Tag Archives: don’t breathe

The Big Five Mainstream Horrors of Early 2016: Short Review

Bagi kita, mungkin mudah sekali merasa takut sekaligus terlibat secara emosional saat menonton film horor yang baik. Kenyataannya, bagi para produsen film, horor adalah sebuah genre yang menuntut keahlian serta kepekaan ekstra dalam pembuatannya. Mengapa? Karena mayoritas film horor dibuat dengan bujet yang sangat terbatas, namun hampir selalu berhasil untuk menghasilkan keuntungan Box Office berkali-kali lipat, kadang tidak peduli seberapa buruk kualitas film tersebut. Ambil saja contoh kasus Annabelle. Film yang hanya mendapatkan rating 29% di Rotten Tomatoes (karena, yah, memang jelek) ini mendapatkan keuntungan worldwide yang bombastis ($256,873,813) dibandingkan bujetnya yang hanya berkisar $6.5 juta. Keuntungan ini tentunya juga dibantu dari kesuksesan The Conjuring sebelumnya yang mendapatkan keuntungan worldwide $318 Juta dari bujet $20 juta. Inilah yang membuat saya merasa bahwa para produsen film horor patut diberikan apresiasi lebih. Mereka mampu memanfaatkan keterbatasan untuk menciptakan ilusi realita yang maksimal.

Lewat artikel ini, saya ingin mengulas, mengapresiasi, serta mendiskusikan lima film horor mainstream dari awal tahun 2016 sampai artikel ini selesai ditulis.

1. The Conjuring 2, directed by James Wan.

Production Budget: $40,000,000
Worldwide Box Offfice: $320,070,008 (est. 19/09/2016)

Seperti film-film yang sebelumnya disutradarai James Wan, The Conjuring 2 adalah sebuah film yang sangat menyenangkan, terutama bila kamu menontonnya bersama keluargamu atau dengan temanmu yang orangnya kagetan. Premis ‘haunted family in a haunted house’ yang sudah sangat familiar di ranah film-film bergenre horor ini dikemas dengan treatment cerita yang lebih berorientasi pada anak-anak dan keluarga sehingga atmosfer film tidak melulu gelap, namun juga hangat dan penuh kasih sayang. Adegan saat Ed Lorraine (diperankan oleh Patrick Wilson) menyanyikan tembang “Can’t Help Falling in Love” dari Elvis Presley sambil bermain gitar di depan keluarga Hodgson adalah salah satu contoh kehangatan yang jarang kita temukan dari film-film horor modern kebanyakan. Tidak hanya itu, semua jump-scare yang terdapat dalam film pun ini dilakukan dengan crafting yang solid dan segar sehingga tepat sasaran dalam membuat para penonton berteriak kencang tanpa harus mempertanyakan relevansinya dengan logika cerita (that Nun-in-the-Mirror scene was perfect!).

Di antara semakin banyaknya film horor yang mempertontonkan kesadisan dan seksualitas, The Conjuring 2 adalah film horor yang paling aman untuk ditonton bersama anak anda dalam segala usia.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

2. The Wailing, directed by Na Hong-jin.

Production Budget: N/A
Worldwide Box Office: $51,252,403 (est. 19/09/2016)

Bisa dibilang, The Wailing adalah sebuah kombinasi apik antara Memories of Murder dan The Witch dengan kearifan mistik lokal dari Korea Selatan. Disutradarai oleh Na Hong-jin (The Chaser, The Yellow Sea) film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang diserang wabah penyakit mematikan setelah kedatangan seorang lelaki misterius ke desa tersebut. Seorang detektif ceroboh bernama Jong-goo (diperankan oleh Kwak Do-won) yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut malah berbalik menjadi korban tatkala anak perempuannya yang masih kecil ikut terjangkit wabah tersebut.

Biarpun dipenuhi dengan adegan-adegan yang keji, gila, dan agak disturbing, kengerian utama dalam film ini dihasilkan dari gaya penceritaan yang atmosferik dengan menempatkan elemen-elemes simbolis seperti burung-burung gagak yang mati, altar pemujaan setan dengan foto-foto misterius tertempel di dinding, serta iklim latar film yang sebagian besar diisi oleh hujan deras dengan awan yang gelap. Suspensi berlangsung dengan efektif dari awal film sampai akhir. Dalam dua jam lebih durasi film, setidaknya ada tiga plot twist di setiap titik pergantian babak. Kita akan dibuat curiga oleh semua tokoh dan kesal terhadap karakter Jong-goo yang tidak pernah bertindak rasional dalam menghadapi masalah (padahal dia seorang detektif) sampai pada akhirnya kita mengetahui bahwa semua hal tersebut merujuk kepada persoalan yang lebih besar dari sekadar praktik guna-guna.

