Tag Archives: animation

The Jungle Book (2016) – The Future of Storytelling

Sepanjang sejarah peradaban, manusia tidak pernah berhenti membuat cerita dan menceritakannya kepada satu sama lain. Sejarah mencatat bahwa cerita tertua yang pernah dibuat oleh manusia berasal dari Mesopotamia kuno, dibuat pada tahun 2700 SM di atas sebuah tablet iPad batu dengan judul The Epic of Gilgamesh yang mengisahkan tentang petualangan seorang manusia setengah dewa yang membangun kota Uruk dan kemudian berkelana untuk mencari tetua Utnapishtim. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, manusia juga selalu mencari cara untuk memodernisasi gaya bercerita mereka agar relevan dengan tren dan konteks sosiopolitik masyarakat di zaman mereka saat itu. Bukan hanya kecanggihan teknologi pada medium yang dieksplorasi, namun juga dari teknik dan struktur bercerita. Sebut saja Troy (2004) yang mengadaptasi Iliad dan Noah (2014) yang merujuk pada banyak versi kitab suci mengenai The Great Flood.

The Jungle Book pun merupakan salah satu kisah lama yang sudah beberapa kali diadaptasi dengan medium serta teknik dan struktur bercerita yang berbeda-beda. Rudyard Kipling, seorang jurnalis dan novelis asal Inggris, pertama kali menulis dan mempublikasikan cerita tersebut pada tahun 1894 sebagai hadiah untuk putrinya, yang dua tahun kemudian meninggal dunia di usianya yang keenam.

Sama halnya seperti Iliad dan The Great Flood, The Jungle Book menjadi cerita yang legendaris dan banyak menjadi bahan adaptasi oleh beberapa pihak (khususnya Hollywood) ke dalam medium bercerita yang berbeda-beda. Pertama kali cerita ini diangkat ke layar lebar oleh Korda bersaudara pada tahun 1942, lalu oleh Walt Disney dibuat versi animasi 2D pada tahun 1967 yang kemudian di-remake ulang menjadi live-action film pada tahun 1994.

Berdasarkan rentang zaman yang ditempuh setiap versi adaptasi (1942-1967-1994), adalah keputusan yang tepat untuk menciptakan kembali nostalgia antar-generasi dan meremake ulang The Jungle Book di tahun ini, tentunya dengan pendekatan yang relevan dengan kemajuan teknologi dan sinematografi di zaman ini.

Saat pertama kali melihat trailernya, penulis menganggap film ini tidak jauh berbeda dengan film kombinasi live action dengan CGI-Animation yang sudah kebanyakan dibuat oleh Hollywood sebelumnya (Avatar, Star Wars Ep. I-III, Scooby Doo, Alvin and The Chipmunks). Agaknya tidak perlu diingatkan lagi bahwa kecanggihan teknologi yang digunakan pada sebuah film tidak selalu menentukan bagus atau tidaknya film tersebut.

Namun saat menonton The Jungle Book langsung di teater IMAX 3D, penulis takjub setengah mati.

Bisa dibilang, film yang disutradarai oleh Jon Favreau ini sangat kuat dan all-out mengeksplorasi ketangkasan bercerita. The Jungle Book tidak semata-mata memanfaatkan CGI sebagai senjata utamanya, namun juga dalam segala aspek lain, baik dari framing composition sampai ke ranah scoring dan sound mixing. Biarpun fokus film ini hanyalah ‘menceritakan kembali’, namun kekuatan skrip yang diiringi dengan akting hebat seorang Neel Sethi sebagai Mowgli dan juga penampilan voice-over yang memukau dari para bintang ternama Hollywood seperti Idris Elba, Bill Murray, Christopher Walken, dan Scarlett Johansson berhasil membuat film ini menjadi sebuah remake langka yang melampaui kualitas para pendahulunya.

