment kepada Light Turner dengan mengambil sampel bocah Kaukasian self-righteous cengeng sebagai perwakilan dari remaja Amerika Serikat pun sebenarnya merupakan sebuah keputusan yang bisa dibenarkan.

Belum lagi karakter L yang diperankan oleh aktor kulit hitam LaKeith Stanfield. Saya tidak bermasalah sama sekali dengan hal ini. Malah bagi saya, LaKeith menampilkan akting yang sangat maksimal sebagai seorang detektif jenius yang berperangai aneh. Cultural adjustment yang dilakukan Adam Wingard pun tepat sasaran, mengingat di film adaptasi ini, L yang seorang pria berkulit hitam telah yatim piatu sejak kecil dan dilatih sejak dini oleh sebuah organisasi rahasia untuk dijadikan detektif hebat. Terdengar sangat menarik, bukan?

Yang salah bukan pada persiapan materinya, namun perencanaannya. Ibarat musik, Death Note adalah seorang John Petrucci yang memainkan “Let it Go” dari Frozen dengan strumming. Seperti ini kira-kira.

Semua skenario di film ini, yang harusnya bisa sangat menarik dan menegangkan, malah menjadi predictable dan membosankan. Oke, visualnya asik, karakternya keren, tapi bukannya mengembangkan alur cerita menjadi lebih rumit dan mendorong tokoh-tokoh di film ini sampai ke titik nadir mereka, Adam Wingard memilih untuk mengurung dan memenjarakan Light, L, dan Mia ke dalam template teenage Hollywood thriller dan membiarkan potensi mereka membusuk sampai akhir film. Cheesy romantic youth stories between Light & Mia? “My dad is a cop” scenario? Homecoming and prom? Ferris Wheel accident scenario? Oh, belum lagi Ryuk yang tampil dengan sangat menyeramkan di film ini nggak dikasi peran yang lebih penting dari sekedar ekornya Light dan comic relief.

Bukan cuma plot, tapi naskah film ini pun kacau berantakan. Death Note memang selalu memfokuskan temanya pada sudut pandang hitam putih keadilan. Namun karena isu serumit ini tidak diimbangi dengan cerita yang cerdas dan kompleks, segala percakapan tentang hal tersebut menjadi terdengar sangat pretensius–dan bahkan terkesan dibuat-buat.

Sungguh sebuah kesia-siaan yang menyedihkan.

Saya turut simpati dengan segala kecaman yang diterima oleh Adam Wingard terkait betapa kecewanya penonton terhadap Death Note. However, with all due respect, it was indeed a total disappointment. Mungkin kekecewaan ini hanyalah awal dari suatu master plan yang sudah dirancang Adam Wingard ke depannya: Death Note trilogy. Mungkin memang ada beberapa sekuel yang telah direncanakan dengan lebih matang dan bisa menjadi berkali-kali lipat lebih baik daripada film sampah ini. Namun tak bisa dipungkiri, ia telah membuat Death Note lebih believable sebagai teenage coming-of-age thriller semacam Final Destination, The Covenant, atau Twilight di mana sejatinya cerita Death Note adalah sebuah political thriller yang brilian dan bisa disandingkan dengan V for Vendetta, Watchmen, atau The Hunger Games.

You don’t deserve all the hate, Adam, but people deserve to be disappointed.

Distopiana’s Rating: 1 out of 5.

Critical Eleven (2017) – Suka Duka Kesempatan Kedua

Di dunia ini, tidak ada cinta yang sempurna layaknya cerita dongeng. Sekalipun cinta yang larut dalam indahnya kota-kota besar seperti New York, Jakarta dan pesisir Meksiko. Tetapi, apakah dengan kehilangan kita akan belajar untuk saling melengkapi? Diangkat dari novel terlaris karya Ika Natassa, Critical Eleven menceritakan tentang suka duka kesempatan kedua, berikut dengan pilihan hidup yang terkadang tidak sejalan dengan ekspektasi.

Menceritakan tentang Ale dan Anya Risjad, sepasang suami istri dengan kehidupan pernikahan yang serba ada dibawah gemerlap kota New York, Critical Eleven mengangkat sebuah analogi unik yang berdasarkan sebuah istilah populer dalam dunia penerbangan dengan nama yang sama, critical eleven — dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Berdasarkan data statistik, 80% dari kecelakaan pesawat biasanya terjadi pada saat masa-masa kritis tersebut. Sedangkan, dalam novel/film ini, dikatakan bahwa 11 menit pertama dari sebuah pertemuan merupakan masa paling kritis yang akan menentukan kemana sebuah hubungan akan dibawa. 3 menit saat pembentukan kesan pertama, dan 8 menit sebelum perpisahan.