The Wailing adalah sebuah film mystery-supernatural-horror yang pekat dan padat oleh atmosfer yang mengerikan. Cocok bagi kamu yang sudah bosan terhadap film-film horor dengan skenario yang sketched dan mengandalkan jump scare sebagai senjata utamanya.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

3. The Shallows, directed by Jaume Collet-Serra.

Production Budget: $17,000,000
Worldwide Box Office: $116,055,707 (est. 19/09/2016)

Nancy Adams (diperankan oleh Blake Lively), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran, pergi berlibur ke pantai terpencil untuk berselancar dan melipur lara setelah kematian sang Ibu tercinta. Saat sedang asyik bermain ombak di atas papan, tiba-tiba seekor hiu putih raksasa menyerang Nancy, menggigit kakinya, dan membuatnya terjebak di tengah batu karang besar di lautan bersama seekor burung camar yang ia beri nama Steven Seagull (nggak, burung camarnya nggak bisa Wing-Chun, mohon maaf).

Saat kita berpikir bahwa era film-film monster telah usai, Jaume Collet-Serra menghadirkan kembali kengerian teror serangan hiu buas dengan pendekatan yang sangat milenial di film The Shallows. Kenapa saya bilang milenial? Karena variasi komposisi shot, camera movement, dan editing yang terdapat di film ini mengingatkan saya pada video-video bertema paradise adventure yang sering diunggah para travel vlogger seperti Nainoa Langer, Giarro Giarratana, atau konten-konten viral marketing GoPro di YouTube. Bahkan bisa dibilang, hal tersebut lah yang menjadikan film ini unik dan berbeda dibanding film shark attack lain. Semua elemen lain yang terdapat di film ini sebenarnya sangatlah familiar bagi penonton, yaitu lanskap pantai yang memanjakan mata, eksploitasi pesona tubuh wanita, dan penggabungan premis ‘isolation terror‘ (Buried, 127 Hours, Gravity) dengan ‘monster terror’ (Lake Placid, Deep Blue Sea, Anaconda, Jaws). Selebihnya, tidak ada perbedaan yang signifikan, tapi dengan penyutradaraan yang solid dari Jaume Collet-Serra, The Shallows mampu menjadi sebuah wahana jungkir balik yang segar dan menyenangkan bagi para penikmat film horror-thriller.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

4. Don’t Breathe, directed by Fede Alvarez.

Production Budget: $9,900,000
Worldwide Box Office: $107,028,781 (est. 19/09/2016)

Bila seorang kakek tua mencoba menghabisi nyawa tiga orang anak muda yang berusaha untuk membunuh si kakek dan merampok rumahnya, siapa yang akan kamu salahkan? Hal inilah yang menjadi premis utama Don’t Breathe, film horror-thriller arahan sutradara Fede Alvarez. Dari adegan pembukaan pun, film ini sudah menegaskan untuk tidak bertele-tele dan langsung berangkat pada inti cerita: pembantaian tanpa ampun.

Tidak ada momen percintaan dramatis, tidak ada percakapan sok cerdas, hanya pembantaian dan kejar-kejaran.

Pengenalan terhadap keempat tokoh utama pun benar-benar dilakukan seminimal mungkin dan plot langsung masuk ke dalam permasalahan bahkan sebelum lima belas menit pertama berakhir. Dengan plot yang menyerupai Wait Until Dark, Don’t Breathe dikemas sesempit dan sepadat mungkin dengan sentuhan Panic Room dan Inside sehingga menjadi sebuah film yang, seperti judulnya, akan membuatmu sulit untuk bernafas.

Kekuatan utama film ini terdapat pada efektifitasnya dalam memanfaatkan premis yang standar dan lokasi yang minimalis menjadi kengerian klaustrofobik yang tanpa henti sepanjang pertunjukan berlangsung. Don’t Breathe dengan cermat memanfaatkan kompleksitas moral dan idiot plot untuk memaksimalkan potensi horor dari home-invasion thriller yang sudah banyak sekali dibuat. Teknik sinematografi yang digunakan Don’t Breathe juga cukup unik untuk sebuah film horror-thriller. Daripada memanfaatkan efek shaky camera atau fast-cutting untuk memicu ketegangan, Pedro Luque, sang sinematografer, cukup menggunakan teknik konvensional dengan pergerakan kamera yang mulus, komposisi yang rapi, dan penyuntingan yang jeli terhadap momentum. Plot-twist yang muncul di awal babak ketiga film pun cukup menambah sensasi kekacauan tokoh Pak Tua dan kelinglungan moral penonton, meskipun memang menimbulkan banyak kontroversi dari berbagai pihak. Namun jika kamu sedang mencari film horror-thriller yang tidak banyak basa-basi, Don’t Breathe adalah pilihan yang sangat tepat buatmu.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

