Tag Archives: drama

7 Film Terbaik untuk Wanita-Wanita Hopeless Romantics

Setelah memberikan rekomendasi film-film terbaik untuk para pria pencundang asmara, kini saatnya penulis merekomendasikan film-film terbaik untuk para wanita-wanita hopeless romantics.

Tidak semua yang kita harapkan dapat berjalan mulus. Terkadang, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan-pilihan sulit yang harus kita lewati, dan berusaha untuk menerima segalanya dengan tangan terbuka. Tanpa pilihan-pilihan sulit tersebut, kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya belajar dari kesalahan, mengikhlaskan segala hal yang tidak mudah diikhlaskan, serta menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan yang sudah kita buat dengan seksama. Berikut adalah daftar film-film terbaik pilihan Distopiana yang dapat disaksikan untuk para wanita-wanita hopeless romantics, yang sedang berusaha menerima realita pahit dengan tangan terbuka, dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja selama masih menyisakan harapan.

  1. Something Borrowed (2011) directed by Luke Greenfield

tumblr_n1a9ugpl5E1qgxmqno1_500

Diangkat dari novel Emily Giffin dengan judul yang sama, Something Borrowed merupakan film drama romantis yang sudah pasti akan meninggalkan kesan speechless untuk anda. Diperankan oleh dua aktris ternama seperti Ginnifer Goodwin dan Kate Hudson, diceritakan lika-liku kisah percintaan Rachel White (Goodwin), seorang attorney muda yang bekerja untuk sebuah firma hukum ternama di kota New York. Setelah one-night stand penuh makna yang ia lalui dengan Dex (Egglesfield), seorang pengusaha mapan yang kebetulan merupakan high school crush Rachel sendiri, hidup Rachel berubah 360 derajat saat ia berusaha menyembunyikan perselingkuhannya dengan Dex, yang merupakan tunangan sahabatnya sendiri, serta mengalami mental breakdown berkepanjangan, saat ia tersadar bahwa Dex tidak pernah benar-benar mencintainya.

2. Love, Rosie (2014) directed by Christopher Ditter

tumblr_o6iioslPEt1v0ttqao1_500

Film drama komedi yang satu ini dijamin akan membuat kalian para wanita-wanita hopeless romantics tertawa terbahak-bahak sambil meneteskan air mata. Bagaimana tidak, film yang diangkatan dari novel Where Rainbows End karya Cecelia Ahern ini membahas tentang isu-isu yang masih jarang diperlihatkan kepada masyarakat luas. Mulai dari persahabatan, kehamilan remaja, hingga pencapaian mimpi dan aspirasi. Dikisahkan dua sahabat kecil bernama Rosie Dunne (Lily Collins) dan Alex Stewart (Sam Claflin), yang secara tidak sengaja mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah menemukan keberanian untuk mengakui perasaan mereka. Pada film ini, para penonton juga akan disuguhkan berbagai keindahan yang kota London dan New York tawarkan. Secara tegas, film Love, Rosie mengajarkan kita bahwa timing dan komunikasi merupakan salah satu hal yang paling esensial dalam suatu hubungan.

3. About Time (2013) directed by Richard Curtis

8-The-Time-Travelers-Wife-quotes

About Time merupakan sebuah film karya sutradara sekaligus penulis naskah terkenal bernama Richard Curtis, yang diantara karyanya merupakan Love Actually, Mr. Bean’s Holiday dan Notting Hill. Film ini mengisahkan tenting, Tim Lake (Domhnall Gleeson), seorang laki-laki yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Cornwall di Inggris, yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan waktu. Dengan kemampuan spesial yang ia miliki ini, Tim pun bertekad untuk mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Konflik ceritapun mulai memanas ketika ia memutuskan untuk pindah ke London dan bertemu dengan seorang perempuan asal Amerika bernama Mary (Rachel McAdams) di sebuah restoran.

4. Finding Mr. Destiny (2010) directed by Jang Yoo-jeong

tumblr_n3iinjIZcJ1rw93m3o1_r1_500

Film box office asal Korea Selatan ini menceritakan tentang Seo Ji-woo (Lim Soo-jung), seorang perempuan yang berpergian ke India seorang diri dan bertemu cinta pertamanya, Kim Jong-ok (Woo Ki-jun), seorang dokter handal di negara asalnya. Setelah berpisah dengan Jong-ok, Ji-woo yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa hubungan mereka telah berakhir memutuskan untuk mendatangi sebuah perusahaan biro jodoh terkenal untuk membantunya mencari Jong-ok. Tidak disangka-sangka, Ji-woo justru bertemu dengan Han Gi-joon (Gong Woo), pemilik perusahaan biro jodoh tersebut yang akan membantunya untuk mendapatkan Jong-ok kembali. Bersama-sama, mereka pergi berkeliling Korea Selatan dan dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka mulai merasa nyaman terhadap satu sama lain.

5. One Day (2011) directed by Lone Scherfig

tumblr_mdc62u884v1rodugmo1_500

Film yang diangkat dari novel David Nicholls ini dijamin akan membuat para penonton banjir air mata. Diperankan oleh Anne Hathaway dan Jim Sturgess, film ini mengisahkan tentang persahabatan dua mahasiswa yang baru saja lulus dari University of Edinburgh, Dexter Mayhew (Sturgess) dan Emma Morley (Hathaway). Secara kronologis, film ini menceritakan kisah Dexter dan Emma (terkadang disajikan secara terpisah) yang awalnya bertemu pada tanggal 14 Juli, dan dilanjutkan pada setiap tanggal 15 Juli selama delapan belas tahun berturut-turut. Dengan berbagai konflik yang dilewati pasangan protagonisnya, One Day menyuguhkan berbagai pesan moral tentang cinta, persahabatan, serta serentetan pilihan yang harus mereka buat secara berani.

6. Safe Haven (2013) directed by Lasse Hallström

movie-quotes-quote-safe-haven-Favim.com-836586

Diangkat dari novel bestseller Nicholas Sparks, film ini sungguh berbeda dari adaptasi-adaptasi film Nicholas Sparks lainnya. Safe Haven sendiri menceritakan tentang Erin Tierney (Julianne Hough), seorang istri dari polisi detektif yang berusaha melarikan diri dari Boston, dikarenakan suaminya yang secara diam-diam berperilaku abusive. Setelah memulai hidup barunya di Southport dengan nama Katie Feldman, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Alex Weathey (Josh Duhamel), seorang ayah tunggal yang masih belum bisa melepaskan kepergian istrinya yang meninggal karena kanker. Safe Haven merupakan film thriller romantis yang akan membawa anda menuju sebuah emotional rollercoaster penuh haru dan misteri yang mencengangkan.

7. A Little Thing Called Love (2010) directed by Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn & Wasin Pokpong

tumblr_luuwzqcw5V1r2iejoo1_500

Sleeper hit asal Thailand ini merupakan film yang paling digemari para hopeless romantics. Dengan akting dan penjiwaan para aktornya yang menjanjikan, bagaimana mungkin kita mampu melewatkan film yang satu ini? Dengan alur cerita the-ugly-duck-meets-the-prince-charming yang klise, A Little Thing Called Love dapat dipastikan mengubah perspektif kita tentang the prince charming itu sendiri. Dikisahkan tentang seorang remaja SMA bernama Nam (Pimchanok Baifern) dengan wajah yang tidak cantik dan kepribadian introvert, yang berusaha mati-matian untuk mengubah dirinya demi Shone (Mario Maurer), kayak kelas Nam yang pintar, tampan, dan disukai banyak orang. Dalam perjalanannya untuk mempercantik diri, Nam pun belajar bahwa tidak semua hal yang ia inginkan dapat berjalan sesuai ekspektasinya.

tumblr_mkdru2k7281racrzqo1_

Setelah menonton film-film yang telah di rekomendasikan, kita dapat belajar bahwa tidak segalanya cinta itu indah dan penuh jawaban. Flowers can’t grow without a little rain, and that’s perfectly okay. Terkadang, saat kita sudah mengikhlaskan apa yang kita inginkan, aspirasi tersebut justru akan tercapai. Intinya, keihklasan merupakan suatu keharusan, dan kita sebagai para hopeless romantics harus bisa menyikapinya dengan seksama. Hidup tidak selamanya mulus dan penuh kebahagiaan, tapi justru turbulensi-turbulensi itulah yang mampu membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Honorable Mention: Never Let Me Go (2010), Il Mare (2000), Stuck in Love (2012), He’s Just Not That Into You (2009).