Tetapi, setelah dihadapkan pada realita yang berbanding 180 derajat dengan apa yang awalnya mereka harapkan, apakah 11 menit tersebut mampu menjadi alasan dibalik kekuatan cinta Ale dan Anya?

“Bisa bayangin nggak, kita lewatin jembatan bareng, terus kita bakar jembatan itu. Nggak ada jalan untuk kembali. Aku sama kamu kayak gitu, Nya. Ayo bakar jembatan bareng.”

Mungkin, istilah the calm before the storm sangat pas untuk menggambarkan keseluruhan film Critical Eleven secara general.  Meskipun film ini telah berhasil menyorot berbagai spot legendaris kota New York yang indah, serta teknik pengambilan gambar yang berhasil membuat siapa saja yang menontonnya berdecak kagum, rasanya agak sedikit sulit untuk benar-benar menikmatinya when their marriage life begins to sink faster than the Titanic.

Dengan kehidupan pernikahan Ale dan Anya yang (hampir) sempurna, ditambah dengan berita kehamilan Anya yang tidak disangka-sangka, kedua pasangan ini justru dihadapkan pada suatu kenyataan pahit dimana gelar orang tua yang hampir mereka raih dirampas secara ironis, saat dokter menyatakan bahwa Anya mengalami keguguran. The fact that it’s almost impossible to keep themselves composed over the searing pain of losing their son, and the aftermath of every single thing that happened beyond their consent is truly heartbreaking. Tidak hanya itu, pada saat penonton dibuat menangis sendu di klimaks cerita, even more plot twists — yang meskipun relevan, terkadang sedikit antiklimaks dan dipaksakan — start to bombard the remaining scenes until the very, very end.

Tetapi, untuk memuaskan hasrat para penonton yang telah sukses dibuat tersenyum dan menangis tidak karuan selama kurang lebih 135 menit, (dengan penuh kebingungan) Critical Eleven pun memutuskan untuk tidak mengikuti alur epilog yang ada di dalam novel, serta mengikuti tren yang tetap berada dalam comfort zone industri perfilman: a happy, fairytale-like ending.

Meskipun begitu, tidak dapat dikatakan bahwa Critical Eleven is not worth the watch. If you’re a sucker for adult-themed melodramatic romance with fancy settings, this one’s for you. Dengan sinematografi yang patut diacungi jempol, kata-kata mutiara penuh makna yang tidak henti-hentinya dilontarkan oleh Ale dan Anya, chemistry para pemain, eksistensi pemeran pendukung yang tidak kalah besar impact-nya, serta antusiasme penonton yang kebanyakan telah lebih dulu membaca novelnya, Critical Eleven merupakan sebuah film yang tepat untuk menggambarkan fantasi dan romantisme kehidupan pernikahan, serta sakitnya kehilangan orang yang paling kita cintai dengan tulus, bahkan sebelum kita dapat benar-benar bertatap muka dengan mereka.

13 Reasons Why (Miniseries 2017) – We Need to Talk About Hannah Baker

Kesehatan mental, bullying, serta pergaulan remaja sudah menjadi salah satu isu yang sudah umum dijadikan pembahasan menarik di berbagai media pop kultur. Banyak film dan TV show yang secara eksplisit membahas tentang gaya pergaulan remaja dan baik buruk dampaknya terhadap perkembangan emosional mereka, seperti Glee, The Virgin Suicides, Elephant, dan Bang Bang You’re Dead. Bicara remaja, tentu sasaran utama dari film dan TV show tersebut adalah remaja, dan kita tentunya sadar bahwa remaja merupakan objek yang sangat rentan untuk menerima sesuatu yang mereka anggap menarik menjadi inspirasi untuk mereka tiru. Berangkat dari fakta tersebut dan banyaknya kasus kriminal yang terinspirasi dari film dan TV show, setiap dari mereka sepatutnya berusaha untuk menggambarkan isu-isu tersebut secara detail dan penuh kehati-hatian agar apa yang mereka coba sampaikan tidak menjadi bumerang dan malah menginspirasi para remaja yang menontonnya untuk menjadi apa yang seharusnya mereka hindari (bully, school shooter, serial killer, or suicide victim).

