Tag Archives: dystopian

The Hunger Games: Mockingjay pt.2 (2015) – A Hero Hanging by A Tree

Kebanyakan dari kita punya persepsi yang berbeda-beda terhadap makna dari pahlawan. Mereka yang nasionalis menganggap pahlawan adalah orang-orang yang membebaskan negeri mereka dari penjajahan. Para aktivis feminisme, LGBT, dan apartheid akan menyebutkan pejuang-pejuang terdahulu mereka sebagai pahlawan. Masyarakat awam akan berterima kasih kepada orang tua dan guru mereka karena telah menjadi pahlawan yang berarti dalam hidup mereka. Anak-anak yang gemar menonton film laga dan superhero akan menganggap pahlawan sebagai makhluk berkekuatan super yang selalu menolong orang-orang yang ditimpa bencana tanpa pamrih. Berdasarkan hal-hal tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pahlawan adalah setiap mereka yang berbuat baik dan mengubah hidup orang di sekitarnya menjadi lebih baik. Namun bila dikatakan demikian, maka setiap dari kita adalah pahlawan bagi mereka yang ada di sekitar kita, dan tentu masih ada hal yang janggal rasanya bila menyebutkan bahwa semua orang adalah pahlawan. Jadi apa yang kurang?

The Hunger Games: Mockingjay pt.2 menjawab pertanyaan tersebut dengan mengangkat Katniss Everdeen sebagai pahlawan bagi rakyat Panem. The Mockingjay. Apa yang salah dari Katniss? Dia gegabah, ceroboh, dan labil. Meskipun harus diakui kemampuan memanah dan pengetahuan bertahan hidupnya sangat mumpuni, itu semua tidak mampu menyelamatkannya dari tragedi yang pada akhirnya menimpa orang yang paling ia sayangi di akhir film ini. Kepahlawanan Katniss tidak serta merta datang secara tiba-tiba, namun dibantu oleh President Alma Coin dan Plutarch Heavensbee lewat propaganda yang mereka bangun. Ada pernyataan kuat yang dibangun film ini dari awal sampai akhir: pahlawan hanyalah simbol, dan di balik setiap cerita kepahlawanan, selalu tersembunyi kepentingan politik yang lebih besar, meninggalkan sang pahlawan sebagai topeng dari konspirasi masif yang ada di luar kendalinya. Mockingjay berhasil memberikan gambaran realistis tentang betapa mengerikannya politisi dalam memegang kendali media dan menjadikan seorang pahlawan yang jujur dan tulus sebagai wayang dalam sandiwara pertempuran yang mereka ciptakan. Bahwa pahlawan sebenarnya adalah manusia dengan kepentingan sesederhana melindungi keluarga mereka. Bahwa pahlawan juga bisa menjadi seorang pencinta yang mencari pelampiasan setelah kepercayaannya dikhianati.

Secara utuh, film ini menyuguhkan aksi laga ala film action-horror dan drama cinta segitiga serta intrik politik dengan kadar intensitas yang sama tingginya tanpa kehilangan relevansi dari cerita sebenarnya. Penggemar film-film action-adventure dengan epic happy ending pasti akan sedikit kecewa dengan akhir film yang tragis dan terlalu realistis ini. Namun patut dipuji bahwasanya film yang berdasarkan dari novel YA karya Suzanne Collins ini menyajikan ending yang tidak biasa untuk target anak-anak remaja yang sedang beranjak dewasa. Francis Lawrence sebagai sutradara dan James Newton Howard sebagai komposer musik berhasil menciptakan atmosfer apokaliptik yang ideal tanpa harus menurunkan derajat agar bisa diterima target penontonnya.