A Copy of My Mind (2015) – Jakarta dalam Cerita Cinta Nyata

Kita bisa menyebutkan banyak sekali kekurangan yang dimiliki kebanyakan film Indonesia yang telah diproduksi, namun yang paling sering diulang-ulang adalah keengganan dalam menyorot konteks sosial yang gamblang dan detail tentang kehidupan masyarakat Jakarta, khususnya daerah sub-urban. Demi konsumen mayoritas yang (mereka anggap) udik, mereka lebih memfokuskan pada kehidupan masyarakat menengah ke atas dan sudut kota Jakarta yang megah dan gemerlap. Jika sudah tidak ada lagi yang bisa dieksplorasi, ya sudah, tinggal shooting di luar negeri, bawa aktor-aktor Indonesia. Premis dan skrip pun ditulis sebasi mungkin, sebasi puisi-puisi kacangan akun fake official Line dengan satu tujuan yang sama: mengeksploitasi kenaifan remaja akan cinta. Jika kamu termasuk golongan orang-orang yang sudah muak akan materi-materi seperti yang telah disebutkan, maka ada dua film di awal 2016 ini yang akan menghidupkan kembali kepercayaanmu terhadap film-film Indonesia: Siti dan A Copy of My Mind. Bila Siti mungkin terlalu marjinal dan tersegmen untuk kamu yang biasa menonton film-film romansa hedonis berbujet mahal, kamu bisa mulai untuk menonton A Copy of My Mind terlebih dahulu.

1227161_a-copy-of-my-mind

Kita semua sebenarnya sudah tahu bahwa Jakarta bukan hanya tentang wanita-wanita dengan make-up tebal menenteng tas mahal berkeliling di dalam sebuah mal megah ditemani pria metroseksual yang tidak jelas apakah dia pacar, saudara, ayah, atau bodyguard. Jakarta juga tentang seorang gadis kleptomania pegawai salon kecil yang hidup di kos-kosan sepetak yang berpacaran dengan pria belel yang bekerja sebagai penerjemah subtitel DVD bajakan. Joko Anwar (Modus Anomali, Kala, Janji Joni) sebagai sutradara serta Tara Basro (Pendekar Tongkat Emas, Killers, Catatan Harian Si Boy) dan Chico Jericho (Filosofi Kopi, Cahaya dari Timur: Beta Maluku) sebagai pasangan pemeran utama berhasil merepresentasikan kehidupan masyarakat Jakarta golongan kelas menengah kebawah dengan detail dan jujur apa adanya. Akting serta chemistry mereka solid, tidak terbantahkan bahwa mereka sudah melebur dengan sempurna menjadi karakter mereka masing-masing. Adegan seks antara mereka berdua di dalam film ini pun bisa dibilang sebagai salah satu adegan seks terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia.

Joko Anwar, lewat akun Twitternya, pernah menyatakan bahwa film ini adalah film berbujet medium dengan set design, properti, serta perlengkapan yang sebagian merupakan buah kebaikan beberapa pihak yang bersedia meminjamkan kepemilikannya demi terlaksananya film yang memenangkan dana Rp150 Juta dari Asian Project Market di Busan Film Festival 2014 ini. Mungkin memang koinsidental, tapi segala yang membentuk film ini mulai dari struktur narasi sampai detail artistik dan sinematografi dapat saling mendukung satu sama lain dalam kesederhanaan dan ketidakcukupan untuk membentuk keutuhan kontekstual yang memperkuat nyawa cerita. Yang paling bisa dilihat dari hal ini adalah kepingan DVD bajakan yang menghiasi dinding kamar Alek serta absensi dari color grading pada keseluruhan film yang ditambal dengan komposisi serta pencahayaan yang manis. Jenius, low-budget, dan tetap relevan dengan konteks. Hal ini membuktikan bahwa film dengan kualitas yang baik tidak harus selalu didukung dengan bujet yang mahal. Proporsionalitas dan profesionalitaslah yang terpenting.

Jika penulis boleh meromantisir, A Copy of My Mind adalah sebuah kado Valentine dari Lo-Fi Flicks untuk mereka yang hidup di bawah garis ketidakcukupan dan masih mempertahankan cita-citanya untuk merasakan kenikmatan duniawi. Konteks politik yang berasal dari keresahan Joko Anwar terhadap korupsi dan suap menyuap antar pejabat pun juga melekat erat membumbui kisah cinta dari sudut Jakarta yang terabaikan ini. Jangan khawatir akan ‘berat’ nya tema yang kamu baca di sinopsis. Ini adalah kisah cinta yang mampu dengan mudah kamu hubungkan dengan kehidupanmu di dunia nyata, jadi nikmati saja.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Surat dari Praha (2016) – Kelantangan tanpa Kematangan

Keberanian untuk mengatakan sebuah fakta yang ditentang pemerintah lewat media film yang disebarluaskan secara publik adalah suatu hal yang patut dipuji dan dihargai. Oleh karena itu, penulis akan menghargai keberanian segenap tim produksi Surat dari Praha dengan secara jujur dan lantang mengulas film ini.

Propaganda komunisme lewat penyudutan citra PKI dan penentang Orde Baru sebagai komunis anti-Tuhan dan pemberontak adalah hal yang masih mendarah daging di dalam otak masyarakat umum Indonesia. Pembantaian ratusan ribu komunis dan kudeta politik dengan kedok ‘Gestapu’ masih dianggap sebagai hal yang lumrah bagi mereka, bahkan hingga saat ini, ketika sang jenderal telah mangkat dan kepemimpinan telah berganti berkali-kali lewat pemilihan umum yang demokratis. Inilah alasan mengapa Surat dari Praha menjadi film yang penting untuk disaksikan. Ia menceritakan kisah seorang manusia biasa penentang Orde Baru bernama Jaya (diperankan oleh Tio Pakusadewo) yang tersiksa oleh kondisi politik yang memisahkannya dengan cinta sejatinya, Sulastri (diperankan oleh Widyawati), beribu-ribu mil jauhnya dari Jakarta ke Praha. Lebih jauh lagi, film ini juga menceritakan keresahan seorang anak bernama Laras (diperankan oleh Julie Estelle) yang harus hidup di dalam keluarga di mana sang ibu tidak pernah benar-benar mencintai sang ayah karena selalu terbayang-bayang akan janji manis mantan kekasih yang tak pernah mampu dipenuhi.

“Saya pernah berjanji pada ibumu dua hal. Satu, saya akan menikahinya nanti setelah saya pulang ke Indonesia. Dua, saya akan mencintai dia selama-lamanya. Namun sayang, takdir hanya mengizinkan saya untuk menepati janji yang kedua.” – Jaya.

Lewat karakterisasi Laras dan Jaya yang sangat kuat, Surat dari Praha mampu mengoptimalkan performa akting kelas dunia dari Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Ditambah lagi dengan visual storytelling yang kuat khas film-film Angga Sasongko (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi) dan pencahayaan yang ditempatkan pada momen-momen yang tepat, film ini menjadi sangat lembut dan cantik untuk disaksikan oleh mata dan hati para penontonnya. Pemanfaatan lokasi Praha dengan memperlihatkan hitam putih kedua sisinya dan juga menceritakan latar belakang sejarahnya dengan Indonesia mampu menjadikan film ini beda dengan film-film Indonesia lain yang hanya berani mengeksploitasi keindahan titik-titik wisata kota asing demi menarik mayoritas penonton Indonesia yang mereka anggap udik.