Yang menarik dari The Jungle Book versi Jon Favreau kali ini adalah keberanian Disney untuk membuka kegelapan yang dahulu disembunyi-sembunyikan dari cerita aslinya dan menggunakannya sebagai bumbu yang mampu menggetarkan jiwa para penontonnya untuk menangkap konteks environmental dan humanisme yang digaungkan film ini dengan efektif. Kita akan dibawa terlalu larut ke dalam rimba sehingga kita merasa ngeri saat adegan di mana Mowgli berhasil menuju desa dan melihat manusia-manusia yang mengelilingi ‘bunga merah’ besar yang menyala di tengah alun-alun. Terlebih lagi, bentuk para tokoh-tokoh hewan yang didesain begitu realistis dan buas ternyata tidak membatasi Jon Favreau untuk membangun karakter-karakter mereka menjadi tetap kuat dan komikal secara bersamaan. Lihat saja bagaimana Akeela, Shere Khan, Baloo, dan King Louie menghidupkan keberadaan mereka lewat dialog dan gaya berbicara yang sangat kental oleh ciri khas dan karakter masing-masing. Realisasi desain rimba dan semua tokoh hewan yang ada di film ini pun secara tidak langsung membuat para penonton mampu merasakan secara real-time experience betapa hutan rimba dan segala makhluk-makhluk buas yang ada di dalamnya pantas untuk dicintai dan dilindungi sepenuh hati.

Dan bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang jauh lebih ganas daripada hewan.

Singkat kata, film ini adalah contoh nyata dari pemanfaatan CGI yang tepat guna serta efektif dalam penceritaan lewat medium film. Seperti yang penulis katakan pada ulasan Eye in The Sky lalu, kemajuan teknologi—layaknya perang dan bencana alam—adalah hal yang tidak dapat dihindari, begitu juga tren serta habit para penonton film. Tidak ada yang salah dari CGI, asal penggunaan teknologi ini ditujukan untuk mendobrak batas-batas ide bercerita manusia serta mendukung penyampaian konteks dengan jauh lebih efektif kepada para penontonnya. Bukan hanya sekedar gimmick mimesis, tapi sebagai pendukung diegesis. Saatnya kita berhenti untuk berpura-pura menjadi hipster wannabe dan mulai mengakui bahwa penggunaan CGI sebagai pendukung dalam post-produksi sebuah film akan menjadi hal yang lebih lazim dilakukan di masa depan bukan hanya oleh para produsen film Hollywood, namun juga para indie filmmaker.

Amin.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Zootopia (2016) – The Animatopia

Tidak butuh atmosfer yang gelap serta struktur naratif yang bertele-tele untuk menceritakan isu-isu yang rumit dan sensitif di kalangan masyarakat dunia saat ini, khususnya isu toleransi di dalam sebuah keberagaman. Namun agaknya mengejutkan bila Disney, yang notabene lebih sering memilih untuk main aman di ranah monarki utopis, dapat memahami hal ini dan memanfaatkannya dengan berbicara politis tentang demokrasi dan toleransi untuk pertama kalinya dengan gaya bercerita yang sangat menghibur.

Film ini berkisah tentang Judy Hopps, seorang kelinci yang ingin menjadi polisi. Judy hidup di dalam sebuah dunia fauna di mana predator dan herbivora hidup berdampingan, meskipun banyak stereotipe terhadap satu sama lain yang menghalangi mereka untuk benar-benar bisa saling menyatu dalam harmoni. Saat kerja keras dan tekad yang kuat membawa Judy menjadi satu-satunya polisi kelinci di pusat kota Zootopia, ia menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam sebuah kasus besar yang dapat membongkar rahasia kelam Zootopia serta memercikkan kembali api kebencian antara herbivor dan predator. Terdengar seperti sebuah cerita yang seru dan menyenangkan, bukan?

Jika kalian ragu apakah cerita ini mampu menjadi menyenangkan dan penting secara bersamaan untuk penonton segala usia, kalian akan terkejut sambil tertawa terbahak-bahak menyaksikan setiap satir yang disajikan dengan jenius dalam film ini. Adegan ‘DMV Sloths’ dan ‘Mr. Big’ akan mampu menguras tawa yang maksimal bila kalian menyukai film The Godfather, pernah punya pengalaman buruk dalam proses administrasi pelayanan publik, ataupun bila kalian hanya seorang anak kecil yang mudah tertawa dengan aksi tokoh-tokoh binatang yang komikal dan menggemaskan.