5. Train to Busan, directed by Yeon Sang-ho.

Production Budget: $8,500,000
Worldwide Box Office: $99,067,452 (est. 13/9/2016)

Film zombie sudah ada sejak tahun 1932, dibuat secara independen dan dengan bujet yang sangat terbatas oleh Victor dan Edward Halperin. Kendati demikian, George Romero-lah yang pertama kali mempopulerkan zombie sebagai medium kritik sosial politik lewat Night of The Living Dead. Generasi Y dan Z mungkin akan lebih familiar dengan The Walking Dead (serial TV) dan World War Z, namun harus diakui, Train to Busan akan menjadi salah satu film zombie sarat kritik sosial yang sangat berkesan dalam pengalaman mereka menonton film horor.

Seorang fund manager bernama Seok-woo (diperankan oleh Gong Yoo) terjebak di dalam sebuah KTX bersama anaknya (Kim Soo-an) saat epidemik misterius yang membuat manusia berubah menjadi zombie menyebar di seluruh Korea Selatan, termasuk di dalam KTX yang mereka tumpangi. Bersama seorang calon ayah dan istrinya yang sedang hamil serta sepasang muda-mudi SMA yang saling mencintai, mereka harus bertahan hidup hingga kereta sampai di Busan, satu-satunya kota yang berhasil bertahan dari serangan wabah.

Setelah The Wailing, Don’t Breathe, dan The Shallows yang menggabungkan dua premis dan referensi film berbeda, Train to Busan juga bagaikan sebuah kombinasi apik antara Snowpiercer dan World War Z, lagi-lagi dengan kearifan lokal Korea Selatan yang terkadang penuh dengan dramatisasi yang klise. Ada banyak drama sosial yang diangkat di sini, dan meskipun porsi melodrama di babak ketiga film akan membuatmu sedikit mengernyitkan dahi, skenario yang dirancang sangat apik dan kokoh sejak permulaan sampai akhir film ini akan tetap berhasil membuatmu menyanyikan lagu “Aloha Oe” sambil menangis tersedu-sedu saat keluar dari bioskop. Disutradarai oleh Yeong San-ho, seorang mantan komikus yang juga pernah membuat film animasi Seoul Station, Train to Busan menghadirkan sebuah horror-thriller dengan pengadeganan yang elok dan tokoh-tokoh yang mampu membuat emosi kita bercampur aduk sepanjang film berlangsung. Meskipun ada Gong Yoo dan Jung Yu-mi yang pernah bermain di Silenced, namun tokoh yang berhasil menyajikan cita rasa yang beragam di film ini adalah Sang Hwa, sang calon ayah bertubuh besar (diperankan oleh Ma Dong-seok) dan Yong Suk, sang COO pengecut (diperankan oleh Kim Ui-seong).

Sebenarnya, inti dari kemantapan Train to Busan adalah kritiknya yang efektif dan lugas tentang strata dan fungsi sosial. Hal ini sebenarnya sudah dimunculkan saat Sang Hwa berkata pada istrinya bahwa Seok-woo itu lintah darat, namun kritik sosial selanjutnya dimasak dengan lezat dan cantik di babak kedua, saat skenario penumpang gerbong belakang versus depan dimulai. Dalam sekejap, horor klaustrofobik pun berubah menjadi drama politik sentimental tentang masyarakat yang mudah disetir opininya saat rasa takut mengancam mereka. Dalam situasi yang telah dibangun tersebut, Yeong San-ho pun menggunakan logika penyelesaian yang mengingatkan saya pada Ran, film dari Akira Kurosawa.

“In a mad world, only the mad are sane.” – Kyoami, Ran (1985).

Beberapa persoalan yang bersifat ilmiah dan rasional di film ini memang memiliki banyak permasalahan, namun dengan subteks ‘pengorbanan’ yang menjadi landasan utama skenario film ini (dan tanggal rilisnya yang kebetulan berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha), Train to Busan adalah film horror-thriller yang sangat menghibur dan cocok untuk ditonton bagi semua orang untuk mendalami esensi dari pengorbanan sebagai bentuk dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap kemanusiaan.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

 

N.B.: Semua data kuantitatif bersumber dari IMDb.com, BoxOfficeMojo.com, dan The-Numbers.com.