019949700_1439546066-2015-08-13_12.41.15_1

Sayang seribu sayang, banyak sekali detail-detail kecil yang kurang diperhatikan, yang mana seharusnya pada film-film dengan dinamika yang lambat dan mengalun seperti ini, detail-detail kecil tersebut penting untuk terus dipoles sampai halus dan sempurna. Beberapa ‘stunt‘ terlihat terlalu mencolok di awal sehingga penonton akan dengan mudah menyadari kehadiran mereka kembali di beberapa adegan lain. Ada juga satu adegan di mana Jaya sedang memainkan harmonika dan menyanyikan ‘Sabda Rindu’ live di atas panggung, dan gerakan tangan pemain kontra bass, pianis, dan Jaya saat bermain harmonika sangat tidak sinkron dengan audio. Bagi para penonton yang bahkan cenderung menikmati detail-detail kecil, mereka juga akan merasa sangat terganggu dengan product placement yang mengacak-acak karakter Jaya (bapak-bapak Soekarnois idealis penggemar kretek handmade kopi kesukaannya Tora Bika Creamy Latte?? Permennya Kis Lemon?? Asu!) dan membuat semua usaha make-believe dalam penceritaan film ini gagal total. Tapi ya, sudah lah. Rentang perhatian orang-orang Indonesia awam juga singkat dan rendah, kok. Yang penting, ada Rio Dewanto di  film ini yang pastinya menyegarkan mata gadis-gadis belia, biarpun karakternya, Dewa, tidak punya raison d’etre yang kuat dan relevan dalam segi cerita maupun latar belakang sejarah yang membentuknya.

Musik-musik yang mengiringi Surat dari Praha juga patut untuk menjadi perhatian. Glenn Fredly tentunya telah memproduksi rangkaian musik yang indah untuk dihadirkan ke dalam film ini, namun layaknya gula untuk secangkir kopi, apa yang seharusnya menjadi pemanis yang apik malah akan membuat mual apabila kadar yang diberikan terlalu banyak dari takaran yang seharusnya. Bisa dibilang, film ini hampir gagal menceritakan melankoli yang dialami oleh Jaya dan Laras karena senyap di dalam film ini tidak mendapatkan porsi yang seharusnya lebih banyak dari musik-musiknya. Suara vokal yang mengiringi adegan-adegan sightseeing pun malah membuatnya menjadi berisik dan tidak pantas. Terlebih, pada adegan klimaks, alih-alih memberikan mereka ruang kedap suara untuk saling pandang dan diam tanpa bicara, film ini malah menyajikan duet ‘Nyali Terakhir’ yang kurang logis oleh Jaya dan Laras. Kenap kurang logis? Karena itu lagu ciptaan Laras, dan timing vokal Jaya yang sepersekian detik lebih cepat dan fasih dibandingkan Laras akan membuat penonton bertanya-tanya “Ini orang tua hapal dari mana lagunya? Sakti kali!”.

Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa film ini penting untuk disaksikan semua orang Indonesia, film ini belum bisa dikategorikan sebagai film yang bagus karena mengabaikan detail-detail penting yang seharusnya mampu dimatangkan dan memperkuat nyawa cerita. Terakhir, bila menggunakan logika berpikir Jaya,

“Menolak Soeharto dan mencintai ibumu adalah dua hal yang berbeda!”

Maka dapat disimpulkan pula bahwa menolak Soeharto dan menyukai film ini juga adalah dua hal yang berbeda.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Secret in Their Eyes (2015) – A Pointless Tribute

Why remake a masterpiece? Pertanyaan ini belakangan sering muncul di dalam kepala penulis tatkala melihat kondisi perfilman Hollywood yang terlalu stagnan di ranah penceritaan ulang (remake, reboot, based on, sequel, prequel, spin-off). Film Argentina yang memenangkan penghargaan Best Foreign Film di Oscar 2010 ini pun mendapatkan remake yang diproduksi oleh IM Global dan disutradarai oleh Billy Ray. Sejenak terlintas harapan melihat cast list yang cukup mumpuni seperti Chiwetel Ejiofor, Nicole Kidman, dan Julia Roberts. Namun harus diakui, versi originalnya mempunyai kekuatan teknis yang sangat sulit ditandingkan meskipun narasi dan alur ceritanya memang sulit dicerna kebanyakan orang.

Kenyataannya tidak jauh dari dugaan. Dengan kualitas kerja kamera dan editing yang tidak begitu istimewa, akting prima dari ketiga aktor kelas A tersebut bahkan tidak mampu menjadikan Secret in Their Eyes menjadi sebuah remake yang mampu mengungguli versi aslinya. Film ini hanya mampu menjadi film yang emotionally and thoughtfully provoking bagi para penonton Amerika yang malas membaca subtitel dan belajar kebudayaan asing. Penyesuaian plot dengan budaya dan isu sosial politik serta korelasi personalnya dengan tiap karakter mampu dikemas dengan baik tanpa melakukan penggiringan opini yang tidak perlu. Belum lagi kehadiran Julia Roberts sebagai Jess, agen FBI yang juga ibu dari korban pembunuhan dan pemerkosaan mampu menciptakan pembedaan plotting yang membuat film ini tidak serta merta menjiplak aslinya. Namun ketidakistimewaan teknis membuat film ini hanya berkesan seperti sebuah episode dari Law & Order dengan cast-list tamu yang spesial. Beberapa adegan yang menjadi kekuatan yang ikonik di film originalnya seperti adegan stadium, interogasi, dan elevator tidak mampu dikemas dengan baik dan berpotensi mengecewakan mereka yang sudah pernah menonton film aslinya.

Kendati demikian, sang sutradara sepertinya tetap ingin memberi penghormatan yang pantas terhadap film yang aslinya disutradarai Juan Jose Campanella tersebut. Hal ini terlihat dari pemilihan tone warna yang serupa baik dari kamera maupun desain kostum dan set. Contohnya, ada satu adegan di mana Nicole Kidman sebagai Claire memakai formal dress warna krimson yang mencolok layaknya yang dipakai Soledad Villamil sebagai Irene di film terdahulu. Beberapa dialog penting juga dijaga dengan penerjemahan yang akurat tanpa menanggalkan emosi dari tiap kalimatnya. Namun bukannya menjadi nilai tambah, film ini malah jadi terlihat seperti sebuah B-rated fanmade bagi yang sudah pernah menonton versi originalnya.

Judul ‘Secret in Their Eyes’, seperti film terdahulunya, berangkat dari tiga hal. Pertama: cara sang pelaku melihat korban yang tertangkap kamera yang kemudian menjadi petunjuk utama sebuah penyelidikan. Kedua: cara Ray dan Claire—yang payah dalam merahasiakan perasaan mereka—dalam melihat satu sama lain. Ketiga: mata Jess yang dingin saat mendengar atau membicarakan sang pelaku yang membunuh anaknya, yang kemudian merujuk kepada sebuah akhir mengejutkan yang membuat kita mempertanyakan apakah prinsip dan moralitas yang kuat mampu menjaga manusia dari biasnya hitam putih keadilan. Film ini secara literal tidak bisa dikatakan gagal, karena ketiga hal tersebut mampu dibangun kembali dengan pendekatan yang baik, meskipun terlalu familiar. Namun remake ini menjadi pointless karena adanya penurunan kualitas teknis dari film sebelumnya. Seperti layaknya remake-remake lain yang Hollywood buat di tahun ini, entah dengan alasan apa mereka buang-buang uang.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Bridge of Spies (2015) – Every Person Matters

Ada alasan yang cukup valid mengapa Steven Spielberg menjadi salah satu figur yang paling penting di dalam sejarah pembuatan film. Bukan hanya karena dia yang merancang Jaws, Indiana Jones, dan Jurassic Park yang telah menghiasi masa kecil banyak orang dan mengubah warna film Blockbuster Hollywood menjadi seperti sekarang, bukan. Spielberg menjadi legenda perfilman dunia karena di samping film-film yang telah disebutkan tadi, ia juga telah membuka jendela hati penontonnya dan menggambarkan sebuah kehidupan manusia dan fungsinya dalam sebuah tatanan sosial lewat gaya naratifnya yang merangkul dengan keteguhan hati tokoh utamanya yang cenderung lugu, awam, namun unik dan membawa perubahan tanpa terkesan menceramahi di film-film lainnya. Lewat film terbarunya Bridge of Spies yang diangkat dari kisah nyata ini, ia kembali berbicara tentang hal yang sangat penting: Nasionalisme vs HAM.