Patut diingat bahwasanya di dalam film yang penuh dengan canda tawa ini, diskriminasi, stereotipe, dan intoleransi harus menjadi sebuah pembahasan yang serius dan penting untuk disimak bagi para penonton dewasa. Segala detail mise en scene maupun dialog antar karakter membentuk pesan-pesan demokratis yang tidak boleh untuk kita abaikan begitu saja. Contohnya, ketika Judy berkata, “only a bunny can call another bunny ‘cute'”  dan perangai para penumpang saat Judy menaiki sebuah kereta yang diisi oleh predator dan herbivor. Atau saat kita menyadari bahwa kecuali Judy, seluruh personel kepolisian di ZPD merupakan binatang-binatang bertubuh besar dan kita anggap kuat seperti banteng, gajah, badak, dan jerapah. Kita akan dibawa menuju sebuah dunia di mana stereotipe yang sering kita tujukan pada binatang-binatang tersebut di dunia nyata menjadi stereotipe yang mereka tujukan terhadap satu sama lain. Lebih jauh, kita bukan hanya akan dibuat berpikir lebih dalam tentang stereotipe kita terhadap binatang-binatang tersebut, namun juga terhadap manusia satu sama lain di dunia nyata.

Meskipun semua tokoh di film Zootopia adalah binatang dan tiap-tiap dari mereka memiliki ciri khas yang sama dengan binatang-binatang yang ada di dunia nyata, namun kepribadian mereka serta cara mereka berinteraksi dengan satu sama lain sangatlah manusiawi. Hal ini mungkin harusnya bisa menjadi renungan bagi para penonton tentang “apa yang menjadikan manusia itu manusia?” serta “apakah kita manusia sebenarnya lebih baik dari binatang?”. Film ini memenuhi dua materi yang sangat strategis untuk menjadi tontonan wajib bagi semua orang, termasuk di Indonesia yang sedang dipenuhi kebencian politik yang sangat kuat antara satu golongan dengan golongan yang lain. Dua materi itu adalah: film ini amat sangat menghibur dan film ini mempunyai subteks yang penting untuk didiskusikan lebih lanjut. Penulis berharap bagi mereka yang sudah berkeluarga agar menonton Zootopia bersama-sama agar orang tua dapat melakukan diskusi dengan anak-anaknya tentang subteks yang terkandung di dalam film ini.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Inside Out (2015) – Outside In

Pixar tidak pernah berhenti menelurkan mahakarya yang emosional dengan cerita yang sederhana dan erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Setelah sukses membuat para penggemarnya berlinangan air mata dengan Finding Nemo (2009), Wall-E (2008), dan Up (2009), rumah produksi film animasi ini menghidupkan kelima emosi inti dalam pikiran seorang gadis berumur 11 tahun menjadi karakter-karakter yang sangat lucu lewat sebuah film animasi orisinil yang berjudul Inside Out.

Inti dari cerita ini sebenarnya sangat sederhana, bahkan mungkin bisa dikatakan yang paling sederhana dibandingkan film-film Pixar yang lain. Riley (disuarai oleh Kaitlyn Dias) yang baru saja menginjak usia puber mengalami krisis emosional saat keluarganya harus pindah dari Minnesota ke San Fransisco karena pekerjaan ayahnya. Itu saja. Sangat alamiah, bukan? Semua orang pernah mengalaminya. Yang membuat Inside Out menjadi sebuah film yang jenius adalah penggambaran interaksi interdependensi dari lima emosi inti yang berada di dalam pikiran Riley, yaitu Joy (disuarai oleh Amy Poehler), Sadness (disuarai oleh Phyllis Smith), Fear (disuarai oleh Bill Hader), Anger (disuarai oleh Lewis Black), dan Disgust (disuarai oleh Mindy Kaling). Mereka harus bekerja sama dalam membangun kembali infrastruktur di dalam pikiran Riley yang hancur satu persatu karena krisis emosional dan terpisahnya Joy serta Sadness dari panel emosi karena terhisap ke dalam lubuk terdalam pikiran Riley.