Kekurangan di dalam film ini adalah ketiadaan chemistry yang kuat antara Katniss dan Peeta. Bagi penonton yang belum membaca bukunya, sangat sulit untuk mengetahui apakah Katniss benar-benar mencintai Peeta dan melakukan semua yang ia lakukan demi melindungi Peeta atas dasar cinta atau hanya sekedar rasa tanggung jawab dan balas budi terhadap perbuatan baik Peeta yang juga selalu melindungi Katniss sepanjang trilogi. Apakah absensi romantisme di epilog film ini bermaksud menunjukkan yang demikian, ataukah hanya kegagalan yang disebabkan oleh hal-hal teknis, ataukah Jennifer dan Francis ingin menunjukkan satu sisi lain dari Katniss yang linglung pasca tragedi yang telah menimpanya? Apapun itu, film ini mempunyai konklusi yang tidak jelas penyampaiannya dan bahkan tidak bisa disebut open-ending, dan ini kesalahan yang cukup fatal dalam kaidah penuturan cerita apapun, khususnya film.

Agak disesalkan bahwa Lionsgate harus membagi Mockingjay menjadi dua film, karena treatment film ini akan menjadi lebih brutal apabila pace film ini dipercepat dan dipadatkan menjadi satu film saja. Paling tidak, Mockingjay pt.2 layak untuk ditonton bagi penggemar serial buku The Hunger Games dan juga bagi para remaja beranjak dewasa yang sudah lebih dahulu mengerti apa artinya menjadi dewasa dan dilindas oleh kaki-kaki penguasa.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

The Hunger Games: Mockingjay Pt.1 (2014) – A Fine Beginning to an End

To be honest, gue bukan pembaca serial buku Suzanne Collins ini, namun gue setia ngikutin sekuel film The Hunger Games dari awal. Gue tertarik dengan dystopian future theory—yang juga menjadi alasan kenapa gue bikin blog ini—dan sekuel The Hunger Games menawarkan konsep dystopian future yang menarik untuk diulas. Karena gue terlanjur nonton dan tertarik sama filmnya duluan, maka mungkin gue baru akan baca bukunya setelah gue udah nonton semua sekuel filmnya sampai selesai untuk mengetahui apakah Francis Lawrence berhasil menginterpretasikan isi kepala Suzanne Collins atau tidak. Jadi kali ini gue akan ulas film ini dari sudut pandang cerita film tanpa membandingkan dengan bukunya.

Katniss Everdeen (diperankan oleh Jennifer Lawrence) memercikkan api pemberontakan terhadap Capitol setelah menembakkan panahnya ke electric barrier saat Quarter Quell di film sebelumnya (Baca: Hunger Games – Catching Fire Ending and Spoiler Discussion). Dia berhasil diselamatkan oleh Gale ke District 13, markas tempat di mana para pemberontak terkuat berpusat dan menggerak serta mengakomodir para pemberontak seluruh distrik di Panem. Di sana, Katniss mendapatkan 3 kabar buruk: District 12 telah hancur menjadi puing-puing, Peeta telah ditawan dan dimanfaatkan oleh Capitol, dan bahwa dia kini menjadi satu-satunya sosok yang mampu menjadi simbol resistensi dan membakar gerakan pemberontakan di Panem—The Mockingjay. Dipandu oleh President Alma Coin (diperankan oleh Julianne Moore) dan Plutarch (diperankan oleh mendiang Phillip Seymour Hoffman), Katniss menyuarakan propaganda lewat rekaman video pergerakannya bersama kru tentara yang disutradarai oleh Cressida (diperankan oleh Natalie Dormer) dan yang kemudian akan disiarkan ke seluruh distrik lewat frequency hijacking oleh Beetee (diperankan oleh Jeffrey Wright).