Ada suatu stereotipe yang digunakan sebagai formula narasi dalam setiap film spy action-thriller bahwa orang-orang yang mengabdi di bidang intelijen akan dihapus identitas kenegaraannya dan dicabut Hak Asasi Manusianya sebelum menjalankan satu tugas penting demi keamanan nasional. Mereka bukan hanya tidak akan diakui oleh negaranya, namun juga diwajibkan untuk bunuh diri jika mereka gagal dalam tugas. Demi keamanan nasional. Tentunya, dengan gaya narasi yang berfokus pada super-heroisme sang protagonis dalam menghadapi ancaman demi ancaman yang menantang dari sang antagonis, kita akan dibuat lupa terhadap betapa manusiawinya mereka. Betapa dekatnya mereka dengan kita. Bridge of Spies menantang stereotipe ini dengan menjadi tesis tentang kemanusiaan di dalam patriotisme intelijen. Lewat film yang ditulis oleh Matt Charman & Coen Brothers ini, kemanusiaan para petugas intelijen tersebut ditunjukkan dengan sangat halus. Layaknya di Tinker Tailor Soldier Spy, petugas intelijen digambarkan secara realistis sebagai pemberi, penerima, dan penerjemah informasi penting tanpa harus melakukan aksi-aksi bela diri, penembakan, atau praktik misoginis dengan menaklukkan wanita-wanita dengan status penting seperti anak presiden atau kepala institusi. Loh, jadi apa yang dilakukan mereka untuk menghabiskan waktu? Melukis, membaca buku, atau mengukir. Sesederhana itu, sesendiri itu.

Film ini dibuka dengan sebuah shot perspektif yang memperlihatkan seorang tua yang sedang melukis dirinya sendiri dengan kanvas di sebelah kanan dan cermin di sebelah kiri. Badan orang tua tersebut membelakangi kita sehingga kita figur yang bisa kita tangkap dari orang tua itu hanyalah refleksi natural dari cermin dan hasil interpretasi orang tua tersebut terhadap dirinya sendiri yang juga ia tangkap lewat cermin dan ia manifestasikan lewat lukisan. Shot pembukaan ini secara mengagumkan mampu menggambarkan filosofi penceritaan film ini, di mana cermin adalah sumber cerita yang filmmaker tangkap dari berbagai macam sumber sejarah dan di mana lukisan adalah film yang berhasil filmmaker buat. Kebenaran sejati ada di tengah, tidak bersembunyi, hanya tidak mampu kita lihat dikarenakan keterbatasan yang kita punya. Meskipun begitu, ia menjembatani di antara keduanya, yang merupakan konsep yang juga merupakan judul dari film ini, Bridge of Spies.

Shot tersebut hanyalah satu dari sekian banyak simbolisme yang secara halus dan teratur Spielberg terapkan di dalam film yang berdurasi 2 jam 15 menit ini. Kombinasi kekuatan pemilihan komposisi dan warna dari Janusz Kaminski sebagai DoP dan Michael Kahn sebagai editor serta skoring yang minimalis dari Thomas Newman—yang mana ketiganya telah lama bekerja dengan Spielberg sejak Schindler’s List dan The Lost World: Jurassic Park—mampu menciptakan efektifitas narasi dan membangun skrip yang ditulis oleh Coen Brothers & Matt Charman menjadi tidak hanya padat oleh semantik, namun juga mampu menimbulkan sebuah ketegangan yang membuat penonton awam bahkan mampu menerima absensi dari aksi bela diri maupun baku tembak dalam film yang bagaimana pun masih bisa disebut spy-thriller ini. Alur film—yang awalnya gue kira non-linear—pun ternyata adalah simbolisme dari sebuah konsep ‘jembatan’ yang sangat halus. Di awal Act 1, kita akan melihat Rudolph Abel (diperankan oleh Mark Rylance), sang mata-mata Soviet, dari sudut pandangnya sendiri yang kemudian di pertengahan Act 1 dilanjutkan dengan sudut pandang Jim Donovan (diperankan oleh Tom Hanks) sebagai pengacara dengan integritas profesional tinggi yang ditugaskan untuk membela Abel. Begitupun di awal Act 2, kita melihat Francis Gary Powers (diperankan oleh Austin Stowell) dari sudut pandangnya sendiri sebagai pilot militer yang direkrut menjadi mata-mata tanpa mempunyai pengalaman sebelumnya, yang kemudian dilanjutkan kembali dengan sudut pandang Jim Donovan yang melihat peluang sempurna untuk menjembatani kesepakatan yang menguntungkan dua pihak. Act 3 pun berfungsi sebagaimana seharusnya sebuah jembatan yang telah dibangun dengan penuh pertimbangan dan berlandaskan pondasi yang kokoh.

Propaganda nasionalisme dan patriotisme yang sistematis memang akan menjadikan targetnya egois dan buta, melihat setiap manusia tidak sama rata. Seperti halnya propaganda anti-komunisme pada era Perang Dingin yang bahkan masih berdampak pada sebagian negara-negara penganut demokrasi liberal. Bahkan Indonesia yang Pancasila-is pun masih tenggelam dalam propaganda bahwa orang komunis itu tidak bertuhan dan pantas dihukum mati. Bridge of Spies tidak berceramah tentang ketuhanan, hitam putih moralitas, ataupun kemanusiaan. Lewat karakter-karakter Jim, Abel, Francis, serta agen CIA dan KGB lainnya, film ini hanya menceritakan manusia-manusia yang menjalankan tugasnya dan mengerti resiko apa yang harus mereka hadapi. Kendati memperlihatkan dua sisi koin lewat penjelasan paham liberalis-komunis, Bridge of Spies lebih memilih untuk melakukannya dengan menunjukkan kontras perspektif masyarakat sipil dan pemerintahan, yang jika mengacu pada filosofi politik adalah ‘dua jenis binatang yang berbeda’. Tidak melulu serius, film ini juga mempunyai lelucon ringan yang dieksekusi dengan familiar khas film-film Spielberg sebelumnya. Biarpun sebenarnya tidak sebegitu ringan untuk ditonton setelah bekerja seharian penuh, film Spielberg yang satu ini tidak boleh dilewatkan oleh para pecinta film festival karena dipastikan akan menjadi kandidat kuat pada Oscar 2016 nanti.

Distopiana’s Rating: 4.5 out of 5.

The Martian (2015) – Mars is Fun!

Saat pertama kali melihat trailernya, ada beberapa hal dalam film The Martian yang membuat penulis berpikir bahwa film ini mirip dengan Interstellar yang dirilis pada tahun 2014 kemarin. Pertama: film ini bercerita tentang astronot di luar angkasa, sama seperti Interstellar. Kedua: ada Matt Damon dan Jessica Chastain, seperti di Interstellar. Ketiga: Di Interstellar, Matt Damon menjadi seorang astronot yang terdampar di Planet Edmund, dan di The Martian, Matt Damon menjadi seorang astronot yang terdampar di Planet Mars sendirian. Awalnya gue ragu menonton film ini karena selain sudah terlalu bosan dengan film-film bertema space exploration, layaknya M. Night Shyamalan, Ridley Scott seperti sedang mengalami paceklik.

Premisnya sedehana. Mark Watney (diperankan oleh Matt Damon) terdampar di Planet Mars karena sebuah kecelakaan badai pasir yang menyebabkan semua krunya terpaksa harus menganggapnya telah mati dan meninggalkannya. Watney, yang kemudian tertinggal sendirian di sebuah planet tanpa kehidupan, harus memikirkan segala cara untuk bertahan hidup dan menjalin jaringan komunikasi dengan NASA di Bumi agar ia bisa dijemput dan pulang kembali.

Dugaan gue tentang kemiripan film ini dengan Interstellar ternyata salah besar. Film ini tidak mengandalkan twist serta drama yang sentimental untuk bercerita tentang sebuah kesendirian yang dialami seorang manusia di sebuah planet yang (sebelumnya) diduga tanpa air. Film ini terlalu gampang ditebak. Bahkan, tidak ada yang begitu istimewa dari efek visualnya, karena memang secara realistis, di Mars hanya ada tanah kering dan badai pasir—setidaknya sebelum penemuan air oleh NASA baru-baru ini, atau apalah itu yang belum menjadi air. Satu hal yang membuat film ini menarik adalah bagaimana sebuah film dengan premis yang begitu suram dapat disajikan dengan sangat humoris dan menyenangkan. Alih-alih memberi eksposisi dramatis pada kondisi Watney yang semakin hari semakin memburuk, Ridley Scott lebih memilih untuk memfokuskan pada bagaimana Watney selalu mencoba menghibur diri dengan bercocok tanam di ‘rumah kaca’ buatannya dan mendengarkan lagu-lagu disko jelek milik Komandan Lewis (diperankan oleh Jessica Chastain) demi mengusir kesepian yang ia alami. Scott mencoba untuk sesedikit mungkin melakukan eksploitasi emosional dan memberikan aura positif pada film yang berdurasi 2 jam 12 menit ini dan memfokuskan tensi pada sains dan teknologi, bukan penderitaan dan malapetaka. Sepengetahuan penulis, film space travel memang belum pernah ada yang seoptimis ini, dan itu merupakan hal yang sangat baik untuk penontonnya. Terlebih untuk NASA, Amerika Serikat, dan Cina, yang di dalam film ini memberikan bantuan pada NASA untuk menyelamatkan Watney.