Diangkat dari novel karya Jay Asher, 13 Reasons Why bercerita tentang aftermath dari sebuah kasus bunuh diri di Liberty High School. Hannah Baker (Katherine Langford), Sang Korban, secara rahasia merekam tujuh buah kaset yang berisi rekaman pengakuannya tentang tiga belas orang yang ia anggap bertanggung jawab terhadap kematiannya. Ia kemudian menduplikasinya menjadi tiga belas copy dan, dengan alasan yang misterius, mengirimkannya kepada tiga belas orang yang ia ceritakan di rekamannya tersebut setelah kematiannya. Di saat yang sama, Liberty High School juga mendapatkan tuntutan hukum dari orang tua Hannah Baker karena Sang Ibu curiga bahwa anaknya mendapatkan tekanan dan bullying dari murid-murid di sekolahnya dan pihak sekolah memilih untuk tidak menanggapi persoalan tersebut dengan serius. Kita akan dibawa menuju sebuah perjalanan emosional yang dialami oleh Hannah Baker secara kronologikal lewat perspektif Clay Jensen (Dylan Minnette), seorang bocah lelaki manis dan canggung yang pernah dekat dengan Hannah dan juga termasuk ke dalam tiga belas alasan tersebut.

Memiliki nuansa yang identik dengan video game Life is Strange, serial televisi yang sebagian besar episodenya disutradarai oleh Tom McCarthy (Spotlight) ini penuh dengan intrik drama kenakalan remaja yang tidak hanya membuat kita murka, namun juga berlinangan air mata. Meskipun masih agak terkungkung dalam stereotipe klasifikasi (nerds, jocks, cheerleaders, preppies, hipsters, emo kids, teacher’s pets), namun semua tokoh yang terlibat mempunyai kompleksitas karakter yang sangat manusiawi dan mewakili kondisi emosional yang dialami remaja pada umumnya. Beberapa tokoh seperti Justin Foley (Brandon Flynn), Alex Standall (Miles Heizer), Courtney Crimsen (Michele Selene Ang), Jessica (Alisha Boe), atau bahkan yang hanya muncul di tiga episode seperti Jeff Atkins (Brandon Larracuente) mampu mengaduk-aduk amarah dan empati yang kita rasakan terhadap mereka menjadi lebur dan tak terpisahkan. Kita peduli terhadap mereka, seakan mereka adalah teman kita di dunia nyata yang perlu kita dekati dan ajak bicara dengan penuh pengertian agar kita tidak kehilangan mereka. Yah, secara garis besarnya, 13 Reasons Why memang secara detail dan simpatik menggambarkan sebuah dampak buruk dari pengabaian, ketidakinginan untuk mengerti satu sama lain, dan keinginan untuk saling menang sendiri.

Namun dengan beberapa alasan, saya sedikit takut dengan apa yang 13 Reasons Why dapat timbulkan pada remaja yang menontonnya.

Mari kita resapi premis ini dengan hati-hati: seorang gadis yang depresi merekam tujuh kaset yang berisi curahan hatinya tentang siapa saja orang-orang yang “bertanggung jawab” pada keputusannya untuk bunuh diri. Setelah diduplikasi, ia mengirimkan “masing-masing copy dari ketujuh kaset tersebut” kepada “orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman” dengan alasan yang personal. Hal ini agak mengerikan buat saya karena bukan hanya terkesan terlalu kreatif dan out-of-the-box (pun intended), namun konsep ini seakan mengglorifikasi aksi bunuh diri sebagai salah satu cara yang efektif untuk “mengungkap kebenaran” dan “menegakkan keadilan“.

Hannah Baker adalah seorang gadis yang terlihat normal. Cantik, mampu bergaul dengan baik, serta memiliki keluarga yang pengertian terhadapnya. Kita tidak akan menemukan tanda-tanda kesedihan di mata Hannah, namun pada kenyataannya, ia sering merasa terabaikan dan teracuhkan karena orang-orang yang ia temui di sekolahnya tidak pernah memperlakukan ia dengan baik. Ini mengingatkan pada kita tentang dua fakta: bahwa tanda-tanda depresi itu memang sangat tidak kasat mata dan bahwa bullying serta pengabaian dapat berdampak langsung pada kesehatan mental dan emosional remaja. Hannah memang memiliki gejala depresi, meskipun hanya ditunjukkan sedikit di keseluruhan episode serial ini, namun kesalahan terbesar 13 Reasons Why adalah membuat sebuah premis kokoh yang berdasarkan logika irasional bahwa bullying adalah penyebab dari sebuah aksi bunuh diri, dan bahwa ada orang-orang yang patut dimintai pertanggungjawaban atas sebuah aksi bunuh diri. Bullying mungkin menjadi salah satu faktor seseorang menjadi depresi dan memutuskan untuk bunuh diri, tapi menyebut bullying sebagai penyebab bunuh diri adalah sebuah simplifikasi yang salah besar, meracuni persepsi, dan dapat mengarah kepada keputusan-keputusan yang membahayakan pihak-pihak tak bersalah.

