Tag Archives: daniel radcliffe

9 Tokoh Anti-Hero Modern Terfavorit dalam Film

Akui saja, kita tahu bahwa kita mulai dewasa ketika kita menganggap ‘anti-heroes’ itu seksi dan layak dicintai. Mereka adalah representasi dari betapa lemah dan tidak berdayanya kita dalam mencoba untuk merangkak naik menuju puncak tertinggi dari pandangan idealis kita terhadap kesempurnaan. Di mata kita yang sudah terbiasa mencicipi pahitnya realita, ‘anti-heroes’ layaknya malaikat yang jatuh ke Bumi dan menjelma menjadi berbagai macam wujud: pecundang yang baik hati, penjahat yang menyedihkan, ataupun seorang idealis humanis yang tolol. Dalam kebudayaan film modern, ada beberapa tokoh ‘anti-hero’ yang patut kita simak dan perhatikan bagaimana mereka mampu merefleksikan diri kita dalam kehidupan nyata.

1. Riggan Thomson – Birdman (2014)


Why?: Impian paling sederhana dari seorang pecundang adalah untuk tidak dianggap sebagai pecundang. Sesederhana itu, dan Michael Keaton berhasil memerankan seorang Riggan Thomson yang ingin lepas dari bayang-bayang masa lalunya sebagai maskot superhero komersil anak-anak dan ingin membuktikan bahwa sebagai individu ia memiliki talenta seni yang pantas untuk diakui, dan seperti layaknya seorang ‘anti-hero’, he overestimated himself too much.

2. Andrew Neiman – Whiplash (2014)


Why?: Siapa yang tidak jatuh cinta dengan anak muda menyedihkan dengan idealisme dan ambisi buta untuk menjadi musisi legendaris? Siapa yang tidak merasa simpati ketika dia harus berhadapan dengan guru brutal yang kejam dan bengis demi mencapai mimpinya? Terlebih lagi, siapa yang tidak terpesona melihat pemuda ini merangkak keluar dari mobil dan berlari memaksakan diri bermain drum di panggung audisi dengan darah yang masih berceceran di sekujur tubuhnya?

3. Frank & Roxy – God Bless America (2012)

Why?: Mereka berdua sama-sama membenci apa yang kita benci. Pembodohan publik, disfungsi sosial, dan kefanatikan. Mereka merupakan perwakilan dari imajinasi terliar kita dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut: “Bunuh-bunuhin aja sampai semua sumber masalahnya mati, kan kelar tuh”. Kita tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan salah. Tapi kita mampu memaklumi mereka dan pada akhirnya ikut bersimpati terhadap miringnya jalan pikiran mereka dan konsekuensi yang harus mereka hadapi di akhir cerita.

4. Yu Honda – Love Exposure (2007)

Why?: Pada saat diwawancarai di acara BAFTA: A Life in Pictures, David Fincher, salah satu sutradara ternama Hollywood, mengatakan bahwa “Basically, people are perverts.” Inilah kenapa gue memasukkan Yu sebagai salah satu anti-hero terfavorit, karena dia mampu menunjukkan betapa mesumnya kita, terutama para pria, dan bagaimana kebodohannya membuat dia melakukan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan, seperti mengabdi di perguruan mesum dan menjadi seorang maestro dalam memotret celana dalam wanita. Lagi-lagi kita akan merasa ikutan malu dibuatnya.

5. Mark Zuckerberg – The Social Network (2010)

Why?: Terlepas dari akurat atau tidaknya penggambaran sang inventor Facebook dalam film garapan David Fincher ini, Jesse Eisenberg mampu menjadi karakter nerd yang mampu membuat pecundang asmara dan sosial seperti kita merasa simpatik dan terhubung satu sama lain. Gue pribadi sih, jadi merasa bersyukur mengetahui bahwa gue nggak sendirian, dan orang-orang sehebat Mark ternyata mampu membuat sebuah alternatif yang (nyaris) sempurna terhadap pergaulan dan jejaring sosial yang tradisional. Coba deh, sebelum ada Facebook, para nerd cuma berani show-off dan curhat tentang dirinya di dalam diary, bukan di status updates.

6. Sonny Wortzik – Dog Day Afternoon (1975)

Why?: Dia adalah tipe penjahat yang sebenarnya bukan orang jahat dan nggak bisa jadi jahat. Pada awal perampokan bank, semua berjalan dengan menegangkan sampai suatu ketika Sonny bilang “I’m a Catholic. I don’t want to hurt anybody.” Kemudian semua akan berubah menjadi sangat menyenangkan saat kita tahu bahwa penjahat konyol yang diperankan oleh Al Pacino ini merampok bank untuk membiayai operasi transgender pacarnya.

7. Neville Longbottom & Severus Snape – Harry Potter Series (2001 – 2012)


Why?: Alright, alright. Calm down, Muggles, I’m on your side! Gue mengalami perkembangan pola pikir dan beranjak dewasa bersama Harry Potter series. Selain trio wizards yang menjadi tokoh utama, kedua orang ini adalah penyihir-penyihir yang ada di belakang Harry dan ikhlas serta setia melindunginya. Neville Longbottom, dengan karakternya yang pada awalnya introvert dan penakut, ternyata berani menolak untuk tunduk pada kekuasaan tertinggi kegelapan Lord Voldemort dan dia pula yang menggotong mayat Harry sambil berpidato di depan kubu Voldemort dan Hogwarts bahwa “Harry Potter akan selalu hidup di dalam hati kita!” Dan si malang Severus Snape? Dia adalah simbol dari lelaki lemah yang memilih untuk tetap setia pada cinta terakhirnya yang tak akan pernah berbalas. Severus Snape adalah kita. Hidup Severus Snape!