Mungkin film ini tidak lebih mengagumkan daripada Interstellar, namun misi Christopher Nolan untuk menyemangati manusia-manusia di Bumi dalam melakukan perjalanan luar angkasa mampu disampaikan dengan lebih baik oleh Ridley Scott di The Martian. Beberapa orang berpendapat bahwa Gravity dan Interstellar telah membuat anak-anak takut untuk menjadi astronot karena mereka tidak ingin mati melayang-layang di angkasa luar ataupun pulang dengan melihat anaknya di masa depan menjadi jauh lebih tua darinya. Dengan harapan dan optimisme dari The Martian, cita-cita seorang anak untuk berpetualang ke antariksa akan timbul kembali dan semakin banyak dari mereka yang akan termotivasi untuk menghasilkan penemuan-penemuan yang bisa membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

7 Film Terbaik untuk Pria-Pria Pecundang Asmara

Sering merasa putus asa terhadap diri kita karena terlalu lama sendiri dan tidak pernah bisa menjalin hubungan asmara yang baik dengan siapapun? Tenang, itu semua manusiawi. Penulis juga pernah mengalaminya. Jangan merasa terlalu cepat rendah diri, karena hal itu tidak selalu berarti bahwa kita adalah pribadi yang tidak pantas untuk dicintai. Bisa saja itu karena kita terlalu idealis memberikan kriteria pasangan hidup atau kita berada di dalam lingkungan sosial dengan iklim gersang yang tidak mampu menyuburkan bibit-bibit pasangan hidup yang ideal bagi kita. Bagian yang terpenting adalah: kita tidak sendirian, dan seburuk-buruknya kita menilai kehidupan cinta kita, masih ada kisah yang menarik untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan kita ke depannya. Tidak percaya? Berikut ini adalah daftar film-film terbaik bagi kita, pria-pria pecundang asmara, untuk disaksikan agar kita mampu merenungkan dengan damai tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan tanpa harus membanding-bandingkan keadaan kita dengan pria-pria beruntung di sekitar kita.

  1. Annie Hall (1977) directed by Woody Allen

Film yang menurut Roger Ebert menandai berakhirnya era “Hollywood Golden Age” ini bercerita tentang Alvy Singer (diperankan oleh Woody Allen) seorang stand-up comic melankolis yang memiliki tingkatan idealisme yang terlampau tinggi. Sayangnya, hal itu bukannya membuat hidupnya menjadi lebih bertaraf, namun malah jadi merepotkan dirinya sendiri, terutama dalam menjalani hubungannya dengan seorang gadis bernama Annie Hall (diperankan oleh Diane Keaton). Semua—bahkan hal-hal kecil pun—akan dikomentari oleh Alvy dan tak jarang membuat mentalnya depresi. Begitulah Alvy, seorang hardcore nerd nihilis yang bahkan kritis terhadap ‘kode’ dari wanita yang menyukainya. Tonton saja percakapan saat Annie dan Alvy bertemu pertama kali di lapangan tenis, dan kalian akan tahu sendiri.

  1. Ruby Sparks (2012) directed by Jonathan Dayton and Valerie Faris

Pernah membayangkan bagaimana jika seandainya gadis imajiner yang sering kalian impikan tiba-tiba hidup dan secara instan menjadi kekasih hati kalian? Hanya lelaki beruntung seperti Calvin (diperankan oleh Paul Dano) yang pernah secara ajaib mengalaminya. Seorang penulis novel itu suatu pagi dikejutkan oleh kemunculan Ruby (diperankan oleh Zoe Kazan), seorang gadis imajiner dengan kecantikan surgawi yang dijadikan inspirasi oleh Calvin untuk sebuah karakter di novel yang sedang ia tulis. Ruby hidup ke dunia nyata sebagai kekasih Calvin, dan ini bukanlah penipuan atau semacamnya karena ternyata Calvin bisa mengendalikan Ruby hanya dengan menuliskan karakternya di mesin tik sesuai yang ia inginkan. Calvin memiliki kontrol sempurna atas Ruby, sebuah keleluasaan yang diimpikan pria manapun di Bumi. Kehidupan asmara Calvin, sang introvert pecundang asmara, yang bagaikan mimpi indah pada akhirnya berubah menjadi mimpi buruk karena ironisnya Calvin menyadari bahwa ia tidak memiliki kontrol sempurna atas hubungan dan rasa cintanya dengan Ruby. Cerita dan naskah film ini ditulis oleh Zoe Kazan sendiri, dan mungkin itu sebabnya di samping berbicara tentang keseimbangan kuasa di dalam sebuah hubungan, film ini juga memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang tinggi.

  1. Her (2013) directed by Spike Jonze

Sutradara dari film Being John Malkovich ini membuat sebuah film yang membahas tentang interdependensi dari cinta, intelijensi buatan, dan filsafat keberadaan. Diceritakan Theodore (diperankan oleh Joaquin Phoenix) adalah seorang pemurung dan penyendiri yang bekerja sebagai penulis surat-surat cinta bagi mereka yang tidak mampu atau tidak mau menulis surat mereka sendiri. Setelah perceraiannya dengan Catherine (diperankan oleh Rooney Mara), Theodore membeli sebuah sistem operasi dengan intelijensi buatan yang diberi nama Samantha (disuarai oleh Scarlett Johannson). Pembicaraan mereka yang intim mengenai hal-hal kecil serta keberadaan Samantha yang selalu setia menemani kesendirian Theodore membuat mereka perlahan-lahan jatuh cinta pada satu sama lain. Ada sebuah ulasan mendalam dan filosofis yang ditulis oleh Mas Dony Iswara di blognya tentang Her yang penting untuk kalian—para pecundang asmara—baca dan bisa dilihat di tautan berikut ini.

  1. 500 Days of Summer (2010) directed by Marc Webb

Gue asumsikan semua orang sudah pernah menonton film ini, maka gue tidak perlu menceritakan ulang betapa Summer (diperankan oleh Zooey Deschanel) dengan kecantikan fisik dan perangainya yang tidak masuk akal tersebut berhasil mengobrak-abrik kehidupan Tom (diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt) dalam waktu 500 hari. Inilah yang terjadi, wahai pria-pria pecundang asmara, jika kita berharap terlalu banyak dalam suatu hubungan yang tidak jelas dan bukan malah menikmatinya seakan-akan hal tersebut bisa berakhir kapan saja. Tidak semua wanita mengharapkan komitmen, dan jika memang komitmen yang kita cari sejak awal, maka jangan coba-coba bermain api dengan ketidakjelasan, secantik apapun rupanya. Bersenang-senanglah. Hidup cuma sekali, kawan.

  1. In Search of A Midnight Kiss (2007) directed by Alex Holdridge

Tidak ada pecundang asmara yang lebih pecundang dari seorang Wilson (diperankan oleh Scott McNairy), yang pada malam Tahun Baru tertangkap basah sedang masturbasi dengan foto seorang bintang porno yang wajahnya di-photoshop dengan wajah Min (diperankan oleh Katy Luong), kekasih dari sahabatnya sendiri, Jacob (diperankan oleh Brian McGuire). Kasihan dengan Wilson, Jacob menyarankan sahabatnya tersebut untuk mencari teman kencan menghabiskan malam Tahun Baru lewat Craigslist. Secara mengejutkan, Wilson yang menulis di kolom deskripsinya ‘misanthrope looking for misanthropee’ menerima panggilan ‘audisi’ dari seorang gadis bernama Vivian (diperankan oleh Sara Simmonds) untuk menjadi teman kencannya di malam Tahun Baru ini. Film dengan pengambilan gambar serta penggunaan warna monochrome yang terkesan indie-looking ini agaknya seperti ‘Before Midnight’ yang ceritanya berpusat pada percakapan menarik antar karakter utama pria dan wanita (dalam film ini Wilson dan Vivian) serta apa yang mereka alami dari sore hari hingga tengah malam pada perayaan Tahun Baru. Perbedaannya hanya terdapat pada karakter Vivian dan Wilson yang jauh lebih quirky dan lebih manusiawi.