Seperti belum cukup, serial ini mempertunjukkan secara langsung dan eksplisit aksi bunuh diri Hannah di episode terakhir, yang mana merupakan sebuah tindakan yang gegabah karena riset dari American Foundation for Suicide Prevention menunjukkan bahwa “risk of additional suicides increases when the story explicitly describes the suicide method, uses dramatic/graphic headlines or images and repeated/extensive coverage sensationalizes or glamorizes a death.” Tidak hanya itu, adegan tersebut dikemas dengan sangat menyakitkan sehingga saya khawatir akan memunculkan kembali luka dan trauma yang tidak diinginkan bagi para survivor yang menontonnya.

Penting bagi kita untuk membicarakan apa dampak yang akan ditimbulkan oleh tiga belas rekaman pesan terakhir Hannah Baker bukan hanya terhadap orang-orang yang ia sebutkan namanya di dalam rekaman tersebut, namun juga terhadap para remaja di dunia nyata yang menonton serial ini. Layaknya Hannah, mereka yang memiliki kecenderungan bunuh diri yang tinggi juga merasa terabaikan oleh orang-orang di sekitarnya. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti “If I die, would it matter” sering mengendap dan merasuki pikiran mereka. Pastinya, seluruh episode di serial ini memperlihatkan betapa kematian Hannah membawa pengaruh yang besar pada Liberty High. Betapa akhirnya, ketiga belas orang tersebut mendapatkan hal yang “setimpal” akibat rasa bersalah mereka terhadap Hannah. Remaja memiliki ego yang tinggi terhadap tiga hal: ingin diberikan perhatian lebih, ingin dianggap istimewa, dan ingin memberikan pembuktian yang mendukung dirinya sendiri. Ditambah dengan sikap Clay Jensen sebagai sudut pandang utama, serial ini seakan mengangkat sebuah gagasan yang keliru yang dapat “menginspirasi” para remaja labil: bahwa bunuh diri adalah satu-satunya cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian penuh, membuat orang-orang di sekitarmu merasa bersalah terhadapmu, dan membuktikan “kebenaran yang hakiki” pada mereka bahwa selama ini mereka salah dalam memperlakukanmu.

Selain penokohan dan penulisan naskah yang apik, gaya penuturan cerita non-linear yang dieksekusi dengan sangat mulus lewat match-cuts, extremely detailed continuity, serta color tone editing adalah sesuatu yang harus dipuji dari serial yang digarap oleh Brian Yorkey ini. Sayang sekali, 13 Reasons Why memang memiliki kekeliruan fatal pada konsep yang seharusnya lebih diolah melalui filter moral yang penuh pertimbangan. Saya tidak menyarankan 13 Reasons Why ditonton oleh mereka yang emotionally unstable atau pun mereka yang sensitif terhadap isu bunuh diri. Namun bagi kita yang orangnya agak cuek, serial yang bisa kita saksikan di Netflix ini akan memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya melucuti ego kita demi memberikan perhatian lebih kepada orang-orang yang kita sayangi.

Well, as Tony said, just listen to the tapes.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Get Out (2017) – A Terrifying Joke

“Yo, my man! What’s up my n**ga!”

 

Black people are, in fact, the coolest people in America. Kaum kulit hitam telah banyak memberikan pengaruh pada trend fashion dan hiburan di Amerika Serikat. Beyonce is The Queen. Michael Jackson is The King. Morgan Freeman is God. Hal ini juga menjadi penyebab dari banyak sekali orang kulit putih yang mencoba untuk terlihat swag dengan bercakap-cakap dan berpakaian layaknya orang kulit hitam. White people really want to be black, dan Jordan Peele, seorang komedian yang terkenal lewat komedi sketsa Key and Peele, mengemas isu tersebut ke dalam sebuah lelucon yang ia sulap menjadi sebuah teror mengerikan berjudul Get Out.