Biarpun Inside Out dapat dikatakan imajinatif, bukan berarti film animasi yang disutradarai oleh Pete Docter ini dibuat secara serampangan. Karakteristik dari kelima emosi inti serta dunia dongeng yang menjadi sistem pemikiran Riley diciptakan dengan menghormati kaidah-kaidah psikoanalisis yang dikemukakan Sigmund Freud dan Carl Jung. Freud menyebutnya sebagai ‘alam sadar’ atau consciousness, di mana emosi, kenangan, persepsi, dan keinginan berada di dalam sebuah struktur fungsional yang saling mempengaruhi satu sama lain dan berkembang seiring bertambahnya usia dan pengalaman seseorang. Penulis tidak akan bicara banyak tentang psikoanalisis karena ini bukan disiplin ilmu yang penulis tekuni secara akademis, namun sebagai seorang psychology enthusiast, penulis dapat asumsikan dengan aman bahwa film ini telah menempuh riset yang cukup panjang untuk bisa sampai sejauh dan serinci ini.

Mind Police: “Forget it, Jake. It’s Cloudtown.”

 

Yang lebih menarik dan membuat film ini menjadi jenius adalah bagaimana semua kompleksitas sistem alam sadar tersebut mampu dipaparkan dengan sangat menyenangkan sehingga mudah diserap penonton tanpa harus berpikir susah-susah. Penggambaran karakter Joy dan Sadness sebagai emosi yang memiliki emosi juga menarik untuk dianalisis lebih lanjut. Joy penuh dengan ketidakpastian dan menangis saat terjebak di dalam lubang pembuangan, namun dia tidak serta merta berubah menjadi Sadness ataupun Fear. Pemberian fungsi Sadness sebagai emosi yang berperan untuk menarik orang lain agar memberi perhatian lebih pada Riley pun sebenarnya rentan untuk dikritisi karena tidak semua orang peduli saat kita bersedih dan kesedihan lebih sering memberikan cerminan buruk pada sebuah pribadi sehingga menimbulkan respon Disgust dari orang-orang di sekitar, seperti pada saat Riley menangis tiba-tiba saat memperkenalkan dirinya di depan kelas. Sadness adalah emosi yang terkucilkan, dan memang pantas untuk terus berada di dalam lingkaran kecil yang diciptakan oleh Joy.

Inside Out bukan hanya film animasi yang sangat brilian dan penuh dengan emosi *pun intended*, namun juga merupakan salah satu film Pixar yang penting untuk ditonton oleh semua orang, tidak peduli berapa usia mereka. Film ini akan membekas cukup kuat di hati penontonnya serta memberikan perenungan panjang tentang manajemen emosi serta bagaimana kita seharusnya membuat keputusan-keputusan penting yang akan mengembangkan kepribadian kita dan menjawab pertanyaan terbesar dalam hidup:

“Akan jadi manusia yang seperti apa kita nanti?”

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

The Tale of Princess Kaguya (2014) – Cantik itu Luka

Studio Ghibli memang nggak ada matinya. Sudah diakui oleh kritikus dan publik bahwa studio animasi ini mampu menghasilkan mahakarya yang menyentuh kehidupan sehari-hari dengan kesederhanaan, padat akan pesan moral, dan tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Sebut saja Kiki’s Delivery Service, My Neighbor Totoro, Grave of The Fireflies, dan Spirited Away, maka akan tergugah jiwa-jiwa mereka para manusia yang telah menyaksikan kisah-kisah mengharukan tersebut. Pada 2013 kemarin, Studio Ghibli kembali merilis dua mahakarya yang dihasilkan Hayao Miyazaki (The Wind Rises) dan Isao Takahata (The Tale of Princess Kaguya) di tahun yang sama dan kembali menuai kesuksesan dari kedua film tersebut baik secara kritik maupun komersil. Dari kedua film animasi yang telah gue sebutkan, gue akan bahas satu mahakarya berjudul The Tale of Princess Kaguya yang dihasilkan oleh Isao Takahata, seseorang yang mengaku tidak bisa menggambar meskipun caranya merancang storyboard malah memperlihatkan sebaliknya.