  1. Punch-Drunk Love (2002) directed by Paul Thomas Anderson

Sebelum menonton film ini, penulis sedikit meremehkan kemampuan akting Adam Sandler yang tidak pernah memiliki peran yang cukup menantang di tiap filmnya. Namun seperti layaknya Robin Williams dan Jim Carrey (yang akan penulis bahas di nomor berikutnya), komedian ini mencoba untuk sedikit ‘melawan arus’ dengan menjadi Barry Egan, seorang eksekutif di sebuah perusahaan furnitur toilet yang melankolis, introvert, kesepian, namun memiliki kemauan untuk melawan yang cenderung destruktif. Barry bahkan membenci dirinya sendiri yang memiliki kepribadian pecundang dan pasif sehingga ia sering melampiaskannya dengan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Di tengah kesepiannya yang menyakitkan, ia bertemu dengan Lena Leonard (diperankan oleh Emily Watson) yang—setelah kencan pertamanya di sebuah restoran—memutuskan untuk melakukan business trip ke Hawaii. Didorong keinginan untuk kabur dari para tukang pukul yang mengejarnya karena penipuan kartu kredit yang ia lakukan pada sebuah agensi ‘phone sex’, Barry memutuskan untuk menyusul Lena ke Hawaii dengan membeli puding cokelat Healthy Choice sebanyak-banyaknya demi sebuah tiket pesawat gratis ke Honolulu. Membayangkan betapa menyedihkannya Barry Egan di film ini kurang lebih sama seperti berkaca pada cermin retak, ya, wahai pria-pria kesepian?

  1. Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) directed by Michel Gondry

Menjadi lupa dipandang sebagai hal yang sangat menyenangkan bagi manusia-manusia yang dirundung patah hati, namun bagaimana bila itu semua masih tidak cukup? Inilah yang Michel Gondry dan Charlie Kaufman coba ceritakan di Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Joel Barish (diperankan oleh Jim Carrey) mendapati mantan kekasihnya, Clementine (diperankan oleh Kate Winslet), telah menghapus segala ingatan tentang dirinya lewat sebuah prosedur eksperimental yang dilakukan oleh Dr. Mierzwiak (diperankan oleh Tom Wilkinson). Lagi-lagi, penyebab putusnya hubungan mereka ditengarai oleh sifat Joel yang introvert dan posesif terhadap Clementine. Tidak mau kalah, Joel pun merelakan dirinya sebagai bahan eksperimen berikutnya demi menghapus segala ingatannya tentang Clementine. Di tengah proses penghapusan, Joel, di dalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba memutuskan untuk berontak dan mengamankan Clementine dari segala sudut memori yang telah terhapus dan melakukan perjalanan waktu demi membawa kekasihnya kembali merasakan cinta yang dulu pernah mereka rasakan sebelumnya. Film ini menjadi istimewa karena eksplorasi narasi dan visual yang begitu imajinatif, scoring yang indah dari Jon Brion, serta peran Jim Carrey sebagai sesosok pria patah hati yang pemurung, nihilis, dan melankolis. Film ini membawa konsep ‘pecundang asmara’ ke ranah yang lebih umum, yaitu pada ketidakberdayaan seseorang untuk ‘move-on’ dari cinta yang telah karam.

her-movie-still-3

Setelah menonton film-film yang ada di dalam daftar ini, kita tidak hanya akan merenungkan kembali apa yang harus kita benahi dalam diri kita, namun juga mendapati bahwa sebenarnya pria pecundang asmara adalah sosok paling romantis yang sayangnya tidak mampu dipahami oleh gadis-gadis awam. Coba kita pikirkan kembali, bukankah itu sebenarnya hal yang baik? Proses seleksi alam akan terjadi dengan sendirinya sehingga apa yang kita dapati merupakan hal yang memang benar-benar terbaik dan cocok untuk kita. Jadi, mengapa harus khawatir, wahai pria-pria pecundang asmara? Cintailah diri kita sendiri dan berbahagialah dengan kesendirian ini, niscaya ketika saatnya gadis itu datang, akan banyak kebahagiaan yang dapat kita bagi bersamanya.

Honorable Mention: Breakfast at Tiffany’s (1961), Napoleon Dynamite (2004), Taxi Driver (1976), Nightcrawler (2014).

Beginners (2010) – The History of Sadness

Secara umum dalam film, kesedihan memang berkaitan dengan tangis dan rasa sakit yang disajikan dengan skoring menyayat, narasi dan dialog yang melodramatis, serta akting yang meledak-ledak di tiap emosi yang ditampilkan sehingga semua karakternya terkesan seperti bipolar. Tidak banyak film-film unik yang menceritakan kesedihan dan kesendirian dengan cara yang cantik dan tidak berlebihan, namun penulis menemukan Beginners yang memenuhi kriteria untuk bisa penulis ulas.


Oliver (diperankan oleh Ewan McGregor) ditinggal mati oleh ibunya, Georgia (diperankan oleh Mary Page Keller) karena kanker. Enam bulan setelahnya, ayahnya, Hal (diperankan oleh Christopher Plummer) membuat pengakuan pada Oliver bahwa Hal sebenarnya gay. Didorong keinginan untuk menjadi dirinya sendiri seutuhnya, Hal bergabung dalam sebuah komunitas gay dan menjalin hubungan dengan Andy (diperankan oleh Goran Visnjic) sampai empat tahun kemudian Hal meninggal dan Oliver sendirian. Pada suatu hari, Oliver diundang oleh rekan kerjanya di sebuah agensi desain grafis untuk datang ke sebuah pesta kecil. Di pesta inilah ia bertemu dengan seorang gadis bernama Anna (diperankan oleh Melanie Laurent) yang akan menemaninya bersama-sama di dalam kesendiriannya.


Tiga hal yang unik di dalam film ini adalah: penyajian, alur cerita, dan performa akting. Ketimbang memaparkan kesendirian Oliver lewat ekspresi akting yang berlebihan, sutradara dan penulis Mike Mills lebih memilih untuk melakukan eksplorasi lewat medium fotografi, hand-drawing, dan street-graffiti (atau vandalisme) yang secara tematik Oliver sebut sebagai The History of Sadness (Sejarah Kesedihan). Untuk memanjakan penontonnya, film ini memberikan tone warna yang lembut serta background music yang membuat kita ikut menikmati kemurungan yang Oliver, Anna, dan Hal rasakan. Akting mereka pun di sini cukup minimalis untuk standar film drama. Dengan alur yang non-linear tanpa terkesan memaksa, film ini berhasil menyajikan kisah Oliver sebelum kesendirian dan setelah kedatangan Anna dalam hidupnya.


Selain berbicara tentang kesendirian dan kemurungan, film yang dibuat berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan ayah kandung sang sutradara sendiri ini juga berbicara tentang cinta secara luas dan sederhana. Kita akan diajak menelusuri kehidupan Oliver dan merasakan kehangatan cinta yang ia dapatkan sejak kecil, dimulai dari ibunya, kemudian dari ayahnya, lalu dari anjingnya Arthur, dan kemudian dari Anna. Di balik kemurungannya, Oliver adalah sosok anak yang penuh kasih sayang. Ia menemani ibunya pergi ke berbagai pameran seni dan bermain-main agar ibunya dapat melupakan sikap ayahnya yang dingin terhadapnya. Ia mendukung penuh keputusan ayahnya untuk menjadi seorang gay yang aktif dan terus berada di sampingnya sampai kematiannya. Ia pun membawa Arthur kemanapun ia pergi setelah itu, termasuk ke pesta kecil di mana ia bertemu Anna yang kemudian menjadi pendamping hidupnya yang setia. Bagi yang pernah menonton Lilting mungkin akan merasa sedikit familiar dengan premis dan kehangatan yang ditawarkan. Cinta tidak terbatas pada orientasi seksual, dan apa yang paling penting dari cinta adalah pengabdian dan ketulusan.