Francis Lawrence berhasil membangun ketegangan lewat percakapan antar tokoh dan akting yang intens. Secara tidak terduga, kita tidak akan menemukan banyak action di film ini. Sebagian temen-temen gue di social media bahkan bilang film ini adalah yang paling membosankan di antara seri The Hunger Games lainnya. Mungkin mereka sebelumnya mempunyai harapan bahwa akan ada lebih banyak ledakan, kehancuran, dan kematian tragis di film ini dibandingkan film sebelumnya (link: Hunger Games – Catching Fire Review). Namun sebagai orang yang senang menonton film drama-thriller, menurut gue Mockingjay pt.1 berhasil membangun sebuah suspense yang konsisten lewat warna yang gelap dan pesan yang kuat sehingga cenderung terkesan politis. Bagaimana Capitol memanfaatkan Peeta sebagai instrumen anti-propaganda merupakan sebuah satir terhadap pengalihan fungsi media massa dan public figure sebagai alat kontrol politik dan pengendali opini masyarakat. Kita juga akan disuguhkan dengan Marketing Video: Directing Tutorial dan How to Do Viral Campaign oleh Plutarch, Coin, dan Cressida. Mereka mendemonstrasikan aplikasi semiotika dengan baik dalam film ini, terutama di scene “People of Panem, we fight, we dare, we end our hunger for justice! (pfft)” dan scene di mana Finnick berbicara panjang lebar untuk mengacaukan frekuensi gelombang pertahanan Capitol.

Bicara soal warna film, penggambaran visual tentang kekacauan dan huru-hara pemberontakan di film ini sudah cukup baik walaupun memang kurang ramai dibandingkan film-film epik lain (mungkin karena memang cerita ini pada dasarnya bukan epik). Scene yang memperlihatkan tumpukan tulang mayat-mayat di District 12 dan kondisi rumah sakit darurat di District 8 mampu menciptakan momen emosional karena penataan seni dekorasi dan sinematografi yang hebat. Scene “8-Minute Evacuation” menjadi favorit gue karena menggunakan permainan lighting yang biasa dipakai di film-film survival horror. Namun lumayan banyak pertanyaan muncul di scene “Dam Bombing” karena para pemberontak terlihat sangat kekurangan strategi; menembus pertahanan pintu masuk dam dengan hanya menggunakan human shield sebagai pelindung para bomber. Bila memang ‘showing brave-to-death volunteers dying for hope’ semata untuk membangun atmosfer tragis, maka hal tersebut reasonable untuk dilakukan, biarpun menurut gue gagal, karena seharusnya barisan depan bisa menggunakan pelindung dari kayu atau logam untuk mengurangi korban dan lebih efektif untuk menabrakkan diri mereka dengan keras pada pasukan pertahanan Capitol.

Seriously, kalau kalian tertarik mendalami dunia marketing, tanpa harus menonton dua film sebelumnya pun, film ini bisa jadi sangat menarik untuk kalian tonton. Untuk kalian yang ingin menonton film ini untuk mendapatkan keseruan ringan atau sekadar mengikuti jaman, catatan bagi kalian adalah: segera urungkan niat untuk dihibur oleh aksi-aksi akrobat Katniss dan nikmati film ini sebagai appetizer untuk sebuah akhir yang (semoga) spektakuler.

If we burn, you burn with us!”

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

Edge of Tomorrow (2014) – Loser.Die.Repeat.Hero

Dari tagline nya, kalian pasti bakal mikir bahwa film ini ngga akan jauh beda konsepnya dengan Source Code atau Groundhog Day. ‘Live. Die. Repeat.’ Tapi kalau kalian kira bakal jadi membosankan karena konsep ‘mengulang-ulang’ yang terlalu sering diulang-ulang, maka siap-siap untuk terkejut karena segala aspek dalam film ini akan mampu memuaskan kalian.

Saat kondisi Bumi tengah genting akibat invasi makhluk asing bernama ‘Mimic’, Officer Bill Cage (diperankan oleh Tom Cruise), seorang pembicara dari angkatan bersenjata US, ditugaskan untuk turun langsung ke barisan depan peperangan lepas pantai di Perancis tanpa memiliki pengalaman bertarung sekalipun. Sesaat dia berhasil membunuh satu spesies Mimic langka bernama ‘Alpha’ dan terkena limpahan darahnya (dia membunuhnya dengan meledakkan makhluk itu tepat satu meter di depan tubuhnya), dia terkontaminasi oleh racun yang membuatnya terjebak di dalam infinite-time loop di mana dia harus hidup kembali dan terbangun di waktu dan tempat yang sama setelah dia mati.