Seorang fotografer kulit hitam bernama Chris (Daniel Kaluuya) berpacaran dengan seorang gadis kulit putih bernama Rose (Allison Williams). Pada satu weekend di bulan keempat mereka berpacaran, Rose mengajak Chris untuk berkenalan dengan orang tuanya dan menginap selama dua malam di rumah mereka. Pada awalnya, Chris sedikit mencurigai keberadaan dua orang pelayan di rumah tersebut, yaitu Georgina dan Walter. Mereka semua berkulit hitam, sama seperti Chris, namun Chris merasa asing dengan perangai mereka yang suspiciously obedient dan—-kalau kata pacar saya—-“so white“. Kejadian demi kejadian aneh terjadi pada Chris, yang kemudian berujung pada satu peristiwa mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Do they know I’m black?”

 

Saya bukan dari kaum kulit hitam di Amerika, tapi paling tidak saya sedikit mendapatkan gambaran tentang bagaimana perasaan mereka saat menjalani hubungan inter-rasial, terutama di saat mereka harus berkenalan dengan orang tua masing-masing. Yah, di Indonesia, ibaratnya kurang lebih seperti pacaran beda suku atau beda agama. Meskipun dalam beberapa hal tidak bisa diibaratkan seperti itu karena kaum kulit hitam punya sejarah yang kelam di tanah Paman Sam, di mana mereka ditindas, dijadikan budak, dan diperlakukan secara diskriminatif oleh penegak hukum seakan mereka tidak mempunyai hak sebagai warga negara. Sampai sekarang, diskriminasi pun masih sering dialami oleh mereka, oleh karena itu kaum kulit hitam pun selalu memiliki paranoia tersendiri terhadap kaum bangsawan dan aparat kulit putih, sekecil apapun itu. Lagi-lagi, Jordan Peele membentuk isu tersebut menjadi sebuah lelucon yang menjadi plot device dalam film horor yang serius ini. Coba bayangkan bila kamu seorang lelaki dari kaum kulit hitam. Kamu berpacaran dengan seorang wanita dari kaum bangsawan kulit putih yang memiliki orang tua yang mempekerjakan orang-orang kulit hitam yang terlihat patuh seperti budak sebagai pelayan mereka. Terdengar seperti sketsa komedi, bukan? Although the scenario was obviously based on a joke, Peele delivers it in a terrifyingly unexpected way, and that’s what makes Get Out an exceptionally experimental horror.

Saya tidak bisa bilang ini film horor komedi, karena secara premis dan treatment, Get Out sebenarnya adalah sebuah ide semi-parodik yang dimasak menjadi film horor yang serius. Film yang baru saja mendobrak rekor sebagai The Highest Grossing Film from An Original Screenplay Debut ini menjadi lucu karena kedua hal berikut:

  1. Penampilan LilRel Howery sebagai Rod Williams, seorang polisi bandara yang menjadi sahabat Chris dan menjagai anjingnya saat ia ke rumah orang tua Rose. Joke-joke receh ala African-American yang ia lontarkan akan membuatmu terpingkal-pingkal dalam paranoia.
  2. Saat kita mendapatkan closure di babak ketiga film dan menyadari apa sebenernya satir jenaka yang mendasari ide cerita dan konklusi dari film ini. Penasaran apa yang saya maksud? Tonton saja sendiri.

Get Out berdiri di atas pondasi dan pilar-pilar yang cukup kompleks, namun film ini tetap berhasil untuk menjadi sederhana dengan tidak mengabaikan unsur-unsur klasik film horor. Creepy sound effects and musics, jump scares, kombinasi pergerakan kamera dan penyuntingan dalam menciptakan suspense masih menjadi faktor-faktor utama pencipta teror dalam film ini.  Meskipun demikian, kengerian terbesar Get Out terpancar dari akting yang memukau dari Betty Gabriel sebagai pelayan berkulit hitam bernama Georgina. Seriously, that “No, No, No” scene will terrorize you, take control over you, and put you right into the sunken place. Plot twist pada akhir film bukanlah hal yang baru, dan tidak akan terlalu mengejutkan bila kamu memang horror freak yang sudah khatam dengan film-film horor tahun 2000-an. Namun yang mengesankan, Jordan Peele menggunakan stereotipe masyarakat terhadap kaum kulit putih (serakah dan kapitalis sejati) sebagai lelucon satir dan, lagi-lagi, memasaknya menjadi sebuah konklusi yang menyeramkan.

Intinya, kalau mau ketemu sama calon mertua, jangan lupa bawain martabak, atau bakso, atau apa kek gitu. Gaboleh bawa tangan kosong. Pamali.

Saya tidak akan bicara lebih banyak tentang film ini karena the less you know, the better it will be. Get Out is a funny satire disguised as a terrifyingly scary horror film. This film is going to get you scared, laugh, and contemplating at the same time. Go watch it!

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.