Beginners adalah jenis film yang bisa membuatmu tetap fokus menikmati cerita dari awal sampai akhir tanpa harus mengandalkan intensitas dramatik yang fluktuatif. Semuanya stagnan, dari awal sampai akhir. Bahkan adegan perkelahian Oliver dan Anna pun dibuat seminimalis mungkin sehingga terkesan tidak seperti berkelahi. Lagipula, biarpun film ini bermain di ranah kesedihan dan kesendirian, pada intinya Beginners juga membahas tentang cinta dengan kesimpulan yang begitu sederhana. You give love, and you’ll get love. Sesederhana itu, bukan?

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

6 Film dengan Teka-Teki yang Tak Pernah Terjawab

Kita pernah dibuat terkagum-kagum oleh bagaimana Christopher Nolan mampu menyelipkan petunjuk-petunjuk kecil di balik misteri ending film Inception. Ya, sebagaimana layaknya sulap dan teori konspirasi bekerja, manusia adalah makhluk yang senang dibuat penasaran setengah mati oleh hal-hal yang ada di luar batas kemampuan bernalar mereka. Bahkan lingkungan pergaulan kita pun dengan sembarangan menciptakan sendiri sebuah istilah untuk film-film yang penuh teka-teki seperti Inception, yaitu “film mikir”.

Tidak seperti Inception, ada beberapa film dengan teka-teki yang ditinggalkan oleh sutradara dan penulisnya tanpa ada satu jawaban pasti dan hanya bisa diinterpretasikan oleh penonton dan kritikus film dengan berbagai macam cara. Meminjam istilah pergaulan kita, film-film yang bakal gue diskusikan di daftar ini bisa dibilang adalah “film-film mikir tingkat dewa”. Bagi kalian yang senang melatih kemampuan berpikir kalian dengan misteri-misteri yang rumit dan membingungkan, ini akan menjadi daftar film yang bisa membuat kalian merasa tertantang.

1. Eyes Wide Shut (1999) directed by Stanley Kubrick

Tentang Apa?: Setelah sang istri yang bernama Alice (diperankan oleh Nicole Kidman) mengakui bahwa ia pernah berfantasi seksual dengan seorang pria yang pernah ia temui, seorang dokter bernama Bill (diperankan oleh Tom Cruise) secara tidak sengaja mendapati dirinya terjebak di dalam lingkaran pengkultusan seksualitas dan perzinahan.

Apa Yang Membingungkan?: Beberapa penggemar teori konspirasi mempunyai dugaan kuat bahwa sang sutradara ingin mengungkap tirai dari organisasi rahasia umum yang beranggotakan para elit dan pemegang kekuasaan penting (Illuminati, Freemason dll). Segala detail yang ada di dalam film ini sangat merujuk ke arah sana, mulai dari dekorasi mansion Ziegler yang dipenuhi simbol-simbol politeisme Mesir kuno hingga penamaan karakter yang seakan menjadikan film ini sebagai alegori dari sebuah konspirasi besar di akhir zaman. Belum lagi ditambah fakta bahwa sang sutradara, Stanley Kubrik, meninggal tepat lima hari setelah ia menyerahkan potongan terakhir dari film ini kepada distributor film. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa alur cerita film yang membingungkan ini seperti memberi kesan bahwa apa yang dialami Bill hanyalah sebuah manifestasi psikologi terhadap obsesinya akan eksplorasi dan kepuasan seksual. Sampai sekarang, belum ada teori yang memuaskan tentang misteri dari film yang sangat gamblang menggambarkan sebuah kegiatan masquerade orgy ini, namun film ini tetap menjadi sangat menarik untuk disimak karena, yah, Tom Cruise dan Nicole Kidman.

2. Primer (2004) directed by Shane Carruth

Tentang Apa?: Sekelompok pemuda yang bereksperimen untuk membuat sebuah mesin waktu sederhana.

Apa Yang Membingungkan?: Jika ada teman kalian yang baru menonton film ini sekali dan bilang bahwa dia mengerti tentang keseluruhan ceritanya, maka entah dia adalah seorang pembohong atau delusional. Akan sangat jelas bagi kalian setelah menonton lebih dari dua kali bahwa Primer bukanlah sebuah film yang bersifat naratif dan mampu dijelaskan secara mudah. Beberapa kritikus film bahkan mengibaratkan Primer seperti sebuah dokumentasi para ilmuwan gila tanpa ada eksposisi yang jelas dan kita sebagai penonton seakan-akan hanya menguping percakapan dan mengintip kejadian yang tidak kita mengerti maknanya, namun sangat menarik untuk disaksikan. Ada beberapa teori yang dibuat oleh penonton yang bisa diandalkan untuk membantu kalian memahami cerita. Film ini tidak akan memberikan kalian kepuasan sains fiksi yang dipaparkan dengan sederhana seperti teori wormhole di Interstellar, namun jelas akan membuat kalian menebak-nebak dan menonton film ini lebih dari sekali.

3. Cache (2005) directed by Michael Haneke

Tentang Apa?: Sebuah keluarga diteror oleh kiriman kaset misterius yang berisi rekaman-rekaman pengamatan yang diambil dari luar rumah mereka. Lama kelamaan, sang peneror semakin merambah ke permasalahan pribadi serta rahasia-rahasia kelam di masa lalu sang suami yang selama ini ia sembunyikan dari istrinya.

Apa Yang Membingungkan?: Film ini awalnya terlihat biasa saja dan mudah dicerna sampai pada akhirnya kita dikejutkan pada kenyataan bahwa film ini TIDAK mengungkapkan siapakah sang peneror tersebut di akhir film. Kita akan mulai menonton ulang dan membaca semua pertanda-pertanda kecil yang diberikan sang sutradara sampai akhirnya kita selesai menonton dan masih tidak mengerti. Roger Ebert, kritikus film ternama, bahkan membahas film ini lewat jurnal pribadinya. Beberapa penonton juga menyebutkan bahwa ada beberapa petunjuk kecil di tengah alur cerita dan SATU petunjuk besar di adegan terakhir film ini yang ditinggalkan oleh sang sutradara untuk kita menebak sendiri. Gue sudah mengetahui apa petunjuknya, dan gue pribadi merasa itu masih belum cukup kuat. Entah. Silahkan kalian tonton sendiri.

4. Donnie Darko (2001) directed by Richard Kelly

Tentang apa?: Seorang pemuda dengan permasalahan psikologis bernama Donnie Darko (diperankan oleh Jake Gyllenhaal) mengalami keanehan-keanehan beruntun dalam hidupnya, termasuk mesin jet pesawat yang jatuh tepat di atas atap rumahnya dan kemunculan sesosok kelinci raksasa bertopeng tengkorak yang selalu menghantuinya.

Apa Yang Membingungkan?: Mungkin tidak terhitung jumlahnya betapa banyak teori yang dibuat oleh para penonton terkait apa sebenarnya yang dialami oleh Donnie dan mengapa dia melakukan hal-hal gila di dalam film yang mengeksploitasi eksistensialisme ini. Tidak seperti Primer, film ini koheren secara naratif dan teknis, sehingga tidak membuat para penonton kesulitan untuk mengikuti film ini dari awal sampai akhir. Belum lagi keberadaan kakak beradik Jake & Maggie Gyllenhaal yang bisa membuat lelaki dan perempuan betah untuk tidak beranjak dari layar. Namun ending film yang sangat gelap dan misterius akan menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi dari awal. Website resmi film ini pun memberikan penjelasan yang cukup sederhana–walaupun nggak sederhana-sederhana amat–namun jika kalian melihat kolom komentar dan membaca teori-teori yang dikemukakan oleh penonton lain, kalian akan sadar bahwa kompleksitas detail Donnie Darko akan menjadikan film ini jauh lebih baik ditinggalkan begitu saja dengan membiarkan penonton menjelaskan sendiri maknanya.

5. Mulholland Drive (1999) directed by David Lynch

Tentang Apa?: Betty (diperankan oleh Naomi Watts), seorang gadis yang mengejar mimpinya untuk menjadi aktris Hollywood, harus menolong seorang gadis amnesia yang selamat dari kecelakaan tragis (diperankan oleh Laura Harring) untuk menemukan siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya.