Kondisi ini ternyata mempertemukannya dengan Rita Vrataski (diperankan oleh Emily Blunt), prajurit wanita tangguh yang dijuluki The Angel of Verdun karena mampu membunuh ratusan Mimics dan menjadi penentu kemenangan di hari pertama dia bertarung di Verdun, Perancis—dan belakangan diketahui penyebabnya adalah karena dia pernah mempunyai kondisi yang sama seperti yang Bill alami (penegasan pada kata ‘pernah.’ Kekuatannya hilang akibat transfusi darah saat dia dirawat di RS setelah peperangan). Pertemuan mereka memaksa Bill untuk ikut serta dalam strategi yang telah disusun oleh Rita dan koleganya, seorang ilmuwan fisika partikel Dr. Carter (diperankan oleh Noah Taylor), untuk menghabisi seluruh spesies Mimic di Bumi dengan mencari lokasi induk semangnya yang bernama ‘Omega’ dan menghancurkannya.

Cerita film ini diadaptasi dari light visual-novel karya Hiroshi Sakurazaka berjudul ‘All You Need is Kill’ (I bet you never heard about that…or is it just me?). Cukup mengejutkan karena meskipun penulisan skrip dan alur ceritanya telah diubah dan disesuaikan dengan Hollywood-Blockbuster-style oleh Christopher McQuarry dan Jez Butterworth, namun film ini masih mampu bersaing dengan film-film time loop sebelumnya dan tetap terlihat berbeda walaupun sekilas menyerupai kombinasi dari Pacific Rim, Source Code, dan Saving Private Ryan.

Doug berhasil menemukan nilai-nilai baru yang fresh dari konsep film time-loop yang sudah sering dieksploitasi. Walaupun film epic action sci-fi ini terkonsep dengan sangat kompleks dan cermat, Evolusi karakter Bill Cage—dari seorang public talker menjadi silent warrior (from zero to hero)—membuat film ini berhasil untuk menjadi lebih manusiawi dari sekedar mecha-suit soldier-shooting, slashing, and bombing-the-gruesome-alien film.

*SPOILER ALERT*

Mungkin juga akting Tom Cruise dan Emily Blunt serta chemistry yang sukses mereka ciptakan yang membuat atmosfer film ini menjadi hidup dan bermakna lebih dari sekedar alien datang -> mati -> hidup lagi -> ulangi -> bunuh lagi. Personal, boundless, cold-but-silently-deceitful, and no-string-attached man-and-woman affection yang mereka tunjukkan saat saling melindungi satu sama lain dan menghabisi mimic bersama-sama akan membuat beberapa penonton seperti gue ngga peduli dengan long-term-continual relationship—yang tidak jelas apakah terjadi atau tidak—di ending film ini. Mungkin bisa dibilang gue kecewa karena di ending mereka tidak benar-benar mati. Mungkin gue orang yang terlalu meninggikan konsep ‘veiled-and-cold-happiness-of-having-each-other-behind-their-struggle’ di dalam cerita dibandingkan sekedar usual ‘udah-gitu-aja’ happy ending. Entah apakah Chris dan Jez menginginkan agar endingnya berhasil memuaskan penonton mayoritas. I like the story much better before it hits the ending.

Film ini istimewa dan layak untuk ditonton karena menawarkan sesuatu yang segar di antara kelahiran banyaknya film sci-fi di 2014 yang gitu-gitu aja. Tom Cruise, lagi-lagi, menciptakan pesona yang menonjol di film ini dengan aktingnya yang total. Film ini recommended buat siapapun, terutama bagi para remaja nanggung yang butuh memahami arti dari YOLO secara komprehensif dan filosofis.

DISTOPIANA’S RATING: 4 out of 5.