8. Tyler Durden – Fight Club (1999)

Why?: Di dalam bukunya yang berjudul “Stranger than Fiction”, Chuck Palahniuk, yang juga menulis novel Fight Club yang akhirnya diadaptasi menjadi sebuah film oleh David Fincher ini memberikan penjelasan bahwa semua cerita yang ia tulis berkisah tentang orang-orang yang mencari cara-cara unik untuk berinteraksi dengan kehidupan sosialnya. Inilah yang sebenarnya berusaha diceritakan oleh Fight Club. Kebanyakan orang lebih terfokus pada permasalahan psikologi yang dialami Tyler dan narator, tapi mereka lupa bahwa film ini banyak membuat perumpamaan terhadap manusia-manusia yang membenci dirinya sendiri dan lebih memilih untuk tenggelam dan hilang dalam identitas palsu yang mereka buat demi sebuah penerimaan.

9. Travis Bickle – Taxi Driver (1976)

Why?: Ngga perlu nanya kenapa sih kalau kalian udah nonton salah satu masterpiece dari Martin Scorsese ini. Travis Bickle adalah icon modern dari Sisyphus. Dia adalah produk dari sebuah pemikiran eksistensialisme manusia-manusia kesepian dan bodoh yang ingin mengejar sebuah konsep kesempurnaan dari idealisme mereka. Travis tahu apa yang dia inginkan, dan dia tahu itu semua tidak akan jatuh tiba-tiba di atas tempat tidurnya, jadi ia terus berusaha, meskipun lama kelamaan dia hanya terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Lagipula, bukankah kita juga seperti itu?

Long live Anti-Heroes!

Honorable Mention:

Frank Darbo – Super (2009), Dave Lizewski – KickAss (2010), Mike & Mallory – Natural Born Killers (1994), Vincent & Jules – Pulp Fiction (1994).

What If (2014) – Escaping Friendzone 101

Harry Potter got friendzoned by Ruby Sparks. Could it be any funnier? Seenggaknya ini kesan pertama gue saat ngebaca logline dan cast dari film ini. Harry Potter, Friend-Zone, Ruby Sparks. Tiga elemen yang secara subjektif menjadi favorit gue. Awalnya gue berpikir film ini akan jadi semacam 500-Days-of-Harry-and-Ruby, tapi ternyata Michael Dowse, sang sutradara, berhasil meramu film ini menjadi sesuatu yang lain.

Berkisah tentang Wallace (diperankan oleh Daniel Radcliffe) yang bertemu dengan seorang gadis bernama Chantry (diperankan oleh Zoe Kazan) di sebuah pesta setelah setahun mengurung diri di rumahnya karena patah hati. Mereka kemudian menjalin sebuah hubungan yang mereka sebut sebagai ‘pertemanan’ di saat mereka tahu bahwa mereka saling menyukai satu sama lain namun Chantry sudah terlebih dulu memiliki kekasih bernama Ben (diperankan oleh Rafe Spall), seorang praktisi HAKI di UN yang sangat menyayanginya. Peristiwa demi peristiwa mereka lalui sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka terlalu banyak berbohong pada diri mereka masing-masing tentang perasaan mereka pada satu sama lain.

Iya, inti alur ceritanya memang hanya sesimpel itu. Namun detail yang disajikan oleh sang sutradara Michael Dowse dan sang penulis skrip Elan Mastai membuat film ini menjadi sebuah permainan perasaan yang tidak pernah kita tahu kapan saja dia berkata jujur atau dusta. Like I said before, film ini tentang dua orang yang saling jatuh cinta namun saling membohongi perasaannya masing-masing karena situasi pribadi yang tengah mereka alami. Wallace dengan hati yang retak dan “Love is Stupid” principle-nya dengan Chantry yang sudah lebih dulu punya pacar yang menyayanginya.

Sebagai seorang cowok, film ini lucu buat gue. Lucu, by means “cute”. Meskipun gue jauh lebih mengagumi cuteness dari Ruby Sparks (which is cuteness overload!) tetapi film ini juga mampu dikategorikan sebagai one of those cute films karena dua aspek. Pertama, film ini memperlihatkan secara natural bagaimana saat manusia senang membohongi dirinya sendiri. Kita biasa melihat di banyak film drama bagaimana manusia saling membohongi satu sama lain, namun dalam film ini Daniel dan Zoe berakting dengan sangat baik sehingga membentuk chemistry yang ‘cute’ dan memberikan rasa yang lebih kental dari film-film bertemakan ‘friendzone’ yang lain (ya…bahkan dibandingkan Ron Weasley & Hermione Granger, Harry’s childhood friend). Kedua, hal-hal kecil yang ada di film ini seperti “How much does Elvis colon weight when he died?” (Like, really…?), permainan ‘fridge puzzle’ yang mempertemukan mereka, serta ‘Fools Gold gift exchange’ membuat jomblo-jomblo mengenaskan (iya, termasuk gue. I.Y.A.) sedikit berandai-andai tentang kehidupan cinta yang mungkin akan dialami bersama seorang sahabat yang direncanakan untuk menjadi pacar di masa depan.

Film ini cukup unik dan mendapat nilai positif buat gue di antara film-film romantic comedy lain. Kalian yang senang dengan semi-fantasy love-life atau pria-pria nelangsa bernasib serupa namun berwajah tidak sama dengan Daniel Radcliffe, kalian wajib nonton film ini sebagai salah satu referensi kalian.

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5