Beberapa animator banyak yang berkomentar bahwa seiring berkembangnya era digital, hand-drawn animation kini telah mati. Lewat film animasi yang ia klaim sebagai karya terakhirnya, sang animator yang memulai karirnya di Toei Animation ini membuktikan bahwa ungkapan itu terlalu dibesar-besarkan. Keseluruhan film yang berdurasi 137 menit ini diciptakan oleh hand-drawn animation dari tangan Isao sendiri dengan gaya impresionis menggunakan cat air yang sedikit mirip dengan My Neighbor Yamadas yang ia ciptakan 16 tahun yang lalu. Sederhana. Namun kita merindukan kesederhanaan, bukan?

Film ini mengambil referensi cerita dari dongeng rakyat Jepang kuno tentang seorang petani bambu yang menemukan seorang bayi kecil di dalam sebuah batang bambu yang tiba-tiba memancarkan sinar terang di malam hari. Sang petani kemudian merawat bayi itu bersama istrinya hingga tumbuh dengan sangat cepat menjadi seorang gadis yang cantik. Belum lagi, sang petani juga menemukan emas berlimpah dan kain yang secara ajaib berada di dalam sebuah batang bambu sehingga pada akhirnya sang ayah dan ibu memutuskan untuk pindah ke kota dan menjadi bangsawan di sana. Sang gadis periang yang sudah terbiasa dengan kehidupan pedesaan dan bermain dengan teman-temannya yang sesama anak petani pun pada awalnya menolak, namun akhirnya harus menurut pula pada kehendak ayahnya yang ambisius. Saat menjadi bangsawan, sang gadis yang akhirnya diberi nama Kaguya ini menyadari bahwa kehidupan seorang bangsawan sangat penuh dengan tipu daya dan keserakahan. Dia yang merindukan manisnya canda tawa dengan teman-temannya di desa pun akhirnya harus menjalani peristiwa demi peristiwa yang—seperti pada animasi Studio Ghibli biasanya—mampu membuat kita merenungkan kembali cara pandang kita terhadap kepalsuan duniawi yang tercipta dari obsesi setiap manusia akan kepemilikan materi.

Satu hal yang menarik dibahas di film ini adalah bagaimana kecantikan berpotensi besar membawa bencana bagi si penyandang dan keluarganya. Kecantikan adalah penyakit, sama seperti yang pernah dibahas oleh Eka Kurniawan di novelnya yang berjudul Cantik itu Luka. Dalam film ini, diperlihatkan saat Putri Kaguya dilamar oleh lima orang bangsawan, kelima lelaki ini berpuisi dan mengibaratkan kecantikannya layaknya harta benda yang keberadaannya mustahil di dunia ini. Saat Putri Kaguya mengadakan sayembara pada mereka untuk membuktikan cintanya dengan membawa harta benda yang mereka sebutkan, kelima bangsawan tamak itu pun kelabakan dan menghalalkan segara cara agar Putri Kaguya mau menerima lamaran mereka atas pertimbangan apapun. Film ini dengan sangat baik membuat sebuah alegori tentang kehidupan bangsawan dan wanita-wanita cantik yang penuh oleh derita dan kepalsuan dunia, tidak peduli di zaman tradisional maupun modern.

The Tale of Princess Kaguya telah meraih nominasi Best Animated Feature Film di Oscar 2015, dan jika gaya impresionis yang unik, cerita yang sederhana namun powerful, serta musical scoring yang diisi oleh sang maestro Joe Hisaishi tidak mampu membuatmu mengakui bahwa Studio Ghibli telah membuat salah satu film animasi terbaik sepanjang masa lewat The Tale of Princess Kaguya, maka gue nggak tahu harus gimana lagi.