Apa Yang Membingungkan?: David Lynch, The Maestro of Bizarre, membuka film ini dengan sekuens yang…yah, artistically bizarre! Sekumpulan pasangan berdansa jitterbug dengan latar belakang magenta dan kemunculan Betty serta dua orang tua bermimik absurd yang merangkulnya sambil tersenyum ke arah cahaya terik yang menyinari mereka. Lalu kemudian alur film berjalan dengan sederhana sampai pada Act 3 yang mengacaukan dugaan kita tentang apa yang sebenarnya film ini berusaha ceritakan. Beberapa film kritikus menyatakan bahwa Mulholland Drive adalah sebuah teka-teki yang menyampaikan pesan penting tentang kondisi industri film Hollywood dan para pekerja serta aktrisnya yang sedang dirundung kekacauan pada masa itu. Lagipula, bukan teka-teki namanya kalau tidak ada petunjuknya. Sebelum dan sesudah film ini rilis, David Lynch menyatakan bahwa dia tidak akan mengungkap apa makna sebenarnya dari Mulholland Drive bagi sang sutradara sendiri. Namun layaknya Donnie Darko, beberapa penonton–yang sungguh berdedikasi tinggi–mempublikasikan petunjuk-petunjuk di website resmi film ini yang bisa kita gunakan untuk memecahkan misteri di balik keanehan Mulholland Drive.

6. Memento (2000) directed by Christopher Nolan

Tentang Apa?: Leonard Shelby (diperankan oleh Guy Pearce), seorang pria yang menderita short-term memory loss, harus mencari siapa pembunuh istrinya dengan melakukan investigasi independen dan mentato setiap petunjuk yang ia temukan di tubuhnya agar ia tak pernah melupakannya.

Apa Yang Membingungkan?: Sebelum Inception dan The Dark Knight, Christopher Nolan telah lebih dahulu membuat Memento, sebuah thriller masterpiece dengan struktur cerita yang expensively unconventional dan ending yang membuat kepala kita seakan meledak-ledak dan butuh jawaban pasti tentang siapa yang membunuh istri Leonard. Kita dibuat merasa konyol oleh Christopher Nolan yang telah memasukkan kita ke dalam kepala Leonard dengan mempertanyakan di akhir film apakah Leonard benar-benar dapat dipercaya karena Teddy (diperankan oleh Joe Pantoliano) yang kita curigai dari awal pada akhirnya menjadi satu-satunya tokoh yang paling mampu kita percayai. Apakah Leonard yang ternyata membunuh istrinya sendiri? Apakah ada permainan manipulasi di antara Leonard, Teddy, serta seorang bartender bernama Natalie (diperankan oleh Carrie-Anne Moss) yang memiliki femme fatale gestures? Tidak ada jawaban yang tepat tentang hal ini dan tidak seperti Inception, Nolan tidak memberikan pernyataan apapun terkait hal ini.

Sebagai penutup, perlu gue peringatkan satu hal. Tidak direkomendasikan bagi kalian untuk membuka tautan yang gue masukkan di artikel ini terkait petunjuk dan penjelasan untuk setiap film, kecuali kalian sudah menonton film-film tersebut lebih dari dua kali dan masih benar-benar tidak mengerti. Tantangan itu mahal, namun lebih mahal lagi harga yang harus kita bayar jika kita menjadi orang yang gampang menyerah terhadap tantangan. Jadi selamat menonton dan selamat bersenang-senang!

The Past (2013) – Lari dari Masa Lalu

Asghar Farhadi memang sudah terbukti kelihaiannya dalam meracik film-film drama realis. Setelah A Separation mendapatkan penghargaan di Oscar 2011 sebagai Best Foreign Film dan juga dinominasikan sebagai Best Original Screenplay (that’s quite great for an Iranian film), sutradara asal Iran ini meraih nominasi Golden Globe 2014 dan Palme d’Or di Cannes Film Festival 2014 dengan kembali berbicara tentang perceraian di film berikutnya yang ia produksi bersama tiga production company asal Perancis (Memento Films Production, France 3 Cinema, BIM Distribuzione) berjudul The Past.

Film yang mengambil lokasi di Perancis ini menceritakan tentang seorang pria bernama Ahmed (Ali Mosaffa) yang tiba-tiba harus mengetahui kenyataan pahit di balik perceraiannya saat ia bertemu dengan anak sulung perempuannya, Lucie (Pauline Burlet) sekembalinya ia ke Perancis untuk mengurus persidangan cerainya dengan mantan istrinya, Marie (Berenice Bejo). Kali ini Asghar mengeksplorasi kompleksitas sebuah perceraian di negara yang berpaham liberal, dan tidak seperti film sebelumnya, ia memasukkan unsur orang ketiga bernama Samir (Tahar Rahim) dalam film ini. Konflik dipicu oleh Lucie yang menceritakan pada Ahmed bahwa hubungan Marie dan Samir dimulai sejak Ahmed menceraikannya, dan yang mengejutkan adalah saat itu Samir masih beristri. Cinta segitiga ini pada akhirnya meluap tatkala sang istri dari Samir mengalami koma karena mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Marie dan mencoba bunuh diri.

Masih terdengar seperti soap opera atau melodrama biasa? Oke, akan ada beberapa subtle twist yang akan kalian temui dan ruang lingkup konflik yang semakin meluas tiap kalian menghabiskan menit demi menit yang cukup melelahkan dengan tempo film yang juga cukup lambat dan durasi yang lumayan panjang (130 menit), dan kalian sebaiknya tidak mengetahuinya sampai kalian menontonnya sendiri dan terkejut akan betapa hebatnya Asghar Farhadi menggambarkan situasi perceraian yang ditengarai oleh manusia-manusia yang lemah dalam menghadapi konsekuensi dari apa yang telah mereka perbuat di masa lalu. Seperti judulnya, kalian akan cepat merasa akrab dengan tiap karakter yang lemah dan naif di film ini. Mereka sama-sama punya mimpi untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik, namun mereka memilih untuk lari dari persoalan-persoalan di masa lampau yang seharusnya malah mereka hadapi. Layaknya kita—atau mungkin beberapa orang yang sering kita temui dalam kehidupan kita—mereka pikir mereka bisa lari, padahal mereka tahu mereka lemah. Uniknya, biarpun fokus permasalahan ini terjadi di masa lalu—yang kemudian diungkapkan satu persatu—pemaparan masalah hanya menggunakan dialog antar karakter dan didukung oleh akting yang luar biasa dari mereka. Tidak akan ada flashback sequence dan alur film ini linear dari awal sampai akhir.

Ciri khas dari sang maestro Asghar Farhadi adalah setiap film yang ia buat seperti sebuah studi kasus tentang culture versus human. Ia selalu menantang setiap paham kebudayaan dalam pengaruh mereka terhadap konflik sosial yang tercipta karena sifat-sifat alamiah manusia. Pada A Separation, ia menantang paham konservatif dalam terhambatnya penyelesaian masalah perceraian yang terjadi karena perbedaan kepentingan yang manusiawi antar masing-masing pihak. Kini, dia menantang paham liberal dalam memfasilitasi orang-orang bodoh untuk menghancurkan keluarga mereka sendiri. Kelakuan Marie yang susah move-on dan memilih mencari pelampiasan, Samir yang jenuh dan lelah akan kehidupan rumah tangganya, Ahmed yang idealis namun terlalu toleran, dan Lucie—si darah muda—yang menyulut ledakan konflik antar tokoh karena melakukan hal yang ia anggap benar dengan cara yang salah dapat digambarkan sebagai the worst of liberal civilization’s product. Tentu saja, bukan berarti paham konservatif lebih baik dari liberal, karena Asghar sudah membahasnya di A Separation. Setiap pemikiran dan paham, sehebat apapun itu, pasti memiliki kekurangan, dan hal ini yang selalu Asghar Farhadi coba untuk eksploitasi dan tantang di tiap filmnya.

Meskipun membahas tema yang agak tabu, namun The Past adalah film yang cocok untuk ditonton bersama keluarga. Film ini bebas dari segala bentuk adegan dewasa. Meskipun seperti yang sudah gue bilang bahwa temponya lambat dan durasinya lumayan lama, film ini memiliki tone yang bersahabat. Dengan pendekatan yang family-oriented, The Past akan membuat kita merenungi seberapa pentingnya kita harus menjaga keluarga kita dengan menyikapi setiap permasalahan dengan bijak.